Adik-adik, jika sudah selesai membaca materi dan menyimak video "penghalang mengenal allah", silahkan didiskusikan diforum ya
Forum Diskusi
Assalamualaikim wr wb
Sofiyani(1912110105)
Izin bertanya umi
Bagaimana cara menumbuhkan motivasi untuk mewujudkan sifat yang memudahkan mengenal allah
Terima kasih
Sofiyani(1912110105)
Izin bertanya umi
Bagaimana cara menumbuhkan motivasi untuk mewujudkan sifat yang memudahkan mengenal allah
Terima kasih
waalaikaumuusalam
langkah yang prtama dengan cara Bersyukur kepada Allah TaΓÇÖla
Bagaimana mungkin seorang Muslim itu gelisah dan tidak bahagia hidupnya. Padahal, nikmat Allah mengalir dalam diri dan keidupannya dengan begitu deras dan tak pernah henti. Aid Al-Qarni dalam bukunya La Tahzan mengingatkan, ΓÇ£Ingatlah setiap nikmat yang Allah anugerahkan kepada Anda. Karena Dia telah melipatkan nikmat-Nya dari ujung rambut hingga ke bawah kedua telapak kaki.ΓÇ¥ dalam firman Allah yang artinya ΓÇ£Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).ΓÇ¥ (QS: Ibrahim [14]: 34).
Untuk itu, marilah kita berpikir dan merenung, sungguh Allah sangat memuliakan hidup kita. Bahkan, jika kita bersyukur sedikit saja misalnya, Allah sudah menyediakan buat kita tambahan nikmat yang sangat luar biasa. Sebaliknya, jika kita tidak bersyukur maka kehidupan kita akan semakin sempit, susah dan sulit.
yang kedua dengan cara selalu berprasngka baik kepada Allah. yang ketiga sabar dan iktiar kepada allah dan yang terakhir Tawakal kepada Allah. Smoga bisa dipahami ya
langkah yang prtama dengan cara Bersyukur kepada Allah TaΓÇÖla
Bagaimana mungkin seorang Muslim itu gelisah dan tidak bahagia hidupnya. Padahal, nikmat Allah mengalir dalam diri dan keidupannya dengan begitu deras dan tak pernah henti. Aid Al-Qarni dalam bukunya La Tahzan mengingatkan, ΓÇ£Ingatlah setiap nikmat yang Allah anugerahkan kepada Anda. Karena Dia telah melipatkan nikmat-Nya dari ujung rambut hingga ke bawah kedua telapak kaki.ΓÇ¥ dalam firman Allah yang artinya ΓÇ£Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).ΓÇ¥ (QS: Ibrahim [14]: 34).
Untuk itu, marilah kita berpikir dan merenung, sungguh Allah sangat memuliakan hidup kita. Bahkan, jika kita bersyukur sedikit saja misalnya, Allah sudah menyediakan buat kita tambahan nikmat yang sangat luar biasa. Sebaliknya, jika kita tidak bersyukur maka kehidupan kita akan semakin sempit, susah dan sulit.
yang kedua dengan cara selalu berprasngka baik kepada Allah. yang ketiga sabar dan iktiar kepada allah dan yang terakhir Tawakal kepada Allah. Smoga bisa dipahami ya
Assalamualaikum wr,wb umi saya Afifah Martasari (1912110124)
Umi bagaimana cara kita melawan hawa nafsu kita sendiri sedangkan saat ini kita berada di zaman yang modern yang tidak bisa kita pungkiri untuk terus mengikuti perkembangan zaman selanjutnya umi? ,terimakasih
Wassalamualaikum
Umi bagaimana cara kita melawan hawa nafsu kita sendiri sedangkan saat ini kita berada di zaman yang modern yang tidak bisa kita pungkiri untuk terus mengikuti perkembangan zaman selanjutnya umi? ,terimakasih
Wassalamualaikum
waalaikumuusalam
BULAN Ramadhan adalah momentum bagi umat manusia melatih dirinya mengendalikan hawa nafsu. Hawa nafsu adalah kecenderungan jiwa kepada sesuatu baik itu berupa kebaikan atau keburukan. Setiap ayat Al QurΓÇÖan yang menyebutkan tentang hawa nafsu selalu dalam bentuk pencelaan di samping mengingatkan agar kita tidak mengikuti dan cenderung kepadanya. Di sinilah kita ditempa oleh Allah Shubhanahu WataΓÇÖala di bulan yang suci. Bulan di mana setiap orang beriman dituntut untuk mendahulukan kewajibannya dengan mengendalikan hawa nafsunya. ebanyakan manusia tak mampu mengendalikan hawa nafsu secara proporsional, cenderung melampaui batas (israf). Yang sering terjadi adalah manusia ΓÇ£hanyutΓÇ¥ dan hanya membudak pada hawa nafsu, syahwat, dan amarahnya sehingga terperosok dalam jurang kehinaan dan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Karena itulah hawa nafsu sering dilabeli dalam konteks tercela.
Coba kita baca hadis berikut ini,
أفضلُ الْمُؤْمِنينَ إسْلاماً مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسانِهِ وَيَدِه وأفْضَلُ المُؤْمِنينَ إيمَاناً أحْسَنُهُمْ خُلُقاً وأفْضَلُ المُهاجِرِينَ مَنْ هَجَرَ مَا نَهى اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ وأفضلُ الجهادِ منْ جاهَدَ نَفْسَهُ فِي ذاتِ اللَّهِ عزّ وجَل
Mukmin yang paling utama keislamannya adalah umat Islam yang selamat dari keburukan lisan dan tangannya. Mukmin paling utama keimanannya adalah yang paling baik perilakunya. Muhajirin paling utama adalah orang yang meninggalkan larangan Allah. Jihad paling utama adalah jihad melawan nafsu sendiri karena Allah. semoga bisa dipahami
BULAN Ramadhan adalah momentum bagi umat manusia melatih dirinya mengendalikan hawa nafsu. Hawa nafsu adalah kecenderungan jiwa kepada sesuatu baik itu berupa kebaikan atau keburukan. Setiap ayat Al QurΓÇÖan yang menyebutkan tentang hawa nafsu selalu dalam bentuk pencelaan di samping mengingatkan agar kita tidak mengikuti dan cenderung kepadanya. Di sinilah kita ditempa oleh Allah Shubhanahu WataΓÇÖala di bulan yang suci. Bulan di mana setiap orang beriman dituntut untuk mendahulukan kewajibannya dengan mengendalikan hawa nafsunya. ebanyakan manusia tak mampu mengendalikan hawa nafsu secara proporsional, cenderung melampaui batas (israf). Yang sering terjadi adalah manusia ΓÇ£hanyutΓÇ¥ dan hanya membudak pada hawa nafsu, syahwat, dan amarahnya sehingga terperosok dalam jurang kehinaan dan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Karena itulah hawa nafsu sering dilabeli dalam konteks tercela.
Coba kita baca hadis berikut ini,
أفضلُ الْمُؤْمِنينَ إسْلاماً مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسانِهِ وَيَدِه وأفْضَلُ المُؤْمِنينَ إيمَاناً أحْسَنُهُمْ خُلُقاً وأفْضَلُ المُهاجِرِينَ مَنْ هَجَرَ مَا نَهى اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ وأفضلُ الجهادِ منْ جاهَدَ نَفْسَهُ فِي ذاتِ اللَّهِ عزّ وجَل
Mukmin yang paling utama keislamannya adalah umat Islam yang selamat dari keburukan lisan dan tangannya. Mukmin paling utama keimanannya adalah yang paling baik perilakunya. Muhajirin paling utama adalah orang yang meninggalkan larangan Allah. Jihad paling utama adalah jihad melawan nafsu sendiri karena Allah. semoga bisa dipahami
Assalamualaikum wr wb.
Dari materi yang telah saya baca,saya ingin bertanya umi . Berbicara mengenai penghalang kita mengenal Allah SWT, salah satunya ada kebodohan umi, yang jadi pertanyaan saya umi bagaimana cara keluarga yang merupakan lingkungan tepat anak belajar dalam menanamkan nilai nilai Islam umi padahal dikeluarga itu sendiri tidak memiliki pengetahuan tentang Islam, apa solusi terbaik yang harus dilakukan umi??
Terimakasih
Wassalamu'alaikum wr wb.
Dari materi yang telah saya baca,saya ingin bertanya umi . Berbicara mengenai penghalang kita mengenal Allah SWT, salah satunya ada kebodohan umi, yang jadi pertanyaan saya umi bagaimana cara keluarga yang merupakan lingkungan tepat anak belajar dalam menanamkan nilai nilai Islam umi padahal dikeluarga itu sendiri tidak memiliki pengetahuan tentang Islam, apa solusi terbaik yang harus dilakukan umi??
Terimakasih
Wassalamu'alaikum wr wb.
waalaikumuusaalam
Alquran sebagai kitab suci umat Islam banyak menceritakan tentang kisah-kisah sukses keluarga yang mampu mendidik anak-anaknya sehingga menjadi generasi-generasi yang tangguh, unggul, dan shaleh. Seperti kisah Nabi Ibrahim as yang sukses membina keluarganya sehingga anak keturunannya semuanya diangkat menjadi nabi dan rasul.
Alquran pun mengabadikan keluarga Imran menjadi nama surat dalam Alquran, yakni Surat Ali-ΓÇÿImran (keluarga Imran), karena keluarga ini sudah menunaikan janjinya untuk mengajari putrinya (Maryam) dengan pendidikan agama di bawah asuhan Nabi Zakaria as. Sehingga kelak dari wanita suci Maryam ini lahirlah seorang rasul, yakni Nabi Isa as. Alquran juga mengabadikan keluarga Luqman al-Hakim yang bukan nabi dan rasul menjadi Surat Luqman. Karena ia telah berhasil mendidik anaknya dan meletakkan dasar-dasar pengajaran agama dalam keluarga untuk mempersiapkan generasi-generasi yang shaleh.
Akan tetapi Alquran pun memberikan sinyalemen, bahwa setelah generasi terbaik akan datang generasi yang sangat jelek dari segi akhlak dan moralnya. Ciri-cirinya adalah generasi yang menyia-nyiakan perintah agama untuk melaksanakan shalat dan mereka pun dalam kehidupannya selalu memperturutkan hawa nafsu dengan banyak berbuat kejahatan dan kemaksiatan. Akibatnya kehidupan menjadi rusak dan ancaman kehancuran sudah berada di depan mata. Allah SWT berfirman: Artinya: ΓÇ£Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatanΓÇ¥ (QS. Maryam [19]:59).
Di sinilah pentingnya penguatan pendidikan agama dalam keluarga. Sehingga diharapkan dapat menyelamatkan anak-anak kita dari jurang kehancuran dan kehinaan. Berdasarkan petunjuk Alquran, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan dalam rangka penguatan pendidikan agama dalam keluarga, yaitu:
Pertama, memberikan dorongan dan nasihat yang baik kepada anak. Sehingga mereka senantiasa mendapatkan motivasi untuk berbuat baik dan segera kembali pada jalan yang benar sesuai dengan tuntunan agama apabila melakukan kesalahan. Sebagaimana nasihat-nasihat Luqman yang diberikan kepada anak-anaknya (lihat QS. Liqman [31]:12-19).
Kedua, membimbing melakukan pembiasaan-pembiasaan pengamalan agama di lingkungan keluarga. Misalnya membiasakan selalu berdoa, mengucapkan salam, mencium tangan orangtua, melaksanakan shalat di awal waktu, berbuat baik kepada saudara dan tetangga, serta pembiasaan-pembiasaan sikap dan perbuatan baik lainnya yang diajarkan agama.
Ketiga, menerapkan reward and punishment; yaitu hukuman dan penghargaan yang sesuai dengan tahap perkembangan jiwa anak. Sehingga anak selalu terdorong untuk melakukan kebaikan dan takut untuk melakukan keburukan. Dalam sebuah hadits Nabi pun disebutkan, ΓÇ£Perintahkanlah anak-anakmu untuk mengerjakan shalat ketika sudah berusia tujuh tahun; dan pukullah mereka apabila tidak melaksanakannya ketika sudah menginjak usia sepuluh tahunΓÇ¥. Tentu pukulan pendidikan dan kasih sayang supaya anak mengenali kewajiban dan tanggung jawabnya.
Keeempat, memberikan keteladanan; sebagai orangtua tentunya harus menjadi teladan baik bagi anak-anaknya. Sehingga pendidikan agama dalam keluarga menjadi efektif karena keteladanan yang diperlihatkan oleh orangtua. Jadi dalam melaksanakan perintah-perintah agama, selaku orangtua bukan hanya pandai menyuruh, tetapi mengajak dengan mengatakan, ΓÇ£Mari Nak! melakukan bersama-samaΓÇ¥.
Kelima, memanjatkan doa demi kebaikan dan keshalehan anak-anak kita. Selaku manusia yang namanya orangtua pasti memiliki keterbatasan, karena itu jangan lupa selalu berdoa kepada Allah SWT untuk kebaikan dan kemaslahatan keluarga serta keturunan kita. Ada doa yang diajarkan Alquran, "Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwaΓÇ¥ (QS. Al-Furqaan [25]:74).
Demikianlah di atara upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk penguatan pendidikan agama dalam keluarga. Apabila pendidikan agama ini sudah ditanamkan sejak dini kepada anak-anak kita, maka insya Allah akan menjadi bekal yang sangat berharga bagi kehidupan di masa-masa dewasa. Juga yang paling penting, dengan penguatan pendidikan agama dalam keluarga dapat menyelamatkan anak-anak kita dari ancaman kemerosotan moral dan kehancuran kehidupan di masa-masa yang akan datang.
Alquran sebagai kitab suci umat Islam banyak menceritakan tentang kisah-kisah sukses keluarga yang mampu mendidik anak-anaknya sehingga menjadi generasi-generasi yang tangguh, unggul, dan shaleh. Seperti kisah Nabi Ibrahim as yang sukses membina keluarganya sehingga anak keturunannya semuanya diangkat menjadi nabi dan rasul.
Alquran pun mengabadikan keluarga Imran menjadi nama surat dalam Alquran, yakni Surat Ali-ΓÇÿImran (keluarga Imran), karena keluarga ini sudah menunaikan janjinya untuk mengajari putrinya (Maryam) dengan pendidikan agama di bawah asuhan Nabi Zakaria as. Sehingga kelak dari wanita suci Maryam ini lahirlah seorang rasul, yakni Nabi Isa as. Alquran juga mengabadikan keluarga Luqman al-Hakim yang bukan nabi dan rasul menjadi Surat Luqman. Karena ia telah berhasil mendidik anaknya dan meletakkan dasar-dasar pengajaran agama dalam keluarga untuk mempersiapkan generasi-generasi yang shaleh.
Akan tetapi Alquran pun memberikan sinyalemen, bahwa setelah generasi terbaik akan datang generasi yang sangat jelek dari segi akhlak dan moralnya. Ciri-cirinya adalah generasi yang menyia-nyiakan perintah agama untuk melaksanakan shalat dan mereka pun dalam kehidupannya selalu memperturutkan hawa nafsu dengan banyak berbuat kejahatan dan kemaksiatan. Akibatnya kehidupan menjadi rusak dan ancaman kehancuran sudah berada di depan mata. Allah SWT berfirman: Artinya: ΓÇ£Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatanΓÇ¥ (QS. Maryam [19]:59).
Di sinilah pentingnya penguatan pendidikan agama dalam keluarga. Sehingga diharapkan dapat menyelamatkan anak-anak kita dari jurang kehancuran dan kehinaan. Berdasarkan petunjuk Alquran, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan dalam rangka penguatan pendidikan agama dalam keluarga, yaitu:
Pertama, memberikan dorongan dan nasihat yang baik kepada anak. Sehingga mereka senantiasa mendapatkan motivasi untuk berbuat baik dan segera kembali pada jalan yang benar sesuai dengan tuntunan agama apabila melakukan kesalahan. Sebagaimana nasihat-nasihat Luqman yang diberikan kepada anak-anaknya (lihat QS. Liqman [31]:12-19).
Kedua, membimbing melakukan pembiasaan-pembiasaan pengamalan agama di lingkungan keluarga. Misalnya membiasakan selalu berdoa, mengucapkan salam, mencium tangan orangtua, melaksanakan shalat di awal waktu, berbuat baik kepada saudara dan tetangga, serta pembiasaan-pembiasaan sikap dan perbuatan baik lainnya yang diajarkan agama.
Ketiga, menerapkan reward and punishment; yaitu hukuman dan penghargaan yang sesuai dengan tahap perkembangan jiwa anak. Sehingga anak selalu terdorong untuk melakukan kebaikan dan takut untuk melakukan keburukan. Dalam sebuah hadits Nabi pun disebutkan, ΓÇ£Perintahkanlah anak-anakmu untuk mengerjakan shalat ketika sudah berusia tujuh tahun; dan pukullah mereka apabila tidak melaksanakannya ketika sudah menginjak usia sepuluh tahunΓÇ¥. Tentu pukulan pendidikan dan kasih sayang supaya anak mengenali kewajiban dan tanggung jawabnya.
Keeempat, memberikan keteladanan; sebagai orangtua tentunya harus menjadi teladan baik bagi anak-anaknya. Sehingga pendidikan agama dalam keluarga menjadi efektif karena keteladanan yang diperlihatkan oleh orangtua. Jadi dalam melaksanakan perintah-perintah agama, selaku orangtua bukan hanya pandai menyuruh, tetapi mengajak dengan mengatakan, ΓÇ£Mari Nak! melakukan bersama-samaΓÇ¥.
Kelima, memanjatkan doa demi kebaikan dan keshalehan anak-anak kita. Selaku manusia yang namanya orangtua pasti memiliki keterbatasan, karena itu jangan lupa selalu berdoa kepada Allah SWT untuk kebaikan dan kemaslahatan keluarga serta keturunan kita. Ada doa yang diajarkan Alquran, "Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwaΓÇ¥ (QS. Al-Furqaan [25]:74).
Demikianlah di atara upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk penguatan pendidikan agama dalam keluarga. Apabila pendidikan agama ini sudah ditanamkan sejak dini kepada anak-anak kita, maka insya Allah akan menjadi bekal yang sangat berharga bagi kehidupan di masa-masa dewasa. Juga yang paling penting, dengan penguatan pendidikan agama dalam keluarga dapat menyelamatkan anak-anak kita dari ancaman kemerosotan moral dan kehancuran kehidupan di masa-masa yang akan datang.
Nama : ardila elis fitriyani
Npm : 1912110133
Assalamaualikum umi izin bertanya
Apakah yang di maksud dengan maradhus syahwat dan subhat. Serta mengapa kedua hal tersebut dapat menghalangi manusia untuk mengenal allah?
Sekian terimakasih
Wassalamualaikum
Npm : 1912110133
Assalamaualikum umi izin bertanya
Apakah yang di maksud dengan maradhus syahwat dan subhat. Serta mengapa kedua hal tersebut dapat menghalangi manusia untuk mengenal allah?
Sekian terimakasih
Wassalamualaikum
waalaikumuusalam
1.Maradhus syahwat adalah penykit nafsu (3:14, 45:32). Berbagai macam penyakit nafsu yang menjadi penghalang mengenal allah (pendusta, sombong , aniaya, dusta dan banyak maksiat ) penyakit ini menyebabkan allah murka sehingga menghalagi mengenal allah.
2. Maradhus Subhat (penyakit ragu2), berbagai penyakit ragu-ragu diantaranya : bodoh, ragu2, menyimpang, dan lalai yang menyebabkan seseorang menjadi tersesat, tidak tahu jalan yang benar dan lurus, sehingga menjadi penghalang mengenal allah. semoga bisa dipahami
1.Maradhus syahwat adalah penykit nafsu (3:14, 45:32). Berbagai macam penyakit nafsu yang menjadi penghalang mengenal allah (pendusta, sombong , aniaya, dusta dan banyak maksiat ) penyakit ini menyebabkan allah murka sehingga menghalagi mengenal allah.
2. Maradhus Subhat (penyakit ragu2), berbagai penyakit ragu-ragu diantaranya : bodoh, ragu2, menyimpang, dan lalai yang menyebabkan seseorang menjadi tersesat, tidak tahu jalan yang benar dan lurus, sehingga menjadi penghalang mengenal allah. semoga bisa dipahami
Nama : Dwi Intan Mutiara Sari
Npm : 1912110092
Assalamualaikum wr.wb izin bertanya umi
Kenapa umat manusia dalam mengenal ALLAH, mereka tetap bersikeras berada dijalan yang salah?
terimakasih wasallamualaikum.wr.wb
Npm : 1912110092
Assalamualaikum wr.wb izin bertanya umi
Kenapa umat manusia dalam mengenal ALLAH, mereka tetap bersikeras berada dijalan yang salah?
terimakasih wasallamualaikum.wr.wb
waalaikumussalam
kebanyakan dalam mengenal allah manusia tidak sepenuhnya mengenal allah, kebanyakn manusia mengenal allah tidak secara totalitas , sehingga bnyak manusia yang mengenal allah tetapi masih berada dijlan yang salah. ciri ciri orng yang sudah totalitas mengenal allah adalah
Pertama; Orang Yang Mengenal Allah Merasa Takut Kepada-Nya
Kedua; Orang Yang Mengenal Allah Mencurigai Dirinya Sendiri
Ketiga; Orang Yang Mengenal Allah Mengawasi Gerak-Gerik Hatinya
Keempat; Orang Yang Mengenal Allah Selalu Mengingat Akherat
Kelima; Orang Yang Mengenal Allah Tidak Tertipu Oleh Harta
Keenam ; orang yang mengenal allah akan mersakan manisnya iman
kebanyakan dalam mengenal allah manusia tidak sepenuhnya mengenal allah, kebanyakn manusia mengenal allah tidak secara totalitas , sehingga bnyak manusia yang mengenal allah tetapi masih berada dijlan yang salah. ciri ciri orng yang sudah totalitas mengenal allah adalah
Pertama; Orang Yang Mengenal Allah Merasa Takut Kepada-Nya
Kedua; Orang Yang Mengenal Allah Mencurigai Dirinya Sendiri
Ketiga; Orang Yang Mengenal Allah Mengawasi Gerak-Gerik Hatinya
Keempat; Orang Yang Mengenal Allah Selalu Mengingat Akherat
Kelima; Orang Yang Mengenal Allah Tidak Tertipu Oleh Harta
Keenam ; orang yang mengenal allah akan mersakan manisnya iman
Assalamualaikum wr.wb umi,
Izin bertanya umi,
Bagaimana kita dapat mengenal tuhan, menjadikannya sebagai sandaran dan mencintainya umi?
Terimakasih
Izin bertanya umi,
Bagaimana kita dapat mengenal tuhan, menjadikannya sebagai sandaran dan mencintainya umi?
Terimakasih
waalaikumuusalam
Allah Swt karena mengetahui terhadap segala sesuatu yang tampak dan tersembunyi serta tiada sesuatu pun yang tertutup bagi-Nya demikian juga berkuasa atas segala sesuatu. Dia merupakan sebaik-baik teman dalam segala kondisi dan sebaik-baik sahabat yang dapat dijadikan sebagai sandaran dan andalan.[3] Imam Ali As bersabda, “Tawakkal merupakan hasil keyakinan kuat kepada Allah Swt.”[4] Demikian juga barang siapa yang bersandar kepada Allah Swt yaitu bertawakkal kepada-Nya maka Allah Swt akan mencukupi baginya. Imam Ali As bersabda, “al-tawakkal khairu ‘imâdin.” Tawakkal (kepada Allah Swt) adalah sebaik-baik sandaran.[5]
Akan tetapi konsep tawakkal seperti konsep-konsep agama lainnya tertutupi dengan kabut kebodohan dan supertisi sedemikian sehingga sekelompok orang menganggap tawakkal bermakna bahwa satu-satunya pengambil keputusan adalah Allah Swt. Usaha dan upaya manusia sama sekali tidak memiliki peran dalam menentukan nasib dan mengatur kehidupannya. Sementara dari sudut pandang literatur agama, tempat bertawakkal adalah ketika manusia ingin melakukan sebuah pekerjaan. Oleh itu, tawakkal hanya bermakna ketika disertai dengan perbuatan. Allah Swt berfirman dalam al-QurΓÇÖan, ΓÇ£Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-NyaΓÇ¥ (Qs. Ali Imran [3]:159)
Rasulullah Saw kepada salah seorang Arab yang melepaskan untanya dan berkata aku bertawakkal kepada Allah bersabda, ΓÇ£Ikatlah untamu kemudian bertawakkallah.ΓÇ¥[6]
Allah Swt karena mengetahui terhadap segala sesuatu yang tampak dan tersembunyi serta tiada sesuatu pun yang tertutup bagi-Nya demikian juga berkuasa atas segala sesuatu. Dia merupakan sebaik-baik teman dalam segala kondisi dan sebaik-baik sahabat yang dapat dijadikan sebagai sandaran dan andalan.[3] Imam Ali As bersabda, “Tawakkal merupakan hasil keyakinan kuat kepada Allah Swt.”[4] Demikian juga barang siapa yang bersandar kepada Allah Swt yaitu bertawakkal kepada-Nya maka Allah Swt akan mencukupi baginya. Imam Ali As bersabda, “al-tawakkal khairu ‘imâdin.” Tawakkal (kepada Allah Swt) adalah sebaik-baik sandaran.[5]
Akan tetapi konsep tawakkal seperti konsep-konsep agama lainnya tertutupi dengan kabut kebodohan dan supertisi sedemikian sehingga sekelompok orang menganggap tawakkal bermakna bahwa satu-satunya pengambil keputusan adalah Allah Swt. Usaha dan upaya manusia sama sekali tidak memiliki peran dalam menentukan nasib dan mengatur kehidupannya. Sementara dari sudut pandang literatur agama, tempat bertawakkal adalah ketika manusia ingin melakukan sebuah pekerjaan. Oleh itu, tawakkal hanya bermakna ketika disertai dengan perbuatan. Allah Swt berfirman dalam al-QurΓÇÖan, ΓÇ£Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-NyaΓÇ¥ (Qs. Ali Imran [3]:159)
Rasulullah Saw kepada salah seorang Arab yang melepaskan untanya dan berkata aku bertawakkal kepada Allah bersabda, ΓÇ£Ikatlah untamu kemudian bertawakkallah.ΓÇ¥[6]
Nama : Fitri Aisyah
Npm. 1912110417
Assalamualaikum umi.. Bagaimana jika seseorang tidak mengenal Allah
Npm. 1912110417
Assalamualaikum umi.. Bagaimana jika seseorang tidak mengenal Allah
waalaikumussalam
jika seseorang tidak mengenal allah hidupnya akan menderita didunia dan akherat. Di akherat akan mendapatkan balasan san siksaan atas apa yang sudah ia lakukan didunia. orang yang mengenal allah hidupnya alan selamat didunia dan akhirat
jika seseorang tidak mengenal allah hidupnya akan menderita didunia dan akherat. Di akherat akan mendapatkan balasan san siksaan atas apa yang sudah ia lakukan didunia. orang yang mengenal allah hidupnya alan selamat didunia dan akhirat
Nama : Fitri Aisyah
Npm : 1912110417
Assalamualaikum ..bagaimana jika seseorang tidak mengenal Allah?
Terimakasi umi
Npm : 1912110417
Assalamualaikum ..bagaimana jika seseorang tidak mengenal Allah?
Terimakasi umi
Ijin bertanya Umi bagaimana cara menghilangkan rasa keraguan itu yang menghalangi kita untuk mengenal Allah umii
waalikumusssalam
menghilangkan rasa keraguan dengan cara selalu berbaik sangka kepada allah, menerima setiap takdir yang sudah allah berikan dan ambil pelajaran disetiap kejadian. Menyakini dengan sepenuh hati bahwa allah membrikan apa yang terbaik untuk hambaNya
menghilangkan rasa keraguan dengan cara selalu berbaik sangka kepada allah, menerima setiap takdir yang sudah allah berikan dan ambil pelajaran disetiap kejadian. Menyakini dengan sepenuh hati bahwa allah membrikan apa yang terbaik untuk hambaNya