Diskusi atau Tanggapan

Jumlah balasan: 10

Bagaimana pendapat kalian mengenai situasi keamanan Laut Cina Selatan di tengah pendemi Covid 19,  dalam perspektif  ketahanan nasional serta sikap bangsa Indonesia.

Berikan tanggapan kalian di forum diskusi LMS



Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi atau Tanggapan

oleh Dian Rahmawati -
Terkait situasi terkini di Laut Cina Selatan, yang mana berpotensi meningkatkan ketegangan di saat upaya kolektif global sangat dibutuhkan dalam melawan COVID-19,Saat ini negosiasi kerangka Kode Etik (Code of Conduct, CoC) terkait isu LCS antara ASEAN dan Cina tengah ditunda karena pandemi COVID-19. Indonesia menyerukan semua pihak agar menahan diri dari segala tindakan yang dapat berpotensi menggerus rasa saling percaya dan meningkatkan ketegangan di Lkawasan.
Dilansir South China Morning Post, Pemerintah Cina menegaskan bahwa pihaknya berada dalam “siaga tinggi” untuk menjaga wilayah perairannya. Hal ini menyusul masuknya kapal-kapal milik AS ke wilayah LCS sebagai bentuk penolakan terhadap klaim ekspansif Cina.
Pihak AS menyatakan, kapal penjelajah USS Bunker Hill tengah melakukan ΓÇ£operasi kebebasan bernavigasiΓÇ¥ di Kepulauan Spratly. Sehari sebelumnya kapal perusak USS Barry melakukan operasi serupa di Kepulauan Paracel Kedua wilayah tersebut merupakan titik panas sengketa teritorial antara Cina dengan negara-negara tetangganya.
Tak mau kalah, Cina lalu menggelar latihan kapal perang di wilayah Kepulauan Sparatly, dengan alasan meningkatkan kemampuan pengawalan terhadap kapal dagang Cina atas ancaman pembajakan.
Sebelumnya pada awal April, sebuah kapal penangkap ikan milik Vietnam tenggelam di perairan Kepulauan Paracel setelah ditabrak oleh Kapal Penjaga Pantai Cina. Selain itu, Cina mengirim kapal penelitian Haiyang Dizhi 8 di perairan sekitar. Kapal itu dilengkapi juga dengan persenjataan sebagai sarana keamanan.
Dalam hal ini Indonesia menegaskan akan menjaga perdamaian dan stabilitas di Laut Cina Selatan di tengah pandemi COVID-19. Indonesia mendorong semua pihak menahan diri dari tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi atau Tanggapan

oleh anggita sari -
Indonesia menyatakan keprihatinannya terkait situasi terkini di Laut Cina Selatan, yang mana berpotensi meningkatkan ketegangan di saat upaya kolektif global sangat dibutuhkan dalam melawan COVID-19
Cina siaga tinggi
Pemerintah Cina menegaskan bahwa pihaknya berada dalam ΓÇ£siaga tinggiΓÇ¥ untuk menjaga wilayah perairannya. Hal ini menyusul masuknya kapal-kapal milik AS ke wilayah LCS sebagai bentuk penolakan terhadap klaim ekspansif Cina.
Tak mau kalah, Cina lalu menggelar latihan kapal perang di wilayah Kepulauan Sparatly, dengan alasan meningkatkan kemampuan pengawalan terhadap kapal dagang Cina atas ancaman pembajakan.
Indonesia menegaskan akan menjaga perdamaian dan stabilitas di Laut Cina Selatan di tengah pandemi COVID-19. Indonesia mendorong semua pihak menahan diri dari tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan.
Indonesia melalui solidaritas bersama ASEAN juga harus mampu meredam masuknya kekuatan lain dalam permasalahan Laut Cina Selatan
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi atau Tanggapan

oleh Ivo Wijaya Sidauruk -
Untuk keperluan diskusi, ketahanan negara terhadap bencana dapat didefinisikan sebagai kemampuan suatu negara untuk bersiap menghadapi bencana besar, untuk merespon dan segera memulihkan setiap gangguan yang terjadi untuk kembali ke kondisi normal.

Dibutuhkan perspektif yang tepat untuk menjelaskan apakah suatu negara memiliki ketahanan terhadap bencana besar. Perspektif pertama tentu saja bencana itu sendiri. Ketika sebuah bencana besar datang, kita umumnya tidak dapat memprediksi seberapa besar fatalitasnya.

Masih ingat ketika tsunami 2004 terjadi? Jumlah kematian meningkat pesat hanya dalam hitungan hari.

Untuk kasus Covid-19, meskipun jumlah kematian yang terjadi masih jauh di bawah dibandingkan bencana tsunami 2004 yang dahsyat itu, jumlah orang yang terinfeksi dan jumlah kematian terus meningkat dari hari ke hari. Kita pun khawatir sampai kapan ini akan berlangsung sebelum angka-angka itu mulai turun
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi atau Tanggapan

oleh Dian Novita -
Indonesia menegaskan akan menjaga perdamaian dan stabilitas di Laut Cina Selatan di tengah pandemi COVID-19. Indonesia mendorong semua pihak menahan diri dari tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan.

Pemerintah Indonesia menyatakan prihatin atas situasi saat ini.
ΓÇ£Indonesia menyatakan keprihatinannya terkait situasi terkini di Laut Cina Selatan, yang mana berpotensi meningkatkan ketegangan di saat upaya kolektif global sangat dibutuhkan dalam melawan COVID-19,ΓÇ¥
Menlu Retno Marsudi menegaskan pentingnya menjaga perdamaian dan stabilitas di LCS. “Termasuk memastikan kebebasan navigasi dan penerbangan, serta mendorong semua pihak untuk menghormati hukum internasional laut, khususnya Konvensi Hukum Laut PBB
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi atau Tanggapan

oleh Annisa Andini -
berbicara mengenai perairan,Indonesia Sebagai negara kepulauan terbesar dunia, posisi geografis Indonesia membentang pada koordinat 6 LU ΓÇô 11.08ΓÇÖ LS dan 95 BT ΓÇô 141.45ΓÇÖ BT dan terletak di antara dua benua, Asia di utara, Australia di Selatan, dan dua samudera yaitu Hindia/Indonesia di barat dan Pasifik di timur. Dalam perspektif geopolitik, bentangan posisi geografis ini tentu saja menjadikan Indonesia sebagai Negara yang memiliki bargaining power dan bargaining positionstrategis dalam percaturan dan hubungan antar bangsa, baik dalam lingkup kawasan maupun global. Salah satunya peraliran cina selatan, yang saat ini Situasi di Laut Cina Selatan memanas. Cina semakin berani mengklaim wilayah-wilayah perairan milik negara lain di sana. Berbagai taktik dilakukan mulai dari melarang pencarian ikan, menenggelamkan kapal, hingga membentuk wilayah administrasi baru secara sepihak. Salah satu insiden yang masih hangat adalah insiden West Capella, bulan lalu di perairan Malaysia. Di tengah pengeboran lepas laut, yang dilakukan kapal West Capella, Cina mengirimkan kapal survei dan coast guard untuk melakukan pemindaian. Menganggapnya sebagai langkah provokasi, Malaysia mengirim kapal Angkatan Laut-nya ke lokasi yang sama.

Dalam insiden tersebut, Amerika ikut terlibat. Dengan kapal perang yang dimiliki, mereka mengawal kapal Angkatan Laut Malaysia, menegaskan dukungan kepada negara-negara ASEAN. Mereka menyebutnya sebagai "presence operation", mengingatkan Cina bahwa ada Amerika juga di Laut Cina Selatan. Reed B. Werner, Deputy Assistant Secretary of Defense untuk wilayah ASEAN, dari Kementerian Pertahanan Amerika, bercerita banyak soal situasi di Laut Cina Selatan. Tak berhenti di situ, ia juga memperingatkan Indonesia soal Cina yang semakin agresif, bahkan di tengah pandemi Corona (COVID-19). Pemerintah Indonesia sendiri sudah menaruh perhatian khusus terhadap situasi di Laut Cina Selatan. Komitmen pemerintah sendiri adalah mewujudkan wilayah Laut Cina Selatan yang bebas dari konflik, menghormati wilayah perairan masing-masing, dan menjunjung penyelesaian masalah secara damai,
Selain itu pemerintah juga terus memonitor aktivitas China mulai dari pengerahan armada, kapal survey, hingga kapal coast guard. Hal itu termasuk ketika mereka mengganggu pengeboran lepas laut oleh Kapal Malaysia.
Selain itu dari pihak pemerintah sendiri atau Indonesia juga menegaskan kembali keberatannya yang kuat terhadap apa yang disebut 'hak bersejarah China' atas ZEE Indonesia. Karena Klaim bersejarah China berdasarkan aktivitas perikanan yang sudah lama dilakukan di ZEE Indonesia tidak memiliki dasar hukum dan tidak diakui di bawah UNCLOS (United Nations Convention for the Law of the Sea atau Konvensi Hukum Laut PBB). "Argumen bersejarah ini" telah diperiksa secara seksama dan ditolak oleh SCS Tribunal 2016."

Masalah RI dan China dimulai awal pekan ini saat Kemlu RI menyampaikan protes keras pada China. Pasalnya kapal nelayan dan Penjaga Pantai (Coast Guard) China telah memasuki wilayah kedaulatan Indonesia di perairan Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau.
Sebagai tanggapan atas hal ini, pemerintah juga telah memanggil Duta Besar China di Jakarta dan menyampaikan nota diplomatik pada China terkait masalah ini dan berupaya untuk mendorong semua pihak menahan diri dari tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi atau Tanggapan

oleh Fitri Aisyah -
Assalamualaikum..

Indonesia bukan negara claimant state. Akan tetapi situasi yang terjadi di Laut China Selatan berdampak terhadap Indonesia. Pasalnya Indonesia berbatasan langsung dengan Laut China Selatan. Mau tidak mau atau suka tidak suka, Indonesia berbatasan langsung dengan Laut China Selatan, sehingga yang terjadi di sana berdampak secara langsung dan tidak langsung dengan hak Indonesia atas kedaulatannya.

Indonesia harus mengambil sikap yang bijaksana dalam merespons situasi keamanan di Laut China Selatan (LCS). Caranya, melalui jalur diplomasi sebagaimana langkah yang pernah diambil di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).


1. Indonesia harus mampu mempersatukan dan menggalang dukungan seluruh Negara-Negara ASEAN. Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar di ASEAN sekaligus penggagas berdirinya ASEAN harus menaikkan kembali pamor ASEAN dalam penyelesaian sengketa di Laut Cina Selatan yang melibatkan Cina dan beberapa negara Asia Tenggara

2. Indonesia melalui solidaritas bersama ASEAN, harus mampu meredam masuknya kekuatan lain dalam permasalahan LCS karena akan memunculkan potensi perang terbuka di perairan China Selatan. 

3. Badan Keamanan Laut (Bakamla), Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan TNI Angkatan Laut perlu meningkatkan sistem pertahanan laut dan udara di Perairan Natuna Utara. 

4. Pemerintah harus memperkuat TNI, baik dari segi anggaran agar mampu memberi daya gertak kepada Negara yang memasuki perairan Indonesia.
Pemerintah Indonesia juga harus menggiatkan peningkatan kapasitas nelayan dan pembudidaya ikan hingga mencapai tingkat kesejahteraan yang diharapkan di Perairan Natuna Utara. 

Penyelesaian masalah ini berhubungan dengan politik, hukum, hubungan luar negeri, sampai ekonomi dan pembangunan di wilayah yang sering dipersengketakan. Pemerintah harus mengedepankan diplomasi dengan semangat million friends and zero enemy dan tetap memperkuat militer di Perairan Natuna Utara. Mari jaga Natuna Utara, jaga Laut Indonesia
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi atau Tanggapan

oleh Aprian Herwansyah -
A. Situasi Laut Cina Selatan Pada Pandemi Covid 19

Pandemi Covid-19 nyatanya tak menghentikan konflik di Laut Cina Selatan. Cadangan minyak bumi dan gas alam, sumber daya perikanan yang melimpah, serta jalur pelayaran yang ramai membuat beberapa negara saling berebut wilayah ini.
Tiongkok mengaku sebagai pemilik hampir seluruh kawasan Laut Cina Selatan. Masalahnya, Vietnam, Brunei, Malaysia, dan Filipina juga mengklaim hal yang sama. Indonesia pun memiliki kawasan yang berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan, yakni di Kepulauan Natuna.
Dinamika geopolitik di wilayah ini terus terjadi. Akibatnya adalah beberapa insiden yang terjadi antara keenam negara. Terakhir, Kementerian Luar Negeri Vietnam menyatakan bahwa dua kapal Tiongkok menyerang kapal nelayan mereka. Mereka menyita peralatan dan hasil tangkapan nelayan Vietnam di Laut Cina Selatan.
Keriuhan di perairan ini makin menjadi ketika Amerika Serikat (AS) turut memanaskan suasana. Angkatan Udara AS menerbangkan pesawat pembom B-1B dan drone mata-mata Global Hawk di atas Laut Cina Selatan.
Karena konflik ini makin membesar akhirnya diputuskan untuk melakukan negosiasi kerangka kode etik terkait konflik laut cina selatan ini antara keenam negara tersebut.


B. Sikap Indonesia

Sementara AS dengan aktif terlibat, Indonesia justru mengambil jarak. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi kembali menegaskan bahwa Indonesia tidak memiliki sengketa wilayah kemaritiman dengan Tiongkok di Laut Cina Selatan.
Saat ini negosiasi kerangka Kode Etik (Code of Conduct, CoC) terkait isu LCS antara ASEAN dan Cina tengah ditunda karena pandemi COVID-19. Indonesia menyerukan semua pihak agar menahan diri dari segala tindakan yang dapat berpotensi menggerus rasa saling percaya dan meningkatkan ketegangan di kawasan.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi atau Tanggapan

oleh Herdanti Tri -
Mentalitas terhadap risiko tersebut harus ditinggalkan ketika berhadapan dengan bencana, termasuk pandemi Covid-19 saat ini. Kita bisa melihat bagaimana bencana di masa lalu telah membuat kita gagap dan tidak berdaya. Gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir yang berulang kali meluluhlantahkan kita. Dan sekarang virus corona yang bisa disebut sebagai peristiwa angsa hitam.

Tidak ada yang mengharapkan kedatangannya; itu adalah peristiwa yang hampir mustahil. Ketika pun terjadi, hal tersebut menyebabkan bencana yang mengerikan dan orang-orang tidak dapat menjelaskan mengapa itu terjadi. Harus diakui bahwa kita adalah makhluk yang selalu tidak siap menghadapi bencana besar. Kesadaran akan pentingnya penanggulangan bencana hanya muncul ketika suatu bencana telah terjadi. Dan ketika itu terjadi, semuanya seperti terlambat, jatuhnya korban sulit untuk dihindari dan dampaknya akan berlangsung untuk waktu yang lama. Ini adalah tantangan setiap negara, termasuk Indonesia.

Dibutuhkan perspektif yang tepat untuk menjelaskan apakah suatu negara memiliki ketahanan terhadap bencana besar. Perspektif pertama tentu saja bencana itu sendiri. Ketika sebuah bencana besar datang, kita umumnya tidak dapat memprediksi seberapa besar fatalitasnya.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi atau Tanggapan

oleh Aprian Herwansyah -
A. Situasi Laut Cina Selatan Pada Pandemi Covid 19

Pandemi Covid-19 nyatanya tak menghentikan konflik di Laut Cina Selatan. Cadangan minyak bumi dan gas alam, sumber daya perikanan yang melimpah, serta jalur pelayaran yang ramai membuat beberapa negara saling berebut wilayah ini.
Tiongkok mengaku sebagai pemilik hampir seluruh kawasan Laut Cina Selatan. Masalahnya, Vietnam, Brunei, Malaysia, dan Filipina juga mengklaim hal yang sama. Indonesia pun memiliki kawasan yang berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan, yakni di Kepulauan Natuna.
Dinamika geopolitik di wilayah ini terus terjadi. Akibatnya adalah beberapa insiden yang terjadi antara keenam negara. Terakhir, Kementerian Luar Negeri Vietnam menyatakan bahwa dua kapal Tiongkok menyerang kapal nelayan mereka pada Rabu pekan lalu. Mereka menyita peralatan dan hasil tangkapan nelayan Vietnam di Laut Cina Selatan.
Keriuhan di perairan ini makin menjadi ketika Amerika Serikat (AS) turut memanaskan suasana. Angkatan Udara AS menerbangkan pesawat pembom B-1B dan drone mata-mata Global Hawk di atas Laut Cina Selatan.
Karena konflik ini makin membesar akhirnya diputuskan untuk melakukan negosiasi kerangka kode etik terkait konflik laut cina selatan ini antara keenam negara tersebut.


B. Sikap Indonesia

Sementara AS dengan aktif terlibat, Indonesia justru mengambil jarak. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi kembali menegaskan bahwa Indonesia tidak memiliki sengketa wilayah kemaritiman dengan Tiongkok di Laut Cina Selatan.
Saat ini negosiasi kerangka Kode Etik (Code of Conduct, CoC) terkait isu LCS antara ASEAN dan Cina tengah ditunda karena pandemi COVID-19. Indonesia menyerukan semua pihak agar menahan diri dari segala tindakan yang dapat berpotensi menggerus rasa saling percaya dan meningkatkan ketegangan di kawasan Laut Cina Selatan
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi atau Tanggapan

oleh Fella Auly Nanda -
Tidak ada yang mengharapkan kedatangannya, itu adalah peristiwa yang hampir mustahil. Ketika pun terjadi, hal tersebut menyebabkan bencana yang mengerikan dan orang-orang tidak dapat menjelaskan mengapa itu terjadi.
Harus diakui bahwa kita adalah makhluk yang selalu tidak siap menghadapi bencana besar. Kesadaran akan pentingnya penanggulangan bencana hanya muncul ketika suatu bencana telah terjadi. Dan ketika itu terjadi, semuanya seperti terlambat, jatuhnya korban sulit untuk dihindari dan dampaknya akan berlangsung untuk waktu yang lama, Ini adalah tantangan setiap negara, termasuk Indonesia.
Untuk kasus Covid-19, meskipun jumlah kematian yang terjadi masih jauh di bawah dibandingkan bencana tsunami 2004 yang dahsyat itu, jumlah orang yang terinfeksi dan jumlah kematian terus meningkat dari hari ke hari. Kita pun khawatir sampai kapan ini akan berlangsung sebelum angka-angka itu mulai turun.
Pandemi virus corona terjadi pada saat hubungan AS-China sedang surut.
Kesepakatan perdagangan parsial hampir tidak terpampang karena ketegangan antara kedua negara. Baik China dan AS tengah mempersenjatai diri kembali, secara terbuka mempersiapkan konflik di Asia Pasifik di masa mendatang.
China muncul, setidaknya dalam konteks regional, sebagai kekuatan super militer dan kini China menghendaki status lebih luas lagi di kancah internasional.
Pandemi itu kemudian mengancam hubungan AS-China ke tingkat yang lebih sulit. Ini bisa memiliki pengaruh penting bagi keberlangsungan krisis dan dunia.
Ketika virus ini dikalahkan, kebangkitan ekonomi China akan memainkan peran penting dalam membantu membangun kembali ekonomi global yang hancur.
Tetapi untuk saat ini, bantuan Cina sangat penting dalam memerangi virus corona.
Data dan pengalaman medis perlu terus dibagikan. China juga merupakan produsen besar peralatan medis dan barang sekali pakai seperti masker dan pakaian pelindung, yang penting untuk menangani pasien yang terinfeksi dan barang yang diperlukan sangat banyak jumlahnya.
China dalam banyak hal merupakan bengkel manufaktur medis dunia, yang mampu memperluas produksi dengan cara yang hanya dilakukan beberapa negara.
China menggunakan jaringannya dalam penanganan pandemi untuk mencoba menetapkan parameter hubungan dengan negara-negara lain di masa depan - mungkin di mana China cepat menjadi "kekuatan penting".
Indonesia percaya bahwa situasi kondusif di Laut Cina Selatan dapat mendukung jalannya proses negosiasi CoC. Maka dari itu, kami tetap berkomitmen untuk memastikan negosiasi CoC efektif, substantif, dan dapat terlaksana terlepas pandemi COVID-19, Cina siaga tinggi Dilansir South China Morning Post, Pemerintah Cina menegaskan bahwa pihaknya berada dalam ΓÇ£siaga tinggiΓÇ¥ untuk menjaga wilayah perairannya. Hal ini menyusul masuknya kapal-kapal milik AS ke wilayah LCS sebagai bentuk penolakan terhadap klaim ekspansif Cina.