Garis besar topik
-
-
Stakeholder mapping dalam Community-Based Tourism (CBT) adalah teknik visualisasi untuk mengidentifikasi dan memetakan peran, pengaruh, dan kepentingan berbagai pihak (akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, media) guna meningkatkan kolaborasi dan meminimalisir konflik. Pemetaan ini krusial untuk memastikan pemberdayaan lokal, efektivitas komunikasi, dan keberlanjutan pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat.
Unsur Utama Mapping (Pentahelix) dalam CBT:
- Community (Masyarakat Lokal): Aktor utama (pokdarwis, tokoh adat, warga) yang mengelola dan merasakan dampak langsung.
- Government (Pemerintah): Dinas pariwisata atau aparat desa yang berperan sebagai fasilitator, regulator, dan penyedia infrastruktur.
- Business (Sektor Swasta): Biro perjalanan, investor, dan pelaku UMKM yang membantu pemasaran dan pelayanan.
- Academician (Akademisi): Universitas/peneliti yang memberikan pendampingan teknis, pelatihan, dan kajian dampak.
- Media: Pihak yang mempromosikan destinasi untuk meningkatkan kesadaran pengunjung.
Tujuan dan Manfaat Stakeholder Mapping:
- Meningkatkan Koordinasi: Menghindari tumpang tindih peran antar pemangku kepentingan.
- Pemberdayaan: Memastikan partisipasi masyarakat lokal tetap menjadi prioritas utama.
- Strategi Komunikasi: Memastikan pesan pengelolaan sampai ke kelompok yang tepat.
- Monitoring: Memudahkan evaluasi berkala atas dampak wisata.
Dengan pemetaan yang tepat, CBT akan lebih mudah mencapai tujuan sosial-ekonomi bagi masyarakat setempat,
Perencanaan pariwisata berbasis masyarakat (CBT) mengoptimalkan potensi lokal melalui pemberdayaan warga, mencakup kekayaan alam (pantai/pegunungan), budaya (seni/tradisi/kuliner), dan ekonomi kreatif (kerajinan/konten digital) untuk meningkatkan kesejahteraan lokal dan melestarikan lingkungan. Partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan menjadi kunci keberlanjutan.
Berikut adalah rincian potensi lokal dalam perencanaan pariwisata berbasis masyarakat:
1. Potensi Alam (Natural Potential)
Ini mencakup bentang alam fisik, flora, dan fauna yang ada di daerah tersebut.- Contoh: Pantai, pegunungan, air terjun (curug), sungai, hutan, dan situs alam lainnya, seperti Desa Wisata Air Santok.
- Pengelolaan: Masyarakat merawat kelestarian lingkungan untuk daya tarik ekowisata, seperti Desa Cisantana.
2. Potensi Budaya (Cultural Potential)
Kearifan lokal, kebiasaan, dan warisan turun-temurun yang bernilai sejarah atau seni.- Contoh: Seni tari tradisional, rumah adat, upacara adat, kuliner khas, dan pakaian adat.
- Pengelolaan: Pengalaman langsung (wisata budaya) di mana wisatawan berinteraksi dengan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat, seperti Wisata Adat Arjasa.
3. Potensi Ekonomi Kreatif (Creative Economy Potential)
Inovasi dan kreativitas masyarakat lokal untuk menambah nilai ekonomi dari potensi alam dan budaya.- Contoh: Kerajinan tangan (souvenir), industri rumahan, fotografi/konten kreatif, pengemasan kuliner khas, dan homestay artistik, contohnya Desa Banyuurip yang mengembangkan wisata bunga.
- Pengelolaan: Pelatihan keterampilan bagi pemandu wisata dan pengerajin untuk meningkatkan kualitas produk.
Strategi Perencanaan Pariwisata Berbasis Masyarakat:
- Partisipasi Aktif: Masyarakat adalah pelaku utama, bukan hanya penonton, sering difasilitasi oleh Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata).
- Pelestarian Nilai Lokal: Pariwisata didesain agar tidak merusak kearifan lokal, tetapi justru melestarikannya.
- Peningkatan Kapasitas: Pelatihan pemandu, pengelolaan homestay, dan pemasaran digital untuk ekonomi kreatif.
- Kolaborasi: Melibatkan pemerintah (pelatihan/infrastruktur) dan universitas (pendampingan), seperti yang dilakukan di Desa Cibatu
Setelah mengikuti perkuliahan, mahasiswa mampu:
- Mengidentifikasi potensi alam di suatu destinasi
- Mengidentifikasi potensi budaya lokal
- Mengidentifikasi potensi ekonomi kreatif masyarakat
- Menganalisis keterkaitan ketiga potensi tersebut dalam pengembangan desa wisata
- Menyusun laporan identifikasi potensi lokal secara sistematis
Sub-Capaian Pembelajaran
Mahasiswa mampu melakukan analisis potensi wisata secara komprehensif berbasis observasi lapangan atau studi kasus desa wisata.
Materi:
- Potensi alam
- Potensi budaya
- Potensi ekonomi kreatif
Metode:
Observasi lapangan / studi kasus desa wisataTugas:
Laporan identifikasi potensi lokal751.8 KB · Diunggah 24/03/26, 14:30
-