Filsafat tentu saja memiliki peran yang sangat penting dalam mengelaborasi setiap persoalan krusial, termasuk soal pandemi covid 19. Peran filsafat itu, meminjam ungkapan Slavoj Zizek, lebih sebagai unruhestifter ΓÇô ΓÇÿpencipta kegaduhanΓÇÖ.Peran ini sudah dihayati filsafat sejak zaman Sokrates, yakni ΓÇ£Die Jugend zu verderben, sie zu entfremden von der vorherrschenden ideologisch-politischen Ordnung, radikalen Zweifel zu sa?en und sie dazu zu befa?higen, eigensta?ndig zu denkenΓÇ¥ (ΓÇ£Mengguncang pikiran generasi muda, menjauhkan mereka dari tatanan politik ideologi mainstream, menabur keraguan radikal, dan memampukan mereka untuk berpikir mandiri.ΓÇ¥) Peran pentingSebagai unruhestifter, filsafat dapat menjalankan sekurang-kurangnya dua peran penting dalam mengatasi pendemi covid-19. Pertama, filsafat berperan mengkritisi model pembangunan ekonomi neoliberal yang telah menciptakan bencana ekologis.*Menurut perkiraan World Health Organization (WHO), setiap tahun sekitar 4,2 juta penduduk dunia meninggal akibat polusi udara (Bdk. https://www.who.int/health-topics/air-pollution#tab=tab_1). Perubahan iklim juga akan berdampak pada penambahan angka kematian sebesar 250 ribu orang dalam periode 2030- 2050. Jika tidak ada langkah radikal dalam mengubah model pembangunan, kerusakan ekosistem akan berakibat pada munculnya pandemi ganas lain di masa depan.Di hadapan sistem pembangunan yang eksploitatif dan destruktif terhadap ekologi, filsafat menampilkan kodratnya sebagai sebuah sistem berpikir subversif. Artinya, filsafat adalah sebuah metode berpikir kritis yang menentang setiap tatanan status quo.Berhadapan dengan paradigma pembangunan neoliberal mainstream, filsafat tampil sebagai sebuah kekuatan provokatif. Namun Zizek berpandangan bahwa peran subversif sangat sulit dijalankan filsafat dalam masyarakat Barat kontemporer.Alasannya, manusia modern tidak lagi hidup dalam sebuah tatanan totaliter. Tapi, masyarakat liberal yang mengajarkan: jadilah dirimu sendiri, beranilah mengungkapkan dirimu apa adanya. Jadi perbudakan justru terjadi di tengah kondisi yang seolah-olah bebas.Subjek dalam masyarakat modern, menurut Zizek, berada dalam samudera pilihan-pilihan bebas. Ia dapat bepergian ke mana saja dan mengonsumsi apa yang disukainya. Identitas personal dan kecenderungan seksual dapat selalu direkonstruksi secara baru.Seorang manajer atau pengusaha dapat mencoba pelbagai pekerjaan yang diinginkannya. Namun, pilihan-pilihan bebas itu akhirnya berubah menjadi keharusan untuk memilih dan bermuara pada jajahan atau perbudakan Ueber-Ich (superego): Kita harus terus mengonsumsi, menemukan diri secara baru, agar dapat mengikuti perkembangan supercepat masyarakat kapitalis.Akibat dari perbudakan Ueber-Ich, manusia modern terperangkap dalam budaya konsumtif dan hedonis. Guna memenuhi naluri hedonisme konsumtif masyarakat kapitalis, sistem ekonomi neoliberal melebarkan sayapnya ke negara-negara dunia ketiga yang memberi upah rendah kepada buruh dan mempekerjakan anak di pabrik-pabrik.Eksploitasi adalah sebuah keniscayaan agar roda mesin kapitalisme terus berputar. Tugas filsafat dalam kondisi seperti ini menurut Zizek ialah membuka mata generasi muda terhadap bahaya nihilisme yang berbusana kebebasan tanpa norma.Kita sedang hidup di masa krisis di mana identias kita tidak lagi berpijak pada tradisi. Suatu masa saat tak ada struktur makna dan tatanan nilai yang memampukan manusia untuk hidup melampaui prinsip hedonisme kapitalis.Kedua, filsafat memberikan pertimbangan etis atas kebijakan herd immunity untuk mengatasi pandemi covid-19. Herd immunity atau kekebalan komunitas terbentuk setelah mayoritas sembuh dari infeksi patogen. Caranya dengan vaksinasi atau membiarkan tubuh terinfeksi penyakit.