Garis besar topik
-
-
Assalamualaikum Wr Wb
Tabik Pun... Syalom.. Om Swastiastu... Tamo Budaya..
Mata kuliah ini mempunyai tujuan untuk memberi pemahaman,menyatukan dan membulatkan semua mata kuliah akuntansi yang diberikan pada Jurusan Akuntansi dengan penekanan pada teori akuntansi keuangan,asumsi-asumsi dasar dari pengetahuan akuntansi yang diberikan pada kuliah-kuliah terdahulu. Dalam mata kuliah ini diselidiki lebih lanjut dengan memberikan kritik dan alternatif yang dikaitkan dengan keadaan yang hidup di masyarakat, Materi yang akan dibahas dalam mata kuliah ini meliputi : metodologi dan konsep-konsep teori akuntansi keuangan.
Mahasiswa diharapkan berpartisipasi aktif dan diwajibkan melakukan analisis makalah tentang topik tertentu. dan membuat refrensi untuk penyusunan skripsi sehingga memahami terori dan konsep-konsep akuntansi keuangan.
Semanagat Belajar
Wassalam....
#Darmajayathebest
-
Matakuliah ini membahas mengenai berbagai macam artikel penelitian terkait akuntansi keuangan. Tujuan utama adalah membangun pemahaman mahasiswa tentang penelitian akuntansi keuangan. Tujuan lain adalah untuk mendorong mahasiswa untuk memikirkan isu-isu akuntansi keuangan yang penting untuk diteliti, yang nantinya akan memberikan kontribusi yang berarti bagi pengembangan penelitian akuntansi keuangan di Indonesia. Jadi, diharapkan mahasiwa tidak saja bisa mengkritik kelemahan-kelemahan paper-paper yang akan dibahas, tapi secara kritis mengevaluasi literatur, dan memikirkan perkembangannya lebih lanjut.
-
- Mampu menerapkan berbagai pengetahuan dalam bidang akuntansi keuangan, akuntansi manajemen, auditing dan sistem informasi akuntansi ke dalam bentuk proposal penelitian sesuai minat dan kemampuan mahasiswa.
- Membekali pengetahuan mahasiswa dengan mengedepankan penguasaan topik utama yaitu, bidang kajian akuntansi keuangan, akuntansi manajemen, auditing dan sistem informasi akuntansi.
- Mahasiswa mampu menyelesaikan proposal penelitian dengan penguasaan teknik metode riset dengan topik bidang kajian sesuai minat dan kemampuannya.
-
REVIEW ARTIKEL ILMIAH:
1. Judul artikel
2. Latar belakang penelitian
3. Pertanyaan penelitian
4. Tujuan penelitian
5. Kontribusi penelitian
6. Landasan teori yang digunakan
7. Pengembangan hipotesis
8. Model penelitian
9. Metode penelitian yang digunakan
- Jenis data penelitian:
- Sumber data penelitian:
- Teknik pengumpulan data:
- Populasi penelitian:
- Sampel penelitian:
- Teknik pengambilan sampel:
10. Pengukuran variable
11. Teknik analisis data
12. Hasil penelitian
13. Kesimpulan, saran dan keterbatasan penelitian.
-
No
Kegiatan Pembelajaran
Metode
Waktu
1
Kegiatan Pembuka/Pendahuluan
1. Dosen membuka perkuliahan dengan doa
2. Menjelaskan silabus perkuliahan pada pertemuan ini
3. Menjelaskan implikasi materi perkuliahan dengan bidang terkait
1. Ceramah
2. Tanya Jawab
10 menit
2
Kegiatan Inti
1. Menjelaskan sub-sub pokok pembahasan.
2. Tanya jawab langsung dan diskusi tentang materi yang telah atau sedang disampaikan.
1. Ceramah
2. Simulasi/ /persentasi mhs/Diskusi
80 menit
3
Penutup
1. Mereview pokok-pokok materi yang telah disampaikan.
2. Memberikan konklusi, penegasan, dan penguatan terhadap materi yang telah disampaikan.
3. Menyampaikan materi kuliah untuk pertemuan berikutnya.
4. Dosen menutup perkuliahan dengan doa
1. Ceramah
10 menit
1. Mahasiswa mencarai satu artikel ilmiah dengan topik akuntansi keuangan (Dianjurkan dari SNA) --> Dari Dosen selama e-learning
2. Setiap mahasiswa mempresentasikan artikel ilmiah yang di kaji.
3. Mahasiswa aktif bertanya dan menanggapi pertanyaan (setiap partisipasi akan diberi nilai).
4. Penilaian presentasi: Penguasaan materi, Kecakapan dalam memaparkan materi, Slide Power Poin dan Penampilan/kerapihan dalam berpakaian
5. Mahasiswa yang bertanggungjawab dalam presentasi wajib mengirimpkan PPT dan resume artikel ke dosen via e-mail (resume maksimal 5 halaman).
6. Mahasiswa diwajibkan untuk membaca materi kuliah terlebih dahulu.
7. Diakhir pertemuan mahasiswa wajib mengumpulkan proposal penelitian. : Dikirim via e-mail dalam bentuk PDF (dedi.putra@darmajaya.ac.id) dan hard copy di taruh ke meja kerja dosen. Format file dan email: Nama_Nim_Kelas_Tugas Proposal_Matakuliah
-
HURUF
NILAI
BOBOT
KRITERIA
A
80 ΓÇô 100
4
Sangat Baik
A-
75-79,5
3.75
Baik sekali
B+
70-74,5
3.5
Baik
B
65-67,5
3
baik
C
55-64,5
2
Cukup
D
30-54,5
1
Kurang
E
< 30
0
Tidak Lulus
-
- Presensi Kehadiran (20%)
- Tugas Mandiri (20%)
- Ujian Tengah Semester (20%)
- Ujian Akhir Semester (20%)
- Atitude Mahasiswa (20%)
KONTRAK PERKULIAHAN:
- Wajibkan memenuhi perkuliahan 75%.
- Wajib mengerjakan penugasan 100% (keterlambatan pengumpulan tugas akan dikurangi 10 poin).
- Maksimum keterlambatan 15 menit sesudah kuliah dimulai (bagi yang terlambat diperbolehkan masuk namun tidak dipresensi).
- Wajib berpakaian rapih, sopan dan santun.
- Kemeja/kaos berkerah/almamater.
- Celana panjang/rok panjang.
- Segala bentuk kecurangan seperti mencontek, plagiat dan sejenisnya akan mendapatkan nilai E.
- Tidak ada ujian susulan, kecuali:Sakit dengan melampirkan surat keterangan dari dokter, Dispensasi atas tugas/kegiatan mewakili kampus, ada keluarga yang meninggal dan § Jadwal bentrok.
- Diperbolehkan membuka HP saat perkuliahan berlangsung untuk mencari literature saat diskusi
-
Lakukan Reviuw Jurnal secara Mandiri dan di Prsentasikan seperti layaknya anda melakukan ujian skripsi....
jurnal akan di post disetiap pertemuan... cara meriviuw jurnal ada pada PETA PEMBELAJARA WAJIB MENGGUNAKAN SISTEMATIKA TERSEBUT.
-
Assalamualaikum wr wb
IFRS merupakan standar akuntansi internasional yang diterbitkan oleh International Accounting StandardBoard (IASB). Standar akuntansi ini disusun oleh empat organisasi utama dunia yaitu Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB), Komisi Masyarakat Eropa (EC), Organisasi Internasional Pasar Modal (IOSOC), dan Federasi Akuntansi Internasional (IFAC).
Natawidnyana (2008) menyatakan bahwa sebagian besar standar yang menjadi bagian dari IFRS sebelumnya merupakan International Accounting Standard (IAS). Kemudian IASB mengadopsi seluruh IAS dan melanjutkan pengembangan standar yang dilakukan.Tujuh Manfaat Penerapan IFRSKetua Tim Implementasi IFRS-Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Dudi M Kurniawan mengatakan, dengan mengadopsi IFRS, Indonesia akan mendapatkan tujuh manfaat sekaligus:- Meningkatkan kualitas standar akuntansi keuangan (SAK).
- Mengurangi biaya SAK.
- Meningkatkan kredibilitas dan kegunaan laporan keuangan.
- Meningkatkan komparabilitas pelaporan keuangan.
- Meningkatkan transparansi keuangan.
- Menurunkan biaya modal dengan membuka peluang penghimpunan dana melalui pasar modal.
- Meningkatkan efisiensi penyusunan laporan keuangan.
KENDALA KONVERGENSI PSAK KE DALAM IFRS- Dewan standar kauntansi yang kurang sumberdaya.
- IFRS berganti terlalu cepat sehingga ketika masih dalam proses adopsi satu standar IFRS dilakukan, pihak IASB sudah dalam proses mengganti IFRS tersebut.
- Kendala bahasa, karena stiap standar IFRS harus diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan seringkali ini tidaklah mudah.
- Infrastruktur profesi akuntansi yang belum siap.
- Kesiapan perguruan tinggi dan akuntan pendidik untuk berganti acuan ke IFRS.
- Support pemerintah terhadap issue konvergensi.
MANFAAT KONVERGENSI IFRS- Memudahkan pemahaman atas laporan keuangan dengan Standar Akuntansi Keuangan yang dikenal secara internasional.
- Meningkatkan arus investasi dlobal melalui transparansi.
- Menurunkan biaya modal dengan membuka peluang fund raising melalui pasar modal secara global.
- Menciptakan efisiensi penyusunan laporan keuangan.
- Meningkatkan kualitas laporan keuangan, dengan antara lain, mengurangi kesempatan untuk melakukan earning management.
Konvergensi IFRS di IndonesiaBerikut adalah Roadmap Konvergensi IFRS di Indonesia:Tahap Adopsi
(2008 ΓÇô 2010)Tahap Persiapan Akhir
(2011)Tahap Implementasi
(2012)Adopsi seluruh IFRS ke PSAKPenyelesaian persiapan infrastruktur yang diperlukanPenerapan PSAK berbasis IFRS secara bertahapPersiapan infrastruktur yang diperlukanPenerapan secara bertahap beberapa PSAK berbasis IFRSEvaluasi dampak penerapan PSAK secara komprehensifEvaluasi dan kelola dampak adopsi terhadap PSAK yang berlakuJika kita bandingkan antara semua standar akuntansi yang dimiliki Indonesia dengan IFRS, dengan jelas kita temukan perbedan kuantitas sebagai berikut:PSAKIFRS43 Standards (PSAK)
8 SyariΓÇÖah Standard
11 Interpretation (ISAK)
4 Technical Bulletins
1 SAK ETAP (Entitas tanpa akuntanbilitas publik/UKM)37 Standards
- 8 IFRS
- 29 IAS
27 Interpretation
16 IFRIC Interpretation
11 SICDi Indonesia juga masih terdapat Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) yang masih mengacu pada PSAK lama. Kemungkinan besar setelah konvergensi PSAK ke IFRS akan menyusul perubahan pada SAP.Tidak semua standar IFRS tersebut diatas dicontek habis dan dirubah menjadi PSAK, itulah mengapa IAI memilih konvergensi dari para adaption dan adoption. Sedikit gambaran saja untuk membedakan ketiga istilah tersebut saya jelaskan dalam tabel berikut:PerbedaanAdaptionConvergenceFull AdoptionArti harafiahAdaptasi/PenyelarasanPertemuan pada suatu titikAdopsi/pemakaianStandar akuntansiMembuat standar yang benar benar baruMembuat standar baru dengan mempertimbangkan keadaan yang berlakuMentranslet standar lama menjadi standar baruContoh NegaraIndonesia sebelum IFRSIndonesia setelah 2012Australia, HongkongMengutip pernyataan Prof Indra Wijaya dalam orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, beliau mengatakan: ΓÇ£Indonesia mengadopsi secara penuh seperti Australia sangat tidak mungkin, adopsi yang mungkin adalah Mengadopsi IFRS berkarakteristik Indonesia yang lebih bersifat taylor-made namun memenuhi kebutuhan internasional serta dapat melepaskan diri dari tekanan dunia internasionalΓÇ¥. Pernyataan itulah yang lebih tepat menjelaskan istilah konvergensi bagi Indonesia.-
Adopsi penuh standar akuntansi internasional adalah mengadopsi standar akuntansi internasional secara penuh tanpa adanya perubahan-perubahan untuk diterapkan di suatu negara. Adopsi dan implementasi standar akuntansi internasional (IAS) yang sekarang menjadi International Financial Reporting Standard (IFRS) bukanlah suatu yang mudah, beberapa permasalahan akan dihadapi oleh tiap negara. Adanya IFRS banyak mendapat penolakan yang disebabkan karena latar belakang nasional, keunikan iklim bisnis tiap negara, dan perbedaan kebutuhan dari pemakai laporan keuangan. Meskipun banyak penolakan tetapi banyak pula tekanan untuk mengadopsi IFRS, dengan demikian perlu ada yang menjembatani agar Standar Akuntansi Keuangan sejalan dengan IFRS yaitu dengan melakukan harmonisasi bahkan konvergensi terhadap IFRS.Adanya harmonisasi bahkan konvergensi terhadap IFRS maka diharapkan informasi akuntansi memiliki kualitas utama yaitu komparabilitas dan relevansi. Kualitas tersebut sangat diperlukan untuk memudahkan perbandingan laporan keuangan antara negara dan untuk pengambilan keputusan.
-
Banyak pelaku UMKM yang belum melakukan pencatatan keuangan sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Menindaklanjuti masalah pencatatan transaksi pada entitas UMKM yang disusun untuk memenuhi kebutuhan pelaporan keuangan usaha mikro, kecil, dan menengah, dirancang sebuah standar yang dirumuskan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) dalam lembaga Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) tentang Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM), yang menyederhanakan standar sebelumnya yaitu Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP), yang secara efektif berlaku mulai 1 Januari 2018.
Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) dimaksudkan untuk digunakan oleh Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (ETAP), yaitu entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement) bagi pengguna eksternal. Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga pemeringkat kredit. SAK ETAP bertujuan untuk menciptakan fleksibilitas dalam penerapannya dan diharapkan memberi kemudahan akses ETAP kepada pendanaan dari perbankan. SAK ETAP merupakan SAK yang berdiri sendiri dan tidak mengacu pada SAK Umum, sebagian besar menggunakan konsep biaya historis; mengatur transaksi yang dilakukan oleh ETAP; bentuk pengaturan yang lebih sederhana dalam hal perlakuan akuntansi dan relatif tidak berubah selama beberapa tahun.
SAK EMKM: Penjelasan Singkat
Standar ini ditujukan pada usaha yang belum mampu memenuhi standar akuntansi Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (ETAP) yang berlaku sebelumnya. SAK EMKM dirancang lebih sederhana dibandingkan SAK ETAP.
Sesuai dengan namanya, SAK EMKM dirancang khusus untuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah sesuai Undang Undang No 20 Tahun 2008 yang berlaku aktif mulai 1 Januari 2018.
Tujuannya adalah sebagai acuan dalam pembuatan laporan keuangan yang berisi informasi posisi dan kinerja keuangan.
Informasi tersebut berguna bagi kreditor maupun investor untuk pengambilan keputusan ekonomi sekaligus pertanggungjawaban manajemen kepada pemilik usaha.
Setidaknya, ada 3 Laporan Keuangan menurut SAK EMKM:
(a) Laporan posisi keuangan (neraca);
(b) Laporan laba rugi;
(c) Catatan atas laporan keuangan, yang berisi tambahan dan rincian.
Disajikan dalam bentuk dua periode/2 tahun (minimum) untuk dapat dibandingkan satu sama lain.
Kabar baiknya SAK EMKM akan lebih mudah diterapkan bersama Tebi karena cara kerja Tebi telah dirancang sesuai dengan ketentuan SAK EMKM dan akan terus berkembang untuk melengkapi beberapa ketentuan lanjutan.
Bagi yang ingin menambah pengetahuan dan wawasan di bidang ekonomi, keuangan, bisnis, dan akuntansi ikuti terus artikel Tebi ya! Semoga bermanfaat.
-
SAK ETAP
SAK ETAP merupakan Standar Akuntansi Keuangan untuk Enttas Tanpa Akuntabilitas Publik. ETAP di sini berart enttas yang tdak memiliki akuntabilitas publik yang signifikan serta menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum bagi pengguna eksternal. SAK ETAP memiliki banyak manfaat, antara lain membantu perusahaan-perusahaan kecil Menengah dapat menyusun laporan keuangannya sendiri, juga mempermudah proses audit dan dan mendapatkan opini audit, sehingga perusahaan dapat menggunakan laporan keuangannya untuk mendapatkan dana untuk pengembangan usahanya. Manfaat lainnya dari SAK ETAP adalah bahwa lebih mudah implementasinya bagi UMKM dibandingkan PSAK-IFRS karena lebih sederhana. Meskipun bisa dibilang sederhana namun tetap dapat memberikan informasi yang handal dalam penyajian laporan keuangan.
Disusun dengan mengadopsi IFRS for SME dengan modifikasi sesuai dengan kondisi di Indonesia serta dibuat lebih ringkas. Namun, SAK ETAP masih memerlukan profesional judgement hanya tdak sebanyak untuk PSAK-IFRS. SAK ETAP pada dasranya adalah penyederhanaan SAK IFRS. Beberapa penyederhanaan yang terdapat dalam SAK ETAP adalah :
- Tidak ada laporan laba rugi komprehensif
- Penilaian untuk aset tetap, aset tak berwujud, dan propert investasi setelah tanggal perolehan hanya menggunakan harga perolehan, tdak ada pilihan menggunakan nilai wajar revaluasi atau nilai wajar.
- Tidak ada pengakuan liabilitas dan aset pajak tangguhan. Beban pajak diakui sebesar jumlah pajak menurut ketentuan pajak
SAK-EMKM
Dalam rangka mewujudkan UMKM Indonesia yang maju, mandiri, dan modern, Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) IAI telah mengesahkan Exposure Draft Standar Akuntansi Keuangan Enttas Mikro, Kecil, dan Menengah (ΓÇ£ED SAK EMKMΓÇ¥) dalam rapatnya pada tanggan 18 Mei 2016. Dengan disahkannya ED SAK EMKM ini, maka standar akuntansi keuangan di Indonesia nantnya akan menjadi lengkap dengan 3 pilar strandar akuntansi keuangan, yakni SAK umum yang berbasis IFRS, SAK ETAP, dan SAK EMKM. Masing-masing pilar utama tersebut merupakan dukungan infrastruktur dalam konteks standar akuntansi keuangan yang dapat mencermnkan esensi dari enttas dunia usaha di Indonesia, yaitu:
- SAK umum yang berbasis IFRS merupakan standar akuntansi keuangan yang mengatur perlakuan akuntansi untuk transaksi-transaksi yang dilakukan oleh entitas dengan akuntabilitas publik signifikan.
- SAK ETAP merupakan standar akuntansi keuangan yang dimaksudkan untuk digunakan oleh enttas tanpa akuntabilitas publik yang signifikan namun menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum bagi penggunanya.
- ED SAK EMKM yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pelaporan keuangan entitas mikro, kecil, dan menengah.
ED SAK EMKM ini diharapkan dapat membantu sekitar 57,9 juta pelaku UMKM di Indonesia dalam menyusun laporan keuangannya dengan tepat tanpa harus terjebak dalam kerumitan standar akuntansi keuangan terdahulu (PSAK dan SAK ETAP). ED SAK EMKM ini merupakan standar akuntansi keuangan yang jauh lebih sederhana bila dibandingkan dengan SAK ETAP.
-
Silahkan upload tugas sampai Tanggal 3 Oktober 2024 Pkl 09.00 WIB
-
-
Apa itu CSR? Pengertian CSR (Corporate Social Responsibility) secara harifiah adalah respon sosial atau tanggung jawab sosial terhadap lingkungan sekitar yang dilakukan oleh sebuah perusahaan dalam bentuk berbagai kegiatan. Kegiatan tersebut dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, misalnya; menjaga lingkungan sekitar perusahaan, membangun fasilitas umum, meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, memberikan bantuan beasiswa kepada anak yang dirasa kurang mampu, hingga memberikan bantuan dana untuk kesejahteraan masyarakat sekitar.
Pada dasarnya, CSR memang bertumpu pada suatu bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap stakeholder yang terkait. Beberapa hal yang termasuk di dalam program CSR ini diantaranya adalah:- Tatalaksana perusahaan (corporate governance)
- Kesadaran perusahaan perusahaan terhadap lingkungan
- Standar bagi karyawan dan kondisi tempat kerja
- Hubungan perusahaan dengan masyarakat
- Investasi sosial perusahaan (corporate philantrophy)
-
Tanggung jawab sosial perusahaan/CSR merupakan salah satu bagian dari strategi bisnis perusahaan dalam jangka panjang. Tanggung jawab sosial atau corporate social responsibility (CSR) adalah suatu konsep bahwa organisasi, khususnya perusahaan adalah memiliki suatu tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan seperti terhadap masalah-masalah yang berdampak pada lingkungan seperti polusi, limbah, keamanan produk dan tenaga kerja. CSR tidak hanya terbatas pada konsep pemberian bantuan dana kepada lingkungan sosial, namun juga bagaimana perusahaan memperlakukan karyawannya dengan tidak diskriminatif, menjaga hubungan baik dengan pemasok.
Corporate social responsibility merupakan komitmen usaha untuk bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya, komuniti lokal dan masyarakat secara lebih luas (Sankat, Clement K, 2002). Berikutnya menurut Dougherty (2003), tanggung jawab sosial merupakan perkembangan proses untuk mengevaluasi stakeholders dan tuntutan lingkungan serta implementasi program-program untuk menangani isu-isu sosial. Tanggung jawab sosial berkaitan dengan kode-kode etik, sumbangan perusahaan program-program community relations dan tindakan mematuhi hukum. Lebih lanjut dijelaskan oleh Schermerhorn (2003) mendefinisikan CSR sebagai kewajiban dari suatu perusahaan untuk bertindak dalam cara-cara yang sesuai dengan kepentingan perusahaan dan kepentingan masyarakat secara luas. The International Organization of Employers (IOE) mendefinisikan CSR sebagai ΓÇ£initiatives by companies voluntarily integrating social and environmental concerns in their business operations and in their interaction with their stakeholdersΓÇ¥. Corporate social Responsibility/Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (TJSP) merupakan suatu komitmen perusahaan untuk membangun kualitas kehidupan yang lebih baik bersama dengan para pihak yang terkait, utamanya masyarakat disekelilingnya dan lingkungan sosial dimana perusahaan tersebut berada, yang dilakukan terpadu dengan kegiatan usahanya secara berkelanjutan (Budimanta, 2002).
Tujuan dari CSR adalah (Saputri, 2011):
- Untuk meningkatkan citra perusahaan, biasanya secara implisit, asumsi bahwa perilaku perusahaan secara fundamental adalah baik.
- Untuk membebaskan akuntabilitas organisasi atas dasar asumsi adanya kontrak sosial di antara organisasi dan masyarakat.
- Sebagai perpanjangan dari pelaporan keuangan tradisional dan tujuannya adalah untuk memberikan informasi kepada investor.
Trevino dan Nelson mengkonsepkan CSR sebagai piramid yang terdiri dari empat macam tanggung jawab yang harus dipertimbangkan secara berkesinambungan, yaitu, hukum, etika dan berperikemanusian.
- Tanggung jawab ekonomi
- Tanggung jawab hukum
- Tanggung jawab etika
- Tanggung jawab sosial perusahaan
Bentuk- bentuk implementasi corporate social responsibility seperti :
- Konsumen, dalam bentuk penggunaan material yang ramah lingkungan, tidak berbahaya.
- Karyawan, dalam bentuk persamaan hak dan kewajiban atas seluruh karyawan tanpa membedakan ras, suku, agama, dan golongan.
- Komunitas dan lingkungan, dalam bentuk kegiatan kemanusiaan maupun lingkungan hidup.
- Kesehatan dan keamanan, dalam bentuk penjagaan dan pemeliharaan secara rutin atas fasilitas dan lingkungan kantor.
Keraf menyebutkan beberapa alasan perlunya tanggung jawab sosial perusahaan :
- Kebutuhan dan harapan masyarakat semakin berubah, masyarakat semakin kritis dan peka terhadap produk yang akan dibelinya. Sehingga perusahaan tidak bisa hanya memusatkan perhatianya untuk mendatangkan keuntungan.
- Terbatasnya sumber daya alam, bisnis diharapkan untuk tidak hanya mengeksploitasi sumber daya alam yang terbatas, namun harus juga memelihara dan menggunakan sumber daya secara bijak.
- Lingkungan sosial yang lebih baik, lingkunagn sosial akan mendukung keberhasilan bisnis untuk waktu yang panjang, semakin baik lingkungan sosial dengan sendirinya akan ikut memperbaiki iklim bisnis yang ada. Misalnya dengan semakin menurunnya tingkat penganguran.
- Perimbangan tanggung jawab dan kekuasaan, kekuasaan yang terlalu besar jika tidak diimbangi dan dikontrol dengan tanggung jawab sosial akan menyebabkan bisnis menjadi kekuatan yang merusak masyarakat.
- Keuntungan jangka panjang, dengan tanggung jawab dan keterlibatan sosial tercipta suatu citra positif di mata masyarakat, karena terciptanya iklim sosial politik yang kondusif bagi keberlangsungan bisnis perusahaan tersebut.
Contoh CSR Perusahaan
Selain mengetahui dan mengerti apa itu pengertian CSR dan manfaat yang bisa diambil darinya, kini saatnya Anda tahu contoh dari CSR perusahaan. S
ekarang ini, banyak sekali perusahaan yang memberikan perhatian kepada lingkungan dengan melakukan beberapa program CSR. Dari sekian banyak perusahaan tersebut, setidaknya ada 3 perusahaan sebagai contohnya.
1. Pertamina
Berbagai program dilakukan oleh pertamina untuk memenuhi komitmennya dalam program CSR guna membantu pemerintah Indonesia.
2. Danone (Air Mineral Aqua)
Program CSR dari Danone disebut dengan WASH (Water Access, Sanitation, Hygiene Program) yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan lingkungan masyarakat pra-sejahtera serta berkontribusi secara aktif dan berkelanjutan agar permasalahan Indonesia yang berhubungan dengan penyediaan air bersih dapat diatasi.
3. PT. Sinde Budi Sentosa (Larutan Cap Badak)
Program CSR yang dilakukan oleh PT Sinde Budi Sentosa yaitu dengan melestarikan habitat Badak Jawa yang ada di Taman Nasional Ujung Kulon. Program tersebut merupakan kerjasama perusahaan dengan WWF Indonesia dimana Sinde berperan sebagai donatur dana.
-
Ringkasan
Tujuan dan misi CSR perusahaan ditentukan oleh nilai dalam perusahaan. Oleh karena itu, jika tanggungjawab sosial dianggap sebagai nilai yang harus dipegang teguh perusahaan, maka tanggungjawab sosial akan ikut menentukan tujuan dan misi perusahaan. Setidaknya ada tiga alasan penting mengapa kalangan perusahaan mesti merespon dan mengembangkan isu CSR sejalan dengan operasi usahanya. 1) Perusahaan adalah bagian dari masyarakat dan oleh karenanya wajar bila perusahaan memperhatikan kepentingan masyarakat. 2) Kalangan bisnis dan masyarakat sebaiknya memiliki hubungan yang bersifat simbiosa mutualisme. 3) Kegiatan tanggungjawab sosial merupakan salah satu cara untuk meredam atau bahkan menghindari konflik sosial.
Tujuan dan misi perusahaan selanjutnya akan menentukan strategi perusahaan. Strategi umumnya menetapkan dan menggariskan arah yang akan ditempuh oleh perusahaan dalam menjalankan kegiatan bisnisnya demi tercapainya tujuan dan misi sesuai dengan nilai yang dianut perusahaan. Selanjutnya strategi yang didasrkan pada tujuan dan misi diwujudkan kedalam struktur organisasi perusahaan. Setelah nilai, tujuan dan misi, strategi dan struktur organisasi ditentukan, maka dilaksanakan CSR kemudian dilakukan evaluasi.
Evaluasi dari pelaksanaan tanggungjawab sosial perusahaan disebut sebagai audit sosial. Menurut Keraf, dalam kaitan dengan CSR, sejauh dianggap sebagai sebuah nilai dan misi yang harus diwujudkan, audit sosial itu bermaksud menilai dan mengukur kinerja perusahaan dalam kaitan dengan berbagai masalah sosial yang ingin ikut diatasi oleh perusahaan itu. Berdasarkan penjelasan diatas dapat dilihat bahwa CSR merupakan seperangkat kebijakan dan program yang terintegrasi ke dalam kegiatan usaha perusahaan yang dapat dilaksanakan melalui proses berikut (Gambar 3):

Gambar Proses Implementasi CSR -
Silahkan dikumpulkan tugas Critical Reviuw mengenai materi SAK ETAP.
-
Dalam rangka menjaga kepentingan seluruh stakeholder dan meningkatkan nilai bagi pemegang saham, selama ini Perseroan telah menerapkan Tata Kelola Perusahaan (Good Corporate Governance) yang baik dalam kegiatan usahanya. Perseroan memiliki komitmen untuk senantiasa berperilaku dengan memperlihatkan etika bisnis dan transparan sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku. Mekanisme Tata Kelola Perusahaan sangat berpengaruh terhadap penetapan dan pencapaian tujuan, pembentukan serta pengembangan budaya kerja di lingkungan Perseroan. Bagi Perseroan, implementasi Tata Kelola Perusahaan dalam proses bisnis merupakan pijakan kokoh untuk mewujudkan visi dan misi Perseroan. Prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan menjadi perangkat standar yang bertujuan memperbaiki citra, efisiensi, efektifitas dan tanggung-jawab sosial Perseroan. Adapun prinsip-prinsip tata kelola Perseroan meliputi transparansi, akuntabilitas, kewajaran, independensi dan tanggung jawab. Dalam menerapkan Tata Kelola Perusahaan yang baik, Perseroan telah memiliki Sekretaris Perusahaan, Unit Audit Internal dan Komite Audit, serta telah menunjuk Komisaris Independen dan Direktur Independen. Perseroan tidak memiliki komite lain dibawah Komisaris dan Direksi Perseroan selain Komite Audit.
-
Tata Kelola Perusahaan (corporate governance) adalah rangkaian proses, kebiasaan, kebijakan, aturan, dan institusi yang memengaruhi pengarahan, pengelolaan, serta pengontrolan suatu perusahaan atau korporasi. Tata kelola perusahaan juga mencakup hubungan antara para pemangku kepentingan (stakeholder) yang terlibat serta tujuan pengelolaan perusahaan. Pihak-pihak utama dalam tata kelola perusahaan adalah pemegang saham, manajemen, dan dewan direksi. Pemangku kepentingan lainnya termasuk karyawan, pemasok, pelanggan, bank dan kreditor lain, regulator, lingkungan, serta masyarakat luas.
Tata kelola perusahaan adalah suatu subjek yang memiliki banyak aspek. Salah satu topik utama dalam tata kelola perusahaan adalah menyangkut masalah akuntabilitas dan tanggung jawab mandat, khususnya implementasi pedoman dan mekanisme untuk memastikan perilaku yang baik dan melindungi kepentingan pemegang saham. Fokus utama lain adalah efisiensi ekonomi yang menyatakan bahwa sistem tata kelola perusahaan harus ditujukan untuk mengoptimalisasi hasil ekonomi, dengan penekanan kuat pada kesejahteraan para pemegang saham. Ada pula sisi lain yang merupakan subjek dari tata kelola perusahaan, seperti sudut pandang pemangku kepentingan, yang menuntut perhatian dan akuntabilitas lebih terhadap pihak-pihak lain selain pemegang saham, misalnya karyawan atau lingkungan.
Perhatian terhadap praktik tata kelola perusahaan di perusahaan modern telah meningkat akhir-akhir ini, terutama sejak keruntuhan perusahaan-perusahaan besar AS seperti Enron Corporation dan Worldcom. Di Indonesia, perhatian pemerintah terhadap masalah ini diwujudkan dengan didirikannya Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) pada akhir tahun 2004.
-
Ringkasan
Tata kelola perusahaan berdampak pada semua aspek organisasi, mulai dari urusan komunikasi kepemimpinan dan pengambilan keputusan strategis. Namun, segala kebijakan tetap harus melibatkan keputusan dari dewan direksi demi kepentingan perusahaan.
Perusahaan konsultan bisnis PriceWaterhouseCoopers (PwC) menyebut tata kelola perusahaan sebagai ΓÇ£urusan kinerjaΓÇ¥, sebab tata kelola perusahaan menyiapkan kerangka kerja bagi proses operasional perusahaan. Menurut PwC, tata kelola perusahaan harus mencakup sembilan hal berikut ini:
- Kinerja perusahaan dan kinerja dewan.
- Hubungan antara dewan dan manajemen eksekutif.
- Penunjukan dan penilaian dewan direksi.
- Keanggotaan dan tanggung jawab dewan.
- Budaya kerja perusahaan dan cara mempertahankannya.
- Manajemen risiko, kepatuhan perusahaan, dan kontrol internal.
- Komunikasi antara dewan dan karyawan lainnya (mencakup corporate officers dan director).
- Komunikasi dengan para pemegang saham.
- Laporan keuangan.
Sembilan hal penting tersebut menggambarkan luasnya cakupan tata kelola perusahaan serta pengaruhnya bagi perkembangan bisnis. Untuk membantu pengarahan tata kelola perusahaan, Deloitte menawarkan kerangka tata kelola yang lebih rinci. Kerangkal tata kelola tersebut terdiri dari uraian tanggung jawab dan tujuan dewan serta hubungannya dengan infrastruktur perusahaan.
Kendati demikian, penerapan tata kelola perusahaan tidak menjamin pencapaian bisnis yang sukses. Mayoritas contoh tata kelola perusahaan yang baik memiliki prinsip yang sama, yaitu transparansi, akuntabilitas, dan kepercayaan. Semua perusahaan harus memiliki ketiga prinsip tersebut, termasuk perusahaan keluarga, perusahaan nirlaba (non-profit), dan perusahaan publik. Inilah yang membuat tata kelola perusahaan menjadi fokus utama bagi para pebisnis profesional. Penerapan prinsip-prinsip tersebut harus dipahami oleh semua karyawan perusahaan (stakeholder), pemegang saham (shareholder), dan juga masyarakat.
-
-
-
Teori pasar sekuritas efisien dapat memberikan prediksi bahwa harga-harga sekuritas yang merupakan hasil interaksi memiliki beberapa karakteristik menarik. Pada dasarnya, harga-harga tersebut mencerminkan secara tepat (properly reflect) pengetahuan kolektif dan kemampuan memproses informasi yang dimiliki investor. Sesungguhnya proses yang terjadi terhadap harga sekuritas cukup kompleks dan tidak mudah dimengerti. Namun, secara umum gambaran tentang proses tersebut mudah untuk dilihat dan hal tersebut merupakan inti pembahasan di dalam bab ini.Efisiensi pasar sekuritas memiliki implikasi yang penting di dalam akuntansi keuangan. Salah satunya adalah bahwa efisiensi pasar sekuritas membawa implikasi secara langsung terhadap konsep full disclosure. Efisiensi berimplikasi bahwa informasi mengandung disclosure, bukan dalam bentuk disclosure itu sendiri, tetapi yang bermanfaat bagi pasar. Sehingga, informasi dapat di sampaikan dengan mudah dalam bentuk catatan kaki (footnotes) dan mengungkapkan tambahan (supplemantary disclosure) seperti halnya yang terdapat di dalam laporan keuangan itu sendiri.Sesungguhnya, di dalam teori pasar efisien informasi akuntansi berada pada posisi bersaing (competition) dengan sumber-sumber informasi lainnya seperti berita-berita dalam media (new media), analis keuangan (financial analysts), dan bahkan harga pasar itu sendiri. Sebagai suatu alat atau sarana untuk menyampaikan imformasi kepada infestor, informasi akuntansi akan bermanfaat hanya apabila infomarmasi tersebut relevan (relevant), dapat di percaya (reliabel), tepat waktu (timely), dan hemat (cost-effective), relatif dibandingkan dengan sumber informasi lainnya.Teori pasar sekuritas efisien juga memberikan petunjuk penting mengenai alasan teoritis utama tentang keberadaan akuntansi yang disebut information asymmetry. Ketika beberapa partisipan pasar mengetahui lebih banyak dibandingkan partisipan yang lain, maka akan terjadi tekanan untuk menemukan mekanisme dalam rangka mendapatkan informasi yang lebih baik, ada pihak-pihak tertentu yang akan melakukan dengan lebih cepat, dan ada pihak-pihak tertentu yang dengan kredibel mengkomunikasi informasi yang cukup untuk dapat melindungi diri mereka sendiri kemungkinan eksploitasi untuk mendapatkan informasi yang lebih baik. Insider trading merupakan contoh mengenai terjadinya eksploitasi.
-
Menurut scott, 2000 : 99 jika terdapat informasi gratis dalam kondisi ideal, maka semua investor akan memanfaatkannya dan nilai pasar perusahaan menyesuaikan untuk mencerminkan ekspektasi aliran kas revisian. Dengan kata lain, semua informasi yang didapat tersebut benar benar terlihat pada keadaan di pasar perusahaan tersebut, dan semua investor akan mendapatkan informasi yang sama dan return yang normal. Sebagai misal, di dalam kondisi yang ideal, setiap investor akan berusaha untuk mengetahui bagaimana cara melakukan realisasi terhadap aliran kas dan dividen yang akan datang. Dalam asumsi tersebut, informasi adalah bersifat bebas dan dalam kondisi yang ideal, sehingga publik dapat dengan sungguh-sungguh melakukan kegiatan observasi. Dalam keadaan demikian, semua investor akan menggunakan informasi tersebut dan proses arbitrasi akan dapat memberikan jaminan bahwa nilai pasar perusahaan secara otomatis akan mengalami penyesuaian yang mencerminkan tentang harapan atau ekspektasi atas aliran kas yang telah direvisi.
Bagaimana Harga Pasar Mencerminkan Semua Informasi Yang Tersedia?Berjalannya proses tersebut tidak begitu jelas atau tidak transparan. Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa investor yang rasional dan memiliki informasi yang cukup akan berusaha untuk mendapatkan informasi sejelas-jelasnya mengenai sekuritas yang diperdagangkan. Namun, tidak ada jaminan bahwa seseorang (individu) akan dengan tepat menginterpretasi informasi tersebut (Scott, 2000: 102). Suatu model mengenai teori pengambilan keputusan akan memberikan suatu cara untuk memproses informasi, tetapi tidak ada jaminan bahwa pemprosesannya akan berjalan dengan benar. Sebagai akibatnya, untuk investor yang berbeda akan bereaksi dengan cara yang berbeda terhadap informasi yang sama, meskipun mereka semua menerima informasi secara rasional. Hal tersebut dimungkinkan terjadi, karena setiap individu memiliki keyakinan dasar awal yang berbeda (different prior beliefs).Dengan demikian di dalam pasar sekuritas efisien, harga-harga dengan cepat dan tepat mencerminkan semua informasi yang tersedia dan harga pasar sekuritas yang terdapat di dalam pasar tersebut akan berfluktuasi secara random pada setiap saat. Efisiensi didefinisi secara relatif terhadap sejumlah informasi, artinya jika kumpulan informasi yang tersedia tidak lengkap, sehingga dapat di katakan terdapat adanya inside information atau informasi yang salah (wrong), maka harga-harga sekuritas yang terjadi juga akan mengalami kesalahan. Sehingga, efisiensi pasar tidak dapat memberikan jaminan bahwa harga sekuritas adalah akurat. Namun, investor individual mungkin memiliki keyakinan awal yang berbeda, sehingga mereka akan menginterpretasi dengan cara yang berbeda terhadap informasi yang sama. Kuantitas dan kualitas informasi yang tersedia secara publik dapat ditingkatkan melalui pelaporan yang cepat (prompt) dan penuh (full),(Scott, 2009 : 101-106).Model CAPMCapital Market Theory : OverviewCAPM merupakan kelanjutan dari teori portofolio Markowitz (diversifikasi pada aset-aset berisiko). Dalam Capital asset pricing model (CAPM) investor juga diberikan pilihan investasi pada aset bebas risiko. CAPM ; model yang menghubungkan tingkat return yang diharapkan dari suatu aset berisiko dengan risiko aset tersebut pada kondisi pasar seimbang.Model CAPM digunakan untuk melihat dengan sederhana bagaimana hubungan antara return dan risiko dalam dunia nyata yang komplek. CAPM dilihat dari kemampuannya menjelaskan perilaku investor dalam menentukan aset optimal dan bukan dari kebenaran asumsi. Dalam kondisi kesimbangan maka tidak ada investor yang akan medapatkan abnormal return karena alokasi aset yang efisien hanyalah portofolio pasar.Anomali Pasar Modal EfisienTeori efisiensi pasar modal menyatakan bahwa harga sekuritas akan bereaksi cepat terhadap informasi baru. Konsekuensinya, apabila harga tidak bereaksi cepat terhadap informasi baru tetapi membutuhkan waktu lebih lama, maka keuntungan abnormal dapat terjadi.Dalam hal ini investor tidak berprilaku sesuai dengan teori efisiensi pasar modal. Investor yang tidak berprilaku sesuai dengan teori efisiensi pasar modal disebut anomali pasar modal efisien.Implikasi Pasar Efisien Terhadap Pelaporan KeuanganImplikasi pasar modal efisien menurut Beaver:1. Perubahan dari satu metoda akuntansi ke yang lain. Manajer tidak seharusnya perlu direpotkan dengan kebijakan akuntansi mana yang akan digunakan, kecuali kebijakan akuntansi tersebut memiliki pengaruh langsung terhadap arus kas. Banyak alternatif kebijakan akuntansi yang diperdebatkan yang sebenarnya sepanjang :- Tidak memiliki efek terhadap aliran kas,- Kebijakan akuntansi tersebut dan cara perubahan ke metoda yang lain diungkap,- Info yang memadai diungkap,maka harga saham tidak akan berubah.Konsekuensinya: Pelaporan Keuangan harus berisi penjelasan tentang kebijakan akuntansi yang digunakan.2. Efisiensi Securities Market berjalan bersamaan dengan pengungkapan penuh. Perusahaan harus mengungkapkan informasi sebanyak mungkin. Jika managemen memiliki info relevan dan bisa diungkapkan dengan biaya yang rendah, maka managemen harus mengungkapkan dengan segera. Hal ini dikarenakan, semua informasi yang tersedia dan relevan untuk memperbaiki prediksi digunakan oleh investor, selain itu semakin banyak info yang dipublikasi maka akan semakin banyak yang tersedia di pasar tentang perusahaan tersebut. Pasar modal efisien tidak mementingkan bentuk pengungkapan melainkan kandungan informasinya. Selain itu, pasar modal efisien lebih mengutamakan media pengungkapan yang cost-effective.3. Perusahaan tidak perlu terlalu memperhatikan investor yang naif (sering disebut investor yang price-protected) pada waktu menentukan kebijakan dan format pengungkapan. Karena :- Jika ada cukup banyak investor yang memahami informasi yang telah diungkapkan, maka itu sudah cukup menjamin bahwa harga pasar sebuah saham telah sama dengan jika seluruh investor memahaminya.- Investor yang naif bisa :1. Menyewa orang lain untuk menginterpretasi info, atau2. Meniru keputusan orang lain yang lebih paham.- Investor cukup dilindungi oleh harga.4. Pasar modal efisien tertarik pada informasi yang relevan dari berbagai sumber, tidak hanya dari laporan keuangan. Laporan keuangan hanya merupakan salah satu sumber informasi bagi pasar modal.5. Akuntan berkompetisi dengan penyedia info yang lain. Jika tidak menyediakan info yang bermanfaat dan efektif-kos, maka kegunaan info akuntansi akan menurun.Asimetris InformasiKonsep Asimetri InformasiSeorang partisipan di pasar akan mengetahui sesuatu tentang sebuah aset yang diperdagangkan yang tidak diketahui oleh partisipan lain. Dua jenis asimetri informasi:1. Adverse selection2. Moral hazard DisusunDengan Penjelasan sebagai berikut:a. Adverse selection yaitu salah satu ketidaksamaan informasi di mana seorang atau sekelompokorang memperoleh keuntungan atau manfaat lebih dari informasi dibanding yang lain.b. Moral hazard yaitu salah satu ketidaksamaan informasi di mana seseorang dapat memperoleh keuntungan dari transakasi yang dilakukan. Salah satu alasan mengapa informasi asimetri berperan penting dalam teori akuntansi bahwa pasar sekuritas adalah subjek pada permasalahan informasi asimetri.Salah satu alasan mengapa informasi asimetri berperan penting dalam teori akuntansi bahwa pasar sekuritas adalah subjek pada permasalahan informasi asimetri. Dalamkondisi yang ideal, nilai pasar perusahaan sepenuhnya mencerminkan semua informasi.yaitu, harga sama dengan nilai fundamental. Ketika kondisi tidak ideal, nilai pasar sepenuhnya mencerminkan semua informasi publik, jika pasar keamanan efisien.Kemampuan orang dalam untuk mendapatkan keuntungan dari keuntungan informasi mereka adalah contoh dari masalah adverse selection.kemungkinan adverse selection menciptakan risiko estimasi bagi investor, yang dapat meningkatkan biaya perusahaan terhadap modal di atas nilai-nilai CAPM mereka. Pengungkapan penuh dan tepat waktu akan mengurangi masalah ini, dengan demikian meningkatkan kerja pasar sekuritas. Sejak pelaporan semua informasi di dalamnya terlalu mahal, tapi bagaimanapun, masalah adverse selection masih akan hadir.Adanya asimetri informasi memungkinkan adanya konflik yang terjadi antara principal dan agent untuk saling mencoba memanfatkan pihak lain untuk kepentingan sendiri. Eisenhardt (1989) mengemukakan tiga asumsi sifat dasar manusia yaitu:┬╖ Manusia pada umunya mementingkan diri sendiri (self interest),┬╖ Manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi masa mendatang (bounded rationality), dan┬╖ Manusia selalu menghindari resiko (risk adverse).Berdasarkan asumsi sifat dasar manusia tersebut menyebabkan bahwa informasi yang dihasilkan manusia untuk manusia lain selalu dipertanyakan reliabilitasnya dan dapat dipercaya tidaknya informasi yang disampaikan.Contoh asimetri info (moral hazard)Akerlof (1970) tentang pasar mobil bekas. Pasar mobil bekas tidak berjalan baik karena lemon yang diakui sebagai mobil bagus. Kasus ekstrem, asimetri info bisa menghancurkan pasar. Contoh membeli asuransi kemungkinan gagal pura-pura sakit menyelesaikan pendidikan agar bisa mengklaim polis asuransi dan tidak jadi menamatkan pendidikan.Contoh asimetri info (adverse selesction)Jika semua orang yang sakit berbondong-bondong mendaftar ke univ dengan harapan akan bisa disebut dengan mengklaim haknya nanti adverse selection/pilihan yang berlawan atau merugikan. Menjadi ΓÇ£pilihan yang berlawanan atau merugikanΓÇ¥ karena orang yang kondisi kesehatannya berlawanan dengan kepentingan perusahaan memilih untuk membeli asuransi kesehatan. Efeknya, perusahaan asuransi bisa tidak mau tidak memberikan jaminan pada pasar asuransi.Asimetri info adalah salah satu sumber ketidaksempurnaan pasar. Sumber lain adalah pasar yang kendati ada namun tidak berjalan dengan baik. Jika harga tidak dengan sempurna mencerminkan harga, orang tidak bisa membeli kualitas yang ia komoditas inginkan, sehingga ia menanggung risiko melebihi apa yang ia mau. Akuntansi keuangan punya peran untuk meningkatkan kesempurnaan pasar. Pasar modal tidak bisa lepas dari masalah asimetri info karena adanya info orang dalam dan perdagangan orang dalam. Contoh lain dari adverse selection.Akuntan vs. adverse selectionPengungkapan penuh Info yang lebih luas diberikan kepada publik. Pelaporan tepat waktu/segera dan mengurangi kemampuan orang dalam untuk mengambil untung dari keunggulan informasi mereka (Scott, 2009 :114-117). -
Ringkasan
Efficient Market hypothesis ditemukan oleh Eugene F. Fama dari University of Chicago Graduate School of Business pada tahun 1970 (Yasinta, 2009). Dalam konsep pasar efisien yang dimaksud dengan pasar adalah pasar modal. Klasifikasi pasar efisien yang sering digunakan adalah seperti yang dibedakan oleh Fama (1970) menjadi 3 bagian yaitu pasar efisien bentuk lemah, pasar efisien bentuk setengah kuat dan pasar efisien bentuk kuat dan ketiga pasar efisien ini termasuk dalam pasar efisien secara informasi karena pasar efisien ini dibagi berdasarkan informasi yang didapat investor. Berbeda lagi dengan West (1975) yang menyimpulkan ada 2 macam pasar efisien yaitu pasar efisien secara internal adalah bahwa pasar modal tidak saja memberikan harga yang tepat tetapi juga memberikan berbagai jasa yang diperlukan oleh para pembeli dan penjual dengan biaya yang serendah mungkin dan secara eksternal yaitu bahwa pasar berada dalam keadaan keseimbangan sehingga keputusan perdagangan saham atas informasi yang tersedia di pasar tidak bisa memberikan tingkat keuntungan di atas keuntungan keseimbangan (Almustofa, 2007).
Pasar sekuritas efisien memunyai implikasi yang penting untuk akuntansi keuangan. Satu implikasi memunyai peranan penting ke dalam konsep pengungkapan penuh (full disclosure). Dalam teori pasar efisien (efficient markets theory), akuntansi dipandang berada dalam kompetisi dengan sumber inforrnasi lain seperti media berita, analisis keuangan, dan bahkan harga pasar itu sendiri. Sebagai sebuah alat untuk menginformasikan investor, akuntansi hanya akan bertahan jika relevan, reliabel, tepat waktu, dan biaya efektif relatif terhadap sumber yang lain.
Setiap investor, akuntan publik, emiten, dan pelaku pasar lainnya, diasumsikan memiliki informasi yang sama dalam hal kuantitas, kualitas, kecepatan informasi yang diterima dan informasi tanpa biaya. Kemampuan para pelaku pasar dalam mengolah informasi yang mereka terima juga diasumsikan sama. Dengan demikian, diharapkan apa yang terjadi di perusahaan emiten direfleksikan dengan tepat di pasar, berupa harga saham dan perdagangan (Djohanputro, 2008).
Teori pasar efisien juga mengingatkan kita terhadap alasan teoritis utama untuk keberadaan akuntansi, yaitu asimetri informasi. Ketika beberapa partisipan pasar tahu lebih banyak dibandingkan yang lain, tekanan timbul untuk mencari mekanisme bagaimana cara informasi tersebut lebih baik diinformasikan secara kredibel kepada yang lain, dan pihak dengan posisi informasi yang tidak menguntungkan dapat melindungi diri dari kemungkinaneksploitasi dari pihak yang memiliki informasi lebih baik. Insider trading adalah contoh dari eksploitasi tersebut. Kita kemudian dapat berpikir bahwa akuntansi sebagai sebuah mekanisme untuk memungkinkan komunikasi dari informasi relevan dari dalam perusahaan ke pihak luar perusahaan. Sebagai tambahan untuk memungkinkan keputusan investor yang lebih baik, halini memiliki manfaat sosial melalui peningkatan operasi pasar sekuritas. Akhirnya, harus ditekankan bahwa efisiensi merupakan sebuah model bagaiamana sebuah pasar sekuritas beroperasi. Seperti model-model yang lain, ia tidak menangkap kompleksitas penuh dari pasar.
Konsep pasar efisien ini dibuat untuk melihat sejauh mana informasi memengaruhi pasar dan seberapa cepat informasi itu tercermin dalam harga sekuritas yang diperdagangkan di pasar modal tersebut. Semakin cepat informasi itu terserap oleh para investor dan mereka semua berebut untuk mendapatkan abnormal return maka tidak ada satupun investor akan mendapat abnormal return, dan inilah dasar dari pasar yang efisien (Hartono, 2009). Efisiensi informasi sangat diperlukan oleh para investor agar mereka dapat melakukan investasi dengan baik karena mereka tentunya tidak dapat mengabaikan semua informasi yang terkandung dalam harga saham tersebut. Jika pasar menjadi efisien maka akan tercipata harga saham yang layak karena tidak ada kesempatan bagi mereka untuk memperoleh informasi yang dapat menguasai pasar dan saling menjatuhkan dalam menentukan harga saham. Sehingga, ketika harga saham benar-benar memberikan harga yang diperkirakan maka pasar modal akan benar-benar menjadi alternative mobilisasi dana jika didukung profesionalitas keberadaan lembaga-lembaga yang mendukung eksistensi pasar modal, kegiatan emisi dan transaksi di bursa efek yang cepat, efisien dan dapat dipercaya (Prihantoro, 2001).
-
-
-
Akuntansi lingkungan adalah identifikasi, pengukuran dan alokasi biaya-biaya lingkungan hidup danpengintegrasian biaya-biaya ke dalam pengambilan keputusan usaha serta mengkomunikasikanhasilnya kepada stockholders perusahaan, menurut Junus dalam Sri Astuti dan Ikhsan (2002).Sedangkan menurut Djogo (2002) Akuntasi lingkungan Environmental Accounting atau EA adalahistilah yang berkaitan dengan dimasukkannya biaya lingkungan (environmental costs) ke dalampraktek akuntasi perusahaan atau lembaga pemerintah. Biaya lingkungan adalahdampak (impact) baik moneter maupun non-moneter yang harus dipikul sebagai akibat dari kegiatanyang mempengaruhi kualitas lingkungan.Sedangkan Lemanthe (2001) memberikan pendekatan akuntansi biaya lingkungan secarasistematis dan tidak hanya berfokus pada akuntansi untuk biaya proteksi lingkungan, tetapi jugamempertimbangkan biaya lingkungan terhadap material dan energi. Akuntansi biaya lingkunganmenunjukkan biaya riil atas input dan proses bisnis serta memastikan adanya efisiensi biaya dandiaplikasikan untuk mengukur biaya kualitas dan jasa.Akuntansi lingkungan mengidentifikasi, menilai dan mengukur aspek penting dari kegiatan sosialekonomi perusahaan dalam rangka memelihara kualitas lingkungan hidup sesuai dengan tujuan yangtelah ditetapkan (Haniffa, 2002). Sehingga perusahaan tidak bisa seenaknya untuk mengolah sumberdaya tanpa memperhatikan dampaknya terhadap masyarakat.
Pemahaman sifat dan relevansi akuntansi lingkungan sangat beragam tergantung perspektif paraprofesional dan orientasi fungsional para praktisi.
-
Pada tahun 1990-an komite standar akuntansi internasional (The International Accounting Standards Committee/IASC) mengembangkan konsep tentang prinsip-prinsip akuntansi internasional, termasuk pengembangan akuntansi lingkungan dan audit hak-hak azasi manusia.
Konsep akuntansi lingkungan mulai berkembang sejak tahun 1970-an di Eropa. Pada pertengahan tahun 1990-an komite standar akuntansi internasional (The International Accounting Standards Committee/IASC) mengembangkan konsep tentang prinsip-prinsip akuntansi internasional, termasuk di dalamnya pengembangan akuntansi lingkungan dan audit hak-hak azasi manusia. Di samping itu, standar industri juga semakin berkembang dan auditor profesional seperti the American Institute of Certified Public Auditors (AICPA) mengeluarkan prinsip-prinsip universal tentang audit lingkungan (environmental audits).
Badan Lingkungan Hidup Jepang (The Environmental Ageency) yang kemudian berubah menjadi Kementerian Lingkungan Hidup (Ministry of Environment) mengeluarkan panduan akuntansi lingkungan (environmental accounting guidelines) pada bulai Mei tahun 2000. Panduan ini kemudian disempurnakan lagi pada tahun 2002 dan 2005. Semua perusahaan di Jepang diwajibkan menerapkan akuntansi lingkungan. Perusahaan-perusahaan besar Jepang mulai menempatkan posisi akuntansi lingkungan (environmental accounting) sederajat dengan akuntansi keuangan. Kini semakin banyak perusahaan di Jepang sudah menerapkan akuntansi lingkungan sesuai dengan peraturan perundangan dan petunjuk yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup Jepang.Latar belakang pentingnya akuntansi lingkungan pada dasarnya menuntut kesadaran penuh perusahaan-perusahaan maupun organisasi lainnya yang telah mengambil manfaat dari lingkungan. Penting bagi perusahaan-perusahaan atau organisasi lainnya agar dapat meningkatkan usaha dalam mempertimbangkan konservasi lingkungan secara berkelanjutan.
Penggunaan konsep akuntansi lingkungan bagi perusahaan mendorong kemampuan untuk meminimalisasi persoalan-persoalan lingkungan yang dihadapinya. Banyak perusahaan besar industri dan jasa yang kini menerapkan akuntansi lingkungan. Tujuannya adalah meningkatkan efisiensi pengelolaan lingkungan dengan melakukan penilaian kegiatan lingkungan dari sudut pandang biaya (environmental costs) dan manfaat atau efek (economic benefit).
Akuntansi lingkungan diterapkan oleh berbagai perusahaan untuk menghasilkan penilaian kuantitatif tentang biaya dan dampak perlindungan lingkungan (environmental protection).
Beberapa alasan kenapa perusahaan perlu untuk mempertimbangkan untuk mengadopsi akuntansi lingkungan sebagai bagian dari sistem akuntansi perusahaan, antara lain: memungkinkan untuk mengurangi dan menghapus biaya-biaya lingkungan, memperbaiki kinerja lingkungan perusahaan yang selama ini mungkin mempunyai dampak negatif terhadap kesehatan manusia dan keberhasilan bisnis perusahaan, diharapkan menghasilkan biaya atau harga yang lebih akurat terhadap produk dari proses lingkungan yang diinginkan dan memungkinkan pemenuhan kebutuhan pelanggan yang mengharapkan produk/jasa lingkungan yang lebih bersahabat.
Tujuan dari akuntansi lingkungan sebagai sebuah alat manajemen lingkungan dan sebagai alat komunikasi dengan masyarakat adalah untuk meningkatkan jumlah informasi relevan yang dibuat bagi mereka yang memerlukan atau dapat menggunakannya.
Guna mencapai keberhasilan dalam penerapan akuntansi lingkungan, maka pertama dan utama sekali yang perlu diperhatikan manajemen perusahaan adalah adanya kesesuaian antara evaluasi yang dibuat perusahaan terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan. Langkah kedua, menentukan apa yang menjadi target perusahaan dengan cara mengidentifikasi faktor-faktor utama yang berdampak pada lingkungan perusahaan serta menyusun suatu perencanaan untuk mengurangi dampak lingkungan. Langkah ketiga, memilih alat ukur yang sesuai dalam menentukan persoalan lingkungan.
Langkah keempat, melakukan penilaian administrasi untuk menetapkan target di masing-masing segmen. Langkah kelima, menghasilkan segmen akuntansi untuk mengukur masing-masing divisi perusahaan. Langkah keenam, melakukan pengujian dimasing-masing devisi. Langkah terakhir adalah melakukan telaah kinerja. Pada telaah kinerja diharapkan dapat menghasilkan segmen akuntansi yang dapat mendukung prestasi manajemen lingkungan dimasing-masing divisi.
Akuntansi Lingkungan (Environmental Accounting atau EA) merupakan istilah yang berkaitan dengan dimasukkannya biaya lingkungan (environmental costs) ke dalam praktek akuntansi perusahaan atau lembaga pemerintah. Biaya lingkungan adalah dampak yang timbul dari sisi keuangan mampun non-keuangan yang harus dipikul sebagai akibat dari kegiatan yang mempengaruhi kualitas lingkungan.
Menurut Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat atau United States Environment Protection Agency (US EPA) akuntansi lingkungan adalah:
ΓÇ£Fungsi penting akuntansi lingkungan adalah untuk menyajikan biaya-biaya lingkungan bagi para stakeholders perusahaan, yang mampu mendorong pengidentifikasian cara-cara mengurangi atau menghindari biaya-biaya ketika pada waktu yang bersamaan, perusahaan sedang memperbaiki kualitas lingkunganΓÇ¥.
Badan Perlindungan Amerika Serikat atau United States Environment Protection Agency (EPA) menambahkan lagi bahwa istilah akuntansi lingkungan dibagi menjadi dua dimensi utama. Pertama, akuntansi lingkungan merupakan biaya yang secara langsung berdampak pada perusahaan secara menyeluruh (dalam hal ini disebut dengan istilah ΓÇ£biaya pribadiΓÇ¥). Kedua,akuntansi lingkungan juga meliputi biaya-biaya individu, masyarakat maupun lingkungan suatu perusahaan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Sistem akuntansi lingkungan terdiri atas lingkungan akuntansi konvensional dan akuntansi ekologis. Akuntansi lingkungan konvensional mengukur dampak-dampak dari lingkungan alam pada suatu perusahaan dalam sitilah-istilah keuangan. Sedangkan akuntansi ekologis mencoba untuk mengukur dampak suatu perusahaan berdasarkan lingkungan, tetapi pengukuran dilakukan dalam bentuk unit fisik (sisa barang produksi dalam kilogram, pemakaian energi dalam kilojoules, dll), akan tetapi standar pengukuran yang digunakan bukan dalam bentuk satuan keuangan.
Sedangkan lingkup akuntansi lingkungan dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama didasarkan pada kegiatan akuntansi lingkungan suatu perusahaan baik secara nasional maupun regional. Bagian kedua berkaitan dengan akuntansi lingkungan untuk perusahaan-perusahaan dan organisasi lainnya.
Pada dasarnya penjelasan mengenai konsep akuntansi lingkungan harus mengikuti beberapa faktor berikut, antara lain:
- Biaya konservasi lingkungan (diukur dengan menggunakan nilai satuan uang).
- Keuntungan konservasi lingkungan (diukur dengan unit fisik).
- Keuntungan ekonomi dari kegiatan konservasi lingkungan (diukur dengan nilai satuan uang/rupiah).
-
Ringkasan
Akuntansi sosial dan lingkungan telah menjadi topik yang perlu mendapat perhatian akuntan. Isu ini menjadi penting karena perusahaan perlu mempertanggungjawabkan dampak aktivitas operasinya kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Akuntansi pertanggungjawaban sosial dan lingkungan telah diterapkan oleh perusahaan di Indonesia. Namun khususnya penerapan akuntansi lingkungan masih kurang karena adanya kendala dalam penerapannya. Akuntan perlu mencari jalan keluar untuk meningkatkan penerapannya.
Pertama, dengan pembuatan standar pelaporan sustainability reporting (SR). Standar yang baku dan mewajibkan penerapannya khusus bagi perusahaan yang aktivitasnya berdampak pada lingkungan. Kedua, mewajibkan perusahaan untuk menyusun SR dengan pedoman yang telah ada, misalnya pedoman SR yang dikeluarkan oleh GRI. Ketiga, memberikan penghargaan bagi perusahaan yang telah menerapkan SR dengan baik. Keempat, audit lingkungan untuk meningkatkan kredibilitas SR. Terakhir, mekanisme GCG perlu dikembangkan untuk melindungi seluruh pemangku kepentingan. -
Silahkan dikumpulkan tugas Critical Reviuw mengenai materi Efesiensi Pasar
-
-
-
Silahkan dikumpulkan tugas Critical Reviuw mengenai materi Akuntansi Lingkungan
-
-
-
Buatlah PPT dari 4 Jurnal yang di lampiran soal ini, lakukan analisis riview dari jurnal penelitian ini dengan Komponen sebagai berikut :
- Judul Penelitian dan Sumber Penelitian
- Latar Belakang terdiri dari Fenomona penelitian/masalah yang diangkat dalam riset ini
- Rumusan dan Tujuan penelitian
- Grand Theory yang digunakan dalam penelitian ini
- Kerangka Pemikirina dan Pengembangan Hipotesis
- Metode penelitian yang digunakan berupa Populasi, Sampel, Alat Analisis, Metode Penelitian dan Model Penelitian yang digunakan
- Hasil dan Pembahasan
- Kontribusi Penelitiaan
- Berikan masukan dan saran terkait dengan penelitian tersebut
Ppt di Convet menjadi PDF. dikumpul melalui LMS di tunggu sampai hari Minggu Tanggal 17 November 2024 Pkl 12.00 WIB
-
-
-
Informasi akuntansi harus mampu membuat perbedaan dalam sebuah keputusan. Jika tidak mempengaruhi keputusan, maka informasi tersebut dikatakan tidak relevan terhadap keputusan yang diambil. Informasi yang relevan akan membantu pemakai membuat prediksi tentang hasil akhir dari kejadian masa lalu, masa kini, dan masa depan; yaitu, memiliki nilai prediktif. Informasi yang relevan juga membantu pemakai menjustifikasi atau mengoreksi ekspektasi atau harapan masa lalu; yaitu, memiliki nilai umpan balik. Agar relevan, informasi juga harus tersedia kepada pengambil keputusan sebelum informasi tersebut kehilangan kapasitas untuk mempengaruhi keputusan yang diambil (Kieso, 2002).
Komponen penting dalam laporan keuangan yang seringkali dijadikan sebagai alat untuk menginformasikan kinerja perusahaan adalah laba dan nilai buku. Laba memiliki nilai relevansi bila secara statistik berhubungan dengan harga saham: penurunan dan peningkatan laba berhubungan dengan penurunan atau kenaikan harga saham. Demikian halnya dengan nilai buku, relevansi nilai buku berasal dari perannya sebagai suatu proksi untuk nilai adaptasi dan nilai penolakan (Burgstahler dan Dichev, 1997 dalam Hadri Kusuma, 2006).
Belakangan ini muncul klaim yang menyatakan bahwa informasi akuntansi yang diperoleh dari laporan keuangan telah kehilangan sebagian relevansinya bagi investor yang diakibatkan oleh perubahan besar-besaran dalam perekonomian, yaitu dari perekonomian industrial ke perekonomian berteknologi tinggi dan berorientasi jasa (Francis dan Schipper, 1999). Kegunaan informasi akuntansi khususnya laba, arus kas, dan nilai buku, semakin memburuk karena dampak perubahan operasi perusahaan dan perubahan kondisi perekonomian tidak terefleksi secara cukup dalam sistem pelaporan sekarang (Lev dan Zarowin, 1999). Satu tanda hilangnya sebagian relevansi informasi akuntansi adalah menurunnya value relevance dari tahun ke tahun (Arie Rahayu Hariani, 2006).
Defenisi Value Relevance
Relevansi nilai (value relevance) informasi akuntansi mempunyai arti kemampuan informasi akuntansi untuk menjelaskan nilai perusahaan (Beaver, 1968 dalam Margani Pinasti, 2004). Penelitian mengenai value relevance menjadi penting karena terdapat klaim yang menyatakan bahwa laporan keuangan berbasis kos historis telah kehilangan sebagian besar relevansinya bagi investor yang diakibatkan oleh perubahan besar-besaran dalam perekonomian, yaitu dari perekonomian industrial ke prekonomian berteknologi tinggi dan berorientasi jasa (Francis dan Schipper, 1999). Kegunaan informasi akuntansi, khususnya laba, arus kas dan nilai buku semakin memburuk karena dampak perubahan operasi perusahaan dan perubahan kondisi perekonomian tidak terefleksi secara cukup dalam sistem pelaporan sekarang (Lev dan Zarowin, 1999).
Lev (1999) menyebutkan bahwa relevansi nilai akuntansi dicirikan oleh kualitas informasi akuntansi. Francis dan Schipper (1999) memberikan pemahaman yang lebih komprehensif dengan menyebutkan empat kemungkinan interpretasi konstruk relevansi nilai. Pertama, informasi laporan keuangan mempengaruhi harga saham karena mengandung nilai intrinsik saham sehingga berpengaruh pada harga saham. Kedua, informasi laporan keuangan merupakan nilai yang relevan bila mengandung variabel yang dapat digunakan dalam model penilaian atau memprediksi variabel-variabel tersebut. Ketiga, hubungan statistik digunakan untuk mengukur apakah investor benar-benar menggunakan informasi tersebut dalam penetapan harga, sehingga nilai relevan diukur dengan kemampuan informasi laporan keuangan untuk mengubah harga saham karena menyebabkan investor memperbaiki ekspektasinya. Terakhir, relevansi nilai diukur dengan kemampuan informasi laporan keuangan untuk menangkap berbagai macam informasi yang mempengaruhi nilai saham.
Penelitian relevansi nilai dirancang untuk menetapkan manfaat nilai-nilai akuntansi terhadap penilaian ekuitas perusahaan. Relevansi nilai merupakan pelaporan angka-angka akuntansi yang memiliki suatu prediksi berkaitan dengan nilai-nilai pasar ekuitas. Konsep relevansi nilai tidak terlepas dari kriteria relevan dari standar akuntansi keuangan karena jumlah suatu angka akuntansi akan relevan jika jumlah yang disajikan merefleksikan informasi-informasi yang relevan dengan penilaian suatu perusahaan (Sekar Mayang Sari, 2004).
Meningkatnya persaingan informasi di pasar modal menyebabkan pentingnya mengetahui relative importance laporan keuangan. Di sinilah letak kegunaan value relevance: menggambarkan kegunaan informasi laporan keuangan bagi investor relatif terhadap seluruh informasi yang digunakan oleh investor pada pasar modal (Lev dan Zarowin, 1999). Juniarti (2005) membandingkan antara laba dan cash flow manakah yang memiliki value relevan, penelitian tersebut membuktikan bahwa pada tahap growth, cash flow lebih memiliki value relevant dibanding laba. Tetapi, untuk tahap mature, laba tidak dapat dibuktikan memiliki value relevant dibanding cash flow.
Beaver (1968) dalam Margani Pinasti (2004) telah memberikan defenisi relevansi nilai sebagai kemampuan menjelaskan (explanatory power) dari informasi akuntansi dalam kaitannya dengan nilai perusahaan. Gu (2002) memberikan defenisi yang tidak jauh berbeda, yaitu relevansi nilai adalah kemampuan menjelaskan (explanatory power) informasi akuntansi terhadap harga saham atau return saham. Dalam perkembangannya, penelitian-penelitian mengenai relevansi nilai memang diarahkan untuk menginvestigasi hubungan empiris antara nilai pasar modal (stock market value) dengan berbagai angka akuntansi, yang dimaksudkan untuk menilai kegunaan angka-angka akuntansi itu dalam penilaian ekuitas.
Pengujian hubungan antara informasi akuntansi dengan nilai saham memerlukan suatu model penilaian. Terdapat dua tipe model penilaian yang umumnya digunakan untuk menginvestigasi hubungan tersebut, yaitu model harga (price model) dan model return (return model). Kedua model tersebut diderivasi dari fondasi teoritis yang sama yaitu yang dikenal sebagai model informasi linier (linier informasi model) yang dikembangkan oleh Ohlson (1995).
Kebanyakan penelitian mengenai value relevance informasi akuntansi menggunakan R2 dari model harga sebagai pengukur relevansi nilai (Collins et al., 1997; Francis dan Schipper, 1999; Lev dan Zarowin, 1999; Ely dan Waymire, 1999). Hal ini disebabkan karena R2 merupakan pengukur explanatory power dari variabel independen dalam suatu regresi linier. Jadi, secara intuitif, R2 tampak merupakan pengukur yang baik dari value relevance.
Gu (2002) dalam Margani Pinasti (2004) menunjukkan bahwa R2 memberikan suatu ukuran explanatory power dari suatu model ekonomik yang bersifat spesifik untuk suatu sample. Perbedaan R2 antara dua sample yang berbeda dapat terjadi walaupun hubungan ekonomis yang mendasari kedua sampel tersebut identik. Gu (2002) mengusulkan pengukur alternatif bagi value relevance, yaitu dispersi residual. Gu menjelaskan bahwa dalam pengukuran value relevance informasi akuntansi dengan menggunakan suatu model penilaian, variansi residual atau deviasi standar residual dari model tersebut menunjukkan dispersi dari komponen-komponen harga atau return yang tidak dapat dijelaskan oleh variabel-variabel akuntansi.
Mengukur Value Relevance
Pengujian hubungan antara informasi akuntansi dengan nilai saham memerlukan suatu model penilaian. Terdapat dua tipe model penilaian yang umumnya digunakan untuk menginvestigasi hubungan tersebut, yaitu model harga (price model) dan model return (return model)). Kedua model tersebut diderivasi dari fondasi teoritis yang sama yaitu yang dikenal sebagai model informasi linier (linier information model) yang dikembangkan oleh Ohlson (1995). Brown et al. (1999) dan Ota (2001) dalam (Margani Pinasti, 2004) menunjukkan adanya masalah scale effect dalam model harga, keduanya memberikan usulan pemecahan terhadap masalah scale effects ini dengan cara menggunakan model return atau menggunakan Pt-1 sebagai deflator dalam model harga, Berkaitan dengan time series, Brown et al. (1999) menyarankan perlunya mengontrol koefisien variasi (coefisien of variation) scale factor pada saat menguji trend R2 dari regresi model harga.
Value relevance informasi akuntansi sering diukur dengan koefisien determinasi, R2, dari price regression model yang disusun berdasarkan hubungan nilai pasar dan variabel akuntansi dalam model Ohlson. R2 merupakan pengukur relevansi nilai yang banyak digunakan dalam penelitian-penelitian terdahulu (Margani Pinasti, 2004). Price regression model model Ohlson yang digunakan dalam penelitian ini dimodifikasi dengan menambahkan variabel cashflow untuk semakin memperjelas faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham. Menurut Burgstahler dan Dichev (1997) dalam Juniarti (2005) nilai perusahaan tersebut (value of firm) berkaitan erat dengan model yang secara umum menyatakan bahwa nilai pasar ekuitas (market value equity) suatu perusahaan pada satu tahun tertentu merupakan fungsi linear dari recognize net assets, selain net income wakil potensial recognize net assets adalah cash flow.
Alasan pengunaan model ini untuk mengantisipasi banyaknya distorsi yang terjadi jika menggunakan model Ball & Brown, seperti sulitnya menentukan tanggal peristiwa dengan tepat serta banyaknya confounding effect yang tidak mungkin dapat diisolasi seluruhnya (Frankel dan Lee, 1998 dan Lee dkk, 1999 dalam Sekar Mayang Sari, 2004).
-
Silahkan dikumpulkan tugas Critical Reviuw mengenai Akuntansi Lingan dan Relevasansi Nilai Laba
Kerjakan dalam bentuk Ppt Yang di convert ke PDF. Ingat Jangan Plagiat paling lambat hari ini jam 15.00 WIB
-
-
-
Kandungan Informasi Akuntansi
Informasi Akuntansi adalah informasi kuantitatif tentang entitas ekonomi yang bermanfaat untuk pengambilan keputusan ekonomi dalam menentukan plihan-pilihan diantara alternatif-alternatif tindakan.Kriteria Informasi AkuntansiInformasi akuntansi bisa dikatakan berkualitas bila memenuhi syarat-syarat berikut:1. Perbandingan antara manfaat dan biayaManfaat laporan informasi akuntansi paling tidak harus sama dengan biaya untuk membuat laporan tersebut. Biaya sebuah laporan akuntansi tidak boleh lebih besar daripada manfaat yang bisa diterima oleh pemakaian informasi tersebut.2. Dapat dimengertiInformasi akuntansi dapat dimengerti oleh pemakai bila dinyatakan dalam bentuk dan istilah yang sesuai dengan tingkat pengetahuan pemakai.3. Relevan.Agar informasi akuntansi relevan, maka dipilih metode pengukuran dan pelaporan akuntansi keuangan yang sesuai dan bisa membantu para pemakai dalam pengambilan keputusan.4. Dapat diujiInformasi akuntansi harus dapat diuji kebenarannya oleh para penguji independen dengan menggunakan metode pengukuran yang sama.5. NetralInformasi akuntansi harus ditujukan pada kebutuhan umum pemakai, bukan pada kebutuhan dan kepentingan pihak-pihak tertentu.6. Menyajikan yang seharusnyaInformasi akuntansi bisa dipercaya, bila menyatakan yang sebenarnya atau menyajikan yang seharusnya.7. Nilai prediksiInformasi akuntansi tentang posisi keuangan masa lalu memiliki nilai prediksi. Artinya, dapat dipakai sebagai dasar memprediksi atau meramalkan masa depan.8. Feedback (umpan balik)Umpan balik bisa berupa pembenaran atau penolakan terhadap perencanaan yang telah dibuat sebelumnya.9. Tepat waktuInformasi akuntansi harus disampaikan tepat waktu agar dapat digunakan dalam pengambilan keputusan/kebijakan perusahaan dan untuk mencegah tertundanya pengambilan keputusan/kebijakan.10. Dapat dibandingkan atau konsistenInformasi akuntansi yang disajikan harus dapat memudahkan pemakai untuk membandingkannya dengan informasi sejenis dari perusahaan lain. Dan perbedaan informasi akuntansi yang diperoleh harus disebabkan oleh faktor keadaan ekonomi, bukan disebabkan oleh perbedaan prinsip atau metode/prosedur.Kandungan Informasi Akuntansi di Pasar ModalΓÇó Informasi akuntansi mempunyai peranan sangat penting dalam terbentuknya pasar modal yang efisienΓÇó Pasar modal yang efisien dapat dicapai, jika harga saham mencerminkan semua informasi yang relevanΓÇó Scott (2006:137) mengatakan bahwa konsep relevansi nilai informasi akuntansi menjelaskan tentang bagaimana reaksi investor saat pengumuman informasi akuntansi yang terdapat pada laporan keuangan.Para pelaku pasar modal memerlukan informasi untuk pengambilan keputusan. Ada 3 jenis informasi yang diperlukan oleh investor, broker maupun pedagang efek :1. Informasi fundamentalInformasi yang menyajikan kondisi perusahaan menjual efek dan perilaku efek tersebut di bursa2. Informasi faktor teknisInformasi yang berisi tentang perdagangan efek, fluktuasi kurs, volume transaksi, dan lain-lain.3. Informasi LingkunganInformasi berupa kondisi sosial, ekonomi, politik, keamanan
-
-
-
Karakteristik kualitatif (kualitas) merupakan suatu ciri khas yang membuat informasi dalam laporan keuangan berguna bagi pemakainya. Berikut adalah karakteristik laporan keuangan dilihat dari segi kualitas berdasarkan Panduan Standar Akuntansi (PSAK)*:
1. Dapat dipahami
Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah kemudahannya untuk dipahami oleh pemakainya. Pemakai diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktifitas ekonomi dan bisnis, akuntansi, serta kemauan untuk mempelajari informasi dengan ketekunan yang wajar. Namun demikian, informasi kompleks yang seharusnya dimasukkan di dalam laporan keuangan tidak dapat dikeluarkan hanya atas dasar pertimbangan bahwa informasi tersebut terlalu sulit untuk dapat dipahami oleh pemakai tertentu.2. Relevan
Agar laporan keuangan bermanfaat, informasi di dalamnya harus relevan untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam proses pengambilan keputusan. Informasi di dalam laporan keuangan memilki kualitas relavan jika dapat memengaruhi keputusan ekonomi pemakai dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini, atau masa depan, menegaskan, atau mengoreksi hasil evaluasi mereka dimasa lalu.
Informasi posisi keuangamn dan kinerja dimasa lalu sering kali digunakan sebagai dasar untuk memprediksi posisi keuangan dan kinerja masa depan dan hal-hal lain yag langsug menarik perhatian pemakai, seperti: pembayaran difiden dan upah, pergerakan harga skurietas, dan kemampuan perusahaan untuk memenuhi komitmennya ketika jatuh tempo.
Untuk memiliki nilai pridiktif, informasi tidak perlu harus dalam bentuk ramalan eksplisit. Namun demikian, kemampuan laporan keuangan untuk membuat prediksi dapat ditingkatkan dengan penampilan informasi tentang transaksi dan peristiwa masa lalu. Misalnya, nilai prediktif laporan laba rugi dapat di tingkatkan apabila pos-pos penghasilan atau beban yang tidak biasa, abnormal, dan jarang terjadi di ungkapkan secara terpisah.3. Materialitas
Relevansi informasi dipengaruhi oleh hakikat dan materialitas laporan keuangan. Informasi dipandang material apabila kelalaian untuk mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai yang diambil atas dasar laporan keungan. Materialitas tergantung pada besarnya pos atau kesalahan yang dinilai sesuai dengan situasi khusus dari kelalaian dalam mencantunkan (omission) atau kesalahan dalam mencatat (misstament). Oleh karenanya, materialitas lebih merupakan suatu ambang batas atua titik pemisah dari pada suatu karakteristik kualitatif pokok yang harus dimiliki agar informasi dipandang berguna.4. Keandalan
Supaya laporan keuangan bermanfaat, informasi juga harus handal (reliable). Informasi memilki kualitas yang handal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material, dan dapat dihandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus atau jujur (faithful representation) dari yang seharusnya disajikan secara wajar diharapkan dapat di sajikan.5. Penyajian Jujur
Informasi keuangan di laporan keuangan pada umumnya tidak luput dari resiko penyajian yang dianggap kurang jujur dari pada apa yang seharusnya digambarkan. Hal tersebut bukan disebabkan karena kesenjangan untuk menyesatkan, tetapi lebih merupakan kesulitan yang melekat dalam mengidentifikasikan transaksi serta pristiwa lainnya yang dilaporkan, atau dalam menyusun atau menerapkan ukuran dan teknik penyajian yang sesuai dengan makna transaksi dan pristiwa tersebut.6. Subtansi Mengungguli Bentuk
Jika informasi dimaksudkan untuk menyajikan dengan jujur transaksi serta pristiwa lain yang seharusnya disajikan, peristiwa tersebut perlu dicatat dan disajikan sesuai dengan subtansi dan realitas ekonomi dan bukan hanya bentuk hukum. Subtansi transaksi atau peristiwa lain tidak selalu konsisten dengan apa yang tampak dari bentuk hukum.7. Netralitas
Informasi harus diarahkan pada kebutuhan umum pemakai, tidak bergantung pada kebutuhan dan keinginan pihak tertentu. Tidak boleh ada usaha untuk menyajikan informasi yang menguntungkan beberapa pihak, sementara hal tersebut akan merugikan pihak lain yang mempunyai kepentingan yang berlawanan.8. Pertimbangan Sehat
Penyusunan laporan keuangan adakalanya menghadapi ketidak pastian suatu peristiwa dan keadaan tertentu, seperti ketertagihan piutang yang diragukan, perkiraan masa manfaat pabrik serta peralatan, dengan tuntutan atas jaminan garansi yang mungkin timbul. Namun demikian, penggunaan pertimbangan sehat tidak memperkenankan, misalnya: pembentukan cadangan tersembunyi atau penyisihan, berlebihan, dan sengaja menetapkan aktiva atau penghasilan yang lebih rendah atau pencatatan kewajiban atau beban yang lebih tinggi sehingga laporan keuangan menjadi tidak netral, dan karena itu tidak memilki kualitas yang handal.9. Kelengkapan
Agar dapat diandalkan,informasi dalam laoran keuangan harus lengkap dalam batasan materialitas dan biaya.
* Sofyan syafri harahap, teori akuntansi, (jakarta:rajawali pers, 2008),hlm 126-129Karakteristik Kualitatif Informasi Dalam Laporan Keuangan Berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP)
Karakteristik Kualitatif Informasi Dalam Laporan Keuangan Berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) antara lain meliputi :
┬╖ Dapat Dipahami.Kualitas penting informasi yang disajikan dalam laporan keuangan adalah kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh pengguna. Untuk maksud ini, pengguna diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi, serta kemauan untuk mempelajari informasi tersebut dengan ketekunan yang wajar.┬╖ RelevanAgar bermanfaat, informasi harus relevan dengan kebutuhan pengguna untuk proses pengambilan keputusan. Informasi memiliki kualitas relevan jika dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna dengan cara membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan, menegaskan, atau mengoreksi hasil evaluasi mereka dimasa lalu.┬╖ MaterialitasInformasi dipandang material jika kelalaian untuk mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna yang diambil atas dasar laporan keuangan.┬╖ KeandalanAgar bermanfaat, informasi yang disajikan dalam laporan keuangan harus andal. Informasi memiliki kualitas andal jika bebas dari kesalahan material dan bias, dan penyajian secara jujur apa yang seharusnya disajikan atau yang wajar diharapkan dapat disajikan.Substansi Mengungguli BentukTransaksi, peristiwa dan kondisi lain dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi dan bukan bentuk hukumnya.┬╖ Perti
-
-
-
Pasar modal didefinisikan sebagai pasar untuk berbagai instrumen keuangan (atau sekuritas) jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk hutang ataupun modal sendiri, baik yang diterbitkan oleh pemerintah, public authorities, maupun perusahaan swasta (Suad, 1996). Pasar modal sebagai wahana sektor keua-ngan di luar perbankan mempunyai daya tarik, pertama, diharapkan menjadi sarana alternatif untuk memperoleh penghimpunan dana secara cepat dan murah dari investor maupun kreditor melalui investasi berupa aktiva finansial seperti pembelian saham, obligasi, warrant, opsi, dan serti-fikat danareksa. Kedua, pasar modal memung-kinkan para investor mempunyai berbagai pilihan investasi yang sesuai dengan preferensi risikonya sehingga investor memungkinkan untuk melakukan diversifikasi investasi, membentuk portfolio (gabu-ngan dari berbagai investasi) sesuai dengan risiko yang investor tanggung serta tingkat keuntungan yang mereka harapkan. Dalam keadaan pasar modal yang efisien, hubungan yang positif antara risiko dan keuntungan diharapkan akan terjadi (Suad, 1996). Ketiga, investasi dalam aktiva finan-sial mempunyai daya tarik likuiditas yaitu sekuritas dapat diperjualbelikan dengan segera dan investor dapat melakukan reposisi investasi sekuritasnya setiap saat. Misalnya, investor melakukan investasi sekuritas dalam bidang food and beverage hari ini, kemudian melakukan penggantian sekuritas dengan investasi dalam bidang industri perbankan atau industri tobacco pada keesokan harinya, lusa, ming-gu depan, atau bulan depannya. Dengan pasar modal ini, berarti semakin terbukanya kesempatan bagi investor untuk melakukan diversifikasi pada in-vestasi yang dianggap paling layak.
Pasar modal Indonesia termasuk emerging market, yaitu pasar yang diindikasikan sebagai pasar modal yang masih lemah (Prabowo, 2000). Ciri pasar ini adalah: pertama, investor melakukan reaksi terhadap informasi secara lugu (naive) dan tidak canggih (unsophisticated). Investor mempu-nyai kemampuan terbatas dalam mengartikan, me-nganalisis, dan menginterpretasikan informasi yang mereka terima. Karena itu, investor cenderung menggunakan rumor, spekulatif, dan berperilaku mass behaviour. Investor yang bergabung dalam suatu massa, akan kehilangan rasionalitas kolektif, karena penentuan harga saham dalam komoditas perdagangan saham merupakan manifestasi dari faktor psikologis dan emosi investor (Sjahrir, 1995; 229). Akibatnya, seringkali investor melakukan pe-ngambilan keputusan yang salah sehingga sekuritas bersangkutan dinilai secara tidak tepat dan sering-kali pasar tampaknya tersesat (fooled) oleh infor-masi yang harus diinterpretasikan. Kedua, Seku-ritas di pasar modal tergolong dalam risky assets yaitu aktiva keuangan yang beresiko dan investor tidak tahu dengan pasti hasil yang akan dipe-rolehnya. Investor hanya dapat memperkirakan berapa keuntungan yang diharapkan dari invest-tasinya, dan seberapa jauh kemungkinan hasil yang sebenarnya nanti akan menyimpang dari hasil yang diharapkan. Oleh karena itu, assets ini umumnya memberikan return lebih tinggi, apakah return itu positif atau negatif. Karenanya, wajar bila investor mempersoalkan perlindungan dari risiko kerugian tersebut. Ketiga, peranan laporan keuangan seba-gai pendukung pengambilan keputusan investasi belum digunakan secara optimal dan penggu-naannya relatif kecil di pasar modal Indonesia (Prabowo, 2000). Hal ini terjadi karena investor ber-perilaku sebagai penggoreng saham dalam mengambil taking profit melalui analisis teknikal untuk memperhatikan capital gain, dan menunjukkan investor menyukai investasi jangka pendek, perilaku spekulatif, serta melakukan strategi aktif dengan memperhatikan faktor makro seperti isu, rumor, politik, konspirasi, insider trading, regulasi, anomali pasar, dan lain-lain. Kecenderungannya adalah laporan keuangan tidak dimanfaatkan de-ngan baik dan hanya sepintas melihat kejadian perusahaan pada tindakan kebijakan khusus seperti corporate action. Keempat, motivasi dalam mencari return terjadi pergeseran (Paimpo dan Didi, 2000). Pergeseran ini disebabkan pengalaman melakukan investasi berdasarkan rumor me-nyebabkan kerugian. Sedangkan melalui analisis fundamental, investor dapat mempelajari seluruh aspek fundamental perusahaan seperti performance perusahaan, laporan keuangan, prospek emiten di masa datang, aksi korporasi mulai dari rencana ekspansi usaha dan terutama rencana pembagian dividen, itu yang diharapkan investor (Tim BEJ, 2006).
Mencermati hal tersebut di atas, menunjukkan bahwa proses investasi tergantung pada psikologi massa dan cenderung menggunakan rumor untuk bertindak spekulatif. Indikasinya ada-lah investor bersikap unsophisticated serta naive (Prabowo, 2000) dan menunjukkan bahwa investor cenderung tidak mempunyai pemahaman penge-tahuan financial mengenai signal pengungkapan informasi perusahaan karena mempunyai kemam-puan cognitive terbatas (limitation cognitive) dalam mengartikan dan menginterpretasikan informasi yang mereka terima. Akibat hal tersebut diatas akan memberikan konsekwensi negatif, yaitu: pertama, menyesatkan investor untuk merevisi keyakinan (belief) awal tentang expected values yang sudah ditentukannya dengan interpretasi informasi akun-tansi tersebut; kedua, memberikan perilaku in-vestor menjadi impatience, loss control, dan lebih banyak bersikap menuruti kata hati (impulsive) karena mempunyai persepsi salah tafsir pada obyek yang diinterpretasikan. Sehingga keputusan inves-tasi akan banyak mengalami risiko yang tinggi; ketiga, kesalahan dalam melakukan prediksi ter-hadap subyektifitas return dan risk; keempat, me-nyesatkan investor dalam pengambilan keputusan yang bersifat rasional karena investor mengambil keputusan yang salah karena sekuritas bersang-kutan dinilai secara tidak tepat.
Proses pengambilan keputusan investasi di pasar modal bagi investor bersifat sophisticated dan rasional, artinya investor akan memilih kesempatan investasi yang memberikan utilitas yang diharapkan tertinggi (maksimalisasi utilitas) serta memberikan kesejahteraan kepadanya (Scott, 2003). Maksi-malisasi utilitas menunjukkan tingkat subyektifitas return yang diharapkan dari kesempatan investasi pada saham individu maupun portofolio saham serta tergantung pada kapasitas cognitive masing-masing investor sesuai dengan preferensi investor. Investor yang sophisticated harus mempunyai kemampuan dalam pemikiran, pertimbangan, imajinasi serta mempunyai kecakapan dalam pemrosesan infor-masi, menerapkan pengetahuan investasi, dan melakukan perubahan preferensi investasi. Proses ini merupakan proses cognitive yang dilakukan investor melalui memori, attention, persepsi, aksi, pemecahan masalah, mental imagery, human infor-mation processing, dan keyakinan (beliefs) yang kuat atas investasi tersebut (Wikipedia, 2008).
Hal diatas diperlukan investor untuk meng-alokasikan dananya ke dalam tiap-tiap sekuritas yang dipilih dalam investasinya. Tujuannya adalah melakukan estimasi return dan risk dari tiap-tiap sekuritas investasi. Tiap-tiap sekuritas dibandingkan nilai return dan risknya kemudian diurutkan nilai return dan risk dari yang tertinggi sampai dengan yang terendah (Suad, 1996:110). Hal ini digunakan investor untuk menetapkan keyakinan awal (initial beliefs) pemilihan sekuritas yang ditetapkan sebagai kandidat dalam pembentukan portofolio investasi berdasarkan preferensi return dan risk. Proses ini disebut mental accounting dan pelaksanaannya menggunakan anchoring atau narrow framing, yaitu pengungkapan suatu fakta dalam investasi pada return/gains dan risk/losses (Tversky dan Kahneman, 1981; Thaler, 1985; Barberis dan Huang, 2001). Hal ini menunjukkan preferensi in-vestor terhadap return dan risk dari sekuritas.
Barberis dan Huang (2001) mempertimbangkan bentuk mental accounting, yaitu investor peduli mengenai return/gains dan risk/losses dalam nilai saham individu, serta investor peduli mengenai return/gains dan risk/losses dalam nilai seluruh portofolio. Perilaku investasi tersebut me-nunjukkan investor mempunyai dua kemungkinan sikap, pertama, sikap preferensi risk untuk menerima resiko (risk seeker), sikap menghindari resiko (risk averter), ataukah sikap netral (risk neutral). Kedua, sikap preferensi untuk menerima return dalam bentuk capital gain, deviden, ataukah keduanya yaitu capital gain dan deviden (Djunaidi, 1990). Untuk memperlihatkan perilaku investor sebagai proksi investor dalam menyikapi return dan risk tersebut, maka framing digunakan untuk men-jelaskan preferensi investor. Sehingga mengha-silkan sikap yang cenderung menerima gains/return dalam frame positif ataukah cenderung menerima losses/risk dalam frame negatif ataukah menyikapi keduanya secara seimbang.
Namun dalam pengambilan keputusan di pasar modal dalam kondisi yang under-uncertainty sikap irrasisional bagi investor lebih cenderung digunakan karena terdapat kemungkinan investor akan mendapatkan abnormal return. Beberapa penelitian menemukan bahwa asumsi rasionalitas sering dilanggar karena decision framing yang diadopsi oleh pembuat keputusan dan frame yang diadopsi tergantung pada formulasi masalah yang dihadapi, aspek cognitive, norma, kebiasaan, dan karakteristik pengambil keputusan itu sendiri. Frame yang diadopsi tergantung pada fenomena cognitive investor dalam menentukan dan mem-pengaruhi keputusannya (Tversky & Kahneman, 1981) yang disebabkan oleh informasi yang tersedia dan bagaimana informasi diinterprestasikan.
Mental Accounting
Konsep mental accounting merujuk pada cara investor membingkai (frame) keputusan keua-ngannya dan mengevaluasi keputusan (outcomes) investasinya (Thaler, 1985) serta merujuk pada cara individu memutuskan assets sekarang dan masa datang menjadi terpisah, bagian-bagian yang tidak dapat dioperkan (Nofsinger, 2005). Konsep ini me-nyediakan suatu deskripsi luas melalui proses kognitif dimana orang-orang merasa, mengkatego-risasi, mengevaluasi, dan mengikutsertakan dalam aktivitas keuangan. Mental accounting mempunyai pokok isi individu menentukan tingkat utilitas yang berbeda pada tiap-tiap kelompok asset, yang mana mempengaruhi keputusan konsumsi mereka dan perilaku-perilaku lainnya. Konsep ini menyediakan deskripsi melalui proses kognitif dimana individu merasa, mengkategorisasi, mengevaluasi, dan mengikutsertakan dalam aktivitas keuangan dengan bentuk mental accounting adalah kategorisasi dan pelabelan. Manifestasinya adalah individu menge-lompokkan pengeluaran dalam anggaran (contoh: makanan, perumahan), distribusi kesejahteraan dalam rekening (contoh: pensiun, asuransi), dan membagi sumber penghasilan dalam kategori (contoh: penghasilan regular, uang yang menang dari loterei, tabungan, investasi). Proses akuntansi dari mental accounting menyediakan tujuan pen-ting, seperti keputusan pemfasilitasan yang meng-gunakan dana kita, dan penyediaan fungsi pengen-dalian diri melalui aturan pengeluaran ke dalam penempatan dana di dalam ambang batas accounts.
Mental accounting investor memperhatikan pada gains dan losses (Barberis dan Huang, 2001). Pelaksanaan mental accounting dari investor de-ngan menggunakan narrow framing, yaitu mem-bingkai (frame) keputusan keuangannya dengan mengungkapkan perhatian pada gains/return atau losses/risk dan mengevaluasi keputusan (outcomes) investasinya, sehingga individu membingkai secara subyektif suatu transaksi dalam pikirannya untuk menentukan utilitas yang mereka terima. Hal ini mencerminkan suatu perhatian pada sumberdaya non konsumsi dari utility, dimana pengalaman alamiah melebihi narrow framed gains and losses. Selanjutnya, investor mempertimbangkan dua ben-tuk mental accounting, pertama, investor peduli mengenai gains and losses dalam nilai saham individu (akuntansi saham individu), dan kedua, investor peduli mengenai gains and losses dalam nilai seluruh portfolio (akuntansi portofolio), dan menunjukkan bahwa bentuk mental accounting mempengaruhi harga assets dalam suatu cara yang signifikan. Perilaku investasi tersebut menunjukkan investor mempunyai dua kemungkinan sikap, pertama, sikap preferensi risk untuk menerima resiko (risk seeker), sikap menghindari resiko (risk averter), ataukah sikap netral (risk neutral). Kedua, sikap preferensi untuk menerima return dalam ben-tuk capital gain, deviden, ataukah keduanya yaitu capital gain dan deviden (Djunaidi, 1990). Untuk memperlihatkan perilaku investor sebagai proksi investor dalam menyikapi return dan risk tersebut, maka framing digunakan untuk menjelaskan prefe-rensi investor tersebut. Sehingga menghasilkan sikap yang cenderung menerima gains/return dalam frame positif ataukah cenderung menerima losses/ risk dalam frame negatif ataukah menyikapi kedua-nya secara seimbang.
Model asumsi mengenai preferensi investor (Markowitz, 1952) hanya didasarkan pada expected return dan risk dari portofolio yang secara implisit menganggap investor mempunyai fungsi utilitas yang sama. Tetapi pada kenyataannya, tiap-tiap investor mempunyai fungsi utilitas yang berbeda (Hartono, 2000:192-193). Jika preferensi investor terhadap portofolio berbeda karena investor mem-punyai fungsi utilitas yang berbeda, portofolio optimal untuk masing-masing investor akan dapat berbeda. Model Markowitz tidak mempertimbangkan hal ini, karena fokusnya terletak pada nilai portofolio dengan resiko terkecil untuk expected return tertentu. Tetapi preferensi investor berbeda-beda. Investor yang risk averse akan memilih sesuai tang-gapan model Markowitz, sedangkan investor yang risk seeker akan memilih resiko yang tinggi dengan implikasi akan mendapatkan return yang tinggi pula. Pemilihan portofolio sesuai dengan preferensi in-vesttor, merupakan portofolio yang efisien yang masih berada di efficient set. Portofolio mana yang akan dipilih oleh investor tergantung dari fungsi utilitasnya masing-masing. Portofolio optimal untuk tiap-tiap investor terletak pada titik persinggungan antara fungsi utilitas investor dengan efficient set.
Berdasarkan preferensi, investor menggunakan beberapa aksioma dalam proses pengambilan kepu-tusan investasi berdasarkan model utilitas yang diharapkan (expected utility model) (Suad, 1996) yang merupakan model yang mendasari pemilihan investasi pada portofolio dalam konteks mean-variance model. Expected utility model secara historis memberikan model normatif dan deskriptif untuk pembuatan keputusan yang mengandung risiko. Teori ini beranggapan bahwa pembuat kepu-tusan adalah seorang yang rasional. Pembuat kepu-tusan dianggap mampu memproses informasi dengan sempurna dalam menentukan pilihan yang terbaik. Asumsi rasionalitas juga mewajibkan adanya konsistensi dan koherensi dalam keputusan yang dibuat. Aksioma pengambilan keputusan inves-tasi tersebut yaitu:
- Investor mampu memilih berbagai alternatif dengan menyusun peringkat dari berbagai alternatif-alternatif sehingga bisa diambil keputusan.
- Setiap peringkat alternatif-alternatif tersebut bersifat transitif. Artinya, kalau investasi A lebih disukai dari pada B, dan B lebih disukai dari pada C, maka A tentu lebih disukai dari pada C.
- Para pemodal akan memperhatikan risiko alter-natif yang dipertimbangkan, dan tidak mem-perhatikan sifat alternatif-alternatif tersebut. Sebagai misal, investor tidak akan memper-timbangkan apakah suatu kesempatan inves-tasi lebih padat modal ataukah lebih padat karya.
- Para investor mampu menentukan certainty equivalent dari setiap investasi yang tidak pasti. Certainty equivalent suatu investasi me-nunjukkan nilai pasti yang ekuivalen dengan nilai pengharapan dari investasi tersebut.
Keempat aksioma di atas bisa digunakan untuk menyusun fungsi utilitas dari investor sebagai dasar untuk model sikap investor terhadap risiko, dengan tujuan untuk memaksimumkan indeks utilitas yang diharapkan pada income (discounted interest rate). Penyusunan fungsi utilitas digunakan untuk memilih investasi yang mempunyai unsur ketidakpastian. Investor akan memilih investasi-investasi berdasarkan return yang diharapkan pada tingkat yang maksimal atau tinggi. Investor yang satu dengan investor yang lain mungkin mempunyai fungsi utilitas yang berbeda, dan karenanya bisa memilih kesempatan investasi yang berbeda atau-kah sama. Fungsi utilitas tersebut bersifat indivi-dual, artinya bisa berbeda antara pemodal yang satu dengan pemodal lainnya. Perbedaan fungsi utilitas investor dapat digambarkan melalui indiffe-rence curve bahwa investor tidak akan merasa berbeda sepanjang investor berada pada kurva ter-sebut. Tingkat utilitas investor akan berbeda satu sama lain pada tingkat resiko yang sama, tetapi investor akan lebih menyukai untuk memilih tingkat utilitas pada return yang lebih tinggi. Hal tersebut menunjukkan preferensi risiko bagi investor (Suad, 1996:118).
Konsep mental accounting sama dengan yang digunakan dalan teori prospek (Kahneman dan Tversky, 1979) dan banyak mengadopsi terori ini sebagai fungsi nilai dalam analisisnya. Teori prospek menggambarkan bagaimana investor membingkai (frame) dan menilai suatu keputusan dalam keti-dakpastian. Pertama, investor membingkai (frame) pilihan dalam bentuk keuntungan dan kerugian potensial relatif terhadap suatu titik referen spesifik. Kedua, Investor menilai keuntungan atau kerugian berkenaan pada suatu fungsi bentuk-S sepeti dalam gambar 1. Gunanya, sebagai penjelasan alternatif dalam pengambilan keputusan. Elemen utama teori prospek adalah fungsi nilai bentuk-S yang concave (risk averse) dalam domain keuntungan dan convex (risk loving) dalam domain kerugian, keduanya mengukur relatif terhadap titik referen yang bersifat netral dengan nilai sebesar 0. Mental accounting menyediakan suatu fondasi untuk cara dimana pem-buat keputusan merancang titik referen pada accounts yang menentukan keuntungan dan keru-gian. Ide utama adalah pembuat keputusan cede-rung memisahkan tipe berbeda dari spekulasi kedalam account terpisah, dan kemudian mempergunakan teori prospek pada tiap-tiap account oleh pengabaian interaksi yang memungkinkan.
Berkaitan dengan perilaku pengambilan keputusan Investor di Indonesia, bahwa pada framing positif perilaku orang Indonesia dapat berbeda dengan orang asing. Peneliti menarik pandangan bahwa hal ini terjadi karena beberapa faktor diantaranya yaitu, perbedaan budaya sehingga menyebabkan perbedaan sikap dalam pengambilan keputusan investasi, serta keterbiasaan mene-rima informasi orang Indonesia dengan framing positif yang dapat mempengaruhi kepribadian, perilaku orang, dan persepsi seseorang.
-
-
-
Nilai wajar atau fair value adalah harga jual yang disepakati oleh pembeli dan penjual, dengan asumsi kedua belah pihak melakukan transaksi secara bebas. Banyak investasi memiliki nilai wajar yang ditentukan oleh pasar dimana sebuah saham diperdagangkan. Nilai wajar juga merupakan nilai aset dan kewajiban perusahaan jika laporan keuangan anak perusahaan dikonsolidasikan dengan perusahaan induk.
Nilai wajar adalah harga di mana aset dapat dipertukarkan antara dua pihak yang berpengetahuan luas dan berkepentingan. Cara yang paling andal untuk menentukan nilai wajar investasi adalah mencantumkan atau mendaftarkan saham di bursa. Jika perdagangan saham XYZ di bursa, market maker memberikan harga bid dan ask saham XYZ.
Seorang investor bisa menjual saham pada harga bid ke market maker dan membeli saham dari market maker dengan harga ask. Karena permintaan investor terhadap saham sangat menentukan harga bid dan ask, bursa merupakan metode yang paling andal untuk menentukan nilai wajar saham.
Nilai wajar dalam akuntansi, menurut Dewan Standar Akuntansi Internasional, adalah harga yang diterima untuk menjual aset atau dibayar untuk mengalihkan kewajiban dalam transaksi yang teratur antara pelaku pasar pada tanggal tertentu, biasanya digunakan pada laporan keuangan dari waktu ke waktu.
Bagaimana Nilai Wajar Dalam Konsolidasi
Nilai wajar juga digunakan dalam konsolidasi, yaitu seperangkat laporan keuangan yang menghadirkan perusahaan induk dan anak perusahaan seolah-olah kedua perusahaan tersebut merupakan satu perusahaan.
Metode Lain yang Digunakan untuk Menentukan Nilai Wajar
Dalam beberapa kasus, mungkin sulit untuk menentukan nilai wajar suatu aset jika tidak ada pasar aktif untuk memperdagangkan aset tersebut. Hal ini sering menjadi masalah saat akuntan melakukan penilaian perusahaan. Katakanlah, misalnya, seorang akuntan tidak dapat menentukan nilai wajar untuk peralatan yang tidak biasa. Akuntan dapat menggunakan arus kas diskonto yang dihasilkan oleh aset tersebut untuk menentukan nilai wajar. Dalam kasus ini, akuntan menggunakan arus keluar uang tunai untuk membeli peralatan dan arus masuk kas yang dihasilkan dengan menggunakan peralatan selama masa manfaatnya. Nilai arus kas diskonto adalah nilai wajar aset.
Nilai Wajar di Pasar Berjangka
Di pasar berjangka, nilai wajar adalah harga ekuilibrium untuk kontrak berjangka. Ini sama dengan harga spot setelah mempertimbangkan bunga majemuk (dan dividen yang hilang karena investor memiliki kontrak berjangka daripada saham fisik) selama periode waktu tertentu.
PSAK 68: Pengukuran Nilai Wajar

SERING sekali kita mendengar istilah nilai wajar/fair value, baik dalam bidang akuntansi, bidang perpajakan, maupun bidang lainnya. PSAK 68 mendefinisikan nilai wajar sebagai harga yang akan diterima untuk menjual suatu aset atau harga yang akan dibayar untuk mengalihkan suatu liabilitas dalam transaksi yang teratur antara pelaku pasar pada tanggal pengukuran. Dari definisi tersebut kita dapat mencatat beberapa unsur/elemen nilai wajar, yaitu harga, aset atau liabilitas, transaksi danpelaku pasar.
Berdasarkan definisi di atas, PSAK 68 menganut exit price dalam menentukan nilai wajar, yaitu harga untuk melepaskan suatu aset atau liabilitas, bukan harga untuk memperoleh suatu aset atau liabilitas (entry price).
Aset atau liabilitas yang diukur pada nilai wajar dapat terdiri dari aset atau liabilitas yang berdiri sendiri (misalnya instrumen keuangan atau aset nonkeuangan) atau sekelompok aset, sekelompok liabilitas atau sekelompok aset dan liabilitas (misalnya suatu unit penghasil kas atau bisnis).
Pengukuran nilai wajar mengasumsikan bahwa transaksi penjualan aset atau pengalihan liabilitas terjadi di pasar utama (principal market) atau pasar yang paling menguntungkan (most advantageous market). Pasar utama merupakan pasar dengan volume dan tingkat aktivitas terbesar untuk aset atau liabilitas. Sedang pasar yang paling menguntungkan adalah pasar yang memaksimalkan jumlah yang akan diterima untuk menjual aset atau meminimalkan jumlah yang akan dibayar untuk mengalihkan liabilitas setelah memperhitungkan biaya transaksi dan biaya transportasi. Oleh karena itu dalam pengukuran nilai wajar entitas harus memiliki akses ke pasar utama atau pasar yang paling menguntungkan pada tanggal pengukuran, meskipun entitas juga tidak perlu untuk dapat menjual aset atau mengalihkan liabilitas.
Harga yang digunakan dalam pengukuran nilai wajar adalah harga pada tanggal pengukuran dalam kondisi pasar saat ini, terlepas apakah harga tersebut dapat diobservasi secara langsung atau diestimasi menggunakan teknik penilaian lain. Harga yang digunakan tidak perlu disesuaikan dengan biaya transaksi, karena biaya transaksi dicatat sesuai PSAK yang berlaku.
Pengukuran nilai wajar aset nonkeuangan memperhitungkan kemampuan pelaku pasar untuk menghasilkan manfaat ekonomik dari aset tersebut dengan mempergunakan aset dalam penggunaan tertinggi dan terbaiknya (highest best and use), atau menjualnya kepada pelaku pasar lain yang akan menggunakan aset tersebut dalam penggunaan tertinggi dan terbaiknya. Dalam menentukan highest best and use suatu aset nonkeuangan, entitas mempertimbangkan:
- penggunaan secara fisik dimungkinkan
- penggunaan secara hukum diizinkan
- penggunaan layak secara keuangan
Ketika harga kuotasian (quoted price) untuk pengalihan suatu liabilities atau instrumen ekuitas milik entitas sendiri yang identik atau serupa tidak tersedia dan liabilitas atau instrumen ekuitas milik entitas sendiri yang identik dimiliki oleh pihak lain sebagai aset, entitas mengukur nilai wajar liabilitas atau instrumen ekuitas dari perspektif pelaku pasar yang memiliki liabilities atau instrumen ekuitas milik entitas sendiri yang identik sebagai aset pada tanggal pengukuran. Pengukuran nilai wajar dari perspektif pelaku pasar ditentukan melalui:
- harga kuotasian di pasar aktif
- input lain yang yang dapat diobservasi seperti harga di pasar yang tidak aktif
- teknik penilaian lain, seperti pendekatan penghasilan, atau pendekatan pasar.
Entitas menggunakan teknik penilaian yang sesuai dalam keadaan dan dimana data yang memadai tersedia untuk mengukur nilai wajar, memaksimalkan penggunaan input yang dapat diobservasi yang relevan dan meminimalkan penggunaan input yang tidak dapat diobservasi. Teknik penilaian yang dapat digunakan secara luas:
- Pendekatan pasar
Pendekatan pasar (market approach) merupakan teknik penilaian yang menggunakan harga dan informasi relevan lain yang dihasilkan oleh transaksi pasar yang melibatkan aset, liabilitas atau kelompok aset dan liabilitas yang identik atau sebanding, seperti bisnis. - Pendekatan biaya
Pendekatan biaya mencerminkan jumlah yang akan dibutuhkan saat ini untuk menggantikan kapasitas manfaat (service capacity) aset (sering disebut dengan biaya pengganti saat ini) - Pendekatan penghasilan
Pendekatan penghasilan mengkonversikan jumlah masa depan (misalnya arus kas atau penghasilan dan beban) ke suatu jumlah tunggal saat ini (yaitu didiskontokan).
-
-
-
Berdasarkan FASB Concept Statement No. 7 dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa fair value adalah harga yang akan diterima dalam penjualan asaet atau pembayaran untuk mentransfer kewajiban dalam transaksi yang tertata antara partisipan di pasar dan tanggal pengukuran (Perdana, 2010). FASB, dalam statement yang terbaru 157, pengukuran fair value sebagai exit value, dengan tanda setuju dari IASB dengan beberapa reservasi minor: ΓÇ£fair value adalah harga yang akan diterima dengan menjual satu aset atau yang akan dibayar umtuk memindahkan suatu kewajiban dalam transaksi antara peserta-peserta pasar di tanggal pengukuranΓÇ¥ (Penman, 2007;33). Menurut Suwardjono (2008;475) fair value adalah jumlah rupiah yang disepakati untuk suatu objek dalam suatu transaksi antara pihak-pihak yang berkehendak bebas tanpa tekanan atau keterpaksaan. Dengan demikian, fair value bukanlah nilai yang akan diterima atau dibayarkan entitas dalam suatu transaksi yang dipaksakan, atau penjualan akibat kesulitan keuangan, likuidasi yang dipaksakan, atau penjualan akibat kesulitan keuangan. Nilai wajar adalah nilai yang wajar mencerminkan kualitas kredit suatu instrumen.
Yang dimaksud nilai wajar (fair value) adalah (1) jumlah aset yang dapat dipertukarkan, atau kewajiban diselesaikan, antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk transaksi lengan panjang; (2) estimasi nilai seluruh aset dan kewajiban dari perusahaan yang diakuisisi yang digunakan untuk mengkonsolidasikan laporan keuangan kedua perusahaan; (3) dalam pasar berjangka, nilai wajar adalah harga ekuilibrium untuk kontrak berjangka. Ini adalah harga spot setelah memperhitungkan bunga majemuk (dan dividen hilang karena investor memiliki kontrak berjangka daripada saham fisik) selama periode waktu tertentu (termwiki, 2011). Menurut PSAK No 16 tahun 2011, nilai wajar adalah jumlah yang dipakai untuk mempertukarkan suatu aset antara pihak-pihak yang berkeinginan dan memiliki pengetahuan memadai dalam suatu transaksi dengan wajar.Yang dimaksud nilai wajar (fair value) adalah (1) jumlah aset yang dapat dipertukarkan, atau kewajiban diselesaikan, antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk transaksi lengan panjang; (2) estimasi nilai seluruh aset dan kewajiban dari perusahaan yang diakuisisi yang digunakan untuk mengkonsolidasikan laporan keuangan kedua perusahaan; (3) dalam pasar berjangka, nilai wajar adalah harga ekuilibrium untuk kontrak berjangka. Ini adalah harga spot setelah memperhitungkan bunga majemuk (dan dividen hilang karena investor memiliki kontrak berjangka daripada saham fisik) selama periode waktu tertentu (termwiki, 2011). Menurut PSAK No 16 tahun 2011, nilai wajar adalah jumlah yang dipakai untuk mempertukarkan suatu aset antara pihak-pihak yang berkeinginan dan memiliki pengetahuan memadai dalam suatu transaksi dengan wajar.
Berdasarkan ED PSAK No. 68 tahun 2013, Nilai wajar adalah pengukuran berbasis pasar, bukan pengukuran spesifik atas suatu entitas. Untuk beberapa aset dan liabilitas, transaksi pasar atau informasi pasar yang dapat diobservasi dapat tersedia. Untuk aset dan liabilitas lain, hal tersebut mungkin tidak tersedia. Akan tetapi, tujuan pengukuran nilai wajar dalam kedua kasus tersebut adalah sama ΓÇô untuk mengestimasi harga dimana suatu transaksi teratur (orderly transaction) untuk menjual aset atau mengalihkan liabilitas akan terjadi antara pelaku pasar (market participants) pada tanggal pengukuran dalam kondisi pasar saat ini (yaitu harga keluaran (exit price) pada tanggal pengukuran dari perspektif pelaku pasar yang memiliki aset atau liabilitas).
Metode Pengukuran Nilai Wajar (Fair Value) Berdasarkan ED PSAK No. 68 tahun 2013 tentang Pengukuran Nilai Wajar, teknik penilaian nilai wajar yaitu: 1. Pendekatan Pasar (market approach) Pendekatan pasar (market approach) menggunakan harga dan informasi relevan lain yang dihasilkan oleh transaksi pasar yang melibatkan aset, liabilitas, atau kelompok aset dan liabilitas yang identik atau sebanding (yaitu serupa), seperti bisnis 2. Pendekatan Biaya (cost approach) Pendekatan biaya (cost approach) mencerminkan jumlah yang dibutuhkan saat ini untuk menggantikan kapasitas manfaat (service capacity) aset (sering disebut sebagai biaya pengganti saat ini). 3. Pendekatan Penghasilan (income approach) Pendekatan penghasilan (income approach) mengkonversi jumlah masa depan (contohnya arus kas atau penghasilan dan beban) ke suatu jumlah tunggal saat ini (yang didiskontokan). Ketika pendekatan penghasilan digunakan, pengukuran nilai wajar mencerminkan harapan pasar saat ini mengenai jumlah masa depan tersebut.
-
-
-
KONSERVATISME AKUNTANSIPendahuluanDalam pelaporan keuangan yang menjadi salah satu fokus utama adalah informasi laba yang menyaediakan informasi mengenai kinerja keuangan suatu perusahaan selama periode tertentu. Investor dan kreditor sebagai pengguna laporan keuangan dapat menggunakan informasi laba dan komponennya untuk membantu mereka dalam:
- Mengevaluasi kinerja perusahaan.
- Mengestimasi daya melaba dalam jangka panjang.
- Memprediksi laba di masa yang akan datang.
- Menaksir risiko investasi atau pinjaman kepeda perusahaan.
Untuk mewujudkan manfaat tsb, maka diperlukan prinsip-prinsip akuntansi yang akan menghasilkan angka-angka yang relevan dan reliable (Juanda, 2007). Salah satu prinsip yang dianut dalam proses pelaporan keuangan adalah prinsip konservatisme. Konservatisme merupakan reaksi yang berhati-hati atas ketidakpastian yang ada agar ketidakpastian dan risiko yang berkaitan dalam situasi bisnis dapat dipertimbangkan dengan cukup memadai. Ketidakpastian dan risiko tsb harus dicerminkan dalam laporan keuangan agar nilai prediksi dan kenetralannya dapat diperbaiki. Pelaporan yang didasari kehati-hatian akan memberi manfaat yang terbaik untuk semua pemakai laporan keuangan (Almilia, 2004).Definisi Konservatisme AkuntansiWatts (2003) mendefinisikan konservatisme sebagai prinsip kehati-hatian dalam pelaporan keuangan dimana perusahaan tidak terburu-buru dalam mengakui dan mengukur aktiva dan laba serta segera mengakui kerugian dan hutang yang mempunyai kemungkinan yang terjadi. Penerapan prinsip ini mengakibatkan pilihan metode akuntansi ditujukan pada metode yang melaporkan laba atau aktiva yang lebih rendah serta melaporkan hutang lebih tinggi. Dengan demikian, pemberi pinjaman akan menenrima perlindungan atas risiko menurun (downside risk) dari neraca yang menyajikan aset bersih dan laporan keuangan yang melaporkan berita buruk secara tepat waktu (Haniati dan Fitriany, 2010). GIvoly dan Hayn (2000) mendefinisikan konservatisme sebagai pengakuan awal untuk biaya dan rugi serta menunda pengakuan untuk pendapatan dan keuntungan.Definisi resmi dari konservatisme terdapat dalam Glosarium Pernyataan Konsep No.2 FASB (Financial Accounting Statement Board) yang mengartikan konservatisme sebagai reaksi yang hati-hati (prudent reaction) dalam menghadapi ketidakpastian yang melekat pada perusahaan untuk mencoba memastikan bahwa ketidakpastian dan risiko dalam lingkungan bisnis yang sudah cukup dipertimbangkan. Juanda (2007) menyatakan bahwa konservatisme merupakan prinsip akuntansi yang jika diterapkan akan menghasilkan angka-angka laba dan aset cenderung rendah, serta angka-angka biya dan hutang cenderung tinggi. Kecenderungan seperti itu terjadi karena konservatisme menganut prinsip memperlambat pengakuan pendapatan serta mempercepat pengakuan biaya. Akibatnya, laba yang dilaporkan cenderung terlalu rendah (understatement).Berdasarkan definisi tsb maka praktek konservatisme akuntansi sering memperlambat atau menunda pengakuan pendapatan yang mungkin terjadi, tetapi mempercepat pengakuan biaya yang mungkin terjadi. Sementara itu dalam penilaian aset dan hutang, aset dinilai pada nilai paling rendah dan sebaliknya, hutang dinilai pada nilai yang paling tinggi.Konservatisme Akuntansi dalam PSAKPSAK sebagai standar pencatatan akuntansi di Indonesia menjadi pemicu timbulnya penerapan prinsip konservatisme. Pengakuan prinsip konservatisme di dalam PSAK tercermin dengan terdapatnya berbagai pilihan metode pencatatan di dalam sebuah kondisi yang sama. Hal tsb akan mengakibatkan angka-angka yang berbeda dalam laporan keuangan yang pada akhirnya akan menyebabkan laba yang cenderung konservatif. Beberapa pilihan metode pencatatan di dalam PSAK yang dapat menimbulkan laporan keuangan konservatif diantaranya adalah:- PSAK No. 14 tentang persediaan yang menyatakan bahwa perusahaan dapat mencatat biaya persediaan dengan menggunakan salah satu metode yaitu FIFO (first in first out) atau masuk pertama keluar pertama dan metode rata-rata tertimbang.
- PSAK No. 16 tentang aktiva tetap dan aktiva lain-lain yang mengatur estimasi masa manfaat suatu aktiva tetap. Estimasi masa manfaat suatu aktiva didasarkan pada pertimbangan manajemen yang berasal dari pengalaman perusahaan saat menggunakan aktiva yang serupa. Estimasi masa manfaat tsbharuslah diteliti kembali secara periodik dan jika manajemen menemukan bahwa masa manfaat suatu aktiva berbeda dari estimasi sebelumnya maka harus dilakukan penyesuaian atas beban penyusutan saat ini dan di masa yang akan datang. Standar ini memungkinkan perusahaan untuk mengubah masa manfaat aktiva yang digunakan dan dapat mendorong timbulnya laba yang konservatif.
- PSAK No. 19 tentang aset tidak berwujud yang berkaitan dengan metode amortisasi. Dijelaskan bahwa terdapat beberapa metode amortisasi untuk mengalokasikan jumlah penyusutan suatu aset atas dasar yang sistematis sepanjang masa manfaatnya.
- PSAK No. 20 tentang biaya riset dan pengembangan yang menyebutkan bahwa alokasi biaya riset dan pengembangan ditentukan dengan melihat hubungan antara biaya dan manfaat ekonomis yang diharapkan perusahaanakan diperoleh dari kegiatan riset dan pengembangan. Apabila besar kemungkinan biaya tsb akan meningkatkan manfaat ekonomis di masa yang akan datang dan biaya tsb dapat diukur secara handal, maka biaya-biaya tsb memenuhi syarat untuk diakui sebagai aktiva.
Dengan adanya pilihan metode tsb akan berpengaruh terhadap angka-angka yang disajikan dalam laporan keuangan. Sehingga dapat dikatakan bahwa secara tidak langsung konsep konservatisme ini akan mempengaruhi hasil dari laporan keuangan tsb. Penerapan konsep ini juga akan menghasilkan laba yang berfluktuatif akan mengurangi daya prediksi laba untuk memprediksi aliran kas perusahaan pada masa yang akan datang (Sari dan Adhariani, 2009).Konservatisme Akuntansi dalam IFRS
Konservatisme akuntansi tidak menjadi prinsip yang diatur dalam standar akuntansi Internasional (IFRS). Hellman (2007) menyatakan bahwa jika dibandingkan dengan akuntansi konvensional, IFRS (International Financial Reporting Standards) berfokus pada pencatatan yang relevanang semkin sehingga menyebabkan ketergantungan yang semakin tinggi terhadap estimasi dan berbagai judgement. Dalam hal ini, kebijakan yang ditetapkan IASB (International Accounting Standard Board) tsb menyebabkan semakin berkurangnya penekanan atas penerapan akuntansi konservatif secara konsisten dalam pelaporan keuangan berdasarkan IFRS.Khairina (2009) menyebutkan ada beberapa poin dalam IFRS mengenai semakin berkurangnya penekanan atas penggunaan akuntansi konservatif dalam IAS (International Accounting Standard) antara lain:- IAS 11 (Zero Profit Recognition for Fixed-Price Contracts), versi terbaru dari IAS mulai berlaku sejak tahun 1995. Standar ini mengatur mengenai penggunaan POC (Percentage of Completion) untuk pengakuan pendapatan dan biaya dalam kontrak konstruksi sebagai pengganti dari metode CC (Complete Contract). Hellman (2007) menyatakan bahwa metode CC dinilai lebih konservatif dibandingkan metode POC karena dalam metode CC dinilai lebih konservatif dibandingkan metode POC karena dalam POC karena dalam metode CC nilai keuntungan yang dapat diakui perusahaan akan mengalami understatement selama proses kontrak dan akan mengalami overstatement setelah kontrak selesai. Hal ini disebabkan perusahaan hanya boleh mengakui pendapatan dari kontrak konstruksi tsb setelah proses konstruksi selesai. Sementara dalam metode POC perusahaan dapat mengakui pendapatan berdasarkan estimasi persentase penyelesaian kontrak pada tanggal neraca.
- IAS 12 (Deferred Tax Asset), mengatur mengenai pengakuan deferred tax asset pad neraca jika meungkin (probable) terdapat future taxable profit. Sebelum dikeluarkannya IAS 12 tsb, deferred tax asset tidak diakui di dalam neraca karena terdapat ketidakjelasan atas perolehan taxable profit di masa yang akan datang. Pemebrlakuan efektif IAS 12 tsb mempersentasikan perlakuan akuntansi yang kurang konservatif (Hellman, 2007).
- IAS 16 (Property, Plant, and Equipment), mengatur bahwa dalam pengukuran nilai aktiva tetap, perusahaan dapat memilih penggunaan metode biaya atau revaluasi. Metode biaya menggunakan metode yang telah lama digunakan dalam akuntansi konvensional, sementara metode revaluasi yang mensyaratkan perusahaan untuk memperbarui aktiva secara periodik atas nilai pasarnya dinyatakan sebagai metode kurang konservatif. Dalam metode akuntansi ini, perusahaan dapat emngakui peningkatan nilai aktiva sebagai penambahan atas modal atau peningkatan nilai pendapatan jika penurunan nilai pada periode sebelumya telah diakui sebagai biaya
- IAS 38 (Capitalism of Development Cost), pertama kali dikeluarkan pada tahun 1998, kemudian diikuti dengan revisinya yang berlaku sejak tanggal 31 maret 2004. Berdasarkan IAS 38, aktiva tidak berwujud yang berasal dari aktivitas pengembangan diakui sebagai aktiva jika telah memenuhi beberapa syarat tertentu. Sebelum diberlakukannya standar ini, pembebanan langsung menjadi acuan utama dalam perlakuan akuntansi yang kurang konservatif.
Implikasi Konservatisme
Praktek konservatisme memberikan dampak terhadap nilai earning dan aktiva bersih yakni akuntansi konservatif akan menghasilkan nilai laba dan aktiva bersih perusahaan yang lebih rendah. Hal tersebut timbul sebagai akibat dari karakteristik konservatisme yang merefleksikan bad news lebih cepat dibandingkan good news .
Berbagai studi telah dilakukan oleh para peneliti akuntansi dalam menganalisis setiap implikasi dari praktek konservatisme. Penelitian mengenai konservatisme diawali oleh Watts dan Zimmerman (1986), Watts (1993) dan Basu (1995). Ketiga penelitian tersebut menyatakan bahwa bias konservatisme timbul akibat adanya pengaruh pengontrakan dalam akuntansi dan pelaporan keuangan perusahaan.
Basu (1997) kemudian mengembangkan penelitian yang telah dilakukannya pada tahun 1995 untuk menganalisis dampak dari konservatisme. Ia menguji argumentasinya bahwa konservatisme menghasilkan nilai earning yang lebih cepat merefkleksikan bad news daripada good news . Hal tersebut menyiratkan bahwa terdapat perbedaan sistematis antara periode pengakuan bad news dan good news di dalam nilai earning yang berpengaruh terhadap persistensi nilai earning tersebut. Dalam penelitiannya ini, Basu mengembangkan metode pengukuran return-earning fixed coefficient model untuk menguji argumentasinya.
Lebih jauh lagi, Basu memperlihatkan konservatisme sebagai sebuah mekanisme pencatatan akuntansi yang menyebabkan terjadinya asymmetric timeliness of earning yakni nilai earning lebih sensitive serta lebih cepat merefleksikan bad news daripada good news yang dialami perusahaan. Karakteristik konservatisme tersebut menyebabkan nilai laporan earning konservatif cenderung lebih sensitif terhadap informasi publik yang buruk ( bad news) dibandingkan sebaliknya ( good news) . Dalam hal ini, nilai earning diprediksi akan memiliki hubungan yang lebih kuat dengan bad news dibandingkan dengan good news .
Untuk menganalisis hubungan antara earning dengan bad news dan good news , Basu menggunakan return saham perusahaan untuk menangkap pengaruh kedua jenis berita tersebut terhadap nilai earning yang dilaporkan perusahaan. Dalam hal ini, Positive return menjadi proksi dari good news dan negative return menjadi proksi dari bad news . Variabel return saham perusahaan yang digunakan oleh Basu untuk mencerminkan good news dan bad news diperkuat oleh riset sebelumnya yang dilakukan oleh Ball dan Brown (1968) yang berargumen bahwa harga saham mencerminkan informasi mengenai perusahaan yang diperoleh investor dari berbagai sumber selain laporan keuangan, pergerakan harga saham mendahului nilai reported earning .
Kenaikan harga saham perusahaan menggambarkan sentimen investor terhadap kondisi perusahaan. Dengan berbagai informasi yang diterima, para investor berekspektasi kondisi perusahaan akan semakin profitable dan menjanjikan keuntungan yang lebih besar bagi mereka. Dalam hal ini, informasi
yang diterima oleh para investor tersebut merupakan good news yang tercermin dalam kenaikan harga saham dan return saham yang positif. Sebagai contoh, para investor memperoleh informasi dari luar perusahaan bahwa perusahaan sedang menanamkan investasinya pada sebuah proyek yang memiliki nilai NPV yang positif. Proyek tersebut menjanjikan keuntungan yang cukup besar bagi perusahaan di masa yang akan datang. Hal ini tentunya merupakan kabar baik ( good news) bagi para investor dan membentuk sentimen positif investor terhadap perusahaan yang tercermin melalui kenaikan harga saham perusahaan. Namun, keuntungan atas proyek dengan NPV yang positif tersebut belum terealisasi sehingga, dengan diterapkannya prinsip konservatisme oleh perusahaan maka good news tersebut belum tercermin pada nilai reported earning .
Sebaliknya, ketika investor menerima berita yang menginformasikan bahwa perusahaan sedang mengalami kondisi yang buruk dan akan berdampak pada menurunnya keuntungan perusahaan, hal tersebut akan segera tercermin pada menurunnya harga dan return saham perusahaan yang negatif. Sementara, dengan diterapkannya prinsip konservatisme oleh perusahaan, bad news tersebut juga akan segera tercermin dengan menurunnya nilai reported earning . Sebagai contoh, ketika terjadi kenaikan mata uang dollar, perusahaan yang memiliki hutang luar negeri dalam bentuk dollar harus menanggung kerugian atas kenaikan kurs tersebut. M eskipun belum terealisasi, kerugian tersebut akan segera tercermin pada laporan keuangan konservatif dan akan menyebabkan sentimen negatif para investor di bursa saham serta mendorong terjadinya penurunan harga dan return saham perusahaan.
Dari penjelasan di atas, terdapat dugaan bahwa penerapan konservatisme dalam pelaporan keuangan perusahaan menyebabkan nilai earning lebih sensitive serta lebih cepat menggambarkan bad news ( negative return) dibandingkan good news (positive return) . Hasil dari pengujian hipotesis tersebut akan menunjukkan earning lebih sensitif dan memiliki hubungan yang lebih kuat dengan bad news dibandingkan good news jika nilai ╬▓ untuk sampel dengan bad news lebih tinggi dibandingkan sampel good news .
Penelitian mengenai konservatisme juga dikembangkan oleh para ahli lainnya, di antaranya Givoly dan Hayn (2000) yang mendefinikan konservatisme sebagai pemilihan metode akuntansi yang menghasilkan nilai earning terendah dengan memperlambat pengakuan keuntungan, mempercepat pengakuan biaya serta menggunakan penilaian aktiva terendah dan biaya terbesar. Dalam penelitiannya, mereka menggunakan pengukuran konservatisme berbasis akrual.
Pengukuran konservatisme lainnya dikembangkan oleh Beaver dan Ryan (2000), mereka menggunakan model pengukuran perbandingan nilai buku dan nilai pasar dari aktiva bersih perusahaan. Penelitian ini menguji argumentasi bahwa konservatisme menyebabkan nilai buku dari aktiva bersih perusahaan akan lebih rendah dari nilai pasarnya secara konsisten.
-
-
-
Silahkan Diuplod Tugas Akhir Ditunggu Sampai Hari Senin Tgl 20/1/2025 Jam 18.00 WIB
-