Garis besar topik
-
-
Assalamualaikum wr wb. Selamat siang semua. Sebelum kita memulai perkuliahan, mari kita berdoa menurut ajaran agama masing-masing.
Pada pertemuan minggu yang lalu kita sudah membahas mengenai Efisiensi Pasar. Efisiensi pasar, yang terdapat pada formula hipotesa pasar efisien (HPE) yang ditemukan oleh Eugene Fama ditahun 1970, mengatakan bahwa harga benar-benar merefleksikan seluruh informasi yang tersedia pada sebuah saham atau pasar di sebuah periode. Karena itu, menurut HPE, tidak ada seorang investor yang akan mendapatkan keunggulan dalam memprediksi harga saham karena akses informasi telah tersedia bagi semua.
Efek Efisiensi: Tidak Terprediksi
Informasi yang ada tidak hanya terbatas pada berita keuangan dan risetnya, walaupun memang informasi mengenai politik, ekonomi, dan kejadian sosial, dikombinasikan dengan sikap investor pada informasi, apakah benar atau hanya rumor, akan tercermin pada harga saham. Menurut HPE, tidak ada seorang pun yang memiliki kemampuan untuk menggulung kerugian orang lain karena harga merespon hanya pada informasi yang tersedia di pasar, dan karena seluruh pelaku pasar memiliki akses pada informasi yang sama.Dalam pasar yang efisien, harga menjadi bergerak acak sehingga sulit diprediksi, jadi tidak ada pola investasi yang abadi. Pola harga yang bergerak acak ini menghasilkan kegagalan dari strategi investasi yang bertujuan untuk mengalahkan pasar secara konsisten.
Tantangan Untuk Efisiensi
Dalam dunia investasi nyata, banyak sekali argumen melawan teori HPE. Ada investor yang terus-menerus berhasil mengalahkan pasar, seperti Warren Buffett, dimana strategi investasinya berfokus pada saham-saham yang undervalued. Strategi ini berhasil menghasilkan milyaran dolar baginya dan memberikan banyak pengikut. Ada manajer investasi yang memiliki rekor lebih baik dibanding dengan lainnya, dan ada sekuritas yang melakukan riset lebih banyak dibanding dengan lainnya. Jadi bagaimana kinerja bisa acak jika jelas-jelas ada orang yang mendapatkan keuntungan dan mengalahkan pasar?Studi pada perilaku keuangan, yang melihat pada psikologis investor pada harga saham, menunjukkan bahwa terdapat beberapa pola terprediksi di pasar modal. Investor cenderung membeli saham yang undervalue dan menjual saham yang overvalue, dan dalam sebuah pasar dengan banyak pelaku pasar, hasilnya bisa apapun tetapi efisien.
Bagaimana Pasar Menjadi Efisien?
Untuk membuat pasar menjadi efisien, investor harus melihat pasar tidak efisien dan mungkin untuk dikalahkan. Ironis memang, strategi investasi ditujukan untuk mendapatkan keunggulan dari ketidakefisienan yang menjadi bahan bakar untuk membuat pasar tetap efisien.Pasar harus besar dan likuid. Informasi harus tersedia secara luas dalam hal akses dan biaya serta dirilis kepada pelaku pasar diwaktu yang tidak berbeda. Biaya transaksi harus lebih murah daripada tingkat keuntungan yang diharapkan dari sebuah strategi investasi. Investor juga harus memiliki cukup dana untuk mendapatkan keunggulan dari ketidakefisienan sampai hal itu hilang kembali. Lebih penting lagi, seorang investor harus percaya bahwa ia bisa mengalahkan pasar.
Derajat Efisiensi
Dalam HPE, ada tiga klasifikasi yang dapat diidentifikasi, yang ditujukan untuk merefleksikan derajat atau level yang dapat diaplikasikan ke pasar.- Efisiensi Kuat: Ini adalah level atauderajat terkuat, yang menyatakan bahwa semua informasi di pasar, baik publik maupun privat, dihitung dalam harga saham. Insider information pun tidak akan membuahkan keunggulan bagi investor.
- Efisiensi Semi-Kuat: Dilevel ini semua informasi publik diperhitungkan kedalam harga saham saat ini. Analisa fundamental dan teknikal dapat digunakan untuk mencapai keuntungan superior.
- Efisiensi Lemah: Dilevel ini semua harga saham di masa lalu tercermin pada harga saham saat ini. Karena itu, analisa teknikal tidak dapat digunakan dalam memprediksi pasar dan mengalahkannya.
Kesimpulan
Dalam dunia nyata, pasar tidak akan benar-benar efisien secara keseluruhan atau tidak efisien secar total. Lebih rasional kalau pasar dipandang diantara keduanya, dimana tiap keputusan dan kejadian tidak selalu langsung berpengaruh ke pasar. Jika seluruh pelaku pasar percaya bahwa pasar dalam keadaan efisien, tidak ada seorang pun yang akan mencari keuntungan luar biasa, yang merupakan kekuatan utama untuk membuat roda pasar modal terus berjalan.Di jaman teknologi informasi seperti sekarang ini, pasar diseluruh dunia semakin mendapatkan efisiensi. Dengan adanya teknologi informasi yang lebi cepat memungkinkan informasi untuk menyebar dengan cepat dan perdagangan online membuat harga lebih cepat menyesuaikan dengan berita dan informasi yang masuk ke pasar.
Sebelum melanjutkan ke kegiatan selanjutnya silahkan isil daftar hadir dengan kata: Hadir -
Silahkan tonton video ini. Video ini berisi tentang motivasi nabung saham
-
Materi ini berisi tentang:
- Jenis-jenis obligasi,
- yield obligasi,
- penilaian obligasi,
- tingkat bunga dan harga obligasi,
- durasi obligasi,
- pengelolaan portofolio obligasi,
- strategi pengelolaan obligasi -
-
Berdasarkan hasil pemaparan materi tentang obligasi, dapat disimpulkan bahwa:
Surat Utang (Obligasi) merupakan salah satu Efek yang tercatat di Bursa di samping Efek lainnya seperti Saham, Sukuk, Efek Beragun Aset maupun Dana Investasi Real Estat. Obligasi dapat dikelompokkan sebagai efek bersifat utang di samping Sukuk. Obligasi dapat dijelaskan sebagai surat utang jangka menengah panjang yang dapat dipindahtangankan, yang berisi janji dari pihak yang menerbitkan untuk membayar imbalan berupa bunga pada periode tertentu dan melunasi pokok utang pada waktu yang telah ditentukan kepada pihak pembeli obligasi tersebut. Obligasi dapat diterbitkan oleh Korporasi maupun Negara.Efek Bersifat Utang tercatat di Bursa
Sampai saat ini, terdapat beberapa efek bersifat utang yang tercatat di Bursa, antara lain :
Obligasi Korporasi, yaitu obligasi yang diterbitkan oleh Perusahaan Swasta Nasional termasuk BUMN dan BUMD.
Sukuk adalah Efek Syariah berupa sertifikat atau bukti kepemilikan yang bernilai sama dan mewakili bagian yang tidak terpisahkan atau tidak terbagi (syuyuΓÇÖ/undivided share), atas aset yang mendasarinya.
Surat Berharga Negara (SBN) merupakan Surat Berharga Negara yang terdiri dari Surat Utang Negara dan Surat Berharga Syariah Negara.
- Surat Utang Negara (SUN) adalah surat berharga yang berupa surat pengakuan utang dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia sesuai dengan masa berlakunya. Ketentuan mengenai SUN diatur dalam Undang Undang Nomor 24 Tahun 2002 tentang Surat Utang Negara.
- Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk Negara adalah surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah, sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap Aset SBSN, baik dalam mata uang rupiah maupun valuta asing. Ketentuan mengenai SBSN diatur dalam Undang Undang Nomor 19 Tahun 2008 tentang Surat Berharga Syariah Negara.
Efek Beragun Aset (EBA) adalah Efek bersifat utang yang diterbitkan dengan Underlying Aset sebagai dasar penerbitan.
Keuntungan Membeli Efek Bersifat Utang
Berikut adalah keuntungan membeli Efek Bersifat Utang, antara lain :
Mendapatkan kupon/fee/nisbah secara periodik dari efek bersifat utang yang dibeli. Pada umumnya tingkat kupon/fee/nisbah berada di atas bunga Bank Indonesia (BI rate).
Memperoleh capital gain dari penjualan efek bersifat utang di pasar sekunder.
Memiliki risiko yang relatif lebih rendah dibandingkan instrumen lain seperti saham, dimana pergerakan harga saham lebih berfluktuatif dibandingkan harga efek bersifat utang. Pada efek bersifat utang yang diterbitkan oleh pemerintah dapat dikatakan sebagai instrumen yang bebas risiko.
Banyak pilihan seri efek bersifat utang yang dapat dipilih oleh investor di pasar sekunder.
Perdagangan Efek Bersifat Utang
Tugas:Pada umumnya, instrumen efek bersifat utang diperdagangkan melalui mekanisme over the counter (OTC). Bursa menyediakan sistem khusus untuk memfasilitasi perdagangan efek bersifat utang , yang dikenal dengan nama FITS (Fixed Income Trading System). FITS merupakan sistem (automated remote trading) yang dimiliki Bursa Efek Indonesia untuk memfasilitasi perdagangan efek bersifat utang di Indonesia.
Disamping itu, juga terdapat sistem pelaporan untuk transaksi efek bersifat utang , yang dikenal dengan nama CTP-PLTE (Centralized Trading Platform ΓÇô Pelaporan Transaksi Efek). CTP-PLTE merupakan sistem elektronik, yang dapat digunakan sebagai sarana perdagangan dan pelaporan transaksi efek bersifat utang .
Dengan diperdagangkannya efek bersifat utang, maka akan terjadi pembentukan harga efek bersifat utang, yang dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran efek bersifat utang tersebut. Adapun dasar-dasar yang dapat mempengaruhi harga wajar efek bersifat utang yang diperdagangkan di Bursa, sebagai berikut:
Interest Rates
Besarnya suku bunga menjadi acuan bagi pembeli efek bersifat utang sebagai perbandingan dasar tingkat pengembalian yang diharapkan. Tingkat suku bunga pasar dalam hal ini dapat berupa BI rate. Ketika suku bunga pasar berubah, maka akan mempengaruhi harga efek bersifat utang. Pada saat tingkat suku bunga pasar mengalami kenaikan, sementara besarnya tingkat pengembalian atas efek bersifat utang adalah tetap, maka return riil dari investor dianggap menjadi relatif lebih kecil. Hal ini akan menyebabkan terjadi aksi jual efek bersifat utang, sehingga harga efek tersebut menjadi turun. Begitu pula sebaliknya.
Faktor Risiko
Risiko kredit menggambarkan kemampuan penerbit efek bersifat utang dalam melakukan pembayaran bunga atau pelunasan pokok secara tepat waktu sesuai jatuh temponya. Pada umumnya, efek bersifat utang diperingkat secara berkala oleh Lembaga Pemeringkatan Efek. Investor dapat memanfaatkan informasi pemeringkatan efek bersifat utang dari Lembaga Pemeringat Efek untuk mengukur risiko investasi pada suatu efek bersifat utang dan menilai tingkat kredibilitas suatu perusahaan, serta juga dapat memperlihatkan kinerja/prospek perusahaan. Ketika peringkat efek bersifat utang mengalami penurunan, mengindikasikan tingkat risiko Penerbit dalam memenuhi kewajibannya menjadi lebih rendah yang pada akhirnya dapat berpotensi gagal bayar. Kondisi tersebut akan menyebabkan harga efek bersifat utang tersebut mengalami penurunan. Hal ini disebabkan permintaan atas efek bersifat utang juga mengalami penurunan karena efek bersifat utang tersebut dianggap tidak menarik bagi investor.
Jatuh Tempo
Efek bersifat utang yang tercatat di Bursa memiliki periode jatuh tempo yang berbeda-beda. Pada saat jatuh tempo, Penerbit memiliki kewajiban untuk mengembalikan seluruh pokok efek bersifat utang kepada Investor. Pada umumnya, harga efek bersifat utang berbanding terbalik dengan jangka waktu obligasi. Semakin pendek jangka waktu efek bersifat utang, maka akan semakin kecil tingkat ketidakpastian (risiko) atas efek bersifat utang tersebut. Disamping itu, semakin efek bersifat utang tersebut mendekati tanggal jatuh temponya, maka harga efek tersebut akan semakin mendekati nilai nominalnya (par).
- Tugas Individu: Carilah contoh data Obligasi di Bursa Efek Indonesia.
- Obligasi yang bernilai nominal Rp 10 juta dengan tarif kupon 14% setahun. Kupon dibayarkan setiap 6 bulan. Obligasi tersebut akan jatuh tempo dalam waktu 7 tahun dan memiliki YTM 16%. Hitunglah harga obligasinya.
- Apabila suatu obligasi membayar bunga pertahun sebesar 14%/th, dengan harga pasarnya sekarang sebesar Rp 1.100.000. (Nominalnya Rp 1 juta). Hitunglah Current Yield obligasi tersebut!
- Sebuah obligasi yang callable jatuh tempo 10 tahun lagi dengankupon yang diberikanadalah 18%/tahun. Nilai par obligasi tersebut adalah Rp. 1.000.000 dan saat ini dijual padaharga Rp. 1.050.000. Kemungkinan obligasi tersebut akan dilunasi oleh emiten 5 tahun lagidengan call price sebesar Rp.1.180.000. Berapa Yield To Call Obligasi tersebut?
- Anda sedang mereview suatu obligasi yang memberikan kupon tahunan sebesar 10% dengan nilai nominal Rp 10 juta. Obligasi tersebut jatuh tempo 20 tahun dan YTM nya 8%. Berapa nilai obligasi tersebut.
Demikian pertemuan kita pada minggu ini. Saya akhiri Wassalamualaikum wr wb.
-