Mari Aktifkan Forum ini...
Tempatnya diskusi disini... (ditunggu ya)
Sebagai balasan Kiriman pertama
Re: Tempatnya diskusi disini... (ditunggu ya)
oleh nabila Puspita Putri -
3 Macam Strategi Penetapan Harga Ekonomi informasi (information economics) adalah konsep yang menjelaskan seberapa jauh tingkat ekonomis sebuah investasi system dan teknologi informasi berguna bagi perusahaan tersebut. Konsep ini diperkenalkan sudah sejak tahun 1988 oleh marylin parker dan robert benson
1. Strategi Penetapan Harga Berdasarkan Biaya
Metode ini adalah yang paling standar dan paling banyak digunakan, metode ini menentukan harga berdasarkan total biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi produk yang dijual, dan menambahkan sejumlah persentase tertentu sebagai laba. Ada 4 kategori dalam penetapan harga berdasarkan biaya, yakni:
1. Strategi Penetapan Harga Berdasarkan Biaya
Metode ini adalah yang paling standar dan paling banyak digunakan, metode ini menentukan harga berdasarkan total biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi produk yang dijual, dan menambahkan sejumlah persentase tertentu sebagai laba. Ada 4 kategori dalam penetapan harga berdasarkan biaya, yakni:
- Cost-Plus Pricing Method ΓÇô yaitu penetapan harga jual per unit berdasarkan jumlah biaya per unit ditambah jumlah tertentu sebagai laba atau margin (harga jual = biaya total + laba)
- MarkΓÇôup Pricing ΓÇô yaitu penetapan harga yang sering digunakan oleh pedagang perantara atau reseller/dropshipper dengan menambahkan harga beli dengan sejumlah laba tertentu (harga jual = harga beli + laba/markup)
- Fixed Fee Pricing ΓÇô yakni penetapan harga berdasarkan jumlah biaya yang dikeluarkan oleh produsen produk tersebut ditambah sejumlah fee yang telah disepakati, jadi laba yang diperoleh tidak mempengaruhi harga jual barang
- Target Pricing ΓÇô yakni penetapan harga yang dilakukan berdasarkan tingkat pengembalian investasi (ROI) sesuai dengan target yang diinginkan.
Strategi Penetapan Harga Berdasarkan Kebutuhan/Keinginan
Strategi ini lebih mengutamakan kondisi ataupun kebutuhan konsumen. Strategi ini memungkinkan adanya perbedaan harga meskipun produknya sama, akibat beberapa faktor tertentu seperti letak geografis, waktu, dan sebagainya. Ada 2 macam kategori dalam strategi ini, yakni:
- Price Sensitivity Meter (PSM) ΓÇô yakni strategi penetapan harga yang dilakukan dengan tujuan untuk melakukan pendekatan terhadap kebutuhan/permintaan konsumen. Metode ini didasari persepsi konsumen terhadap nilai/value produk yang diterima, apakah sebanding atau tidak. Untuk mengetahui apakah value suatu produk dapat diterima oleh konsumen, Anda bisa mengukurnya dengan PSM.
- Diskriminasi Harga ΓÇô yakni kebijakan untuk menentukan harga jual yang berbeda-beda untuk satu jenis produk yang sama dalam satu segmen pasar. Beberapa faktor yang bisa mempengaruhi diskriminasi harga misalnya wilayah, konsumen, waktu, kualitas, dan bentuk produk.
Strategi ini menyoroti harga produk sejenis yang dikeluarkan oleh industri pesaing Anda. Ada dua metode yang bisa digunakan, yakni:
- Perceived Value Fixing ΓÇô yakni penetapan harga jual berdasarkan harga jual rata-rata produk sejenis.
- Sealed Bid Pricing ΓÇô yakni penetapan harga jual berdasarkan penawaran yang diajukan oleh pesaing.
Ekonomi informasi adalah cabang dari teori microeconomic yang mempelajari bagaimana informasi dan sistem informasi mempengaruhi ekonomi dan keputusan ekonomi. Informasi memiliki karakteristik khusus. Sangat mudah untuk membuat, tetapi sulit untuk percaya. Sangat mudah untuk menyebar tetapi sulit untuk mengontrol. Ini mempengaruhi banyak keputusan. Ini karakteristik khusus (dibandingkan dengan jenis lain barang) menyulitkan banyak teori ekonomi standar.
Saat ini, sebagian besar perusahaan mau menginvestasikan 2%, sampai 10%-15% hasil dari revenue mereka untuk IT. Dari jumlah investasi demikian, perusahaan mengharapkan output yang dapat dihasilkan oleh IT semaksimal mungkin. Pengelolaan ekonomi yang diinvestasikan untuk bidang IT adalah sebuah ilmu yang perlu dipelajari untuk tiap perusahaan agar IT yang mereka bangun dan kembangkan tidak menjadi sia ΓÇô sia, atau mungkin kurang dapat berjalan dengan semestinya.
Teknik atau alat ΓÇô alat yang dipakai dalam ekonomi informasi:
A. Return on investment, mendapat keuntungan sesuai dengan jumlah modal yang diinvestasikan perusahaan untuk keperluan IT (balik modal)
B. Strategy match, dengan menggunakan IT perusahaan dapat lebih dinamis dalam membuat strategi.
C. Competitive match, dengan menggunakan IT, perusahaan akan lebih unggul bersaing dengan perusahaan serupa yang tidak menggunakan IT / tradisional.
D. Management information, perusahaan lebih mudah mengatur dan mengorganisir informasi, data, dan record karena sudah terintegrasi.
E. Competitive response, perusahaan lebih unggul dengan adanya feedback dari pihak lain melalui IT.
F. Strategic is architecture, dengan pembangunan IT yang baik, maka akan mempengaruhi strategi perusahaan juga.
beberapa manfaat yang akan didapatkan.
1. Meningkatkan efektivitas penggunaan informasi di dalam bisnis. Dengan pengelolaan informasi yang terorganisir, proses pengambilan dan penyimpanan data akan semakin mudah dan cepat. Sehingga informasi dapat mengalir dalam suatu organisasi dengan lancar yang berakibat proses bisnis akan lebih baik.
2. Memberikan insentif bagi industri. Jika perusahaan berani menginvestasi di bidang IT, IT akan menjadi aset yang berharga dan diharapkan kedepan dapat memberi profit yang lebih baik bagi perusahaan.
3. Meningkatkan kemampuan informasi. Informasi antar departemen dalam suatu organisasi akan lebih baik dan terintegrasi. Kemampuan informasi yang baik ini akan meningkatkan proses bisnis.
https://www.xendit.co/id/blog/3-macam-strategi-penetapan-harga-yang-perlu-anda-ketahui/
https://proverbsme.wordpress.com/2014/03/13/ekonomi-informasi/
1.      Menjabarkan risiko
Probabilitas
Probabilitas merupakan kecenderungan suatu hasil tertentu akan terjadi. Penafsiran mengenai probabilitas dapat bergantun pada sifat dari kejadian tidak terduga tersebut, pada keyakinan dari orang-orang atau keduanya.
Nilai yang Diharapkan
Nilai yang diharapkan terkait dengan suatu situasi yang tidakpasti merupakan rata-rata tertimbang dari imbaan (payoff) atau nilai yang terkai dengan seluruh kemungkinan hasil. Probabilitas dari setiap hasil digunakan sebagai bobot. Dengan demikian, nilai yang diharapkan menilai ukuran pemusatan imbalan atau nilai yang kita harapkan secara rata-rata.
Variabilitas
Variabilitas adalah derajat dimana kemungkinan hasil dari situasi yang tidak pasti berbeda-beda. Mengukur variabilitas dengan menghitung dviasi standar yaitu akar kuadrat dari rata-rata kuadrat simppangan imbalan yang terkait dengan setiap hasil dari nilai yang dihrapkannya. Konsep standar deviasi berlaku sama persis ketika terdapat banyak hasil ketimbang dua saja.
Pengambilan Keputusan
Sikap seseorang terhadap risiko banyak memengaruhi keputusan yang dibuatnya. Sikap terhadap risiko memengaruhi kesediaan seseorang untuk melanggar peraturan dan bagaimana hal ini berdampak pada nilai benda yang sebaiknya dikenakan atas berbagai pelanggaran. Setelah itu mengembangkan teori pilihan konsumen engan mengamati preferensi risik secara lebih mendetail.
2.      Preferensi Terhadap Risiko
Untuk mengukur nilai dalam bentuk nilai gunanya, harus menghitung utilitas yang diharapkan E(u) yang dapat diperoleh. Utilitas yang diharapkan adalah penjumlahan utilitas terkait dengan seluruh kemungkinan hasil, dibobokan oleh probabilitas bahwa setiap hasil aka muncul. Utilitas marginal dijabarkan sebagai kepuasan tambahan  yan diperoleh dengan mengkonsumsi tambahan unit suatu barang.
Preferensi Berbeda Terhadap Risiko
Orang-orang berbeda kesediaaya dalam menanggung risiko. Sbagian penghindar risiko, sebagian menyukainya dan sebagian lagi netral. Seorang penghindar risiko leih memilih sejumlah pendapatan tetap tertentu daripada pendapatan berisiko dengan nilai yang diharapkan yang sama. Menghindari risiko adalah sikap yang paling lumrah terhadap risiko. Bagi seorang penghindar risiko, kerugian lebih dipertimbangkan ketimbang manfaat. Seseorang yang netral terhadap risiko lebih menghiraukan antara pendapatan yang pasti dan pendapatan yang tidak pasti dengan nilai yang diharapkan sama.
1.      Mengurangi Risiko
Diversifikasi
Diversifikasi adalah praktek dalam mengurangi risiko dengan mengalokasikan sumber daya ke berbagai kegiatan yang hasinya sudah saling terkait
Asuransi
Membeli asuransi menjamin sesesorang untuk memiliki pendapatan yang sama baik terjadi kerugian atau tidak, karena biaya asuransi sama dengan ekspektasi kerugian, pendapatan pasti tersebut sama dengan ekspektasi pendapatn dari situasi berisiko.  Bagi konsumen penghindar risiko, jaminan adanya pendapatan yang sama tanpa memandang hasil ang timbul memberikan lebih banyakk utilitas daripada jika seseorang tersebut memilliki pendapatan tinggi ketika tidak terjadi kerugian dan jika seseorang berpendapatanrendah ketika terjadi kerugian.
Konsumen biasanya membeli asuransi dari perusahaan yang memang menghususkan diri pada bidang itu. Dengan beroperasi dalam skala   besar perusahaan asuransi dapat yakin dibayatkan akan sama dengan total yang diberikan.
Nilai Informasi
Nilai ingormasi lengkap adalah selisih antara nilai yang diharapkn suatu pilihan ketika terdapat informasi lengkap dan nilai yang diharpkan ketika informasi tidak lengkap. Tanpa ada informasi yang lengkap, anda dapat memberikan pesanan yng tepat tnp menghirukn penjualan di masa depan
2.      Permintaan atas Aset Berisiko
Sebagian besar orang adalah penghindar risiko. Jika diberikan satu pilihan, mereka lebih suka meilih pendapatan tetap bulanan, meskipun sama besarnya secara rata-rata dibandingkan denga pendapatan yang fluktuatif dari bulan ke bulan. Meskipun demikian banyak dari orang-orang penghindar risiko berinvestasi dalam ppasar saham yang justru berisiko dapat menghilanngkan sebagian atau bahkan seluruh investasi mereka.
Aset
Aset adalah sesuatu yang memberikan aliran dana atau jasa bagi pemiliknya. Rumah, bangunan apartemen, rekening tabungan atau saham digeneral motors merupakan aset. Aliran uang yang diterima seseorang dari adanya kepemilikan aset dapat berup pembyarn eksplisit. Mislnya pendapatan sewa atas bangunan apartemen:setiap bulan, pemilik bangunan menerima uang sewa dari penyewa. Tetapi terkadang liran uang dari kepemillikan suatu aset bersifat implisit berupa peningkatan atau penurunan harga atau nilai aset. Peningkatan nilai suatu aset adalah keuntungan modal: penguranganya adalah kerugian modal.
Aset Berisiko dan Tanpa Risiko
Aset berisiko memberikan aliran dana yang sebagian bersifat acak. Dengan kata lain, aliran dana tidak diketahui ssecara pasti sebelumnya sebalik ya aset tanpa risiko memberikan aliran dana yang diketahui secar pasti. Obligasi pemerintah AS jangka pendek-disebut dengan treasury bills bersifat tanpa risiko atau hampir tidak berisiko.
Pengembalian Aset
Orang-orang membeli dan memegang aset karena memberikan aliran dana. Pengembalian suatu aset adalah aliran dana total yang dihasilkan termasuk keuntungan atau kerugian modal sebagai bagian kecil dari hargannya. Ketika orang-orang menginvestasikan  tabungan mereka pada saham, obligasi tanah atauu aset lain, mereka biasanya berharap mendapatkan pengembalian yang melebihi tingkat inflasi. Oleh karena itu dengan menunda konsumsi, mereka daoat emberi lebih banyak dimasa mendatang ketimbang menghabiskan seluruh pendaptn mereka sekarang.
Pengembalian Yang Diharapkan dan Pengembalian Aktual
Pengembalian yang diharapkan dari suatu aset merupakan nilai yang diharapkan dari suatu aset mungkin lebih tinggi ketimbang pengembalian yang diharapkannya dan pada tahun lain yang lebih rendah. Akan tetapi, selamaperiode panjang. Pengembalian rata-rata biasanya mendekati pengembalian yang diharapkan.
Trade-Off antara Risiko dan Pengembalian
Pengembalian bebeas risiko pada T-bill sebagai Rf karena pengembaliannya bebas risiko, pengembalian yang diharapkan dan aktualnya juga demikian. Selain itu, kita menyatakan penembalian yang diharapkan dari investasi paada pasar saham sebagaii Rm dan pengembalian aktuallnya rm. pengembalian aktualnya berisiko. Pada saat mengambil keputusan investasi. Kita mengetahui sejumlah kemungkinan hasil dan kecenderungannya, tetap kita tidak mengetahui hasil apa ang akan terjadi. Aset berisik oakan memiliki ekspektasi peengembalian yang lebih tinggi ketimbang aset bebas risiko (Rm > Rf) jika tidak, investor penghindar risiko hanya akan membeli T-bill dan tidak ada saham yang dijual.
Portofolilo Investasi
Untuk menentukan berapa banyak dana yang sebaiknya ditanamkan investor pada setiap aset, kita atur b sama dengan bagian dari tabungan individu terseabut yang ditanamkan papda saham dan (1-b) sebagai-bagian yang digunakan untuk membeli ‘T-bill. Rf = bRm+(1-b)R1 ­–engan aljabar tertentu, kita dapat melihat bahwa deviasi standar dari portofolio op (dengan satu aset berisiko dan satu aset bebas risiko) merupakan baggian dari portofolio yang diinvestasikan oada aset berisiko dikalikan dengan deviasi standar dari asset tersebut op=bom
Permasalahan Pilihan Investor
Untuk pengembalan  yang diharapkan pada portofolio dapt ditulis kembali sebagai berikut Rp=Rf + b(Rm-Rf)
Dapat dilihat bahwa b =om/om sehingga Rp=Rf + 
Risiko dan Garis Anggaran
Persamaan ini merupakan garis anggaran karena mengembangkan tarik-ulur antara risiko (p) dan pengembalian yang diharapkan (Rf). karena Rf, Rm, om adalah koonsttan, kemiringan (Rm – Rf)/om adalah konstanta, pada titik potong Rf. persamaan ini menyatakan pahwa pengembalian yang diharapkan pada portofolio Rp meningkat ketika deviasi standar pengembalian op tersebut juga meningkat.
Risiko dan Kurva Indiferensi
3.      Gelembung  (Bubble)
Gelembung adalah peningkatan harga suatu barang yang tidak didasarkan pada permintaan atau nilai, melaikan pada keyakinan bahwa harga akan selalu meningkat. Gelembung seringkali diakibatkan oleh perilaku irasional.. orang-orang berhenti berpikir jernih, mereka membeli sesuatu karena harganya teruss meningkat dan harga akan senantiasa meningkat,, sehigga pasti mencetak keuntungan. Gelembung seringkali tidak merugikan dalam arti bahwa meskitpun orang-orang memang kehilangan dana, tidak ada kerusakan jangka panjang bagi perekonomian secara keseluruhan.
Riam Informasi
Riam informasi adalag penilaian yang didasarkan pada tindakan orang lain yang pada gilirannya menjadi dasar keputusan tindakan orang lain. Keputusan informasi orang lain didasarkan pada informasi fundamental yang telah mereka miliki atau kputusan investasi orang lain didasarkan pada keputusan investasi yang lainnya lagi, yang didasarkan pada inormasi fundamental yang telah mereka miliki atau keputusan investasi orang lain ini didasarkan pada keputusan investasi yang lainnya lagi, yang ternyata didasarkan pada informasi fundamental yang mereka miliki atau seterusnya.
4.      Perilaku Ekonomi
Teori permintaan konsumen didasrkan pada tiga asumsi:
1.      Konsumen memiliki preferensi yang jelas atas suau barang terhadap barang lain
2.      Konsumen menghadapi kendala anggaran
3.      Dengan preferensi mereka, pendapatan yang terbatas dan harga berbagai barang, konsumen memilih untuk membeli kombinasi barang
4.      Konsumen menghadapi kendala anggaran
5.      Dengan preferensi mereka, pendapatan yang terbatas dan harga berbagai barang, konsumen memilih untuk membeli kombinasi barang yang memaksimalkan utilitas mereka.
Penyeasuaian atas model standar preferensi fan permintaan konsumen dapat dikelompokkan kedalam tiga kategori: kecenderungan untuk meniilai barang dan jasa berdasarkan situasi dimana seseorang berada, perhatian pada kewajaran transaksi ekonomi, dan pengunaan aturan umum sederhana sebagai sarana untuk menyederhanakan keputusan ekonomi yang kompleks.
Titik Referensi dan Preferensi Konsumen
Titik refereni adalah titik dimana seseorang membuat keputusan konsumsi dapat memberi dampak kuat pada keputusan tersebut. titik referensi dapat muncul atas berbagai alasan: konsumsi kita atas suatu barang dimasa lampau, pengalaman kita di pasar, ekspektasi kita mengenai bagaimana sebaiknya harga berperilaku dan bahkan dalam konteks bagaimana kita mengkonsumsi suatu barang.
Efek Kepemilikan
Efek kepemilikan adalah kecenderungan seseorang untuk memberikan nilai lebih pada suatu barang ketika dia memilikinya ketimbang tidak memilikinya. Salah satu cara menjelaskan efek ini adalah dengan mengamati celah antara harga yang bersedia dibayar  seseorang atas suatu barang dan harga barang tersebut yang bersedia dijual kepada orang lain.
Penghindaran Kerugian
Penghindaran kerugian merupakan kecenderungan seseorang untuk menghindari kerugin daripada memperoleh keuntunan.
Framing
Framing adalah kecenderungan untuk bersandar pada konteks dimana suatu pilihan dijabarkan ketika membuat satu keputusan. Bagaimana pilihan digambarkan nama yang diberikan, konteks dimana pilihan dijabarkan, dan bentuknya  dapat mempengaruhi pilihan yang dibua seseorang.
Kewajaran
Permintaan ultimatum menunjukkan bagaimana kewajaran dapat mempengaruhi keputusan ekonomi. Tidak mengherankan memang, kewajaran juga dapat mempengaruhi negosiasi antara pihak perusahaan dan tenaga kerja.
Aturan Umum dan Bias dalam Pengambil Keputusan
Banyak keputusan ekonomi bersifat kompleks terutama jika melibatkan pilihan dimana kita kurang berpengalaman dalam hal itu adapun aturan-aturan umum dan bias dalam pengambilan keputusan ini yaitu:
1.      Anchoring: kecenderungan untuk bersandar pada bagian informasi awal ketika mengambil suatu keputusan
2.      Aturan umum: yaitu cara lumrah untuk mengekonomiskan upaya yang dilakukan dalam penambilan keputusan dengan mengabaikan informasi yang tampaknya tidak penting.
Sumber : http://l-abaci.blogspot.com/2018/02/ketidak-pastian-dan-perilaku-konsumen.html?m=1
Probabilitas
Probabilitas merupakan kecenderungan suatu hasil tertentu akan terjadi. Penafsiran mengenai probabilitas dapat bergantun pada sifat dari kejadian tidak terduga tersebut, pada keyakinan dari orang-orang atau keduanya.
Nilai yang Diharapkan
Nilai yang diharapkan terkait dengan suatu situasi yang tidakpasti merupakan rata-rata tertimbang dari imbaan (payoff) atau nilai yang terkai dengan seluruh kemungkinan hasil. Probabilitas dari setiap hasil digunakan sebagai bobot. Dengan demikian, nilai yang diharapkan menilai ukuran pemusatan imbalan atau nilai yang kita harapkan secara rata-rata.
Variabilitas
Variabilitas adalah derajat dimana kemungkinan hasil dari situasi yang tidak pasti berbeda-beda. Mengukur variabilitas dengan menghitung dviasi standar yaitu akar kuadrat dari rata-rata kuadrat simppangan imbalan yang terkait dengan setiap hasil dari nilai yang dihrapkannya. Konsep standar deviasi berlaku sama persis ketika terdapat banyak hasil ketimbang dua saja.
Pengambilan Keputusan
Sikap seseorang terhadap risiko banyak memengaruhi keputusan yang dibuatnya. Sikap terhadap risiko memengaruhi kesediaan seseorang untuk melanggar peraturan dan bagaimana hal ini berdampak pada nilai benda yang sebaiknya dikenakan atas berbagai pelanggaran. Setelah itu mengembangkan teori pilihan konsumen engan mengamati preferensi risik secara lebih mendetail.
2.      Preferensi Terhadap Risiko
Untuk mengukur nilai dalam bentuk nilai gunanya, harus menghitung utilitas yang diharapkan E(u) yang dapat diperoleh. Utilitas yang diharapkan adalah penjumlahan utilitas terkait dengan seluruh kemungkinan hasil, dibobokan oleh probabilitas bahwa setiap hasil aka muncul. Utilitas marginal dijabarkan sebagai kepuasan tambahan  yan diperoleh dengan mengkonsumsi tambahan unit suatu barang.
Preferensi Berbeda Terhadap Risiko
Orang-orang berbeda kesediaaya dalam menanggung risiko. Sbagian penghindar risiko, sebagian menyukainya dan sebagian lagi netral. Seorang penghindar risiko leih memilih sejumlah pendapatan tetap tertentu daripada pendapatan berisiko dengan nilai yang diharapkan yang sama. Menghindari risiko adalah sikap yang paling lumrah terhadap risiko. Bagi seorang penghindar risiko, kerugian lebih dipertimbangkan ketimbang manfaat. Seseorang yang netral terhadap risiko lebih menghiraukan antara pendapatan yang pasti dan pendapatan yang tidak pasti dengan nilai yang diharapkan sama.
1.      Mengurangi Risiko
Diversifikasi
Diversifikasi adalah praktek dalam mengurangi risiko dengan mengalokasikan sumber daya ke berbagai kegiatan yang hasinya sudah saling terkait
Asuransi
Membeli asuransi menjamin sesesorang untuk memiliki pendapatan yang sama baik terjadi kerugian atau tidak, karena biaya asuransi sama dengan ekspektasi kerugian, pendapatan pasti tersebut sama dengan ekspektasi pendapatn dari situasi berisiko.  Bagi konsumen penghindar risiko, jaminan adanya pendapatan yang sama tanpa memandang hasil ang timbul memberikan lebih banyakk utilitas daripada jika seseorang tersebut memilliki pendapatan tinggi ketika tidak terjadi kerugian dan jika seseorang berpendapatanrendah ketika terjadi kerugian.
Konsumen biasanya membeli asuransi dari perusahaan yang memang menghususkan diri pada bidang itu. Dengan beroperasi dalam skala   besar perusahaan asuransi dapat yakin dibayatkan akan sama dengan total yang diberikan.
Nilai Informasi
Nilai ingormasi lengkap adalah selisih antara nilai yang diharapkn suatu pilihan ketika terdapat informasi lengkap dan nilai yang diharpkan ketika informasi tidak lengkap. Tanpa ada informasi yang lengkap, anda dapat memberikan pesanan yng tepat tnp menghirukn penjualan di masa depan
2.      Permintaan atas Aset Berisiko
Sebagian besar orang adalah penghindar risiko. Jika diberikan satu pilihan, mereka lebih suka meilih pendapatan tetap bulanan, meskipun sama besarnya secara rata-rata dibandingkan denga pendapatan yang fluktuatif dari bulan ke bulan. Meskipun demikian banyak dari orang-orang penghindar risiko berinvestasi dalam ppasar saham yang justru berisiko dapat menghilanngkan sebagian atau bahkan seluruh investasi mereka.
Aset
Aset adalah sesuatu yang memberikan aliran dana atau jasa bagi pemiliknya. Rumah, bangunan apartemen, rekening tabungan atau saham digeneral motors merupakan aset. Aliran uang yang diterima seseorang dari adanya kepemilikan aset dapat berup pembyarn eksplisit. Mislnya pendapatan sewa atas bangunan apartemen:setiap bulan, pemilik bangunan menerima uang sewa dari penyewa. Tetapi terkadang liran uang dari kepemillikan suatu aset bersifat implisit berupa peningkatan atau penurunan harga atau nilai aset. Peningkatan nilai suatu aset adalah keuntungan modal: penguranganya adalah kerugian modal.
Aset Berisiko dan Tanpa Risiko
Aset berisiko memberikan aliran dana yang sebagian bersifat acak. Dengan kata lain, aliran dana tidak diketahui ssecara pasti sebelumnya sebalik ya aset tanpa risiko memberikan aliran dana yang diketahui secar pasti. Obligasi pemerintah AS jangka pendek-disebut dengan treasury bills bersifat tanpa risiko atau hampir tidak berisiko.
Pengembalian Aset
Orang-orang membeli dan memegang aset karena memberikan aliran dana. Pengembalian suatu aset adalah aliran dana total yang dihasilkan termasuk keuntungan atau kerugian modal sebagai bagian kecil dari hargannya. Ketika orang-orang menginvestasikan  tabungan mereka pada saham, obligasi tanah atauu aset lain, mereka biasanya berharap mendapatkan pengembalian yang melebihi tingkat inflasi. Oleh karena itu dengan menunda konsumsi, mereka daoat emberi lebih banyak dimasa mendatang ketimbang menghabiskan seluruh pendaptn mereka sekarang.
Pengembalian Yang Diharapkan dan Pengembalian Aktual
Pengembalian yang diharapkan dari suatu aset merupakan nilai yang diharapkan dari suatu aset mungkin lebih tinggi ketimbang pengembalian yang diharapkannya dan pada tahun lain yang lebih rendah. Akan tetapi, selamaperiode panjang. Pengembalian rata-rata biasanya mendekati pengembalian yang diharapkan.
Trade-Off antara Risiko dan Pengembalian
Pengembalian bebeas risiko pada T-bill sebagai Rf karena pengembaliannya bebas risiko, pengembalian yang diharapkan dan aktualnya juga demikian. Selain itu, kita menyatakan penembalian yang diharapkan dari investasi paada pasar saham sebagaii Rm dan pengembalian aktuallnya rm. pengembalian aktualnya berisiko. Pada saat mengambil keputusan investasi. Kita mengetahui sejumlah kemungkinan hasil dan kecenderungannya, tetap kita tidak mengetahui hasil apa ang akan terjadi. Aset berisik oakan memiliki ekspektasi peengembalian yang lebih tinggi ketimbang aset bebas risiko (Rm > Rf) jika tidak, investor penghindar risiko hanya akan membeli T-bill dan tidak ada saham yang dijual.
Portofolilo Investasi
Untuk menentukan berapa banyak dana yang sebaiknya ditanamkan investor pada setiap aset, kita atur b sama dengan bagian dari tabungan individu terseabut yang ditanamkan papda saham dan (1-b) sebagai-bagian yang digunakan untuk membeli ‘T-bill. Rf = bRm+(1-b)R1 ­–engan aljabar tertentu, kita dapat melihat bahwa deviasi standar dari portofolio op (dengan satu aset berisiko dan satu aset bebas risiko) merupakan baggian dari portofolio yang diinvestasikan oada aset berisiko dikalikan dengan deviasi standar dari asset tersebut op=bom
Permasalahan Pilihan Investor
Untuk pengembalan  yang diharapkan pada portofolio dapt ditulis kembali sebagai berikut Rp=Rf + b(Rm-Rf)
Dapat dilihat bahwa b =om/om sehingga Rp=Rf + 
Risiko dan Garis Anggaran
Persamaan ini merupakan garis anggaran karena mengembangkan tarik-ulur antara risiko (p) dan pengembalian yang diharapkan (Rf). karena Rf, Rm, om adalah koonsttan, kemiringan (Rm – Rf)/om adalah konstanta, pada titik potong Rf. persamaan ini menyatakan pahwa pengembalian yang diharapkan pada portofolio Rp meningkat ketika deviasi standar pengembalian op tersebut juga meningkat.
Risiko dan Kurva Indiferensi
3.      Gelembung  (Bubble)
Gelembung adalah peningkatan harga suatu barang yang tidak didasarkan pada permintaan atau nilai, melaikan pada keyakinan bahwa harga akan selalu meningkat. Gelembung seringkali diakibatkan oleh perilaku irasional.. orang-orang berhenti berpikir jernih, mereka membeli sesuatu karena harganya teruss meningkat dan harga akan senantiasa meningkat,, sehigga pasti mencetak keuntungan. Gelembung seringkali tidak merugikan dalam arti bahwa meskitpun orang-orang memang kehilangan dana, tidak ada kerusakan jangka panjang bagi perekonomian secara keseluruhan.
Riam Informasi
Riam informasi adalag penilaian yang didasarkan pada tindakan orang lain yang pada gilirannya menjadi dasar keputusan tindakan orang lain. Keputusan informasi orang lain didasarkan pada informasi fundamental yang telah mereka miliki atau kputusan investasi orang lain didasarkan pada keputusan investasi yang lainnya lagi, yang didasarkan pada inormasi fundamental yang telah mereka miliki atau keputusan investasi orang lain ini didasarkan pada keputusan investasi yang lainnya lagi, yang ternyata didasarkan pada informasi fundamental yang mereka miliki atau seterusnya.
4.      Perilaku Ekonomi
Teori permintaan konsumen didasrkan pada tiga asumsi:
1.      Konsumen memiliki preferensi yang jelas atas suau barang terhadap barang lain
2.      Konsumen menghadapi kendala anggaran
3.      Dengan preferensi mereka, pendapatan yang terbatas dan harga berbagai barang, konsumen memilih untuk membeli kombinasi barang
4.      Konsumen menghadapi kendala anggaran
5.      Dengan preferensi mereka, pendapatan yang terbatas dan harga berbagai barang, konsumen memilih untuk membeli kombinasi barang yang memaksimalkan utilitas mereka.
Penyeasuaian atas model standar preferensi fan permintaan konsumen dapat dikelompokkan kedalam tiga kategori: kecenderungan untuk meniilai barang dan jasa berdasarkan situasi dimana seseorang berada, perhatian pada kewajaran transaksi ekonomi, dan pengunaan aturan umum sederhana sebagai sarana untuk menyederhanakan keputusan ekonomi yang kompleks.
Titik Referensi dan Preferensi Konsumen
Titik refereni adalah titik dimana seseorang membuat keputusan konsumsi dapat memberi dampak kuat pada keputusan tersebut. titik referensi dapat muncul atas berbagai alasan: konsumsi kita atas suatu barang dimasa lampau, pengalaman kita di pasar, ekspektasi kita mengenai bagaimana sebaiknya harga berperilaku dan bahkan dalam konteks bagaimana kita mengkonsumsi suatu barang.
Efek Kepemilikan
Efek kepemilikan adalah kecenderungan seseorang untuk memberikan nilai lebih pada suatu barang ketika dia memilikinya ketimbang tidak memilikinya. Salah satu cara menjelaskan efek ini adalah dengan mengamati celah antara harga yang bersedia dibayar  seseorang atas suatu barang dan harga barang tersebut yang bersedia dijual kepada orang lain.
Penghindaran Kerugian
Penghindaran kerugian merupakan kecenderungan seseorang untuk menghindari kerugin daripada memperoleh keuntunan.
Framing
Framing adalah kecenderungan untuk bersandar pada konteks dimana suatu pilihan dijabarkan ketika membuat satu keputusan. Bagaimana pilihan digambarkan nama yang diberikan, konteks dimana pilihan dijabarkan, dan bentuknya  dapat mempengaruhi pilihan yang dibua seseorang.
Kewajaran
Permintaan ultimatum menunjukkan bagaimana kewajaran dapat mempengaruhi keputusan ekonomi. Tidak mengherankan memang, kewajaran juga dapat mempengaruhi negosiasi antara pihak perusahaan dan tenaga kerja.
Aturan Umum dan Bias dalam Pengambil Keputusan
Banyak keputusan ekonomi bersifat kompleks terutama jika melibatkan pilihan dimana kita kurang berpengalaman dalam hal itu adapun aturan-aturan umum dan bias dalam pengambilan keputusan ini yaitu:
1.      Anchoring: kecenderungan untuk bersandar pada bagian informasi awal ketika mengambil suatu keputusan
2.      Aturan umum: yaitu cara lumrah untuk mengekonomiskan upaya yang dilakukan dalam penambilan keputusan dengan mengabaikan informasi yang tampaknya tidak penting.
Sumber : http://l-abaci.blogspot.com/2018/02/ketidak-pastian-dan-perilaku-konsumen.html?m=1
Sebagai balasan Kiriman pertama
Re: Tempatnya diskusi disini... (ditunggu ya)
oleh Mariana Aritonang Rajagukguk -
Jauh ketika Perang Kemerdekaan di negeri ini masih berkecamuk, Charles Mackay menulis buku berjudul Extraordinary Popular Delusions and The Madness of Crowds. Buku itu ditulis tahun 1841 dan mengulas tentang kegilaan manusia kala itu akan hal-hal gaib, tentang sihir dan ahli nujum, serta tentang gelembung (bubble) ekonomi. Buku Charles Mackay masih dicetak dan menjadi referensi hingga kini karena mengulas kegilaan manusia terhadap hal-hal yang bisa memicu pertumbuhan ekonomi yang semu, seperti misalnya South Sea Bubble (1720), Mississipi Bubble (1719), dan Tulip Mania di Belanda (1637).
Charles Mackay menulis buku itu jauh sebelum konsep ΓÇ£ekonomiΓÇ¥ dijelaskan secara matang seperti ilmu ekonomi yang kita kenal sekarang ini. Akan tetapi, ulasannya tentang risiko, ketidakpastian, dan perilaku ekonomi masih relevan. Sayangnya, meski ilmu ekonomi modern telah berkembang pesat, mengapa kejadian semacam itu terus berulang? Di Indonesia saja, berulang kali terjadi pecahnya gelembung ekonomi semu seperti demam anthurium, ikan lohan, sampai harga properti yang bisa naik hingga luar biasa mahalnya. Termasuk juga beragam skema money game, ponzi scheme, dan arisan berantai yang seakan-akan mati satu tumbuh seribu.
Mackay hidup pada jaman di mana tidak ada pemisahan yang tegas antara studi ekonomi atas pengambilan keputusan yang optimal di tengah keterbatasan dan studi tentang kondisi serta pengaruh psikologis yang memengaruhi perilaku seseorang tersebut. Pada jaman itu, ekonom ΓÇ£sepuhΓÇ¥ seperti Adam Smith pun tertarik dengan faktor-faktor influensial tersebut seperti adanya mekanisme insentif dan eksistensi pasar. Dalam setting intelektual ini, faktor-faktor psikologis yang memengaruhi perilaku manusia memegang peranan penting dalam analisis Charles Mackay.
Salah satu kontribusi penting akan perilaku manusia dalam konteks ilmu ekonomi diperkenalkan oleh Frank Knight di tahun 1921. Ia mengemukakan diferensiasi antara risiko dan ketidakpastian. Risiko adalah kondisi dimana imbalan dan probabilitas atas kejadian di masa depan dapat diketahui. Sebaliknya, ketidakpastian adalah kondisi dimana imbalan dan probabilitas akan kejadian di masa depan tidak dapat diketahui. Tentu saja, memodelkan perilaku seseorang sangatlah sulit ketika pelaku ekonomi memiliki informasi penuh tentang preferensi dan kemampuan produksi yang dimiliki oleh pelaku yang lain. Kondisi ini disebut sebagai Knightian atau radical uncertainty.
Tak lama berselang, di tahun 1936, John Maynard Keynes, yang juga bisa dibilang sebagai seorang behavioural economist, memberikan landasan akan asumsi-asumsi atas perilaku manusia. Keynes memandang bahwa kecenderungan marjinal seseorang untuk mengkonsumsi turun seiring dengan meningkatnya pendapatan. Hal ini menjadi hukum dasar psikologis yang independen terhadap keterbatasan dan pertimbangan lainnya. Keynes juga menggarisbawahi arti penting faktor-faktor subyektif seperti kebanggaan (pride) dan sifat rakus (avarice) dalam keputusan untuk menabung (saving) atau berbelanja (spending). Tak lupa, Keynes juga mengingatkan peranan ketidakpastian dalam pengambilan keputusan. Katanya, jika kita berbicara blak-blakan, kita harus mengakui bahwa dasar pengetahuan kita untuk mengestimasi yield dari jalur rel kereta, sebuah tambang tembaga, sebuah pabrik tekstil, atau sebuah bangunan di kota London sebenarnya bisa jadi sangat kecil dan terkadang tidak ada apa-apanya.
Sayangnya, ketika ilmu ekonomi berkembang lebih formal, banyak asumsi tentang perilaku yang sesungguhnya penting dalam mengambil kesimpulan dikeluarkan. Alasannya, agar model tersebut bisa diterapkan secara lebih luas pada konteks masalah, waktu, serta tempat yang berbeda. Titik puncak pergerakan paham ini ditandai oleh John von Neumann dan Oskar Morgenstern yang menguraikan tentang aksiomatisasi teori utilitas (1947). Untuk kali pertamanya mereka mendefinisikan konsep ΓÇ£rationalityΓÇ£. Sejak saat itu, selama kurun waktu 30 tahun berikutnya, para ekonom hanya berkutat pada bagaimana pelaku ekonomi yang rasional berusaha memaksimumkan utilitasnya.
Periode ini adalah titik dimana banyak kritik dilontarkan terhadap ekonom. Tidak hanya karena mereka menempatkan asumsi yang kurang realisits terkait ketiadaan unsur risiko dan ketidakpastian, tetapi juga tentang preferensi individual dan kelengkapan pasar. Secara umum, para ekonom di era pasca perang dunia terlihat tidak terlalu tertarik untuk menggambarkan fenomena yang terjadi di dunia riil. Mereka menganggap ekonomi berfungsi seperti mesin yang bekerja dengan sempurna (frictionless machine). Padahal, sekalipun sebuah ekonomi bergerak dengan rasional, selalu ada unsur perilaku, risiko, dan ketidakpastian yang terlibat di dalamnya.
Fungsi utilitas, yang merupakan bentuk paling favorit dari seluruh cabang ilmu ekonomi, sebenarnya sudah mendefinisikan konsep penghindaran risiko (risk aversion). Teorema Von Neumann dan Morgenstern juga sebenarnya sudah berusaha memasukkan elemen risiko yang pernah dijabarkan oleh Daniel Bernoulli (1738). Maurice Allais (1953) dan Daniel Ellsberg (1961) masing-masing juga mencatat adanya paradoks perilaku yang mengkritik landasan teori utilitas. Namun tetap saja, dalam banyak hal para ekonom masa itu masih belum mampu menjelaskan wawasan yang mendalam tentang risiko dan ketidakpastian seperti diuraikan oleh Charles Mackay.
Barulah di tahun 1970an George Arkelof mengulas tentang informasi asimetrik yang dapat mendorong timbulnya masalah adverse selection dengan mengambil contoh pasar mobil seken. Selanjutnya, Daniel Kahneman dan Amos Tversky mulai memperkenalkan prospect theory dan konsep judgment under uncertainty (1976). Alih-alih menanyakan bagaimana adanya risiko dan ketidakpastian memengaruhi perilaku para pelaku ekonomi yang berusaha memaksimumkan utilitasnya, seperti yang dilakukan Arkelof; Kahneman dan Tversky menanyakan bagaimana, dalam konteks dunia yang penuh dengan ketidakpastian dan risiko, seorang pelaku ekonomi bertindak. Kedua pendekatan itu kemudian menginspirasi studi-studi lebih mendalam dalam domain behavioral economics.
Sayangnya, semua upaya yang sudah dilakukan masih memiliki keterbatasan. Kebanyakan wawasan tentang behavioral economics tidak diajarkan pada mahasiswa di level sarjana yang lebih banyak berfokus pada teori utilitas. Kedua, bias permodelan, heuristik, dan informasi asimetrik masih sulit dilakukan secara matematis, menjadikan wawasan dan hikmah dari penelitian tersebut sulit dikomunikasikan kepada para pengambil kebijakan atau khalayak umum. Dan ketiga, kendati ilmu ekonomi kini sudah mampu memodelkan risiko dengan lebih baik, gagasan tentang knightian uncertainty sebenarnya belum banyak berubah sejak masa Frank Knight.
Dalam ilmu ekonomi formal, salah satu elemen yang mungkin menggambarkan bias dan ketidakpastian tercermin dalam konsep preferensi waktuΓÇôbiasanya dimasukkan dalam model ekonomi dalam bentuk faktor diskonto positif. Sejumlah argumen menjelaskan tentang preferensi waktu secara lebih bervariasi. Sebagai contoh, John Rae misalnya menganggap bahwa ketika seseorang punya pekerjaan yang mapan dan hidup di negara-negara yang sehat, mereka akan cenderung untuk lebih berhemat dan menghubungkan preferensi waktu dengan probabilitas kematian. Irving Fisher menambahkan unsur kendali diri, risiko, dan kebiasaan sebagai faktor determinan.
Menilik kembali sejarah ekonomi sejak 200 tahun lalu, setidaknya ada tiga pelajaran penting yang bisa kita ambil. Pertama, risiko dan ketidakpastian memegang peran yang signifikan dalam perilaku para pelaku ekonomiΓÇökapan pun dan dimana pun. Para ekonom selayaknya melakukan usaha yang lebih serius untuk memasukkan gagasan tentang risiko, ketidakpastian, dan perilaku ke dalam mata kuliah pengantar atau ke dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh khalayak umum.
Kedua, sebagai pelaku pasar, kita harus lebih aware terhadap asumsi yang kita gunakan terkait risiko, ketidakpastian, dan perilaku; serta bagaimana asumsi tersebut akan memengaruhi kesimpulan yang akan kita ambil. Simpangan kecil saja dari dapat mengubah atau menggeser bentuk fungsi utilitas dan menghasilkan efek yang berbedaΓÇödalam banyak kasus bisa menghasilkan kesimpulan yang bahkan dapat saling bertolak belakang.
Terakhir, akuilah bahwa terdapat banyak hal yang kita masih tidak ketahui tentang risiko, ketidakpastian, serta perilaku. Ketika membuat prediksi atau rekomendasi kebijakan, mungkin ada baiknya mengimbangi indikator kuantitatif dengan analisis kualitatif yang lebih mendalam seperti yang dilakukan oleh para ekonom terdahuluΓÇösetidaknya hingga ilmu ekonomi benar-benar bisa ΓÇ£catch upΓÇ¥ dengan realita yang ada.
( https://nofieiman.com/risiko-ketidakpastian-dan-perilaku/ ) Th 2015
PERILAKU KONSUMEN
Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian. Ketika memutuskan akan membeli suatu barang atau produk, tentu Anda sebagai konsumen selalu memikirkan terlebih dahulu barang yang akan Anda beli. Mulai dari harga, kualitas, fungsi atau kegunaan barang tersebut, dan lain sebagainya. Kegiatan memikirkan, mempertimbangkan, dan mempertanyakan barang sebelum membeli merupakan atau termasuk ke dalam perilaku konsumen. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, perilaku konsumen sangat erat kaitannya dengan pembelian dan penjualan barang dan jasa. Tentu sebagai konsumen, Anda tidak ingin salah membeli suatu produk atau jasa, maka dari itu perilaku konsumen diperlukan.
Definisi Perilaku Konsumen
Konsumsi adalah pengeluaran oleh rumah tangga atas barang dan jasa. Elemen-elemen pokok dari konsumsi di antara yang paling penting adalah perumhan, kendaraan bermotor, makanan, dan perawatan medis. Ilmu statistik menunjukkan bahwa ada keteraturan yang dapat diramalkan dalam cara orang-orang mengalokasikan pengeluaran mereka antara makanan, pakaian dan hal-hal pokok lainya.
Konsumen adalah seseorang yang menggunakan barang atau jasa. Saat ini konsumen begitu dimanjakan dengan berbagai produk yang dapat dipilih untuk memenuhi kebutuhan. Era produsen mengendalikan konsumen telah berlalu dan telah digantikan dengan era dimana konsumen memegang kendali. Konsumen yang mendikte produk apa yang seharusnya diproduksi oleh perusahaan. Perusahaan harus berfokus pada konsumen, konsumen adalah bagian terpenting dari perusahaan. Oleh karena itu perusahaan perlu mengerti bagaimana konsumenya berperilaku
Perilaku konsumen merupakan suatu proses yang berkaitan erat dengan proses pembelian, pada saat itu konsumen melakukan aktifitas-aktifitas seperti melakukan pencarian, penelitian, dan pengevaluasian produk. Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian.
Pendekatan Teori Perilaku Konsumen
Terdapat dua pendekatan terkait dengan perilaku konsumen, yaitu pendekatan niali guna (utility) kardinal dan pendekatan niali guna ordinal. Dalam pendekatan niali guna kardinal dianggap manfaat atau kenikmatan yang diperoleh seorang konsumen dapat dinyatakan secara kualitatif. Nilai guna total dapat diartikan sebagai jumlah seluruh kepuasan yang diperoleh dari mengkonsumsi sejulah barang tertentu. Sedangkan nilai guna marginal berarti penambahan (atau pengurangan) kepuasan sebagai akibat dan pertambahan (atau pengurangan) penggunaan satu unit barang tertentu.
1. Pendekatan Kardinal
Pendekatan konsumen Kardinal adalah daya guna dapat diukur dengan satuan uang atau utilitas, dan tinggi rendahnya nilai atau daya guna tergantung kepada subyek yang menilai. Pendekatan ini juga mengandung anggapan bahwa semakin berguna suatu barang bagi seseorang, maka akan semakin diminati. Pendekatan kardinal memberikan penilaian bersifat subyektif akan pemuasan kebutuhan dari suatu barang, artinya tinggi rendahnya suatu barang tergantung sudut pandang subyek yang memberikan penilaian tersebut, yang biasanya berbeda penilain dengan orang lain.
Pendekatan ini merupakan gabungan dari beberapa pendapat para ahli ekonomi aliran subyektif dari Austria seperti: Karl Menger, Hendrik Gossen, Yeavon, dan Leon Walras. Menurut pendekatan ini daya guna dapat diukur dengan satuan uang atau util, dan tinggi rendahnya nilai atau daya guna bergantung kepada subyek yang menilai.
Dalam pendekatan ini akan banyak didasari oleh suatu hukum dari tokoh terkenal, Gossen, yaitu hokum Gossen.
a. Hukum Gossen I menyatakan bahwa jika kebutuhan seseorang dipenuhi terus-menerus maka kepuasanya akan semakin menurun.
b. Hukum Gossen II menyatakan bahwa orang akan memenuhi berbagai kebutuhanya sampai mencapai intensitas yang sama. Intensitas yang sama itu ditunjukkan oleh rasio antara marginal utility dengan harga dari barang yang satu dengan rasio marginal utility dengan harga barang yang lain.
Hipotesis utama teori nilai guna atau lebih dikenal sebagai hukum nilai guna marginal yang semakin menurun, menyatakan bahwa tambahan nilai guna yang akan diperoleh seseorang dari mengkonsumsikan satu barang akan menjadi semakin sedikit apabila orang tersebut terus-menerus menambah konsumsinya pada barang tersebut.
Dalam hal pemaksimuman nilai guna total, syarat pemaksimuman nilai guna adalah jika konsumen berada dalam keadaan sebagai berikut:
a. Seseorang akan memaksimumkan niali guna dari barang-barang yang dikonsumsikannya apabila perbandingan nilai guna marginal berbagai barang tersebut adalah sama dengan perbandingan harga-harga barang tersebut.
b. Seseorang akan memaksimumkan niali guna dari barang-barang yang dikonsumsikannya apabila nialu guna marginal untuk setiap rupiah yang dikeluarkan adalah sama untuk setiap barang yang dikonsumsikan.
Dalam pendekatan teori tingkah laku konsumen melalui pendekatan kardinal terdapat sejumlah asumsi yang mesti berlaku. Berikut beberapa asumsi dari pendekatan ini yang harus terpenuhi adalah:
a. Daya guna diukur dalam satuan uang/util.
b. Konsumen bersifat rasioanal, artinya konsumen bertujuan memaksimalkan kepuasan dengan batasan pendapatanya.
c. Diminishing marginal utility, artinya tambahan utilitas yang diperoleh konsumen makin menurun dengan bertambahnya konsumsi dari komoditas tersebut.
d. Pendapatan konsumen tetap.
e. Constan marginal utility of money (daya guna marginal dari uang tetap)
f. Total utility adalah additive (melengkapi) dan independent (sendiri atau tidak terikat)
g. Barang normal dan periode konsumsi berdekatan
Walaupun pendekatan ini telah berhasil menyusun formulasi fungsi permintaan secara baik tetapi pendekatan ini masih dianggap mempunyai beberapa kelemahan. Kelemahan dan kritik terhadap pendekatan ini antara lain:
a. Sifat subyektif dari daya guna dan tidak adanya alat ukur yang tepat dan sesuai.
b. Constan marginal utility of money, semakin banyak memiliki uang maka penilaian terhadap uang itu semakin rendah.
c. Diminishing marginal utility sangat sulit diterima sebagai aksioma, sebab penilaian dari segi psikologis yang sangat sukar.
2. Pendekatan Ordinal
Dalam pendekatan Ordinal daya guna suatu barang tidak perlu diukur, cukup untuk diketahui dan konsumen mampu membuat urutan tinggi rendahnya daya guna yang diperoleh dari mengkonsumsi sekelompok barang. Dasar dari pemikiran dari pendekatan ini adalah semakin banyak barang yang dikonsumsi semakin memberikan kepuasaan terhadap konsumen. Dalam menganalisa tingkat kepuasan dalam pendekatan ini digunakan kurva Indifferen (indifferent Curve) yang menunjukkan kombinasi konsumsi dua macam barang yang memberikan tingkat kepuasan yang sama dan garis anggaran (Budget line) yang menunjukkan berbagai kombinasi dari dua macam barang yang berbeda yang dapat dibeli oleh konsumen dengan pendapatan yang terbatas.
Seperti halnya pendekatan tingkah laku konsumen melalui pendekatan kardinal, pendekatan teori tingkah laku konsumen melalui pendekatan ordinal juga memiliki sejumlah asumsi yang mesti berlaku. Beberapa asumsi yang harus ada pada pendekatan ordinal ini adalah:
a. Konsumen Rasional
b. Konsumen mempunyai pola preferensi terhadap barang yang disusun berdasarkan urutan besar kecilnya daya guna.
c. Konsumen mempunyai sejumlah uang tertentu
d. Konsumen selalu berusaha mencapai kepuasan maksimum
e. Konsumen konsisten
f. Berlaku hukum transitif
Perilaku Konsumen dan Strategi Pemasaran
Kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh produsen dan lembaga lainnya, Strategi pemasaran adalah satu-satunya variable yang dikendalikan oleh pemasar. Dalam hal ini, pemasar berusaha mempengaruhi konsumen dengan menggunakan stimuli-stimuli pemasaran seperti iklan dan sejenisnya agar konsumen bersedia memilih merek produk yang ditawarkan. Strategi pemasaran yang lazim dikembangkan oleh pemasar yaitu yang berhubungan dengan produk apa yang akan ditawarkan, penentuan harga jual, trategi promosinya dan bagaimana distribusinya.
Strategi pemasaran berlaku untuk produk dan merek tertentu dan pengaruh yang diberikan konsumen untuk melakukan pembelian yang dirancang untuk tingkat produk maupun merek agar pemasar bisa merancang strategi yang tepat dalam mempengaruhi konsumen, daasar yang digunakan harus berupa pengetahuan mengenai perilaku mereka dalam proses beli yang dialami untuk suatu kkategori produk tertentu pula.
Untuk itu perilaku konsumen berfungsi sebagai dasar pembentukan komponen-komponen strategi pemasaran yang terdiri dari segmenting, targeting dan positioning (STP).
1. Segmenting
Segmentasi pasar adalah proses identifikasai subkelompok konsumen yang memilki kesamaan dalam hal keinginan, daya beli, lokasi geografi, sikap membeli dan kebiasaan membeli.
Dalam segmentasi pasar ada empat langkah yang harus diambil yaitu:
a. Mengidentifikasi perangkat kebutuhan produk
b. Mengelpompokkan konsumen yang memilki kebutuhan yang serupa
c. Mendeskripsikan setiap kelompok
d. Memilih satu (atau lebih) segmen yang akan dilayani.
2. Targeting
Merupakan langkah untuk memilih satu atau lebih segmen yang dapat dilayanidengan baik, sehingga semua usaha pemasaran dapat difojkuskan pda segmen ini untuk keuntungan yang menjanjikan. Perusahan dapat melayani segmen sasaran dengan baik bila kiat-kiat yang dirancan sesuai dengan kemeampuan perusahan itu.
3. Positioning
Dalam usaha membuat positioning produk yang tepat, perusahaan/pemasar tidak dapat mengabaikan perilaku konsumen, terutama konsumen sasarannya.
Refrensi :
Supawi Pawenang. 2016. Modul Akuntansi Biaya. Surakarta: Uniba
http://ier-oezwah.blogspot.co.id/2015/06/teori-perilaku-konsumen.html
http://husniaalfaini.blogspot.co.id/p/softskill.html
http://www.sampoernauniversity.ac.id/bachelor-of-business/mengenali-perilaku-konsumen-lebih-cermat
http://sikodokpesek.blogspot.co.id/2015/10/makalah-teori-perilaku-konsumen.html
http://supawi-pawenang.blogspot.co.id/
( https://azizfajarb.blogspot.com/2016/11/perilaku-konsumen-ekonomi-manajerial.html ) Th 2016
Charles Mackay menulis buku itu jauh sebelum konsep ΓÇ£ekonomiΓÇ¥ dijelaskan secara matang seperti ilmu ekonomi yang kita kenal sekarang ini. Akan tetapi, ulasannya tentang risiko, ketidakpastian, dan perilaku ekonomi masih relevan. Sayangnya, meski ilmu ekonomi modern telah berkembang pesat, mengapa kejadian semacam itu terus berulang? Di Indonesia saja, berulang kali terjadi pecahnya gelembung ekonomi semu seperti demam anthurium, ikan lohan, sampai harga properti yang bisa naik hingga luar biasa mahalnya. Termasuk juga beragam skema money game, ponzi scheme, dan arisan berantai yang seakan-akan mati satu tumbuh seribu.
Mackay hidup pada jaman di mana tidak ada pemisahan yang tegas antara studi ekonomi atas pengambilan keputusan yang optimal di tengah keterbatasan dan studi tentang kondisi serta pengaruh psikologis yang memengaruhi perilaku seseorang tersebut. Pada jaman itu, ekonom ΓÇ£sepuhΓÇ¥ seperti Adam Smith pun tertarik dengan faktor-faktor influensial tersebut seperti adanya mekanisme insentif dan eksistensi pasar. Dalam setting intelektual ini, faktor-faktor psikologis yang memengaruhi perilaku manusia memegang peranan penting dalam analisis Charles Mackay.
Salah satu kontribusi penting akan perilaku manusia dalam konteks ilmu ekonomi diperkenalkan oleh Frank Knight di tahun 1921. Ia mengemukakan diferensiasi antara risiko dan ketidakpastian. Risiko adalah kondisi dimana imbalan dan probabilitas atas kejadian di masa depan dapat diketahui. Sebaliknya, ketidakpastian adalah kondisi dimana imbalan dan probabilitas akan kejadian di masa depan tidak dapat diketahui. Tentu saja, memodelkan perilaku seseorang sangatlah sulit ketika pelaku ekonomi memiliki informasi penuh tentang preferensi dan kemampuan produksi yang dimiliki oleh pelaku yang lain. Kondisi ini disebut sebagai Knightian atau radical uncertainty.
Tak lama berselang, di tahun 1936, John Maynard Keynes, yang juga bisa dibilang sebagai seorang behavioural economist, memberikan landasan akan asumsi-asumsi atas perilaku manusia. Keynes memandang bahwa kecenderungan marjinal seseorang untuk mengkonsumsi turun seiring dengan meningkatnya pendapatan. Hal ini menjadi hukum dasar psikologis yang independen terhadap keterbatasan dan pertimbangan lainnya. Keynes juga menggarisbawahi arti penting faktor-faktor subyektif seperti kebanggaan (pride) dan sifat rakus (avarice) dalam keputusan untuk menabung (saving) atau berbelanja (spending). Tak lupa, Keynes juga mengingatkan peranan ketidakpastian dalam pengambilan keputusan. Katanya, jika kita berbicara blak-blakan, kita harus mengakui bahwa dasar pengetahuan kita untuk mengestimasi yield dari jalur rel kereta, sebuah tambang tembaga, sebuah pabrik tekstil, atau sebuah bangunan di kota London sebenarnya bisa jadi sangat kecil dan terkadang tidak ada apa-apanya.
Sayangnya, ketika ilmu ekonomi berkembang lebih formal, banyak asumsi tentang perilaku yang sesungguhnya penting dalam mengambil kesimpulan dikeluarkan. Alasannya, agar model tersebut bisa diterapkan secara lebih luas pada konteks masalah, waktu, serta tempat yang berbeda. Titik puncak pergerakan paham ini ditandai oleh John von Neumann dan Oskar Morgenstern yang menguraikan tentang aksiomatisasi teori utilitas (1947). Untuk kali pertamanya mereka mendefinisikan konsep ΓÇ£rationalityΓÇ£. Sejak saat itu, selama kurun waktu 30 tahun berikutnya, para ekonom hanya berkutat pada bagaimana pelaku ekonomi yang rasional berusaha memaksimumkan utilitasnya.
Periode ini adalah titik dimana banyak kritik dilontarkan terhadap ekonom. Tidak hanya karena mereka menempatkan asumsi yang kurang realisits terkait ketiadaan unsur risiko dan ketidakpastian, tetapi juga tentang preferensi individual dan kelengkapan pasar. Secara umum, para ekonom di era pasca perang dunia terlihat tidak terlalu tertarik untuk menggambarkan fenomena yang terjadi di dunia riil. Mereka menganggap ekonomi berfungsi seperti mesin yang bekerja dengan sempurna (frictionless machine). Padahal, sekalipun sebuah ekonomi bergerak dengan rasional, selalu ada unsur perilaku, risiko, dan ketidakpastian yang terlibat di dalamnya.
Fungsi utilitas, yang merupakan bentuk paling favorit dari seluruh cabang ilmu ekonomi, sebenarnya sudah mendefinisikan konsep penghindaran risiko (risk aversion). Teorema Von Neumann dan Morgenstern juga sebenarnya sudah berusaha memasukkan elemen risiko yang pernah dijabarkan oleh Daniel Bernoulli (1738). Maurice Allais (1953) dan Daniel Ellsberg (1961) masing-masing juga mencatat adanya paradoks perilaku yang mengkritik landasan teori utilitas. Namun tetap saja, dalam banyak hal para ekonom masa itu masih belum mampu menjelaskan wawasan yang mendalam tentang risiko dan ketidakpastian seperti diuraikan oleh Charles Mackay.
Barulah di tahun 1970an George Arkelof mengulas tentang informasi asimetrik yang dapat mendorong timbulnya masalah adverse selection dengan mengambil contoh pasar mobil seken. Selanjutnya, Daniel Kahneman dan Amos Tversky mulai memperkenalkan prospect theory dan konsep judgment under uncertainty (1976). Alih-alih menanyakan bagaimana adanya risiko dan ketidakpastian memengaruhi perilaku para pelaku ekonomi yang berusaha memaksimumkan utilitasnya, seperti yang dilakukan Arkelof; Kahneman dan Tversky menanyakan bagaimana, dalam konteks dunia yang penuh dengan ketidakpastian dan risiko, seorang pelaku ekonomi bertindak. Kedua pendekatan itu kemudian menginspirasi studi-studi lebih mendalam dalam domain behavioral economics.
Sayangnya, semua upaya yang sudah dilakukan masih memiliki keterbatasan. Kebanyakan wawasan tentang behavioral economics tidak diajarkan pada mahasiswa di level sarjana yang lebih banyak berfokus pada teori utilitas. Kedua, bias permodelan, heuristik, dan informasi asimetrik masih sulit dilakukan secara matematis, menjadikan wawasan dan hikmah dari penelitian tersebut sulit dikomunikasikan kepada para pengambil kebijakan atau khalayak umum. Dan ketiga, kendati ilmu ekonomi kini sudah mampu memodelkan risiko dengan lebih baik, gagasan tentang knightian uncertainty sebenarnya belum banyak berubah sejak masa Frank Knight.
Dalam ilmu ekonomi formal, salah satu elemen yang mungkin menggambarkan bias dan ketidakpastian tercermin dalam konsep preferensi waktuΓÇôbiasanya dimasukkan dalam model ekonomi dalam bentuk faktor diskonto positif. Sejumlah argumen menjelaskan tentang preferensi waktu secara lebih bervariasi. Sebagai contoh, John Rae misalnya menganggap bahwa ketika seseorang punya pekerjaan yang mapan dan hidup di negara-negara yang sehat, mereka akan cenderung untuk lebih berhemat dan menghubungkan preferensi waktu dengan probabilitas kematian. Irving Fisher menambahkan unsur kendali diri, risiko, dan kebiasaan sebagai faktor determinan.
Menilik kembali sejarah ekonomi sejak 200 tahun lalu, setidaknya ada tiga pelajaran penting yang bisa kita ambil. Pertama, risiko dan ketidakpastian memegang peran yang signifikan dalam perilaku para pelaku ekonomiΓÇökapan pun dan dimana pun. Para ekonom selayaknya melakukan usaha yang lebih serius untuk memasukkan gagasan tentang risiko, ketidakpastian, dan perilaku ke dalam mata kuliah pengantar atau ke dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh khalayak umum.
Kedua, sebagai pelaku pasar, kita harus lebih aware terhadap asumsi yang kita gunakan terkait risiko, ketidakpastian, dan perilaku; serta bagaimana asumsi tersebut akan memengaruhi kesimpulan yang akan kita ambil. Simpangan kecil saja dari dapat mengubah atau menggeser bentuk fungsi utilitas dan menghasilkan efek yang berbedaΓÇödalam banyak kasus bisa menghasilkan kesimpulan yang bahkan dapat saling bertolak belakang.
Terakhir, akuilah bahwa terdapat banyak hal yang kita masih tidak ketahui tentang risiko, ketidakpastian, serta perilaku. Ketika membuat prediksi atau rekomendasi kebijakan, mungkin ada baiknya mengimbangi indikator kuantitatif dengan analisis kualitatif yang lebih mendalam seperti yang dilakukan oleh para ekonom terdahuluΓÇösetidaknya hingga ilmu ekonomi benar-benar bisa ΓÇ£catch upΓÇ¥ dengan realita yang ada.
( https://nofieiman.com/risiko-ketidakpastian-dan-perilaku/ ) Th 2015
PERILAKU KONSUMEN
Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian. Ketika memutuskan akan membeli suatu barang atau produk, tentu Anda sebagai konsumen selalu memikirkan terlebih dahulu barang yang akan Anda beli. Mulai dari harga, kualitas, fungsi atau kegunaan barang tersebut, dan lain sebagainya. Kegiatan memikirkan, mempertimbangkan, dan mempertanyakan barang sebelum membeli merupakan atau termasuk ke dalam perilaku konsumen. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, perilaku konsumen sangat erat kaitannya dengan pembelian dan penjualan barang dan jasa. Tentu sebagai konsumen, Anda tidak ingin salah membeli suatu produk atau jasa, maka dari itu perilaku konsumen diperlukan.
Definisi Perilaku Konsumen
Konsumsi adalah pengeluaran oleh rumah tangga atas barang dan jasa. Elemen-elemen pokok dari konsumsi di antara yang paling penting adalah perumhan, kendaraan bermotor, makanan, dan perawatan medis. Ilmu statistik menunjukkan bahwa ada keteraturan yang dapat diramalkan dalam cara orang-orang mengalokasikan pengeluaran mereka antara makanan, pakaian dan hal-hal pokok lainya.
Konsumen adalah seseorang yang menggunakan barang atau jasa. Saat ini konsumen begitu dimanjakan dengan berbagai produk yang dapat dipilih untuk memenuhi kebutuhan. Era produsen mengendalikan konsumen telah berlalu dan telah digantikan dengan era dimana konsumen memegang kendali. Konsumen yang mendikte produk apa yang seharusnya diproduksi oleh perusahaan. Perusahaan harus berfokus pada konsumen, konsumen adalah bagian terpenting dari perusahaan. Oleh karena itu perusahaan perlu mengerti bagaimana konsumenya berperilaku
Perilaku konsumen merupakan suatu proses yang berkaitan erat dengan proses pembelian, pada saat itu konsumen melakukan aktifitas-aktifitas seperti melakukan pencarian, penelitian, dan pengevaluasian produk. Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian.
Pendekatan Teori Perilaku Konsumen
Terdapat dua pendekatan terkait dengan perilaku konsumen, yaitu pendekatan niali guna (utility) kardinal dan pendekatan niali guna ordinal. Dalam pendekatan niali guna kardinal dianggap manfaat atau kenikmatan yang diperoleh seorang konsumen dapat dinyatakan secara kualitatif. Nilai guna total dapat diartikan sebagai jumlah seluruh kepuasan yang diperoleh dari mengkonsumsi sejulah barang tertentu. Sedangkan nilai guna marginal berarti penambahan (atau pengurangan) kepuasan sebagai akibat dan pertambahan (atau pengurangan) penggunaan satu unit barang tertentu.
1. Pendekatan Kardinal
Pendekatan konsumen Kardinal adalah daya guna dapat diukur dengan satuan uang atau utilitas, dan tinggi rendahnya nilai atau daya guna tergantung kepada subyek yang menilai. Pendekatan ini juga mengandung anggapan bahwa semakin berguna suatu barang bagi seseorang, maka akan semakin diminati. Pendekatan kardinal memberikan penilaian bersifat subyektif akan pemuasan kebutuhan dari suatu barang, artinya tinggi rendahnya suatu barang tergantung sudut pandang subyek yang memberikan penilaian tersebut, yang biasanya berbeda penilain dengan orang lain.
Pendekatan ini merupakan gabungan dari beberapa pendapat para ahli ekonomi aliran subyektif dari Austria seperti: Karl Menger, Hendrik Gossen, Yeavon, dan Leon Walras. Menurut pendekatan ini daya guna dapat diukur dengan satuan uang atau util, dan tinggi rendahnya nilai atau daya guna bergantung kepada subyek yang menilai.
Dalam pendekatan ini akan banyak didasari oleh suatu hukum dari tokoh terkenal, Gossen, yaitu hokum Gossen.
a. Hukum Gossen I menyatakan bahwa jika kebutuhan seseorang dipenuhi terus-menerus maka kepuasanya akan semakin menurun.
b. Hukum Gossen II menyatakan bahwa orang akan memenuhi berbagai kebutuhanya sampai mencapai intensitas yang sama. Intensitas yang sama itu ditunjukkan oleh rasio antara marginal utility dengan harga dari barang yang satu dengan rasio marginal utility dengan harga barang yang lain.
Hipotesis utama teori nilai guna atau lebih dikenal sebagai hukum nilai guna marginal yang semakin menurun, menyatakan bahwa tambahan nilai guna yang akan diperoleh seseorang dari mengkonsumsikan satu barang akan menjadi semakin sedikit apabila orang tersebut terus-menerus menambah konsumsinya pada barang tersebut.
Dalam hal pemaksimuman nilai guna total, syarat pemaksimuman nilai guna adalah jika konsumen berada dalam keadaan sebagai berikut:
a. Seseorang akan memaksimumkan niali guna dari barang-barang yang dikonsumsikannya apabila perbandingan nilai guna marginal berbagai barang tersebut adalah sama dengan perbandingan harga-harga barang tersebut.
b. Seseorang akan memaksimumkan niali guna dari barang-barang yang dikonsumsikannya apabila nialu guna marginal untuk setiap rupiah yang dikeluarkan adalah sama untuk setiap barang yang dikonsumsikan.
Dalam pendekatan teori tingkah laku konsumen melalui pendekatan kardinal terdapat sejumlah asumsi yang mesti berlaku. Berikut beberapa asumsi dari pendekatan ini yang harus terpenuhi adalah:
a. Daya guna diukur dalam satuan uang/util.
b. Konsumen bersifat rasioanal, artinya konsumen bertujuan memaksimalkan kepuasan dengan batasan pendapatanya.
c. Diminishing marginal utility, artinya tambahan utilitas yang diperoleh konsumen makin menurun dengan bertambahnya konsumsi dari komoditas tersebut.
d. Pendapatan konsumen tetap.
e. Constan marginal utility of money (daya guna marginal dari uang tetap)
f. Total utility adalah additive (melengkapi) dan independent (sendiri atau tidak terikat)
g. Barang normal dan periode konsumsi berdekatan
Walaupun pendekatan ini telah berhasil menyusun formulasi fungsi permintaan secara baik tetapi pendekatan ini masih dianggap mempunyai beberapa kelemahan. Kelemahan dan kritik terhadap pendekatan ini antara lain:
a. Sifat subyektif dari daya guna dan tidak adanya alat ukur yang tepat dan sesuai.
b. Constan marginal utility of money, semakin banyak memiliki uang maka penilaian terhadap uang itu semakin rendah.
c. Diminishing marginal utility sangat sulit diterima sebagai aksioma, sebab penilaian dari segi psikologis yang sangat sukar.
2. Pendekatan Ordinal
Dalam pendekatan Ordinal daya guna suatu barang tidak perlu diukur, cukup untuk diketahui dan konsumen mampu membuat urutan tinggi rendahnya daya guna yang diperoleh dari mengkonsumsi sekelompok barang. Dasar dari pemikiran dari pendekatan ini adalah semakin banyak barang yang dikonsumsi semakin memberikan kepuasaan terhadap konsumen. Dalam menganalisa tingkat kepuasan dalam pendekatan ini digunakan kurva Indifferen (indifferent Curve) yang menunjukkan kombinasi konsumsi dua macam barang yang memberikan tingkat kepuasan yang sama dan garis anggaran (Budget line) yang menunjukkan berbagai kombinasi dari dua macam barang yang berbeda yang dapat dibeli oleh konsumen dengan pendapatan yang terbatas.
Seperti halnya pendekatan tingkah laku konsumen melalui pendekatan kardinal, pendekatan teori tingkah laku konsumen melalui pendekatan ordinal juga memiliki sejumlah asumsi yang mesti berlaku. Beberapa asumsi yang harus ada pada pendekatan ordinal ini adalah:
a. Konsumen Rasional
b. Konsumen mempunyai pola preferensi terhadap barang yang disusun berdasarkan urutan besar kecilnya daya guna.
c. Konsumen mempunyai sejumlah uang tertentu
d. Konsumen selalu berusaha mencapai kepuasan maksimum
e. Konsumen konsisten
f. Berlaku hukum transitif
Perilaku Konsumen dan Strategi Pemasaran
Kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh produsen dan lembaga lainnya, Strategi pemasaran adalah satu-satunya variable yang dikendalikan oleh pemasar. Dalam hal ini, pemasar berusaha mempengaruhi konsumen dengan menggunakan stimuli-stimuli pemasaran seperti iklan dan sejenisnya agar konsumen bersedia memilih merek produk yang ditawarkan. Strategi pemasaran yang lazim dikembangkan oleh pemasar yaitu yang berhubungan dengan produk apa yang akan ditawarkan, penentuan harga jual, trategi promosinya dan bagaimana distribusinya.
Strategi pemasaran berlaku untuk produk dan merek tertentu dan pengaruh yang diberikan konsumen untuk melakukan pembelian yang dirancang untuk tingkat produk maupun merek agar pemasar bisa merancang strategi yang tepat dalam mempengaruhi konsumen, daasar yang digunakan harus berupa pengetahuan mengenai perilaku mereka dalam proses beli yang dialami untuk suatu kkategori produk tertentu pula.
Untuk itu perilaku konsumen berfungsi sebagai dasar pembentukan komponen-komponen strategi pemasaran yang terdiri dari segmenting, targeting dan positioning (STP).
1. Segmenting
Segmentasi pasar adalah proses identifikasai subkelompok konsumen yang memilki kesamaan dalam hal keinginan, daya beli, lokasi geografi, sikap membeli dan kebiasaan membeli.
Dalam segmentasi pasar ada empat langkah yang harus diambil yaitu:
a. Mengidentifikasi perangkat kebutuhan produk
b. Mengelpompokkan konsumen yang memilki kebutuhan yang serupa
c. Mendeskripsikan setiap kelompok
d. Memilih satu (atau lebih) segmen yang akan dilayani.
2. Targeting
Merupakan langkah untuk memilih satu atau lebih segmen yang dapat dilayanidengan baik, sehingga semua usaha pemasaran dapat difojkuskan pda segmen ini untuk keuntungan yang menjanjikan. Perusahan dapat melayani segmen sasaran dengan baik bila kiat-kiat yang dirancan sesuai dengan kemeampuan perusahan itu.
3. Positioning
Dalam usaha membuat positioning produk yang tepat, perusahaan/pemasar tidak dapat mengabaikan perilaku konsumen, terutama konsumen sasarannya.
Refrensi :
Supawi Pawenang. 2016. Modul Akuntansi Biaya. Surakarta: Uniba
http://ier-oezwah.blogspot.co.id/2015/06/teori-perilaku-konsumen.html
http://husniaalfaini.blogspot.co.id/p/softskill.html
http://www.sampoernauniversity.ac.id/bachelor-of-business/mengenali-perilaku-konsumen-lebih-cermat
http://sikodokpesek.blogspot.co.id/2015/10/makalah-teori-perilaku-konsumen.html
http://supawi-pawenang.blogspot.co.id/
( https://azizfajarb.blogspot.com/2016/11/perilaku-konsumen-ekonomi-manajerial.html ) Th 2016
Ria septilia
1712110010
Ketidak Pastian Dan Perilaku Konsumen
1. Menjabarkan risiko
Probabilitas
Probabilitas merupakan kecenderungan suatu hasil tertentu akan terjadi. Penafsiran mengenai probabilitas dapat bergantun pada sifat dari kejadian tidak terduga tersebut, pada keyakinan dari orang-orang atau keduanya.
Nilai yang Diharapkan
Nilai yang diharapkan terkait dengan suatu situasi yang tidakpasti merupakan rata-rata tertimbang dari imbaan (payoff) atau nilai yang terkai dengan seluruh kemungkinan hasil. Probabilitas dari setiap hasil digunakan sebagai bobot. Dengan demikian, nilai yang diharapkan menilai ukuran pemusatan imbalan atau nilai yang kita harapkan secara rata-rata.
Secara umum jika terdapat dua kemungkinan hasil dengan imbalan X1 dan X2 serta apabila probabilitas dari setiap hasil dinyatakan oleh pr1 ¬dan pr2 maka nilai yang diharapkan adalah ;
E (X) = pr1x1 + pr2x2
Ketika terdapat dua kemungkinan hasil dengan imbalan n, nilai yang diharapkan menjadi
E(X) pr1x1 + pr2x2 +…. + prnxn
Variabilitas
Variabilitas adalah derajat dimana kemungkinan hasil dari situasi yang tidak pasti berbeda-beda. Mengukur variabilitas dengan menghitung dviasi standar yaitu akar kuadrat dari rata-rata kuadrat simppangan imbalan yang terkait dengan setiap hasil dari nilai yang dihrapkannya. Konsep standar deviasi berlaku sama persis ketika terdapat banyak hasil ketimbang dua saja.
Pengambilan Keputusan
Sikap seseorang terhadap risiko banyak memengaruhi keputusan yang dibuatnya. Sikap terhadap risiko memengaruhi kesediaan seseorang untuk melanggar peraturan dan bagaimana hal ini berdampak pada nilai benda yang sebaiknya dikenakan atas berbagai pelanggaran.
2. Preferensi Terhadap Risiko
Untuk mengukur nilai dalam bentuk nilai gunanya, harus menghitung utilitas yang diharapkan E(u) yang dapat diperoleh. Utilitas yang diharapkan adalah penjumlahan utilitas terkait dengan seluruh kemungkinan hasil, dibobokan oleh probabilitas bahwa setiap hasil aka muncul.
Preferensi Berbeda Terhadap Risiko
Menghindari risiko adalah sikap yang paling lumrah terhadap risiko. Bagi seorang penghindar risiko, kerugian lebih dipertimbangkan ketimbang manfaat.
Premi risiko merupakan jumlah uang maksimum yang dibayarkan oleh individu penghinar risiko aar tidak mengambil risiko.
1. Mengurangi Risiko
Diversifikasi
Diversifikasi adalah praktek dalam mengurangi risiko dengan mengalokasikan sumber daya ke berbagai kegiatan yang hasinya sudah saling terkait
Asuransi
Membeli asuransi menjamin sesesorang untuk memiliki pendapatan yang sama baik terjadi kerugian atau tidak, karena biaya asuransi sama dengan ekspektasi kerugian, pendapatan pasti tersebut sama dengan ekspektasi pendapatn dari situasi berisiko.
Nilai Informasi
Nilai ingormasi lengkap adalah selisih antara nilai yang diharapkn suatu pilihan ketika terdapat informasi lengkap dan nilai yang diharpkan ketika informasi tidak lengkap. Tanpa ada informasi yang lengkap, anda dapat memberikan pesanan yng tepat tnp menghirukn penjualan di masa depan
2. Permintaan atas Aset Berisiko
Sebagian besar orang adalah penghindar risiko.
Aset
Aset adalah sesuatu yang memberikan aliran dana atau jasa bagi pemiliknya. Rumah, bangunan apartemen, rekening tabungan atau saham digeneral motors merupakan aset.
Peningkatan nilai suatu aset adalah keuntungan modal: penguranganya adalah kerugian modal.
Aset Berisiko dan Tanpa Risiko
Aset berisiko memberikan aliran dana yang sebagian bersifat acak.
Pengembalian Aset
Pengembalian suatu aset adalah aliran dana total yang dihasilkan termasuk keuntungan atau kerugian modal sebagai bagian kecil dari hargannya. Ketika orang-orang menginvestasikan tabungan mereka pada saham, obligasi tanah atauu aset lain, mereka biasanya berharap mendapatkan pengembalian yang melebihi tingkat inflasi.
Pengembalian Yang Diharapkan dan Pengembalian Aktual
Pengembalian yang diharapkan dari suatu aset merupakan nilai yang diharapkan dari suatu aset mungkin lebih tinggi ketimbang pengembalian yang diharapkannya dan pada tahun lain yang lebih rendah
Trade-Off antara Risiko dan Pengembalian
Pengembalian bebeas risiko pada T-bill sebagai Rf karena pengembaliannya bebas risiko, pengembalian yang diharapkan dan aktualnya juga demikian. Selain itu, kita menyatakan penembalian yang diharapkan dari investasi paada pasar saham sebagaii Rm dan pengembalian aktuallnya rm.
Portofolilo Investasi
Untuk menentukan berapa banyak dana yang sebaiknya ditanamkan investor pada setiap aset, kita atur b sama dengan bagian dari tabungan individu terseabut yang ditanamkan papda saham dan (1-b) sebagai-bagian yang digunakan untuk membeli ‘T-bill. Rf = bRm+(1-b)R1 ¬–engan aljabar tertentu, kita dapat melihat bahwa deviasi standar dari portofolio op (dengan satu aset berisiko dan satu aset bebas risiko) merupakan baggian dari portofolio yang diinvestasikan oada aset berisiko dikalikan dengan deviasi standar dari asset tersebut op=bom
3. Gelembung (Bubble)
Gelembung adalah peningkatan harga suatu barang yang tidak didasarkan pada permintaan atau nilai, melaikan pada keyakinan bahwa harga akan selalu meningkat.
Riam Informasi
Riam informasi adalag penilaian yang didasarkan pada tindakan orang lain yang pada gilirannya menjadi dasar keputusan tindakan orang lain.
4. Perilaku Ekonomi
Teori permintaan konsumen didasrkan pada tiga asumsi:
1. Konsumen memiliki preferensi yang jelas atas suau barang terhadap barang lain
2. Konsumen menghadapi kendala anggaran
3. Dengan preferensi mereka, pendapatan yang terbatas dan harga berbagai barang, konsumen memilih untuk membeli kombinasi barang
4. Konsumen menghadapi kendala anggaran
5. Dengan preferensi mereka, pendapatan yang terbatas dan harga berbagai barang, konsumen memilih untuk membeli kombinasi barang yang memaksimalkan utilitas mereka.
Titik Referensi dan Preferensi Konsumen
Titik refereni adalah titik dimana seseorang membuat keputusan konsumsi dapat memberi dampak kuat pada keputusan tersebut. ti
Efek Kepemilikan
Efek kepemilikan adalah kecenderungan seseorang untuk memberikan nilai lebih pada suatu barang ketika dia memilikinya ketimbang tidak memilikinya.
Penghindaran Kerugian
Penghindaran kerugian merupakan kecenderungan seseorang untuk menghindari kerugin daripada memperoleh keuntunan.
Framing
Framing adalah kecenderungan untuk bersandar pada konteks dimana suatu pilihan dijabarkan ketika membuat satu keputusan. B
1712110010
Ketidak Pastian Dan Perilaku Konsumen
1. Menjabarkan risiko
Probabilitas
Probabilitas merupakan kecenderungan suatu hasil tertentu akan terjadi. Penafsiran mengenai probabilitas dapat bergantun pada sifat dari kejadian tidak terduga tersebut, pada keyakinan dari orang-orang atau keduanya.
Nilai yang Diharapkan
Nilai yang diharapkan terkait dengan suatu situasi yang tidakpasti merupakan rata-rata tertimbang dari imbaan (payoff) atau nilai yang terkai dengan seluruh kemungkinan hasil. Probabilitas dari setiap hasil digunakan sebagai bobot. Dengan demikian, nilai yang diharapkan menilai ukuran pemusatan imbalan atau nilai yang kita harapkan secara rata-rata.
Secara umum jika terdapat dua kemungkinan hasil dengan imbalan X1 dan X2 serta apabila probabilitas dari setiap hasil dinyatakan oleh pr1 ¬dan pr2 maka nilai yang diharapkan adalah ;
E (X) = pr1x1 + pr2x2
Ketika terdapat dua kemungkinan hasil dengan imbalan n, nilai yang diharapkan menjadi
E(X) pr1x1 + pr2x2 +…. + prnxn
Variabilitas
Variabilitas adalah derajat dimana kemungkinan hasil dari situasi yang tidak pasti berbeda-beda. Mengukur variabilitas dengan menghitung dviasi standar yaitu akar kuadrat dari rata-rata kuadrat simppangan imbalan yang terkait dengan setiap hasil dari nilai yang dihrapkannya. Konsep standar deviasi berlaku sama persis ketika terdapat banyak hasil ketimbang dua saja.
Pengambilan Keputusan
Sikap seseorang terhadap risiko banyak memengaruhi keputusan yang dibuatnya. Sikap terhadap risiko memengaruhi kesediaan seseorang untuk melanggar peraturan dan bagaimana hal ini berdampak pada nilai benda yang sebaiknya dikenakan atas berbagai pelanggaran.
2. Preferensi Terhadap Risiko
Untuk mengukur nilai dalam bentuk nilai gunanya, harus menghitung utilitas yang diharapkan E(u) yang dapat diperoleh. Utilitas yang diharapkan adalah penjumlahan utilitas terkait dengan seluruh kemungkinan hasil, dibobokan oleh probabilitas bahwa setiap hasil aka muncul.
Preferensi Berbeda Terhadap Risiko
Menghindari risiko adalah sikap yang paling lumrah terhadap risiko. Bagi seorang penghindar risiko, kerugian lebih dipertimbangkan ketimbang manfaat.
Premi risiko merupakan jumlah uang maksimum yang dibayarkan oleh individu penghinar risiko aar tidak mengambil risiko.
1. Mengurangi Risiko
Diversifikasi
Diversifikasi adalah praktek dalam mengurangi risiko dengan mengalokasikan sumber daya ke berbagai kegiatan yang hasinya sudah saling terkait
Asuransi
Membeli asuransi menjamin sesesorang untuk memiliki pendapatan yang sama baik terjadi kerugian atau tidak, karena biaya asuransi sama dengan ekspektasi kerugian, pendapatan pasti tersebut sama dengan ekspektasi pendapatn dari situasi berisiko.
Nilai Informasi
Nilai ingormasi lengkap adalah selisih antara nilai yang diharapkn suatu pilihan ketika terdapat informasi lengkap dan nilai yang diharpkan ketika informasi tidak lengkap. Tanpa ada informasi yang lengkap, anda dapat memberikan pesanan yng tepat tnp menghirukn penjualan di masa depan
2. Permintaan atas Aset Berisiko
Sebagian besar orang adalah penghindar risiko.
Aset
Aset adalah sesuatu yang memberikan aliran dana atau jasa bagi pemiliknya. Rumah, bangunan apartemen, rekening tabungan atau saham digeneral motors merupakan aset.
Peningkatan nilai suatu aset adalah keuntungan modal: penguranganya adalah kerugian modal.
Aset Berisiko dan Tanpa Risiko
Aset berisiko memberikan aliran dana yang sebagian bersifat acak.
Pengembalian Aset
Pengembalian suatu aset adalah aliran dana total yang dihasilkan termasuk keuntungan atau kerugian modal sebagai bagian kecil dari hargannya. Ketika orang-orang menginvestasikan tabungan mereka pada saham, obligasi tanah atauu aset lain, mereka biasanya berharap mendapatkan pengembalian yang melebihi tingkat inflasi.
Pengembalian Yang Diharapkan dan Pengembalian Aktual
Pengembalian yang diharapkan dari suatu aset merupakan nilai yang diharapkan dari suatu aset mungkin lebih tinggi ketimbang pengembalian yang diharapkannya dan pada tahun lain yang lebih rendah
Trade-Off antara Risiko dan Pengembalian
Pengembalian bebeas risiko pada T-bill sebagai Rf karena pengembaliannya bebas risiko, pengembalian yang diharapkan dan aktualnya juga demikian. Selain itu, kita menyatakan penembalian yang diharapkan dari investasi paada pasar saham sebagaii Rm dan pengembalian aktuallnya rm.
Portofolilo Investasi
Untuk menentukan berapa banyak dana yang sebaiknya ditanamkan investor pada setiap aset, kita atur b sama dengan bagian dari tabungan individu terseabut yang ditanamkan papda saham dan (1-b) sebagai-bagian yang digunakan untuk membeli ‘T-bill. Rf = bRm+(1-b)R1 ¬–engan aljabar tertentu, kita dapat melihat bahwa deviasi standar dari portofolio op (dengan satu aset berisiko dan satu aset bebas risiko) merupakan baggian dari portofolio yang diinvestasikan oada aset berisiko dikalikan dengan deviasi standar dari asset tersebut op=bom
3. Gelembung (Bubble)
Gelembung adalah peningkatan harga suatu barang yang tidak didasarkan pada permintaan atau nilai, melaikan pada keyakinan bahwa harga akan selalu meningkat.
Riam Informasi
Riam informasi adalag penilaian yang didasarkan pada tindakan orang lain yang pada gilirannya menjadi dasar keputusan tindakan orang lain.
4. Perilaku Ekonomi
Teori permintaan konsumen didasrkan pada tiga asumsi:
1. Konsumen memiliki preferensi yang jelas atas suau barang terhadap barang lain
2. Konsumen menghadapi kendala anggaran
3. Dengan preferensi mereka, pendapatan yang terbatas dan harga berbagai barang, konsumen memilih untuk membeli kombinasi barang
4. Konsumen menghadapi kendala anggaran
5. Dengan preferensi mereka, pendapatan yang terbatas dan harga berbagai barang, konsumen memilih untuk membeli kombinasi barang yang memaksimalkan utilitas mereka.
Titik Referensi dan Preferensi Konsumen
Titik refereni adalah titik dimana seseorang membuat keputusan konsumsi dapat memberi dampak kuat pada keputusan tersebut. ti
Efek Kepemilikan
Efek kepemilikan adalah kecenderungan seseorang untuk memberikan nilai lebih pada suatu barang ketika dia memilikinya ketimbang tidak memilikinya.
Penghindaran Kerugian
Penghindaran kerugian merupakan kecenderungan seseorang untuk menghindari kerugin daripada memperoleh keuntunan.
Framing
Framing adalah kecenderungan untuk bersandar pada konteks dimana suatu pilihan dijabarkan ketika membuat satu keputusan. B
Kewajaran
Permintaan ultimatum menunjukkan bagaimana kewajaran dapat mempengaruhi keputusan ekonomi.
Aturan Umum dan Bias dalam Pengambil Keputusan
1. Anchoring: kecenderungan untuk bersandar pada bagian informasi awal ketika mengambil suatu keputusan
2. Aturan umum: yaitu cara lumrah untuk mengekonomiskan upaya yang dilakukan dalam penambilan keputusan dengan mengabaikan informasi yang tampaknya tidak penting.
http://l-abaci.blogspot.com/2018/02/ketidak-pastian-dan-perilaku-konsumen.html
Permintaan ultimatum menunjukkan bagaimana kewajaran dapat mempengaruhi keputusan ekonomi.
Aturan Umum dan Bias dalam Pengambil Keputusan
1. Anchoring: kecenderungan untuk bersandar pada bagian informasi awal ketika mengambil suatu keputusan
2. Aturan umum: yaitu cara lumrah untuk mengekonomiskan upaya yang dilakukan dalam penambilan keputusan dengan mengabaikan informasi yang tampaknya tidak penting.
http://l-abaci.blogspot.com/2018/02/ketidak-pastian-dan-perilaku-konsumen.html
Sebagai balasan Kiriman pertama
Re: Tempatnya diskusi disini... (ditunggu ya)
oleh Rahmat Julianto -
Nama : rahmat julianto
NPM : 1712110393
KESIMPULAN ketidakpastian dan prilaku konsumen
 
1. Probabilitas (Pi) adalah peluang timbulnya kejadian anyara 0 < Pi < 1, Besarnya probabilitas suatu kejadian antaraa 0 dan 1. Jumlah probabilitas dari seluruh kejadian yang mungkin terjadi adalah 1 (ΣPi = 1).
2. Perbedaan Risiko dan Ketidakpastian : Menurut Frank Knight (1922), risiko dapat menentukan probabilitas obyektif secara pasti terhadap hasil atau kejadian. Sedangkan ketidakpastian jika tidak ada probabilitas obyektif yang dapat ditentukan.
3. ‎Pemerintah lebih memilih mengekspor, misalnya seperti kentang supaya dapat dijadikan sebagai devisa negara. Namun demikian, dapat menyebabkan terjadi kenaikan hasil bumi yang oleh masyarakat, juga rendahnya keuntungan yang didapat oleh petani. Jadi dapat dikatakan bahwa pemerintah lebih memilih sikap yang senang akan risiko (risk seeker atau risk lover).
4. Proses pengambilan keputusan dibagi dalam enam langkah yaitu : perumusan masalah, penentuan tujuan, pemilihan alternatif, peramalan dampak, penentuan pilihan,dan pererapan analisis sensitivitas.
(https://andisetiawan101094.wordpress.com/2017/06/09/resiko-ketidakpastian-dan-ekonomi-informasi/amp/)tahun 2017, diakses pada 30 juni 2020
NPM : 1712110393
KESIMPULAN ketidakpastian dan prilaku konsumen
 
1. Probabilitas (Pi) adalah peluang timbulnya kejadian anyara 0 < Pi < 1, Besarnya probabilitas suatu kejadian antaraa 0 dan 1. Jumlah probabilitas dari seluruh kejadian yang mungkin terjadi adalah 1 (ΣPi = 1).
2. Perbedaan Risiko dan Ketidakpastian : Menurut Frank Knight (1922), risiko dapat menentukan probabilitas obyektif secara pasti terhadap hasil atau kejadian. Sedangkan ketidakpastian jika tidak ada probabilitas obyektif yang dapat ditentukan.
3. ‎Pemerintah lebih memilih mengekspor, misalnya seperti kentang supaya dapat dijadikan sebagai devisa negara. Namun demikian, dapat menyebabkan terjadi kenaikan hasil bumi yang oleh masyarakat, juga rendahnya keuntungan yang didapat oleh petani. Jadi dapat dikatakan bahwa pemerintah lebih memilih sikap yang senang akan risiko (risk seeker atau risk lover).
4. Proses pengambilan keputusan dibagi dalam enam langkah yaitu : perumusan masalah, penentuan tujuan, pemilihan alternatif, peramalan dampak, penentuan pilihan,dan pererapan analisis sensitivitas.
(https://andisetiawan101094.wordpress.com/2017/06/09/resiko-ketidakpastian-dan-ekonomi-informasi/amp/)tahun 2017, diakses pada 30 juni 2020