Ruang tanggapan / pertanyaan

Jumlah balasan: 8

Silakan jika ada tanggapan ataupun pertanyaan terkait materi

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Ruang tanggapan / pertanyaan

oleh Desi Aristania -
Assalamualaikum ibu saya mau bertanya, Apa yg dimaksud "Stereotip" dan juga "Prejudice" dalam prasangka sosial ?

Dan apakah terbentuknya suatu prasangka sosial harus memenuhi 4 komponen yg disebutkan atau cukup jika terpenuhi salah satu komponen diatas maka akan terbentuk suatu prasangka sosial ?
Sebagai balasan Desi Aristania

Re: Ruang tanggapan / pertanyaan

oleh Lia Indriyati -
Wa'alaikumsalam.. Desi. Sebelumnya Terima kasih atas pertanyaannya.

Baik sekali pertanyaannya.
Stereotip adalah cara pandang atau penilaian secara umum kepada seseorang/kelompok tertentu. Stereotip muncul berupa keyakinan tentang karakteristik seseorang. Nah penilaian ini cenderung diterima sebagai sebuah kebenaran oleh kelompok sosial. Contohnya adalah : Bagaimana stereotip yang melekat pada anak bungsu yg manja, tdk bisa mandiri, dll.
Contoh lain.... Stereotip mengenai perbedaan gender, wanita cenderung memiliki stereotip lebih emosional dan sensitif.

Sementara Prejudice adalah sikap negatif terhadap seseorang atau kelompok sosial tertentu, berupa sikap, perasaan, kepercayaan terhadap sebuah kelompok dan seluruh anggota kelompoknya. Prejudice bisa merupakan sesuatu yang bersifat emosional, yang akan mudah sekali menjadi pemicu terhadap munculnya ledakan sosial. Prejudice bisa terbentu karena pengaruh lingkungan ataupun pegalaman buruk terhadap kelompok tertentu. Contohnya ; adalah apa yang kadang terjadi di masyarakat kita, mengenai tampilan seorang teroris. Lalu persepsi mengenai ras kulit hitam,dll.

Komponen yang ada pada Prasangka sosial, bisa hanya berasal 1 komponen saja. Tidak harus berasal dari 4 komponen tersebut.
Demikian. Apakah bisa dipahami Desi ?
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Ruang tanggapan / pertanyaan

oleh Tri Sudarti -
Selamat sore ibu……
Terima kasih untuk materi sore ini
Saya tertarik dengan materi kita sore ini tekait interaksi sosial.
Saya meng-angan-kan, alangkah indahnya kehidupan bermasyarakat apabila tercipta hubungan yang harmoni. Meskipun ada konflik mampu diselesaikan dengan bijaksana tanpa kekerasan dan tidak merugikan satu sama lain. Tetapi apakah angan-angan ini mudah diwujudkan, mengingat begitu banyak perbedaan yang terjadi di tengah masyarkat?
Mengingat macam-macam konflik dalam masyarakat :
ΓÇó Konflik antar pribadi
ΓÇó Konflik antar etnis
ΓÇó Konflik antar golongan atau kelas sosial
ΓÇó Konflik antar ras
Saya sendiri optimis, kehidupan bersama yang harmonis akan terwujud apabila masing-masing orang keluar dari kepentinganya sendiri dan mulai memikirkan yang lain.
Tidak perlu menutut orang lain untuk memulinya, namun diri sendiri perlu memulainya. Walau belum bisa mengajak orang lain untuk melakukannya, minimal saya terus melakukan yang baik untuk kehidupan bersama.
Demikian tanggapan saya…. Terima kasih
Sebagai balasan Tri Sudarti

Re: Ruang tanggapan / pertanyaan

oleh Lia Indriyati -
Sore juga ibu Tri .... :)
Wah saya suka sekali membaca tanggapannya. Saya setuju sekali dengan pendapatnya.

Oleh karena itulah kita wajib menggali sisi Spiritual Quotient dari masing-masing diri kita (karena inilah yang akan menuntun diri kita kepada jalan kebaikan, hati nurani). Sehingga jika SQ baik maka akan menuntun diri kita memiliki Emotional Quotient yang baik. Jika SQ dan EQ baik tentunya akan tergali sisi EMPATI. Dengan empati kita akan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, ikut memikirkan kepentingan orang lain dan tidak hanya memikirkan kepentingan diri kita sendiri.
Dengan EMPATI maka akan meminimalisir konflik-konflik yang terjadi dalam masyarakat.

Semoga kita semua bisa saling mengingatkan dan merubah diri menjadi lebih baik lagi, agar tercipta kehidupan bersama yang harmonis.

Terima kasih...
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Ruang tanggapan / pertanyaan

oleh hafidh faresi ifanka -
Nama: Hafidh Faresi Ifanka
NPM:1811050151

Izin bertanya buk, Dalam kehidupan sosial saat ini Pandangan masyarakat kebanyakan berorientasi pada jabatan/status dan material(harta/properti).

Apakah ada metode tertentu dalam berinteraksi sosial untuk meminimalisir kesenjangan ataupun batasan dalam berinteraksi sosial?

Karena akan sangat sulit untuk mencapai suatu interaksi sosial jika salah satu pihak menolak untuk berinteraksi
Sebagai balasan hafidh faresi ifanka

Re: Ruang tanggapan / pertanyaan

oleh Lia Indriyati -
Terima kasih Hafidh, atas pertanyaannya.
Mengenai orientasi umumnya masyarakat kita terhadap hal-hal tersebut... itulah yang terjadi pada kenyataannya.
Namun faktanya kita tidak bisa mengendalikan pikiran orang lain, kita tidak bisa membungkam mulut orang lain dallam berpendapat dan bicara.
Interaksi sosial terjadi bila kedua belah pihak itu bersedia melakukan komunikasi timbal balik, saling membutuhkan, memiliki tujuan bersama, kesamaan konsep, kontak sosial yang baik.
Jika hal-hal tersebut tidak terpenuhi maka yang terjadi adalah konflik sosial.
Konflik sosial ada yang bida memicu perpecahan dan ada yang tidak. Sehingga diperlukan apa yang disebut sebagai Integrasi sosial. NAh metode2nya ada didalam Integrasi sosial.