Sila memberikan tanggapan, pertanyaan, maupun pendapat setelah membaca dan memahami materi yang sudah diberikan. Sangat diperbolehkan untuk saling berinteraksi antar mahasiswa/i dan saling menanggapi. Terima kasih.
Tempat Diskusi Pertemuan ke-7
Izin bertanya, mengapa kita perlu Penanggalan Liturgi dan bagaimanakah sejarahnya?
Terimakasih🙏
Terimakasih🙏
Izin menjawab pertanyaan shinta, konsep penanggalan liturgi sebenarnya berasal dari bangsa Israel dalam Perjanjian Lama. Dalam Imamat bab 23, Allah memberitahukan tanggal-tanggal perayaan yang sudah ditentukan-Nya dan dengan cara apa bangsa Israel harus merayakannya. Hal ini kemudian diumumkan oleh Musa kepada bangsa Israel. Dalam penanggalan tersebut, terdapat 7 hari: 6 hari untuk bekerja, dan hari ke-7 (hari Sabat/Sabtu) untuk beristirahat dan hari itu disebut sebagai hari yang dikuduskan.
Yesus sungguh-sungguh menyadari arti penanggalan dan makna hari-hari besar tersebut, dan hal ini juga diikuti oleh murid-murid-Nya. Ingatkah kalian akan besarnya kerinduan Yesus untuk makan Paskah bersama 12 murid-Nya? Perhatikan juga betapa setianya Ia dan keluarga-Nya (serta murid-murid-Nya di kemudian hari) untuk berziarah ke Yerusalem pada waktu-waktu yang telah ditentukan.
Setelah Yesus wafat dan bangkit, gereja perdana tidak lagi menekankan hari Sabat sebagai puncak dari satu minggu, melainkan hari Minggu yang merupakan Hari Tuhan, untuk menghormati hari kebangkitan Yesus. Tahun liturgi masih tetap berpuncak pada Paskah, tetapi kini Paskah kristiani, yang menjadi pesta keselamatan berkat sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus. Hari Tuhan (Minggu) dan Paskah merupakan hari-hari pesta utama bagi gereja perdana.
Secara berangsur-angsur, Gereja menambahkan hari-hari raya yang dikuduskan: hari kelahiran Yesus, hari pembabtisan-Nya, kenaikan-Nya, dll. Selain hari-hari dalam kehidupan Yesus, Gereja juga merayakan hari-hari raya santo-santa: mulai dari Santa Perawan Maria, para rasul, martir, dan santo-santa lainnya.
Yesus sungguh-sungguh menyadari arti penanggalan dan makna hari-hari besar tersebut, dan hal ini juga diikuti oleh murid-murid-Nya. Ingatkah kalian akan besarnya kerinduan Yesus untuk makan Paskah bersama 12 murid-Nya? Perhatikan juga betapa setianya Ia dan keluarga-Nya (serta murid-murid-Nya di kemudian hari) untuk berziarah ke Yerusalem pada waktu-waktu yang telah ditentukan.
Setelah Yesus wafat dan bangkit, gereja perdana tidak lagi menekankan hari Sabat sebagai puncak dari satu minggu, melainkan hari Minggu yang merupakan Hari Tuhan, untuk menghormati hari kebangkitan Yesus. Tahun liturgi masih tetap berpuncak pada Paskah, tetapi kini Paskah kristiani, yang menjadi pesta keselamatan berkat sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus. Hari Tuhan (Minggu) dan Paskah merupakan hari-hari pesta utama bagi gereja perdana.
Secara berangsur-angsur, Gereja menambahkan hari-hari raya yang dikuduskan: hari kelahiran Yesus, hari pembabtisan-Nya, kenaikan-Nya, dll. Selain hari-hari dalam kehidupan Yesus, Gereja juga merayakan hari-hari raya santo-santa: mulai dari Santa Perawan Maria, para rasul, martir, dan santo-santa lainnya.
Dari artikel lain yang saya baca dikatakan bahwa Sakramentali adalah tanda-tanda yang dari segi tanda mirip dengan tujuh sakramen namun berbeda dari beberapa segi antara lain yaitu sakramentali tidak ditetapkan Kristus sebagai sarana rahmat.
Yang ingin saya tanya kan mengapa sakramentali tidak di tetapkan Kristus sebagai sarana Rahmat?
Yang ingin saya tanya kan mengapa sakramentali tidak di tetapkan Kristus sebagai sarana Rahmat?
Pada dasarnya dalam kehidupan ada dinamika kebutuhan, ada hal hal yang dirasakan diperlukan. Maka Sakramentali adalah bentuk upaya manusia untuk menjawab kebutuhan itu. sebagaimana dijelaskan bahwa Konsili Vatikan II.
Terima kasih Clara yang sudah menanggapi pertanyaan Shinta, ayo siapa lagi yang mau menambahkan
Utk pertanyaan Shinta tentang penanggalan liturgi, sejarahnya sudah ditanggapi oleh Clara, moga2 sudah bisa mendapatkan gambaran. Mengapa kita perlu penanggalan liturgi ? Jawabanya
Penanggalan secara harafia dicptakan untuk menata kegiatan dari awal tahun sampai akhir tahun. Kalau di dalam kalender nasional diawali dengan bulan januari sampai desember, jika di Penanggalan Liturgi diawali dari bulan November. Dari penanggalan liturgi ini kita dapat melakukan kalender kehidupan dari hari kehari sesuai dengan/kaitan dengan peristiwa-peristiwa baik untuk ibadat harian, perayaan Ekaristi hari Minggu, perayaan khusus termasuk untuk penyesuaian warna liturgi, ayat-ayat Alkitab maupun mazmur tanggapan. Sehingga apa yang pelaksanaan menggereja selama satu tahun tertata dengan baik dan bisa dipedomani oleh Umat.
Penanggalan secara harafia dicptakan untuk menata kegiatan dari awal tahun sampai akhir tahun. Kalau di dalam kalender nasional diawali dengan bulan januari sampai desember, jika di Penanggalan Liturgi diawali dari bulan November. Dari penanggalan liturgi ini kita dapat melakukan kalender kehidupan dari hari kehari sesuai dengan/kaitan dengan peristiwa-peristiwa baik untuk ibadat harian, perayaan Ekaristi hari Minggu, perayaan khusus termasuk untuk penyesuaian warna liturgi, ayat-ayat Alkitab maupun mazmur tanggapan. Sehingga apa yang pelaksanaan menggereja selama satu tahun tertata dengan baik dan bisa dipedomani oleh Umat.
Izin bertanya pak. Apakah peristiwa Rosario yang direnungkan pada hari-hari tertentu harus sesuai dengan yang telah ditetapkan?
Ijin menjawab pertanyaan donni apakah peristiwa Rosario yang direnungkan pada hari-hari tertentu harus sesuai dengan yang telah ditetapkan?
Pada umumnya, Peristiwa Gembira kita renungkan pada hari Senin dan Sabtu, Peristiwa Cahaya pada hari Kamis, Peristiwa Sedih pada hari Selasa dan Jumat, dan Peristiwa Mulia pada hari Rabu dan Minggu. Tetapi, hal tersebut ditetapkan hanya sebagai pedoman umum. Artinya, peristiwa yang direnungkan tidak baku; kita bebas memilih peristiwa mana yang hendak kita renungkan atau kita anggap cocok untuk situasi tertentu. Misalnya saja, pada Masa Paskah kita cenderung merenungkan Peristiwa Mulia dan bukan Peristiwa Sedih. Contoh lain, pada saat seorang anggota keluarga meninggal, kita tidak akan merenungkan peristiwa gembira meskipun hari itu hari Senin, misalnya
Pada umumnya, Peristiwa Gembira kita renungkan pada hari Senin dan Sabtu, Peristiwa Cahaya pada hari Kamis, Peristiwa Sedih pada hari Selasa dan Jumat, dan Peristiwa Mulia pada hari Rabu dan Minggu. Tetapi, hal tersebut ditetapkan hanya sebagai pedoman umum. Artinya, peristiwa yang direnungkan tidak baku; kita bebas memilih peristiwa mana yang hendak kita renungkan atau kita anggap cocok untuk situasi tertentu. Misalnya saja, pada Masa Paskah kita cenderung merenungkan Peristiwa Mulia dan bukan Peristiwa Sedih. Contoh lain, pada saat seorang anggota keluarga meninggal, kita tidak akan merenungkan peristiwa gembira meskipun hari itu hari Senin, misalnya
izin menanggapi pertanyaan doni
Pada umumnya, peristiwa gembira kita renungkan pada hari senin dan sabtu, peristiwa cahaya pada hari Kamis, Peristiwa sedih pada hari selasa dan jum'at dan peristiwa mulia pada hari Rabu dan Minggu. Tetapi hal tersebut ditetapkan sebagai pedoman umum.Artinya, peristiwa yang di renungkan tidak Baku. kita bebas memilih peristiwa mana yang hendak kita renungkan atau kita anggap cocok untuk situasi tertentu. Misalnya saja, pada masa paskah kita cenderung merenungkan peristiwa mulia dan Bukan peristiwa sedih.contoh lain, Pada saat seorang anggota keluarga meninggal, Kita tidak akan merenungkan peristiwa gembira meskipun itu hari senin, Misalnya.
Pada umumnya, peristiwa gembira kita renungkan pada hari senin dan sabtu, peristiwa cahaya pada hari Kamis, Peristiwa sedih pada hari selasa dan jum'at dan peristiwa mulia pada hari Rabu dan Minggu. Tetapi hal tersebut ditetapkan sebagai pedoman umum.Artinya, peristiwa yang di renungkan tidak Baku. kita bebas memilih peristiwa mana yang hendak kita renungkan atau kita anggap cocok untuk situasi tertentu. Misalnya saja, pada masa paskah kita cenderung merenungkan peristiwa mulia dan Bukan peristiwa sedih.contoh lain, Pada saat seorang anggota keluarga meninggal, Kita tidak akan merenungkan peristiwa gembira meskipun itu hari senin, Misalnya.
Secara pakem pada dasarnya peristiwa yang direnungkan sesuai dengan yang ditetapkan, yaitu peristiwa gembira (senin, sabtu), peristiwa edih (selasa, jumat) , peristiwa mulia (rabu dan minggu) dan peristwa terang (kamis). Penetapan renungan peristiwa peristiwa itu mengacu fakta riel yang yang terjadi pada Maria sejak menerima khabar dari Malaikat Gibrael, dst.... samapai Maria diangkat ke Surga dan Kelahiran Yesus sampai Yesus menetapkan Ekaristi.
Ya pakem Rosario seperti yg saya uraikan sebagimana tertulis di atas, namun pada dalam kenyataan di lapangan ada masih banyak yang belum memilah-milah hanya berdasarkan kebutuahan dan kondisi, sebagaimana yang disampaikan oleh Clara dan Sinaga. Pada saat ada umat yang meninggal --> sebenarnya sudah ada acuan doanya, mulai hari pertama, ketiga, dst. tapi dalam kenyataan ada Umat yang menambahkan dengan doa Rosario dan ada yang tidak. Kembali fenomena lapangan utk Umat yang meneruskan dengan doa Rosario dalam permenungannya disesuaikan dengan kondisi.
izin bertanya pak, dalam berpuasa kita sering mendengar puasa matiraga,maksud dari berpuasa secara matiraga itu seperti apa ya pak?
trimakasih.
trimakasih.
Ijin menjawab pertanyaan intan . Matiraga adalah memperteguh hati dengan menolak segala macam kesenangan diri. Arti lainnya dari matiraga adalah menahan hawa nafsu. Jadi puasa secara matiraga adalah puasa yang memperteguh hati dengan menolak segala macam kesenangan diri serta puasa dengan menahan hawa napsu misalnya menahan haus, lapar maupun godaan apapun.
Terimakasih pertanyaannya Intan. Sudah ditanggapi oleh Clara. ya tanggapan Clara moga-moga bisa mememberikan jawaban atas pertanyya Intan