1. Sustainability menurut Bruntland (1987) : ΓÇ£Sustainable development is development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needsΓÇ¥ atau bila diterjemahkan, pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan saat ini tanpa harus mengorbankan kemampuan generasi masa depan dalam memenuhi kebutuhannya.
(Sumber: Buku Akuntansi Keberlanjutan halaman 45)
2. Akuntansi keberlanjutan (Sustainability Accounting) menurut polejewski (2011) dalam (Kusumawardani et al. ,  2018) adalah sistem akuntansi yang ditujukan untuk menarafkan strategi keberlanjutan. Akuntansi keberlanjutan juga merupakan perkembangan dari akuntansi socialdan lingkungan dimana output pelaporannya berupa kinerja non-keuangan organisasi. Kinerja non-keuangan berkaitan dengan segala dampak langsung terhadap ekonomi, sosial dan lingkungan. 
(Sumber: https://www.studocu.com/id/document/universitas-pelita-bangsa/konstitusi-dalam-kehidupan-berbangsa-dan-bernegara/materi-2-belajar/24410146)
3. Karena dengan menerapkan konsep sustainability accounting, maka manajemen perusahaan telah menghubungkan antara strategi bisnis perusahaan dengan kerangka kerja keberlanjutan (sustainability framework) dan proses ini akan membuat perusahaan tidak hanya berfokus pada dampak finansial saja, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial dan dampak lingkungan dari setiap keputusan bisnis yang dilakukan oleh manajemen perusahaan. 
(Sumber: https://osf.io/preprints/inarxiv/b7juy/download) 
4. Menurut sejarah, sejak hadirnya Revolusi Industri, perkembangan dunia usaha menjadi semakin pesat. Namun, di samping kemajuan dibidang industri dan ekonomi ini juga menimbulkan dampak negatif pada lingkungan. Dimana mulai muncul isu-isu kerusakan lingkungan yang dianggap sebagai akibat dari eksploitasi industri atas sumberdaya alam. Lingkungan akuntansi mulai menerima perhatian selama krisis energi pada 1970- an. Meskipun isu tersebut diberikan pertimbangan untuk sementara waktu, krisis energi berakhir dan 1980-an diantar di era baru kemakmuran ekonomi. Praktek akuntansi keberlanjutan memudar ke latar belakang sebelum standar untuk mengukur dampak ekonomi dikembangkan. Pada 1990-an, suatu kenaikan besar dalam aktivitas perlindungan lingkungan membawa akuntansi lingkungan ke dalam kesadaran konsumen dan bisnis. Secara bertahap beberapa standar akuntansi lingkungan hidup yang dilaksanakan oleh organisasi akuntansi terkemuka seperti Dewan Standar Akuntansi Keuangan dan Standar Akuntansi Komite Eksekutif American Institute of CPA. Terdapat hambatan besar bagi keberhasilan integrasi keberlanjutan ke dalam proses organisasi. Salah satu tantangan utama yang dihadapi di bidang akuntansi keberlanjutan, dimulai dengan kemampuan memahami secara jelas definisi “pembangunan berkelanjutan” (Sustainable development). 
(Sumber:https://repository.unmul.ac.id/bitstream/handle/123456789/28759/MODUL%20AKUNTANSI%20KEBERLANJUTAN%20-%20FIX%20-%202021%20-%20FIBRI%2C%20MIA%2C%20ADEN%2C%20ANISA.pdf?sequence=1&isAllowed=y)
5. Pada tanggal 4 Juni 1963, kurang dari setahun setelah kontroversial klasik soal lingkungan, buku “Silent Spring” diterbitkan, penulis Rachel Carson, bersaksi di depan subkomite Senat pestisida. Rachel Carson, 56 tahun, mengidap penyakit kanker payudara. Dia mengatakan sudah hampir tidak ada kanker di dalam tubuhnya. Dia sudah sehat melalui mastektomi radikal. Pinggulnya begitu banyak dengan patah tulang yang hampir tidak mungkin baginya untuk berjalan ke tempat duduknya di meja kayu sebelum panel Kongres. Untuk menyembunyikan kebotakan akibat kanker, dia mengenakan wig coklat gelap. “Silent Spring” diterbitkan hampir 60 tahun yang lalu pada September. Meskipun ia tidak sengaja untuk melakukannya, Carson telah mempengaruhi gerakan lingkungan semenjak filsuf paling terkenal abad ke-19, Henry David Thoreau, menulis tentang Walden Pond.
“Silent Spring” menyajikan kondisi lingkungan yang terganggu oleh pestisida sintetis, terutama DDT. Setelah pestisida ini masuk biosfer, Carson berpendapat bahwa DDT tidak hanya membunuh hama tetapi juga memutus ekosistem  hama atas rantai makanan yang mengancam burung dan populasi ikan yang akhirnya bisa menyebabkan sakit pada anak-anak.
ΓÇ£Silent Spring,ΓÇ¥ telah terjual lebih dari dua juta kopi, membuat sebuah besar kasus menjadi sebuah gagasan bahwa jika manusia meracuni alam, maka alam pada gilirannya akan meracuni manusia. ΓÇ£Tindakan lalai dan merusak masuk ke dalam siklus besar bumi dan di waktu pengembalian membawa bahaya untuk diri kita sendiri,ΓÇ¥ katanya kepada subkomite tersebut. Kita masih melihat efek pembiaran intervensi manusia melalui mata Carson: ia mempopulerkan ekologi modern.
(Sumber: https://ipehijau.org/bagaimana-silent-spring-rachel-carson-memicu-gerakan-pelestarian-lingkungan-bagian-i/)