Garis besar topik
-
Assalamualaikum wr. wb
Tabik pun
Selamat siang. Alhamdulillah ketemu lagi perkuliahan Semester Pendek di pertemuan ke 11. Semoga semua sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT. aamin.. Materi hari ini adalah Keabsahan alat ukur Penelitian. Saya sudah share bahan bacaan yang berkaitan materi hari ini. Ada video tentang keabsahan alat ukur Validitas dan Reabilitas. Ada forum diskusi untuk menganalisis dari bahan bacaan dan video. Tetap semangat dan selalu memberikan yang terbaik. Terima Kasih.
Wassalamualaikum wr. wb
-
Uji validitas dan reliabilitas ΓÇô Kunci keberhasilan dari penulisan sebuah tugas akhir terletak dari pemahaman mengenai metode penelitian, dan apa yang kalian kerjakan. Banyak yang menganggap skripsi atau tesis pasti susah, mesti ada metode analisisnya/angket/kuesioner/harus run data dan sebagainya.
Memang benar, dan itu penting agar hasil penelitian bukan hanya sekedar berupa tulisan semata dan tetap berada pada koridor ilmiah. Artinya, jika metode tersebut diulang oleh orang lain, akan tetap mendapatkan hasil yang serupa.
Pertanyaan yang sering saya temui dalam berdiskusi dengan teman-teman yang sedang menyusun penelitian khususnya di bidang sosial, adalah uji validitas dan reliabilitas. Lalu sebenarnya apa arti serta urgensi dari kedua uji tersebut? Pada tulisan ini, kita akan membahas secara lengkap apa itu uji reliabilitas dan validitas, contoh kasus, dan metode cara melakukannya.
Apakah Uji Validitas dan Reliabilitas Wajib Dilakukan?
Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah wajib jika menggunakan instrumen penelitian. Guna melihat kelayakan dan keakurasian alat instrumen penelitian yang digunakan untuk mengukur variabel dari objek yang diteliti.
Pertanyaan lanjutannya adalah, apakah jika menggunakan instrumen penelitian yang sudah pernah digunakan orang lain dalam penelitiannya tetap dilakukan uji validitas dan reliabilitas? Sebelum menjawab sebaiknya kita akan mengambil sebuah contoh.
Contoh Kasus untuk Uji Validitas dan Reliabilitas
Misalkan berikut ini contoh penelitian fiktif dengan variabel fiktif sebagai contoh mengapa kita harus melakukan uji validitas dan reliabilitas dalam penelitian:
Tempat tinggal Makan Aset Luas rumah Konsumsi karbohidrat Telepon seluler Jenis dinding Konsumsi protein TV dan radio Jenis lantai Rokok Kulkas, microwave, AC Jenis atap Konsumsi lainnya Lahan perkebunan Variabel dan indikator kemiskinan (fiktif) Sebuah literatur mengatakan bahwa indikator kesejahteraan rumah tangga pada tahun 2000 di kabupaten Lumajang adalah sebagaimana di atas.
Anggaplah variabel fiktif di atas merupakan variabel yang kita gunakan untuk mengukur tingkat kemiskinan di Kabupaten Lumajang pada tahun 2000.
Di tahun 2015 kita akan melakukan pengujian yang sama di Kabupaten Purwokerto. Melihat variabel diatas beserta indikatornya apakah menurut anda masih relevan digunakan di tahun 2015?
Tentu saja tidak.
Coba Perhatikan dan ingat kembali bahwa di tahun 2000 rumah tangga yang menggunakan telepon seluler secara kasat mata dapat dilihat bahwa hanya rumah tangga yang tergolong menengah ke atas.
Lalu bagaimana perbedaannya dengan sekarang?
Tentu saja indikator telepon seluler sudah tidak relevan lagi untuk digunakan dalam variabel kepemilikan aset dan perabot rumah tangga. Mungkin demikian juga dengan televisi.
Namun untuk membuktikannya dengan pasti apakah valid dan fakta tersebut realibel (dapat diandalkan), disinilah uji validitas dan realibilitas dibutuhkan.Agar secara ilmiah dan beralasan bahwa instrumen yang pernah dipakai orang lain dalam penelitiannya masih bisa digunakan dalam penelitian anda.
Contoh diatas memberikan kita penjelasan yang cukup bahwa dalam melakukan pengujian variabel variabel laten atau variabel kualitatif kuncinya terletak pada layak tidaknya instrumen yang digunakan.
Sebagai gambaran singkat, bahwa kita sangat tidak seharusnya mengukur berat 1 karung beras menggunakan timbangan emas. Meskipun timbangan tersebut bisa digunakan untuk mengukur berat.
Begitu juga jika panjang Jalan Trans Papua di ukur dengan menggunakan penggaris. Meskipun sama-sama merupakan alat ukur yang bisa digunakan mengukur berat dan panjang tetapi kenyataannya tidak seharusnya. Mengapa tidak menggunakan alat ukur yang semestinya?
Jadi instrumen yang akan kita gunakan harus memenuhi kriteria lulus uji validitas dan reliabilitas. Artinya tidak semata-mata hanya mempertimbangkan aspek dapat mengukur tetapi juga aspek layak untuk digunakan mengukur.
Untuk itu perlu dipahami apa yang dimaksud dengan uji validitas dan reliabilitas agar sebuah data penelitian bisa kita gunakan sebagaimana mestinya.
Uji Validitas
Uji validitas merupakan keadaan yang menggambarkan apakah instrumen yang yang kita gunakan mampu mengukur apa yang akan kita ukur. Hasil yang diperoleh dari uji validitas adalah suatu instrumen yang valid atau sah.
Tingkat validitas yang tinggi adalah yang terbaik. Sebaliknya suatu instrumen yang memiliki validitas rendah merupakan instrumen yang kurang baik atau tidak direkomendasikan bahkan sebaiknya dikeluarkan dari kelompok indikator.
Terdapat dua macam validitas yang perlu kita ketahui sebelum melakukan uji validitas yaitu validitas eksternal (validitas kriteria) dan validitas internal (teori).
A. Validitas Eksternal
Validitas eksternal merupakan validitas yang dilihat berdasarkan hubungan dengan kategori tertentu. Tinggi-rendahnya koefisien validitas instrumen bergantung pada hasil perhitungan koefisien korelasi
Validitas kriteria dibagi menjadi dua yaitu validitas banding dan validitas ramal. Koefisien korelasi merupakan penentu yang menentukan tinggi rendahnya koefisien validitas.
Untuk itu kita harus memahami formulasi koefisien korelasi. Masih ingatkah koefisien korelasi? Bagaimana bentuk rumusnya?
Pengujian validitas dilakukan dengan menghitung korelasi antara masing-masing pernyataan/ indikator dengan skor total menggunakan korelasi Product Moment(r). Rumus korelasi Product Moment (Pearson) yang dilambangkan dengan r , dapat dituliskan sebagai berikut:
rxy=∑xy(∑x2)(∑y2)√ Dimana,
x=X−X¯¯¯¯= dany=Y−Y¯¯¯¯= , sehingga
rxy=n(∑xy)−(∑x∑y)[n∑x2−(∑x)2][n∑y2−(∑y)2]√ dimana:
rxy= koefisien korelasin= jumlah sampelx= Cari tempat pernyataany= skor total item pernyataanΓêæx= jumlah skor item pernyataanΓêæy= jumlah skor total item ternyataΓêæxy= jumlah perkalian x dan y
B. Validitas teoritik/ Internal
Keadaan dimana instrumen penelitian yang digunakan memiliki kesesuaian antara item-item atau butir-butir pertanyaan dengan instrumen secara keseluruhan.
Artinya butir-butir pertanyaan tidak menanyakan hal-hal lain yang tidak berkaitan dengan tujuan instrumen penelitian. Validitas teoritik/Internal terbagi menjadi 3 jenis yaitu:
1. Validitas butir/isi (Content)
Validitas isi menunjukkan sejauhmana butir pertanyaan dalam suatu tes atau instrumen mampu mewakili secara keseluruhan dan proporsional terhadap perilaku sampel yang dikenai tes tersebut
1 .Artinya suatu instrumen dikatakan valid apabila item atau butir-butir pertanyaan yang membentuk instrumen tersebut tidak menyimpang dari tujuan dan fungsi instrumen. Langkah-langkah pengujian validitas isi:
- Lakukan perhitungan korelasi setiap butir (item) instrumen dengan skor total (corrected item-total correlation).
- Lakukan perbandingan nilai korelasi yang diperoleh dengan tabel r dengan tingkat signifikansi (╬▒) dan derajat bebas sebesar N-2.
- Pengambilan keputusan
ΓÇô Jika r hitung (baik manual maupun dari output SPSS) > r tabel, item tersebut valid
ΓÇô Jika r hitung (baik manual maupun dari output SPSS) < r tabel atau r bernilai negatif, maka item tersebut dikatakan tidak valid - Jika menggunakan SPSS, butir-butir (item) yang tidak valid perlu dikeluarkan dari kelompoknya (dibuang) dan pengujian diulang untuk butir-butir yang valid saja.
- Apabila seteleh mengeluarkan butir yang tidak valid dan masih ditemukan butir yang belum valid setelah dilakukan run maka proses eliminasi butir yang tidak valid terus dilakukan sampai semua butir valid. Semakin banyak pengulangan maka item yang menyusut semakin banyak
- Hipotesis yang digunakan :
H0 = butir pertanyaan berkorelasi positif dengan skor totalH1 = butir pertanyaan tidak berkorelasi positif dengan skor total
2. Validitas Kriteria (Criterion-Related Validity)
Validitas kriterion ditentukan dengan membandingkan skor-skor test dengan kinerja tertentu pada sebuah ukuran luar
2 .Ukuran luar ini seharusnya memiliki hubungan teoritis dengan variabel yang mestinya diukur. Misalkan pengukuran yang dilakukan diwaktu yang sama (Concurrent validity). Concurrent validity mengacu pada pengukuran-pengukuran yang diambil pada waktu yang sama atau lebih kurang sama.
3. Validitas Konstruk
Validitas konstruk adalah validitas yang mempermasalahkan seberapa jauh item-item tes mampu mengukur apa-apa yang benar-benar hendak diukur sesuai dengan konsep khusus atau definisi konseptual yang telah ditetapkan
3 .Validitas konstruk biasa digunakan untuk instrumen-instrumen yang dimaksudkan mengukur variabel-variabel konsep. Variabel konsep baik yang sifatnya performansi tipikal seperti instrumen untuk mengukur sikap, minat, konsep diri, lokus control, gaya kepemimpinan, motivasi berprestasi, dan lain-lain.
Variabel konsep juga dapat digunakan untuk mengukur yang sifatnya performansi maksimum seperti instrumen untuk mengukur bakat (tes bakat), intelegensi (kecerdasan intelekual), kecerdasan emosional dan lain-lain.
Prosedurnya tes validitas konstruk dipengaruhi oleh faktor tertentu yang memiliki muatan faktor (factor loading) yang tinggi.
Butir (item) pernyataan atau pertanyaan dikatakan valid jika r hitung > r tabel.
Hipotesis:
H0 : Pernyataan tidak mengukur aspek yang samaH1 : Pernyataan mengukur aspek yang sama
Perlu diperhatikan bahwa item item atau indikator-indikator di dalam suatu variabel tidak boleh terlalu sedikit. Banyak literatur yang menyebutkan bahwa minimal ada 3 indikator atau item yang menyusun suatu variabel atau dimensi.
Apabila koefisien korelasi item total atau koefisien korelasi dari keseluruhan indikator-indikator itu dihitung pada item-item yang terlalu sedikit maka sangat mungkin diperoleh koefisien korelasi item-total yang overestimate.
Overestimate artinya hasil yang diperoleh lebih tinggi daripada yang sebenarnya.
Kategori Validitas
Secara keseluruhan suatu instrumen akan dikatakan valid apabila memenuhi nilai sebagai berikut:
Parameter Kategori Validitas 0,8 ΓÇô 1,0 Validitas sangat tinggi (paling baik) 0,6 ΓÇô 0,8 Validitas tinggi (baik) 04, ΓÇô 0,6 Validitas sedang (cukup) 0,2 ΓÇô 0,4 Validitas rendah (kurang) 0 ΓÇô 0,2 Validitas sangat rendah (jelek) Kategori instrumen dikatakan valid (Guilford, 1956 h.145) Uji Realibilitas
Untuk mengukur sesuatu seharusnya dibutuhkan alat ukur yang paling tidak memiliki tingkat perubahan yang kecil dari waktu ke waktu. Reliabilitas diartikan indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Singarimbun, 1989).
Misalkan seperti contoh kasus kemiskinan diatas, salah satu indikator yang memiliki perubahan yang sedikit, kemungkinan besar adalah ΓÇ£konsumsi karbohidratΓÇ¥. Indikator ini masih mungkin tetap dapat digunakan hingga saat ini.
Sedangkan indikator ΓÇ£kepemilikan telepon selulerΓÇ¥ mungkin sudah tidak relevan lagi jika dijadikan indikator. Alasannya adalah alat komunikasi sudah menjadi kebutuhan primer, dan termasuk murah saat ini.
Jenis Reliabilitas
Secara garis besar, kita mengenal ada dua jenis reliabilitas, yaitu reliabilitas eksternal dan reliabilitas internal. Pada tulisan ini kita hanya membatasi membahas mengenai reliabilitas internal. Pada dasarnya, reliabilitas ini diperoleh dengan cara menganalisis data dari satu kali hasil pengetesan.
Jenis Uji Reliabilitas
Terdapat bermacam-macam cara yang dapat kita gunakan untuk mengetahui dan menghitung reliabilitas internal. Pemilihan teknik mana yang digunakan biasanya didasarkan atas bentuk instrumen maupun selera kita sebagai peneliti. Penggunaan teknik yang berbeda tentunya akan menghasilkan indeks reliabilitas yang berbeda pula. Hal ini secara sederhana dapat kita pahami karena wajar saja pengaruh sifat atau karakteristik data menyebabkan perhitungan menghasilkan angka yang berbeda, salah satunya akibat pembulatan angka.
Secara khusus, beberapa teknik memerlukan persyaratan tertentu sehingga peneliti tidak dapat begitu saja memilih teknik tersebut. Beberapa teknik mencari reliabilitas yang akan digunakan adalah:
- Spearman-Brown
- Flanagan
- Rulon
- Kuder-Richardson (K-R) 20
- K-R 21
- Hoyt
- Alpha.
Pentingnya Uji Reliabilitas
Dalam penelitian yang menggunakan metoda kuantitatif, kualitas pengumpulan data sangat ditentukan oleh kualitas instrumen atau alat pengumpul data yang digunakan. Suatu instrumen penelitian dikatakan berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan jika sudah terbukti validitas dan reliabilitasnya. Pengujian validitas dan reliabilitas instrumen, tentunya harus disesuaikan dengan bentuk instrumen yang akan digunakan dalam penelitian.
Reliabilitas adalah tingkat ketetapan suatu instrumen mengukur apa yang harus diukur. Ada tiga cara pelaksanaan untuk menguji reliabilitas suatu tes, yaitu: (1) tes tunggal (single test), (2) tes ulang (test retest), dan (3) tes ekuivalen (alternate test)
Rumus Uji Reliabilitas Dengan EXCEL
Reliabilitas Tes Tunggal
Pada bahasan kali ini, kita hanya akan membahas tentang Reliabilitas Tes Tunggal (Internal Consistency Reliability)
Tes tunggal adalah tes yang terdiri dari satu set yang diberikan terhadap sekelompok subjek dalam satu kali pengetesan, sehingga dari hasil pengetesan hanya diperoleh satu kelompok data. Ada dua teknik untuk perhitungan reliabilitas tes, yaitu:
Rumus Uji Reliabilitas Teknik Belah Dua (Split-Half Technique)
Rumus Uji Reliabilitas Teknik Belah Dua dilakukan dengan cara membagi tes menjadi dua bagian yang relatif sama (banyaknya soal sama), sehingga masing-masing test mempunyai dua macam skor, yaitu skor belahan pertama (awal / soal nomor ganjil) dan skor belahan kedua (akhir / soal nomor genap). Koefisien reliabilitas belahan tes dinotasikan dengan r1/2 1/2 dan dapat dihitung dengan menggunakan rumus yaitu korelasi angka kasar Pearson. Selanjutnya koefisien reliabilitas keseluruhan tes dihitung menggunakan formula Spearman-Brown, yaitu:
Kategori koefisien reliabilitas (Guilford, 1956: 145) adalah sebagai berikut:
- 0,80 < r11 1,00 reliabilitas sangat tinggi
- 0,60 < r11 0,80 reliabilitas tinggi
- 0,40 < r11 0,60 reliabilitas sedang
- 0,20 < r11 0,40 reliabilitas rendah.
- -1,00 r11 0,20 reliabilitas sangat rendah (tidak reliable).
Berikut Contoh Uji Reliabilitas Belah Dua dengan menggunakan Software MS Excel:
Rumus Uji Reliabilitas Teknik Non Belah Dua (Non Split-Half Technique).
Rumus uji Reliabilitas teknik non belah dua: Salah satu kelemahan perhitungan koefisien reliabilitas dengan menggunakan teknik belah dua adalah (1) banyaknya butir soal harus genap, dan (2) dapat dilakukan dengan cara yang berbeda sehingga menghasilkan nilai yang berbeda pula seperti terlihat pada contoh c.1 dan contoh c.2. Untuk mengatasi masalah tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan teknik non belah dua. Untuk perhitungan koefisien reliabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan rumus Kuder-Richardson (KR-20) dan Kuder-Richardson (KR-21). Pada Bahasan kali ini kita tidak membahas lebih lanjut tentang Rumus KR ini, karena akan dijelaskan pada postingan artikel berikutnya: KR 20.
Uji Reliabilitas Tes Uraian
Untuk menghitung uji reliabilitas tes bentuk uraian dapat dilakukan dengan menggunakan rumus Cronbach-Alpha, yaitu:

Rumus Cronbach Alpha Berikut Contoh Uji Reliabilitas Alfa dengan Menggunakan MS Excel:
Untuk Rumus KR 20 dan KR 21 Baca artikel kami yang berjudul:
KR 20 dengan Excel.
-