Garis besar topik

    • Berita dan pengumuman

      SELAMAT DATANG DAN SELAMAT BERGABUNG

      2025-2 | KAMIS, 13:00 s.d 14:30 | PAR 23445 - PERENCANAAN   PARIWISATA BERBASIS MASYARAKAT | 4 SKS | F 3.3 | T | YUSMINAR WAHYUNINGSIH


      KATA SAMBUTAN 

      Assalamualaikum ..
      Tabik pun..

      Salam sejahtera buat kalian semua...

      Selamat datang Rekan Rekan Mahasiswa yang saya banggakan.
      Dimanapun berada..., semoga selalu dalam keadaan sehat walafiat dan dalam Lindungan Allah SWT.

      Selamat datang di Mata kuliah PERENCANAAN PARIWISATA BERBASIS MASYARAKAT  Daring SPADA (Sistem Pembelajaran Daring) Fakultas PARIWISATA Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya Bandar Lampung. Mata kuliah ini ditujukan bagi peserta didik yang sedang mengambil program S1 Sarjana terkait dengan bidang studi: PARIWISATA

      Mata kuliah PERENCANAAN PARIWISATA BERBASIS MASYARAKAT ini memiliki beban SKS sebesar 4 SKS, dengan kode Mata Kuliah PAR 23445

      Selamat mengikuti perkuliahan ini dengan baik,
      Salam hangat dan tetap semangat !!

      Wassalamu'alaikum Wr. Wb
      YUSMINAR WAHYUNINGSIH, SE.MM

      DESKRIPSI MATA KULIAH

      CAPAIAN PEMBELAJARAN MATA KULIAH

      CAPAIAN PENGETAHUAN


      BOBOT PENILAIAN

      Peserta didik akan dievaluasi penguasaannya dan pemahamannya terhadap materi kuliah dengan menggunakan pendekatan sebagai berikut:

      Tugas = 20 % 

      Etika = 20 % 

      Presensi  = 20 % 

      UTS   = 20 %

      UAS  =  20 %

      PROFIL DIRI

      NAMA           = Yusminar Wahyuningsih

      NIK                = 1112001

      EMAIL            = yusminar.darmajaya.co.id

      IG                   = kwu- kelas


    • KLIK DI SINI UNTUK MELIHAT RPS

    • Berikut adalah poin penting terkait Community Based Tourism (CBT):

      • Pengelolaan Mandiri: Masyarakat lokal memiliki kontrol atas pengembangan pariwisata di wilayahnya.
      • Manfaat Komunitas: Pendapatan pariwisata terdistribusi merata, mendukung kesejahteraan jangka panjang seperti pendidikan dan kesehatan

      • Keberlanjutan: Fokus pada pelestarian lingkungan, budaya, dan tradisi lokal, bukan hanya mengejar jumlah wisatawan.
      • Interaksi Autentik: Wisatawan mendapatkan pengalaman langsung hidup atau berinteraksi dengan komunitas adat/lokal.
      • Pemberdayaan: Mengurangi ketergantungan pada pihak luar dan meningkatkan posisi tawar masyarakat
      VIDEO 
      1. https://www.instagram.com/reel/DSP5aX-kvA_/
      2. https://www.youtube.com/watch?v=cO90yYwGyXU
      3. https://www.youtube.com/watch?v=cO90yYwGyXU
      4. https://www.youtube.com/watch?v=5Uyn_3NZm5M

      Desa Tabo-tabo, Pangkep Kembangkan Pariwisata Melalui Konsep CBT ΓÇô Lines  IndonesiaKonsep Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Pariwisata (Community Based Tourism  ) : Principles and Meaning ΓÇô PariwisataPengabdian Kepada Masyarakat Oleh Mahasiswa Program Magister Manajemen  Batch 23 Universitas Internasional Batam dengan Konsep Community Based  Tourism (CBT) - UNIVERSITAS INTERNASIONAL BATAM IDDesa Wisata Sudaji Bali Terapkan Konsep Community Based Tourism

      Community-Based Tourism (CBT) dalam Pengembangan Desa Wisata - Penelitian  PariwisataDesa Wisata Sudaji Bali Terapkan Konsep "Community Based Tourism" -  sinarharapan.netSIARAN PERS : Menparekraf: Desa Wisata Sudaji Bali Terapkan Konsep Terbaik Community  Based TourismCommunity-Based Tourism

    • Berikut adalah penjelasan mengenai jenis-jenis pendekatan partisipatif yang Anda sebutkan:

      1. Pendekatan Top-Down & Bottom-Up

      Ini merujuk pada arah alur perencanaan pembangunan: 

      • Top-Down (Atas-Bawah): Kebijakan atau rencana ditentukan oleh pemerintah pusat/pihak luar, lalu diturunkan ke masyarakat untuk dilaksanakan. Partisipasi masyarakat rendah.
      • Bottom-Up (Bawah-Atas): Perencanaan dimulai dari kebutuhan masyarakat di tingkat bawah (desa/lokal), yang kemudian diusulkan ke tingkat yang lebih tinggi. Pendekatan ini lebih partisipatif dan memberdayakan. 

      2. Rapid Rural Appraisal (RRA) - Penilaian Cepat Pedesaan 

      • Definisi: Teknik pengumpulan data secara cepat yang dilakukan oleh orang luar (misalnya tim peneliti/tenaga ahli) untuk memahami keadaan perdesaan.
      • Karakteristik: Tim luar berinteraksi dengan masyarakat, tetapi kendali informasi masih di tangan orang luar. Tujuannya adalah untuk efisiensi waktu dan biaya.
      • Metode: Wawancara dengan informan kunci, observasi langsung, dan pemetaan sederhana. 

      3. Participatory Rural Appraisal (PRA) - Penilaian Partisipatif Pedesaan

      • Definisi: Metode pemberdayaan yang menekankan pada keterlibatan masyarakat secara menyeluruh, di mana masyarakat lokal menganalisis situasi mereka sendiri.
      • Karakteristik: Pihak luar hanya bertindak sebagai fasilitator (pendukung). PRA berfokus pada proses pemberdayaan, kepemilikan data oleh warga, dan tindak lanjut (aksi).
      • Metode: Pemetaan desa, diagram venn, bagan sejarah, dan diskusi kelompok terarah (FGD). 

      Perbedaan Utama RRA & PRA: RRA adalah cara orang luar belajar dari masyarakat (ekstraksi data), sedangkan PRA adalah cara masyarakat belajar tentang desa mereka sendiri (pemberdayaan). 

      4. ArnsteinΓÇÖs Ladder of Participation (Tangga Partisipasi Arnstein)

      Konsep yang dikembangkan oleh Sherry Arnstein (1969) untuk mengukur tingkat keterlibatan masyarakat dalam sebuah program, yang terdiri dari 8 anak tangga (dari tingkat rendah ke tinggi): 

      I. Non-Participation (Bukan Partisipasi) 

      1. Manipulation (Manipulasi): Warga dilibatkan hanya untuk melegitimasi tujuan pemerintah.
      2. Therapy (Terapi): Warga dilibatkan untuk "menyembuhkan" sikap mereka agar menerima program. 

      II. Tokenism (Partisipasi Semu/Formalitas)
          3. Informing (Informasi): Warga hanya diberi tahu informasi satu arah.
          4. Consultation (Konsultasi): Warga dimintai pendapat, tetapi tidak ada jaminan  pendapatnya digunakan.
          5. Placation (Meredam/Penentraman): Warga diberi hak suara terbatas, namun penentu akhir tetap di tangan elit. 

      III. Citizen Power (Kekuasaan Masyarakat - Partisipasi Sejati)
         6. Partnership (Kemitraan): Kekuasaan dibagi antara masyarakat dan penguasa.
         7. Delegated Power (Delegasi Kekuasaan): Masyarakat memiliki suara mayoritas dalam pengambilan keputusan.
         8. Citizen Control (Kendali Masyarakat): Masyarakat memiliki kontrol penuh atas perencanaan dan pelaksanaan (tujuan akhir partisipasi). 

      Ringkasan

      Pendekatan partisipatif bertujuan untuk menggeser metode top-down menjadi bottom-up, di mana RRA/PRA menjadi alat teknisnya, dan ArnsteinΓÇÖs Ladder menjadi panduan untuk memastikan tingkat partisipasi sudah mencapai tahap Citizen Power

       

      MENGENAL METODE DAN TEHNIK (RRA) & (PRA) SEBAGAI PENDEKATAN PARTISIPATIF |  PPTXMETODE DAN TEHNIK PENDEKATAN PARTISIPATIF RRA (Rapid Rural Appraisal) PRA (Participation  Rural Apraisal)1 participatory rural appraisal-pengenalan | PDF1 participatory rural appraisal-pengenalan | PDF

    • Stakeholder mapping dalam Community-Based Tourism (CBT) adalah teknik visualisasi untuk mengidentifikasi dan memetakan peran, pengaruh, dan kepentingan berbagai pihak (akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, media) guna meningkatkan kolaborasi dan meminimalisir konflik. Pemetaan ini krusial untuk memastikan pemberdayaan lokal, efektivitas komunikasi, dan keberlanjutan pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat. 

      Unsur Utama Mapping (Pentahelix) dalam CBT:

      • Community (Masyarakat Lokal): Aktor utama (pokdarwis, tokoh adat, warga) yang mengelola dan merasakan dampak langsung.
      • Government (Pemerintah): Dinas pariwisata atau aparat desa yang berperan sebagai fasilitator, regulator, dan penyedia infrastruktur.
      • Business (Sektor Swasta): Biro perjalanan, investor, dan pelaku UMKM yang membantu pemasaran dan pelayanan.
      • Academician (Akademisi): Universitas/peneliti yang memberikan pendampingan teknis, pelatihan, dan kajian dampak.
      • Media: Pihak yang mempromosikan destinasi untuk meningkatkan kesadaran pengunjung. 

      Tujuan dan Manfaat Stakeholder Mapping:

      • Meningkatkan Koordinasi: Menghindari tumpang tindih peran antar pemangku kepentingan.
      • Pemberdayaan: Memastikan partisipasi masyarakat lokal tetap menjadi prioritas utama.
      • Strategi Komunikasi: Memastikan pesan pengelolaan sampai ke kelompok yang tepat.
      • Monitoring: Memudahkan evaluasi berkala atas dampak wisata. 

      Dengan pemetaan yang tepat, CBT akan lebih mudah mencapai tujuan sosial-ekonomi bagi masyarakat setempat, 

       

      below illustrates the range of potential stakeholders who may be... |  Download Scientific DiagramStakeholder Mapping: Cara, Contoh, Tips | CanvaStakeholder Mapping: Cara, Contoh, Tips | CanvaPDF] ROLE OF EXTERNAL STAKEHOLDERS IN TOURISM DEVELOPMENT AND COMMUNITY  EMPOWERMENT | Semantic ScholarStakeholder Mapping: Cara, Contoh, Tips | CanvaPara Pemangku Kepentingan dalam Pariwisata: Siapa Mereka dan Mengapa Mereka  Penting? - Guru PariwisataMetode Pemetaan Pemangku Kepentingan Terbaik: Pilih Strategi yang TepatApa Itu Stakeholder Mapping, Contoh, dan Cara Menerapkannya

      A. Sub-Capaian Pembelajaran

      Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa mampu:

      1. Mengidentifikasi aktor lokal dalam pengembangan CBT.
      2. Menganalisis peran dan kepentingan masing-masing stakeholder.
      3. Memetakan hubungan antar-aktor dalam sistem destinasi.
      4. Menyusun peta stakeholder berbasis konteks lokal.

      Materi:

      • Pemerintah desa
      • Pokdarwis
      • UMKM
      • Lembaga adat
      • Investor lokal

      Metode:
      Stakeholder mapping exercise

      Tugas:
      Membuat stakeholder matrix


    • Stakeholder mapping dalam Community-Based Tourism (CBT) adalah teknik visualisasi untuk mengidentifikasi dan memetakan peran, pengaruh, dan kepentingan berbagai pihak (akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, media) guna meningkatkan kolaborasi dan meminimalisir konflik. Pemetaan ini krusial untuk memastikan pemberdayaan lokal, efektivitas komunikasi, dan keberlanjutan pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat. 

      Definisi dan Konsep Potensi Wisata Serta Contoh JenisnyaMemaksimalkan Potensi Alam dan Budaya dalam Pengembangan Desa Wisata  Berkelanjutan ΓÇô masterplandesaMenggali potensi wisata daerah untuk ungkit pertumbuhan ekonomi Sultra -  ANTARA News Sulawesi TenggaraPotensi Budaya Tradisional Untuk Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ΓÇô Guru  Geografi MAN 1 Gunungkidul DIY

      Unsur Utama Mapping (Pentahelix) dalam CBT:

      • Community (Masyarakat Lokal): Aktor utama (pokdarwis, tokoh adat, warga) yang mengelola dan merasakan dampak langsung.
      • Government (Pemerintah): Dinas pariwisata atau aparat desa yang berperan sebagai fasilitator, regulator, dan penyedia infrastruktur.
      • Business (Sektor Swasta): Biro perjalanan, investor, dan pelaku UMKM yang membantu pemasaran dan pelayanan.
      • Academician (Akademisi): Universitas/peneliti yang memberikan pendampingan teknis, pelatihan, dan kajian dampak.
      • Media: Pihak yang mempromosikan destinasi untuk meningkatkan kesadaran pengunjung. 

      Tujuan dan Manfaat Stakeholder Mapping:

      • Meningkatkan Koordinasi: Menghindari tumpang tindih peran antar pemangku kepentingan.
      • Pemberdayaan: Memastikan partisipasi masyarakat lokal tetap menjadi prioritas utama.
      • Strategi Komunikasi: Memastikan pesan pengelolaan sampai ke kelompok yang tepat.
      • Monitoring: Memudahkan evaluasi berkala atas dampak wisata. 

      Dengan pemetaan yang tepat, CBT akan lebih mudah mencapai tujuan sosial-ekonomi bagi masyarakat setempat, 


       Potensi Desa Wisata dalam Mewujudkan Kemandirian Ekonomi Lokal | CikonengBudaya Tradisional dan Potensinya di Bidang Ekonomi Kreatif ΓÇô Guru Geografi  MAN 1 Gunungkidul DIYPotensi Pesisir Pantai untuk Pengembangan Wisata Pesisir ΓÇô Jasa Konsultan  Perencanaan Desa WisataPengembangan Sadar Wisata dan Potensi Masyarakat Destinasi Pariwisata -  PUSDIKLAT PEMENDAGRI

      Perencanaan pariwisata berbasis masyarakat (CBT) mengoptimalkan potensi lokal melalui pemberdayaan warga, mencakup kekayaan alam (pantai/pegunungan), budaya (seni/tradisi/kuliner), dan ekonomi kreatif (kerajinan/konten digital) untuk meningkatkan kesejahteraan lokal dan melestarikan lingkungan. Partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan menjadi kunci keberlanjutan.

      Berikut adalah rincian potensi lokal dalam perencanaan pariwisata berbasis masyarakat:

      1. Potensi Alam (Natural Potential)
      Ini mencakup bentang alam fisik, flora, dan fauna yang ada di daerah tersebut. 

       

      • Contoh: Pantai, pegunungan, air terjun (curug), sungai, hutan, dan situs alam lainnya, seperti Desa Wisata Air Santok.
      • Pengelolaan: Masyarakat merawat kelestarian lingkungan untuk daya tarik ekowisata, seperti Desa Cisantana

      2. Potensi Budaya (Cultural Potential)
      Kearifan lokal, kebiasaan, dan warisan turun-temurun yang bernilai sejarah atau seni. 

      • Contoh: Seni tari tradisional, rumah adat, upacara adat, kuliner khas, dan pakaian adat.
      • Pengelolaan: Pengalaman langsung (wisata budaya) di mana wisatawan berinteraksi dengan kehidupan sehari-hari masyarakat setempat, seperti Wisata Adat Arjasa

      3. Potensi Ekonomi Kreatif (Creative Economy Potential)
      Inovasi dan kreativitas masyarakat lokal untuk menambah nilai ekonomi dari potensi alam dan budaya. 

       

      • Contoh: Kerajinan tangan (souvenir), industri rumahan, fotografi/konten kreatif, pengemasan kuliner khas, dan homestay artistik, contohnya Desa Banyuurip yang mengembangkan wisata bunga.
      • Pengelolaan: Pelatihan keterampilan bagi pemandu wisata dan pengerajin untuk meningkatkan kualitas produk. 

      Strategi Perencanaan Pariwisata Berbasis Masyarakat:

      • Partisipasi Aktif: Masyarakat adalah pelaku utama, bukan hanya penonton, sering difasilitasi oleh Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata).
      • Pelestarian Nilai Lokal: Pariwisata didesain agar tidak merusak kearifan lokal, tetapi justru melestarikannya.
      • Peningkatan Kapasitas: Pelatihan pemandu, pengelolaan homestay, dan pemasaran digital untuk ekonomi kreatif.
      • Kolaborasi: Melibatkan pemerintah (pelatihan/infrastruktur) dan universitas (pendampingan), seperti yang dilakukan di Desa Cibatu


      Setelah mengikuti perkuliahan, mahasiswa mampu:

      1. Mengidentifikasi potensi alam di suatu destinasi
      2. Mengidentifikasi potensi budaya lokal
      3. Mengidentifikasi potensi ekonomi kreatif masyarakat
      4. Menganalisis keterkaitan ketiga potensi tersebut dalam pengembangan desa wisata
      5. Menyusun laporan identifikasi potensi lokal secara sistematis

      Sub-Capaian Pembelajaran

      Mahasiswa mampu melakukan analisis potensi wisata secara komprehensif berbasis observasi lapangan atau studi kasus desa wisata.

       Materi:

      • Potensi alam
      • Potensi budaya
      • Potensi ekonomi kreatif

      Metode:
      Observasi lapangan / studi kasus desa wisata

      Tugas:
      Laporan identifikasi potensi lokal


    • Analisis SWOT Community-Based Tourism (CBT) berfokus pada pemberdayaan lokal, pelestarian budaya, dan keberlanjutan lingkungan. Kekuatan utama terletak pada autentisitas budaya dan partisipasi warga, sementara kelemahan sering berupa keterbatasan modal/SDM. Peluang besar ada pada tren ekowisata, namun terancam oleh komersialisasi berlebih dan persaingan. 

      Berikut adalah rincian analisis SWOT untuk Community-Based Tourism:

      1. Strength (Kekuatan - Internal)

      • Autentisitas & Budaya: Menawarkan pengalaman unik, budaya lokal asli, tradisi, dan kuliner yang otentik.
      • Partisipasi Lokal: Keterlibatan masyarakat secara langsung dalam pengelolaan (melalui Pokdarwis/BUMDes) meningkatkan rasa memiliki.
      • Keunikan Alam: Pemanfaatan potensi alam sekitar yang masih alami dan terjaga.
      • Dampak Ekonomi Langsung: Pendapatan pariwisata langsung masuk ke masyarakat lokal (homestay, pemandu, kerajinan). 

      2. Weakness (Kelemahan - Internal)

      • Keterbatasan SDM: Kurangnya keterampilan manajemen, pemasaran, dan kemampuan bahasa asing.
      • Modal Terbatas: Ketergantungan pada dana eksternal atau pemerintah untuk infrastruktur.
      • Infrastruktur & Aksesibilitas: Fasilitas umum (sanitasi, jalan, tanda penunjuk) seringkali belum memadai.
      • Konflik Internal: Potensi ketimpangan distribusi pendapatan atau perbedaan pendapat antarwarga. 

      3. Opportunity (Peluang - Eksternal)

      • Tren Ekowisata & "Slow Travel": Meningkatnya permintaan wisatawan global akan pengalaman wisata berkelanjutan dan mendalam.
      • Dukungan Pemerintah: Kebijakan yang mendorong pengembangan Desa Wisata dan pemberdayaan ekonomi desa.
      • Teknologi Pemasaran: Kemudahan pemasaran digital untuk menjangkau pasar internasional secara mandiri.
      • Kemitraan: Potensi kerja sama dengan agen travel yang fokus pada responsible tourism

      4. Threat (Ancaman - Eksternal)

      • Komersialisasi & Budaya Instan: Risiko hilangnya keaslian budaya karena penyesuaian berlebih dengan selera wisatawan.
      • Kerusakan Lingkungan: Ancaman pencemaran atau kerusakan alam akibat overtourism jika tidak dikelola dengan baik.
      • Persaingan Destinasi: Persaingan dengan destinasi komersial yang lebih modern atau didanai swasta besar.
      • Faktor Eksternal: Bencana alam, krisis kesehatan (pandemi), atau ketidakstabilan politik. 

      Strategi Utama:
      Kunci keberhasilan CBT adalah menggunakan Strength untuk mengambil Opportunity (contoh: Pemasaran digital untuk menjual paket budaya unik) dan mengatasi Weakness dengan Opportunity (contoh: Pelatihan manajemen oleh pemerintah untuk meningkatkan SDM). 

       Pentingnya Analisis SWOT untuk Bisnis, Ini Caranya!On the occasion of World Tourism Day, 2020 here is a glimpse of SWOT  analysis comprising strength, weakness, opportunities, and threats of Tourism  in Nepal≡ƒç│≡ƒç╡ Tourism is recognized as an important sectorSWOT Analysis of Tourism Industry | CreatelyAnalisis SWOT - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebasTourism SWOT Analysis: Step-by-Step Guide with ExamplesAn Adventurous Tourism Industry SWOT Analysis |Investigation of West Lake Ecotourism Capabilities Using SWOT and TOPSIS  Decision-Making MethodsRun Swot Analysis Of Tourism Industry Guide On Tourism Marketing Strategy  SS PPT PowerPointSWOT Analysis in: Encyclopedia of Tourism Management and MarketingStrenghts, Weakness, Opportunities, Threats (SWOT)


      OUTPUT YANG DIHARAPKAN

      Mahasiswa mampu:

      • Menghasilkan analisis strategis berbasis data lapangan
      • Mengintegrasikan konsep CBT ke dalam strategi pengembangan
      • Merancang rekomendasi berkelanjutan

      Materi:

      • Strength
      • Weakness
      • Opportunity
      • Threat

      Metode:
      Workshop kelompok

      Tugas:
      Menyusun matriks SWOT berbasis studi kasus

    • Analisis SWOT Community-Based Tourism (CBT) berfokus pada pemberdayaan lokal, pelestarian budaya, dan keberlanjutan lingkungan. Kekuatan utama terletak pada autentisitas budaya dan partisipasi warga, sementara kelemahan sering berupa keterbatasan modal/SDM. Peluang besar ada pada tren ekowisata, namun terancam oleh komersialisasi berlebih dan persaingan. 

      S.M.A.R.T. Goals: Tujuan Teratur, Kesuksesan yang Terarah Cara Efektif Menetapkan Tujuan dengan Konsep SMART: Panduan Lengkap untuk  Sukses

      Berikut adalah rincian analisis SWOT untuk Community-Based Tourism:

      1. Strength (Kekuatan - Internal)

      • Autentisitas & Budaya: Menawarkan pengalaman unik, budaya lokal asli, tradisi, dan kuliner yang otentik.
      • Partisipasi Lokal: Keterlibatan masyarakat secara langsung dalam pengelolaan (melalui Pokdarwis/BUMDes) meningkatkan rasa memiliki.
      • Keunikan Alam: Pemanfaatan potensi alam sekitar yang masih alami dan terjaga.
      • Dampak Ekonomi Langsung: Pendapatan pariwisata langsung masuk ke masyarakat lokal (homestay, pemandu, kerajinan). 

      2. Weakness (Kelemahan - Internal)

      • Keterbatasan SDM: Kurangnya keterampilan manajemen, pemasaran, dan kemampuan bahasa asing.
      • Modal Terbatas: Ketergantungan pada dana eksternal atau pemerintah untuk infrastruktur.
      • Infrastruktur & Aksesibilitas: Fasilitas umum (sanitasi, jalan, tanda penunjuk) seringkali belum memadai.
      • Konflik Internal: Potensi ketimpangan distribusi pendapatan atau perbedaan pendapat antarwarga. 

      3. Opportunity (Peluang - Eksternal)

      • Tren Ekowisata & "Slow Travel": Meningkatnya permintaan wisatawan global akan pengalaman wisata berkelanjutan dan mendalam.
      • Dukungan Pemerintah: Kebijakan yang mendorong pengembangan Desa Wisata dan pemberdayaan ekonomi desa.
      • Teknologi Pemasaran: Kemudahan pemasaran digital untuk menjangkau pasar internasional secara mandiri.
      • Kemitraan: Potensi kerja sama dengan agen travel yang fokus pada responsible tourism

      4. Threat (Ancaman - Eksternal)

      • Komersialisasi & Budaya Instan: Risiko hilangnya keaslian budaya karena penyesuaian berlebih dengan selera wisatawan.
      • Kerusakan Lingkungan: Ancaman pencemaran atau kerusakan alam akibat overtourism jika tidak dikelola dengan baik.
      • Persaingan Destinasi: Persaingan dengan destinasi komersial yang lebih modern atau didanai swasta besar.
      • Faktor Eksternal: Bencana alam, krisis kesehatan (pandemi), atau ketidakstabilan politik. 

      Strategi Utama:
      Kunci keberhasilan CBT adalah menggunakan Strength untuk mengambil Opportunity (contoh: Pemasaran digital untuk menjual paket budaya unik) dan mengatasi Weakness dengan Opportunity (contoh: Pelatihan manajemen oleh pemerintah untuk meningkatkan SDM). 

       Pengembangan Pariwisata Berbasis Visioning - P4W - IPB UniversityPengembangan Pariwisata Berbasis Visioning - P4W - IPB University

       Tourism (CBT) adalah pendekatan pengembangan pariwisata yang menitikberatkan pada partisipasi aktif masyarakat lokal, pengelolaan oleh komunitas, dan pembagian manfaat yang merata untuk meningkatkan kualitas hidup, melestarikan budaya, serta menjaga lingkungan. 

       

      Berikut adalah penjabaran tujuan, visi misi, SMART Goals, dan teknik visioning untuk CBT:

      1. Tujuan dan Visi Misi Community-Based Tourism (CBT)

      Visi:

      "Terwujudnya destinasi wisata yang mandiri, berbudaya, dan berkelanjutan, di mana masyarakat lokal menjadi tuan rumah yang berdaya, sejahtera, dan bangga atas identitas budayanya". 

      Misi:

      • Pemberdayaan Masyarakat: Mengelola sumber daya pariwisata secara lokal untuk memperkuat kemampuan organisasi masyarakat pedesaan.
      • Keberlanjutan Lingkungan: Melindungi ekosistem alami dan warisan budaya lokal sebagai aset utama pariwisata.
      • Peningkatan Kesejahteraan Ekonomi: Mendistribusikan pendapatan pariwisata secara merata kepada seluruh anggota masyarakat yang terlibat.
      • Edukasi & Pertukaran Budaya: Membangun pemahaman saling menguntungkan antara wisatawan dan warga setempat. 

      2. SMART Goals untuk Community-Based Tourism

      SMART Goals membantu memastikan tujuan CBT dapat dicapai dengan terukur.
      (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound)

      • S (Specific): "Meningkatkan partisipasi pemuda desa dalam pengelolaan pemanduan wisata budaya lokal melalui pelatihan tour guiding bersertifikat".
      • M (Measurable): "Meningkatkan pendapatan rumah tangga anggota komunitas sebesar 20% melalui homestay dan penjualan kerajinan tangan dalam satu tahun".
      • A (Achievable): "Membangun 5 homestay baru yang dikelola warga lokal dengan standar kebersihan dan kenyamanan setara bintang 2".
      • R (Relevant): "Mengembangkan paket wisata agro-budaya yang menonjolkan kearifan lokal desa untuk memperkuat identitas komunitas".
      • T (Time-bound): "Membentuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis) yang aktif dan memiliki website/media sosial pemasaran mandiri dalam 6 bulan ke depan". 

      3. Community Visioning Technique (Teknik Visi Komunitas)

      Visioning adalah teknik partisipatif untuk mengidentifikasi aspirasi komunitas mengenai masa depan wisata mereka. Teknik yang efektif meliputi: 

       

      • Fokus Grup Diskusi (FGD): Mengadakan pertemuan rutin dengan warga untuk merumuskan visi jangka panjang.
      • Pemetaan Potensi Desa (Asset Mapping): Warga secara partisipatif memetakan daya tarik alam, budaya, dan sejarah yang ingin ditonjolkan.
      • Workshop "Desa Impian": Menggunakan papan cerita atau sketsa untuk membayangkan kondisi desa 5-10 tahun ke depan.
      • Wawancara Mendalam: Mendengarkan masukan pemuka adat, pemuda, dan perempuan untuk memastikan inklusivitas.
      • Local Working Group (LWG): Membentuk kelompok kecil yang terdiri dari perwakilan warga untuk merumuskan aturan main pengelolaan wisata. 

      Contoh Penerapan Sukses:

      • Desa Penglipuran (Bali): Sukses menjaga arsitektur tradisional dan kebersihan lingkungan melalui partisipasi aktif warga.
      • Desa Wisata Pentingsari (Sleman): Contoh pemberdayaan masyarakat yang berhasil memutar roda ekonomi melalui homestay dan workshop seni.
      • Desa Liya Togo (Wakatobi): Menekankan kebanggaan komunitas dan pelestarian budaya dalam CBT. 

      CAPAIAN PEMBELAJARAN

      Setelah mengikuti perkuliahan, mahasiswa mampu:

      1. Memahami konsep visi dan misi dalam pengembangan destinasi wisata
      2. Menerapkan prinsip SMART Goals dalam perumusan tujuan
      3. Menggunakan teknik community visioning
      4. Menyusun draft visi-misi desa wisata berbasis masyarakat
      5. Mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam visi-misi

      Level Kognitif:
      C4 (Menganalisis) ΓÇô C5 (Mengevaluasi) ΓÇô C6 (Merancang)

      Materi:

      • SMART goals
      • Community visioning technique

      Metode:
      Simulasi musyawarah desa

      Tugas:
      Draft visi-misi desa wisata

    • Program pemberdayaan komunitas berfokus pada peningkatan kapasitas lokal melalui pelatihan SDM (sadar wisata, pelayanan, digital), penguatan kelembagaan (pokdarwis, BUMDes), dan pengembangan produk wisata kreatif. Tujuannya adalah menciptakan kemandirian, meningkatkan ekonomi masyarakat, dan pengelolaan destinasi wisata yang berkelanjutan. 

      Berikut adalah jabaran dari program pemberdayaan tersebut:

      1. Pelatihan SDM (Sumber Daya Manusia)

      Fokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat lokal agar mampu mengelola potensi wisata. 

      • Pelatihan Sadar Wisata & Sapta Pesona: Menanamkan nilai keamanan, kebersihan, dan keramahtamahan.
      • Pelatihan Pengelolaan Destinasi & Homestay: Manajemen operasional hotel/resto dan homestay standar.
      • Pelatihan Pemandu Wisata (Tour Guide): Peningkatan kemampuan teknis memandu wisatawan.
      • Pelatihan Pemasaran Digital (Digital Marketing): Pemanfaatan konten digital dan media sosial untuk promosi desa wisata. 

      2. Penguatan Kelembagaan

      Fokus pada pengorganisasian masyarakat agar pengelolaan wisata lebih terstruktur. 

      • Penguatan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata): Pendampingan tata kelola pokdarwis agar lebih aktif dan mandiri.
      • Penguatan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa): Mengintegrasikan unit usaha wisata dengan BUMDes.
      • Kemitraan/Pentahelix: Membangun kerjasama dengan pemerintah, akademisi, swasta, dan media. 

      3. Pengembangan Produk Wisata

      Fokus pada diversifikasi dan peningkatan kualitas daya tarik wisata. 

      • Inovasi Paket Wisata: Membuat paket unik, seperti wisata edukasi, ekowisata, atau wisata budaya.
      • Pengembangan UMKM Kreatif: Pelatihan pengolahan makanan khas, kerajinan tangan, dan oleh-oleh.
      • Pengemasan Konten Wisata: Menata lokasi wisata (spot foto, kebersihan) dan menonjolkan keunikan lokal (kampung tematik). 

      Program-program ini bertujuan menciptakan pariwisata berbasis komunitas yang berkelanjutan, di mana masyarakat menjadi subjek pengelola, bukan penonton. 

      https://www.youtube.com/watch?v=GAlL_oz1oF4


      PELATIHAN PENGUATAN KELEMBAGAAN POKDARWIS/DESA WISATA KALURAHAN GIRIREJO -  Website Kalurahan GirirejoMusim Mas Dukung Pengembangan Kapasitas Pekebun Swadaya Lewat Program  Pelatihan Pengembangan SDM PKS 2025 - Musim MasPelatihan Revitalisasi Potensi Lokal: Desa Mandiri, Berdaya, dan  Berkelanjutan - Pusdiklat Pemda ΓÇô Pusat Pelatihan Aparatur DaerahPerubahan UU Kepariwisataan 2025: Peluang Besar untuk Desa Wisata,  Masyarakat Lokal, dan Kolaborasi Pentahelix

      Sub-Capaian:
      Mahasiswa mampu merancang program pemberdayaan.

      Materi:

      • Pelatihan SDM
      • Penguatan kelembagaan
      • Pengembangan produk wisata

      Metode:
      Project-based learning

      Tugas:
      Rancangan program 1 tahun



    • Merancang model partisipatif yang efektif membutuhkan pendekatan terstruktur untuk memastikan masyarakat bukan sekadar objek, melainkan subjek utama dalam pembangunan. Tiga model—Co-management, Community Ownership, dan Social Enterprise—memiliki penekanan berbeda namun saling melengkapi dalam meningkatkan keberdayaan

      7 Model Bisnis Social Enterprise - UKMINDONESIA.ID2 KONSTRUKSI MODEL KEWIRAUSAHAAN SOSIAL (SOCIAL ENTREPRENEURSHIP) SEBAGAI  GAGASAN INOVASI SOSIAL BAGI PEMBANGUNAN PEREKONOMIAN

      Berikut adalah panduan merancang ketiga model tersebut:

      1. Co-management (Pengelolaan Bersama)

      Model ini menekankan kemitraan antara masyarakat dan pihak luar (pemerintah, swasta, atau NGO) dalam pengambilan keputusan dan tanggung jawab. Tahap Perencanaan:

      o   Mapping Stakeholder: Mengidentifikasi semua pihak (pemerintah, masyarakat adat/lokal, akademisi) dan peran mereka.

      o   Rembug Desa/Forum Musyawarah: Membentuk forum bersama untuk mendefinisikan tujuan dan menyusun aturan permainan (Rules of the Game).

      ·       Implementasi:

      o   Penyusunan AD/ART/SOP: Melegalisasi kesepakatan (misal: AKTE Notaris/Badan Hukum Koperasi) untuk LMDH atau Bumdes.

      o   Penguatan Kapasitas: Pelatihan teknis pengelolaan sumber daya (misal: ekowisata, hutan, sampah).

      ·       Keberlanjutan: Transparansi manajemen dan pembagian hasil yang adil. 

      2. Community Ownership (Kepemilikan Komunitas)

      Model ini menempatkan masyarakat sebagai pemilik utama (owner) atas aset, program, atau sarana yang dibangun, sehingga tanggung jawab penuh ada di tangan mereka.

      Tahap Persiapan:

      o   Asset & Needs Mapping (PRA): Menggunakan Participatory Rural Appraisal untuk memetakan aset dan kebutuhan nyata masyarakat.

      o   Pengorganisasian Masyarakat: Membentuk kelompok pengelola (BUMDes, Koperasi, kelompok tani) yang berakar dari komunitas.

      ·       Implementasi:

      o   Transfer Kepemilikan/Pengelolaan: Menyerahkan hak kelola aset dari luar ke komunitas.

      o   Pemberdayaan Berkelanjutan: Pelatihan kepemimpinan dan manajemen keuangan agar mandiri secara ekonomi.

      ·       Keberlanjutan: Fokus pada penguatan modal sosial (gotong royong) dan aturan adat/lokal. 

      3. Social Enterprise Model (Model Wirausaha Sosial)

      Model ini menggunakan prinsip bisnis untuk mencapai tujuan sosial/lingkungan, di mana keuntungan (profit) diinvestasikan kembali untuk dampak sosial (impact).

       

      Tahap Perancangan:

      o   Tentukan Misi Sosial: Mengidentifikasi masalah sosial yang akan dipecahkan (misal: kemiskinan, limbah, pendidikan).

      o   Social Enterprise Model Canvas: Membuat kanvas bisnis dengan tambahan elemen: Consumer Benefit, Social Innovation, dan Community Reinvestment.

      ·      

      Implementasi:

      o   Pengembangan Produk/Jasa: Inovasi berbasis potensi lokal (misal: produk olahan pertanian, jasa ekowisata).

      o   Struktur Kepemilikan: Menggunakan tipe Community Based Social Enterprise (misal: koperasi yang dikelola petani).

      ·       Keberlanjutan: Memastikan kesinambungan antara kinerja bisnis dan dampak sosial (reinvestasi dana).  

      Perbandingan & Integrasi Model Partisipatif

      Fitur 

      Co-management

      Community Ownership

      Social Enterprise

      Fokus Utama

      Kemitraan & Tata Kelola

      Kemandirian & Penguasaan Aset

      Dampak Sosial & Keberlanjutan

      Posisi Masyarakat

      Mitra Setara

      Pemilik/Pengelola Utama

      Pelaku Usaha/Penerima Manfaat

      Contoh

      Pengelolaan TN/Hutan Bersama

      Kelompok Tani, BUMDes

      Koperasi Kopi, Bank Sampah

      Mengenal Model Bisnis Usaha Sosial | by Bagus Ramadhan | TEKNOIA —  Inspirasimu untuk Berinovasi dan Bertumbuh | MediumA model of sustainable rural tourism | Download Scientific DiagramSocial Business Model Canvas: Petakan dan Visualisasi dari Misi Sosial

      Tahapan Umum dalam Merancang Model Partisipatif Persiapan (Engagement): Sosialisasi dan membangun kepercayaan.

      1.    Assessment (Pengkajian): Pemetaan masalah, kebutuhan, dan potensi lokal (PRA).

      2.    Perencanaan (Planning): Penyusunan rencana aksi secara partisipatif.

      3.    Implementasi & Pengorganisasian: Eksekusi, pembentukan struktur, dan pelibatan masyarakat.

      4.    Evaluasi & Tindak Lanjut: Monitoring kinerja dan dampak, serta evaluasi rutin (Musrenbang/Forum).

      5.       Kunci Keberhasilan: Penguatan kapasitas lokal, transparansi, keadilan dalam pembagian hasil, dan kepemimpinan yang partisipatif.

      Sub-Capaian:
      Mahasiswa mampu merancang model partisipatif.

      Materi:

      • Co-management
      • Community ownership
      • Social enterprise model

      Metode:
      Diskusi desain model

      Tugas:
      Membuat diagram model partisipasi

    • Mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi dalam Community-Based Tourism (CBT) adalah kunci pariwisata berkelanjutan yang sejalan dengan kerangka Triple Bottom Line (People, Planet, Profit) dan SDGs. Integrasi ini memastikan pariwisata tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga memberdayakan masyarakat dan melestarikan lingkungan melalui pengaturan daya dukung (carrying capacity).

      Opini : Lingkungan dalam Logika Keberlanjutan SDGsSukseskan Event dengan SMART Goals3 pilar keberlanjutan dan triple bottom line | Keberlanjutan dari Jepang -  ZenbirdApa sih 3P (People, Profit, and Planet) itu? - Zero Waste Indonesia

       

      Berikut adalah panduan integrasi tersebut:

      1. Integrasi Aspek TBL dalam CBT (Triple Bottom Line - 3P)

      CBT yang sukses menggunakan pendekatan Triple Bottom Line untuk menyeimbangkan tujuan ekonomi dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan:

      ·       Planet (Aspek Lingkungan): CBT mendorong konservasi berbasis masyarakat. Komunitas lokal menjaga keaslian alam karena sadar bahwa lingkungan adalah modal utama pariwisata mereka. Contoh: pengelolaan sampah mandiri, perlindungan ekosistem, dan pelarangan penggunaan plastik.

      ·       People (Aspek Sosial-Budaya): Pariwisata harus memberdayakan masyarakat lokal, mempertahankan kearifan lokal, dan menghormati adat istiadat setempat. Partisipasi aktif masyarakat dari perencanaan hingga pengelolaan adalah kuncinya, yang juga meningkatkan kebanggaan dan kesejahteraan sosial.

      ·       Profit (Aspek Ekonomi): CBT memastikan manfaat ekonomi langsung mengalir ke masyarakat lokal, bukan hanya ke pihak luar (toko oleh-oleh, pemandu lokal, homestay milik warga).

       

      2. Hubungan CBT dengan SDGs

      CBT secara langsung berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs):

      ·       SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) & SDG 8 (Pekerjaan Layak & Pertumbuhan Ekonomi): CBT menciptakan lapangan kerja (pemandu, homestay) dan mendiversifikasi ekonomi perdesaan.

      ·       SDG 12 (Konsumsi & Produksi Bertanggung Jawab): Melalui edukasi wisatawan untuk berwisata ramah lingkungan.

      ·       SDG 15 (Ekosistem Daratan/Laut): Perlindungan area wisata oleh masyarakat lokal.

       

      3. Implementasi Carrying Capacity (Daya Dukung)

      Integrasi carrying capacity sangat penting agar pariwisata tidak melampaui batas toleransi lingkungan dan sosial.

      ·       Fisik & Ekologis: Menghitung jumlah maksimum pengunjung yang dapat ditampung destinasi tanpa merusak lingkungan (contoh: 4.812 wisatawan di Gili Trawangan).

      ·       Sosial-Ekonomi: Mengelola jumlah wisatawan agar tidak terjadi overtourism yang mengganggu kenyamanan hidup masyarakat lokal.

      ·       Manajemen: Dalam praktik tahun 2026, integrasi daya dukung dilakukan melalui pengaturan kuota pengunjung dan zonasi aktivitas untuk menjaga keseimbangan jangka panjang.

      4. Strategi Mengintegrasikan Semuanya

      Untuk mengintegrasikan aspek-aspek tersebut, diperlukan langkah-langkah konkret:

      ·       Tata Kelola Kolaboratif: Melibatkan kelompok sadar wisata (pokdarwis), pemerintah desa, dan pelaku bisnis.

      ·       Perencanaan Partisipatif: Masyarakat terlibat langsung memutuskan zonasi mana yang boleh dikunjungi dan mana yang harus dikonservasi.

      ·       Edukasi & Monitoring: Melatih masyarakat dalam manajemen pariwisata berkualitas, serta memantau dampak lingkungan secara berkala.

       

      Kesimpulan:
      Integrasi CBT, TBL, SDGs, dan carrying capacity menciptakan model pariwisata di mana masyarakat lokal berdaya secara ekonomi (Profit), budaya lokal lestari (People), lingkungan terjaga (Planet) dalam batas kemampuan wilayah (Carrying Capacity), yang semuanya bertujuan menciptakan kesejahteraan berkelanjutan (SDGs).

      CSR Belum Berhasil Jika Belum Mengenal Konsep Triple Bottom Line – perkim.idTriple Bottom Line dan Tanggung Jawab Sosial PerusahaanModel Community Based Tourism (CBT)

       

      Contoh kasus:

      • Desa Wisata Nglanggeran
      • Desa Wisata Penglipuran
      • Desa Wisata Pentingsari

      Metode:
      Presentasi kelompok

      Tugas:
      Analisis komparatif model CBT

    • Berdasarkan hasil studi dan laporan terbaru tahun 2024-2026, Community-Based Tourism (CBT) atau Pariwisata Berbasis Masyarakat di Indonesia menunjukkan peran penting masyarakat lokal sebagai pengelola utama dan penerima manfaat ekonomi, yang bertujuan untuk keberlanjutan sosial dan lingkungan.

       Pengertian Community-Based Tourism (CBT) Pariwisata Berkelanjutan yang  Memberdayakan Masyarakat - sedesa.idPengembangan Wisata Berbasis Komunitas - Penelitian PariwisataApa itu Pariwisata Berbasis Komunitas dan Mengapa Hal Itu Penting? -  Solimar International

      Berikut adalah identifikasi studi kasus CBT yang berhasil dan menonjol di Indonesia:

      1. Desa Wisata Nglanggeran (Gunungkidul, Yogyakarta)

      ·       Fokus: Ekowisata berbasis edukasi dan alam (Gunung Api Purba).

      ·       Studi Kasus: Pengelolaan dilakukan oleh Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) yang melibatkan masyarakat dalam mengelola homestay, paket edukasi cokelat, dan pemanduan, sehingga berhasil meningkatkan PADes (Pendapatan Asli Desa).

       Desa Wisata Nglanggeran | Desa Wisata Di Gunung Kidul JogjakartaDesa Wisata Nglanggeran Kabupaten Gunungkidul - Dinas Pariwisata Daerah  Istimewa YogyakartaDesa Wisata Nglanggeran, Tetap Tangguh Meskipun Dihantam Pandemi

      2. Desa Wisata Pemuteran (Buleleng, Bali)

      ·       Fokus: Konservasi pesisir dan restorasi terumbu karang (Biorock).

      ·       Studi Kasus: Mendapat penghargaan Best Tourism Village 2025 dari UN Tourism. Keberhasilannya didasarkan pada partisipasi aktif masyarakat dalam melindungi ekosistem laut yang menjadi daya tarik utama, menciptakan keseimbangan antara konservasi dan ekonomi.

       Pemuteran, Desa Wisata dengan Suasana Alam yang MenawanDesa Pemuteran Bali Dulu Dipandang Sebelah Mata, Kini Prestasinya Mendunia!  - PigiblogBuleleng Terpilih Jadi KaTa Kreatif Indonesia 2024 Subsektor Kriya

      3. Desa Wisata Cibuntu (Kuningan, Jawa Barat)

      ·       Fokus: Wisata budaya, sejarah, dan alam.

      ·       Studi Kasus: Mengimplementasikan CBT dengan melibatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Pokdarwis secara kolaboratif. Desa ini diakui secara nasional dan internasional karena pemberdayaan masyarakatnya yang kuat.

       Desa Wisata Cibuntu Kuningan: Destinasi Hits yang Pesonanya Diakui Dunia -  YouTubeDesa Wisata Cibuntu Kuningan Punya Segudang Daya Tarik AlamWisata Desa Cibuntu | Desa Wisata Berbasis Pemberdayaan Masyarakat, Kab.  Kuningan - YouTube

      4. Desa Wisata Wae Rebo (Flores, NTT)

      ·       Fokus: Ekowisata budaya dan pelestarian arsitektur tradisional.

      ·       Studi Kasus: Komunitas lokal mengintegrasikan pengalaman budaya (tracking, homestay) dengan pelestarian budaya. Highlight dari model ini adalah manajemen keuangan yang transparan dan pembagian manfaat yang adil untuk pendidikan dan kesehatan desa.

       Menang di ATF 2023, Desa Wisata Wae Rebo NTT Tetap BerbenahPaket Wisata Wae Rebo | Kelimutu | Overland Trip Flores - IndonesiaJuaraEkowisata Desa Waerebo: Menjaga Tradisi Lokal di Pegunungan Flores -  IndonesiaJuara

      5. Desa Wisata Ketenger (Banyumas, Jawa Tengah)

      ·       Fokus: Wisata alam dan budaya (Curug Bayan).

      ·       Studi Kasus: Komunitas bertindak sebagai subjek pengembang, bukan hanya objek. Hasilnya adalah peningkatan keterampilan dan kesadaran pariwisata pada masyarakat lokal.

       Desa Wisata Ketenger: Surga Tersembunyi di Banyumas yang Wajib Dikunjungi |  Media Sinar DuniaCurug Ketenger: Pesona Alam yang Menyejukkan di PurwokertoDesa Wisata Ketenger Miliki Panorama Alam Asri Khas Pedesaan Seperti Swiss  - KRT News

      6. Desa Wisata Sanankerto (Malang, Jawa Timur)

      ·       Fokus: Ekowisata berbasis konservasi bambu (Boon Pring).

      ·       Studi Kasus: Mengubah lahan yang kurang produktif menjadi daya tarik wisata berbasis konservasi, dan mendapatkan berbagai penghargaan atas inisiatif CBT-nya. 

      Sanankerto Masuk 50 Besar Anugerah Desa Wisata, Sanusi: Bisa Jadi Nomor 1 -  DPD PDI Perjuangan Jawa TimurMengenal Lebih Dekat Desa Sanankerto, MalangDesa Wisata “Boonpring” Sanankerto Malang Terima Penghargaan (ISTA) 2019 -  Jatimnet.com | Jatimnet

      Faktor Kunci Keberhasilan (Studi 2025-2026)

      Studi menunjukkan bahwa keberhasilan CBT di Indonesia didorong oleh:

      ·       Komitmen Pemimpin Lokal: Peran Kades dan tokoh masyarakat.

      ·       Partisipasi Aktif Masyarakat: Keterlibatan dalam Pokdarwis dan BUMDes.

      ·       Pelestarian Budaya/Lingkungan: Fokus pada keaslian dan konservasi.

      ·       Kolaborasi Stakeholder: Sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan swasta.

      ·       Digitalisasi: Penggunaan teknologi untuk promosi desa wisata.

      Tantangan yang Teridentifikasi

      Meskipun sukses, beberapa studi menunjukkan tantangan seperti:

      ·       Minat wisatawan yang bersifat musiman.

      ·       Keterbatasan kapasitas SDM di beberapa wilayah.

      ·       Perlunya integrasi antara peraturan pemerintah dan pengelolaan tingkat desa.

       

       

       COMMUNITY BASED TOURISM: KONSEP DAN IMPLEMENTASI - referensicendekia.comEkonomi Pariwisata dan Community Based Tourism | PDFMembangun Desa Wisata Berkelanjutan: Community Based Tourism (CBT) untuk  Pariwisata yang BerbudayaBuku Community Based Tourism

      Sub-Capaian:
      Mahasiswa mampu menyusun rencana partisipatif berbasis musyawarah.

      Mahasiswa mampu:

      1.     Memahami konsep perencanaan partisipatif dalam CBT.

      2.     Menguasai teknik Focus Group Discussion (FGD).

      3.     Menyusun rencana wisata berbasis musyawarah masyarakat.

      4.     Menyusun laporan hasil FGD simulatif secara sistemati

      Materi:

      • Teknik FGD
      • Participatory planning framework

      Metode:
      Simulasi FGD kelas

      Tugas:
      Laporan hasil FGD simulatif

    • Penyusunan rencana partisipatif berbasis musyawarah dalam pengembangan wisata adalah pendekatan yang menempatkan masyarakat lokal sebagai subjek utama, bukan sekadar objek pembangunan. Tujuan utamanya adalah memastikan pengembangan pariwisata sesuai dengan kebutuhan, budaya, dan potensi lokal, sehingga tercipta rasa tanggung jawab dan keberlanjutan.

      Partisipasi dan Unsur-unsur Partisipasi - Website Desa Ciburial

      Berikut adalah panduan lengkap menyusun rencana partisipatif berbasis musyawarah:

      1. Tahapan Perencanaan Wisata Partisipatif

      Proses ini didasarkan pada prinsip pemberdayaan, di mana masyarakat terlibat aktif dari persiapan hingga evaluasi.

      ·       1. Tahap Persiapan & Sosialisasi: Membentuk tim kecil (Pokdarwis/tokoh masyarakat) dan mensosialisasikan pentingnya pengembangan wisata kepada seluruh warga.

      ·       2. Pemetaan Potensi & Masalah (Musyawarah Dusun/Desa): Mengadakan Musyawarah Desa (Musdes) atau Musdus untuk menggali gagasan masyarakat mengenai potensi alam, budaya, dan masalah yang dihadapi.

      ·       Identifikasi & Analisis SWOT: Melakukan analisis Strength, Weakness, Opportunity, Threat bersama warga untuk menentukan jenis wisata yang cocok (alam, budaya, atau edukasi).

      ·       3. Perumusan Rencana Induk (Masterplan): Menyusun dokumen rencana kerja yang mencakup site plan, rencana sarana prasarana, dan pengelolaan.

      ·       4. Legalitas & Kepengurusan: Pengesahan pengelola desa wisata (Pokdarwis) melalui SK Kepala Desa/Bupati.

       

      Panduan Praktis Metode PRA untuk Pemberdayaan Komunitas dalam Pengembangan  Desa WisataPerencanaan Partisipatif (Participatory Planning) Melaui MusDus - Pondok  Edukasi Desa

      2. Teknik FGD (Focus Group Discussion) dalam Perencanaan

      FGD digunakan untuk mencapai kesepakatan bersama mengenai topik teknis atau sektoral yang mendalam.

      ·       Peserta FGD: Melibatkan perwakilan masyarakat (tokoh adat, pemuda, perempuan, kelompok rentan), pemerintah desa, dan ahli/pendamping.

      ·       Teknik FGD:

      o   11. Pemetaan Partisipatif: Warga menggambar peta potensi wisata mereka sendiri.

      o   22. Diskusi Terarah: Membahas secara spesifik masalah seperti dampak lingkungan, bagi hasil, atau strategi promosi.

      o   33. Penyusunan Rencana Aksi: Merumuskan tindakan konkrit yang harus dilakukan jangka pendek dan panjang.

      ·      4. Hasil FGD: Berita acara, notula, peta potensi desa, dan draf visi-misi desa wisata.

       

      Teori Lengkap Tentang Pengembangan Desa Wisata menurut Teori dan Pendapat  Ahli dan Contoh Tesis Pengembangan Desa Wisata

      3. Participatory Planning Framework (Kerangka Perencanaan)

      Kerangka ini memastikan pariwisata berakar pada pengetahuan lokal (local knowledge) dan didorong oleh keterlibatan komunitas.

      ·       Kajian Konteks (Kondisi Eksisting): Menganalisis daya dukung lingkungan dan sosial.

      ·      

      Appreciative Participatory Planning and Action (APPA): Metode 8-D (Define, Discovery, Dream, Direction, Design, Delivery, Dance, Dialogue) untuk mengidentifikasi kekuatan dan merancang aset wisata.

      ·       Struktur Pengambilan Keputusan: Memastikan Pokdarwis dan BUMDes memiliki tata kelola yang transparan dan inklusif.

      ·       Integrasi Stakeholder: Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, akademisi, dan swasta untuk mendukung pendanaan dan pendampingan.

      ·       Monitoring & Evaluasi: Warga ikut serta dalam pengawasan pelaksanaan kebijakan/pembangunan wisata.

      Kunci Keberhasilan

      Musrenbang RKPD 2027 Tingkat Kecamatan: Perkuat Perencanaan Pembangunan  Partisipatif - KlatenOPTIMALISASI PERAN MASYARAKAT DALAM MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN DESA  MELALUI PERENCANAAN PARTISIPATIF SEBAGAI UPAYA PEMANPARTISIPATIF PLANNING PADA PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA PANTAI DALEGAN  GRESIK Banun Prabawanti Program Studi Administrasi Negara

      ·       Inklusif: Melibatkan kelompok perempuan dan pemuda dalam pengambilan keputusan.

      ·       Transparan: Seluruh rencana anggaran dan hasil musyawarah diketahui oleh warga.

      ·       Berkelanjutan: Fokus pada kelestarian lingkungan dan budaya, bukan hanya keuntungan ekonomi.

      Sub-Capaian:
      Mahasiswa mampu menyusun action plan operasional.

      Mahasiswa mampu menyusun action plan operasional pengembangan Community Based Tourism (CBT) secara terstruktur, realistis, dan partisipatif.

      Materi:

      • Timeline program
      • Anggaran sederhana
      • Pembagian peran

      Metode:
      Workshop penyusunan action plan

      Tugas:
      Dokumen Rencana Aksi CBT