TARGET COSTING
 
Pengertian Target Costing
Pengertian target costing menurut Robert S.Kaplan dan A.A. Atkonsin (1998 : 224 ) adalah sebagai berikut : ‘Target costing is a cost management tool that planner use during product and process design to drive improvement effort aimed at reducing the product’s future manufacturing’ Pengertian target costing menurut Revee (2000 : 385) adalah sebagai berikut :
‘Target costing is defined as a cost management tool for reducing the overall cost of a product over its entire life cycle with the help of production, engineering, R&D, marketing and accounting departements’. Sedangkan pengertian target costingmenurut Gorrison dan Noreen (2000 : 880) adalah sebagai berikut : ‘ Target costing is the process of determining the maximum allowable cost for a new product and then developing a prototype that can be profitably made for that maximum target cost figure.’
Maka dapat disimpulkan bahwa target costing adalah metode perencanaan laba dan manajemen biaya yang difokuskan pada produk dengan mempertimbangkan proses manufaktur sehingga metode target costing ini dapat digunakan oleh perancang sebelum produk dan proses desain dilakukan untuk mencapai tujuan perbaikan usaha pada pengurangan biaya operasional produk di masa depan. Target costing digunakan selama tahap perencanaan dan menuntun dalam pemilihan produk dan proses desain yang akan menghasilkan suatu produk yang dapat diproduksi pada biaya yang diijinkan pada suatu tingkat laba yang dapat diterima serta memberikan perkiraan harga pasar produk, volume penjualan dan tingkat fungsionalitas. Diatas semua itu, target costing merupakan alat yang memperhatikan dan memfasilitasi komunikasi antar anggota dari cross-functional team yang bertanggung jawab pada desain produk. Target costing lebih ke arah customer oriented, semuanya ditentukan oleh konsumen dari harga, kualitas dan fungsi yang dibutuhkan oleh konsumen.
Target costing merupakan perbedaan antara harga jual produk atau jasa yang diperlukan untuk mencapai pangsa pasar tertentu dengan laba per satuan yang diinginkan perusahaan. ( Hansen dan Mowen 2009 : 361 ). Harga penjualan mencerminkan spesifikasi produk atau fungsi yang dinilai oleh pelanggan . Jika target biaya kurang dari apa yang saat ini dapat tercapai, maka manajemen harus menemukan cara untuk melakukan penurunan biaya yang menggerakkan biaya actual ke target biaya. Mengupayakan penurunan biaya adalah tantangan utama dari perhitungan target costing.
Perhitungan target costing merupakan metode pengerjaan terbalik dari harga untuk menentukan biaya. Perhitungan target costing dapat digunakan paling efektif pada tahap desain dan pengembangan siklus hidup produk. Pada tahap tersebut, keunggulan produk dan biayanya masih cukup mudah disesuaikan. Target costing dimulai dengan memperkirakan harga produk yang mencerminkan fungsi dan atribut produk serta kekuatan pesaing pasar. Input pada proses target costing adalah vector harga pasar fungsional produk (market price product functionality vektor) dimana proses perencanaan produk harus sesuai dengan target yang mencerminkan kumpulan dari fungsi produk dimana produk tersebut harus sampai pada konsumen. Disini terdapat dua elemen penting dalam perencanaan produk, yaitu :
1.            Konsumen atau pasar pada umumnya menentukan harga yang akan dibayar untuk produk dan fungsi desainnya.
2.            Untuk memperluas usaha dimana ada pasar untuk produk yang sama tapi dengan fungsi yang berbeda.
Proses Target Costing
Proses target costing dibagi menjadi empat langkah utama, yaitu market driven costing, product-level target costing, component-level target costing dan chained target costing.
Alat Target Costing
Alat utama yang digunakan perancang dalam target costing adalah tear down analysis, value engineering dan reengineering.
Tear Down Analysis
Tear Down Analysis atau reverse engineering adalah proses untuk mengevaluasi produk pesaing dengan mengidentifikasi kesempatan dalam meningkatkan produk dengan cara mengambil bagian per bagian dari produk pesaing untuk mengidentifikasi fungsi dan desain produk serta untuk membuat kesimpulan tentang proses pembuatan produk. Tear Down Analysis menyediakan pandangan pada biaya dari produk dan mengungkapkan keuntungan dan kerugian yang berhubungan dengan pendekatan desain pada produk. Elemen utama dari tear down analysis adalah benchmarking dimana termasuk perbandingan desain produk percobaan dengan desain pesaing.
Value Engineering
Quality function deployment merupakan sarana manajemen yang menyediakan suatu struktur untuk mengidentifikasi kebutuhan konsumen yang merupakan kunci pada proses target costing. Perusahaan menggunakannya untuk mengidentifikasi apa yang konsumen inginkan dari produk sebelum desain produk dibuat. Proses ini kemudian membandingkan apa yang konsumen inginkan dengan bagaimana tujuan tim desain untuk memuaskan kebutuhan mereka. Quality function deployment mendukung proses value engineering yang merupakan elemen penting pada proses target costing.
Value engineering juga dikenal sebagai value analysis yang merupakan sistematika berdasarkan tim. Pendekatan ini untuk mengevaluasi desain produk dalam memenuhi permintaan untuk mengidentifikasi alternatif yang akan meningkatkan nilai produk, didefinisikan sebagai rasio dari fungsi untuk harga. Karena itu, ada 2 cara untuk meningkatkan nilai yaitu, penganggaran fungsional yang tetap dan mengurangi biaya atau penganggaran biaya konstan dan meningkatkan fungsi. Value engineering melihat semua elemen produk termasuk bahan mentah, proses manufakturing, tipe pekerja dan peralatan yang digunakan serta keseimbangan antara pembelian dengan komponen yang dihasilkan. Value engineering mencapai target cost yang diinginkan dengan dua cara :
 
1.            Dengan mengidentifikasi peningkatan desain produk atau bahkan produk baru yang dapat mencapai fungsinya dengan cara yang berbeda, yang mengurangi komponen dan biaya manufaktur dengan tidak mengorbankan fungsinya.
2.            Dengan menghapus fungsi yang dapat meningkatkan biaya dan kekomplekan produk.
Proses value engineering dimulai dengan menspesifikasi fungsi produk secara detil, sehingga aktivitas tersebut disebut functional analysis. Ini merupakan jantung dari pendekatan value engineering dan hasil dari spesifikasi secara detail, biasanya dalam bentuk diagram yang disebut function analysis system techique (fast diagram)yang mespesifikasi fungsiutama produk. Dengan memfokuskan pada fungsi produk, tim desain akan sering membandingkan komponen yang mempunyai fungsi yang sama dengan produk lain. Karena itu meningkatkan kemungkinan menggunakan komponen standar, dimana dapat meningkatkan kualitas dengan biaya yang lebih rendah. Pada saat yang sama, mengembangkan pernyataan yang spesifik pada fungsi produk mengijinkan tim desain untuk membandingkan biaya pada fungsi produk yang dibuat dengan berapa uang yang mau dikeluarkan oleh konsumen untuk membayar tiap fungsi tersebut.
Tim desain kemudian membandingkan bagaimana produk yang ada untuk mencapai fungsinya dan kemudian mengevaluasi cara baru untuk mencapai fungsi tersebut dan biaya untuk setiap alternatifnya. Alternatif itu kemudian diurutkan berdasarkan tingkatan, dan jika mungkin, elemen terbaik akan diambil dari setiap alternatif untuk mengembangkan desain produk yang diinginkan.
Reengineering
Fokus utama pada pendekatan tear down analysis dan value engineering yaitu pada desain produk, sedangkan elemen penting lainnya dalam penjelasan biaya produk adalah proses yang digunakan perusahaan dalam membuat produk. Pada kenyataannya, tim target cost akan mempertimbangkan produk dan proses desain secara bersama-sama selama biaya dan kualitas produk juga bersama-sama dipengaruhi oleh produk dan proses desain.
Reengineering merupakan aktivitas pendesainan kembali suatu rancangan atau keberadaan proses dan itu diarahkan oleh keinginanuntuk memperbaiki biaya produk dan kualitas atribut.
Penentuan Biaya Produksi Dengan Metode Target Costing
Target costing merupakan perbedaan antara harga jual produk atau jasa yang diperlukan untuk mencapai pangsa pasar tertentu dengan laba per satuan yang diinginkan perusahaan menurut Hansen dan Mowen 2009 : 361 ). Apabila target cost yang telah dihitung dibawah harga pokok produk yang sekarang dapat tercapai, maka manajemen harus merencanakan suatu program pengurangan biaya untuk menurunkan biaya yang sekarang dikeluarkan untuk menghasilkan produk ke target cost. Kemajuan yang dicapai dari program pengurangan biaya tersebut diukur dengan membandingkan biaya sesungguhnya dengan target cost. Target costing merupakan sistem akuntansi biaya yang menyediakan informasi bagi manajemen untuk memungkinkan manajemen memantau kemajuan yang dicapai dalam pengurangan biaya produk menuju target cost yang telah ditetapkan.
Dengan menggunakan target costing ini maka dapat diketahui berapa biaya produksi yang diperkenankan, yaitu dengan :
Biaya produksi = harga jual – laba yang diinginkan perusahaan dari harga jual Sebagai contoh, misalkan sebuah perusahaan X mempertimbangkan memproduksi mesin penggali baru. Spesifikasi produk saat ini dan pangsa pasar yang ditarget meminta harga jual mesin penggali baru adalah Rp 25.000.000,-. Laba yang diinginkan oleh perusahaan adalah Rp 5.000.000,- per unit. Target cost dihitung sebagai berikut :
Target cost = Rp 25.000.000,- ΓÇô Rp 5.000.000,-
= Rp 20.000.000,-
Pada saat sekarang ini, biaya produksi sesungguhnya perusahaan adalah Rp23.000.000,-. Dengan demikian pengurangan biaya yang harus dilakukan agar perusahaan dapat mencapai target cost adalah sebesar Rp 3.000.000,- (Rp23.000.000,- – Rp 20.000.000,-). Perusahaan harus mengupayakan pengurangan biaya dengan menganalisis biaya produksi perusahaan dan mengurangi biaya-biaya yang dapat dikurangkan untuk mencapai target cost tersebut. Target costing menyajikan informasi perbandingan biaya produk sesungguhnya dengan target cost secara periodik untuk memungkinkan manajemen memantau kemajuan program pengurangan biaya menuju target cost.
Tujuan Dan Alasan Menggunakan Target Costing
Tujuan metode target costing adalah untuk merancang biaya produk pada tahap perencanaan daripada mencoba mengurangi biaya selama tahap manufaktur. Terdapat dua alasan mengapa target costing sebaiknya digunakan perusahaan didalam situasi pasar yang sangat kompetitif saat ini :
1.            Perusahaan tidak dapat menentukan dan mengendalikan harga jual produknya secara sepihak saja. Bila dibanding dengan tingkat permintaan, tingkat penawaran jauh lebih tinggi sehingga pasar (konsumen) disini memegang peranan yang sangat penting dalam menentukan harga suatu produk. Oleh karena itu perusahaan harus menerapkan metode target costing untuk antisipasi harga pasar tersebut.
2.            Sebagian besar biaya produk ditentukan pada tahap desain. Bila produk sudah didesain dan lalu mulai diproduksi, maka sedikit yang dapat dilakukan untuk melakukan pengurangan biaya secara signifikan. Padahal kesempatan dalam melakukan pengurangan biaya terletak pada saat men-desain produknya.
Perbedaan antara target costing dengan pendekatan untuk pengembangan produk yang lain sangat mendalam. Yaitu, daripada mendesain produk dan kemudian mencari berapa biayanya, lebih baik target costing disusun dulu dan kemudian produk baru didesain, sehingga targetnya dapat diperoleh. (Gorrison dan Noreen, 2000 : 880-881)
 
 
 
 
 
Theory of Constraints: Pemahaman dan Perbedaannya dengan Lean
Teori Kendala atau Theory of Constraints merupakan suatu metode perubahan organisasi yang terfokus pada peningkatan laba. Teori ini adalah suatu filosofi manajemen yang diperkenalkan pertama kali oleh Dr. Elihayu M. Goldratt dalam buku best sellernya yang berjudul “The Goal” pada tahun 1984. Sejak saat itu, TOC terus berevolusi dan berkembang dan saat ini menjadi faktor yang signifikan dalam dunia praktek manajemen.
Konsep penting dari TOC adalah bahwa setiap organisasi harus memiliki paling tidak satu kendala. Sebuah kendala merupakan suatu faktor yang membatasi organisasi dari mendapatkan yang lebih dari apapun yang sedang diperjuangkan, yang biasanya adalah keuntungan. Tujuan ini berfokus pada kendala sebagai hambatan dari suatu proses dalam organisasi manufaktur. Namun, ada juga beberapa kendala non manufaktur, seperti permintaan pasar, atau kemampuan divisi sales untuk menerjemahkan permintaan pasar menjadi suatu order.
5 Tahap Dasar TOC
Teory of Constraints memberikan metode spesifik untuk mengidentifikasi dan menghilangkan kendala-kendala yang ada, yang dikenal dengan the Five Focusing Steps atau 5 Langkah Dasar. Kelima langkah tersebut yaitu:
1.       Mengidentifikasi Sistem Kendala, merupakan bagian dari sistem yang paling lemah, bisa berupa kendala fisik atau kebijakan.
2.      Memutuskan Bagaimana Mengeksploitasi Kendala, yaitu melakukan perbaikan cepat ke seluruh kendala dengan memanfaatkan sumber daya yang ada.
3.      Subordinasi dan Sinkronisasi Kendala, yaitu melakukan tinjauan terhadap semua kegiatan lain dalam proses untuk memastikan bahwa ada keselarasan.
4.      Meningkatkan Kinerja Kendala, berupa pertimbangan mengenai tindakan lanjutan yang harus dilakukan apabila kendala masih tetap ada.
5.      Hilangkan Kendala dan Melakukan Evaluasi Ulang terhadap Prosesnya. Langkah ini berupa pengingat untuk terus memperbaiki kendala yang ada dan kemudian segera beralih pada kendala berikutnya.
Apa Bedanya TOC dengan Lean Thinking?
Lean thinking adalah metode perubahan organisasi yang juga dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan keuntungan. Metode ini berasal dari Jepang, dan telah dicontohkan dengan sangat sempurna oleh Perusahaan Automotif terbesar di Jepang, Toyota, yang dikenal dengan Toyota Production System (TPS).
TOC digunakan pada industri manufaktur Jepang setelah perang dunia II mengarahkan Taichii Ono dari Toyota untuk merintis sistem produksi baru yang sangat berbeda, dan jauh lebih baik dibandingkan dengan produksi massal untuk menjamin jenis manufaktur baru. Lean production adalah metode pengorganisasian produksi dengan hanya menggunakan separuh tenaga, ruang, persediaan, dan waktu pengembangan produk dibandingkan dengan mass production. Metode TOC juga menghasilkan kerusakan yang lebih sedikit dan variasi produk yang lebih besar.
Lean thinking mencapai tujuan pengurangan biaya dengan menggunakan sistem pandangan organisasi yang berpusat pada konsep nilai pelanggan. Upaya lean ditujukan untuk menghilangkan semua tahapan dalam produksi barang atau jasa yang tidak menambah nilai ke pelanggan. Ketika TOC memulai proses dengan mengidentifikasi kendala terlebih dahulu, lean thinking menginstruksikan untuk memikirkan kembali konsep nilai sebagai langkah awal.
 
|
Perbandingan |
Theory of Constraints (TOC) |
Lean Thinking |
|
Tujuan |
Meningkatkan profit dengan meningkatkan throughput |
Meningkatkan profit dengan menambahkan nilai dari pandangan pelanggan |
|
Ukuran |
-throughput -inventaris -biaya operasional |
-biaya -lead time -persentase pertambahan nilai |
|
Fokus Perubahan |
Kendala: link terlemah dalam sistem |
Menghilangkan waste dan pertimbangan penambahan nilai ke seluruh sistem |
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
LIFE CYCLE COSTING (WHOLE LIFE COSTING)
LATAR BELAKANG
Life Cycle Costing (LCC) atau disebut juga Whole Life Costing (WLC) adalah penilaian secara ekonomi suatu asset (sistim, fasilitas, peralatan) dengan memperhatikan biaya/ ongkos memiliki asset tersebut selama umur ekonomisnya (selama asset tersebut dipergunakan) dinyatakan dalam nilai uang.
LCC sangat penting karena biaya yang kelihatan akibat memiliki asset  merupakan bagian  kecil dari biaya/ongkos keseluruhan dari asset tersebut (misalnya harga beli, dalam menentukan barang yang akan dibeli biasanya memilih yang harganya paling murah, padahal dalam jangka panjang mungkin kurang ekonomis). Alasan lain perlunya menghitung LCC karena  adanya hubungan yang kuat antara biaya operasi dan pemeliharaan dengan fungsi dan keandalan suatu asset. Oleh sebab itu penerapan LCC memerlukan pengetahuan secara teknis dari asset tersebut
LCC adalah pendekatan yang terstruktur untuk menentukan unsur unsur ongkos/biaya memiliki asset dihubungkan dengan fungsi dan keandalannya. Hasil analisis LCC dapat dipergunakan oleh manajemen dalam mengambil keputusan (pemilihan alternatif). Penggunaan analisis LCC biasanya dilakukan dalam pengadaan asset, modifikasi asset atau penggantian asset.Kegiatan LCC biasanya dibagi menjadi pengembangan Cost Breakdown Structure (CBS) dan pemilihan metode perkiraan biaya
 
TUJUAN & MANFAAT TRAINING LIFE CYCLE COSTING (WHOLE LIFE COSTING)
Manfaat yang dapat diperoleh dengan mengikuti pelatihan ini antara lain:
1.     Meningkatkan kesadaran akan biaya/ ongkos: factor yang menyebabkan biaya dan sumber yang dibutuhkan
2.     Dapat mengevaluasi alternatif asset yang harus dipilih dengan memperhatikan kinerja selama asset tersebut akan dipakai
3.     Dapat mengevaluasi dan memilih asset dengan memperhatikan kesesuaian kinerja dan layanan yang diinginkan
4.     Dengan penerapan LCC biaya operasi dan pemeliharaan dapat dikurangi
5.     Dapat menjelaskan hubungan antara fungsi dan keandalan dengan biaya/ongkos
6.     Mengerti latar belakang secara teori tentang time value of money dalam proses pengambilan keputusan