KONFLIK PLN & PLTD DI PULAU NIAS

KONFLIK PLN & PLTD DI PULAU NIAS

oleh Dihan Topan Mahisa -
Jumlah balasan: 0

1. Latar Belakang Masalah Penyebab Terjadinya Konflik

Konflik bermula ketika perusahaan penyedia jasa sewa PLTD asal Amerika Serikat mematikan 2 PLTD miliknya yang memasok listrik hingga 20 MW sehingga Pulau Nias mengalami defisit hingga 74% dari beban puncak sebesar 24 MW, sehingga terjadilah krisis listrik. APR mengambil langkah tersebut karena merasa dirugikan oleh PLN yang belum membayar tunggakan hingga sebesar Rp 80-90 miliar untuk penyewaan PLTD berkapasitas 75 MW di Tanjung Morawa dan Kualanamu, Sumatera Utara (Sumut).

 

2. Penyelesaian Konflik

Untuk penyelesaian masalah tersebut, PLN menawarkan pembayaran sebesar 50% terlebih dahulu dari total tagihan itu. Sisa 50% tagihan akan diperiksa dulu oleh BPKP, dan pemeriksaan akan selesai dalam kurun waktu 1 bulan. Dari hasil pemeriksaan BPKP, dapat dihitung berapa jumlah tagihan yang sebenarnya harus ditanggung oleh PLN. Tawaran tersebut diterima, dan akhirnya APR pun berjanji segera mengoperasikan kembali mesin PLTD di Moawo 10 MW dan Idanoi 10 MW.

 

3. Opsi yang Diberikan dalam Penyelesaian Konflik

Menurut informasi yang diperoleh dari Direktur Bisnis PT PLN Regional Sumatera (Amir Rosidin) bahwa pemilik PLTD lama sudah bersedia menyalakan kembali mesinnya karena PLN berjanji akan membayar 50% tagihannya terlebih dahulu atau sebesar Rp 45 miliar. Kemudian opsi tersebut diterima. PLN akan menggunakan kedua PLTD milik APR hingga semua genset dan mesin PLTD 12 MW yang didatangkan dari Langsa, Aceh, bisa beroperasi seluruhnya.

 

4. Pihak-Pihak yang perlu diajak untuk menyelesaikan konflik ialah : Pihak PLN, penyedia jasa sewa PLTD milik Amerika Serikat (pihak APR).

 

5. Rekomendasi dari Kedua Belah Pihak

PLTD akan digunakan oleh APR sampai genset dan PLTD dari Langsa siap. Total daya listrik dari genset-genset yang dikirim PLN ke Nias mencapai 10 MW. Sekarang total kapasitas listrik terpasang di Nias sudah sekitar 14 MW. Dengan total beban puncak (peak) sebesar 24 MW, maka Pulau Nias kini masih defisit pasokan listrik sebesar kurang lebih 10 MW atau 40%. Defisit ini sudah menurun signifikan, awalnya defisit mencapai 20 MW atau 74%.