Garis besar topik
-
-
Pada topik ni kita akan menjelaskan tentang skala pengukuran data menggunakan kuesioner dari teknik, jenis hingga contohnya.
Kuesioner adalah suatu teknik pengumpulan informasi yang memungkinkan analis mempelajari sikap-sikap, keyakinan, perilaku, dan karakteristik beberapa orang utama di dalam organisasi yang bisa terpengaruh oleh sistem yang diajukan atau oleh sistem yang sudah ada.
Dengan menggunakan kuesioner, analis berupaya mengukur apa yang ditemukan dalam wawancara, selain itu juga untuk menentukan seberapa luas atau terbatasnya sentimen yang diekspresikan dalam suatu wawancara.
Penggunaan kuesioner tepat bila :
- Responden (orang yang merenpons atau menjawab pertanyaan) saling berjauhan.
- Melibatkan sejumlah orang di dalam proyek sistem, dan berguna bila mengetahui berapa proporsi suatu kelompok tertentu yang menyetujui atau tidak menyetujui suatu fitur khusus dari sistem yang diajukan.
- Melakukan studi untuk mengetahui sesuatu dan ingin mencari seluruh pendapat sebelum proyek sistem diberi petunjuk-petunjuk tertentu.
- Ingin yakin bahwa masalah-masalah dalam sistem yang ada bisa diidentifikasi dan dibicarakan dalam wawancara tindak lanjut.
JENIS PERTANYAAN DALAM KUISONER
Perbedaaan pertanyaan dalam wawancara dengan pertanyaan dalam kuesioner adalah dalam wawancara memungkinkan adanya interaksi antara pertanyaan dan artinya. Dalam wawancara analis memiliki peluang untuk menyaring suatu pertanyaan, menetapkan istilah- istilah yang belum jelas, mengubah arus pertanyaan, memberi respons terhadap pandanmgan yang rumit dan umumnya bisa mengontrol agar sesuai dengan konteksnya. Beberapa diantara peluang-peluang diatas juga dimungkinkan dalam kuesioner. Jadi bagi penganalisis pertanyaan-pertanyaan harus benar-benar jelas, arus pertanyaan masuk akal, pertanyaan-pertanyaan dari responden diantisipasi dan susunan pertanyaan direncanakan secara mendetail.
Jenis-jenis pertanyaan dalam kuesioner, sebagai berikut :
- Pertanyaan Terbuka
Pertanyaan-pertanyaan yang memberi pilihan-pilihan respons terbuka kepada responden. Pada pertanyaan terbuka antisipasilah jenis respons yang muncul. Respons yang diterima harus tetap bisa diterjemahkan dengan benar. - Pertanyaan Tertutup
Pertanyaan-pertanyaan yang membatasi atau menutup pilihan-pilihan respons yang tersedia bagi responden.
Petunjuk-petunjuk yang harus diikuti saat memilih bahasa untuk kuesioner adalah sebagai berikut :
- Gunakan bahasa responden kapanpun bila mungkin. Usahakan agar kata-katanya tetap sederhana.
- Bekerja dengan lebih spesifik lebih baik daripada ketidak-jelasan dalam pilihan kata- kata. Hindari menggunakan pertanyaan-pertanyaan spesifik.
- Pertanyaan harus singkat.
- Jangan memihak responden dengan berbicara kapada mereka dengan pilihan bahasa tingkat bawah.
- Hindari bias dalam pilihan kata-katanya. Hindari juga bias dalam pertanyaan-pertanyaan yang menyulitkan.
- Berikan pertanyaan kepada responden yang tepat (maksudnya orang-orang yang mampu merespons). Jangan berasumsi mereka tahu banyak.
- Pastikan bahwa pertanyaan-pertanyaan tersebut secara teknis cukup akurat sebelum menggunakannya.
- Gunakan perangkat lunak untuk memeriksa apakah level bacaannya sudah tepat bagi responden
SKALA DALAM KUESIONER
Penskalaan adalah proses menetapkan nomor-nomor atau simbol-simbol terhadap suatu atribut atau karakteristik yang bertujuan untuk mengukur atribut atau karakteristik tersebut. Alasan penganalisis sistem mendesain skala adalah sebagai berikut :
- Untuk mengukur sikap atau karakteristik orang-orang yang menjawab kuesioner.
- Agar respoden memilih subjek kuesioner.
MERANCANG KUESIONER
Merancang formulir-formulir untuk input data sangat penting, demikian juga merancang format kuesioner juga sangat penting dalam rangka mengumpulkan informasi mengenai sikap, keyakinan, perilaku dan karakteristik.
- Format kuesioner sebaiknya adalah :
- Memberi ruang kosong secukupnya,
- Menunjuk pada jarak kosong disekeliling teks halaman atau layar. Untuk meningkatkan tingkat respons gunakan kertas berwarna putih atau sedikit lebih gelap, untuk rancangan survey web gunakan tampilan yang mudah diikuti, dan bila formulirnya berlanjut ke beberapa layar lainya agar mudah menggulung kebagian lainnya.
- Memberi ruang yang cukup untuk respons,
- Meminta responden menandai jawaban dengan lebih jelas.
- Menggunakan tujuan-tujuan untuk membantu menentukan format.
- Konsisten dengan gaya.
2. Urutan Pertanyaan
Dalam menurutkan pertanyaan perlu dipikirkan tujuan digunakannya kuesioner dan menentukan fungsi masing-masing pertanyaan dalam membantu mencapai tujuan.- Pertanyaan-pertanyaan mengenai pentingnya bagi responden untuk terus, pertanyaan harus berkaitan dengan subjek yang dianggap responden penting.
- Item-item cluster dari isi yang sama.
- Menggunakan tendensi asosiasi responden.
- Kemukakan item yang tidak terlalu kontroversial terlebih dulu.
ISI DARI KUESIONER
Kuesioner harus memiliki center perhatian, yaitu masalah yang ingin dipecahkan. Tiap pertanyaan harus merupakan bagian dari hipotesis yang ingin diuji. Dalam memperoleh keterangan yang berkisar pada masalah yang ingin dipecahkan itu, maka secara umum isi dari kuesioner dapat berupa :
a. pertanyaan tentang fakta
b. pertanyaan tentang pendapat,
c. pertanyaan tentang persepsi diri.
CARA MENGUNGKAPKAN PERTANYAAN
Walaupun sukar untuk menentukan suatu aturan yang dapat berlaku umum tentang cara mengungkapkan pertanyaan, beberapa petunjuk penting berkenaan dengan hal diatas perlu diketahui, antara lain :
a. jangan pergunakan perkataan yang sulit,
b. jangan gunakan pertanyaan yang bersifat terlalu umum,
c. hindarkan pertanyaan yang mendua arti (ambigus),
d. jangan gunakan kata yang samar-samar,
e. hindarkan pertanyaan yang mengandung sugesti,
f. hindarkan pertanyaan yang berdasarkan presumasi,
g. jangan membuat pertanyaan yang melakukan responden,
h. hindarkan pertanyaan yang menghendaki ingatan,
i. gunakan bahasa yang mudah (perkataan dan kalimat harus sederhana)
j. gunakan istilah yang familiar bagi responden,
k. pertanyaan disusun secara sistematis (sederhana hingga kompleks)
Untuk mendukung pertanyaan itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya :
a. Nyatakan permohonan yang mengutamakan tentang perlunya jawaban dari responden dan pentingnya responden dalam menjawab masalah tersebut. Dalam hal ini :- Nyatakan siapa yang melakukan penelitian (nama & instansi)
- Nyatakan mengapa studi harus dilaksanakan (tujuan)
- Nyatakan bahwa tanpa partisipasi responden, penelitian tersebut tidak dapat dilaksanakan.
b. Berikan cara mengisi kuesioner tersebut sejelas-jelasnya.
JENIS PERTANYAAN
Pertanyaan yang dibuat dalam kuesioner dapat memperoleh jawaban yang berjenis-jenis, atau menjurus kepada beberapa alternatif jawaban yang sudah diberikan lebih dahulu. Dalam hubungannya dengan leluasa tidaknya responden memberikan jawaban terhadap pertanyaan- pertanyaan yang diajukan, pertanyaan dapat dibagi dalam 2 jenis, yaitu pertanyaan berstruktur (tertutup) dan pertanyaan terbuka.
Pertanyaan Tertutup adalah pertanyaan yang dibuat sedemikian rupa sehingga responden dibatasi dalam memberi jawaban kepada beberapa alternatif saja. Jawaban alternatif yang disarankan berjumlah ganjil. Biasanya berjumlah 3, 5 dan 7.
Pertanyaan Terbuka adalah pertanyaan yang dibuat sedemikian rupa dan jawaban serta cara pengungkapannya dapat bermacam-macam sehingga responden memiliki kebebasan dalam menjawab pertanyaan ini. Bentuk pertanyaan ini jarang digunakan.
BERIKUT INI CONTOH BENTUK DARI KUESIONER UNTUK PERTANYAAN TERTUTUP :Yth. Bapak/Ibu/Saudara/Saudari
Dalam rangka Penelitian Tugas Akhir yang bertema Usulan Perbaikan Design Kemasan Mi Instant tipe A dengan Metode Rasionel, maka saya yang melakukan penelitian :Nama : Afdan Rojabi
NIM: 2101780126
Program Studi : Sistem Informasi
Fakultas : Sistem Informasi BINUS University
memohon Bapak/Ibu/Saudara/Saudari berkenan untuk mengisi kuesioner berikut ini, karena tanpa partisipasi Bapak/Ibu/Saudara/Saudari sekalian, penelitian ini tidak dapat dilaksanakan.
Bagian I
DATA RESPONDEN
Petunjuk : Berilah tanda ( v ) pada kotak didepan informasi yang sesuai menurut Anda.- Jenis Kelamin
# Pria
?#Wanita
2. Usia
# kurang dari 17 tahun
# antara 17ΓÇô25 tahun
# antara 26ΓÇô35 tahun
# antara 36ΓÇô45 tahun
# lebih dari 45 tahun
3. Apakah anda pernah membeli Mi Instant?
# Ya
# Tidak
4. Dimana tempat anda bisa membeli Mi Instant?
# Warung
# Toko
# Minimarket
# Supermarket
# Lainnya, ________________
5. Berapa kalikah anda membeli Mi Instant dalam 1 bulan?
# kurang dari 1 kali
# 1 kali
# 2 kali
# 3 kali
# Lebih dari 3 kali
Bagian II
PREFERENSI DAN PERSEPSI RESPONDENBagian II.1 Preferensi Responden
Petunjuk : Berilah tanda ( v ) pada salah satu pilihan jawaban tingkat kepentingan yang sesuai preferensi Bapak/Ibu/Saudara/Saudari terhadap empat jenis kemasan Mi Instant dibawah ini.
Berikut ini merupakan daftar nilai refernsi :- Sangat Penting (STP)
- Tidak Penting (TP)
- Cukup Penting (CP)
- Penting (P)
- Sangat Penting (SP)
Bagian II.2 Persepsi Respoden
Petunjuk : Berikan nilai persepsi (skala 1ΓÇô5) yang menunjukkan tingkat kepuasan Bapak/Ibu/Saudara/Saudari terhadap empat jenis kemasan Mi Instant di bawah ini. Berikut ini adalah keterangan nilai persepsi ;1 = Sangat Tidak Memuaskan
2 = Tidak Memuaskan
3 = Cukup Memuaskan
4 = Memuaskan
5 = Sangat Memuaskan
Contoh :
Bila pengisian seperti contoh diatas, maka Bapak/Ibu/Saudara/Saudari menganggap bahwa Kejelasan penulisan merk merupkan faktor yang sangat pentign bagi sebuah produk Mi Instant, dan berdasarkan persepsi anda untuk faktor kejelasan penulisan merk untuk kemasan A memiliki tingkat sangat memuaskan, kemasan B memiliki tingkat memuaskan, kemasan C memiliki tingkat cukup memuaskan, dan kemasan D memiliki tingkat cukup memuaskan.Referensi :
- Lecture Notes Week 7: Measurement and Scaling Concepts (BINUS University)
- Zikmund, Babin, Carr, and Griffin. 2009. Business Research Methods. Thomson South-Western.
-
Skala pengukuran merupakan alat ukur yang digunakan untuk mengkuantifikasi informasi yang diberikan oleh konsumen jika mereka diharuskan menjawab pertanyaan yang telah dirumuskan dalam suatu kuesioner. Ada empat skala pengukuran yaitu skala nominal, ordinal, interval, dan skala rasio.
Skala Nominal
skala nominal digunakan untuk mengkalisifikasikan objek, individual atau kelompok. Sebagai contoh, mengklasifikasi jenis kelamin, agama, pekerjaan atau lokasi. Dalam melakukan klasifikasi ini digunakan angka-angka sebagai simbol atau label. Contoh kita mengklasifikasi jenis kelamin yang pada umumnya digunakan angka 1 untuk jenis laki-laki dan 2 untuk perempuan. Kita tidak dapat melakukan operasi aritmatika dengan angka-angka tersebut dikarenakan angka-angka tersebut hanya menunjukkan keberadaan atau ketidakadanya karakteristik tertentu. Contoh lain yang dapat digunakan dalam aplikasi mengenai riset suatu pemasaran, sebagai berikut:
Apakah saudara setuju dengan memasarkan beras impor di pasaran bebas saat ini?
Jawab: a setuju b. tidak setuju
Jawaban setuju diberi nilai 1 dan jawaban tidak setuju diberi nilai 0 atau 2Skala Ordinal
Skala pengukuran ordinal memberikan informasi mengenai jumlah relatif karakteristik berbeda yang dimiliki oleh suatu objek atau individu tertentu. Tingkat pengukuran ini mempunyai informasi skala nominal ditambah dengan sarana peringkat relatif tertentu yang memberikan informasi apakah suatu objek memiliki karakteristik yang lebih atau kurang tetapi bukan untuk mencari tau berapa banyak kekurangan dan kelebihannya.
Contoh :
Jawaban pertanyaan berupa peringkat, misalnya sangat tidak setuju, tidak setuju, setuju, dan sangat setuju dapat diberi simbol angka 1, 2, 3, 4, dan 5. Angka-angka ini hanya berupa simbol peringkat dan tidak mengekspresikan jumlah. Biasanya jawaban kuesioner menggunakan skala linkert yang digunakan untuk mengukur sikap, misalnya untuk menyatakan setuju atau tidak setuju terhadap suatu pernyataan atau pertanyaan.Contoh aplikasi dalam riset pemasaran:
Bagaimana menurut pendapat saudara mengenai layanan penjualan tiket pesawat terbang maskapai X?
Jawab : a. sangat lambat b. lambat c. cepat d. sangat cepatUntuk jawaban sangat lambat diberi nilai 1 dan seterusnya.
Contoh skala ordinal adalah sebagai berikut:
1. Tingkat pendidikan:
- Taman Kanak-kanak (TK) = 1
- Sekolah Dasar (SD) = 2
- Sekolah Menengah Pertama (SMP) = 3
- Sekolah Menengah Atas (SMA) = 4
- Diploma = 5
- Sarjana = 6
2. Tingkat kecantikan wanita:
- Sangat cantik = 4
- Cantik = 3
- Cukup Cantik = 2
- Kurang Cantik = 1
Skala Interval
Skala interval mempunyai karakteristik seperti yang dimiliki oleh skala nominal dan ordinal dengan ditambah karakteristik lain, yaitu berupa interval yang tetap. Dengan demikian, peneliti dapat melihat besarnya perbedaan karakteristik antara satu individu atau objek dan lainnya. Skala pengukuran interval benar-benar merupakan angka yang digunakan untuk melakukan operasi aritmatika. Untuk melakukan analisi, skala pengukuran ini menggunakan statistik parametrik.
Contoh penggunaan skala pengukuran interval:
jawaban pertanyaan menyangkut frekuensi dalam pertanyaan:
Berapa kali anda memberi produk sampo x dalam satu bulan?
jawaban a. 1 kali b. 3 kali c. 5 kali d. 7 kali.
angka-angka 1, 3, 5, dan 7 adalah angka sebenarnya dengan menggunakan interval 2.contoh lain : berapa persen kenaikan harga bahan pokok makanan sehari hari?
jawaban: a. 5% b. 10% c. 15% d. 20%jawaban berupa penilaian skala antara 1-10
Beri kami masukan mengenai layanan yang kami berikan dengan menggunakan skala sebagai berikut:
kurang 12345 678910 baikSkala Rasio
Skala pengukuran rasio mempunyai semua karakteristik yang dipunyai oleh skala nominal, ordinal maupun interval dengan kelebihan skala ini mempunyai nilai nol empiris absolut. Nilai nol absolut ini terjadi pada saat suatu karakteristik yang sedang diukur tidak ada. Pengukuran rasio biasanya berbentuk perbandingan antara satu individu atau objek tertentu dan lainnya.
Contoh penggunaan skala rasio dalam penelitian
Harga kopi a satu kilo Rp. 15.000,- harga kopi b satu kilo Rp. 75.000,- maka harga kopi a dibandingkan dengan kopi b sama dengan 1 dibanding 5. tarif kereta api naik sebesar 10% sedangkan tarif pesawat terbang naik sebesar 20% dan lainnya yang memiliki hubungan perbandingan, pengukuran dapat menggunakan skala rasio.Skala Pengukuran dalam Penelitian
Terdapat berbagai skala pengukuran yang biasa dipergunakan dalam penelitian Administrasi, Pendidikan, Ekonomi, Bisnis ataupun Sosial, antara lain adalah sebagai berikut:
a. Skala Likert
Menurut Djaali dan Muljono (2007), skala likert adalah skala yang dapat dipergunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang suatu gejala atau fenomena sosial. Dengan menggunakan skala likert, maka variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi dimensi, dimensi dijabarkan menjadi sub variabel kemudian sub variabel dijabarkan menjadi indikator-indikator yang dapat diukur.
Indikator-indikator yang terukur ini dapat dijadikan titik tolak untuk membuat item instrumen yang berupa pertanyaan atau pernyataan yang perlu dijawab oleh responden. Setiap jawaban dihubungkan dengan bentuk pernyataan atau dukungan sikap yang diungkapkan dengan kata-kata. Jawaban setiap item instrumen yang menggunakan skala Likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif.
Contoh pilihan jawaban pada instrumen yang menggunakan skala Likert seperti terlihat pada tabel di bawah ini:

Instrumen penelitian yang menggunakan skala likert dapat dibuat dalam bentuk checklist ataupun pilihan ganda. Contoh item pertanyaan dan pembobotan dalam skala Likert dengan bentuk checklist adalah sebagai berikut:

Keterangan Pembobotan:
- SS (Sangat Setuju) = skor 5
- ST (Setuju) = skor 4
- RG (Ragu-ragu) = skor 3
- TS (Tidak Setuju) = skor 2
- STS (Sangat Tidak Setuju) = skor 1
b. Skala Guttman
Skala Guttman adalah skala kumulatif disebut juga sebagai skala scalogram yang sangat baik untuk meyakinkan peneliti tentang kesatuan dimensi dan sikap atau sifat yang diteliti, yang sering disebut atribut universal. Skala pengukuran dengan tipe ini akan didapat jawaban yang tegas, yaitu "ya atau tidak", "benar atau salah", "pernah atau tidak pernah", "positif atau negatif", "Setuju atau tidak setuju", dan lain-lain.
Data yang diperoleh dapat berupa data interval atau rasio dikhotomi (dua alternatif). Jadi kalau pada skala Likert terdapat 3,4,5,6,7 interval, dari kata "sangat setuju" sampai "sangat tidak setuju", maka pada skala Guttman hanya ada dua interval yaitu "setuju" dan "tidak setuju". Penelitian menggunakan skala Guttman dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan.
Skala Guttman selain dapat dibuat dalam bentuk pilihan ganda, juga dapat dibuat dalam bentuk checklist. Jawaban dapat dibuat skor tertinggi satu dan terendah nol. Misal untuk jawaban setuju diberi skor 1 dan tidak setuju diberi skor 0. Contoh instrumen yang menggunakan skala Guttman dapat dilihat pada gambar tabel di bawah ini:

c. Skala Semantic Defferential
Skala Semantic Defferensial dikembangkan oleh Osgood. Skala ini juga digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tidak pilihan ganda maupun checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum yang jawaban "sangat positifnya" terletak di bagian kanan garis, dan jawaban yang "sangat negatif" terletak di bagian kiri garis, atau sebaliknya. Data yang diperoleh adalah data interval, dan biasanya skala ini digunakan untuk mengukur sikap/karakteristik tertentu yang dipunyai oleh seseorang.
Skala ini berbeda dengan skala Likert yang menggunakan cecklist atau pilihan ganda, pada skala ini responden langsung diberi pilihan bobot hal yang dimaksud dari yang positif sampai negatif. Responden bisa memberikan jawaban dengan mencentang atau memberi tingkatan jawaban. Jawaban responden terletak pada rentang jawaban positif sampai dengan negatif. Hal ini tergantung pada persepsi responden kepada yang dinilai. Gambar di bawah ini adalah contoh instrumen yang menggunakan skala Semantic Defferensial.
d. Skala Rating
Skala model rating scale, responden tidak akan menjawab salah satu dari jawaban kualitatif yang telah disediakan, tetapi menjawab salah satu jawaban kuantitatif yang tersedia. Dengan demikian skala rating lebih luwes, fleksibel dan tidak terbatas dalam mengukur sikap saja, namun untuk mengukur persepsi atau penilaian responden terhadap sebuah fenomena lainnya. Seperti skala untuk mengukur status sosial ekonomi, kelembagaan, pengetahuan, kemampuan, proses kegiatan dan lain-lain.
Dengan skala rating, data mentah yang didapatkan berbentuk angka, selanjutnya ditafsirkan dalam pemahaman kualitatif. Jawaban responden senang atau tidak senang, setuju atau tidak setuju, pernah atau tidak pernah. Yang penting bagi penyusun instrumen dengan rating scale adalah harus dapat mengartikan setiap angka yang diberikan pada alternatif jawaban pada setiap item instrumen. Orang tertentu memilih jawaban angka 2, tetapi angka 2 oleh orang tertentu belum tentu sama maknanya dengan orang lain yang juga memilih jawaban dengan angka 2. Contoh instrumen dengan menggunakan skala rating dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

-
