Garis besar topik

    • Macam-Macam Teori Perilaku Konsumen

      a.      Teori Ekonomi Mikro. Teori ini beranggapan bahwa setiap konsumen akan berusaha memperoleh kepuasan maksimal. Mereka akan berupaya meneruskan pembeliannya terhadap suatu produk apabila memperoleh kepuasan dari produk yang telah dikonsumsinya, di mana kepuasan ini sebanding atau lebih besar dengan marginal utility yang diturunkan dari pengeluaran yang sama untuk beberapa produk yang lain;

      b.         Teori Psikologis. Teori ini mendasarkan diri pada faktor-faktor psikologis individu yang dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan lingkungan. Bidang psikologis ini sangat kompleks dalam menganalisa perilaku konsumen, karena proses mental tidak dapat diamati secara langsung;

      c.         Teori Antropologis. Teori ini juga menekankan perilaku pembelian dari suatu kelompok masyarakat yang ruang lingkupnya sangat luas, seperti kebudayaan, kelas-kelas sosial dan sebagainya.


    • Silahkan anda download 

    • 1. Theory of Planned Behaviour

      Theory of Reasoned Action (TRA) dikembangkan  oleh Ajzen dan diberi nama Theory of Planned Behaviour (TPB) (Lee & Kotler, 2011, hal. 199). Theory of Planned Behavior dijelaskan sebagai konstruk yang melengkapi TRA.  Menurut (Lee & Kotler, 2011, hal. 199), target individu memiliki kemungkinan yang besar untuk mengadopsi suatu perilaku apabila individu tersebut memiliki sikap yang positif terhadap perilaku tersebut, mendapatkan persetujuan dari individu lain yang dekat dan terkait dengan perilaku tersebut dan percaya bahwa perilaku tersebut dapat dilakukan dengan baik. Dengan menambahkan sebuah variabel pada  konstruk ini, yaitu kontrol perilaku persepsian (Perceived behavioral control), maka bentuk dari model teori perilaku rencanaan (Theory of planned behaviour atau TPB) tampak di gambar berikut ini.

      Gambar Theory of Planned Behavioral

      Sumber: (Asadifard, Rahman, Aziz, & Hashim, 2015)

                  Dari gambar di atas, teori perilaku rencanaan (theory of planned behavioral) dapat memiliki 2 fitur yaitu :

      1.      Teori ini mengansumsi bahwa kontrol persepsi perilaku (perceived behavioral control) mempunyai implikasi motivasional terhadap minat. Orang ΓÇô orang yang percaya bahwa mereka tidak mempunyai sumber- sumber daya yang ada atau tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan perilaku tertentu mungkin tidak akan membentuk minat berperilaku yang kuat untuk melakukannya walaupun mereka mempunyai sikap yang positif terhadap perilakunya dan percaya bahwa orang lain akan menyetujui seandainya mereka melakukan perilaku tersebut. Dengan demikian diharapkan terjadi hubungan antara kontrol persepsi perilaku (perceived behavioral control) dengan minat yang tidak dimediasi oleh sikap dan norma subyektif. Di model ini ditunjukkan dengan panah yang mennghubungkan kontrol perilaku persepsian ( perceived behavioral control) ke minat.

      2.      Fitur kedua adalah kemungkinan hubungan langsung antara kontrol persepsi perilaku (perceived behavioral control) dengan perilaku. Di banyak contoh, kinerja dari suatu perilaku tergantung tidak hanya pada motivasi untuk melakukannya tetapi juga kontrol yang cukup terhadap perilaku yang dilakukan. Dengan demikian. Kontrol perilaku persepsian (perceived behavioral control) dapat mempengaruhi perilaku secara tidak langsung lewat minat, dan juga dapat memprediksi perilaku secara langsung. Di model hubungan langsung ini ditunjukan dengan panah yang menghubungkan kontrol persepsi perilaku (perceived behavioral control) langsung ke perilaku (behavior).

      Teori perilaku rencanaan mengganggap bahwa teori sebelumnya mengenai perilaku yang tidak dapat dikendalikan sebelumnya oleh individu melainkan, juga dipengaruhi oleh faktor mengenai faktor non motivasional yang dianggap sebagai kesempatan atau sumber daya yang dibutuhkan agar perilaku dapat dilakukan. Sehingga dalam teorinya, Ajzen menambahkan satu dertiminan lagi, yaitu kontrol persepsi perilaku mengenai mudah atau sulitnya perilaku yang dilakukan. Oleh karena itu menurut TPB, intensi dipengaruhi oleh tiga hal yaitu: sikap, norma subjektif, kontrol perilaku (Asadifard, Rahman, Aziz, & Hashim, 2015).

       

       

      2. Theory of Reasoned Action

      Theory of Reasoned Action (TRA) menjelaskan tentang perilaku yang berubah berdasarkan hasil dari niat perilaku, dan niat perilaku dipengaruhi oleh norma sosial dan sikap individu terhadap perilaku (Eagle, Dahl, Hill, Bird, Spotswood, & Tapp, 2013, hal. 123). Norma subjektif mendeskripsikan kepercayaan individu mengenai perilaku yang normal dan dapat diterima dalam masyarakat, sedangkan untuk sikap individu terhadap perilaku berdasarkan kepercayaan individu atas perilaku tersebut.

      Menurut (Lee & Kotler, 2011, hal. 198), theory of reason action yang dikembangkan oleh Ajzen dan Fishbein, menyatakan bahwa prediksi terbaik mengenai perilaku seseorang adalah berdasarkan minat orang tersebut. Minat perilaku didasari oleh 2 faktor utama, yaitu : kepercayaan individu atas hasil dari perilaku yang dilakukan dan persepsi individu atas pandangan orang-orang terdekat individu terhadap perilaku yang dilakukan.

                  Dapat dikatakan bahwa sikap akan mempengaruhi perilaku melalui suatu proses pengambilan keputusan yang cermat dan memiliki alasan dan akan berdampak terbatas pada tiga hal, yaitu :

      1.      Sikap yang dijalankan terhadap perilaku, didasari oleh perhatian atas hasil yang terjadi pada saat perilaku tersebut dilakukan.

      2.      Perilaku yang dilakukan oleh seorang individu, tidak saja didasari oleh pandangan atau persepsi yang dianggap benar oleh individu, melainkan juga memperhatikan pandangan atau persepsi orang lain yang dekat atau terkait dengan individu.

      3.      Sikap yang muncul didasari oleh pandangan dan persepsi individu, dan memperhatikan pandangan atau persepsi orang lain atas perilaku tersebut, akan menimbulkan niat perilaku yang dapat menjadi perilaku.

      Pada tahun 1988, Ajzen mengembangkan theory of reasoned action dengan menambahkan kepercayaan individu dan persepsi individu mengenai kontrol perilaku, yaitu kepercayaan bahwa individu dapat melakukan suatu perilaku didasari oleh kemampuan untuk melakukannya(Lee & Kotler, 2011, hal. 198).   Teori ini dinamai dengan Teori Perilaku Terencana (theory of planned behaviour). Inti dari teori perilaku terencana mencakup 3 hal yaitu, keyakinan akan kemungkinan hasil serta evaluasi dari perilaku tersebut (behavioral beliefs), keyakinan akan norma yang diharapkan serta motivasi untuk memenuhi harapan yang diinginkan (normative beliefs), dan keyakinan tentang suatu faktor yang dapat mendukung atau menghalangi perilaku dan kesadaran akan kekuatan faktor tersebut (control beliefs).

      Dari pengertian diatas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa praktik atau perilaku menurut Theory of Reasoned Action akan dipengaruhi oleh niat individu, dan niat individu tersebut terbentuk dari sikap dan norma subyektif. Salah satu variabel yang mempengaruhi, yaitu sikap, dipengaruhi oleh hasil tindakan yang sudah dilakukan pada masa yang lalu. Sedangkan Norma subyektif, akan dipengaruhi oleh keyakinan akan pendapat orang lain serta motivasi untuk menaati keyakinan atau pendapat orang lain tersebut. Sederhananya, orang akan melakukan suatu tindakan, apabila memiliki nilai positif dari pengalaman yang sudah ada dan tindakan tersbut didukung oleh lingkungan individu tersebut.

       

      3. Engel Kollat Blackwell Model

      Model Engel Kollat Blackwell (EKB) adalah perkembangan alami dari ide-ide yang ditemukan dalam teori tindakan yang rasional. Teori perilaku pembeli ini beroperasi dalam empat fase yang mempengaruhi bagaimana konsumen membuat keputusan pembelian: input, pengolahan informasi, tahap keputusan, dan variabel dalam proses pengambilan keputusan.

      Input merupakan fase pertama, di mana konsumen mengambil informasi pemasaran melalui billboard, iklan online, atau tampilan langsung. Melalui data yang dikumpulkan dari materi-materi ini, mereka melanjutkan ke tahap pengolahan informasi, di mana mereka menggabungkan input tersebut dengan pengalaman dan harapan untuk membuat keputusan terbaik sesuai dengan keadaan mereka saat ini. Dengan pertimbangan rasional, mereka kemudian melangkah ke tahap berikutnya, yaitu membuat keputusan pembelian berdasarkan informasi yang mereka kumpulkan.

      Proses pengambilan keputusan juga memiliki lima fase: pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, pembelian (atau pemilihan), dan hasil pascapembelian.

      Selama tahap informasi awal dalam model EKB tentang teori perilaku konsumen, input adalah yang paling berharga. Konsumen menerima informasi yang cukup tentang produk atau layanan untuk dengan mudah mengingat atau menghubungi produk perusahaan untuk kebutuhan di masa depan, dan kembali selama fase pengaruh eksternal. Salah satu industri yang memahami urutan ini dengan baik adalah industri gaya hidup, di mana merek-merek tahu persis bagaimana memasarkan produk mereka untuk memicu keinginan pada konsumen, biasanya agar mereka terlihat, tercium, atau merasa lebih baik daripada jika mereka menggunakan merek-merek pesaing.

      Model Perilaku Konsumen Industri dari Engel, Kollat dan Blackwell menerangkan komponen dasar model ini adalah stimulus, proses informasi, proses pengambilan keputusan, variabel proses pengambilan keputusan dan pengaruh lingkungan eksternal.

      image
      Gambar Model Perilaku Konsumen Industri dari Engel, Kollat dan Blackwell

      Keterangan :

      Komponen proses pengambilan keputusan ada lima tahap yaitu: pengenalan masalah, penelusuran informasi, evaluasi alternative, pilihan dan hasil

      • Pengenalan masalah terjadi bilamana konsumen menyadari perbedaan diantara situasi yang ada dengan situasi yang diharapkan

      • Tahap penelusuran informasi meliputi kecepatan dan keluasan dalam menimbulkan kembali informasi yang ada pada memori dan pengalaman- pengalaman mengenai masalah

      • Tahap evaluasi alternative meliputi membandingkan informasi tentang merk melalui proses penelusuran criteria evaluasi

      • Pada bagan ditunjukkan pula kebiasaan memilih dari kekuatan niat membeli. Pilihan konsumen akan menentukan outcome, apakah konsumen menjadi puas atau tidak puas sebagai pengalaman langsung dalam menggunakan suatu merk. Hasilnya juga dapat dissonance, tidak cocok apabila merk tidak sesuai dengan pilihannya

      • Beberapa pengaruh eksternal lainnya adalah norma dan nilai budaya yang berlaku.

      4. Teori Motivasi-Kebutuhan
      Pada tahun 1943, komunitas psikologi secara luas merasakan dampak hierarki kebutuhan Abraham Maslow: sebuah teori yang menyatakan bahwa individu bertindak untuk memenuhi dan memenuhi kebutuhan mereka berdasarkan sistem lima prioritas yang semakin penting ΓÇö kelangsungan hidup fisiologis, keamanan, cinta, harga diri, dan aktualisasi diri.

      Teori Maslow digunakan dalam kelas-kelas bisnis dan pemasaran untuk menjelaskan mengapa pesan pemasaran yang disesuaikan dengan konsumen sangat penting bagi kesuksesan penjualan. Dengan menarik konsumen dengan cara yang terkait dengan tingkat kebutuhan mereka, kampanye pemasaran dapat memprioritaskan pembelian yang memberikan makna dan urgensi.

      Pemasar yang memahami dengan baik teori perilaku konsumen motivasi-kebutuhan dapat dengan efektif merancang kampanye dan iklan berdasarkan kebutuhan buatan yang mereka kendalikan dalam konsumen. Contoh modern yang umum adalah produsen mobil mewah yang menekankan fitur-fitur keamanan dan perlindungan dalam kendaraan mereka lebih dari aspek estetika, meyakinkan konsumen bahwa menghabiskan uang untuk mobil mewah yang mahal adalah wajar karena memenuhi kebutuhan memberikan keamanan fisiologis bagi diri sendiri dan keluarga.
      5. Pembelian Impuls Hawkins Stern

      6. Teori Perilaku Pembeli

      Konsep inti yang ada dalam teori perilaku pembeli adalah bahwa perilaku pembelian, secara umum, cenderung berulang dengan dapat diandalkan dan cenderung membentuk rutinitas pembelian yang akrab untuk menghemat waktu dan menyederhanakan proses pengambilan keputusan. Sebagai tanggapan terhadap hal ini, teori ini berusaha mengidentifikasi elemen-elemen dari proses pengambilan keputusan tersebut dan mencatat perubahan apa pun yang terjadi, serta apakah hal-hal tersebut tumbuh dari lingkungan komersial dan sosial yang dapat memengaruhi merek tertentu.

      Menurut teori perilaku konsumen ini, pilihan merek yang disukai oleh pembeli didasarkan pada motif; pilihan alternatif, atau langkah-langkah tindakan; dan mediator keputusan apa pun yang sesuai dengan motif tersebut, seperti apakah pembeli menganggap kopi lebih baik diminum di pagi hari atau malam hari. Dengan memahami mediator-mediator ini, merek-merek alternatif yang ada di pasar, dan merek-merek yang diketahui oleh konsumen, ada ruang untuk menemukan kesenjangan dan membuat sesuatu yang dapat mengisi kesenjangan tersebut.

      Selain itu, ada peluang ketika seorang pembeli baru berada di pasar untuk membeli jenis produk baru (kelas produk), tetapi kurang memiliki pengalaman atau pengetahuan tentang produk yang dibutuhkan. Informasi yang dicari pembeli atau yang diterima secara tidak sengaja dari pihak ketiga diproses melalui sudut pandang apa yang dibutuhkan dan sejauh mana produk tersebut dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

      Hal tersebut juga dapat dibandingkan dengan jenis produk sebelumnya dan menggunakan proses yang serupa dalam membuat keputusan baru. Misalnya, menurut teori perilaku pembeli, seorang pembeli dapat menggeneralisasi pengalaman membeli lemari es dan menggunakan pengalaman tersebut untuk membantu keputusan membeli mesin pencuci piring baru.

      Terlepas dari sumbernya, pembeli mengembangkan mediator keputusan yang diperlukan untuk secara dapat diandalkan memilih merek tersebut di masa depan berdasarkan apa yang tampak memiliki potensi terbaik untuk memenuhi motif pembeli.