Garis besar topik
-
-
1. Pendahuluan 2. Pengertian Entrepreneur dan Technopreneur 3. Teknologi dan Bisnis
-
1. Pendahuluan
Pendahuluan dari Pengantar Technopreneur adalah bagian awal yang memberikan gambaran umum tentang topik yang akan dibahas dalam buku atau materi tersebut. Biasanya, bagian ini mencakup latar belakang, tujuan, dan struktur buku. Pendahuluan bertujuan untuk memberikan konteks dan mempersiapkan pembaca untuk materi yang akan dijelaskan.
2. Pengertian Entrepreneur dan Technopreneur
Pengertian Entrepreneur dan Technopreneur:
- Entrepreneur: Seorang entrepreneur adalah seseorang yang mengambil risiko untuk memulai, mengelola, dan mengembangkan bisnis baru dengan tujuan menciptakan nilai dan pertumbuhan ekonomi.
- Technopreneur: Technopreneur adalah seorang entrepreneur yang berfokus pada pemanfaatan teknologi atau inovasi teknologi dalam menciptakan, mengembangkan, atau memperluas bisnisnya. Mereka sering kali menggabungkan pengetahuan tentang teknologi dengan keterampilan kewirausahaan untuk menciptakan peluang bisnis baru.
Ciri-ciri Technopreneur:
- Kreatif dan Inovatif: Mampu menghasilkan ide-ide baru dan mengembangkan solusi inovatif menggunakan teknologi.
- Teknologi-Oriented: Memiliki pemahaman yang mendalam tentang teknologi dan mampu menerapkannya secara efektif dalam bisnis.
- Risiko-Pengambil: Bersedia mengambil risiko untuk mengembangkan ide-ide teknologi menjadi bisnis yang sukses.
- Pembelajar yang Berkelanjutan: Selalu terbuka untuk belajar dan mengembangkan keterampilan baru dalam bidang teknologi dan bisnis.
Contoh Technopreneur:
- Elon Musk, pendiri Tesla Motors dan SpaceX, merupakan contoh technopreneur yang sukses dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam bisnis mobil listrik dan penerbangan antariksa.
- Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, adalah contoh lain dari technopreneur yang menggunakan teknologi internet untuk menciptakan dan mengembangkan platform sosial media terbesar di dunia.
3. Teknologi dan Bisnis
Teknologi dan Bisnis:
- Pengaruh Teknologi dalam Bisnis: Teknologi telah menjadi pendorong utama perubahan dalam dunia bisnis. Inovasi teknologi memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan efisiensi, meningkatkan kualitas produk dan layanan, dan menciptakan model bisnis baru.
- Implementasi Teknologi dalam Bisnis: Implementasi teknologi dalam bisnis melibatkan integrasi sistem informasi, penggunaan perangkat lunak dan perangkat keras terkini, serta pengembangan aplikasi khusus untuk mendukung operasi bisnis.
- Referensi: Sebagai referensi untuk topik ini, Anda dapat merujuk pada buku "The Innovator's Dilemma" oleh Clayton M. Christensen, yang membahas dampak teknologi pada strategi bisnis dan pertumbuhan perusahaan.
Implikasi dan Implementasi:
- Implikasi: Perkembangan teknologi telah mengubah paradigma bisnis secara fundamental, mendorong perusahaan untuk terus berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan pasar yang cepat.
- Implementasi: Perusahaan perlu mengadopsi teknologi dengan bijaksana dan memastikan bahwa investasi teknologi mereka sesuai dengan tujuan bisnis dan strategi jangka panjang.
Demikianlah penjelasan secara detail mengenai pendahuluan, pengertian entrepreneur dan technopreneur, serta hubungan antara teknologi dan bisnis dalam konteks technopreneurship. Referensi yang disebutkan dapat memberikan wawasan tambahan yang bermanfaat dalam memahami topik ini lebih lanjut.
-
soal kasus perhitungan dan penyelesaiannya :
1. Pendahuluan
Dalam dunia modern, peran teknologi dalam bisnis menjadi semakin krusial. Entrepreneur dan technopreneur memanfaatkan teknologi untuk menciptakan peluang bisnis baru. Kasus ini akan melihat bagaimana teknologi dapat meningkatkan inovasi dan produktivitas dalam bisnis, serta membandingkan peran entrepreneur dan technopreneur dalam pengelolaan bisnis.
2. Pengertian Entrepreneur dan Technopreneur
- Entrepreneur: Individu yang menciptakan bisnis dengan mengidentifikasi peluang pasar, mengatur sumber daya, dan menanggung risiko untuk mendapatkan keuntungan.
- Technopreneur: Seorang entrepreneur yang fokus pada penggunaan teknologi sebagai inti dari inovasi dan perkembangan bisnisnya.
3. Teknologi dan Bisnis
Kasus ini akan melibatkan penerapan teknologi dalam bisnis dan bagaimana hal tersebut dapat mendorong efisiensi dan pertumbuhan.
Soal Kasus:
Seorang entrepreneur mendirikan usaha kuliner dengan modal Rp100.000.000. Setiap bulan, dia memperoleh keuntungan Rp10.000.000. Di sisi lain, seorang technopreneur memanfaatkan platform digital untuk menjual makanan secara online dengan modal yang sama, dan memperoleh keuntungan Rp15.000.000 per bulan karena memanfaatkan teknologi pemasaran yang lebih luas.
Hitunglah:
- Keuntungan selama 1 tahun dari kedua model bisnis tersebut (entrepreneur vs technopreneur).
- Berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh kedua pelaku bisnis untuk melipatgandakan modal awal mereka?
- Apa perbedaan utama dalam pendekatan bisnis antara entrepreneur dan technopreneur dalam contoh kasus ini?
Penyelesaian:
Keuntungan selama 1 tahun:
- Entrepreneur:
- Keuntungan bulanan: Rp10.000.000
- Keuntungan tahunan = 12 × Rp10.000.000 = Rp120.000.000
- Technopreneur:
- Keuntungan bulanan: Rp15.000.000
- Keuntungan tahunan = 12 × Rp15.000.000 = Rp180.000.000
- Entrepreneur:
Waktu untuk melipatgandakan modal awal:
- Entrepreneur:
- Modal awal: Rp100.000.000
- Waktu = Rp100.000.000 ├╖ Rp10.000.000 per bulan = 10 bulan
- Technopreneur:
- Modal awal: Rp100.000.000
- Waktu = Rp100.000.000 ├╖ Rp15.000.000 per bulan = 6,67 bulan (sekitar 7 bulan)
- Entrepreneur:
Perbedaan utama:
- Entrepreneur berfokus pada manajemen bisnis dengan pendekatan tradisional, sedangkan technopreneur memanfaatkan teknologi untuk memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan efisiensi.
- Keuntungan yang diperoleh technopreneur lebih cepat berkembang karena penggunaan teknologi yang memungkinkan efisiensi operasional, promosi, dan penjualan.
Soal ini menggambarkan pentingnya teknologi dalam mendorong pertumbuhan bisnis di era digital.
-
Jurnal :
Abstrak Technopreneurship adalah kombinasi antara teknologi dan kewirausahaan, di mana pengusaha menggunakan teknologi untuk menciptakan produk atau layanan inovatif yang dapat memecahkan masalah dan memenuhi kebutuhan pasar. Artikel ini membahas pengertian technopreneurship, pentingnya dalam era digital, serta faktor-faktor kunci yang mendukung pengembangan technopreneur. Di era yang semakin terhubung secara global, technopreneurship menjadi salah satu pendorong utama ekonomi berbasis pengetahuan. Selain itu, diskusi mencakup tantangan dan peluang yang dihadapi oleh technopreneur serta peran pemerintah dan akademisi dalam mendukung ekosistem technopreneurship.
Kata kunci: Technopreneurship, inovasi teknologi, kewirausahaan, ekosistem digital, ekonomi berbasis pengetahuan
Pendahuluan
Perkembangan teknologi yang pesat, terutama dalam dekade terakhir, telah membuka peluang baru bagi pengusaha untuk menggabungkan pengetahuan teknologi dengan kreativitas bisnis. Technopreneurship, atau kewirausahaan berbasis teknologi, muncul sebagai solusi bagi tantangan-tantangan yang dihadapi masyarakat modern, seperti efisiensi, otomatisasi, dan kebutuhan akan produk atau layanan yang lebih inovatif. Artikel ini bertujuan untuk memberikan pengantar komprehensif tentang technopreneurship dan menguraikan faktor-faktor yang berkontribusi pada keberhasilannya.
Definisi Technopreneurship
Technopreneurship adalah sebuah konsep di mana pengusaha memanfaatkan kemajuan teknologi untuk menciptakan dan memasarkan produk atau layanan yang memberikan nilai tambah bagi konsumen. Istilah ini merupakan gabungan dari dua kata: "teknologi" dan "kewirausahaan" (entrepreneurship). Technopreneur adalah individu yang tidak hanya memahami dinamika bisnis tetapi juga memiliki keahlian teknologi yang kuat, sehingga mampu membawa inovasi ke pasar dengan lebih efektif.
Peran Technopreneurship dalam Ekonomi Digital
Dalam ekonomi digital saat ini, teknologi menjadi komponen kunci dalam menciptakan model bisnis yang sukses. Technopreneurship memegang peranan penting dalam memajukan sektor-sektor ekonomi, seperti fintech, e-commerce, edukasi digital, dan health-tech. Perusahaan seperti Gojek, Tokopedia, dan Bukalapak di Indonesia adalah contoh nyata bagaimana technopreneurship mampu mentransformasi model bisnis tradisional menjadi platform digital yang efisien dan luas jangkauannya.
Faktor Pendukung Technopreneurship
Inovasi Teknologi: Teknologi adalah inti dari technopreneurship. Penggunaan teknologi terbaru, seperti kecerdasan buatan (AI), big data, dan blockchain, memberikan keunggulan kompetitif bagi technopreneur.
Pendanaan dan Akses Modal: Technopreneur memerlukan akses ke modal yang memadai untuk pengembangan produk dan skalabilitas bisnis. Kehadiran modal ventura dan inkubator startup menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan technopreneurship.
Ekosistem Pendukung: Kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan industri sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi technopreneurship. Pemerintah dapat memberikan insentif fiskal dan regulasi yang mendukung, sementara akademisi berperan dalam menyediakan pendidikan yang relevan.
Tantangan dalam Technopreneurship
Meski peluangnya besar, technopreneurship juga menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya adalah:
Adaptasi Teknologi: Tidak semua pasar siap menerima produk teknologi baru, sehingga technopreneur perlu menghadapi tantangan dalam edukasi pasar.
Persaingan Global: Technopreneurship tidak hanya terjadi di skala lokal, tetapi juga global. Dengan demikian, technopreneur harus mampu bersaing dengan perusahaan multinasional yang lebih besar dan memiliki sumber daya lebih banyak.
Regulasi dan Kebijakan: Regulasi pemerintah sering kali belum siap untuk menampung inovasi teknologi baru, yang dapat menjadi hambatan bagi technopreneur untuk berkembang.
Kesimpulan
Technopreneurship adalah elemen penting dalam ekonomi digital modern. Dengan menggabungkan inovasi teknologi dan jiwa kewirausahaan, technopreneur dapat menciptakan produk dan layanan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat luas. Meskipun menghadapi tantangan, dukungan dari ekosistem yang solid serta kebijakan yang berpihak pada inovasi akan menjadi pendorong utama kesuksesan technopreneur di masa depan.
Referensi
- Drucker, P. F. (1985). Innovation and Entrepreneurship: Practice and Principles. Harper & Row.
- Schumpeter, J. A. (1942). Capitalism, Socialism and Democracy. Harper & Brothers.
- Kuratko, D. F., & Morris, M. H. (2018). Corporate Entrepreneurship: Innovation and Strategy in Large Organizations. Routledge.
- Ries, E. (2011). The Lean Startup: How TodayΓÇÖs Entrepreneurs Use Continuous Innovation to Create Radically Successful Businesses. Crown Business.
- Hisrich, R. D., & Kearney, C. (2014). Managing Innovation and Entrepreneurship. SAGE Publications.
-
Literature Review: Pengantar Technopreneur
Technopreneurship merupakan topik yang semakin banyak dibahas dalam konteks ekonomi digital dan transformasi bisnis. Berbagai literatur menunjukkan bahwa technopreneurship menggabungkan dua komponen utama: teknologi dan kewirausahaan, di mana teknologi digunakan sebagai alat inovasi dalam menciptakan produk atau layanan yang unik serta dapat memenuhi kebutuhan pasar. Drucker (1985) dan Schumpeter (1942) menekankan pentingnya inovasi dalam kewirausahaan, di mana teknologi berperan sebagai penggerak utama dalam menciptakan perubahan pasar. Hal ini sejalan dengan pemikiran technopreneurship, di mana pengusaha yang memanfaatkan teknologi secara efektif dapat menghasilkan model bisnis yang disruptif.
Di era ekonomi berbasis pengetahuan, technopreneurship menjadi kunci utama untuk pertumbuhan sektor bisnis digital, seperti fintech, edutech, dan e-commerce. Ries (2011) mengemukakan konsep lean startup, yang sangat relevan dalam technopreneurship, karena pendekatan ini memungkinkan technopreneur untuk mengembangkan produk dengan iterasi cepat, mengurangi risiko kegagalan, dan merespons kebutuhan pasar secara lebih efektif. Selain itu, Kuratko dan Morris (2018) menyebutkan bahwa inovasi dalam perusahaan besar juga didorong oleh pendekatan kewirausahaan yang serupa dengan technopreneurship, di mana teknologi dan strategi kewirausahaan berperan penting dalam memimpin perubahan.
Faktor pendukung technopreneurship juga banyak dibahas dalam literatur. Salah satu yang utama adalah ekosistem inovasi yang terdiri dari kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta. Hisrich dan Kearney (2014) menekankan bahwa dukungan pemerintah melalui kebijakan yang mendukung, akses modal ventura, serta program inkubasi sangat berperan dalam membantu technopreneur mengembangkan bisnisnya. Selain itu, literatur juga menyoroti pentingnya adaptasi terhadap perkembangan teknologi baru, seperti kecerdasan buatan, big data, dan blockchain, sebagai peluang bagi technopreneur untuk menciptakan produk yang relevan dan kompetitif.
Namun, berbagai tantangan dalam technopreneurship juga sering muncul dalam literatur. Salah satu tantangan utama adalah ketidakmampuan beberapa pasar untuk dengan cepat menerima teknologi baru, seperti yang dibahas oleh Schumpeter (1942) mengenai proses "destructive innovation", di mana perubahan yang dibawa oleh teknologi sering kali dihadapkan pada resistensi awal dari konsumen atau pasar. Selain itu, literatur juga menunjukkan bahwa technopreneurship menghadapi persaingan global yang semakin ketat, di mana perusahaan besar dengan sumber daya lebih banyak menjadi pesaing utama dalam industri teknologi.
Secara keseluruhan, literatur tentang technopreneurship menggarisbawahi pentingnya inovasi teknologi sebagai faktor kunci dalam kesuksesan kewirausahaan modern. Dukungan dari ekosistem kewirausahaan, adaptasi terhadap perubahan teknologi, dan kebijakan pemerintah yang mendukung sangat penting bagi pertumbuhan technopreneurship, meskipun tantangan dalam hal adaptasi pasar dan persaingan global harus diatasi.
Referensi yang Diparafrasekan:
1. Drucker, P. F. (1985). Innovation and Entrepreneurship: Practice and Principles. Harper & Row.
2. Schumpeter, J. A. (1942). Capitalism, Socialism and Democracy. Harper & Brothers.
3. Kuratko, D. F., & Morris, M. H. (2018). Corporate Entrepreneurship: Innovation and Strategy in Large Organizations. Routledge.
4. Ries, E. (2011). The Lean Startup: How TodayΓÇÖs Entrepreneurs Use Continuous Innovation to Create Radically Successful Businesses. Crown Business.
5. Hisrich, R. D., & Kearney, C. (2014). Managing Innovation and Entrepreneurship. SAGE Publications.
-
Literatur Riview jurnal materi 1 :
Tinjauan Literatur: Sumber Makna Dan Proses Riset Komersialisasi di Technopreneurship
Studi tentang technopreneur dan proses riset komersialisasinya sangat penting untuk memahami bagaimana wirausahawan berbasis teknologi (technopreneur) mengubah ide-ide inovatif menjadi produk dan layanan yang layak dipasarkan. Penelitian yang dilakukan oleh Phuthong (2023) menggunakan pendekatan teori dasar untuk mengeksplorasi sumber-sumber makna yang diperoleh technopreneur selama proses riset komersialisasi mereka, serta untuk menetapkan fitur-fitur umum dari proses tersebut.
Technopreneurship dan Proses Riset Komersialisasi
Technopreneurship, yang menggabungkan teknologi dengan usaha kewirausahaan, memainkan peran signifikan dalam memajukan pertumbuhan ekonomi, terutama dalam konteks ekonomi yang sedang berkembang seperti Thailand. Menurut Pisoni dan Onetti (2018), technopreneur tidak hanya berfokus pada penciptaan produk atau layanan teknologi baru tetapi juga pada komersialisasi inovasi-inovasi tersebut, yang pada akhirnya berkontribusi pada kemajuan teknologi dan daya saing industri.
Proses riset komersialisasi mengacu pada upaya sistematis yang dilakukan oleh technopreneur untuk mengubah konsep inovatif menjadi produk yang layak dipasarkan. Proses ini melibatkan identifikasi peluang pasar, menilai kelayakan teknologi dari ide-ide tersebut, mengembangkan model bisnis, serta membangun jaringan yang mendukung inovasi teknologi. Phuthong (2023) menyoroti delapan tahap penting dalam proses ini, yang sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa keberhasilan komersialisasi bergantung pada kemampuan technopreneur untuk menyeimbangkan inovasi teknologi dengan strategi pasar yang efektif (Barbero et al., 2014).
Teori Dasar dalam Penelitian Technopreneurship
Teori dasar, seperti yang digunakan dalam studi ini, adalah metodologi penelitian kualitatif yang memungkinkan pengembangan teori berdasarkan data. Peneliti sering menggunakan metode ini ketika menyelidiki fenomena baru di mana teori yang ada mungkin tidak cukup menjelaskan kompleksitas subjek tersebut. Pendekatan teori dasar dalam technopreneurship sangat cocok, mengingat sifat kewirausahaan berbasis teknologi yang dinamis, yang dipengaruhi oleh lanskap teknologi dan permintaan pasar yang berkembang pesat (Charmaz, 2014).
Penelitian Phuthong, menggunakan wawancara mendalam dengan 15 technopreneur, memberikan pemahaman yang komprehensif tentang motivasi pribadi dan profesional yang mendorong technopreneur dalam upaya komersialisasi mereka. Sumber-sumber makna yang diidentifikasi dalam penelitian ini sejalan dengan teori motivasi Maslow (Maslow, 1943), di mana aktualisasi diri melalui inovasi dan kesuksesan bisnis mewakili sumber makna yang signifikan bagi technopreneur.
Sumber Makna bagi Technopreneur
Phuthong (2023) mengekasi sumber makna maknasi tiga tiga yang yang menjadi utama teknologi riset Makinisasi komersialisasi technopreneur: *ide pengembangan hasrat, model pengembangan bisnis terintegrasi, dan jaringan inovatif inovatif dan teknologi. Sumber-sumber ini saling terkait dan mendukung tujuan utama untuk mengubah ide-ide inovatif menjadi keberhasilan komersial.
Pengembangan Ide Hasrat: luasapat diakui faktor dalam jangka waktu yang menjadi penerima. Hasrat mendorong technopreneur untuk mengejar ide-ide-ide-ide meskipun ada ada ketidakpastian atau tantangan pasar. Hasrat yang technopreneururide-ide-ide mereka mereka seringkali pert diterjemahkan ketekunan, yang memungkinkan mereka mengatasi hambatan komersial mereka. Temuan ini adalah Cardon et al. (2009), yang menyatakan bahwa Bangsalei memengaruhi sangat kinerja dan ketekunan.
Model Pengembangan Bisnis Terintegrasi: Mengembangkan model bisnis yang mengintegrasikan inovasi teknologi dengan kebutuhan pasar sangat penting untuk keberhasilan komersialisasi. Osterwalder dan Pigneur (2010) menyoroti bahwa model bisnis yang kuat memfasilitasi penyelarasan sumber daya, kemitraan, dan proposisi nilai pelanggan, yang sangat penting dalam fase komersialisasi. Penelitian Phuthong mengonfirmasi bahwa technopreneur melihat pengembangan model bisnis sebagai proses berkelanjutan yang berkembang seiring dengan kemajuan teknologi dan tren pasar.
Jaringan Bisnis Inovatif dan Teknologi: Jaringan sangat penting dalam proses komersialisasi karena memberikan akses ke sumber daya, pengetahuan, dan mitra potensial. Technopreneur mengandalkan jaringan kolaborator, termasuk peneliti bersama, inkubator bisnis, dan pakar teknologi, untuk menyempurnakan produk mereka dan mengembangkan bisnis mereka. Pentingnya jaringan bisnis telah ditegaskan dalam banyak penelitian, termasuk oleh Huang dan Knight (2017), yang menunjukkan bahwa modal sosial yang diperoleh melalui jaringan mempercepat komersialisasi inovasi.
Produk Fitur Riset Riset Komersialisasi
Produkisasiisasi Prosesisasi, seperti yang diuraikan Phuthong (2023), delapan kap yang yang berbeda:
- :Penilaian Peluang Bisnis: Mengidentifikasi kesenjangan pasar potensial dan menilai kelayakan ide.
- Pengembangan Pola Pikir dan Hasrat Technopreneurial: Menumbuhkan hasrat untuk teknologi dan kewirausahaan untuk mempertahankan upaya dalam komersialisasi
- Penilaian dan Eksploitasi Teknologi: Meng kelayakan keksk, menentukan, dan inovasi bagaimana dapat dapat dieksploitasi untuk tujuan, komersial.
- Penelitian Bersama dan Penerapannya pada Produk Pengembangan Baru: Berkolaborasi peneliti dan dan wawasan menerapkan teknologi yang mengelomba
- Inkubasi Technopreneurship Jaringan dan: Dibutak inkubator dan jaringan perkusi perak dan sumber yang diperlukan yang diperlukan komersialisasi.
- Perencanaan untuk Indonesia Inovasi:
- Yang Produk Yang Berke Berlanjutan: itu berdasarkanerasi pada pada pada umpan balik dan teknologi.
- Technopreneurship Berkelanjutan dan Pengembangan: Memastikan menjadi kemasi jangka panjang rangkup rangkungan bisnis kepik.
Kesimpulan yang ber Kesimpulan dan Arah Diadi Masa Masa Depan
Phuthong (2023) (20023) yang dimukakan secara membangun teori yang sebuah kesamaan-yang dari para peneliti teknik teori yang dikarsir secara teori Teori ini wawasan-isolutan banyak dengan teknologi berharganopreneur, kebijakan, pembuat dan pendidik yang akan menjadi kisi-kisi inovasi para mendukung kewirausahaan. Studi ini adalah parameter agar penelitian di masa menge menge depan
secara keseluruhan, literatur Para teknopreneurah yang interaksi khainafskan, khaS model, dan dan jaringan hidra-jalahisasi isasi. Penelitian Phuthong berkantor, pengetahuan pengetahuan ini Parajukan teori Pejual yang mendasar bagaimana elemen-elemen-elemen-bertuah - kesepemimpinan mendorong kegemaga teknopreneur.
Refrensi
- Barbero, J. L., Casillas, J. C., Wright, M., Dan Garcia, A. D. (2014). Apakah berbagai jenis inkubator menghasilkan berbagai jenis inovasi? Jurnal Transfer Teknologi, 39 (2), 151-168.
- Cardon, M. S., Wincent, J., Singh, J., & Drnovsek, M. (2009). Sifat dan pengalaman gairah kewirausahaan. Sekolah Menyusup ke Akademi Manajemen, 34(3), 511-532.
- Charmaz, K. (2014). Membangun Teori Grounded. Publikasi Sage.
- Huang, L., Dan Ksatria, A. P. (2017) (dalam waktu 2017). Sumber daya dan hubungan dalam kewirausahaan: Teori pertukaran tentang perkembangan dan efek dari hubungan pengusaha-investor. Academy of Management Review, 42 (1), 80-102.
- Maslow, A. H. (1943). Sebuah teori tentang motivasi manusia. Tinjauan Psikologis, 50 (4), 370-396.
- Osterwalder, A., & Pz.neur, Y. (2010). Generasi Model Bisnis: Buku Pegangan
-
-
-
-
-
-
Kehadiran Online:

-