Evi Komala (1912110247)

Evi Komala (1912110247)

oleh Evi Komala -
Jumlah balasan: 0

Terkait konflik yang terjadi di Kepulauan Natuna, Indonesia dapat memainkan peran geopolitiknya di kawasan,  pertama tercatat bahwa negara-negara yang berkonflik dengan China dalam Lingkup Asia Tenggara atau dengan negara-negara ASEAN di wilayah LCS adalah China-Vietnam sejak 1974, China-Filipina, China-Malaysia sejak 1979, China-Brunei Darusalam dan dari lingkungan eksternal China-Amerika dan China-Jepang. Terdapatnya persinggungan China yang mengumumkan masalah kasus LCS dengan perundingan bilateral sedangkan ASEAN menginginkan perundingan secara multilateral yang telah memberikan jalan melalui Code of Conduct dengan China sejak tahun 2002. Dalam hal ini Indonesia memiliki power penggerak, jika China menarik persengketaan dengan Indonesia menjadi pihak yang bersengketa maka konsekuensi atau ada kemungkinan ASEAN bersatu melawan China. Strategi ini dapat berupa penyatuan kesepahaman untuk membentuk aliansi negara-negara berdasarkan konsensus “musuh bersama”. Dengan demikian, China terkepung dalam derajat konflik yang sama melibatkan negara terkait sengketa, terlebih Indonesia merupakan negara terbesar diantara negara-negara ASEAN.

Kedua, sebagai negara yang telah terlibat konflik, serta negara yang tidak bisa hanya berpangku tangan berada di pusaran LCS secara garis besar, posisi Indonesia menjadi strategis ketika berhadapan dengan China, dalam politik internasional kontemporer determinan pengaruh lingkungan eksternal sangat berpengaruh, misalkan kedekatan dengan AS serta Jepang yang merupakan “natural alliance” sebagai negara demokrasi dengan Indonesia sebagaimana terdapatnya rivalitas AS dengan China di kawasan Asia Tenggara, Indonesia dapat mengambil kesempatan kedekatan tersebut untuk berhadapan dengan China. Hal lainnya adalah penolakan AS terhadap sikap netral Indonesia, dalam situasi tersebut bahwa AS menginginkan sikap politik Indonesia “berpihak atau berlawanan”. Dengan pemanfaatan posisi tersebut, China akan dapat semakin tersudut.

Kedua hal tersebut kemudian diperkuat oleh Samuel Huntington yang mengatakan bahwa negara yang dapat menyeimbangkan kekuatan dunia di kawasan hanyalah Indonesia dan Vietnam. Kemudian menjadikan kedua negara ini bersama India dan Jepang dapat memainkan peran penting dalam keseimbangan regional.

Di sisi lain tidak menutup kemungkinan bahwa pihak China akan melunak untuk merespon balik, China telah membuat skenario alternatif apabila konflik akan berlanjut lebih luas atau perang. China telah membangun pelabuhan laut di Kolombo dan Hambautota Srilanka. Saat ini China mengembangkan sambungan rel di Provinsi Yunnan ke Chittagong, membangun jalan raya penghubung China dan Pakistan, serta membangun pelabuhan laut dalam di Pulau Sonadia, Myanmar. Dalam beberapa dimensi lainnya, China juga telah mengantisipasi konflik-konflik kawasan Asia Tenggara. Jalur-jalur yang diambil China yaitu strategi melalui jalur perdagangan kerjasama seperti membentuk seperti ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) sejak tahun 2010. Hal-hal tersebut adalah sebagian contoh indikasi bahwa China telah membuat strategi alternatif jika terjadi konflik berkepanjangan.

Jalur- jalur ini dibuat China sebagai “intrik” di balik mengambil jalur damai dalam perjanjian perdagangan bebas. Sebagai prediksi penulis (bisa kurang tepat) misalkan jika Indonesia mengajak negara-negara ASEAN atau negara-negara ASEAN dalam taraf tertentu beraliansi untuk berkonfrontasi dengan China, tidak menutup kemungkinan bahwa China akan dengan mudahnya menarik investasi atau dalam kata lain meskipun dalam kategori Balance of Power beberapa Aliansi negara-negara ASEAN dengan AS lebih kuat daripada China. China dapat memainkan strategi bermain investasi dan penekanan terhadap perputaran dolar dari beberapa surat obligasi yang dimiliki China. Jika benar demikian, misalkan China menjual dalam bentuk  uang Yuan (yang mana telah menjadi SDR resmi oleh IMF) maka dengan demikian dollar tertekan dan China dapat mengontrol segala bentuk perputaran uang internasional negara-negara yang berkonfrontasi dengan China juga tidak menutup kemungkinan akan mendapat dukungan dari Rusia.