Garis besar topik
-
-
KONSERVATISME AKUNTANSIPendahuluanDalam pelaporan keuangan yang menjadi salah satu fokus utama adalah informasi laba yang menyaediakan informasi mengenai kinerja keuangan suatu perusahaan selama periode tertentu. Investor dan kreditor sebagai pengguna laporan keuangan dapat menggunakan informasi laba dan komponennya untuk membantu mereka dalam:
- Mengevaluasi kinerja perusahaan.
- Mengestimasi daya melaba dalam jangka panjang.
- Memprediksi laba di masa yang akan datang.
- Menaksir risiko investasi atau pinjaman kepeda perusahaan.
Untuk mewujudkan manfaat tsb, maka diperlukan prinsip-prinsip akuntansi yang akan menghasilkan angka-angka yang relevan dan reliable (Juanda, 2007). Salah satu prinsip yang dianut dalam proses pelaporan keuangan adalah prinsip konservatisme. Konservatisme merupakan reaksi yang berhati-hati atas ketidakpastian yang ada agar ketidakpastian dan risiko yang berkaitan dalam situasi bisnis dapat dipertimbangkan dengan cukup memadai. Ketidakpastian dan risiko tsb harus dicerminkan dalam laporan keuangan agar nilai prediksi dan kenetralannya dapat diperbaiki. Pelaporan yang didasari kehati-hatian akan memberi manfaat yang terbaik untuk semua pemakai laporan keuangan (Almilia, 2004).Definisi Konservatisme AkuntansiWatts (2003) mendefinisikan konservatisme sebagai prinsip kehati-hatian dalam pelaporan keuangan dimana perusahaan tidak terburu-buru dalam mengakui dan mengukur aktiva dan laba serta segera mengakui kerugian dan hutang yang mempunyai kemungkinan yang terjadi. Penerapan prinsip ini mengakibatkan pilihan metode akuntansi ditujukan pada metode yang melaporkan laba atau aktiva yang lebih rendah serta melaporkan hutang lebih tinggi. Dengan demikian, pemberi pinjaman akan menenrima perlindungan atas risiko menurun (downside risk) dari neraca yang menyajikan aset bersih dan laporan keuangan yang melaporkan berita buruk secara tepat waktu (Haniati dan Fitriany, 2010). GIvoly dan Hayn (2000) mendefinisikan konservatisme sebagai pengakuan awal untuk biaya dan rugi serta menunda pengakuan untuk pendapatan dan keuntungan.Definisi resmi dari konservatisme terdapat dalam Glosarium Pernyataan Konsep No.2 FASB (Financial Accounting Statement Board) yang mengartikan konservatisme sebagai reaksi yang hati-hati (prudent reaction) dalam menghadapi ketidakpastian yang melekat pada perusahaan untuk mencoba memastikan bahwa ketidakpastian dan risiko dalam lingkungan bisnis yang sudah cukup dipertimbangkan. Juanda (2007) menyatakan bahwa konservatisme merupakan prinsip akuntansi yang jika diterapkan akan menghasilkan angka-angka laba dan aset cenderung rendah, serta angka-angka biya dan hutang cenderung tinggi. Kecenderungan seperti itu terjadi karena konservatisme menganut prinsip memperlambat pengakuan pendapatan serta mempercepat pengakuan biaya. Akibatnya, laba yang dilaporkan cenderung terlalu rendah (understatement).Berdasarkan definisi tsb maka praktek konservatisme akuntansi sering memperlambat atau menunda pengakuan pendapatan yang mungkin terjadi, tetapi mempercepat pengakuan biaya yang mungkin terjadi. Sementara itu dalam penilaian aset dan hutang, aset dinilai pada nilai paling rendah dan sebaliknya, hutang dinilai pada nilai yang paling tinggi.Konservatisme Akuntansi dalam PSAKPSAK sebagai standar pencatatan akuntansi di Indonesia menjadi pemicu timbulnya penerapan prinsip konservatisme. Pengakuan prinsip konservatisme di dalam PSAK tercermin dengan terdapatnya berbagai pilihan metode pencatatan di dalam sebuah kondisi yang sama. Hal tsb akan mengakibatkan angka-angka yang berbeda dalam laporan keuangan yang pada akhirnya akan menyebabkan laba yang cenderung konservatif. Beberapa pilihan metode pencatatan di dalam PSAK yang dapat menimbulkan laporan keuangan konservatif diantaranya adalah:- PSAK No. 14 tentang persediaan yang menyatakan bahwa perusahaan dapat mencatat biaya persediaan dengan menggunakan salah satu metode yaitu FIFO (first in first out) atau masuk pertama keluar pertama dan metode rata-rata tertimbang.
- PSAK No. 16 tentang aktiva tetap dan aktiva lain-lain yang mengatur estimasi masa manfaat suatu aktiva tetap. Estimasi masa manfaat suatu aktiva didasarkan pada pertimbangan manajemen yang berasal dari pengalaman perusahaan saat menggunakan aktiva yang serupa. Estimasi masa manfaat tsbharuslah diteliti kembali secara periodik dan jika manajemen menemukan bahwa masa manfaat suatu aktiva berbeda dari estimasi sebelumnya maka harus dilakukan penyesuaian atas beban penyusutan saat ini dan di masa yang akan datang. Standar ini memungkinkan perusahaan untuk mengubah masa manfaat aktiva yang digunakan dan dapat mendorong timbulnya laba yang konservatif.
- PSAK No. 19 tentang aset tidak berwujud yang berkaitan dengan metode amortisasi. Dijelaskan bahwa terdapat beberapa metode amortisasi untuk mengalokasikan jumlah penyusutan suatu aset atas dasar yang sistematis sepanjang masa manfaatnya.
- PSAK No. 20 tentang biaya riset dan pengembangan yang menyebutkan bahwa alokasi biaya riset dan pengembangan ditentukan dengan melihat hubungan antara biaya dan manfaat ekonomis yang diharapkan perusahaanakan diperoleh dari kegiatan riset dan pengembangan. Apabila besar kemungkinan biaya tsb akan meningkatkan manfaat ekonomis di masa yang akan datang dan biaya tsb dapat diukur secara handal, maka biaya-biaya tsb memenuhi syarat untuk diakui sebagai aktiva.
Dengan adanya pilihan metode tsb akan berpengaruh terhadap angka-angka yang disajikan dalam laporan keuangan. Sehingga dapat dikatakan bahwa secara tidak langsung konsep konservatisme ini akan mempengaruhi hasil dari laporan keuangan tsb. Penerapan konsep ini juga akan menghasilkan laba yang berfluktuatif akan mengurangi daya prediksi laba untuk memprediksi aliran kas perusahaan pada masa yang akan datang (Sari dan Adhariani, 2009).Konservatisme Akuntansi dalam IFRS
Konservatisme akuntansi tidak menjadi prinsip yang diatur dalam standar akuntansi Internasional (IFRS). Hellman (2007) menyatakan bahwa jika dibandingkan dengan akuntansi konvensional, IFRS (International Financial Reporting Standards) berfokus pada pencatatan yang relevanang semkin sehingga menyebabkan ketergantungan yang semakin tinggi terhadap estimasi dan berbagai judgement. Dalam hal ini, kebijakan yang ditetapkan IASB (International Accounting Standard Board) tsb menyebabkan semakin berkurangnya penekanan atas penerapan akuntansi konservatif secara konsisten dalam pelaporan keuangan berdasarkan IFRS.Khairina (2009) menyebutkan ada beberapa poin dalam IFRS mengenai semakin berkurangnya penekanan atas penggunaan akuntansi konservatif dalam IAS (International Accounting Standard) antara lain:- IAS 11 (Zero Profit Recognition for Fixed-Price Contracts), versi terbaru dari IAS mulai berlaku sejak tahun 1995. Standar ini mengatur mengenai penggunaan POC (Percentage of Completion) untuk pengakuan pendapatan dan biaya dalam kontrak konstruksi sebagai pengganti dari metode CC (Complete Contract). Hellman (2007) menyatakan bahwa metode CC dinilai lebih konservatif dibandingkan metode POC karena dalam metode CC dinilai lebih konservatif dibandingkan metode POC karena dalam POC karena dalam metode CC nilai keuntungan yang dapat diakui perusahaan akan mengalami understatement selama proses kontrak dan akan mengalami overstatement setelah kontrak selesai. Hal ini disebabkan perusahaan hanya boleh mengakui pendapatan dari kontrak konstruksi tsb setelah proses konstruksi selesai. Sementara dalam metode POC perusahaan dapat mengakui pendapatan berdasarkan estimasi persentase penyelesaian kontrak pada tanggal neraca.
- IAS 12 (Deferred Tax Asset), mengatur mengenai pengakuan deferred tax asset pad neraca jika meungkin (probable) terdapat future taxable profit. Sebelum dikeluarkannya IAS 12 tsb, deferred tax asset tidak diakui di dalam neraca karena terdapat ketidakjelasan atas perolehan taxable profit di masa yang akan datang. Pemebrlakuan efektif IAS 12 tsb mempersentasikan perlakuan akuntansi yang kurang konservatif (Hellman, 2007).
- IAS 16 (Property, Plant, and Equipment), mengatur bahwa dalam pengukuran nilai aktiva tetap, perusahaan dapat memilih penggunaan metode biaya atau revaluasi. Metode biaya menggunakan metode yang telah lama digunakan dalam akuntansi konvensional, sementara metode revaluasi yang mensyaratkan perusahaan untuk memperbarui aktiva secara periodik atas nilai pasarnya dinyatakan sebagai metode kurang konservatif. Dalam metode akuntansi ini, perusahaan dapat emngakui peningkatan nilai aktiva sebagai penambahan atas modal atau peningkatan nilai pendapatan jika penurunan nilai pada periode sebelumya telah diakui sebagai biaya
- IAS 38 (Capitalism of Development Cost), pertama kali dikeluarkan pada tahun 1998, kemudian diikuti dengan revisinya yang berlaku sejak tanggal 31 maret 2004. Berdasarkan IAS 38, aktiva tidak berwujud yang berasal dari aktivitas pengembangan diakui sebagai aktiva jika telah memenuhi beberapa syarat tertentu. Sebelum diberlakukannya standar ini, pembebanan langsung menjadi acuan utama dalam perlakuan akuntansi yang kurang konservatif.
Implikasi Konservatisme
Praktek konservatisme memberikan dampak terhadap nilai earning dan aktiva bersih yakni akuntansi konservatif akan menghasilkan nilai laba dan aktiva bersih perusahaan yang lebih rendah. Hal tersebut timbul sebagai akibat dari karakteristik konservatisme yang merefleksikan bad news lebih cepat dibandingkan good news .
Berbagai studi telah dilakukan oleh para peneliti akuntansi dalam menganalisis setiap implikasi dari praktek konservatisme. Penelitian mengenai konservatisme diawali oleh Watts dan Zimmerman (1986), Watts (1993) dan Basu (1995). Ketiga penelitian tersebut menyatakan bahwa bias konservatisme timbul akibat adanya pengaruh pengontrakan dalam akuntansi dan pelaporan keuangan perusahaan.
Basu (1997) kemudian mengembangkan penelitian yang telah dilakukannya pada tahun 1995 untuk menganalisis dampak dari konservatisme. Ia menguji argumentasinya bahwa konservatisme menghasilkan nilai earning yang lebih cepat merefkleksikan bad news daripada good news . Hal tersebut menyiratkan bahwa terdapat perbedaan sistematis antara periode pengakuan bad news dan good news di dalam nilai earning yang berpengaruh terhadap persistensi nilai earning tersebut. Dalam penelitiannya ini, Basu mengembangkan metode pengukuran return-earning fixed coefficient model untuk menguji argumentasinya.
Lebih jauh lagi, Basu memperlihatkan konservatisme sebagai sebuah mekanisme pencatatan akuntansi yang menyebabkan terjadinya asymmetric timeliness of earning yakni nilai earning lebih sensitive serta lebih cepat merefleksikan bad news daripada good news yang dialami perusahaan. Karakteristik konservatisme tersebut menyebabkan nilai laporan earning konservatif cenderung lebih sensitif terhadap informasi publik yang buruk ( bad news) dibandingkan sebaliknya ( good news) . Dalam hal ini, nilai earning diprediksi akan memiliki hubungan yang lebih kuat dengan bad news dibandingkan dengan good news .
Untuk menganalisis hubungan antara earning dengan bad news dan good news , Basu menggunakan return saham perusahaan untuk menangkap pengaruh kedua jenis berita tersebut terhadap nilai earning yang dilaporkan perusahaan. Dalam hal ini, Positive return menjadi proksi dari good news dan negative return menjadi proksi dari bad news . Variabel return saham perusahaan yang digunakan oleh Basu untuk mencerminkan good news dan bad news diperkuat oleh riset sebelumnya yang dilakukan oleh Ball dan Brown (1968) yang berargumen bahwa harga saham mencerminkan informasi mengenai perusahaan yang diperoleh investor dari berbagai sumber selain laporan keuangan, pergerakan harga saham mendahului nilai reported earning .
Kenaikan harga saham perusahaan menggambarkan sentimen investor terhadap kondisi perusahaan. Dengan berbagai informasi yang diterima, para investor berekspektasi kondisi perusahaan akan semakin profitable dan menjanjikan keuntungan yang lebih besar bagi mereka. Dalam hal ini, informasi
yang diterima oleh para investor tersebut merupakan good news yang tercermin dalam kenaikan harga saham dan return saham yang positif. Sebagai contoh, para investor memperoleh informasi dari luar perusahaan bahwa perusahaan sedang menanamkan investasinya pada sebuah proyek yang memiliki nilai NPV yang positif. Proyek tersebut menjanjikan keuntungan yang cukup besar bagi perusahaan di masa yang akan datang. Hal ini tentunya merupakan kabar baik ( good news) bagi para investor dan membentuk sentimen positif investor terhadap perusahaan yang tercermin melalui kenaikan harga saham perusahaan. Namun, keuntungan atas proyek dengan NPV yang positif tersebut belum terealisasi sehingga, dengan diterapkannya prinsip konservatisme oleh perusahaan maka good news tersebut belum tercermin pada nilai reported earning .
Sebaliknya, ketika investor menerima berita yang menginformasikan bahwa perusahaan sedang mengalami kondisi yang buruk dan akan berdampak pada menurunnya keuntungan perusahaan, hal tersebut akan segera tercermin pada menurunnya harga dan return saham perusahaan yang negatif. Sementara, dengan diterapkannya prinsip konservatisme oleh perusahaan, bad news tersebut juga akan segera tercermin dengan menurunnya nilai reported earning . Sebagai contoh, ketika terjadi kenaikan mata uang dollar, perusahaan yang memiliki hutang luar negeri dalam bentuk dollar harus menanggung kerugian atas kenaikan kurs tersebut. M eskipun belum terealisasi, kerugian tersebut akan segera tercermin pada laporan keuangan konservatif dan akan menyebabkan sentimen negatif para investor di bursa saham serta mendorong terjadinya penurunan harga dan return saham perusahaan.
Dari penjelasan di atas, terdapat dugaan bahwa penerapan konservatisme dalam pelaporan keuangan perusahaan menyebabkan nilai earning lebih sensitive serta lebih cepat menggambarkan bad news ( negative return) dibandingkan good news (positive return) . Hasil dari pengujian hipotesis tersebut akan menunjukkan earning lebih sensitif dan memiliki hubungan yang lebih kuat dengan bad news dibandingkan good news jika nilai ╬▓ untuk sampel dengan bad news lebih tinggi dibandingkan sampel good news .
Penelitian mengenai konservatisme juga dikembangkan oleh para ahli lainnya, di antaranya Givoly dan Hayn (2000) yang mendefinikan konservatisme sebagai pemilihan metode akuntansi yang menghasilkan nilai earning terendah dengan memperlambat pengakuan keuntungan, mempercepat pengakuan biaya serta menggunakan penilaian aktiva terendah dan biaya terbesar. Dalam penelitiannya, mereka menggunakan pengukuran konservatisme berbasis akrual.
Pengukuran konservatisme lainnya dikembangkan oleh Beaver dan Ryan (2000), mereka menggunakan model pengukuran perbandingan nilai buku dan nilai pasar dari aktiva bersih perusahaan. Penelitian ini menguji argumentasi bahwa konservatisme menyebabkan nilai buku dari aktiva bersih perusahaan akan lebih rendah dari nilai pasarnya secara konsisten.
-
Assalamualikum Wr Wb
Selamat Pagi Anak2 Bapak semua...
Semoga selalu dalam keadaan sehat semua....
Hari ini adalah pertemuan terakhir kita pada mata Kuliah Seminar Akuntansi Keuangan, kita paham semua bahwa dalam kondisi seperti ini sulit sekali mendapatkan kepuasan dalam mentransfer ilmu pengetahuan, saya mohon maaf apabila selama 1 semester ini masih kurang maksimal dalam memberikan ilmu pengetahuan kepada kalian. kita harus sadar bahwasanya dengan metode daring ini kita diajarkan untuk terus mengali ilmu pengetahuan secara mandiri dan kita harus paham bahwa ilmu bukan dari satu sumber saja.
oleh karena itu, anak2 q semua... selamat menjalankan ujian akhir semoga hasil kalian peroleh akan lebih maksimal lagi. sampai berjumpa dikampus biru di bulan september nanti. pasti sudah rindu kampus yach....salam untuk keluarga kalian semua.. insyallah bapak akan berikan yg terbaik buat kalian....
Assalamualaikum Wr Wb...Kisi2 UAS : Ada Semua di LMS dan materi yang saya sampaikan di PPT dan Jurnal Yang pernah kita bahasa
-