Garis besar topik

  • Kesadaran akan eratnya kaitan antara keputusan dan kegiatan organisasi dengan dampaknya terhadap lingkungan alam disebut sebagai ΓÇ£manajemen yang ramah lingkunganΓÇ¥ (greening management). Sampai akhir tahun 1960-an, hanya sedikit orang/organisasi yang memperhatikan dampak organisasi terhadap lingkungan. Sejumlah masalah ekologi yang mencolok dan sejumlah bencana lingkungan menimbulkan semangat enviromentalisme baru bagi setiap orang, kelompok, ataupun organisasi.

    Masalah-masalah Lingkungan Global

    Daftar masalah-masalah lingkungan global sangat panjang, yaitu mencakup menipisnya sumber daya alam, pemanasan global, pencemaran (air, udara, tanah), kecelakaan industry, dan limbah beracun. Masalah-masalah tersebut timbul dapat dituduhkan ke kegiatan industry di negara-negara maju selama separuh terakhir abad ini. Masyarakat kaya berperan 75% konsumsi sumber daya dan energi dunia juga menciptakan sebagian besar limbah industry, beracun, dan limbah konsumen. Gambaran lain yang sama-sama mengganggu yaitu terus berkembangnya populasi dunia dan ketika Negara-negara berkembang lebih berorientasi pasar, masalah lingkungan globa diperkirakan akan semakin memburuk. Peran apakah yang dapat dimainkan oleh organisasi dalam memecahkan masalah-masalah lingkungan global tersebut? Bagaimana cara mereka ΓÇ£menjadi hijauΓÇ¥?

    • Dalam kurun waktu tahun 1967-2018, pertumbuhan ekonomi Indonesia selalu positif, kecuali tahun 1998, minus 13,20%. Sejak awal milenium, pertumbuhan ekonomi belum mencapai tingkat seperti pada pertengahan tahun sembilan puluhan, meski cenderung semakin tinggi. Penurunan kemiskinan jadi satu digit seperti sebuah ironi dalam pertumbuhan. Sebab, lebih dari 25 juta jiwa (9,41%) penduduk hidup di bawah garis kemiskinan (BPS, 15/7/2019). Meski angka kemiskinan sudah turun ke single digit 9,41%, jumlah penduduk miskin dan rentan miskin masih besar, sekitar 78,44 juta atau 29,36% dari total penduduk Indonesia (Investor Daily, 18/7/2019). Fenomena paradoksal pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan ini menimbulkan pertanyaan, mengapa terjadi pertumbuhan ekonomi tetapi kemiskinan masih tinggi? Jawaban pertanyaan tersebut sederhana. Masyarakat golongan bawah kurang mempunyai akses terhadap faktor produksi. Dalam kegiatan ekonomi, faktor produksi disinergikan untuk menciptakan nilai tambah (value added), yang agregasinya merupakan produk domestik bruto (PDB). Data BPS menunjukkan pertumbuhan ekonomi tahun 2018 sebesar 5,17%. Angka ini merupakan yang tertinggi semasa pemerintahan Jokowi-JK. Minimnya akses penduduk miskin terhadap faktor produksi menyebabkan akses terhadap nilai tambah (PDB) juga minimal. Maka, orang miskin kurang dapat menikmati bagian nilai tambah. Inilah penyebab mengapa kemiskinan persisten. Dari perekonomian yang berlangsung positif, dua hal mungkin terjadi. Pertama, kesenjangan pendapatan semakin tinggi, dikarenakan sebagian kecil masyarakat menguasai faktor produksi, dan penduduk miskin tidak demikian, sehingga mereka tetap saja miskin. Kedua, andaikata penguasa faktor produksi adalah investor asing, maka akan mengurangi ΓÇ£kueΓÇ¥ ekonomi domestik karena sebagian PDB milik investor asing terbang ke luar negeri. Dari dua hal tersebut, yang terjadi saat ini memang kesenjangan struktural maupun spasial yang membentuk lingkaran setan kemiskinan yang sulit diputus.

      Empat Pilar Strategi Pembangunan

      Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan, pelestarian lingkungan hidup adalah bagian dari strategi pembangunan nasional, yang dicanangkan pemerintah sejak 2009. SBY mengatakan, program prorakyat yang dicanangkan pemerintah didasarkan pada empat pilar utama yaitu, pro-growth, pro-job, pro-poor, dan pro-environment. Salah satu kebijakan hijau baru yang diterapkan di Indonesia adalah program pengurangan emisi gas rumah kaca dan peningkatan pasokan karbon.

      Contoh Langkah mewujudukan upaya penghijauan yaitu Teknik penanaman hidroponik dapat menjadi solusi penghijauan selanjutnya apabila lahan yang kita punya tidak cukup memadai untuk ditanami tumbuhan hijau. Teknik penanaman hidroponik adalah teknik menanam tanpa menggunakan tanah, melainkan menggunakan benda lain seperti sabut kelapa yang diberi unsur hara yang dibutuhkan oleh tumbuhan hijau. atau simplenya ada adalah Disiplin membuang sampah pada tempatnya dapat mendukung upaya penghijauan. Lingkungan yang telah kita tanami oleh tumbuh-tumbuhan hijau tentunya tidak boleh tercemari oleh limbah maupun sampah, karena dapat menimbulkan pemandangan yang tidak sedap. Kepedulian masyarakat sangat dibutuhkan dalam masalah ini. Apabila masyarakat dengan sadar tidak membuang sampah sembarangan, tentu dampak positifnya juga dirasakan oleh masyarakat itu sendiri.

      Motif dan Berkah yang melimpah bagi Ekonomi 

      Patut disadari oleh para pebisnis di Tanah Air bahwa para pebisnis dan korporasi global sudah melangkah jauh dalam menerapkan prinsip-prinsip green business dalam keputusan dan tindakan bisnis secara terintegrasi. Tren kesadaran korporasi global untuk menerapkan green business terus meningkat pesat dalam lima tahun terakhir. Sementara kesadaran korporasi Indonesia terhadap green business masih sangat rendah. 

      Lalu, apa motif korporasi global menerapkan green business? Sejumlah hasil survei melaporkan bahwa motifnya sangat beragam. Pertama, untuk menebus dosa atas kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat perusahaan sebelumnya. Dengan begitu, perusahaan akan terlindungi secara sosial. Kedua, patuh terhadap regulasi agar bisa mengurangi tekanan-tekanan politik dan sosial dari pemerintah dan masyarakat setempat. Ketiga, menurunkan risiko bisnis dan risiko keuangan serta risiko politis. Keempat, meningkatkan akses politis, investasi, kredit dan bisnis perusahaan. 

      Kelima, meningkatkan citra, reputasi dan nama baik perusahaan sehingga mendapat apresiasi yang luas dari para stakeholder. Keenam, untuk keberlanjutan bisnis dan laba perusahaan dalam jangka panjang. Apa berkah ekonomi yang dapat diperoleh perusahaan dari green business? Ternyata banyak! Sejumlah hasil riset empiris melaporkan bahwa komitmen berkelanjutan perusahaan mengelola bisnisnya dengan menginternalisasikan prinsipprinsip green businessdalam keputusan dan tindakan bisnis mendatangkan banyak manfaat atau berkah ekonomi bagi perusahaan. 

      Meski dalam jangka pendek menurunkan laba, namun dalam jangka panjang justru mendatangkan banyak keuntungan bagi perusahaan. Laba, ekuitas dan nilai bersih perusahaan dan nilai pasar sekuritas perusahaan terus meningkat dalam jangka panjang. Bukti empiris di Indonesia juga menyimpulkan hal yang sama. Kinerja dan nilai perusahaan meningkat pesat pasca perusahaan melaksanakan CSR atau green business secara berkelanjutan.

      Sebaliknya, risiko bisnis dan risiko pasar menurun signifikan setelah perusahaan melaksanakan CSR atau green business secara konsisten (Lako, 2013). Bukti-bukti empiris tersebut menunjukkan bahwa green business adalah berkah, bukan beban, bagi perusahaan. Karena itu, bagi para pebisnis, jangan khawatir untuk melangkah menerapkan konsep green business dalam praktik bisnis di perusahaan.

    • 1 SKS terakahir seperti biasa kalian memberikan sebuah pertanyaan ataupun kesimpulan dalam pertemuan kita ini. sifatnya wajib karena ini absen.. 

    • 1 SKS terakhir kalian wajib memberikan pertanyaan atau kesimpulan dalam pertemuan kita hari ini.. wajib ya karena absen disini. 

    • Kan udah libur tugasnya... jd ada tugas ya dipertemuan ini untuk feedback kalian mengenai pemahaman materi hari ini.. simpel kok gak susah... selamat mengerjakan... 

    • Kan udah libur tugasnya... jd ada tugas ya dipertemuan ini untuk feedback kalian mengenai pemahaman materi hari ini.. simpel kok gak susah... selamat mengerjakan... 

    • Kesimpulan

      Green business adalah suatu paradigma bisnis yang menganjurkan dalam berbisnis untuk meraup keuntungan (profit), korporasi harus juga peduli, berkomitmen dan bertanggung jawab untuk melestarikan lingkungan dan alam semesta (planet) dan meningkatkan kesejahteraan sosial kepada masyarakat (people). 

      Dalam konteks komitmen dan tanggung jawab tersebut, Cooney (2009) menyatakan bahwa green business adalah upaya-upaya yang dilakukan perusahaan untuk meminimalkan dampak-dampak negatif dari aktivitas ekonomi perusahaan terhadap komunitas, masyarakat, ekonomi dan lingkungan lokal maupun global dengan cara memenuhi prinsip-prinsip triple bottom line of business. Menurut Cooney (2009), suatu bisnis dapat dikatakan sebagai green business apabila memenuhi empat kriteria berikut. Pertama, perusahaan menginternalisasikan prinsip-prinsip sustainabilitas bisnis dalam setiap keputusan bisnis. Kedua, perusahaan menghasilkan dan menawarkan produk-produk atau jasa yang ramah lingkungan. Ketiga, perusahaan tersebut lebih hijau atau lebih peduli lingkungan dibanding perusahaanperusahaan kompetitor lainnya. Keempat, perusahaan memiliki komitmen berkelanjutan untuk menerapkan prinsip-prinsip lingkungan dalam operasi bisnisnya. Pemahaman yang lebih luas tentang green business yang berikan oleh John Elkington. 

      Elkington yang dikenal sebagai Bapak Pencetus Teori Triple Bottom-Line of Business dalam sejumlah tulisannya menyatakan bahwa pilar dasar dari keberlanjutan suatu bisnis adalah alam semesta atau lingkungan (planet), masyarakat (people) dan laba perusahaan (profit). Karena itu, apabila suatu perusahaan menginginkan bisnisnya tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan maka ketiga pilar dasar tersebut harus dikelola secara baik dan berkelanjutan. Dengan menyinergiskan 3- P tersebut (profit, planet, people) dalam desain dan praktik bisnis maka bisnis dan laba korporasi akan tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan dalam jangka panjang (Elkington, 2001). Menurut Elkington, green business dan upaya-upaya untuk menghijaukan (greening) organisasi korporasi dan bisnis harus dilekatkan dalam konteks triple bottom-line of business tersebut. 

      Hanya dengan cara begitu maka kontinuitas dan kesejahteraan ekonomi korporasi dapat dicapai karena didukung oleh profitabilitas bisnis yang berkelanjutan (sustainability profit), konservasi alam semesta yang lestari (sustainability planet) dan kesejahteraan dan keadilan sosial yang berkelanjutan dari masyarakat (people well-being & equity). Dari konsep dan hakikat green business di atas maka bisa ditarik suatu intisari bahwa green business janganlah dilihat sebagai suatu kewajiban yuridis atau tanggung jawab moral perusahaan kepada masyarakat dan lingkungan karena perusahaan telah hidup dan bergantung pada kedua pilar dasar tersebut. Apabila berpandangan demikian, maka transformasi bisnismenujuke green business akan dianggap sebagai suatu beban berat yang sedapat mungakin dikurangi atau dihindari karena merugikan.