Nama: aldo herlian wijaya

Nama: aldo herlian wijaya

oleh aldo herlian wijaya -
Jumlah balasan: 0
1. Sustainability adalah suatu proses pembangunan yang mengoptimalkan manfaat dari sumber daya alam serta sumber daya manusia, dengan menyerasikan sumber alam dengan manusia dalam pembangunan.https://ikbis.ac.id/sustainability/#:~:text=Pembangunan%20Berkelanjutan%20adalah%20suatu%20proses,alam%20dengan%20manusia%20dalam%20pembangunan.


2. Sustainabality accounting merupakan hasil dari proses dan pengukuran terhadap sistem akuntansi untuk menyampaikan bagaimana tata keuangan dikelola dan memperhitungkan keberlanjutan lingkungan.

https://komputerisasi-akuntansi-d4.stekom.ac.id/index.php/informasi/baca/Berkenalan-dengan-Akuntansi-Berkelanjutan-Bidang-Ilmu-Akuntansi-yang-Berfungsi-Menjaga-Masa-Depan-Bumi/611c3b4d6ea88f2a4b922d982b4acd2c17f7d8be#:~:text=Pengembangan%20bidang%20keilmuan%20ini%20dikenal,bisnis%20terhadap%20sosial%20dan%20lingkungan.

3. Dengan adanya sustainability accounting para akuntan juga dapat melihat bagaimana konteks keberlanjutan mempengaruhi aktivitas perusahaan dan apa respon yang diberikan oleh manajemen.

https://accounting.binus.ac.id/2020/04/27/kebutuhan-akan-laporan-akuntansi-keberlanjutan-yang-handal/

4. akuntansi berkelanjutan, kita awali pembicaraan dengan isu keberlanjutan lingkungan. Isu ini berkaitan erat dengan bidang keilmuan akuntansi berkelanjutan. Keberlanjutan lingkungan merupakan salah satu isu hangat yang menjadi sorotan berbagai negara. Isu ini dibicarakan pada Conference of the Parties ke 26 (COP-26) di Glasgow, Skotlandia, pada akhir 2021. Pada gelaran tersebut, Indonesia mendapat sorotan besar. Pasalnya, upaya pencapaian net zero emission pada 2060 dari pemerintah Indonesia dianggap responsif terhadap isu perubahan iklim, selain upaya pencegahan Covid-19. Berdasarkan laporan Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) 2021, Indonesia masih tercatat sebagai salah satu dari tiga negara dengan risiko bencana lingkungan tinggi, terutama banjir dan panas ekstrem. ADB juga mencatat bahwa pada 2050, kenaikan suhu di Indonesia berkisar 0,80 derajat Celcius hingga 1,40 derajat Celcius. Catatan serupa juga dilaporkan oleh NASA Goddard Institute for Space Studies. Berdasarkan catatan tersebut, suhu Bumi mengalami peningkatan signifikan selama tujuh tahun terakhir.

Oleh karena itu, keberlanjutan menjadi topik utama untuk menyelamatkan Bumi. Masalah keberlanjutan sejatinya sudah dicetuskan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 1987. Saat itu, PBB merilis laporan berjudul Our Common Future yang juga disebut the Brundtland Report. Laporan tersebut menyoroti isu perubahan iklim secara global. Untuk mengatasi perubahan iklim, the Brundtland Report menekankan aksi pembangunan berkelanjutan dari pemerintah di segala aspek. Hal ini perlu dilakukan demi menjamin kehidupan generasi mendatang pada masa depan. The Brundtland Report pada dasarnya memang mengutamakan peran pemerintah. Isu keberlanjutan diarahkan untuk menjaga Bumi tempat kita tinggal. Jika Bumi kita tidak sehat, kebutuhan dasar manusia juga akan terdampak. Sementara itu, laporan lain yang disusun oleh analis lingkungan hidup dari BBC, George Harrabin, menemukan bahwa gaya hidup bermobilitas menjadi salah satu pemicu krisis iklim global. Pasalnya, gaya hidup ini memberikan dampak signifikan terhadap krisis energi. Gaya hidup traveling meningkatkan konsumsi bahan bakar sehingga ikut berdampak pada peningkatan suhu Bumi. Tak tanggung, emisi karbon dari sektor transportasi menjadi penyumbang terbesar perubahan iklim. Sebanyak 70 persen emisi karbon disumbang dari moda transportasi udara. Sementara itu, hanya 10 persen emisi karbon berasal dari limbah rumah tangga. Kondisi ini akan semakin memprihatinkan jika tidak segera ditangani. Tanggung jawab isu keberlanjutan Lantas, siapakah yang harus bertanggung jawab dengan isu keberlanjutan? Pertanyaan ini tentu mudah terjawab: semua orang yang tinggal di Bumi bertanggung jawab akan isu tersebut. Perubahan iklim dapat dicegah dengan mengubah gaya hidup menjadi berkelanjutan. Sebagai contoh, tiap individu dapat mengurangi jejak karbon serta mulai beralih menggunakan energi baru dan terbarukan (EBT). Dua upaya tersebut sedang digalakkan di Indonesia.


https://fourminutebooks-com.translate.goog/silent-spring-summary/?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc


5. Dalam bukunya itu, ia memperlihatkan bahwa keberadaan semua makhluk hidup yang rentan, termasuk juga manusia, dapat dengan mudahnya dirusak oleh penggunaan DDT dan racun berbahaya lainnya. 

Ia mengusulkan bahwa pengendalian biologis untuk memerangi serangga harusnya dilakukan dengan terlebih dahulu memahami organisme yang hendak dikendalikan.


Karyanya itu mendapatkan banyak kritikan dari pengolahan industri kimia agrikultur, yang tidak dapat menerima hasil penelitiannya, dan berencana untuk mencekal buku itu dan pengarangnya. Namun, Presiden John F. Kennedy sangat terkesan dengan isi buku Rachel Carson ini, dan memerintakan evaluasi ulang terhadap kebijakan pestisida di Amerika Serikat


https://kumparan.com/potongan-nostalgia/rachel-carson-perjuangan-melindungi-lingkungan-hidup