Perencanaan produksi agregat adalah rencana jangka pendek hingga menengah yang menghitung berapa besar biaya produksi yang akan dikeluarkan oleh perusahaan, biasanya antara 3 hingga 18 bulan ke depan.
Para manajer operasi berusaha menentukan jalan terbaik untuk memenuhi permintaan yang diprediksi dengan menyesuaikan nilai produksi, tingkat tenaga kerja, tingkat persediaan, pekerjaan lembur, tingkat subkontrak, dan variabel lain yang dapat dikendalikan.
Pada umumnya, tujuan perencanaan agregat adalah memperkecil biaya pada periode perencanaan. Biaya tersebut sudah termasuk biaya produksi regular, lembur atau sub kontrak, juga biaya inventory serta biaya penambahan dan pengurangan tenaga kerja.
Bagaimanapun, terdapat permasalahan stategis lain yang mungkin lebih penting daripada biaya rendah. Strategi ini mungkin untuk mengurangi permasalahan tingkat ketenagakerjaan, menekan tingkat persediaan, atau memenuhi tingkat peayanan yang lebih tinggi.
Strategi rencana produksi agregat, yaitu :
1. Strategi produksi konstan
Dalam strategi ini tenaga kerja yang digunakan di lantai produksi adalah konstan, yang menyebabkan produksi hariannya juga menjadi konstan.
2. Strategi produksi sesuai demand
Dalam strategi ini tenga kerja yang digunakan disesuaikan dengan banyaknya permintaan pada periode tersebut. Pada praktenya strategi ini sulit untuk diterapkan.
3. Strategi campuran antara produksi konstan dan produksi sesuai demand
Dalam strategi ini, kita bisa menerapkan strategi produksi konstan pada 6 periode pertama dan 6 bulan kemudian dengan strategi produksi sesuai demand.
4. Metode transportasi
Strategi ini menghasilkan rencana optimal untuk mengurangi biaya produksi. Metode ini juga fleksibel karena bisa menspesifikasikan produk regular dan lembur pada setiap periode waktu, jumlah unit yang disubkontrakkan, shift tambahan, dan persediaan yang terbawa dari periode ke periode berikutnya.