Lewati ke konten utama
LMS IIB DARMAJAYA
  • Beranda
  • Kalender
  • Kategori
    Ilmu Komputer Ekonomi & Bisnis Desain, Hukum & Pariwasata IBI Kemahasiswaan
  • Panduan Penggunaan
    Panduan Dosen Panduan Mahasiswa SK Rektor Prihal E-learning SK Senat Prihal E-learning
  • Bantuan
  • Jadwal UJIAN
    Jadwal UTS Jadwal UAS
  • Selengkapnya
Anda sedang menggunakan akses tamu
Masuk
LMS IIB DARMAJAYA
Beranda Kalender Kategori Ciutkan Memperluas
Ilmu Komputer Ekonomi & Bisnis Desain, Hukum & Pariwasata IBI Kemahasiswaan
Panduan Penggunaan Ciutkan Memperluas
Panduan Dosen Panduan Mahasiswa SK Rektor Prihal E-learning SK Senat Prihal E-learning
Bantuan Jadwal UJIAN Ciutkan Memperluas
Jadwal UTS Jadwal UAS
Perluas semua Ciutkan semua
  1. Dasbor
  2. Yusminar Wahyuningsih, S.E.,M_01.M
  3. PERTEMUAN MINGGU 2 | SELASA 3 OKTOBER 2023| 14.40-16.10 |7AK-2| 1 | P |PENGEMBANGAN BISNIS
  4. JAVELIN BOARD

JAVELIN BOARD

Syarat penyelesaian

JAVELIN BOARD





Apa itu Javelin Board ?

Javelin Board adalah sebuah tools yang merubah ide kamu menjadi sebuah eksperimen.

Javelin board terbagi menjadi dua ruas. Ruas kiri yang disebut dengan brainstorming, dan ruas kanan disebut dengan excecution. Dalam brainstorming kita dapat menuliskan beberapa hipotesis berbeda yang mungkin terjadi yang nantinya bisa kita test, sedangkan dalam excecution dilakukan eksperimen terhadap hipotesis tadi.

Untuk memulai menggunakan Javelin Board hal yang pertama dilakukan adalah membentuk hipotesis.

Hipotesis berguna untuk memberikan batas kepada ide-ide gila kita agar kita dapat lebih fokus . Hipotesis di pecah menjadi 3 bagian yaitu, customer, problem, dan solution.

Tentukan siapa saja customer yang akan menggunakan product kita, setelah customer ditentukan pindahkan salah satu customer tersebut ke ruas kanan untuk dieksperimen. Setelah itu tentukan masalah-masalah apa saja yang dihadapi, kembali pindahkan salah satu masalah tersebut ke ruas kanan.

Baris solusi di ekspresimen pertama sengaja dibuat abu-abu agar kita tidak langsung memberikan solusi di awal dan fokus terhadap masalah.

Setelah kita menentukan masalah apa saja yang dihadapi oleh customer, maka setelah itu buat list mengenai asumsi-asumsi tentang masalah customer yang dirasa benar.

Selanjutnya adalah menentukan riskiest assumption, riskiest assumption yang dipilih adalah asumsi kita mengenai masalah customer yang paling benar menurut kita.

Setelah membuat riskiest assumption maka saatnya kita menentukan metode kriteria sukses untuk riskiest assumption yang kita buat. biasanya untuk membuktikan asumsi kita benar yaitu dengan cara melakukan wawancara kepada calon customer secara langsung atau bisa juga melalui survey, namun untuk hal ini lebih baik melakukan interview secara langsung agar hasil yang didapat benar-benar valid.

Setelah kita melakukan wawancara maka didapatkan hasil-hasil dari wawancara tersebut, hasil yang didapatkan bisa saja sukses atau benar bisa juga hasilnya tidak benar atau asumsi yang kita punya tidak benar ternyata pada realita nya maka dari itu hasil yang didapatkan dinyatakan pivot. Bila hasil yang didapatkan sudah dinyatakan benar maka kita sudah dapat menentukan apa sih solusi yang sebenarnya dibutuhkan untuk mengatasi masalah customer tersebut. Dan juga bila hasilnya dinyatakan pivot berarti masalah yang kita asumsikan tidak benar-benar dianggap suatu masalah maka dari itu bisa dinyatakan pivot dan kita dapat mengganti asumsi yang sudah diujikan sebelumnya dengan asumsi yang baru.

https://youtu.be/G8Rk0c3axtI


Javelin Board to transform Product Ideas to Experiment

Validasi ide merupakan salah satu tahap krusial yang menentukan. Dari analisis menggunakan Javelin Board, kita dapat mengetahui titik kritis, identifikasi masalah, asumsi, melakukan metode pengujian, dan juga penentuan kriteria sukses. Board ini terbagi menjadi 2 bagian, yaitu bagian kiri atau yang disebut dengan Area Brainstorming. Dan bagian kanan atau yang disebut dengan Area Execute.

Berdasarkan hasil tersebut tentunya didapat pembelajaran yang dapat kita gunakan di eksperimen-eksperimen selanjutnya.

Validasi ide dengan Javelin Experiment Board

Mencari sebuah ide untuk solusi merupakan suatu hal yang gampang-gampang susah untuk didapatkan, tapi bagaimana jadinya apabila ide yang kita cetuskan bisa benar-benar bermanfaat dan berguna bagi masyarakat. Maka dari itu perlu dilalukan sebuah validasi untuk mengetahui ide kita itu valid atau tidak dan masalah yang ingin kita pecahkan benar-benar ada dan dibutuhkan.

Untuk melakukan validasi ada tools yang bernama Javelin Experiment Board yang akan membantu kamu untuk memastikan masalah yang ingin kita berikan solusinya.

Kenapa ide harus di validasi?

Jika kamu membuat sebuah produk tanpa dilakukan validasi terlebih dahulu akan besar kemungkinanya untuk gagal. Karena, produk yang kamu buat hanya berdasarkan kebutuhan kamu bukan kebutuhan/kemauan dari customer.

Apa itu Javelin Experiment Board?

Javelin Board merupakan sebuah tools/framework untuk melakukan validasi ide melalui sebuah eksperimen.

Javelin Experiment Board

Javelin board terbagi menjadi dua bagian. Bagian kiri disebut dengan brainstorming dan bagian kanan disebut dengan bagian execution. Bagian brainstorming fokus kepada pembuatan hipotesis yang kemungkinan akan terjadi, dan bagian execution merupakan bagian untuk melakukan eksperimen terhadap hippotesis yang sudah dibuat. Baris solusi di eksperimen pertama sengaja dibuat abu-abu agar kita fokus terhadap masalah dan tidak langsung memberikan solusi.

Detail dari javelin board dapat dilihat digambar berikut :


Bagaimana cara menggunakanya?

  1. Unduh terlebih dahulu javelin board dan print dengan kertas ukuran A3/A2 sesuai kebutuhan.
  2. Siapkan sticky notes dan spidol

Mari kita mulai Brainstorming :)

  1. Tentukan Customer Segment

Siapa target customer kamu? pekerjaan apa yang sedang mereka lakukan? dalam melakukan pekerjaan customer menghadapi dan membeci pain apa? dalam melakukan pekerjaan customer ingin menikmati gain apa?

2. Tentukan Hipotesa Masalah

Kira-kira customer segment itu punya masalah apa? setiap masalah HANYA HARUS 1 KALIMAT. Pilih satu masalah utama setelah itu baris solusion dipending terlebih dahulu.

Every customer has a problem, every problem has solution. But not every solution has problem, not every problem has customer.

3. Tentukan Riskiet Assumption

Satu-satunya cara untuk mengetest hipotesa adalah membuat asumsi. Asumsi yang harus kamu lakukan disini adalah tentukan apa yang kita percaya benar, agar hipotesa kedua benar. Membuat riskiet assumption harus berdasarkan tiga hal.

ACTION = Tindakan yang pernah dia lakukan

BEHAVIOR = Kebiasaan yang dia lakukan

MENTALITY = Mindset yang dia punya.

Setelah melakukan brainstorming ambil 3 hal berikut ini :

1. Customer segement yang dipilih

2. Main Problem paling utama

3. Riskiet Assumption yang paling beresiko

Pindahkan ke dalam EXPERIMENT AREA, untuk divalidasi asumsinya satu per satu.

4. Tentukan Method dan Kriteria Sukses

ada 3 cara yang dapat dilakukan dalam validasi ide.

  • Interview : get ask from customer and get answer
  • Presell(Pitch) : sell something before actually having to sell
  • Concierge : manually delivered your service to customer

Kriteria Sukses

Ditetapkan berdasarkan antar team berapa % success kriteria. Contoh :

Total Sample 10 orang.

Dikatakan sukses jika 60% mengatakan hal serupa dengan asumsi. 6/10 sukses. Artinya jika 6 orang dari 10 orang mengatakan hal serupa dengan asumsi, maka hipotesa tersebut VALID.

Semakin banyak data yang didapatkan maka akan semakin baik.

5. Get Out The Building

Lakukan interview kepada customer segment. Pastikan semuanya telah siap.

  • Customer Segment = Demographic, Educational, Profession, Economic Status, Behavior,etc.
  • Probelm Hypotheses = From customerΓÇÖs perspective, not the founderΓÇÖs vision
  • Assumption = Actually, Mentality,Behavior

6. Tentukan Result & Decision

Bagaimana? seberapa banyak yang setuju? jika hasilnya kurang memuaskan maka kamu bisa melakukan pivot dengan mengganti asumsi yang sudah di uji dengan asumsi yang baru.

7. Report Hasil Learning

Jangan lupa catat setiap insight yang didapat dari setiap customer.

Hasil dari eksperimen pertama dapat menjadi pembelajaran untuk melakukan eksperimen selanjutnya.

https://www.youtube.com/watch?v=-_MH8TENpwc&feature=emb_rel_end

Saat membuat sebuah produk, salah satu langkah paling penting adalah validasi pasar. Sebuah startup tidak bisa berhasil tanpa adanya product-market fit. Terus, gimana cara kita melakukan eksperimen supaya produk kita bisa diterima oleh pasar?

Bagaimana cara menggunakan Javelin Board?

Kunci: selalu mulai dari bagian sebelah kiri ΓÇô Brainstorming Area!

Untuk memvalidasi suatu produk, kita pastinya perlu ide produk terlebih dahulu. Iya dong, kalau gak ada produknya, apa yang mau diuji? Untuk dapat ide produk, bisa dipakai 4 bagian di Javelin Board ini:

Customer/Pelanggan

Siapa sih pasar yang mau kita sasar? (Sumber gambar: Unsplash)

Di bagian ini, perlu ditentukan siapa pasar yang mau kita sasar. Misal kita ingin buat sebuah e-commerce sayuran dengan pemasok langsung dari petani. Produk ini punya 2 pelanggan yang harus divalidasi: petani dan pembeli sayuran. Lebih bagus lagi kalau pelanggan ini bisa sespesifik mungkin, Contohnya untuk pembeli sayuran dapat ditulis sebagai: ibu rumah tangga dengan usia sekitar 30 tahun, atau ibu rumah tangga dari keluarga berpenghasilan menengah. Semakin spesifik tipe pelanggan yang disasar, semakin baik.

Ini contoh lain yang bisa kita pakai:

  • Produk yang ingin dibuat: Layanan streaming Drakor (Drama Korea)
  • Beberapa contoh pelanggan yang bisa divalidasi:

┬╖       Siswa-siswa SMA atau mahasiswa yang suka nonton Drakor

┬╖       Seseorang yang suka nonton Drama, tapi tidak melulu Drakor

┬╖       Ibu rumah tangga yang suka nonton Drakor

Oke, sekarang kita sudah punya 3 calon pelanggan. Pilih satu. Pelanggan inilah yang akan menjadi fokus kita untuk eksperimen dengan produk yang dibuat. Terus yang dua lagi gimana? Jangan takut, kita bisa eksperimen lagi nanti! Yang penting, kita fokus dulu ke pelanggan yang memiliki potensial paling tinggi.

Problem/Permasalahan

Masalah apa yang dihadapi pelanggan untuk mencapai tujuannya? (Sumber gambar: Unsplash)

Sekarang, masalah apa sih yang pelanggan kita punya dalam mencapai tujuannya yang searah dengan produk kita? Supaya gampang, kita pakai contoh negara Indonesia ya.

Supaya mudah, yuk kita fokus ke salah satu pelanggan yang udah ditulis tadi: Siswa-siswa SMA atau mahasiswa yang suka nonton Drakor

Sekarang, coba kita list semua permasalahan yang kemungkinan dimiliki oleh jenis pelanggan ini:

  • Karena mereka masih kuliah / SMA, kemungkinan besar mereka hanya bisa nonton drama di luar jam sekolah, yang artinya waktu untuk menonton Drama Korea ini terbatas.
  • Di Indonesia, permasalahan internet lambat sangat umum. Apalagi untuk pelanggan yang tidak memiliki wi-fi dan harus memanfaatkan kuota untuk nonton Drama Korea. Masalah kuota dan kecepatan ini penting untuk bisnis streaming.
  • Adanya permasalahan bahasa yang membuat pelanggan sulit memahami drama yang ditonton

Tentunya, sekarang ketiga masalah ini masih merupakan asumsi. Itu alasannya kita perlu untuk melakukan eksperimen. Kita akan menggunakan 3 masalah ini untuk melakukan eksperimen terhadap asumsi ini, kalau benar, maka kita selangkah lebih dekat untuk mencapai product-market fit.

Solution/Solusi

Get product ideas that could solve our customer problemsApa yang bisa kita tawarkan kepada pelanggan untuk menyelesaikan masalah mereka? (image source: Unsplash)

Nah, langkah inilah yang paling menentukan: apa yang bisa kita lakukan untuk menyelesaikan permasalahan calon pengguna kita? Solusi inilah yang akan kita lakukan eksperimen kepada pasar untuk menguji asumsi kita. Apakah solusi kita benar-benar bisa menyelesaikan masalah mereka?

Banyak solusi yang bisa kita coba, tapi untuk contoh ini, kita coba kita jenis yang paling sesuai dengan masalah di atas:

  • Coba tambahkan pilihan subtitles dan dubbing dalam bahasa Indonesia. Eksperimen. Yang mana yang paling sukses? Subtitle? Dubbing? Atau bahkan video normal tanpa subtitle dan dubbing?
  • Coba tambahkan fitur unduh video, sehingga pengguna bisa mengunduh video terlebih dahulu dibandingkan dengan streaming. Dengan cara ini, maka buffering bisa dikurangi. Apakah hasilnya lebih baik?
  • Coba unggah video di beberapa waktu yang berbeda. Waktu yang mana yang paling sukses untuk ditonton pengguna pada 6 jam setelah pengunggahan?

Dengan ini, kita bisa membuat 3 jenis percobaan. Hasilnya akan membuat kita selangkah lebih dekat dengan product-market fit dengan memanfaatkan hasil eksperimen pada iterasi produk berikutnya. Pada akhirnya, javelin board akan membawa produk kita lebih sesuai dengan pasar.

Assumption/Asumsi

Saat membuat daftar masalah atau solusi, ada banyak asumsi yang kita pakai. Pastikan semua asumsi ini dicatat dan diurutkan berdasarkan yang paling berisiko. Asumsi ini harus dipastikan saat eksperimen dilakukan.

Apakah mereka benar-benar memiliki internet yang lambat dan kuota terbatas?

Apakah mereka benar-benar menonton Drama Korea di luar jam sekolah? Atau bahkan mereka menonton bersama teman saat sekolah?

Semua asumsi ini perlu dipastikan sebelum produk kita di launch ke pasar.

Saatnya Pindah dari Brainstorm ke Execution

Sekarang, kita telah selesai dengan bagian kiri Javelin Board. Mantap. Tapi, yang paling penting adalah langkah selanjutnya. Eksekusi. Apa gunanya punya banyak ide tapi tidak ada yang di eksekusi?

Execution is everything, letΓÇÖs start the experiment! (Image source: Unsplash)

Yuk mulai ke tahap yang asyik: eksperimen!

Sekarang, pindahkan kartu / post-it dari bagian kiri (brainstorming) ke kanan Javelin Board. Mana yang ingin kita eksperimen terlebih dahulu? Buat salah satu solusi dan lakukan eksperimen ke calon pelanggan yang sudah kita defiisikan. Hasil dari eksperimen ini akan membuat kita tahu apakah produk kita sesuai dengan kebutuhan pasar atau tidak.

Sebelum kita keluar dari gedung dan bertanya ke pelanggan apakah mereka suka atau tidak dengan produk kita, ada bagian yang perlu kita isi terlebih dahulu. Metode dan kriteria keberhasilan. Bagaimana kita menentukan apakah percobaan ini berhasil atau gagal? Ada banyak cara yang bisa dipilih, salah satu yang populer: A/B Test atau wawancara secara langsung. Sedangkan untuk kriteria keberhasilan, pilih sesuatu yang sesuai dengan tujuan produk kita, contohnya jumlah keluhan atau total waktu menonton yang dihabisakan pelanggan.

Selesai? Yuk, kita ΓÇ£keluarΓÇ¥ dari gedung (atau, kalau sekarang sih ekperimen bisa dilakukan secara online kok. Hah? Gimana tuh? Maksudnya, kita uji idenya secara online, launch, dan pasang tracker untuk dapat hasil yang diperlukan).

Gimana? Apakah pelanggan suka dengan ide kita? Iya? Enggak? Yang terpenting: kumpulkan feedback sebanyak mungkin. Namanya juga eksperimen, berhasil atau gagal, yang paling penting kita dapat data untuk eksperimen selanjutnya.

Langkah terakhir adalah menuliskan hasil dan pembelajaran yang didapat dari percobaan. Cerita pengguna ini sangat penting untuk pengembangan produk kita kedepannya.

  • Apakah mereka lebih suka nonton Drama Korea dengan subtitle atau Dubbing?
  • Apakah mereka lebih suka download terlebih dahulu atau streaming?
  • Komplain apa yang pelanggan punya?
  • Apakah solusi kita menyelesaikan permasalahan mereka?

Contoh Penggunaan Javelin Board

Untuk kesimpulan, kita telah selesai melakukan percobaan untuk ide produk layanan streaming Drama Korea. Berikut langkah-langkahnya untuk memudahkan kita mengingat kembali apa yang sudah dipelajari.

  • Customer/Pelanggan ΓÇô Siapa pasar yang coba kita sasar?

┬╖       Siswa-siswa SMA atau mahasiswa yang suka nonton Drakor

┬╖       Seseorang yang suka nonton Drama, tapi tidak melulu Drakor

┬╖       Ibu rumah tangga yang suka nonton Drakor

  • Problem/Masalah ΓÇô Masalah apa yang mereka punya untuk mencapai tujuan mereka?

┬╖       Karena mereka masih kuliah / SMA, kemungkinan besar mereka hanya bisa nonton drama di luar jam sekolah, yang artinya waktu untuk menonton Drama Korea ini terbatas.

┬╖       Di Indonesia, permasalahan internet lambat sangat umum. Apalagi untuk pelanggan yang tidak memiliki wi-fi dan harus memanfaatkan kuota untuk nonton Drama Korea. Masalah kuota dan kecepatan ini penting untuk bisnis streaming.

┬╖       Adanya permasalahan bahasa yang membuat pelanggan sulit memahami drama yang ditonton

  • Solution/Solusi ΓÇô Solusi apa yang kita punya untuk menyelesaikan masalah mereka?

┬╖       Coba tambahkan pilihan subtitles dan dubbing dalam bahasa Indonesia. Eksperimen. Yang mana yang paling sukses? Subtitle? Dubbing? Atau bahkan video normal tanpa subtitle dan dubbing?

┬╖       Coba tambahkan fitur unduh video, sehingga pengguna bisa mengunduh video terlebih dahulu dibandingkan dengan streaming. Dengan cara ini, maka buffering bisa dikurangi. Apakah hasilnya lebih baik?

┬╖       Coba unggah video di beberapa waktu yang berbeda. Waktu yang mana yang paling sukses untuk ditonton pengguna pada 6 jam setelah pengunggahan?

Tentu saja, Anda bisa list masalah dan solusi Anda sendiri. Yang paling penting, tujuan akhirnya adalah untuk menciptakan produk yang sesuai dengan pasar.

Setelah menentukan ketiga bagian tersebut, lakukan ekperimen kepada pelanggan yang sudah ditentukan. Apakah mereka suka dengan ide kita? Masukan dan feedback apa yang mereka kasih?

Oke, sekarang kita sudah dapat feedback, terus gimana? Ulangi lagi dong! Proses ini bersifat iteratif yang setiap langkahnya akan membuat ketika lebih dekat ke product-market fit!


Log masuk untuk melanjutkan

Maaf akun tamu tidak iizinkan untuk mengirim.

2026 copyright Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya.
Custome by ICT Center Darmajaya
Anda sedang menggunakan akses tamu (Masuk)
Dapatkan aplikasi seluler