Garis besar topik
-
-
Konsep hijau banyak diadopsi oleh perusahaan-perusahaan di dunia. Perusahaan mulai menyadari bahwa isu green bukan menjadi isu pemerintah, tapi isu bagi mereka. Siapa saja perusahaan yang paling hijau di dunia?
Korporasi di tanah air merupakan pengadopsi konsep green yang sangat gencar. Hal itu terlihat sangat jelas dengan dibentuknya indeks Sri Kehati, bagi perusahaan-perusahaan terbuka yang sudah menerapkan konsep green dalam aktifitas bisnis maupun corporate social responsibility.
Dalam percaturan global, industri yang ramah lingkungan merupakan hal mutlak. Masyarakat dunia semakin sadar, bahwa produknya bisa dinilai ΓÇ£baik dan amanΓÇ¥ secara instan manakala perusahaannya terkenal sebagai perusahaan yang memang mengikuti standar ramah lingkungan dunia.
Tentu saja menjadikan perusahaan berstandar green bukan perkara mudah. Karena dibalik semua itu terdapat alokasi investasi yang tidak sedikit. Jauh lebih sulit lagi dan sekaligus yang terpenting, sumberdaya manusia di dalamnya harus mengamalkan ramah lingkungan di lingkungan kerja dan diharapkan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak perusahaan dari berbagai bidang industri berlomba-lomba untuk menerapkan proses produksinya dengan lebih memperhatikan lingkungan hidup dan keberlangsungannya. Tak hanya sekadar tren, pembangunan perusahaan berbasis green ini memiliki tujuan utama, pelestarian kehidupan untuk masa depan yang lebih baik.
Berikut adalah 10 perusahaan paling hijau di dunia yang dinilai berdasarkan corporate sustainability dan dampak terhadap lingkungan, seperti yang dikutip dari Newsweek.
1. Vivendi
Jenis Industri : Media dan Telekomunikasi
Asal Negara : Perancis
Vivendi merupakan perusahan yang berkantor pusat di Paris dan bergerak dibidang media dan telekomunikasi. Perusahaan yang didirikan sejak tahun 1998 ini memiliki jenis usaha untuk bidang musik, televisi, perfilman, telekomunikasi, dan layanan internet. Keberhasilan Vivendi menempati posisi pertama sebagai perusahaan paling hijau adalah berkat kebijakannya untuk menjaga lingkungan melalui seluruh anak perusahaannya. Maroc Telecom, anak perusahaan dibidang telekomunikasi yang berada di Maroko, tercatat menggunakan energi surya sebagai pembangkit listriknya di 632 area kerjanya. Selain itu, Universal Music yang merupakan anak persahaan dibidang musik dan bertempat di California Selatan, Amerika Serikat, memiliki kebijakan unik dengan memberikan insentif kepada karyawannya yang menggunakan transportasi publik dalam kesehariannya. Tak hanya itu, hampir seluruh anak perusahaannya memiliki syarat bagi para supplier-nya untuk memiliki sertifikat ramah lingkungan sebelum bekerja sama dengan Vivendi.
2. Allergan
Jenis Industri : Farmasi
Asal Negara : Amerika Serikat
Allegran merupakan perusahaan yang bergerak di industri farmasi dan berkantor pusat di Irvine, California. Produk yang dihasilkan oleh perusahaan yang didirikan pada tahun 1948 ini adalah obat mata, kesehatan kulit, saraf, urologi, serta kosmetika. Meskipun industri farmasi merupakan salah satu penghasil limbah terbesar, namun perusahaan ini dikenal dalam hal pelestarian lingkungannya sejak 20 tahun yang lalu. Daya upaya Allegran dalam menjaga lingkungan fokus pada pengembangan waste management serta berbagai aktivitas untuk efisiensi energi. Contohnya, di kantor pusatnya, Allergan menggunakan tenaga surya sebagai pembangkit listriknya. Penggunaan panel tenaga surya ini berhasil mengurangi penggunaan energi hingga mencapai 11% dari tahun 2011 hingga 2012. Selain itu, perusahaan in juga aktif dalam kampanye dan berbagai program efisiensi penggunaan air dalam aktivitas kesehariannya.
3. Adobe Systems
Jenis Industri : Teknologi Informasi
Asal Negara : Amerika Serikat
Adobe Systems Incorporated merupakan perusahaan yang bergerak di pengembangan piranti lunak Portable Document Forman (PDF), adobe creative suite, serta adobe creative cloud yang berkantor pusat di San Jose, California. Perusahaan yang didirikan oelh John Warnock dan Charles Geschke ini telah berdiri sejak tahun 1982. Kebijakan yang mengantarkan adobe menjadi perusahaan hijau di dunia adalah inisiatifnya dalam pengembangan dan penggunaan green building. Sekitar 70 persen dari seluruh kantor Adobe di seluruh dunia, termasuk kantor pusatnya, telah mendapatkan sertifikasi LEED untuk standarisasi green building. Selain itu, kantor pusatnya pun kini menggunakan pembangkit listrik tenaga angina serta tenaga surya untuk pemanfaatan energi. Lainnya, perusahaan ini juga turut berpartisipasi dalam efisiensi penggunaan air.
4. Kering
Jenis Industri : Manufaktur
Asal Negara : Perancis
Kering yang sebelumnya dikenal dengan nama Pinault-Printemps-Redoute (PPR) merupakan perusahaan yang berkantor pusat di Paris dan bergerak di produksi barang mewah, olah raga, serta lifestyle. Perusahaan yang didirikan pada tahun 1963 oleh Francois Pinault ini telah mendistribusikan hasil produksinya ke lebih dari 120 negara di dunia. Fokus Kering dalam menjaga lingkungan hidup terlihat dari komitmennya dalam bahas dasarnya yang diawasi secara ketat untuk tidak menggunakan bahan kimia berbahaya. Pengawasan ini dilakukan dengan ketatnya quality control yang dilakukan oleh divisi laboratorium yang telah mengeluarkan daftar material yang diperbolehkan untuk digunakan oleh produk Kering. Selain itu, perusahaan ini juga memiliki sistem yang dinamakan Environmental Profit and Loss Account yang berfungsi untuk mengidentifikasi dampak lingkungan dalam proses supply chain-nya. Tak hanya itu, Kering pun aktif dalam pengelolaan limbah hasil produksinya yang dilakukan salah satunya melalui penggunaan kembali bahan bekas (recycle process).
5. NTT Docomo
Jenis Industri : Telekomunikasi
Asal Negara : Jepang
NTT Docomo merupakan perusahaan penyedia layanan telekomunikasi yang berkantor pusat di Tokyo. Perusahaan yang didirikan pada bulan Agustus 1991 ini memiliki jumlah pengguna lebih dari 60 juta hingga akhir tahun 2013. Keberhasilan NTT Docomo dalam pelestarian lingkungan terlihat dari komitmennya untuk menggunakan tenaga alternatif sebagai pembangkit listriknya, seperti tenaga surya dan angin, untuk seluruh area operasinya. Tak hanya itu, untuk mengkontrol penggunaan energi, perusahaan ini juga menggunakan teknologi smart grid yang diimplementasikan pada seluruh kantornya di Jepang. Dari sisi produksi, NTT Docomo juga mengeluarkan produk yang berbahan dasar ramah lingkungan. Contohnya, solar-powered charger serta Touch Wood, yaitu telepon selular yang diproduksi dari surplus kayu pohon yang didapatkan pada saat proses penjarangan.
Sumber: Majalah Warta Ekonomi Nomor 12
Menghijaukan perusahaan (greening the corporation) merupakan upaya yang dilakukan pemilik dan manajemen untuk menghijaukan perusahaan agar menjadi perusahaan hijau (green corporation). Perusahaan hijau adalah perusahaan yang dalam visi, misi, tujuan dan arahan strategisnya, serta dalam struktur manajemen dan proses bisnisnya senantiasa mengintegrasikan dan mensinergiskan kepentingan ekonominya dengan kepentingan-kepentingan dari masyarakat dan lingkungan, serta adil dengan generasi-generasi selanjutnya.
Dalam pengertian itu, perusahaan didesak tidak boleh mengeksploitasi masyarakat,sumberdaya alam dan lingkungan secara serakah. Apalagi, memiskinkan masyarakat dan merusak lingkungan demi laba sebesar mungkin. Perusahaan dituntut menjalankan bisnisnya secara efisien, efektif dan berkeadilan sosial dan ekologi (eco-efficiency, eco-effectiveness, eco-justice) sehingga tercipta keberlanjutan bisnis dan laba perusahaan dalam jangka panjang. Pertanyaannya, bagaimana memulainya?Pertama, para pengusaha dan direksi perusahaan harus menyadari bahwa upaya menghijaukan perusahaan menjadi kebutuhan hakiki yang mendesak. Seperti telah saya sebutkan di atas, selain karena desakan dari pelaku pasar dan para stekeholder kian menguat, penghijauan perusahaan dan bisnisnya justru menjadi solusi strategis untuk meningkatkan laba dan nilai perusahaan dalam jangka panjang. Pertumbuhan laba dan nilai aset perusahaan serta nilai ekuitas pemegang saham justru akan terus bertumbuh apabila perusahaan peduli pada isu-isu sosial dan lingkungan. Sejumlah hasil riset empiris telah memperkuat keyakinan tersebut.Kedua, kesadaran dan gaung untuk memulai transformasi paradigma dan praktik bisnis dari yang konvensional menuju paradigma dan praktik bisnis baru yang lebih ramah lingkungan harus berawal dari para pemilik dan top manajemen perusahaan. (tone from the top).Tanpa adanya gaung dan dukungan penuh dari pemilik dan top manajemen perusahaan maka upaya untuk menghijaukan perusahaan bakal sia-sia. Karena itu, inisiatif, dorongan dan dukungan dari pemilik dan top manajemen untuk menghijaukan perusahaan menjadi sangat penting.Apabila para pebisnis sudah menyadari bahwa penghijauan perusahaan menjadi kebutuhan hakiki bagi perusahaan dan kemudian mengambil inisiatif untuk mendorong manajemen melakukan tranformasi perusahaan menuju perusahaan hijau (green company), maka ada empat tahap yang perlu dilakukan pimpinan untuk menghijaukan perusahaanPertama, melakukan penghijauan terhadap visi, misi, tujuan dan sasaran perusahaan. Pemilik atau pimpinan perusahaan mesti mengkaji ulang dan merumuskan kembali visi, misi, tujuan dan sasaran perusahaan yang sudah ada agar lebih ramah dan sensitif terhadap isu-isu sosial dan lingkungan. Visi, misi, tujuan dan sasaran tersebut akan memberikan arahan strategis, taktikal dan operasional bagi jajaran manajemen dan karyawan dalam proses pembangunan bisnis hijau yang berkelanjutan.Kedua, melakukan penghijauan terhadap struktur dan fungsi-fungsi manajemen perusahaan. Dalam hal ini, struktur manajemen, mulai dari manajemen puncak hingga operasional, perlu dihijaukan pemahaman dan kompetensinya tentang arti penting penghijauan perusahaan sehingga semua level manajemen memiliki persepsi dan gerak tindakan yang sama. Perusahaan juga perlu mengembangkan struktur manajemen baru yang bertanggung jawab mengembangkan, menginternalisasikan dan mengimplementasikan nilai-nilai, prinsip-prinsip dan praktik-praktik bisnis yang ramah lingkungan serta melakukan monitoring dan pengendaliannya. Struktur baru tersebut sebaiknya berada langsung di bawah direktur utama (Dirut) sehingga koordinasi dan pengendaliannya untuk memastikan perusahaan menjadi greecompany menjadi lebih efektif.Ketiga, melakukan penghijauan terhadap proses manajemen perusahaan. Pada tahap ini, top manajemen perlu selalu menekankan bahwa setiap perencanaan, pengkoordinasian, pengendalian manajamen dan pelaksanaan aktivitas bisnis harus senantiasa mempertimbangkan dan menginternalisasikan isu-isu dan nilai-nilai sosial dan lingkungan secara integrasi. Dengan demikian, tidak hanya kepentingan ekonomi yang menjadi fokus dalam pertimbangkan proses manajemen perusahaan, tapi juga kepentingan sosial dan lingkungan. Integrasi dan sinergitas pertimbangan ekonomi, sosial dan lingkungan dalam proses manajamen pada akhirnya akan mencipatakan keseimbangan, keselarasan dan keberlanjutan perusahaan dalam jangka panjang.Keempat, melakukan penghijauan terhadap akuntabilitas perusahaan dan tranparansi informasi. Penghijauan akuntabilitas perusahaan mensyaratkan perusahaan mesti memperhitungkan semua konsekuensi ekonomik, sosial dan lingkungan yang bakal timbul dari aktivitas ekonomi-bisnis perusahaan dalam keputusan manajerial dan pengelolaan bisnis secara berkelanjutan. Pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan (CSR) secara tulus, iklas, berkelanjutan dan bertanggung jawab merupakan wujud dari corporate accountability tersebut. Perusahaan juga mesti transparan dalam penyajian informasi akuntansi dengan mengintegrasikan pelaporan informasi keuangan, sosial dan lingkungan serta tatakelola perusahaan dalam satu paket pelaporan. Tujuannya, agar semua pihak bisa mengetahui informasi tentang perusahaan secara utuh dan lengkap tentang kinerja dan nilai perusahaan, pengelolaan perusahaan, serta risiko dan prospek perusahaan sehingga tidak tersesatkan dalam pengambilan keputusan. (Adreas Lako, 2012,majalah motivasi LUARBIASA, No.47 Tahun IV November 2012, hlm 32-34)Dalam kurun waktu tahun 1967-2018, pertumbuhan ekonomi Indonesia selalu positif, kecuali tahun 1998, minus 13,20%. Sejak awal milenium, pertumbuhan ekonomi belum mencapai tingkat seperti pada pertengahan tahun sembilan puluhan, meski cenderung semakin tinggi. Penurunan kemiskinan jadi satu digit seperti sebuah ironi dalam pertumbuhan. Sebab, lebih dari 25 juta jiwa (9,41%) penduduk hidup di bawah garis kemiskinan (BPS, 15/7/2019). Meski angka kemiskinan sudah turun ke single digit 9,41%, jumlah penduduk miskin dan rentan miskin masih besar, sekitar 78,44 juta atau 29,36% dari total penduduk Indonesia (Investor Daily, 18/7/2019). Fenomena paradoksal pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan ini menimbulkan pertanyaan, mengapa terjadi pertumbuhan ekonomi tetapi kemiskinan masih tinggi? Jawaban pertanyaan tersebut sederhana. Masyarakat golongan bawah kurang mempunyai akses terhadap faktor produksi. Dalam kegiatan ekonomi, faktor produksi disinergikan untuk menciptakan nilai tambah (value added), yang agregasinya merupakan produk domestik bruto (PDB). Data BPS menunjukkan pertumbuhan ekonomi tahun 2018 sebesar 5,17%. Angka ini merupakan yang tertinggi semasa pemerintahan Jokowi-JK. Minimnya akses penduduk miskin terhadap faktor produksi menyebabkan akses terhadap nilai tambah (PDB) juga minimal. Maka, orang miskin kurang dapat menikmati bagian nilai tambah. Inilah penyebab mengapa kemiskinan persisten. Dari perekonomian yang berlangsung positif, dua hal mungkin terjadi. Pertama, kesenjangan pendapatan semakin tinggi, dikarenakan sebagian kecil masyarakat menguasai faktor produksi, dan penduduk miskin tidak demikian, sehingga mereka tetap saja miskin. Kedua, andaikata penguasa faktor produksi adalah investor asing, maka akan mengurangi ΓÇ£kueΓÇ¥ ekonomi domestik karena sebagian PDB milik investor asing terbang ke luar negeri. Dari dua hal tersebut, yang terjadi saat ini memang kesenjangan struktural maupun spasial yang membentuk lingkaran setan kemiskinan yang sulit diputus.
Empat Pilar Strategi Pembangunan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan, pelestarian lingkungan hidup adalah bagian dari strategi pembangunan nasional, yang dicanangkan pemerintah sejak 2009. SBY mengatakan, program prorakyat yang dicanangkan pemerintah didasarkan pada empat pilar utama yaitu, pro-growth, pro-job, pro-poor, dan pro-environment. Salah satu kebijakan hijau baru yang diterapkan di Indonesia adalah program pengurangan emisi gas rumah kaca dan peningkatan pasokan karbon.
Contoh Langkah mewujudukan upaya penghijauan yaitu Teknik penanaman hidroponik dapat menjadi solusi penghijauan selanjutnya apabila lahan yang kita punya tidak cukup memadai untuk ditanami tumbuhan hijau. Teknik penanaman hidroponik adalah teknik menanam tanpa menggunakan tanah, melainkan menggunakan benda lain seperti sabut kelapa yang diberi unsur hara yang dibutuhkan oleh tumbuhan hijau. atau simplenya ada adalah Disiplin membuang sampah pada tempatnya dapat mendukung upaya penghijauan. Lingkungan yang telah kita tanami oleh tumbuh-tumbuhan hijau tentunya tidak boleh tercemari oleh limbah maupun sampah, karena dapat menimbulkan pemandangan yang tidak sedap. Kepedulian masyarakat sangat dibutuhkan dalam masalah ini. Apabila masyarakat dengan sadar tidak membuang sampah sembarangan, tentu dampak positifnya juga dirasakan oleh masyarakat itu sendiri.
Motif dan Berkah yang melimpah bagi Ekonomi
Patut disadari oleh para pebisnis di Tanah Air bahwa para pebisnis dan korporasi global sudah melangkah jauh dalam menerapkan prinsip-prinsip green business dalam keputusan dan tindakan bisnis secara terintegrasi. Tren kesadaran korporasi global untuk menerapkan green business terus meningkat pesat dalam lima tahun terakhir. Sementara kesadaran korporasi Indonesia terhadap green business masih sangat rendah.
Lalu, apa motif korporasi global menerapkan green business? Sejumlah hasil survei melaporkan bahwa motifnya sangat beragam. Pertama, untuk menebus dosa atas kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat perusahaan sebelumnya. Dengan begitu, perusahaan akan terlindungi secara sosial. Kedua, patuh terhadap regulasi agar bisa mengurangi tekanan-tekanan politik dan sosial dari pemerintah dan masyarakat setempat. Ketiga, menurunkan risiko bisnis dan risiko keuangan serta risiko politis. Keempat, meningkatkan akses politis, investasi, kredit dan bisnis perusahaan.
Kelima, meningkatkan citra, reputasi dan nama baik perusahaan sehingga mendapat apresiasi yang luas dari para stakeholder. Keenam, untuk keberlanjutan bisnis dan laba perusahaan dalam jangka panjang. Apa berkah ekonomi yang dapat diperoleh perusahaan dari green business? Ternyata banyak! Sejumlah hasil riset empiris melaporkan bahwa komitmen berkelanjutan perusahaan mengelola bisnisnya dengan menginternalisasikan prinsipprinsip green businessdalam keputusan dan tindakan bisnis mendatangkan banyak manfaat atau berkah ekonomi bagi perusahaan.
Meski dalam jangka pendek menurunkan laba, namun dalam jangka panjang justru mendatangkan banyak keuntungan bagi perusahaan. Laba, ekuitas dan nilai bersih perusahaan dan nilai pasar sekuritas perusahaan terus meningkat dalam jangka panjang. Bukti empiris di Indonesia juga menyimpulkan hal yang sama. Kinerja dan nilai perusahaan meningkat pesat pasca perusahaan melaksanakan CSR atau green business secara berkelanjutan.
Sebaliknya, risiko bisnis dan risiko pasar menurun signifikan setelah perusahaan melaksanakan CSR atau green business secara konsisten (Lako, 2013). Bukti-bukti empiris tersebut menunjukkan bahwa green business adalah berkah, bukan beban, bagi perusahaan. Karena itu, bagi para pebisnis, jangan khawatir untuk melangkah menerapkan konsep green business dalam praktik bisnis di perusahaan.
-