Log masuk untuk melanjutkan
Maaf akun tamu tidak iizinkan untuk mengirim.
Serapan Bahasa Indonesia dan Ragam Bahasa Ilmu
Pengertian Kata SerapanPengertian Kata Serapan, Sejarah, Ciri, Macam, Sifat dan Contoh:
Pengertian Kata Serapan
Kata serapan (kata pinjam atau kata pungutan) merupakan kata yang berasal dari bahasa asing yang telah diintegrasikan ke bentuk bahasa yang telah diterima pemakaiannya secara umum.
Setiap masyarakat bahasa memiliki tentang cara yang digunakan untuk mengungkapkan gagasan dan perasaan atau untuk menyebutkan atau mengacu ke benda-benda di sekitarnya. Hingga pada suatu titik waktu, kata-kata yang dihasilkan melalui kesepakatan masyarakat itu sendiri umumnya mencukupi keperluan itu,
namun manakala terjadi hubungan dengan masyarakat bahasa lain, sangat mungkin muncul gagasan, konsep, atau barang baru yang datang dari luar budaya masyarakat itu. Dengan sendirinya juga diperlukan kata baru. Salah satu cara memenuhi keperluan ituΓÇôyang sering dianggap lebih mudahΓÇôadalah mengambil kata yang digunakan oleh masyarakat luar yang menjadi asal hal ihwal baru itu.
Penyerapan KATA ASING terjadi karena beberapa hal berikut:
1. Kata asing tersebut lebih cocok konotasinya.
2. Bercorak Internasional
3. Lebih singkat dibandingkan dengan terjemahannya.
4. Mempermudah karena dalam bahasa Indonesia terlalu banyak sinonimnya
Sejarah Hubungan Dengan Penutur
Telah berabad-abad lamanya nenek moyang penutur bahasa Indonesia berhubungan dengan berbagai bangsa di dunia. Bahasa Sanskerta tercatat terawal dibawa masuk ke Indonesia yakni sejak mula tarikh Masehi. Bahasa ini dijadikan sebagai bahasa sastra dan perantara dalam penyebaran agama Hindu dan Buddha. Agama Hindu tersebar luas di pulau Jawa pada abad ke-7 dan ke-8, lalu agama Buddha mengalami keadaan yang sama pada abad ke-8 dan ke-9.
Hubungan dengan penutur India dan persekitarannya
Beriringan dengan perkembangan agama Hndu itu berlangsung pula perdagangan rempah-rempah dengan bangsa India yang sebagian dari mereka penutur bahasa Hindi, sebagian yang lain orang Tamil dari India bagian selatan dan Sri Lanka bagian timur yang bahasanya menjadi perantara karya sastra yang subur. Bahasa Tamil pernah memiliki pengaruh yang kuat terhadap bahasa Melayu.
Hubungan dengan penutur Cina
Hubungan ini sudah terjadi sejak abad ke-7 ketika para saudagar Cina berdagang ke Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur, bahkan sampai juga ke Maluku Utara. Pada saat Kerajaan Sriwijaya muncul dan kukuh, Cina membuka hubungan diplomatik dengannya untuk mengamankan usaha perdagangan dan pelayarannya. Pada tahun 922 musafir Cina melawat ke Kerajaan Kahuripan di Jawa Timur. Sejak abad ke-11 ratusan ribu perantau Cina meninggalkan tanah leluhurnya dan menetap di banyak bagian Nusantara (Kepulauan Antara, sebutan bagi Indonesia). Yang disebut dengan bahasa Cina adalah bahasa di negara Cina (banyak bahasa). Empat di antara bahasa-bahasa itu yang di kenal di Indonesia yakni Amoi, Hakka, Kanton, dan Mandarin. Kontak yang begitu lama dengan penutur Cina ini mengakibatkan perolehan kata serapan yang banyak pula dari bahasa Cina, namun penggunaannya tidak digunakan sebagai perantara keagamaan, keilmuan, dan kesusastraan di Indonesia sehingga ia tidak terpelihara keasliannya dan sangat mungkin banyak ia berbaur dengan bahasa di Indonesia. Contohnya anglo, bakso, cat, giwang, kue/ kuih, sampan, dan tahu.
Hubungan dengan penutur Arab
Bahasa Arab dibawa ke Indonesia mulai abad ketujuh oleh saudagar dari Persia, India, dan Arab yang juga menjadi penyebar agama Islam. Kosakata bahasa Arab yang merupakan bahasa pengungkapan agama Islam mula berpengaruh ke dalam bahasa Melayu terutama sejak abad ke-12 saat banyak raja memeluk agama Islam. Kata-kata serapan dari bahasa Arab misalnya abad, bandar, daftar, edar, fasik, gairah, hadiah, hakim, ibarat, jilid, kudus, mimbar, sehat, taat, dan wajah. Karena banyak di antara pedagang itu adalah penutur bahasa Parsi, tidak sedikit kosakata Parsi masuk ke dalam bahasa Melayu, seperti acar, baju, domba, kenduri, piala, saudagar, dan topan.
Hubungan dengan penutur Portugis
Bahasa Portugis dikenali masyarakat penutur bahasa Melayu sejak bangsa Portugis menduduki Malaka pada tahun 1511 setelah setahun sebelumnya ia menduduki Goa. Portugis dikecundangi atas saingan dengan Belanda yang datang kemudian dan menyingkir ke daerah timur Nusantara. Meski demikian, pada abad ke-17 bahasa Portugis sudah menjadi bahasa perhubungan antaretnis di samping bahasa Melayu. Kata-kata serapan yang berasal dari bahasa Portugis seperti algojo, bangku, dadu, gardu, meja, picu, renda, dan tenda.
Hubungan dengan penutur Belanda
Belanda mendatangi Nusantara pada awal abad ke-17 ketika ia mengusir Portugis dari Maluku pada tahun 1606, kemudian ia menuju ke pulau Jawa dan daerah lain di sebelah barat. Sejak itulah, secara bertahap Belanda menguasai banyak daerah di Indonesia. Bahasa Belanda tidak sepenuhnya dapat menggeser kedudukan bahasa Portugis karena pada dasarnya bahasa Belanda lebih sukar untuk dipelajari, lagipula orang-orang Belanda sendiri tidak suka membuka diri bagi orang-orang yang ingin mempelajari kebudayaan Belanda termasuklah bahasanya.
Hanya saja pendudukannya semakin luas meliputi hampir di seluruh negeri dalam kurun waktu yang lama (350 tahun penjajahan Belanda di Indonesia). Belanda juga merupakan sumber utama untuk menimba ilmu bagi kaum pergerakan. Maka itu, komunikasi gagasan kenegaraan pada saat negara Indonesia didirikan banyak mengacu pada bahasa Belanda. Kata-kata serapan dari bahasa Belanda seperti abonemen, bangkrut, dongkrak, ember, formulir, dan tekor.
Hubungan dengan penutur Inggris
Bangsa Inggris tercatat pernah menduduki Indonesia meski tidak lama. Raffles menginvasi Batavia (sekarang Jakarta) pada tahun 1811 dan beliau bertugas di sana selama lima tahun. Sebelum dipindahkan ke Singapura, dia juga bertugas di Bengkulu pada tahun 1818. Sesungguhnya pada tahun 1696 pun Inggris pernah mengirim utusan Ralph Orp ke Padang (Sumatra Barat), namun dia mendarat di Bengkulu dan menetap di sana. Di Bengkulu juga dibangun Benteng Marlborough pada tahun 1714-1719. Itu bererti sedikit banyak hubungan dengan bangsa Inggris telah terjadi lama di daerah yang dekat dengan pusat pemakaian bahasa Melayu.
Hubungan dengan penutur Jepang
Pendudukan Jepang di Indonesia yang selama tiga setengah tahun tidak meninggalkan warisan yang dapat bertahan melewati beberapa angkatan. Kata-kata serapan dari bahasa Jepang yang digunakan umumnya bukanlah hasil hubungan bahasa pada masa pendudukan, melainkan imbas kekuatan ekonomi dan teknologinya.
Perbendaharaan Kata Serapan
Di antara bahasa-bahasa di atas, ada beberapa yang tidak lagi menjadi sumber penyerapan kata baru yaitu bahasa Tamil, Parsi, Hindi, dan Portugis. Kedudukan mereka telah tergeser oleh bahasa Inggris yang penggunaannya lebih mendunia. Walaupun begitu, bukan bererti hanya bahasa Inggris yang menjadi rujukan penyerapan bahasa Indonesia pada masa yang akan datang.
Penyerapan kata dari bahasa Cina sampai sekarang masih terjadi di bidang pariboga termasuk bahasa Jepang yang agaknya juga potensial menjadi sumber penyerapan.
Di antara penutur bahasa Indonesia beranggapan bahwa bahasa Sanskerta yang sudah ΓÇÖmatiΓÇÖ itu merupakan sesuatu yang bernilai tinggi dan klasik. Alasan itulah yang menjadi pendorong penghidupan kembali bahasa tersebut. Kata-kata Sanskerta sering diserap dari sumber yang tidak langsung, yaitu Jawa Kuna. Sistem morfologi bahasa Jawa Kuna lebih dekat kepada bahasa Melayu. Kata-kata serapan yang berasal dari bahasa Sanskerta-Jawa Kuna misalnya acara, bahtera, cakrawala, darma, gapura, jaksa, kerja, lambat, menteri, perkasa, sangsi, tatkala, dan wanita.
Bahasa Arab menjadi sumber serapan ungkapan, terutama dalam bidang agama Islam. Kata rela (senang hati) dan korban (yang menderita akibat suatu kejadian), misalnya, yang sudah disesuaikan lafalnya ke dalam bahasa Melayu pada zamannya dan yang kemudian juga mengalami pergeseran makna, masing-masing adalah kata yang seasal dengan rida (perkenan) dan kurban (persembahan kepada Tuhan). Dua kata terakhir berkaitan dengan konsep keagamaan. Ia umumnya dipelihara betul sehingga makna (kadang-kadang juga bentuknya) cenderung tidak mengalami perubahan.
Sebelum Ch. A. van Ophuijsen menerbitkan sistem ejaan untuk bahasa Melayu pada tahun 1910, cara menulis tidak menjadi pertimbangan penyesuaian kata serapan. Umumnya kata serapan disesuaikan pada lafalnya saja.
Meski kontak budaya dengan penutur bahasa-bahasa itu berkesan silih berganti, proses penyerapan itu ada kalanya pada kurun waktu yang tmpang tindih sehingga orang-orang dapat mengenali suatu kata serapan berasal dari bahasa yang mereka kenal saja, misalnya pompa dan kapten sebagai serapan dari bahasa Portugis, Belanda, atau Inggris. Kata alkohol yang sebenar asalnya dari bahasa Arab, tetapi sebagian besar orang agaknya mengenal kata itu berasal dari bahasa Belanda.
Kata serapan dari bahasa Inggris ke dalam kosa kata Indonesia umumnya terjadi pada zaman kemerdekaan Indonesia, namun ada juga kata-kata Inggris yang sudah dikenal, diserap, dan disesuaikan pelafalannya ke dalam bahasa Melayu sejak zaman Belanda yang pada saat Inggris berkoloni di Indonesia antara masa kolonialisme Belanda.. Kata-kata itu seperti kalar, sepanar, dan wesket. Juga badminton, kiper, gol, bridge.
Sesudah Indonesia merdeka, pengaruh bahasa Belanda mula surut sehingga kata-kata serapan yang sebetulnya berasal dari bahasa Belanda sumbernya tidak disadari betul. Bahkan sampai dengan sekarang yang lebih dikenal adalah bahasa Inggris.
Macam Kata Serapan
Kelompok kata serapan yang kedua berdasar pada proses bahasa asing tersebut masuk kedalam bahasa Indonesia.
Terdapat empat cara penyerapan bahasa asing kedalam bahasa Indonesia, yaitu adopsi, adaptasi, terjemahan, dankreasi.
1. Adopsi
Ketika kata asing diadopsi dalam bahasa Indonesia. Adopsi pertama, konsepnya diadopsi, tetapi tetap memakai kata bahasa Indonesia.Misalnya kata sholat (bahasa Arab) dalam bahasa Indonesia menjadi sembahyang.
Proses adopsi merupakan proses terserapnya bahasa asing kedalam bahasa Indonesia dengan mengambil keseluruhan kata. Bahasa asing yang diambil adalah kata yang mempunyai makna sama. Kata serapan dengan proses adopsi tidak mengubah lafal dan ejaan dari bahasa asing kebahasa Indonesia.
Contoh kata serapan dengan proses adopsi antara lain :
ΓÇó Supermarket (dari kata supermarket),
ΓÇó Formal (jugadari kata formal),
ΓÇó Editor (dari kata yang samayaitu editor).
2. Adaptasi
Kata serapan melalui proses adaptasi disesuaikan dengan lafal dan ejaan bahasa Indonesia. Makna kata serapan ini mempunyai makna yang sama dengan kata sebelumnya.
Contohnya adalah maksimal (dari kata maximal), organisasi (dari kata organization), intelektual (intelectual).Dalam proses adaptasi terdapat beberapa kaidah yang digunakan, antara lain:
• Aa → a, contohnyaoctaaf → oktaf
• Ae → ae, contohnya aerodynamics → aerodinamika
• Ae → e jikabervariasidengan e, contohnyahaemoglobin → hemoglobin
• Ai → ai, contohnya trailer → trailer
• Au → au, contohnya audiogram → audiogram
• C → k jika di muka a, u, o, dankonsonan, contohnya cubic → kubik
• C → s jika di muka e, i, y, contohnya central → sentral
• Cc → k jika di muka u, o, dankonsonan, contohnyaaccomodation → akomodasi
• Cc → ksjika di muka e dan i, contohnya accent → aksen
• ea → ea , contohnya idealist → idealis
3. Terjemahan
Proses ini terjadi apabila pemakai bahasa mengambil konsep yang terkandung dalam bahasa asing itu, kemudian kata tersebut diberi padanan dalam bahasa Indonesia.
Contoh kata serapan ini antara lain :
ΓÇó Sukucadang (dari kata spare part),
ΓÇó Ujicoba (dari kata try out),
ΓÇó Siksaan (dari kata azab).
4. Kreasi
Cara kreasi hampir sama dengan cara terjemahan. Perbedaanya terletak pada bentukfisik yang tidak dituntut sama. Misal pada kata asing ditulis dalam 2 kata ataulebih, makapada kata serapan diperbolehkan jika hanya ditulis dalamsatu kata saja.
Contoh kata serapan dengan proses Kreasi antara lain :
ΓÇó effective (kata serapannya menjadi berhasil guna).
• Shuttle à Ulang alik,
• Spare part à Suku cadang,
Cara penyerapan bahasa asing.
1. Adopsi yaitu mengambil makna kata asing secara utuh. Contoh : counter, studio, plaza
2. Adaptasi yaitu mengambil makna Suatu kata, lalu ejaannya disesuaikan dengan ejaannya dengan bahasa Indonesia. Contoh :
ΓÇó International menjadi internasional
ΓÇó Congress menjadi kongres
ΓÇó Actor menjadi aktor
ΓÇó System menjadi sistem
ΓÇó Energy menjadi energi
3. Penerjemahan, yaitu mengambil konsep yang terkandung dalam bahasa asing, lalu ditentukan padanannya dalam bahasa Indonesia. Contoh :
ΓÇó Green house menjadi rumah kaca
ΓÇó Try out menjadi uji coba
4. Kreasi, memiliki cara seperti penerjemahan tetapi kreasi tidak menuntut bentuk fisik yang sama seperti penerjamahannya. Contoh :
ΓÇó spare parts menjadi suku cadang
Tata cara penyerapan bahasa istilah asing
ΓÇó Istilah asing dipadankan dengan Bahasa Indonesia yang umum Contoh : Delete = hapus | Exit = keluar | Cancel = batal
ΓÇó Istilah asing dipadankan dengan Bahasa Indonesia yang tidak umum Scan = pindaiScanner = memindai
ΓÇó Istilah asing dipadankan dengan Bahasa serumpun yang lazim Contoh : homepage = aman
ΓÇó Istilah asing dipadankan dengan Bahasa serumpun yang tidak lazim Contoh : download = unduh | Upload = unggah
ΓÇó Istilah asing diserap ke dalam bahasa Indonesia
1. Tanpa melalui proses penyesuaian ejaan
Contoh : monitor, internet
2. Melalui penyesuaian ejaan
Contoh : acces menjadi akses | Computer menjadi komputer
3. Melalui penyesuaian lafal
Contoh : design menjadi desain | Manager menjadi manajer
4. Melalui penyesuaian ejaan dan lafal
Contoh : Management menjadi Manajemen | Architecture menjadi arsitektur
5. Melalui penambahan vokal pada akhir kata yang hanya berupa satu suku kata, sekaligus dengan penyesuaian ejaan
Contoh : Fact = fakta | Norm=norma
Kaidah Ejaan Yang Berlaku Bagi Unsur Serapan
1. ΓÇÿa (ain pada Arab) menjadi a Contoh : ΓÇÿasr menjadi asar
2. aa (Belanda) menjadi a Contoh : octaaf menjadi oktaf
3. ae jika bervariasai dengan e, menjadi 2 Contoh : haemoglobin menjadi hemoglobin
4. C di muka a, u, o menjadi k Contoh : cubic menjadi kubik
5. C dimuka e, i, oe menjadi s Contoh : central menjadi sentral
Sekalipun dalam ejaan yang disempurnakan huruf q dan x diterima sebagai bagian abjad bahasa Indonesia, kedua huruf tersebut dipergunakan dalam penggunaan tertentu saja, seperti dalam pembedaan nama atau istilah khusus.
Misal : aquarium menjadi akuarium ΓÇô qalbu menjadi kalbu ΓÇô executive menjadi eksekutif ΓÇô taxi menjadi taksi
Kata serapan dalam bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia menyerap banyak kata dari bahasa lain, yang utama pernah berhubungan secara langsung dengan Nusantara, baik terhadap penjajahan (Belanda, Portugis ataupun Belanda), melalui perdagangan (Tionghoa, Sansekerta, Arab), ataupun perkembangan ilmu pengetahuan (Inggris). Misalnya kata pengut dalam bahasa Indonesia yaitu:
1. mungkin (dari bahasa Arab mumkinun: ?)
2. bengkel (dari bahasa Belanda winkel: pojok atau toko)
3. tetapi (dari bahasa Sanskerta tathâpi: namun itulah)
4. meski (dari bahasa Portugis mas que: walau)
5. kongko (dari bahasa Hokkien kongko: bercakap)
Kata Sifat
Kata adjektiva atau sifat merupakan kelas kata yang merubah kata ganti atau kata benda, umumnya dengan membuat atau menjelaskan menajdi lebih terperinci atau spesifik. Kata ini bisa menerangkan kuantitas, urutan, kecakupan, kualitas, ataupun menekankan sebuah kata. Sebagai Contoh kata sifat : jauh, kaya, dan keras.
Kata Majemuk
Kata majemuk merupakan sebuah gabungan morfem dasar yang semuanya berstatus sebagai kata yang memiliki pola fonologis, gramatikal, serta semantis yang secata khusus menurut kaidah bahasa yang bersangkutan. Pola khusus itu cara membendakannya ialah dengan gabungan kataΓÇôgabungan mofrem atau frasa yang bukan kata majemuk, billa baju hijau adalah frasa; dalam bahasa Inggris, blackbird merupakan kata majemuk, sedangkan black bird ialah frasa.
Kata ini dibuat oleh proses pemajemukan atau komposisi yang merupakan sebuah proses morfologis, dan frasa dibuat dengan proses sinteksis. Kata mejemuk dalam bahasa Indonesia mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
ΓÇó ketakterluasan yang berarti setiap unsur kompositum tidak dapat diimbuhkan kecuali sekaligus
ΓÇó ketaktersisipan yang berarti di antara unsur-unsur kompositum tidak dapat disisipi apa pun serta
ΓÇó ketakterbalikan yang berarti unsur kompositum tidak dapat dipertukarkan.
Contoh Kata Serapan
Sebagai pelengkap referensi tentang kata serapan, berikut disajikan beberapa contoh kata serapan:
No. Kata Asal Kata Serapan BahasaAsal
1. Abad Abad Arab
2. Algoz Algojo Portugis
3. Acar Acar Parsi
4. Almanak Almanak Arab
5. Ajian Mantra JawaKuno
6. Angkara Murka JawaKuno
7. Amateur Amatir Belanda
8. Atleet Atlet Belanda
9. Actor Aktor Inggris
10. Aquarium Akuarium Inggris
11. Allergy Alergi Inggris
12. Ballpoint Bolpen Inggris
13. Ballon Balon Inggris
14. Boetiek Butik Belanda
15. Baligh Baligh Arab
16. Bakiak Bakiak China
17. Banco Bangku Portugis
18. Bolo Bolu Portugis
19. Cuba Coba JawaKuno
20. Chocolade Coklat Belanda
21. Coin Koin Inggris
22. Community Komunitas Inggris
23. Copy Salin Inggris
24. Conducive Kondusif Inggris
25. Data Data Inggris
26. Discount Diskon Inggris
27. Director Direktur Inggris
28. Docent Dosen Belanda
29. Duraka Durhaka JawaKuno
30. Diwasa Dewasa JawaKuno
31. Encang Paman Belanda
32. Egoistisch Egois Belanda
33. Edition Edisi Inggris
34. Embryo Embrio Inggris
35. Essay Esai Inggris
36. Erosion Erosi Inggris
37. Export Ekspor Inggris
38. Etiquette Etiket Belanda
39. Enzyme Enzim Inggris
40. Ijs Es Belanda
41.. Hotel Hotel Belanda
42. Garem Garam JawaKuno
43. Ilmu Ilmu Arab
44. Halal Halal Arab
45. Haram Haram Arab
46. Istana Istana Parsi
47. Kadai Kedai Tamil
48. Kahabar Kabar Arab
49. Lafazh Lafal Arab
50. Maqalatun Makalah Arab
51. Rizqi Rezeki Arab
52. Petti Peti Tamil
53. Ulogam Logam Tamil
54. Zakarotil Sekarat Arab
55. Zhalim Lalim Arab
Contoh kata serapan yang sering salah menerjemahkannya
Kata Asli Serapan yang tidak tepat Serapan yang tepat
Activity aktifitas Aktivitas
Amplitude amplitudo Amplitude
Analysis analisa Analisis
Automatically otomatis Automatis
Automatics otomatis, otomatik Automatik
Cellular seluler Selular
Discrete diskrit Diskret
Frequency frekwensi Frekuensi
Harmonics harmonisa Harmonik
Index indek Indeks
Linear linier linear
Matrix matrik matriks
Method metoda metode
Object obyek objek
Objective obyektif objektif
Phase fasa fase
Practice praktek praktik
Risk resiko risiko
Standardization standarisasi standardisasi
Subject subyek subjek
Subjective subyektif subjektif
Synthesis sintesa sintesis
Di bawah ini disajikan daftar kata terjemahan Bahasa Indonesia yang disarankan untuk menggantikan bahasa asing yang besesuaian.
Kata Asli Terjemahan
Application terapan, aplikasi
Approximation pendekatan
bandpass filter tapis pelewat-bidang
Code sandi
Compression pemampatan
Control kendali, kontrol
Database basisdata, basis-data
Decoding pengawasandian
Design perancangan
Desired yang diinginkan
Device piranti
Discharge peluahan
Effect pengaruh
Encoding penyandian
Engineering rekayasa
Error galat
Expected terharap
Filter tapis
Kata Asli Terjemahan
Flag bendera, pemanji
Flowchart bagan-alir
Handphone telepon selular, ponsel
Hardware perangkat-keras
high-pass filter tapis pelewat-tinggi
Image citra
Impact dampak
Input masukan
Interface antarmuka
Interval selang
Level aras
Listing senarai
low-pass filter tapis pelewat-rendah
Mean rerata
Mobile bergerak
Network jaringan
Neural saraf, syaraf
Noise derau
Notch takik
object-oriented berorientasi-objek
optical-fiber serat-optis
Output keluaran
Physical fisis
Physics fisika
Picture gambar
Probability peluang
Processing pengolahan
Range kisaran
real-time waktu-nyata
Reliable andal, dapat diandalkan
Response tanggapan
Sampling pencuplikan
Saturation penjenuhan
Scan payar, pindai
Sequence urutan
Series runtun
Service layanan
Signal sinyal atau isyarat
Software perangkat-lunak
Sound bunyi
Speech ucapan, tutur
Tool perangkat
transfer function fungsi alih
Transform alihragam, transformasi
Unit satuan
unvoiced sound bunyi tak-bersuara
Kata Asli Terjemahan
Valve katup
Voice suara
Website situs
Wireless nirkabel
RAGAM BAHASA ILMIAH
1. PENGERTIAN RAGAM BAHASA ILMIAH
Ragam bahasa ilmiah adalah salah satu ragam bahasa Indonesia yang digunakan dalam pertemuan dan penulisan karya ilmiah. Dimana ragam bahasa ilmiah ini diperoleh sesuai dengan sifat keilmuannya dan didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode (pendekatan rasional pendekatan empiris) dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya atau keilmiahannya.
Bahasa ragam ilmiah merupakan ragam bahasa berdasarkan pengelompokkan menurut jenis pemakaiannya dalam bidang kegiatan sesuai dengan sifat keilmuannya. Bahasa Indonesia harus memenuhi syarat diantaranya benar (sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku), logis, cermat dan sistematis. Pada bahasa ragam ilmiah, bahasa bentuk luas dan ide yang disampaikan melalui bahasa itu sebagai bentuk dalam, tidak dapat dipisahkan.
2. CIRI-CIRI RAGAM BAHASA ILMIAH
Dalam ahsa Indonesia kebakuan bahasa diukur dengan pedoman umum ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan, pedoman umum tata bentuka istilah, Kamus Besar Bahasa Ilmiah, Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Pedoman Pengindonesiaan Istilah Asing dan lain sebagainya. Ragam bahasa ilmiah juga mempunyai beberapa ciri-ciri, antara lain :
1. Baku.
Struktur bahasa yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia baku, baik mengenai struktur kalimat maupun kata. Demikian juga, pemilihan kata istilah dan penulisan yang sesuai dengan kaidah ejaan.
2. Logis.
Ide atau pesan yang disampaikan melalui bahasa Indonesia ragam ilmiah dapat diterima akal. Contoh: ΓÇ£Masalah pengembangan dakwah kita tingkatkan.ΓÇ¥Ide kalimat di atas tidak logis. Pilihan kata ΓÇ£masalahΓÇÖ, kurang tepat. Pengembangan dakwah mempunyai masalah kendala. Tidak logis apabila masalahnya kita tingkatkan. Kalimat di atas seharusnya ΓÇ£Pengembangan dakwah kita tingkatkan.ΓÇ¥
3. Kuantitatif.
Keterangan yang dikemukakan pada kalimat dapat diukur secara pasti. Perhatikan contoh di bawah ini:DaΓÇÖi di Gunung Kidul ΓÇ£kebanyakanΓÇ¥ lulusan perguruan tinggi. Arti kata kebanyakan relatif, mungkin bisa 5, 6 atau 10 orang. Jadi, dalam tulisan ilmiah tidak benar memilih kata ΓÇ£kebanyakanΓÇ¥ kalimat di atas dapat kita benahi menjadi DaΓÇÖi di Gunung Kidul 5 orang lulusan perguruan tinggi, dan yang 3 orang lagi dari lulusan pesantren.
4. Tepat.
Ide yang diungkapkan harus sesuai dengan ide yang dimaksudkan oleh pemutus atau penulis dan tidak mengandung makna ganda. Contoh: ΓÇ£Jamban pesantren yang sudah rusak itu sedang diperbaiki.ΓÇ¥Kalimat tersebut, mempunyai makna ganda, yang rusaknya itu mungkin jamban, atau mungkin juga pesantren.
5. Denotatif yang berlawanan dengan konotatif.
Kata yang digunakan atau dipilih sesuai dengan arti sesungguhnya dan tidak diperhatikan perasaan karena sifat ilmu yang objektif.
6. Runtun.
Ide diungkapkan secara teratur sesuai dengan urutan dan tingkatannya, baik dalam kalimat maupun dalam alinea atau paragraf adalah seperangkat kalimat yang mengemban satu ide atau satu pokok bahasan.
Bahasa Indonesia ragam ilmiah menurut Moeliono (1989:73-74) memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
ΓÇó Bersifat formal dan objektif
ΓÇó Lazimnya menggunakan sudut pandang orang ketiga dengan ragam kalimat pasif
ΓÇó Menggunakan titik pandang gramatik yang bersifat konsisten
ΓÇó Menggunakan istilah khusus dalam bidang keilmuan yang sesuai
ΓÇó Tingkat formalitas ragam bahsa bersifat resmi
ΓÇó Bentuk wacana yang digunakan addalah ekspositoris atau eksposisi
ΓÇó Gagasan digunakan dengan lengkap, jelas, ringkas dan tepat
ΓÇó Menghindari ungkapan yang bersifat ekstrim dan emosional
ΓÇó Menghindari kata-kata mubazir
ΓÇó Bersifat moderat
ΓÇó Digunakan sebagai alat komunikasi dengan pikiran dan bukan dengan perasaan
ΓÇó Ukuran panjang kalimat sedang
ΓÇó Penggunaan majas sangat dibatasi
ΓÇó Lazim dilengkapi dengan gambar, diagram, peta, daftar dan tabel
ΓÇó Menggunakan unsur mekanis secara tepat seperti ejaan, lambang, singkatan dan rujukan.
Bearkaitan dengan ciri ragam bahasa ilmiah, Suparno (1984:1-14) mengemukaan 7 ciri bahsa indonesia ragam ilmiah antara lain:
ΓÇó Barnalar
ΓÇó Lugas dan jelas
ΓÇó Bepangkal tolak pada gagasan dan bukan pada penulis
ΓÇó Formal dan objektif
ΓÇó Ringkas dan padat
ΓÇó Konsisten
ΓÇó Menggunakan istilah-istilah teknis
Atas dasar pendapat di atas disimpulkan bahwa secara umum ciri ragam bahasa ilmiah antara lain:
Atas dasar berbagai pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa secara umum ciri-ciri ragam ilmiah antara lain:
├╝ Penggunaan diksi yang tepat
Diksi merupakan pilihan kata yang tepat. Penggunaan diksi yang tepat sangat berpengaruh pada kualitas atau kebakuan suatu kalimat. Untuk mendayagunakan diksi yang tepat harus diperhatikan ketepatan dan kesesuaian diksi. Ketepatan pemilihan kata mempersoalkan kesangguapan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan-gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca, seperti yang dipikirkan penulis.
├╝ Penggunaan Ejaan yang Benar
Ejaan yang benar dalam bahasa Indonesia adalah ejaan yang sesuai dengan EYD. Hal-hal yang erkaitan dengan EYD antara lain penggunaan huruf (kapital, miring, tebal), penggunaan tanda baca (titik, koma, titik koma), penggunaan angka dan bilangan,dan penggunaan unsur serapan.
├╝ Penggunaan kalimat yang efektif
Sebuah kalimat yang efektif mempersoalkan bagaimana ia dapat mewakili secara tepat isi pikiran atau perasaan penulis atau pembicara, bagaimana ia dapat mengungkapkan pikiran atau perasaan penulia dan pembaca secara segar dan sanggup menarik perhatia pembaca atau pendengar terhadap apa yang dibicarakan.
├╝ Penggunaan paragraf yang padu dan koherensi
Paragraf adalah seperangkat kalimat yang membicarakan suatu gagasan atau topik. Paragraf yang baik hendaknya memiliki tiga syarat utama, yaitu : memiliki kesatuan, memiliki kepaduan, memiliki isi yang memadai.
3. KARAKTERISTIK RAGAM BAHASA ILMIAH
karakteristik dari bahasa Indonesia ragam ilmiah ini adalah :
1. Bahasa Indonesia bersifat cendekia artinya bahasa Indonesia itu mampu digunakan secara tepat untuk mengungkapkan hasil berpikir logis, yakni mampu membentuk pernyataan yang tepat dan seksama.
Contoh :
Infeksi cendawan pembentuk mikoriza (CPM) akan mempengaruhi serapan hara fosfor oleh tanaman inang melalui akar terutama tanaman yang tumbuh pada tanah yang kekurangan fosfor yang dimungkinkan oleh adanya hifa eksternal.
2. Bahasa Indonesia bersifat lugas artinya Paparan bahasa yang lugas akan menghindari kesalah-pahaman dan kesalahan menafsirkan isi kalimat dapat dihindarkan.Penulisan yang bernada sastra perlu dihindari.
Contoh :
a. Mahasiswa sering mendapatkan tugas yang tidak dapat dikatakan ringan sehingga kemampuan berfikirnya menjadi berada di awing-awang.
b. Mahasiswa sering mendapatkan tugas yang berat sehingga kemampuan berfikirnya menjadi menurun.
3. Bahasa Indonesia bersifat jelas artinya Gagasan akan mudah dipahami apabila:
a. Dituangkan dalam bahasa yang jelas
b. Hubungan antara gagasan yang satu dengan yang lain juga jelas. Kalimat yang tidak jelas, umumnya akan muncul pada kalimat yang sangat panjang.
Contoh :
Struktur cendawan pembentuk mikoriza (CPM) pada apikal akar berbentuk bebas dan berpengaruh tidak langsung terhadap kapasitas serapan hara oleh akar, misalnya dalam kompetisidalam memanfaatkan karbohidrat, karena cendawan pembentuk mikorisa sangat tergantung kepada kandungan karbon tanaman inang sebagai sumber energinya serta kapasitas dan mekanisme CPM dalam menyerap hara hanya akan dievaluasi dari asosiasinya dengan tanaman inang.
4. Bahasa Indonesia bersifat Formal artinya Bahasa yang digunakan dalam komunikasi ilmiah bersifat formal. Tingkat keformalan bahasa dalam tulisan ilmiah dapat dilihat pada lapis kosa kata, bentukan kata, dan kalimat.
Contoh:
Kata Formal : Kata Nonformal:
Wanita : Cewek
Dari : Ketimbang
Hanya : Cuma
Membuat : Bikin
Dipikirkan : Dipikirin
Bagaimana : Gimana
Matahari : Mentari
Tulisan ilmiah termasuk kategori paparan yang bersifat teknis.
5. Bahasa Indonesia bersifat menghindari kalimat fragmentasi artinya kalimat yang belum selesai. Kalimat yang seperti ini terjadi karena adanya keinginan tanpa menyadari kesatuan gagasan dalam beberapa kalimat tanpa menyadari kesatuan yang diungkapkan.
6. Bahasa Indonesia ragam ilmiah bersifat bertolak dari gagasan artinya penonjolan diadakan pada gagasan atau hal yang diungkapkan dan tidak pada penulis. Implikasinya, kalimat-kalimat yang digunakan didominasi oleh kalimat pasif.
Contoh :
Penulis menyimpulkan bahwa hifa cendawan pembentuk mikoriza yang berasosiasi dengan akar tanaman mampu membantu tanaman untuk menyerap unsur hara fosfor dan nitrogen.
7. Bahasa Indonesia ragam ilmiah bersifat objektif artinya Sifat objektif tidak cukup dengan hanya menempatkan gagasan sebagai pangkal tolak, tetapi juga diwujudkan dalam penggunaan kata.
Contoh :
Daun tanaman kedelai yang mengalami khlorosis disebabkan oleh kekurangan unsur nitrogen. Kata yang menunjukkan sikap ekstrem dapat memberi kesan subyektif dan emosional. Kata seperti harus, wajib, tidak mungkin tidak, pasti, selalu perlu dihindari.
8. Bahasa Indonesia ragam ilmiah bersifat ringkas dan padat direalisasikan dengan tidak adanya unsur-unsur bahasa yang hemat.
Contoh : Tri dharma perguruan tinggi menjadi ukuran kinerja setiap sivitas akademika.
4. PENGGUNAAN RAGAM BAHASA ILMIAH
Penggunaan dalm bahasa ilmiah yang disampaikan dalam bentuk karya tulis ilmiah, misalnya, laporan penelitian (studi), makalah, skripsi, tesis, dan disertasi adalah bersifat formal. Oleh karena itu, ragam bahasa yang digunakan dalam karya tulis ilmiah adalah ragam bahasa baku (standar). Bahasa dalam percakapan sehari-hari (colloquial) serta percakapan lisan tidak tepat apabila digunakan untuk menyampaikan informasi dan konsep-konsep yang berkadar ilmiah. Demikian pula bahasa ragam sastra (puisi, prosa, dan drama) disusun sedemikian rupa, sehingga dapat menimbulkan berbagai efek emosional, imajinatif, estetik, dan artistic, yang dapat membangkitkan rasa haru baik bagi penulis maupun pembaca. Bahasa yang bersifat ilmiah tidak mempertimbangkan efek-efek perasaan yang timbul, seperti yang dipertimbangkan dalam bahasa ragam sastra (Oka, 1971: 14). Sifat bahasa ragam ilmiah yang khusus/spesifik tampak pada pemilihan dan pemakaian kata serta bentuk-bentuk gramatika terutama dalam tataran sintaksis. Kata-kata yang digunakan dalam bahasa ilmiah bersifat denotative. Artinya, setiap kata hanya mempunyai satu makna yang paling sesuai dengan konsep keilmuan tersebut atau fakta yang disampaikan. Demikian pula kalimat-kalimat yang digunakan dalam bahasa ragam ilmiah bersifat logis. Hubungan antara bagian-bagian kalimat dalam kalimat tunggal atau hubungan antara klausa-klausa dalam kalimat majemuk (kompleks) mengikuti pola-pola bentuk hubungan logis.
Demikianlah penjelasan tentang jenis jenis kata serapan dan contohnya dalam bahasa Indonesia dan ragam ilmu.