Garis besar topik

  • Mahasiswa mampu mengidentifikasi permasalahan di linkungan sekitar untuk menemukan ide bisnis yang solutif.

    • Mempelajari Empathize dalam Design Thinking untuk Memahami User

      Memahami empathize dan tips penerapannya akan membantumu memahami pengalaman dan kondisi user secara menyeluruh.

       

       

      Cara Identifikasi Masalah Menggunakan Design Thinking Framework: Empathise  & Define Stages

       

      Apa Itu Empathize dalam Design Thinking?

      Secara harfiah, empathize artinya perbuatan memahami, sadar, sensitif, dan mewakili perasaan tertentu, dan merasakan apa yang dirasakan orang lain tanpa mengalaminya. Dalam konteks design thinking, pengertian empathize tak jauh beda dengan arti sebenarnya.

      Empathize dalam design thinking adalah upaya designer memahami keinginan dan kebutuhan pengguna. Pernahkah kamu memiliki prasangka tertentu kepada seseorang, tapi ternyata apa yang kamu pikirkan tentangnya selama ini tidak benar?

      Inilah mengapa kamu tak boleh menggunakan prasangka untuk berempati kepada pengguna. Makanya, kamu harus menyingkirkan asumsimu mengenai kondisi mereka. Berinteraksilah langsung kepada pengguna agar mendapat pemahaman secara menyeluruh secara emosional serta psikologis.

      Empathize merupakan tahapan paling krusial dalam design thinking. Jika kamu tak melakukannya dengan benar, maka keseluruhan idemu juga pasti tak diterima. Misalnya dengan menggunakan prasangka bahwa pengguna membutuhkan smartphone lipat.

      Kalau kamu tak punya data cukup atau dasar meyakinkan mengenai kebutuhan tersebut, bisa jadi produk akhirmu tak mendapat perhatian, atau paling buruk tak mendapat angka penjualan yang bagus. Sesederhana karena mereka tak membutuhkannya, atau setidaknya, tak menginginkannya.

      Apa yang dilakukan Nadiem Makarim sebelum mendirikan Gojek merupakan contoh empathize dalam design thinking yang baik. Simak penggunaan design thinking dalam perumusan Gojek di sini.

      Cara Menerapkan Empathize dalam Design Thinking

      Ada banyak cara untuk memahami permasalahan pengguna. Sebelum melakukan tahapan empathize, ada baiknya kamu mengetahui beberapa tips untuk menjadi designer yang lebih berempati.

      Bangun karakter empatik dalam kehidupan sehari-hari

      Jalan pintas untuk menerapkan empathize dengan maksimal adalah dengan memiliki empati yang baik. Mulailah menjadi pribadi yang lebih peka dan sadar terhadap lingkungan sekitar.

      Bermodal karakter empatik akan membuatmu lebih mudah memahami pengguna. Tentunya, ini juga akan memperlancar pekerjaanmu di proyek-proyek selanjutnya.

      Tiru ekspresi wajah dan perhatikan gerak tubuh

      Sebuah penelitian mengatakan bahwa meniru ekspresi wajah seseorang akan membantu meningkatkan empati pada diri seseorang. Meniru ekspresi seseorang dapat meningkatkan kegiatan di pusat emosi otak kita daripada hanya memperhatikan mimik muka.

      Kamu juga bisa memperhatikan gerak tubuh pengguna untuk menambah interpretasi atas kebutuhan mereka. Jangan salah, sekecil apapun bahasa tubuh seseorang, dapat memperlihatkan sesuatu yang nyata. Kamu bisa mempraktikkan ini saat berinteraksi dengan pengguna untuk meningkatkan empatimu.

      Dengarkan, jangan menghakimi

      Untuk bisa memahami pengguna secara menyeluruh, mendengarkan menjadi salah satu skill yang sangat dibutuhkan. Mendengarkan memang bukan pekerjaan mudah. Namun, mengingat fungsinya, mau tidak mau kamu harus menguasai kemampuan ini.

      Mendengarkan bukan berarti hanya diam dan mempersilakan pengguna untuk terus berbicara. Kamu juga harus bisa melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang ΓÇÿpengertianΓÇÖ dan ΓÇÿmemahamiΓÇÖ. Coba ubah mindset kamu menjadi sebuah kertas kosong.

      Hilangkan sejenak kepercayaan dan nilai-nilai tertentu. Kemampuan mendengarkan yang baik dapat dilakukan jika kamu sudah membebaskan diri dari penghakiman terhadap pengalaman pengguna.

      Metode Empathize dalam Design Thinking

      Setelah mengetahui tips-tips di atas, saatnya melakukan empathize. Berikut beberapa cara untuk menerapkan empathize yang baik untuk mengumpulkan data seakurat mungkin mengenai pengguna.

      Wawancara mendalam

      Salah satu cara memahami pengguna adalah dengan menanyainya melalui wawancara. Jangan menggunakan metode wawancara jurnalis yang seringkali menyudutkan narasumber dengan dugaan tertentu.

      Akan tetapi, buatlah suasana yang nyaman dan gunakan pertanyaan-pertanyaan yang membuka percakapan. Cobalah berada di posisi yang tak memiliki basis pengetahuan apapun terhadap narasumber. Selain itu, fokuslah terhadap wawancara dan perhatikan ketika narasumber bercerita.

      Observasi mendalam

      Selain wawancara, kamu juga bisa mengamati pengguna dengan seksama. Misalnya ketika mereka berinteraksi atau menggunakan produk dari perusahaanmu.

      Tujuan dari metode ini adalah mendapatkan perilaku yang se-natural mungkin. Jadi, amati diam-diam dan jangan sampai pengguna tahu kalau dirinya sedang diamati.

      Memahami extreme user

      Extreme user merupakan pengguna yang punya keluhan berbeda dengan pengguna biasa. Meski berbeda dari pengguna kebanyakan, extreme user diyakini sebagai kelompok yang mengetahui inti permasalahan.

      Maka dari itu, memperhatikan dan memahami extreme user dapat memperlihatkan masalah sesungguhnya, bahkan berpotensi memberikan insight baru.

      Ini bukan berarti kamu meninggalkan pengguna biasa. Mendengarkan dan memahami baik pengguna biasa maupun extreme user dapat membantumu menemukan solusi yang inovatif.

      Tanyakan ΓÇ£WhatΓÇ¥ ΓÇ£HowΓÇ¥ ΓÇ£WhyΓÇ¥

      Selama melakukan tahapan empathize, selalu ingat untuk mencari jawaban atas tiga pertanyaan: ΓÇ£WhatΓÇ¥, ΓÇ£HowΓÇ¥, dan ΓÇ£WhyΓÇ¥. Berikut contoh penerapan ΓÇ£WhatΓÇ¥, ΓÇ£HowΓÇ¥, dan ΓÇ£WhyΓÇ¥.

      ΓÇ£WhatΓÇ¥: Mempertanyakan apa yang terjadi secara detail. Misalnya, pengguna melakukan checkout produk sesuai tahapan yang telah dibuat.

      ΓÇ£HowΓÇ¥: Cari tahu kondisi-kondisi yang terjadi saat pengguna melakukannya. Apakah pengguna tidak mengalami kebingungan saat melakukan checkout produk? Bagaimana ekspresi wajahnya? Apakah mereka harus mengeluarkan usaha lebih untuk checkout produk?

      ΓÇ£WhyΓÇ¥: Saatnya kamu menginterpretasikan mengapa misalnya pengguna kebingungan saat checkout produk.

      Empathy Map

      Kamu juga bisa memetakan kondisi atau pengalaman-pengalaman pengguna dengan empathy map. Secara umum, kamu bisa membaginya dalam 4 bagian. Mari kita gunakan kasus pada ΓÇ£WhatΓÇ¥, ΓÇ£HowΓÇ¥, dan ΓÇ£WhyΓÇ¥.

      Pertama, petakan kutipan langsung dari pengguna mengenai pengalaman melakukan checkout produk, misalnya saat wawancara mendalam (says). Kedua, tuliskan kira-kira apa yang ada dalam pikiran pengguna saat checkout, apakah tahapannya mudah atau terlalu ribet (thinks).

      Ketiga, amati apa yang dilakukan pengguna ketika dirinya kebingungan melakukan checkout, apakah dia melakukan refresh page, atau dia langsung menghubungi customer service (does). Keempat, temukan apa yang dirasakan pengguna saat tidak bisa melakukan checkout produk, misalnya frustasi, bingung (feels).

       


       

       




      Pengertian Design Thinking dan 5 Tahapan di Dalamnya

       


       

       

       

       


       

       

      Pengguna (user ataupun konsumen) cenderung membeli produk yang memenuhi kebutuhan mereka. Emphaty Map alias Peta Empati adalah salah satu alat bantu (tools) yang dapat digunakan untuk memahami kebutuhan dari calon pengguna kita. Bagaimana proses menggunakanya agar menemukan kebutuhan pengguna ?

       

      Dalam menggunakan Empathy Map diperlukan untuk melakukan beberapa riset, observasi dan interview untuk mendapatkan data dan insight awal pengguna. Empathy Map membuat kita mampu menyatukan seluruh data dan insight awal yang didapatkan. Hasil dari pemetaan empati ini akan menjadi sumber data yang berharga pada saat membuat user persona.

      Empathy Map terdiri dari lima area yang mewakili elemen komunikasi calon user :

      1. Apa yang mereka pikirkan.
      2. Apa yang mereka rasakan.
      3. Apa yang mereka dengar.
      4. Apa yang mereka ucapkan.
      5. Apa yang mereka lakukan.

      Dari observasi dan interview makan kita akan mendapatkan data berupa ΓÇ£apa yang calon pengguna ucapkan dan lakukanΓÇ¥. Namun, menentukan apa yang pengguna pikirkan dan rasakan memerlukan analisis yang mendalam.

      Beberapa langkah proses menggunakan Empathy Map untuk menemukan kebutuhan calon user adalah :

      1. Tentukan profil calon pengguna.
        Mengumpulkan tim researcher. Bertugas untuk membawa dan mengumpulkan semua catatan, gambar, rekaman dan segala data yang didapatkan selama proses riset/obervasi/interview. Tentukan profil yang mewakili calon pengguna. Beri nama dan profesi/jabatannya.
      2. Mengisi Empathy Map.
        Cetak atau buat template blanko Peta Empati dalam ukuran besar (misalnya A1 atau A0 ). Berikan setiap anggota tim Post It dan spidol. Pastikan setiap orang menuliskan pemikiran mereka di Post It tersebut. Misalnya dengan mengajukan contoh pertanyaan sebagai berikut:
        • Apa yang mereka katakan? Tuliskan kata kunci dan kutipan yang pengguna katakan.
        • Apa yang mereka pikirkan? Gali lebih dalam. Apa yang mungkin mereka pikirkan? Apa ketakutan mereka? Apa harapan mereka? Apa motivasi mereka? Apa tujuan mereka? Apa keinginan mereka?
        • Apa yang mereka rasakan? Amati tanda-tanda terkait emosi seperti ekspresi muka, bahasa tubuh, nada suara, dan pilihan kata mereka.

      1. Simpulkan kebutuhan mereka.
        Simpulkan kebutuhan mereka berdasarkan Peta Empati yang dibuat. Kebutuhan biasanya berbentuk kata kerja, berupa aktivitas atau keinginan. Kebutuhan biasanya berupa kesenjangan antara apa yang pengguna katakan dengan pengguna laku

       

       

      Buatlah setiap anggota tim menyumbangkan idenya dan tempelkan Post It di blanko Peta Empati. Ajukan pertanyaan-pertanyaan lanjutan untuk mendapatkan insight yang lebih dalam.

       


       


      peta empati