1. Penggunaan kerangka kerja ini mesti didukung oleh komitmen yang serius untuk mengentaskan kemiskinan. Upaya ini juga termasuk membangun dialog yang bermanfaat bersama mitra kerja mengenai bagaimana membahas faktor-faktor utama politik dan ekonomi yang justru melestarikan kemiskinan. Mereka yang menggunakan kerangka kerja ini mesti mempunyai kemampuan untuk mengenali jika terdapat penyimpangan di lapangan. Sekalipun elit dan pihak lain mungkin bermaksud menyembunyikan hal ini dan mencari keuntungan untuk diri mereka sendiri. Dalam hal ini dituntut keahlian dan keberanian dalam analisis sosial.
Kerangka kerja ini dimaksudkan menjadi alat serbaguna yang digunakan dalam perencanaan dan manajemen program pembangunan lembaga atau komunitas. Kerangka kerja ini menawarkan cara berpikir tentang livelihood yang bisa membantu menata kompleksitas dan menjelaskan berbagai faktor yang mempengaruhinya. Untuk mendapatkan banyak manfaat dari kerangka kerja ini maka diperlukan sejumlah ide inti yang menjadi dasar kerangka kerja. Hal ini tidak boleh dikorbankan selama proses penyesuaian. Salah satu ide inti adalah bahwa analisis mesti dilakukan dengan cara partisipatif.
2. Inisiatif Pelaporan Global (GRI), Organisasi Internasional untuk Standarisasi (ISO), Prinsip Investasi yang Bertanggung Jawab (PRI),Dewan Standar Akuntansi Berkelanjutan (SASB),Kompak Global PBB.
3. sebuah kerangka untuk mengorganisir sebuah informasi dan data tentang kondisi lingkungan hidup.4. 
1. Fokus pada konsumen
Pasti kamu pernah mendengar istilah ΓÇ£konsumen adalah rajaΓÇ¥.
Hal ini pun berlaku dalam metodologi ini, dan sifatnya sangat penting.
Six Sigma harus berhasil memaksimalkan manfaat bagi konsumen.
Oleh karena itu, bisnis yang berusaha menggunakan metode Six Sigma harus memahami konsumennya dengan baik dan mengetahui apa yang memuaskan mereka.
2. Mengukur value stream dan mengidentifikasi masalah
Melakukan pemetaan proses adalah hal yang wajib dilakukan untuk mengetahui potensi masalah yang mungkin terjadi.
Data harus dikumpulkan untuk mengidetifikasi masalah yang perlu diselesaikan.
Untuk implementasi Six Sigma yang efektif, penting untuk menentukan tujuan yang jelas agar pengumpulan data dapat dilakukan dengan tepat.
3. Eliminasi proses yang tidak perlu
Setelah masalah ditemukan, lakukan perubahan proses untuk mengurangi aktivitas atau proses yang tidak memberikan manfaat bagi produk akhir.
Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan efisiensi proses dengan membuatnya lebih lancar.
4. Partisipasi semua pihak
Agar strategi yang disusun berhasil, libatkanlah para stakeholder agar permasalahan dan penyelesaiannya dapat diidentifikasi secara maksimal.
Six Sigma dapat berdampak besar bagi perusahaan.
Oleh karena itu, semua orang yang terlibat harus benar-benar memahami konsep dan aplikasinya dalam bisnis untuk mengurangi risiko kegagalan dan melancarkan proses.
5. Ekosistem yang fleksibel dan responsif
Dalam konsep Six Sigma, segala bentuk inefisiensi atau pemborosan harus disingkirkan.
Oleh karena itu, perusahaan harus membangun budaya perusahaan yang fleksibel dan responsif khususnya dalam melakukan perubahan dalam prosedur agar lebih efektif.