Garis besar topik

    • Selamat datang di kelas Perilaku Konsumen Pascasarjana Magister Manajemen. Selama kurang lebih 6 bulan ini saya Faurani Santi akan membersamai kalian di kelas ini. Mata Kuliah ini merupkan prasarat mata kuliah konsetrasi Manajemen Pemasaran (Marketing Management)

      Mata kuliah ini merupakan mata kuliah wajib bagi konsentrasi Pemasaran.  Setelah mempelajari mata kuliah Perilaku Konsumen di semester ini, kita diharapkan dapat menganalisis mengapa dan bagaimana konsumen berperilaku terhadap stimulus pemasaran dan keterkaitan antar faktor dalam perilaku konsumen secara jelas dan up to date sekaligus mampu menganalisis dan membaca kondisi pasar terkini. Karena muatan dari kelas ini adalah pada kemampuan anda pada cara anda menganalisis pasar beserta lingkungan persaingannya, sehingga pada akhirnya Anda memiliki kemampuan dalam mebuat strategi.

      Saya selaku dosen pengampu  berharap  Anda semua tetap semangat kita untuk berkuliah dan semoga perkuliahan kalian lancar hingga lulus, aamiin YRA

      Diskusi lebih lanjut dapat dilakukan
      via lms
      email: faurani@darmajaya.ac.id
      wa: +6281934190942

      last but not least, yuk buat kelas ini lebih semangat dan fun

      see you

    • Silahkan anda unduh RPS sbb: 

    • Dear Perilaku Konsumen MM member. kali ini adalah materi pertama kita. Selama 200 menit kedepan kita akan berkenalan dengan apa itu perilaku konsumen, ruang lingkup perilaku konsumen, mengapa belajar perilaku konsumen, pendekatan-pendekatan perilaku konsumen, analisis konsumen, dan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen sehingga setelah mempelajari bahasan kali ini kalian dapat menjelaskan perilaku konsumen dengan baik. Here we go!

    • Hallo sobat MM...apa yang Anda bayangkan ketika mendengar kata perilaku konsumen? Dan apa fungsi serta kaitannya dengan anda dan bisnis Anda 

  • Pada Bagian Ini Kita Akan Membahasa Tentang Perilaku Kosumer Yang Terkait Dengan Inter Disiplin Ilmu. dimsns pada bagian ini juga kita akan bahas mengenai evolusi marketing, strategi marketing terbaru, dan juga terkait CSR. Pada bagian awal kita akan melihat bagaiaman perubahan teknologi akhir-akhir ini akan mempengaruhi bidang marketing baik dalam konsep, marketing, customer value, kepuasan pelanggan, dan pembelian kembali terhadap produk. . Pada bagian akhir kita juga akan membahas bagaimana model pengambilan keputusan konsumen yang akhir-akhir ini berkembang. 

    Ok rekan-rekan mari kita berdiskusi terkait itu...

    • Apa Itu Riset Konsumen?

      Menurut Lighter Capital, riset konsumen adalah praktik untuk mengidentifikasi perilaku, preferensi, motivasi dari pelanggan dalam membeli suatu produk atau layanan yang ditawarkan.

      Praktik ini biasanya juga disebut sebagai consumer research dan merupakan bagian dari market research.

      Tujuan dari diberlakukannya praktik ini tidak lain adalah untuk meningkatkan kepuasan dari para pelanggan.

      Semakin mereka puas, pertumbuhan bisnis akan semakin baik.

      Lantas, seperti apa praktiknya dalam kegiatan bisnis? Sebagai contoh, perusahaan yang menjual produk kue brownies ingin meluncurkan produk terbarunya. Akan tetapi, sebelum itu mereka melakukan riset terkait para pelanggannya dengan mencari tahu perilaku pembelian, masalah, serta permintaan tertinggi dari pasar. Setelah itu, perusahaan tentu akan mengetahui apa saja kekurangan dari produknya serta solusi apa yang dapat menyelesaikan masalah dari pelanggannya.

      Alhasil, perusahaan dapat menciptakan produk yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan dari target customer. 

      Manfaat Riset Konsumen

      1. Menumbuhkan bisnis

      Secara tidak langsung, dengan riset konsumen bisnismu akan berkembang secara cepat.

      Pasalnya, kamu telah mengetahui keinginan dan kebutuhan dari para pelangganmu. Dengan begitu, kemungkinan besar para pelanggan akan menyukai produk yang kamu tawarkan.

      2. Mempertahankan konsumen

      Manfaat lainnya yang bisa kamu dapatkan adalah berhasil mempertahankan customer yang telah membeli produkmu.

      Sebab, kamu berusaha untuk meningkatkan kepuasan mereka sehingga konsumen tidak akan sungkan membeli produk lagi darimu.

      Cara Melakukan Riset Konsumen

      Bagi perusahaan, ada banyak cara untuk melakukan riset konsumen, entah itu dengan cara langsung maupun tidak langsung.

      1. Telepon

      Dilansir dari Small Business, menelepon pelanggan dan melakukan survei kepada mereka merupakan salah satu cara efektif untuk melakukan riset konsumen. Lakukan survei kepada pelanggan dengan melemparkan beberapa pertanyaan yang sudah kamu susun terkait pengembangan produk atau layananmu.

      2. Survei online

      Selain melalui telepon, cara lainnya untuk melakukan consumer research adalah dengan melakukan survei online.

      Buat beberapa pertanyaan survei terlebih dahulu lewat tools seperti SurveyMonkey, Google Forms, dan lain-lain. Setelah itu, sebarkan lampiran survei tersebut ke email masing-masing pelanggan. Hasil survei tersebut bisa kamu jadikan sebagai acuan untuk mengembangkan produk agar lebih baik lagi ke depannya.

      3. Interview

      Interview secara langsung dengan pelanggan mungkin akan memakan waktu dan tenaga yang cukup besar. Kendati demikian, cara ini cukup efektif dalam menggali informasi mengenai customer journey.

      Kita bisa memanggil beberapa pelanggan yang telah membeli produkmu untuk melakukan proses interviewJika memungkinkan, kita bisa melakukan interview secara publik dengan melakukan survei kepada beberapa orang. Hal tersebut bisa saja kamu lakukan di mal, di samping jalan, atau tempat orang-orang yang sedang ramai berkumpul.

      4. Focus group

      Cara lainnya untuk melakukan riset konsumen adalah dengan focus group. Kita bisa mengundang 6-10 konsumen untuk berdiskusi terkait produk. Focus group memungkinkan untuk mengumpulkan lebih banyak informasi sehingga dapat membantu dalam mengembangkan produk yang lebih baik.


    • Video Pembelajaran ini akan membahas tentang bagaimana kita sebagai pebisnis memahami pentingnya penelitian kuantitatif dan kualitatif dalam proses pembangunan bisnis, sekaligus mencari segmentasi market.

        Assessment :

      Jika kamu diminta untuk melakukan penelitian terkait psikologi konsumen, Jenis penelitian apakah yang akan kamu pilih? Sebutkan alasannya

      Menurutmu, jenis penelitian apa yang paling efektif untuk dilakukan dalam mengembangkan  psikologi/behaviour konsumen?

      http://

    • Sebelum membahas lebih lanjut tentang perilaku konsumen Anda harus memahami dulu apa yang dimaksud dengan istilah tersebut. Secara mudah bisa dikatakan bahwa perilaku konsumen adalah segala hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan apakah dia akan membeli suatu produk atau tidak.

      Contoh perilaku konsumen bisa dilihat ketika konsumen membeli sebuah barang. Umumnya, konsumen akan lebih mudah mengambil keputusan untuk membeli barang dengan harga yang murah. Sebaliknya ketika konsumen akan membeli barang yang harganya mahal biasanya mereka memikirkannya lebih lama. Nah, perbedaan itulah yang disebut sebagai perilaku konsumen.

      http://

  • Bab ini akan membahas tentang motivasi dari keutusan pembelian, dimana motivasi konsumen adalah keadaan di dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan- kegiatan guna mencapai suatu tujuan.

    Motivasi mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap keputusan pembelian. Motivasi dalam diri akan mempengaruhi seseorang (pelanggan) dalam melakukan pembelian karena didasarkan pada dorongan yang dimiliki misalnya penilaian terhadap kualitas, dan layanan pemakaian terhadap barang yang dibutuhkan.

    • Kotler (2007) menyatakan bahwa, ΓÇ£seseorang memiliki banyak kebutuhan pada waktu tertentu. Beberapa kebutuhan bersifat biogenis yaitu kebutuhan tersebut muncul dari tekanan biologis seperti rasa lapar, haus, tidak nyaman. Kebutuhan yang lain bersifat psikogenis yaitu kebutuhan itu muncul dari tekanan psikologis seperti kebutuhan akan pengakuan, penghargaan, atau rasa keanggotaan kelompokΓÇ¥.

      Dalam Kotler (2007) terdapat tiga teori yang paling terkenal yaitu :

      1. Teori Freud. Sigmund Freud mengasumsikan bahwa kekuatan psikologis yang membentuk perilaku konsumen sebagian besar tidak disadari dan bahwa seseorang tidak dapat sepenuhnya memahami motivasi dirinya. Ketika seseorang mengamati merek-merek tertentu, ia akan bereaksi tidak hanya pada kemampuan yang terlihat nyata pada merek-merek tersebut, melainkan juga pada petunjuk (clues) lain yang samar. Wujud, ukuran, berat, bahan, warna dan nama merek dapat memicu asosiasi (arah pemikiran) dan emosi tertentu.
      2. Teori Maslow. Abraham Maslow menjelaskan bahwa kebutuhan manusia tersusun dalam hierarki, yang paling mendesak sampai yang paling kurang mendesak. Berdasarkan urutan tingkat kepentingannya, kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah kebutuhan fisik, kebutuhan keamanan, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri. Jika seseorang berhasil memuaskan kebutuhan yang penting, kemudian dia akan berusaha memuaskan kebutuhan yang terpenting berikutnya.
      3. Teori Herzberg. Frederick Herzberg seorang ahli yang mengembangkan teori dua faktor yaitu teori dissatisfiers (faktor-faktor yang menyebabkan ketidakpuasan) dan teori satisfiers (faktor-faktor yang menyebabkan kepuasan). Tidak adanya dissatisfiers saja tidak cukup, namun sebaliknya satisfiers harus ada secara aktif agar dapat memotivasi pembelian.

      Mc Clelland dalam Mowen (2002) menyatakan bahwa,ΓÇ¥ tiga kebutuhan pembelajaran mendasar yang akan memotivasi orang yaitu kebutuhan prestasi, afiliasi dan kekuasaanΓÇ¥.

      Schiffman dan Kanuk (2000) menyatakan bahwa motivasi adalah ΓÇ£driving force wihtin individuals that impels them to action. This driving force is produced by state of tension, which exists as the result of an unfulfilled needΓÇ¥. Dapat diartikan bahwa motivasi muncul karena adanya kebutuhan yang dirasakan oleh konsumen. Kebutuhan sendiri muncul karena konsumen merasakan ketidaknyaman (state of tension) antara yang seharusnya dirasakan dan yang sesungguhnya dirasakan. Kebutuhan yang dirasakan oleh konsumen tersebut akan mendorong seseorang untuk melakukan tindakan memenuhi kebutuhannya.

      KLASIFIKASI MOTIVASI

      Setiadi (2003) menyatakan bahwa, ΓÇ£motivasi yang dimiliki tiap konsumen sangat berpengaruh terhadap keputusan yang akan diambil. Bila dilihat dari hal itu maka motivasi yang dimiliki oleh konsumen secara garis besar dapat terbagi dua kelompok besar, antara lain motivasi yang berdasarkan rasional dan motivasi yang berdasarkan emosional. Motivasi yang berdasarkan rasional akan menentukan pilihan terhadap suatu produk dengan memikirkan secara matang serta dipertimbangkan terlebih dahulu untuk membeli produk tersebut. Sedangkan untuk motivasi yang berdasarkan pada emosional, konsumen terkesan terburu-buru untuk membeli prosuk tersebut dengan tidak mempertimbangkan kemungkinan yang akan terjadi untuk jangka panjangΓÇ¥.

      JENIS-JENIS MOTIVASI

      Dalam memenuhi kebutuhan hidup, terkadang konsumen mengalami suatu dorongan terhadap suatu objek atau kondisi tertentu. Kekuatan dorongan ini dapat berupa kekuatan mendekati ataupun menjauhi suatu objek. Menurut Schiffman dan Kanuk (2007) menyatakan bahwa ΓÇ£dorongan positif sebagai kebutuhan, keinginan atau hasrat dan menyebut dorongan negatif sebagai rasa takut atau keenganan. Tetapi walaupun kekuatan motivasi positif dan negatif kelihatan sangat berbeda dari sudut kegiatan fisik (dan kadang-kadang bersifat emosional), keduanya pada dasarnya sama yaitu keduanya bermanfaat untuk memulai dan menunjang perilaku manusiaΓÇ¥.


      TEORI TENTANG PERSEPSI

      PENGERTIAN PERSEPSI

      • Setiadi (2003) menyatakan bahwa, ΓÇ£persepsi didefinisikan sebagai proses dimana seseorang memilih, mengorganisasikan, mengertikan masukan informasi untuk menciptakan suatu gambaran yang berarti dari dunia iniΓÇ¥.
      • Shiffman dan Kanuk (2007) menyatakan bahwa persepsi adalah ΓÇ£sebagai proses yang dilakukan individu untuk memilih, mengatur, dan menafsirkan stimuli kedalam gambar yang berarti dan masuk akal mengenai duniaΓÇ¥.
      • Sumarwan (2004) menyatakan bahwa persepsi adalah ΓÇ£bagaimana seorang konsumen melihat realitas diluar diriny atau dunia sekelilingnyaΓÇ¥.
      • Mowen (2002) menyatakan bahwa, ΓÇ£persepsi adalah proses dimana individu diekspos untuk menerima informasi, memperhatikan informasi tersebut, dan memahaminyaΓÇ¥.
      • Kotler (2007) menyatakan bahwa, ΓÇ£persepsi itu lebih penting daripada realitas, karena persepsi itulah yang akan mempengaruhi perilaku aktual konsumen. Orang dapat memiliki persepsi yang berbeda atas objek yang sama karena tiga proses persepsi yaitu perhatian selektif, distorsi selektif dan ingatan selektif.
        1. Perhatian selektif. Orang mengalami sangat banyak rangsangan setiap hari. Karena seseorang tidak mungkin dapat menanggapi semua rangsangan itu, kebanyakan rangsangan akan disaring, proses yang dinamakan perhatian selektif. Berdasarkan temuan rangsangan yaitu orang cenderung memerhatikan rangsangan yang berhubungan dengan kebutuhannya saat ini, orang cenderung memerhatikan rangsangan yang mereka antisipasi, dan orang cenderung memerhatikan rangsangan yang berdeviasi besar terhadap ukuran rangsangan normal.
        2. Distorsi selektif. Merupakan kecenderungan menafsirkan informasi sehingga sesuai dengan pra-konsepsi kita. Konsumen akan sering memelintir informasi sehingga menjadi konsisten dengan keyakinan awal mereka atas merek dan produk.
        3. Ingatan Selektif. Orang akan melupakan banyak hal yang mereka pelajari, tetapi cenderung mengingat informasi yang mendukung pandangan dan keyakinan mereka. Karena adanya ingatan selektif, kita cenderung mengingat hal-hal baik yang disebutkan tentang produk yang kita sukai dan melupakan hal-hal baik yang disebutkan tentang prosuk pesaing.
        4. Persepsi subliminal. Mekanisme persepsi selektif menuntut keterlibatan dan pemikiran aktif pihak konsumen.
      • Menurut Stanton dalam Setiadi (2003) mengatakan bahwa ΓÇ£persepsi dapat didefinisikan sebagai makna yang kita pertalikan berdasarkan pengalaman masa lalu, stimuli (rangsangan-rangsangan) yang kita terima melalui lima inderaΓÇ¥. Stimuli atau stimulus adalah setiap bentuk fisik, visual atau komunikasi verbal yang dapat mempengaruhi tanggapan individu.
      • Sunarto (2004) menyatakan bahwa persepsi adalah proses yang digunakan oleh seorang individu untuk memilih, mengorganisasi, dan menginterpretasi masukan-masukan informasi guna menciptakan gambaran dunia yang memiliki artiΓÇ¥.

      PROSES PERSEPSI

      Setiadi (2003) menyatakan bahwa proses persepsi terdiri dari:

      1. Seleksi Perseptual. Seleksi perseptual terjadi ketika konsumen menangkap dan memilih stimulus berdasarkan pada psychological set yang dimiliki. Psychological set yaitu berbagai informasi yang ada dalam memori konsumen. Sebelum seleksi persepsi terjadi, terlebih dahulu stimulus harus mendapat perhatian dari konsumen. Oleh karena itu, dua proses yang masuk ke dalam definisi seleksi adalah : perhatian (attention) dan persepsi selektif (selectif perception).
      2. Organisasi persepsi. Organisasi persepsi (perceptual Organization) berarti bahwa konsumen mengelompokkan informasi dari berbagai sumber ke dalam pengertian yang menyeluruh untuk memahami lebih baik dan bertindak atas pemahaman itu. Prinsip dasar dari organisasi persepsi adalah penyatuan yang berarti bahwa berbagai stimulus akan dirasakan sebagai suatu yang dikelompokkan secara menyeluruh.
      3. Interpretasi Perseptual. Proses terakhir dari persepsi adalah memberikan interpretasi atas stimuli yang diterima konsumen. Setiap stimuli yang menarik perhatian konsumen baik disadari atau tidak disadari, akan diinterpretasikan oleh konsumen.

      PENGOLAHAN INFORMASI DALAM PERSEPSI KONSUMEN

      Engel, Blackwell, dan Miniard (1995) dalam Sumarwan (2004) mengutip pendapat William Mcguire yang menyatakan bahwa ada lima tahap pengolahan informasi (the information-processign model), yaitu:

      1. Pemaparan (explosure) : pemaparan stimulus, yang menyebabkan konsumen menyadari stimulus tersebut melalui pancainderanya.
      2. Perhatian (attention) : Jumlah atau kapasitas pengolahan yang dialokasikan konsumen terhadap stimulus yang masuk.
      3. Pemahaman (comprehension) : interpretasi terhadap makna stimulus.
      4. Penerimaan (acceptance) : dampak persuasif stimulus terhadap konsumen.
      5. Retensi (retention) : pengalihan makna stimulus dan persuasif ke ingatan jangka panjang (long-term memory).

    • Silahkan anda unduh materi sbb:

    • Kepribadian adalah karakteristik psikologis seseorang yang menentukan dan merefleksikan bagaimana seseorang merespon lingkungannya (Schiffman & Kanuk , 2000). Berdasarkan definisi ini maka bisa disimpulkan bahwa yang ditekankan adalah karakter-karakter internal termasuk didalamnya berbagai atribut, sifat, tindakan yang membedakannya dengan orang lain..Kepribadian bisa dijelaskan dengan menggunakan ciri-ciri seperti kepercayaan diri, dominasi, otonomi, ketaatan, kemampuan bersosialisasi, daya tahan dan kemampuan beradaptasi. Dalam kepribadian orang tersebut terdapat nilai-nilai positif yang selalu memberikan energi positif terhadap paradigma dalam menghadapi tantangan dan cobaan kehidupan. Sebaliknya, seseorang dengan kepribadian yang rendah adalah seseorang yang selalu dilingkupi dengan kegagalan. Sebab pada diri seseorang tersebut mengalir energi-energi negatif yang terhadap paradigma dalam menghadapi tantangan dan cobaan kehidupan.

      Secara praktis konsep kepribadian dapat didifinisikan sebagai seperangkat pola perasaan, pemikiran dan perilaku yang unik yang menjadi standar respon konsumen untuk berbagai situasi. 
      Pola ini memiliki beberapa ciri khas yaitu : 
      -Mencerminkan perbedaan individu
        kepribadian merupakan kombinasi pemikiran, perasaan dan perilaku, maka kepribadian seseorang tidak akan pernah sama dengan yang lain sekalipun anak kembar. Sehingga setiap konsumen tidak akam memberikan respon yang sama untuk setiap stimuli pemasaran yang di sediakan konsumen. Bagi manajer pemasaran, kepribadian dapat digunakan sebagai acuan untuk membagi pasar dalam beberapa kelompok. 
      -Konsisten
      kepribadian memiliki keteraturan dan keseragaman perilaku. Intinya seseorang bertindak dengan cara yang sama untuk berbagai situasi yang berbeda. Meskipun kepribadian bersifat jangka panjang, namun perilaku yang Nampak dapat bervariasi karena adanya pengaruh lingkungan, social budaya, psokologis dan situasional. Hal ini wajar karena kepribadian hanyalah satu dari sekian banyak factor yang mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. 
      -Psikologis dan Fisiologis
      Kepribadian adalah konsep psikologis, namun para peneliti berpendapat bahwa kepribadian juga dipengaruhi oleh proses biologis dan kebutuhan manusia.
      -Akibat dari perilaku
      Kepribadian tidak saja mempengaruhi bagaimana cara konsumen bertindak dan merespon lingkungan tetapi juga cara mana yang digunakan. 
      -Kepribadian dapat berubah
      Dalam beberapa situasi yang signifikan kepribadian dapat berubah. Seorang perempuan yang baru melahirkan anaknya akan mengalami perubahan kepribadian dari seorang gadis menjadi seorang ibu. Namun demikian perubahan kepribadian ini akan berjalan bertahap. 
      -Kepribadian berinteraksi dengan situasi
      Misalnya dalam situasi pembelian (pemenuhan kebutuhan), orang yang dogmatic tidak akan seberani orang yang inovatif dalam membeli produk baru. Sampai sekarang masih ada juga orang yang fanatic pada produk dari Negara tertentu yang dipandang sebagai Negara berteknologi tinggi dan memproduksi produk-produk yang berkualitas.

      Kepribadian memiliki banyak segi dan salah satunya adalah self atau diri pribadi atau citra pribadi. Mungkin saja konsep diri actual individu tersebut (bagaimana dia memandang dirinya) berbeda dengan konsep diri idealnya (bagaimana ia ingin memandang dirinya) dan konsep diri orang lain (bagaimana dia mengganggap orang lain memandang dirinya). Keputusan membeli dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti umur dan tahap daur hidup, pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup serta kepribadian dan konsep diri pembeli.

      Dimensi kepribadian :
      1. ekstraversi
      suatu dimensi kepribadian yang mencirikan seseorang yang senang bergaul dan banyak bicara dan tegas.
      2. sifat menyenangkan
      suatu dimensi kepribadian yang mencirikan seseorang yang baik hati, kooperatif dan mempercayai.
      3. sifat mendengarkan kata hati
      suatu dimensi kepribadian yang mencirikan seseorang yang bertanggung jawab, dapat diandalkan, tekun dan berorientasi prestasi
      4. kemantapan emosional
      suatu dimensi kepribadian yang mencirikan seseorang yang tenang, bergairah,terjamin (positif), lawan tegang, gelisah,murung dan tak kokoh (negative).
      5. keterbukaan terhadap pengalaman
      suatu dimensi kepribadian yang emncirikan seseorang yang imajinatif, secara artistic peka dan intelektual.

    •  Gaya hidup merupakan sebuah penggambarkan ΓÇ£keseluruhan diri seseorangΓÇ¥ yang berinteraksi dengan lingkungannya (Kottler dalam Sakinah,2002). Menurut Susanto (dalam Nugrahani,2003) gaya hidup adalah perpaduan antara kebutuhan ekspresi diri dan harapan kelompok terhadap seseorang dalam bertindak berdasarkan pada norma yang berlaku.Oleh karena itu banyak diketahui macam gaya hidup yang berkembang di masyarakat sekarang misalnya gaya hidup hedonis, gaya hidup metropolis, gaya hidup global dan lain sebagainya.Plummer (1983) gaya hidup adalah cara hidup individu yang di identifikasikan oleh bagaimana orang menghabiskan waktu mereka (aktivitas), apa yang mereka anggap penting dalam hidupnya (ketertarikan) dan apa yang mereka pikirkan tentang dunia sekitarnya. Adler (dalam Hall & Lindzey, 1985) menyatakan bahwa gaya hidup adalah hal yang paling berpengaruh pada sikap dan perilaku seseorang dalam hubungannya dengan 3 hal utama dalam kehidupan yaitu pekerjaan, persahabatan, dan cinta sedangkan Sarwono (1989) menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi gaya hidup adalah konsep diri.
      Hawkins (dalam Nugroho, 2002) yang mengatakan bahwa pola hidup yang berhubungan dengan uang dan waktu dilaksanakan oleh seseorang berhubungan dengan keputusan. Orang yang sudah mengambil suatu keputusan langkah selanjutnya adalah tindakan.
                   Gaya hidup hanyalah salah satu cara mengelompokkan konsumen secara psikografis. Gaya hidup pada prinsipnya adalah bagaimana seseorang menghabiskan waktu dan uangnya. Ada orang yang senang mencari hiburan bersama kawan-kawannya, ada yang senang menyendiri, ada yang bepergian bersama keluarga, berbelanja, melakukan kativitas yang dinamis, dan ada pula yang memiliki dan waktu luang dan uang berlebih untuk kegiatan sosial-keagamaan. Gaya hidup dapat mempengaruhi perilaku seseorang, dan akhirnya menentukan pilihan-pilihan konsumsi seseorang .
      Gaya hidup menurut Hair dan McDaniel adalah cara hidup, yang diidentifikasi melalui aktivitas seseorang, minat, dan pendapat seseorang. Penilaian gaya hidup dapat dilakukan melalui analisa psychografi. Psychografi merupakan teknik analisis untuk mengetahui gaya hidup konsumen sehingga dapat dikelompokkan berdasarkan karakteristik gaya hidupnya. Menurut Kasali gaya hidup mencerminkan bagaimana seseorang menghabiskan waktu dan uangnya yang dinyatakan dalam aktivitas-aktivitas, minat dan opini-opininya.
       Pendekatan gaya hidup cenderung mengklasifikasikan konsumen berdasarkan variabel-variabel Activity, Interest, Opinion, yaitu aktivitas, interes (minat), dan opini (pandangan-pandangan). Menurut Setiadi sikap tertentu yang dimiliki konsumen terhadap suatu objek tertentu bisa mencerminkan gaya hidupnya. Gaya hidup seseorang bisa juga dilihat dari apa yang disenangi, ataupun pendapatnya mengenai objek tertentu.
       Gaya hidup hanyalah salah satu cara mengelompokkan konsumen secara psikografis. Gaya hidup pada prinsipnya adalah bagaimana seseorang menghabiskan waktu dan uangnya. Ada orang yang senang mencari hiburan bersama kawan-kawannya, ada yang senang menyendiri, ada yang bepergian bersama keluarga, berbelanja, melakukan aktivitas yang dinamis, dan ada pula yang memiliki dan waktu luang dan uang berlebih untuk kegiatan sosial-keagamaan. Kasali menyatakan bahwa gaya hidup mempengaruhi perilaku seseorang, dan akhirnya menentukan pilihan-pilihan konsumsi seseorang.
       Begitu pula menurut Mowen dan Minor yang menyatakan bahwa penting bagi pemasar untuk melakukan segmentasi pasar dengan mengidentifikasi gaya hidup melalui pola perilaku pembelian produk yang konsisten, penggunaan waktu konsumen, dan keterlibatannya dalam berbagai aktivitas. Mowen dan Minor menegaskan bahwa gaya hidup merujuk pada bagaimana orang hidup, bagaimana mereka membelanjakan uangnya, dan bagaimana mereka mengalokasikan waktu mereka. Hal ini dinilai dengan bertanya kepada konsumen tentang aktivitas, minat, dan opini mereka, gaya hidup berhubungan dengan tindakan nyata dan pembelian yang dilakukan konsumen.
       Orang yang berasal dari subkultur, kelas sosial dan pekerjaan yang sama dapat mempunyai gaya hidup yang berbeda. Gaya hidup seseorang menunjukkan pola kehidupan orang yang bersangkutan yang tercermin dalam kegiatan, minat, dan pendapatnya. Konsep gaya hidup apabila digunakan oleh pemasar secara cermat, akan dapat membantu untuk memahami nilai-nilai kosnumen yang terus berubah dan bagaimana nilai-nilai tersebut mempengaruhi perilaku konsumen.

      Gaya hidup secara luas didefinisikan sebagai cara hidup yang diidentifikasikan oleh bagaimana orang menghabiskan waktu mereka, apa yang mereka pikirkan tentang diri mereka sendiri dan juga di dunia sekitarnya.Perubahan gaya hidup membawa implikasi pada perubahan selera (selera pria dan wanita berbeda), kebiasan dan perilaku pembelian.perubahan lain yang terjadi adalah meningkatnya keinginan untuk menikmati hidup.


    • Keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti umur dan tahapan daur hidup, pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep diri pembeli..Konsumsi seseorang juga dibentuk oleh tahapan siklus hidup keluarga. Beberapa penelitian terakhir telah mengidentifikasi tahapan-tahapan dalam siklus hidup psikologis. Orang-orang dewasa biasanya mengalami perubahan atau transformasi tertentu pada saat mereka menjalani hidupnya. Pekerjaan mempengaruhi barang dan jasa yang dibelinya. Para pemasar berusaha mengidentifikasi kelompok-kelompok pekerja yang memiliki minat di atas rata-rata terhadap produk dan jasa tertentu.Situasi ekonomi seseorang akan mempengaruhi pemilihan produk. Situasi ekonomi seseorang terdiri dari pendapatan yang dapat dibelanjakan (tingkatnya, stabilitasnya, dan polanya), tabungan dan hartanya (termasuk presentase yang mudah dijadikan uang ).Gaya hidup seseorang adalah pola hidup di dunia yang diekspresikan oleh kegiatan, minat dan pendapat seseorang. Gaya hidup menggambarkan ΓÇ£seseorang secara keseluruhanΓÇ¥ yang berinteraksi dengan lingkungan. Gaya hidup juga mencerminkan sesuatu dibalik kelas sosial seseorang.
      Kepribadian adalah karakteristik psikologis yang berada dari setiap orang yang memandang responnya terhadap lingkungan yang relatif konsisten. Kepribadian dapat merupakan suatu variabel yang sangat berguna dalam menganalisa perilaku konsumen. Bila jenis- jenis kepribadian dapat diklasifikasikan dan memiliki korelasi yang kuat antara jenis-jenis kepribadian tersebut dengan berbagai pilihan produk atau merk.

      Contoh :
      Konsumen dalam pemilihan produk mobil tidak hanya melihat kualitas dan mereknya saja, mereka juga memperhatikan jenis dan harganya. Maka perlu mengetahui perilaku konsumen terhadap keputusan dalam pembelian mobil, Berdasarkan hal tersebut dirumuskan permasalahan sebagai berikut: (1) Apakah variabel siklus hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi, gaya hidup, kepribadian berhubungan secara nyata dalam pembelian mobil Kijang di Kelurahan Dinoyo Kecamatan Lowokwaru Kota Malang ? (2) Diantara variabel-variabel diatas mana yang paling berhubungan dalam keputusan pembelian mobil Kijang ?. sedangkan penelitian dibatasi pada perilaku konsumen utamanya pada faktor pribadi yang terdiri variabel usia dan tahap siklus hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi, gaya hidup, kepribadiaan dan konsep diri yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian mobil kijang. Tujuan Penelitian tersebut adalah (a) Untuk mengetahui apakah faktor pribadi berhubungan dengan konsumen pada pembelian mobil merk toyota kijang. (b) Untuk mengetahui variabel apa yang paling berhubungan dalam membeli mobil toyota kijang.
      Penelitian dilakukan di kelurahaan Dinoyo Kecamatan Lowokwaru Kota Malang dan tergolong dalam jenis penelitian survey, data yang digunakan adalah Data primer dan sekunder Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen yang telah membeli mobil kijang di Kelurahan Dinoyo Kecamatan Lowokwaru Kota Malang berjumlah 48 responden. Sehingga bisa dikatakan penelitian ini termasuk dalam penelitian populasi dengan teknik total sampling. Sedangkan teknik pengumpulan data dengan cara interview dan penyebaran quisioner. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah (1) Analisis Kualitatif berupa deskriptif dan (2) Analisis Kuantitatif dengan metode chi square.
      Hasil perhitungan dapat ditarik kesimpulan (1) Diperoleh nilai Chi-Square pada variabel Siklus hidup, Pekerjaan, Keadaan ekonomi, Gaya hidup, dan Kepribadian mempunyai nilai Chi-Squarehitung > Chi-SquareTabel sehingga variabel siklus hidup, pekerjaan, keadaan ekonomi, gaya hidup, kepribadian berpengaruh signifikan dalam pembelian mobil toyota kijang di Kelurahan Dinoyo Kecamatan Lowokwaru Kota Malang. (2) Dengan menggunakan koefisien kontingensi diketahui bahwa variabel yang mempunyai hubungan kuat dalam pembelian mobil adalah variabel Keadaan ekonomi. Sedangkan variabel Siklus hidup, Pekerjaan, Gaya hidup dan Kepribadian dalam pembelian mobil kijang juga mempunyai hubungan yang sedang. (3) Dari kelima variabel diatas yang mempunyai nilai CramerΓÇÖs V terbesar adalah variabel Keadaan ekonomi (X3) sehingga variabel tersebut yang paling dominan dalam mempengaruhi pembelian mobil kijang.

      http://

    • Silahkan unduh materi sbb: 

  • Psikologi marketing adalah integrasi ilmu psikologi dan perilaku manusia ke dalam kegiatan pemasaran untuk menyukseskan tujuan pemasaran, yaitu penjualan yang maksimal (Kristanto, 2011). Singkatnya, strategi ini menerapkan pendekatan yang mempengaruhi psikis konsumen sehingga mereka tertarik untuk menggunakan produk atau jasa yang kita miliki. Apakah Anda tertarik untuk menggunakan strategi ini? Mari kita ulas bersama beberapa tips psikologi marketing yang sering digunakan!

  • Merupakan upaya yang dilakukan komunikator pemasaran untuk meyakinkan konsumen untuk membeli suatu produk atau jasa. Para pemasar produk/jasa saling berlomba-lomba mensinergikan bauran komunikasi pemasaran untuk menarik intelektualitas konsumen dan perasaan mereka.

    • komunikasi persuasif adalah proses mempengaruhi sikap, kepercayaan, dan perilaku orang dengan menggunakan manipulasi psikologis sehingga orang tersebut bertindak seperti atas kehendaknya sendiri (Rahmat, 2010).

      Persuasi bisa dilakukan secara rasional dan secara emosional. Dengan cara rasional, komponen kognitif pada diri seseorang dapat dipengaruhi. Aspek yang dipengaruhi berupa ide ataupun konsep. Persuasi yang dilakukan secara emosional, biasanya menyentuh aspek afeksi, yaitu hal yang berkaitan dengan kehidupan emosional seseorang. Melalui cara emosional, aspek simpati dan empati seseorang dapat digugah (Herdiyan & Gumgum, 2013).

      Persuasi yang dilakukan secara emosional, biasanya menyentuh aspek afeksi, yakni hal yang berkaitan dengan kehidupan emosional seseorang. Melalui cara ini, aspek simpati dan empati seseorang digugah, sehingga muncul proses senang pada diri orang yang dipersuasi (MarΓÇÖat, 2000).

      Beberapa karakteristik dan batas-batas yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan definisi persuasi, secara garis besar dapat diuraikan sebagai berikut: 

      1. Semua situasi mengandung komunikasi simbolik, yaitu penyampaian dan penerimaan isyarat-isyarat verbal atau nonverbal. Komunikasi manusia melibatkan simbol-simbol verbal dan nonverbal. Simbol-simbol verbal adalah kata-kata yang menunjukkan benda, manusia, perasaan. Simbol-simbol verbal tersebut dapat berupa simbol lisan maupun tulisan. Simbol non-verbal ialah semua perilaku simbolik yang diperlihatkan oleh sumber atau penerima dalam situasi persuasif.

      2. Persuasi adalah sebuah proses yang kompleks. Persuasi merupakan proses komunikasi dan segala sesuatu yang terjadi di dalam usaha mempengaruhi sikap orang lain dengan cara penyampaian stimuli atau pesan yang bersifat dinamis dan berkelanjutan. 

      3. Para komunikator pada umumnya berusaha mendapatkan respon tertentu dari pendengar mereka. 

      4. Peranan komunikator dapat berganti dalam situasi persuasif. Misalnya ketika seorang ayah meminta maaf atas kelakuan anaknya kepada tamu, maka si ayah berkedudukan sebagai komunikator. Tetapi ketika anaknya menjelaskan arti perilaku itu kepada ayahnya, maka ia menjadi sumber dan ayahnya menjadi penerima. 

      5. Sebagian besar situasi persuasif melibatkan sedikitnya dua individu/ kelompok, seperti pengacara-juri, guru-siswa, orangtua-anak dan sebagainya. 

      6. Persuasi berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang merupakan pelaku, baik sebagai sumber maupun sasaran persuasi dalam percakapan dengan keluarga, teman-teman dan lain-lain.

      Komunikasi Antar Personal

       Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang dilakukan kepada pihak lain untuk mendapatkan umpan balik, baik secara langsung (face to face) maupun dengan media. Berdasarkan definisi ini maka terdapat kelompok maya atau faktual. Hal tersebut dikatakan oleh ahli Burgon & Huffner pada bukunya Human Communication (2002). Contoh kelompok maya, misalnya komunikasi melalui internet (chatting, face book, email). Berkembangnya kelompok maya ini karena perkembangan teknologi media komunikasi.

      Muhammad pada bukunya Inter-personal Skills (2004 : 159-160) mengembangkan klasifikasi komunikasi interpersonal menjadi interaksi intim, percakapan sosial, interogasi ataupun pemeriksaan serta wawancara. a. Interaksi intim termasuk komunikasi di antara teman baik, anggota famili, serta orang-orang yang sudah mempunyai ikatan emosional yang kuat. b. Percakapan sosial merupakan interaksi untuk menyenangkan seseorang secara sederhana. Tipe komunikasi tatap muka penting bagi pengembangan hubungan informal dalam organisasi. c. Interogasi atau pemeriksaan merupakan interaksi antara seseorang yang ada dalam kontrol, yang meminta atau bahkan juga menuntut informasi dari yang lain. d. Wawancara merupakan salah satu bentuk komunikasi interpersonal di mana dua orang terlibat dalam percakapan yang berupa tanya jawab.

      AIDA (Attention, Interest, Desire, dan Action)

      AIDA adalah salah satu model dan funnel marketing klasik yang populer untuk digunakan.

      AIDA dikenal sebagaimana seorang pemasar merancang pesan yang disampaikan dengan kata yang tepat sehingga terjadinya pengambilan keputusan akan pembelian produk. Dalam hal ini perlu diketahui bahwa tidak semua pemasar dapat menyampaikan pesannya dengan baik sehingga terjadinya keraguan pembeli dalam memilih kebutuhan dan keinginannya. Rancangan pesan tersebut dijelaskan oleh beberapa para ahli dalam mengklarifikasikan teori AIDA. Menurut Kotler (2008:568) menjelaskan ΓÇ£Teori AIDA (Attention, Interest, Desire, dan Action) merupakan suatu pesan yang harus mendapatkan perhatian, menjadi ketertarikan, menjadi minat, dan mengambil tindakan. Teori ini menyampaikan akan kualitas dari pesan yang baikΓÇ¥. Hubungannya dengan agen asuransi dalam mempersuasi calon nasabah adalah pesan dan kualitas produk yang diberikan agen asuransi keapda calon nasabah, dan memberikan keuntungan apabila membeli produk dari agen asuransi tersebut, seperti memberikan kenyamanan, ketenangan dan kesejahteraan untuk calon nasabah yang membeli produk asuransi tersebut. Menurut Djatnika pada bukunya Komunikasi Pemasaran (2007) menjelaskan ΓÇ£Teori AIDA merupakan pengambilan keputusan pembelian adalah suatu proses psikologis yang dilalui oleh konsumen atau pembeli, prosesnya yang di awali dengan tahap menaruh perhatian (Attention) terhadap barang atau jasa yang kemudian jika berkesan dia akan melangkah ke tahap ketertarikan (Interest) untuk mengetahui lebih jauh tentang keistimewaan produk atau jasa tersebut yang jika intensitas ketertarikannya. Jika calon nasabah tertarik dengan produk atau jasa dan merasa sesuai dengan seleranya, maka akan timbul hasrat (Desire) untuk melakukan tindakan. 

      AIDA adalah model marketing yang dapat mengidentifikasi tahapan kognitif yang dialami seseorang dalam proses pembelian untuk suatu produk dan layanan.

      Model ini menjelaskan bagaimana pembeli melalui sebuah proses yang terdiri dari beberapa tahap sebelum akhirnya ia melakukan kegiatan pembelian.

      Menurut The Balance Careers, seorang pelopor dalam dunia periklanan dan penjualan asal Amerika, Elias St Elmo Lewis, menciptakan ungkapan serta pendekatannya. Di tahun 1899, Lewis berbicara tentang cara menarik perhatian pembaca saat memberikan informasi, hingga menggubah mereka menjadi pelanggan. Di tahun 1909, hal tersebut berkembang dan menjadi menarik perhatian, membangkitkan minat, persuasif, dan meyakinkan. Hal tersebut kurang lebih menyerupai model AIDA yang sekarang terkenal di seluruh dunia.

      Berikut adalah penjelasan dari masing-masing huruf yang mewakili proses jual beli.

      1. Awareness

      Tahapan AIDA yang pertama adalah menciptakan kesadaran atau daya tarik pada sebuah brand dan produk/jasa yang dijual.

      Tahap ini menjelaskan pentingnya menarik perhatian konsumen yang dapat dilakukan dengan banyak cara seperti menempatkan iklan di lokasi yang memiliki kemungkinan untuk banyak dilihat orang.

      Selain itu, bisa juga untuk menambahkan sesuatu yang provokatif untuk menarik perhatian. Pada tahap ini, personalisasi juga bisa membantu.

      Untuk membuat konsumen tertarik maka perlu untuk menargetkan konsumen secara individual.

      2. Interest

      Setelah mendapatkan perhatian dari konsumen, tahapan kedua dari AIDA adalah untuk mempertahankannya.

      Tahap ini cenderung lebih sulit jika dibandingkan tahap pertama, apalagi jika produk dan layanan dari perusahaan tidak mumpuni.

      Menjaga minat konsumen adalah tantangan khusus dalam proses pemasaran. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk terus mempertahankan minat konsumen, salah satunya dengan memberikan sesuatu yang terus relevan dan menarik. Jangan sampai konsumen bosan dengan iklan yang itu-itu saja atau bahkan semakin sulit untuk dimengerti. Buatlah beragam iklan menarik untuk menginformasikan apa yang bisa didapatkan konsumen. Buatlah mereka menaruh minatnya terhadap brand serta produkmu.

      Tahap ini penting untuk mendorong konsumen melakukan riset lebih lanjut terkait brand dan produk tersebut.

      3. Desire

      Desire adalah tahap ketiga dalam proses pembelian suatu produk atau barang yang dialami konsumen menurut model funnel AIDA.

      Sekarang, ketika kita berasumsi bahwa konsumen sudah tertarik terhadap brand dan produk, maka saatnya untuk menciptakan hasrat dan hubungan yang lebih emosional. Di sinilah pentingnya untuk lebih banyak menunjukkan keunggulan dari brand dan produk, serta untuk membuat ketertarikan konsumen menjadi perasaan untuk membutuhkan produk tersebut. Mungkin sebelumnya, konsumen memiliki sejumlah keraguan dan pertanyaan akan produk.

      Di sinilah sangat penting untuk meyakinkan kembali konsumen dan memberikan banyak alasan lain agar konsumen dapat merasa butuh untuk membeli produk tersebut. Tidak lupa untuk membuat informasi tersebut dengan fakta-fakta menarik dari produk atau layananmu.

      4. Action

      Tahap yang terakhir dari AIDA adalah aksi, artinya di sinilah konsumen melakukan aksi pengambilan keputusan. Pada tahap ini, ada banyak bentuk yang dapat dilakukan konsumen, seperti mengunjungi website, melakukan panggilan telepon, berlangganan newsletter, mengunjungi toko, dan lain-lain. Tak ada jaminan bahwa setiap proses pemasaran akan selalu berakhir dengan penjualan.

      Namun, penting untuk meyakinkan bahwa setiap konsumen yang sudah mencapai tahap ΓÇ£aksiΓÇ¥ ini memiliki impresi dan pengalaman yang menyenangkan terhadap produk dan brand.

      Penerapan AIDA

      AIDA mungkin tidak hanya bisa disebut sebagai model pemasaran, tapi juga model komunikasi. AIDA adalah sebuah metode yang dapat mengidentifikasi bagaimana dan kapan berkomunikasi di setiap tahap kepada konsumen.

      Perlu diingat bahwa konsumen menggunakan platform yang berbeda dan memerlukan informasi yang berbeda pula. Ketika menerapkan AIDA, ingatlah beberapa pertanyaan kunci sebagai berikut:

      Awareness

      • Bagaimana kita membuat konsumen mengetahui produk atau layanan yang kita pasarkan?
      • Apa strategi kita untuk menjangkau konsumen?
      • Apa pesan yang ingin disampaikan?
      • Platform apa yang akan digunakan?

      Interest

      • Bagaimana kita akan mendapatkan ketertarikan konsumen?
      • Apa saja bukti yang dapat mendukung reputasi brand atau produk?
      • Apa strategi konten yang kita miliki?
      • Bagaimana kita menyampaikan informasi?

      Desire

      • Apa yang membuat produk atau layanan diinginkan?
      • Bagaimana untuk berinteraksi secara personal dan membuat hubungan emosional? Melalui obrolan langsung atau media sosial?

      Action

      • Apa bentuk ajakan dan di mana kita menempatkannya?
      • Apakah sudah cukup mudah bagi konsumen untuk terhubung dengan kita?
      • Bagaimana cara konsumen untuk terlibat di seluruh platform yang tersedia dan mereka gunakan?

      KELEBIHAN DAN KELEMAHAN AIDA 

      1. Kelebihan

      Model funnel AIDA sendiri telah hadir selama lebih dari 100 tahun.

      Meski begitu, AIDA masih digunakan hingga sekarang karena modelnya yang timeless dan sudah banyak model turunannya, seperti;

      • DAGMAR: (Defining Advertising Goals for Measured Advertising Results)
      • AIDAS: (Attention, Interest, Desire, Action, Satisfaction)
      • AISDALSLove: (Attention, Interest, Search, Desire, Action, Like/dislike, Share, Love/hate)

      Selain itu, kelebihan lain dari model AIDA sendiri adalah sebagai berikut;

      • mampu menggambarkan proses pembelian seseorang dengan sangat sederhana
      • membantumu dalam mengetahui potensi kelemahan dari produkmu sendiri
      • dalam konteks content marketing, membantumu membuat konten yang dapat mengonversi audiens menjadi konsumen

      2. Kekurangan

      Meski begitu, model funnel AIDA pun bukan tanpa kekurangan, berikut adalah beberapa di antaranya.

      • tidak memperhitungkan buyerΓÇÖs journey yang non-linear
      • tidak memperhitungkan impulse purchase
      • terlalu membuat proses pembelian seseorang terlalu simpel
      • tidak melibatkan faktor-faktor ketika membeli seperti ketersediaan barang, harga, kepuasan konsumen, dan rekomendasi dari lingkungan sekitar

      Sumber: Kotler (2008 : 568)

  • Apa itu Keputusan Pengambilan Konsumen 
    Proses pengambilan keputusan konsumen melibatkan lima langkah dasar. Ini adalah proses dimana konsumen mengevaluasi membuat keputusan pembelian. 5 langkah tersebut adalah pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian dan evaluasi pasca pembelian.

    5 langkah proses pengambilan keputusan konsumen

    1. Pengenalan masalah: Mengenali kebutuhan akan layanan atau produk
    2. Pencarian informasi: Mengumpulkan informasi
    3. Evaluasi alternatif: Menimbang pilihan terhadap alternatif yang sebanding
    4. Keputusan pembelian: Melakukan pembelian aktual
    5. Evaluasi pasca pembelian: Merefleksikan pembelian yang mereka lakukan

    • Pengertian Perilaku Konsumen

      Perilaku konsumen adalah suatu proses yang dilakukan oleh konsumen dalam hal merencanakan, mempertimbangkan, sampai pengambilan keputusan untuk mendapatkan sesuatu yang akan mereka konsumsi. Konsumen dalam hal ini adalah individu atau kelompok yang akan membeli barang atau jasa untuk keperluan dirinya sendiri maupun orang lain. Artinya, konsumen adalah orang yang akan mendapatkan nilai manfaat dari barang atau jasa yang dibelinya. 

      Perilaku konsumen akan mempengaruhi strategi dalam penjualan suatu produk. Jadi perilaku konsumen ini wajib dipelajari oleh produsen atau penjual supaya bisa menawarkan produknya dengan strategi yang tepat sasaran. 

      Teori Perilaku Konsumen Menurut Ahli

      • Leon Schiffman & Leslie Kanuk

      Perilaku konsumen adalah cara konsumen dalam membuat keputusan untuk berbelanja dengan merelakan sumber daya yang dimiliki untuk mendapatkan sesuatu yang ingin dikonsumsi. 

      • Philip Kotler & Kevin Keller

      Perilaku konsumen adalah bagaimana cara seseorang atau kelompok untuk mempertimbangkan, memilih, memanfaatkan, membeli, hingga mengevaluasi produk yang mereka beli untuk memenuhi kebutuhan mereka. 

      • John C. Mowen & Michael Minor

      Perilaku konsumen adalah proses ketika konsumen menentukan keputusan terkait sebuah produk, mulai dari menentukan, membeli, memanfaatkan barang atau jasa. 

      Faktor Perilaku Konsumen

      Dalam proses pembelian suatu barang yang dilakukan oleh konsumen, tentunya ada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Faktor itu akan menentukan bagaimana cara seseorang akan mempertimbangkan suatu pembelian. Berikut adalah faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen

      • Kebudayaan

      Latar belakang budaya dapat mempengaruhi perilaku konsumen. Kebudayaan dalam hal ini maksudnya adalah hal-hal yang berkaitan dengan budaya atau kebiasaan yang dibentuk dalam diri seseorang. 

      Contoh dalam kasus ini misalnya ketika ada orang yang berasal dari Timur Tengah yang cenderung tertutup secara pakaian, tentunya akan lebih memilih untuk mendatangi toko-toko yang menjual pakaian tertutup. 

      • Sosial

      Kondisi sosial juga berpengaruh dalam perilaku konsumen. Kondisi sosial ini maksudnya adalah lingkungan, didikan, sampai pergaulan di dalam masyarakat. Kondisi sosial juga dapat mempengaruhi perilaku konsumen karena pada dasarnya lingkungan seseorang akan membentuk karakter seseorang, termasuk dalam hal pengambilan keputusan pembelian.

      Misalnya ketika ada seseorang yang hidup di lingkungan orang-orang dengan perekonomian atas. Ia akan cenderung melakukan pembelian barang yang menyesuaikan dengan lingkungannya, dan biasanya barang-barang itu adalah barang mewah. 

      • Psikis

      Kondisi psikis juga dapat mempengaruhi keputusan seseorang dalam melakukan pembelian barang. Kondisi psikis ini lebih mengarah ke pikiran seseorang mengenai citra dirinya. 

      Misalnya seseorang yang ingin diakui keberadaannya dan diterima di lingkungannya. Ketika ada seseorang dengan kondisi psikis tersebut, cenderung akan melakukan apapun dalam pembelian barang demi memuaskan kebutuhan psikisnya tersebut.

      • Diri Sendiri

      Selain tiga faktor di atas, sebenarnya diri sendiri adalah faktor yang paling mempengaruhi keputusan pembelian. Bahkan, tiga faktor lainnya bisa tidak berlaku akibat kondisi diri sendiri. Kondisi diri sendiri itu meliputi berbagai faktor, seperti usia, gaya hidup, dan kondisi ekonomi.

      Misalnya adalah ketika seseorang berprinsip bahwa gaya hidupnya sederhana, maka kemungkinan besar ia tidak akan terpengaruh dengan lingkungan atau budayanya. 

      Model Perilaku Konsumen

      Perilaku konsumen tentunya memiliki ruang lingkup yang luas, karena setiap konsumen pastinya punya perilaku yang berbeda-beda, tetapi untuk menyederhanakannya gambarannya, ada beberapa model yang harus diketahui dari perilaku konsumen, di antaranya adalah: 

      • Pavlovian Model

      Model Pavlovian adalah model perilaku konsumen yang dicetuskan oleh Ivan Pavlov. Jadi perilaku konsumen ini dipengaruhi oleh tiga indikator, yaitu: 

      • Drive

      Drive berarti adalah pemicu yang mengubah kondisi psikologis seseorang. 

      • Drives

      Drives adalah kondisi psikologis seseorang seperti rasa bahagia dan senang.

      • Reinforcement

      Reinforcement adalah dorongan yang muncul akibat adanya pemicu psikologis tadi. 

      • Model Input, Process, dan Output

      Model ini juga terdiri dari tiga indikator utama, yaitu: 

      • Input

      Input adalah strategi pemasaran yang memicu pikiran seseorang terkait suatu produk.

      • Process

      Process adalah kondisi ketika konsumen sudah melakukan transaksi terhadap produk.

      • Output

      Output lebih ke arah respons yang dilakukan oleh konsumen terhadap produk yang telah dibelinya. 

      • Model Sosiologi

      Model Sosiologi ini merupakan model perilaku konsumen yang lebih mengaitkan antara perilaku konsumen dengan kondisi sosialnya, yakni lingkungan. 

      Lingkungan dalam model ini terbagi menjadi dua, yaitu primary dan secondary. Primary adalah orang-orang terdekat konsumen seperti keluarga dan teman, sedangkan secondary adalah orang yang tidak terlalu dekat, tetapi mempunyai kesamaan tujuan atau kepribadian. 

      Pendekatan untuk Mengetahui Perilaku Konsumen

      • Pendekatan Interpretif

      Pendekatan interpretif adalah pendekatan yang dilakukan dengan cara survei langsung terhadap konsumen agar memahami apa yang diinginkan konsumen. 

      • Pendekatan Tradisional

      Pendekatan tradisional adalah cara dasar dalam mengetahui perilaku konsumen dengan mengidentifikasi psikis seseorang dalam melakukan pengambilan keputusan pembelian barang. 

      • Pendekatan Teori Hierarki Kebutuhan 

      Pendekatan sains pemasaran ini dilakukan sesuai dengan teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow yang menjelaskan mengenai prioritas kebutuhan seseorang. Dari situ, analisis itu produsen akan bisa mengetahui strategi apa yang harus dilakukan. 

      Pentingnya Memahami Perilaku Konsumen

      Seperti yang telah dijelaskan bahwa perilaku konsumen penting untuk dipahami, karena ada beberapa manfaat yang didapatkan jika memahami perilaku konsumen. Seperti misalnya: 

      • Menjual Barang Secara Tepat Sasaran

      Ketika sudah memahami bagaimana karakteristik konsumen, produsen tentunya akan terdorong untuk membuat barang yang sesuai dengan kebutuhan dari konsumen. Dengan demikian produk yang diproduksi tidak akan sia-sia karena tidak ada  yang beli.

      • Tahu Strategi Apa yang Akan Dilakukan

      Ketika sudah mengetahui perilaku konsumen, produsen juga akan tahu strategi apa yang harus dilakukan, baik secara pemasaran maupun promosinya. 

      • Mengetahui Trend Pasar

      Trend pasar dapat diketahui karena pada dasarnya tren yang berjalan sesuai dengan keinginan konsumen. 

      • Unggul dari Pesaing

      Ketika produsen lebih tau bagaimana perilaku konsumennya, tentunya akan lebih unggul dalam berbagai macam sektor, seperti misalnya kegunaan barang yang lebih memenuhi kebutuhan konsumennya dibandingkan dengan pesaing yang tidak tahu perilaku konsumennya. 

      • Efisien

      Efisien berarti produsen tidak perlu buang-buang waktu dalam hal eksperimen tes pasar untuk mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan oleh pasar.



    • Langkah-langkah dalam proses pengambilan keputusan konsumen

      Secara umum, proses pengambilan keputusan konsumen melibatkan lima langkah dasar.

      1. Pengenalan masalah

      Langkah pertama dari proses pengambilan keputusan konsumen adalah mengenali kebutuhan akan suatu layanan atau produk. Perlu pengakuan, apakah diminta secara internal atau eksternal, menghasilkan respons yang sama: keinginan. Begitu konsumen mengenali suatu keinginan, mereka perlu mengumpulkan informasi untuk memahami bagaimana mereka dapat memenuhi keinginan itu, yang mengarah ke langkah kedua.

      Tapi bagaimana Anda bisa mempengaruhi konsumen pada tahap ini? Karena stimulus internal datang dari dalam dan mencakup impuls dasar seperti kelaparan atau perubahan gaya hidup, fokuskan upaya penjualan dan pemasaran Anda pada stimulus eksternal.

      Kembangkan kampanye merek yang komprehensif untuk membangun kesadaran dan pengakuan merekΓÇôΓÇôAnda ingin konsumen mengenal dan mempercayai Anda. Yang terpenting, Anda ingin mereka merasa memiliki masalah yang hanya bisa Anda selesaikan.

      Contoh: Musim dingin akan datang. Pelanggan khusus ini memiliki beberapa jaket ringan, tetapi dia memerlukan mantel musim dingin tugas berat jika dia ingin selamat dari salju dan suhu yang lebih rendah.

      2. Pencarian informasi

      Saat meneliti pilihan mereka, konsumen kembali mengandalkan faktor internal dan eksternal, serta interaksi masa lalu dengan produk atau merek, baik positif maupun negatif. Pada tahap informasi, mereka dapat menelusuri opsi di lokasi fisik atau berkonsultasi dengan sumber online, seperti Google atau ulasan pelanggan.

      Tugas Anda sebagai merek adalah memberi calon pelanggan akses ke informasi yang mereka inginkan, dengan harapan mereka memutuskan untuk membeli produk atau layanan Anda. Buat corong dan rencanakan jenis konten yang dibutuhkan orang. Menampilkan diri Anda sebagai sumber pengetahuan dan informasi yang dapat dipercaya.

      Strategi penting lainnya adalah promosi dari mulut ke mulutΓÇökarena konsumen lebih memercayai satu sama lain daripada bisnis, pastikan untuk menyertakan konten buatan konsumen, seperti ulasan pelanggan atau testimonial video, di situs web Anda.

      Contoh: Pelanggan menelusuri ΓÇ£mantel musim dingin wanitaΓÇ¥ di Google untuk melihat opsi yang tersedia. Ketika dia melihat seseorang dengan mantel yang lucu, dia bertanya di mana mereka membelinya dan apa pendapat mereka tentang merek itu.

      3. Evaluasi alternatif

      Pada titik ini dalam proses pengambilan keputusan konsumen, calon pembeli telah mengembangkan kriteria untuk apa yang mereka inginkan dalam suatu produk. Sekarang mereka menimbang pilihan prospektif mereka terhadap alternatif yang sebanding.

      Alternatif dapat muncul dalam bentuk harga yang lebih rendah, manfaat produk tambahan, ketersediaan produk, atau sesuatu yang bersifat pribadi seperti pilihan warna atau gaya. Materi pemasaran Anda harus diarahkan untuk meyakinkan konsumen bahwa produk Anda lebih unggul dari alternatif lain. Bersiaplah untuk mengatasi keberatanΓÇömisalnya, dalam telepon penjualan, kenali pesaing Anda sehingga Anda dapat menjawab pertanyaan dan membandingkan keuntungan.

      Contoh: Pelanggan membandingkan beberapa merek yang disukainya. Dia tahu bahwa dia menginginkan mantel berwarna cerah yang akan melengkapi sisa pakaiannya, dan meskipun dia lebih suka menghabiskan lebih sedikit uang, dia juga ingin menemukan mantel yang terbuat dari bahan yang ramah lingkungan.

      4. Keputusan pembelian

      Inilah saat yang ditunggu-tunggu konsumen: pembelian. Setelah mereka mengumpulkan semua fakta, termasuk umpan balik dari pelanggan sebelumnya, konsumen harus sampai pada kesimpulan logis tentang produk atau layanan yang akan dibeli.

      Jika Anda telah melakukan pekerjaan Anda dengan benar, konsumen akan mengetahui bahwa produk Anda adalah pilihan terbaik dan memutuskan untuk membelinya.

      Contoh: Pelanggan menemukan mantel musim dingin merah muda yang sedang diobral dengan diskon 20%. Setelah memastikan bahwa merek tersebut menggunakan bahan yang ramah lingkungan dan meminta masukan dari teman-temannya, dia memesan mantel tersebut secara online.

      5. Evaluasi pasca pembelian

      Bagian dari proses pengambilan keputusan konsumen ini melibatkan refleksi dari konsumen dan penjual. Sebagai penjual, Anda harus mencoba mengukur hal-hal berikut:

      • Apakah pembelian tersebut memenuhi kebutuhan yang diidentifikasi konsumen?
      • Apakah pelanggan senang dengan pembelian tersebut?
      • Bagaimana Anda dapat terus berinteraksi dengan pelanggan ini?

      Ingat, adalah tugas Anda untuk memastikan pelanggan terus mendapatkan pengalaman positif dengan produk Anda. Keterlibatan pasca pembelian dapat mencakup email tindak lanjut, kupon diskon, dan buletin untuk memikat pelanggan agar melakukan pembelian tambahan. Anda ingin mendapatkan pelanggan seumur hidup, dan di era di mana siapa pun dapat memberikan ulasan online, semakin penting untuk membuat pelanggan senang.

    • Faurani is inviting you to a scheduled Zoom meeting.


      Topic: consumer behaviour kls MM 

      Time: june 03, 2023 08:30 AM Jakarta

      Join Zoom Meeting

      https://csueb.zoom.us/j/82323189023

      Meeting ID: 823 2318 9023

  • Dalam melaksanakan bisnis, ada beberapa hal yang diperhatikan agar bisa sukses. Kita perlu memperhatikan bagaimana keadaan internal dari bisnis yang dijalankan. Disisi lain, Kita juga perlu memperhatikan faktor-faktor eksternal dari perusahaan. 

    Berikut 5 faktor eksternal yang harus diperhatikan untuk memulai bisnis :

    1. Ekonomi

    Faktor ekonomi dari negara atau tempat kita melakukan bisnis menjadi faktor yang sangat penting. Sementara untuk bisnis atau usaha sekelas internasional anda harus memperhatikan kondisi dan keadaan dari ekonomi global.

    Kita tahu bahwa konsumsi dipengaruhi oleh kekayaan penduduk, dan pelaku bisnis harus merencanakannya dengan tepat. Beberapa pertimbangan utama meliputi tersedianya kredit dan jumlah pendapatan disposable di pasar tertentu. Baik inflasi dan tingkat suku bunga dan GDP negara tertentu adalah faktor ekonomi lain yang dapat menghambat atau membantu usaha pemasaran Anda.

    2. Keyakinan dan Sikap Sosial

    Manusia ditakdirkan untuk merespons rangsangan yang berbeda dengan cara yang unik. Entah itu melalui budaya umum, unit keluarga, pendidikan, atau agama, kita dilatih untuk bereaksi positif terhadap hal-hal tertentu dan negatif terhadap orang lain.

    Masyarakat memberlakukan kepercayaan, sikap, dan gaya hidup yang diadopsi oleh lingkungan sekitarnya. Sikap ini sering berubah karena orang berusaha untuk mengakomodasi tuntutan yang ditempatkan pada mereka oleh dunia di sekitar mereka.

    Seperti yang mereka lakukan, permintaan akan gaya pakaian, perangkat teknologi, aktivitas rekreasi, dan produk / layanan lainnya meningkat sementara permintaan akan alternatif lain memudar.

    3. Politik

    Faktor politik mencakup masalah hukum dan peraturan yang mengendalikan industri dan bisnis perorangan. Ada beberapa masalah yang perlu dipertimbangkan di sini termasuk keputusan fair trade, undang-undang antimonopoli, pajak, upah, dan kegiatan pemerintah lainnya yang dirancang untuk melindungi kelas yang berbeda dalam masyarakat

    4. Teknologi

    Teknologi terus membaik pada tingkat eksponensial. Perusahaan terbaik tetap berada di atas perubahan teknologi dan menggunakannya untuk mendapatkan lebih banyak pekerjaan dalam periode waktu yang lebih singkat. Pemasar harus menyadari perubahan yang mungkin mempengaruhi bisnis dan industri mereka. Perangkat, strategi, dan teknik baru dapat membantu bisnis tetap berada di depan persaingan dan menghindari keusangan.

    5. Ekologi

    Konsep ini mengacu pada bagaimana manusia berinteraksi dengan lingkungan fisik. Lebih dari sebelumnya, dunia pada umumnya berkaitan dengan polusi dan hilangnya habitat dan keanekaragaman hayati. Ini memiliki konsekuensi bagi perusahaan di hampir semua industri dan bahkan telah menelurkan produk dan bisnis "hijau".


    • Pada dasarnya komunikasi adalah untuk menginformasikan danmembuat konsumen potensial menyadari atas keberadaan produk yangditawarkan. Komunikasi digunakan untuk membujuk konsumen potensialagar berhasrat masuk ke dalam hubungan pertukaran. Komunikasi digunakansebagai pengingat bagi konsumen mengenai keberadaan produk, yang padamasa lalu pernah dilakukan transaksi pada produk itu.Proses komunikasi yang bersifat mengingatkan ini sangat pentingartinya bagi kelangsungan hidup perusahaan. Perusahaan dapat bertahanhidup karena adanya konsumen, dan mencari atau memperoleh konsumenmerupakan sesuatu yang sulit. Oleh karena itu, ketika perusahaan sudahmendapatkan konsumen kemudian melupakan konsumen, maka berartiperusahaan tidak berusaha menjaga konsumen yang telah diraihnya. Peranyang penting dari komunikasi juga berkaitan dengan konsumen yang saat inidimiliki dan juga konsumen potensial untuk melakukan pembelian.Peran lain komunikasi adalah untuk membedakan produk yangditawarkan oleh suatu perusahaan dengan produk lainnya. Upayamembedakan produk ini dilakukan dengan mengkomunikasikan kepadakonsumen bahwa produk yang ditawarkan berbeda dengan produk lain yangsejenis. Meskipun produk yang ditawarkan secara fisik tidak jauh beda, tetapipemasar membedakan produk itu dari lainnya dengan menanamkan suatupersepsi tertentu kepada konsumen, seolah-olah produk yang ditawarkanmemang berbeda dengan produk lainnya yang sejenis.

      Pada tingkatan yang lebih tinggi, peran komunikasi tidak hanya mendukung transaksi dengan menginformasikan, membujuk, mengingatkan,dan membedakan produk tapi juga menawarkan sarana pertukaran itu sendiri.Walaupun berdasarkan konsep periklanan, suatu iklan akan menarik. Namunharus memperhatikan bukan melebihi batas-batas nilai moral masyarakat maka bukan perhatian baik yang diperoleh, tapi hujatan dari masyarakatbahwa iklan yang ditampilkan melanggar nilai-nilai yang berkembang dimasyarakat. Konsumen akan berusaha menolak produk yang diiklankan jikaiklan itu menyinggung perasaan sosial masyarakat. Perlu diperhatikan bahwaselain kepuasan terhadap materi iklan dalam menyampaikan pesanan produk, juga ada kepuasan yang tidak nyata yang bersifat psikologis.

    • Kebudayaan adalah faktor penentu keinginan dan perilaku seseorang yang paling mendasar. Dengan kata lain faktor budaya merupakan faktor paling utama dalam perilaku pengambilan keputusan dan perilaku pembelian.Budaya konsumsi yang muncul juga dipengaruhi oleh strategi pemasaran, konsumsi massal meningkat sejalan dengan semakin banyaknya orang yang memiliki pendapatan.Konsumen adalah makhluk sosial yang hidup bersama dengan orang lain, berinteraksidengan sesamanya. 

      Orang- orang sekeliling inilah yang disebut sebagai lingkungan sosial konsumen  Konsumen saling berinteraksi satu sama yang lain, saling mempengaruhi dalam membentuk perilaku, kebiasaan, sikap, kepercayaan dan nilai-nilai yang dianggap penting. Salah satunya unsur lingkungan social adalah budaya.


      Budaya

      Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar danmeliputi banyak kegiatan sosial manusia.Engel, Blackwell dan Miniard (1995) menyebutkan 10 sikap dan perilaku yang sangat dipengaruhi oleh budaya , yaitu :

      1. Kesadaran diri dan ruang (sense of self and space).

      2. Komunikasi dan bahasa.

      3. Pakaian dan penampilan.

      4. Makanan dan kebiasaan makan.

      5. Waktu dan kesadaran akan waktu.

      6. Hubungan keluarga, organisasi, dan lembaga pemerintah.

      7. Nilai dan norma.

      8. Kepercayaan dan sikap.

      9. Proses mental dan belajar.

      10. Kebiasaan kerja.

       Budaya dan Periaku Konsumen 

      Produk mempunyai fungsi, bentuk dan arti. Ketika konsumen membeli suatu produk mereka berharap produk tersebut menjalankan fungsi sesuai harapannya, dan konsumen terus membelinya hanya bila harapan merekadapat dipenuhi dengan baik. Namun, bukan hanya fungsi yang menentukan keberhasilan produk. Produk jugaharus memenuhi harapan tentang norma,

       Misalnya  persyaratan nutrisi dalam makanan, crispy (renyah) uuntuk makanan yang digoreng, makanan harus panas untuk  ΓÇ£steak  hot plateΓÇ¥  atau dingin untuk  ΓÇ£agar -agar pencuci mulutΓÇ¥.

      Seringkali produk juga didukung dengan bentuk tertentu untuk menekankan simbol fungsi seperti  ΓÇÿkristalbiruΓÇÖ  pada detergen untuk pakaian menjadi lebih putih. Produk juga memberi simbol makna dalam masyarakat misal  ΓÇ£bayamΓÇ¥ yang diassiasikan dengan kekuatan dalam film Popeye atau makanan yang disimbolkan sebagai hubungan keluarga yang erat sehingga resep turun temurun keluarga menjadi andalan dalam memasak, misal iklan Sasa atau Ajinomoto. Produk dapat menjadi simbol dalam masyarakat untuk menjadi ikondalam ibadat agama.

      Budaya pada gilirannya akan mempengaruhi pengembangan dalam implikasi pemasaran seperti perencanaan produk, promosi ,distribusi dan penetapan harga. Untuk mengembangkan strategi yang efektif pemasar perlu mengidentifikasi aspek- aspek penting kebudayaan dan memahami bagaimana mereka mempengaruhi konsumen.

      Sebagaimana strategi dalam penciptaan ragam produk , segmentasi pasar dan promosi yang dapat disesuaikan dengan budaya masyarakat. Beberapa perubahan pemasaran yang dapat mempengaruhi kebudayaan, seperti :

      1. Tekanan pada kualitas

      2. Peranan wanita yang berubah

      3. Perubahan kehidupan keluarga 

      4. Sikap yang berubah terhadap kerja dan kesenangan 

      5. Waktu senggang yang meningkat

      6. Pembelian secara impulsif 

      7. Hasrat akan kenyamanan


    • Silahkan isi via link ini 

      https://forms.gle/KpwXzMYJ6VC1brsZ6

    • Setiap budaya terdiri sub budaya yang lebih kecil yang memberikan lebih banyak ciri ΓÇô ciri dan sosialisasi khusus bagi anggotanya. Sub budaya terdiri dari bangsa, agama, kelompok ras, dan daerah geografis. Banyak sub budaya yang membentuk segmen pasar penting dengan merancang produk dan program pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen. Suatu perusahaan membuat produk sesuai dengan daerah dimana produk tesebut dipasarkan (Kotler dan Keller, 2007). Menurut Solomon (2004), sub budaya terdiri dari anggota yang memiliki kesamaan kepercayaan dan pengalaman yang membedakan anggota tersebut dari yang lain. Anggota ini bisa didasarkan dari kesamaan umur, ras, latar belakang suku, atau tempat tinggal. Setiap suku memiliki keinginan dan kebutuhan yang berbeda, seperti dalam menentukan suatu produk, memilih tempat wisata, perilaku politik serta keinginan untuk mencoba produk baru. Dalam segi umur pun juga mempengaruhi dalam perilaku konsumsi. Menurut Schifman dan Kanuk (2008), sub budaya membagi keseluruhan masyarakat menjadi berbagai macam variabel sosiobudaya dan demografis seperti kebangsaan, agama, lokasi geografis, ras, usia, gender, dan bahkan status pekerjaan. Para anggota sub budaya tertentu mempunyai nilai ΓÇô nilai, kepercayaan, dan kebiasaan yang membedakan anggota sub budaya tersebut dari anggota lain dalam masyarakat yang sama.

      Kelas Sosial

       Kotler dan Keller (2014) mengemukakan bahwa kelas sosial mengacu pada pendapatan atau daya beli. Banyak indikator yang menempatkan seorang anggota masyarakat untuk masuk dalam kelas sosial antara lain penghasilan, berbusana, cara berbicara, preferensi rekreasi, dan lain ΓÇô lain. Kelas sosial memiliki empat ciri ΓÇô ciri antara lain: a. Orang-orang pada kelas sosial yang sama cenderung bertingkah laku seragam. b. Orang-orang yang merasa menempati posisi superior atau inferior sehubung dengan kelas sosial dimana orang tersebut berada. c. Kelas sosial ditandai dengan sekumpulan variabel, seperti pekerjaan, penghasilan, pendidikan, dan sebagainya. d. Individu dapat berpindah dari satu kelas ke kelas sosial lainnya. Menurut Solomon (2004), kelas sosial memiliki dampak pada seseorang dalam menggunakan uangnya, bagaimana cara pemilihan konsumsi merefleksikan ΓÇ₧tempatΓǃ konsumen dalam masyarakat. Konsumen sering membeli dan menunjukkan produk sebagai penanda kelas sosialnya. Menurut Schiffman dan Kanuk (2008), kelas sosial merupakan variabel yang penting dalam menentukan dimana seorang konsumen berbelanja. Berbagai kelas sosial mempunyai sudut pandang yang berbeda mengenai apa yang konsumen anggap sesuai dengan mode atau selera yang baik.

      sUMBER:

      Kotler, P. & Keller, K. L. (2014). Manajemen pemasaran (15th ed). Jakarta: PT. Indeks.

      Schiffman, L. G. & Kanuk, L. L. (2008). Consumer behavior (7th ed). International Edition, Upper Saddle River, New Jersey: Prentice Hall

      Solomon, M. R. (2004). Consumer behavior: buying, having, and being (6th ed). Upper Saddle River, New Jersey: Pearson Prentice Hall.


  • Pada Pertemuan minggu ini, kita akan memnahas tentang faktor-faktor eksternal lainnya yang mempengaruhi keputusan pembelian.

    Adapun faktor-faktor tersebut antara lain.

    1. Kelompok Refrensi

    2. Social Media

    3. Influencer 


    • Kelompok referensi disebut juga sebagai acuan atau rujukan. Kelompok referensi merupakan sekelompok orang yang secara nyata mempengaruhi perilaku seorang secara langsung atau tidak langsung. Kelompok referensi ini berguna sebagai referensi seseorang dalam pengambilan keputusan.

      Kelompok referensi atau rujukan adalah setiap orang atau kelompok yang dianggap sebagai dasar pembandingan bagi seseorang dalam membentuk nilai dan sikap umum/khusus atau pedoman khusus bagi perilaku.

      Faktor yang berdampak pada pengaruh kelompok rujukan :

      Para pemasar tertarik pada kemampuan kelompok rujukan untuk mengubah sikap dan perilaku konsumen dengan mendorong timbulnya kesesuaian. Untuk dapat mempunyai pengaruh tersebut, kelompok rujukan harus melakukan hal-hal berikut ini:

      1. Memberitahukan atau mengusahakan agar orang menyadari adanya suatu produk / merk khusus
      2. Memberikan kesempatan pada individu untuk membandingkan pemikirannya sendiri dengan sikap dan perilaku kelompok
      3. Mempengaruhi individu untuk mengambil sikap dan perilaku yang sesuai dengan norma-norma kelompok
      4. Membenarkan keputusan untuk memakai produk-produk yang sama dengan kelompok

      Daya tarik kelompok rujukan dalam pemasaran melalui :

      • Daya Tarik Selebriti
      • Daya Tarik Tenaga Ahli
      • Daya Tarik Orang Biasa
      • Daya Tarik Juru Bicara Eksekutif Dan Karyawan
      • Daya tarik kelompok rujukan lain
      Menurut Sumarwan (2002), jenis kelompok referensi atau acuan dibedakan menjadi : Kelompok formal dan informal
      1.  Kelompok formal merupakan kelompok yang memiliki struktur organisasi secara tertulis dan keanggotaannya yang terdaftar secara resmi. Sedangkan kelompok informal adalah kelompok yang tidak memiliki struktur organisasi secara tertulis dan resmi, sifat keanggotaannya tidak tercatat.

      2. Kelompok aspirasi dan disasosiasi
        Kelompok aspirasi adalah kelompok yang memperlihatkan keinginan untuk mengikuti norma, nilai maupun perilaku dari orang lain yang dijadikan kelompok acuan. Kelompok diasosiasi merupakan orang atau kelompok yang berusaha untuk menghindari asosiasi dengan kelompok acuannya.

        Tiga macam pengaruh kelompok acuan:

        • Pengaruh normatif (pengaruh dari kelompok acuan terhadap seseorang melalui norma-norma sosial yang harus dipatuhi dan diikuti)
        • Pengaruh ekspresi nilai (mempengaruhi seseorang melalui fungsinya sebagai pembawa ekspresi nilai)
        • Pengaruh informasi (mempengaruhi pilihan produk atau merek dari seseorang konsumen karena kelompok acuan tersebut sangat dipercaya)
        Terdapat tiga alasan seseorang bergabung dengan sebuah grup referensi :
        1. Untuk Mendapatkan Pengetahuan Yang Berharga
        2.  Untuk Mendapatkan Penghargaan Atau Menghindari Hukuman
        3. Untuk Mendapatkan Makna Yang Digunakan Untuk Membangun, Memodifikasi Atau memelihara konsep pribadi mereka
        Terdapat tiga pengaruh yang diberikan oleh grup referensi (kelompok acuan) :
        1. Informasional
          Memberikan informasi yang berguna kepada konsumen baik secara verbal maupun demostrasi. Informasi yang relevan lebih membuat konsumen terpengaruh oleh kelompok acuan. Informasi yang diberikan dapat diberikan secara :

          • Sengaja ( mencari tahu informasi)
          • Tidak sengaja ( biasanya dalam benuk obrolan bersama)
          • Bagaimana informasi dapat dipindahkan ke konsumen adalah ketika grup referensi memulai proses tersebut.
        2. Utilitarian
          Kelompok acuan memilki kontrol atas imbalan atau hukuman yang penting. Konsumen biasanya menyesuaikan diri dengan keinginan grup referensi jika: a) mereka percaya bahwa grup tersebut dapat mengontrol imbalan dan hukuman, b) perilakunya nyata atau dapat diketahui oleh kelompok dan c) mereka mendominasi untuk mendapatkan imbalan atau menghindari hukuman.

        3. Pengaruh ekspresi ΓÇô nilai Mencerminkan makna yang diinginkan.

        Pengaruh kelompok acuan pada produk dan merek ada dua dimensi, yaitu :

        1. Berkaitan dengan sejauh mana suatu produk atau merek adalah sesuatu yang dibutuhkan atau benda yang mewah.
        2. Sejauh mana objek yang sedang dipertanyakan menarik atau dikenal oleh orang lain. Dibagi menjadi dua yaitu barang publik (kepemilikan dan penggunaan barang diketahui oleh orang lain, dapat diketahui mereknya tanpa mengalami kesulitan) dan barang pribadi (digunakan secara pribadi dan kurang diketahui).

        Berdasarkan keterangan diatas maka dapat disimpulkan bahwa efek dari dimensi public-pribadi dan mewah-kebutuhan pada pengaruh grup referensi untuk pilihan produk dan merek adalah sebagai berikut:

        Tabel Efek Dari Dimensi Publik-Pribadi dan Mewah- kebutuhan
        image

        Kelompok Referensi dan Strategi Pemasaran

        image

        Kelompok Referensi memilki pengaruh terhadap konsumen terutama dalam proses pembelian. Pemasar melakukan strategi pemasaran dengan memperhatikan grup referensi terutama dalam melakukan pendekatan pemasaran. Biasanya pemasar berusaha mendekati konsumen dengan menjadi grup referensi yang diikuti konsumen. Misalnya seorang sales girl yang menawarkan produk kosmetik kepada konsumennya dengan juga mengatakan bahwa sales tersebut juga menggunakan produk kosmetik yang ditawarkan. Selain itu, pemasar juga menerapkan strategi pemasaran dengan menggunakan grup referensi yang ahli dan sesuai dengan produk yang ditawarkan. Misalnya produk pasta gigi pepsodent dalam setiap kemasan produknya dan iklan yang disampaikan melibatkan ikatan dokter gigi Indonesia sehingga memberikan informasi kepada konsumen bahwa produk tersebut telah terjamin.

        Terdapat beberapa kelompok acuan yang terkait dengan konsumen, yaitu :

        1. Kelompok persahabatan (friendship group)
          Merupakan kelompok dimana anggotanya memilki ikatan atau hubungan pertemanan, sahabat atau lainnya. Dan pemasar melihat bahwa kelompok persahabatan berpengaruh terhadap pembelian produk atau jasa.

        2. Kelompok belanja (shopping group)
          Kelompok ini merupakan kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang melakukan belanja secara bersama- sama, baik dalam ikatan keluarga atau hubungan lain maupun yang belim memilki ikatan dalam artian melakukan aktivitas belanja dalam satu tempat secara bersama-sama. Mereka yang terlibat dalam kelompok belanja memiliki kecenderungan untuk saling bertukar ataupun memberi informasi mengenai produk atau merek yang dijual.

        3. Kelompok kerja (work group)
          Kelompok kerja ini merupakan kelompok yang bekerja bersama dalam satu tempat kerja. Biasanya didalam tempat kerja, interaksi yang terjadi ditempoat kerja akan mempengarihi perilaku konsumsi dan pengambilan keputusan konsumen dalam membeli produk atau jasa. Misalnya, ketika jam makan siang, seseorang akan mempengarihi atau memberikan informasi kepada rekan kerja lainnya untuk makan di tempat tertentu (merekomendasikan).

        4. Kelompok atau masyarakat maya (virtual groups or communities)
          Kelompok ini terbentuk karena adanya batasan geografik dan waktu sehingga menggunakan tekhnologi dalam berkomunikasi melalui internet dengan membentuk kelompok-kelompok tertentu. Saat ini sudah cukup banyak website yang terbentuk seperti yang saat ini marak melalui facebook, email, friendster, dll.

        5. Kelompok pegiat konsumen (consumer action groups)
          Kelompok ini merupakan kelompok yang terbentuk sebagai akibat adanya kurang puas atau perasaan kecewa terhadap pembelian produk ataupun jasa. Dimana konsumen memeilki kecenderungan untuk diam, mengirim surat ke pemasar, atau mengeluh melalui media lain untuk mempublikasikan kekecewaannya. Oleh karena itu, maka muncul kelompok yang berusaha untuk melindungi atau membantu mengatasi kekecewaan dalam pembelian, misalnya Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia.

        Kelompok acuan yang digunakan dalam komunikasi pemasaran serta peranannya

        • Selebriti
          Selebritis merupakan seseorang yang cukup dikenal oleh masyarakat dan biasanya mempengaruhi pembelian suatu produk atau jasa. Selebriti ini bisa berasal dari kalangan artis, politikus, atau ahli dalam bidangnya. Selebriti ini berfungsi sebagai memberikan kesaksian, memberikan dorongan dan penguatan, bertindak sebagai aktore dalam iklan dan betindak sebagai juru bicara perusahaan. Sebagai contohnya, promag yang di iklankn oleh Dedi mizwar.

        • Ahli atau pakar
          Pemasar menggunakan para pakar atau ahli untuk mengiklankan produknya sehingga relevan. Misalnya produk pasta gigi sensodent dimana seorang dokter gigi memberikan informasi kepada konsumen akan produk pasta gigi tersebut.

        • Orang biasa
          Perusahaan menampilkan atau menggunakan konsumen yang puas terhadap produknya dalam iklan disebut sebagai penggunaan orang biasa. Misalnya, sabun sunlight menggunakan para penggunanya untuk memberikan keterangan bahwa produk yang ditawarkan memuaskan.

        • Para eksekutif dan karyawan
          Para eksekutif perusahaan adalah orang-orang yang dianggap sukses dalam bidangnya sehingga pemasar berusaha untuk memberikan kesan kepada konsumen bahwa para eksekutif figur sukses dan menarik mniat konsumen dalam melakukan pembelian. Misalnya produk ΓÇ¥Tolak AnginΓÇ¥ menampilkan eksekutif dari perusahaannya untuk menunjukkan bahwa produknya berkualitas dan terjamin bagi konsumen.

        • Karakter dagang atau juru bicara
          Merupakan simbol dari perusahaan yang digunakan dalam komunikasi pemasaran. Misalnya : Unilever yang selalu menggunakan simbol U dalam setiap iklan produknya.

        • Penguatan lainnya sebagai kelompok acuan
          Ini merupakan upaya perusahaan untuk memberikan penguatan pada produknya mengenai standar dan kualitas produk, baik berupa simbol ataupun tanda pada produk yang dijual. Misalnya, pada setiap produk makanan atau minuman tertera tulisan halal sehingga bagi sebagian masyarakat yang beragama Islam dapat mengkonsumsi produk tanpa merasa kawatir akan kehalalannya.


      • Media sosial atau sering juga disebut sebagai sosial media adalah platform digital yang memfasilitasi penggunanya untuk saling berinteraksi atau membagikan konten berupa tulisan, foto, video, dan merupakan platform digital yang menyediakan fasilitas untuk melakukan aktivitas sosial bagi setiap penggunanya.

        Penggunaan media sosial memberikan kemudahan dalam berkomunikasi, baik teman, keluarga yang tidak memungkinkan dilakukan melalui face to face karena faktor jarak. Kita dapat mengirimkan informasi-informasi yang dibutuhkan dengan mudah dan cepat, begitu pula dalam mengakses informasi yang kita butuhkan.

        Penelitian yang dilakukan oleh Gul et al (2014) memaparkan bahwa media sosial memiliki pengaruh terhadap perilaku pembelian konsumen. Lebih lajut Khatib (2016) mempaparkan pengaruh yang terbesar dari media sosial terjadi pada tahap pencarian informasi dan tahap keputusan pembelian.

      • Influencer adalah sebutan bagi mereka dengan jumlah followers ribuan, ratusan ribu hingga jutaan di sosial media. Para influencer ini biasanya memiliki pengaruh besar terhadap pengikutnya.

        Oleh karena itu, tak jarang business owner menggandeng influencer untuk mempromosikan produk-produknya, dengan harapan followers dari influencer tersebut akan ikut membeli barang yang dipasarkan, sehingga penjualan pun meningkat.


      • Silahkan diunduh materi sbb:

    • Pengambilan keputusan konsumen merupakan prosedur yang kompleks dan melibatkan beragam hal mulai dari pengenalan masalah hingga aktivitas setelah pembelian. Setiap konsumen memiliki kebutuhan berbeda dalam kehidupan sehari-harinya dan kebutuhan tersebut membuat keputusan berbeda. Keputusan konsumen bisa rumit seperti mengevaluasi, membandingkan, memilih dan membeli produk bergantung pada pendapat konsumen lain terhadap produk tersebut. Hal ini memberikan pemahaman dasar tentang masalah dasar dari proses pengambilan keputusan konsumen untuk membuat produk pemasar berbeda dari yang lain.


      • Ada lima tahap dalam proses pengambilan keputusan konsumen. Anda dapat mengetahui beberapa tahapan ini untuk mempelajari lebih lanjut tentang apa yang menjadi dasar keputusan pembelian konsumen:

        1. Mengetahui Masalah

        Pada tahap pertama, konsumen mengakui bahwa mereka memiliki masalah dan perlu membeli produk atau jasa.

        Mereka mungkin memutuskan bahwa mereka perlu membeli suatu produk sehingga mereka dapat menyelesaikan suatu aktivitas, memuaskan hasrat mereka, menyelesaikan sebuah masalah, membuat seseorang bahagia, atau meningkatkan pengetahuan mereka.

        Sebagai pemilik bisnis, Anda perlu mengidentifikasi keadaan yang memicu kebutuhan tertentu atas masalah ini. Dengan mengumpulkan informasi dari sejumlah konsumen, Anda dapat mengidentifikasi rangsangan yang paling sering membangkitkan minat akan kategori produk tertentu.

        2. Memilih Produk

        Pada tahap kedua dari proses pengambilan keputusan konsumen, konsumen telah mengakui masalah mereka dan mulai mencari solusi akan suatu produk atau layanan, dan kemudian meneliti jenis produk yang tersedia di pasar.

        Mereka mungkin melakukan pencarian di internet, menonton iklan, memeriksa produk di toko dan/atau meminta saran dari keluarga dan teman untuk membantu mereka membuat keputusan pembelian.

        3. Membandingkan Produk dan Layanan Dari Penjual Yang Berbeda

        Setelah konsumen menemukan produk atau layanan yang memenuhi kebutuhan mereka, mereka sering membandingkan penawaran serupa dari penjual yang berbeda berdasarkan harga dan kualitas, proses ini disebut dengan evaluasi pilihan.

        Beberapa konsep dapat membantu memahami proses evaluasi pilihan konsumen. Pertama, konsumen berusaha memenuhi kebutuhan. Kedua, konsumen mencari manfaat tertentu dari solusi produk.

        Ketiga, konsumen memandang masing-masing produk sebagai sekumpulan atribut dengan kemampuan yang berbeda-beda dalam memberikan manfaat yang digunakan untuk memuaskan kebutuhan tersebut. Atribut yang diminati oleh pembeli berbeda beda tergantung jenis produknya.

        4. Memilih Produk dan Melakukan Pembelian

        Pada tahap keempat dari proses pengambilan keputusan konsumen, konsumen menentukan produk mana yang harus mereka beli dan selanjutnya membeli barang tersebut.

        Pastikan Anda mengetahui faktor yang berada diluar kendali Anda. Faktor ini dapat muncul dan mengubah niat pembelian. Hal ini terjadi mungkin karena konsumen kehilangan pekerjaan, beberapa pembelian lain yang lebih mendesak, atau pelayanan toko yang dapat mengurungkan niat pembelian.

        5. Merefleksikan Pembelian Mereka dan Apakah Akan Membeli Kembali

        Setelah konsumen membeli produk dan menggunakannya, mereka akan mengalami level kepuasan atau ketidakpuasan tertentu.

        Konsumen dapat secara akurat menentukan apakah produk tersebut sepadan dengan harganya dan apakah mereka ingin melakukan pembelian berulang dari bisnis yang sama.

        Pada proses pembelian secara online, mereka mungkin memutuskan untuk meninggalkan ulasan di halaman produk atau memesan lebih banyak produk yang sama sebelum terjual habis.


      • Berikut adalah beberapa contoh spesifik tentang bagaimana konsumen mengidentifikasi kebutuhan mereka dan membuat keputusan pembelian:

        Contoh 1

        Berikut adalah contoh proses pengambilan keputusan konsumen:

        • Tahap satu: Kulkas Laura mati secara tiba-tiba. Karena itu, dia akhirnya memutuskan sudah waktunya untuk membeli kulkas baru.
        • Tahap dua: Dia mencari secara online dan melihat model lemari es dari beberapa toko elektronik dan toko online berbeda, termasuk toko tempat dia membeli lemari esnya dahulu. Laura juga bertanya kepada teman-teman dan saudara perempuannya tentang lemari es mereka dan dia juga memperhatikan setiap kali iklan peralatan dapur muncul di TV juga iklan Youtube.
        • Tahap tiga: Dengan pemahaman yang lebih baik tentang jenis model di pasar, Laura mempersempit pilihannya ke dua pengecer yang memiliki model serupa. Pengecer pertama menawarkan kulkas dalam jangkauan harga Laura, dan dengan sebagian besar fitur yang diinginkannya. Namun, ulasan menunjukkan bahwa lemari es mudah rusak dan tidak akan bertahan lama. Harga kulkas dengan merek kedua sedikit lebih tinggi dari yang ingin dia belanjakan. Tetapi ulasannya bagus, dan lemari es memiliki lebih banyak fitur dari yang diharapkan.
        • Tahap empat: Karena Laura menginginkan lemari es dengan kualitas yang sangat baik, dia memutuskan untuk mengeluarkan uang ekstra dan membeli dari kulkas merek kedua.
        • Tahap lima: Setelah memiliki lemari es barunya selama enam bulan, Laura menyimpulkan bahwa lemari es itu memiliki semua yang dia butuhkan dan berfungsi dengan baik. Dia menulis ulasan positif secara online dan memutuskan untuk kembali ke toko online tersebut untuk pembelian di masa mendatang.

        Contoh 2

        Berikut adalah contoh lain tentang bagaimana konsumen dapat memutuskan untuk melakukan pembelian baru:

        • Tahap satu: Jordan menggunakan ransel hiking yang sama selama hampir enam tahun sampai dia menyadari ada kerusakan biasa pada jahitannya. Karena dia sering mendaki dan tahu ranselnya tidak akan bertahan lebih lama, dia memutuskan untuk membeli tas punggung baru untuk membawa perlengkapannya.
        • Tahap dua: Dia pergi ke situs web produk outdoor untuk mencari model serupa, tetapi dia juga memeriksa beberapa situs web lain berdasarkan rekomendasi dari teman-teman hikingnya. Jordan juga mengunjungi toko outdoor lokal untuk melihat pilihan ransel mereka.
        • Tahap tiga: Menggunakan informasi yang dia temukan secara online dan di toko ritel, Jordan memutuskan dia menginginkan paket tas hiking berwarna cerah dengan perlengkapan reflektor dan setidaknya memiliki lima kompartemen. Dia memiliki anggaran untuk membeli ransel sebesar 1,5 juta. Karena itu, Jordan memutuskan untuk tidak membeli tas ransel yang terlalu mahal dari satu toko.
        • Tahap empat: Jordan juga tidak memilih membeli ransel di toko online, dan menjatuhkan pilihan pada satu toko yang menawarkan jenis ransel hiking yang dia butuhkan sesuai dengan anggaran yang dia punya. Dia membeli ransel di toko peralatan hiking dekat rumahnya.
        • Tahap lima: Setelah menggunakan ransel pada empat pendakian, Jordan menyatakan puas akan durabilitas ransel miliknya kepada teman-temannya dan dia mulai menjadi followers Instagram toko tersebut untuk mendapatkan pemberitahuan tentang perlengkapan hiking baru dan tren saat ini.

        Contoh 3

        Contoh proses pengambilan keputusan konsumen berdasarkan banyak pilihan produk:

        • Tahap satu: Rudi ingin berolahraga dengan teman-temannya dan mencapai gaya hidup yang lebih sehat. Teman-temannya memiliki smartwatch yang serupa, sehingga memungkinkan mereka mengetahui jumlah kalori yang dibutuhkan setiap hari. Rudi memutuskan untuk membeli smartwatch dari toko online yang sama.
        • Tahap dua: Dia membuka situs web yang menjual gelang tersebut dan melihat berbagai opsi yang tersedia untuknya. Dia juga berkonsultasi dengan teman-temannya untuk melihat apa yang mereka suka dan tidak suka tentang gelang mereka.
        • Tahap tiga: Setelah melakukan riset yang mendalam ke berbagai merek, dia menentukan bahwa dia harus memilih smartwatch dengan harga di bawah satu juta. Dia juga menginginkan smartwatch dengan warna yang menarik dan memiliki bobot yang ringan.
        • Tahap empat: Berdasarkan kriterianya, dia mempersempit pencariannya di situs web merek tertentu. Dia membaca ulasan dan pilihan warna untuk membantu keputusannya. Dia kemudian membeli model dari situs web merek ternama.
        • Tahap lima: Tiga bulan kemudian, Rudi masih menggunakan smartwatch-nya, dan dia menyukai smartwatch tersebut karena membuatnya bertanggung jawab atas kesehatannya dan memotivasinya untuk melakukan aktivitas yang sehat bersama teman-temannya. Dia memutuskan bahwa dia ingin membeli alat kesehatan lainya dari merek yang sama di masa mendatang.

      • Silahkan anda download materi sbb:

      • Macam-Macam Teori Perilaku Konsumen

        a.      Teori Ekonomi Mikro. Teori ini beranggapan bahwa setiap konsumen akan berusaha memperoleh kepuasan maksimal. Mereka akan berupaya meneruskan pembeliannya terhadap suatu produk apabila memperoleh kepuasan dari produk yang telah dikonsumsinya, di mana kepuasan ini sebanding atau lebih besar dengan marginal utility yang diturunkan dari pengeluaran yang sama untuk beberapa produk yang lain;

        b.         Teori Psikologis. Teori ini mendasarkan diri pada faktor-faktor psikologis individu yang dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan lingkungan. Bidang psikologis ini sangat kompleks dalam menganalisa perilaku konsumen, karena proses mental tidak dapat diamati secara langsung;

        c.         Teori Antropologis. Teori ini juga menekankan perilaku pembelian dari suatu kelompok masyarakat yang ruang lingkupnya sangat luas, seperti kebudayaan, kelas-kelas sosial dan sebagainya.


      • Silahkan anda download 

      • 1. Theory of Planned Behaviour

        Theory of Reasoned Action (TRA) dikembangkan  oleh Ajzen dan diberi nama Theory of Planned Behaviour (TPB) (Lee & Kotler, 2011, hal. 199). Theory of Planned Behavior dijelaskan sebagai konstruk yang melengkapi TRA.  Menurut (Lee & Kotler, 2011, hal. 199), target individu memiliki kemungkinan yang besar untuk mengadopsi suatu perilaku apabila individu tersebut memiliki sikap yang positif terhadap perilaku tersebut, mendapatkan persetujuan dari individu lain yang dekat dan terkait dengan perilaku tersebut dan percaya bahwa perilaku tersebut dapat dilakukan dengan baik. Dengan menambahkan sebuah variabel pada  konstruk ini, yaitu kontrol perilaku persepsian (Perceived behavioral control), maka bentuk dari model teori perilaku rencanaan (Theory of planned behaviour atau TPB) tampak di gambar berikut ini.

        Gambar Theory of Planned Behavioral

        Sumber: (Asadifard, Rahman, Aziz, & Hashim, 2015)

                    Dari gambar di atas, teori perilaku rencanaan (theory of planned behavioral) dapat memiliki 2 fitur yaitu :

        1.      Teori ini mengansumsi bahwa kontrol persepsi perilaku (perceived behavioral control) mempunyai implikasi motivasional terhadap minat. Orang ΓÇô orang yang percaya bahwa mereka tidak mempunyai sumber- sumber daya yang ada atau tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan perilaku tertentu mungkin tidak akan membentuk minat berperilaku yang kuat untuk melakukannya walaupun mereka mempunyai sikap yang positif terhadap perilakunya dan percaya bahwa orang lain akan menyetujui seandainya mereka melakukan perilaku tersebut. Dengan demikian diharapkan terjadi hubungan antara kontrol persepsi perilaku (perceived behavioral control) dengan minat yang tidak dimediasi oleh sikap dan norma subyektif. Di model ini ditunjukkan dengan panah yang mennghubungkan kontrol perilaku persepsian ( perceived behavioral control) ke minat.

        2.      Fitur kedua adalah kemungkinan hubungan langsung antara kontrol persepsi perilaku (perceived behavioral control) dengan perilaku. Di banyak contoh, kinerja dari suatu perilaku tergantung tidak hanya pada motivasi untuk melakukannya tetapi juga kontrol yang cukup terhadap perilaku yang dilakukan. Dengan demikian. Kontrol perilaku persepsian (perceived behavioral control) dapat mempengaruhi perilaku secara tidak langsung lewat minat, dan juga dapat memprediksi perilaku secara langsung. Di model hubungan langsung ini ditunjukan dengan panah yang menghubungkan kontrol persepsi perilaku (perceived behavioral control) langsung ke perilaku (behavior).

        Teori perilaku rencanaan mengganggap bahwa teori sebelumnya mengenai perilaku yang tidak dapat dikendalikan sebelumnya oleh individu melainkan, juga dipengaruhi oleh faktor mengenai faktor non motivasional yang dianggap sebagai kesempatan atau sumber daya yang dibutuhkan agar perilaku dapat dilakukan. Sehingga dalam teorinya, Ajzen menambahkan satu dertiminan lagi, yaitu kontrol persepsi perilaku mengenai mudah atau sulitnya perilaku yang dilakukan. Oleh karena itu menurut TPB, intensi dipengaruhi oleh tiga hal yaitu: sikap, norma subjektif, kontrol perilaku (Asadifard, Rahman, Aziz, & Hashim, 2015).

         

         

        2. Theory of Reasoned Action

        Theory of Reasoned Action (TRA) menjelaskan tentang perilaku yang berubah berdasarkan hasil dari niat perilaku, dan niat perilaku dipengaruhi oleh norma sosial dan sikap individu terhadap perilaku (Eagle, Dahl, Hill, Bird, Spotswood, & Tapp, 2013, hal. 123). Norma subjektif mendeskripsikan kepercayaan individu mengenai perilaku yang normal dan dapat diterima dalam masyarakat, sedangkan untuk sikap individu terhadap perilaku berdasarkan kepercayaan individu atas perilaku tersebut.

        Menurut (Lee & Kotler, 2011, hal. 198), theory of reason action yang dikembangkan oleh Ajzen dan Fishbein, menyatakan bahwa prediksi terbaik mengenai perilaku seseorang adalah berdasarkan minat orang tersebut. Minat perilaku didasari oleh 2 faktor utama, yaitu : kepercayaan individu atas hasil dari perilaku yang dilakukan dan persepsi individu atas pandangan orang-orang terdekat individu terhadap perilaku yang dilakukan.

                    Dapat dikatakan bahwa sikap akan mempengaruhi perilaku melalui suatu proses pengambilan keputusan yang cermat dan memiliki alasan dan akan berdampak terbatas pada tiga hal, yaitu :

        1.      Sikap yang dijalankan terhadap perilaku, didasari oleh perhatian atas hasil yang terjadi pada saat perilaku tersebut dilakukan.

        2.      Perilaku yang dilakukan oleh seorang individu, tidak saja didasari oleh pandangan atau persepsi yang dianggap benar oleh individu, melainkan juga memperhatikan pandangan atau persepsi orang lain yang dekat atau terkait dengan individu.

        3.      Sikap yang muncul didasari oleh pandangan dan persepsi individu, dan memperhatikan pandangan atau persepsi orang lain atas perilaku tersebut, akan menimbulkan niat perilaku yang dapat menjadi perilaku.

        Pada tahun 1988, Ajzen mengembangkan theory of reasoned action dengan menambahkan kepercayaan individu dan persepsi individu mengenai kontrol perilaku, yaitu kepercayaan bahwa individu dapat melakukan suatu perilaku didasari oleh kemampuan untuk melakukannya(Lee & Kotler, 2011, hal. 198).   Teori ini dinamai dengan Teori Perilaku Terencana (theory of planned behaviour). Inti dari teori perilaku terencana mencakup 3 hal yaitu, keyakinan akan kemungkinan hasil serta evaluasi dari perilaku tersebut (behavioral beliefs), keyakinan akan norma yang diharapkan serta motivasi untuk memenuhi harapan yang diinginkan (normative beliefs), dan keyakinan tentang suatu faktor yang dapat mendukung atau menghalangi perilaku dan kesadaran akan kekuatan faktor tersebut (control beliefs).

        Dari pengertian diatas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa praktik atau perilaku menurut Theory of Reasoned Action akan dipengaruhi oleh niat individu, dan niat individu tersebut terbentuk dari sikap dan norma subyektif. Salah satu variabel yang mempengaruhi, yaitu sikap, dipengaruhi oleh hasil tindakan yang sudah dilakukan pada masa yang lalu. Sedangkan Norma subyektif, akan dipengaruhi oleh keyakinan akan pendapat orang lain serta motivasi untuk menaati keyakinan atau pendapat orang lain tersebut. Sederhananya, orang akan melakukan suatu tindakan, apabila memiliki nilai positif dari pengalaman yang sudah ada dan tindakan tersbut didukung oleh lingkungan individu tersebut.

         

        3. Engel Kollat Blackwell Model

        Model Engel Kollat Blackwell (EKB) adalah perkembangan alami dari ide-ide yang ditemukan dalam teori tindakan yang rasional. Teori perilaku pembeli ini beroperasi dalam empat fase yang mempengaruhi bagaimana konsumen membuat keputusan pembelian: input, pengolahan informasi, tahap keputusan, dan variabel dalam proses pengambilan keputusan.

        Input merupakan fase pertama, di mana konsumen mengambil informasi pemasaran melalui billboard, iklan online, atau tampilan langsung. Melalui data yang dikumpulkan dari materi-materi ini, mereka melanjutkan ke tahap pengolahan informasi, di mana mereka menggabungkan input tersebut dengan pengalaman dan harapan untuk membuat keputusan terbaik sesuai dengan keadaan mereka saat ini. Dengan pertimbangan rasional, mereka kemudian melangkah ke tahap berikutnya, yaitu membuat keputusan pembelian berdasarkan informasi yang mereka kumpulkan.

        Proses pengambilan keputusan juga memiliki lima fase: pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, pembelian (atau pemilihan), dan hasil pascapembelian.

        Selama tahap informasi awal dalam model EKB tentang teori perilaku konsumen, input adalah yang paling berharga. Konsumen menerima informasi yang cukup tentang produk atau layanan untuk dengan mudah mengingat atau menghubungi produk perusahaan untuk kebutuhan di masa depan, dan kembali selama fase pengaruh eksternal. Salah satu industri yang memahami urutan ini dengan baik adalah industri gaya hidup, di mana merek-merek tahu persis bagaimana memasarkan produk mereka untuk memicu keinginan pada konsumen, biasanya agar mereka terlihat, tercium, atau merasa lebih baik daripada jika mereka menggunakan merek-merek pesaing.

        Model Perilaku Konsumen Industri dari Engel, Kollat dan Blackwell menerangkan komponen dasar model ini adalah stimulus, proses informasi, proses pengambilan keputusan, variabel proses pengambilan keputusan dan pengaruh lingkungan eksternal.

        image
        Gambar Model Perilaku Konsumen Industri dari Engel, Kollat dan Blackwell

        Keterangan :

        Komponen proses pengambilan keputusan ada lima tahap yaitu: pengenalan masalah, penelusuran informasi, evaluasi alternative, pilihan dan hasil

        • Pengenalan masalah terjadi bilamana konsumen menyadari perbedaan diantara situasi yang ada dengan situasi yang diharapkan

        • Tahap penelusuran informasi meliputi kecepatan dan keluasan dalam menimbulkan kembali informasi yang ada pada memori dan pengalaman- pengalaman mengenai masalah

        • Tahap evaluasi alternative meliputi membandingkan informasi tentang merk melalui proses penelusuran criteria evaluasi

        • Pada bagan ditunjukkan pula kebiasaan memilih dari kekuatan niat membeli. Pilihan konsumen akan menentukan outcome, apakah konsumen menjadi puas atau tidak puas sebagai pengalaman langsung dalam menggunakan suatu merk. Hasilnya juga dapat dissonance, tidak cocok apabila merk tidak sesuai dengan pilihannya

        • Beberapa pengaruh eksternal lainnya adalah norma dan nilai budaya yang berlaku.

        4. Teori Motivasi-Kebutuhan
        Pada tahun 1943, komunitas psikologi secara luas merasakan dampak hierarki kebutuhan Abraham Maslow: sebuah teori yang menyatakan bahwa individu bertindak untuk memenuhi dan memenuhi kebutuhan mereka berdasarkan sistem lima prioritas yang semakin penting ΓÇö kelangsungan hidup fisiologis, keamanan, cinta, harga diri, dan aktualisasi diri.

        Teori Maslow digunakan dalam kelas-kelas bisnis dan pemasaran untuk menjelaskan mengapa pesan pemasaran yang disesuaikan dengan konsumen sangat penting bagi kesuksesan penjualan. Dengan menarik konsumen dengan cara yang terkait dengan tingkat kebutuhan mereka, kampanye pemasaran dapat memprioritaskan pembelian yang memberikan makna dan urgensi.

        Pemasar yang memahami dengan baik teori perilaku konsumen motivasi-kebutuhan dapat dengan efektif merancang kampanye dan iklan berdasarkan kebutuhan buatan yang mereka kendalikan dalam konsumen. Contoh modern yang umum adalah produsen mobil mewah yang menekankan fitur-fitur keamanan dan perlindungan dalam kendaraan mereka lebih dari aspek estetika, meyakinkan konsumen bahwa menghabiskan uang untuk mobil mewah yang mahal adalah wajar karena memenuhi kebutuhan memberikan keamanan fisiologis bagi diri sendiri dan keluarga.
        5. Pembelian Impuls Hawkins Stern

        6. Teori Perilaku Pembeli

        Konsep inti yang ada dalam teori perilaku pembeli adalah bahwa perilaku pembelian, secara umum, cenderung berulang dengan dapat diandalkan dan cenderung membentuk rutinitas pembelian yang akrab untuk menghemat waktu dan menyederhanakan proses pengambilan keputusan. Sebagai tanggapan terhadap hal ini, teori ini berusaha mengidentifikasi elemen-elemen dari proses pengambilan keputusan tersebut dan mencatat perubahan apa pun yang terjadi, serta apakah hal-hal tersebut tumbuh dari lingkungan komersial dan sosial yang dapat memengaruhi merek tertentu.

        Menurut teori perilaku konsumen ini, pilihan merek yang disukai oleh pembeli didasarkan pada motif; pilihan alternatif, atau langkah-langkah tindakan; dan mediator keputusan apa pun yang sesuai dengan motif tersebut, seperti apakah pembeli menganggap kopi lebih baik diminum di pagi hari atau malam hari. Dengan memahami mediator-mediator ini, merek-merek alternatif yang ada di pasar, dan merek-merek yang diketahui oleh konsumen, ada ruang untuk menemukan kesenjangan dan membuat sesuatu yang dapat mengisi kesenjangan tersebut.

        Selain itu, ada peluang ketika seorang pembeli baru berada di pasar untuk membeli jenis produk baru (kelas produk), tetapi kurang memiliki pengalaman atau pengetahuan tentang produk yang dibutuhkan. Informasi yang dicari pembeli atau yang diterima secara tidak sengaja dari pihak ketiga diproses melalui sudut pandang apa yang dibutuhkan dan sejauh mana produk tersebut dapat memenuhi kebutuhan tersebut.

        Hal tersebut juga dapat dibandingkan dengan jenis produk sebelumnya dan menggunakan proses yang serupa dalam membuat keputusan baru. Misalnya, menurut teori perilaku pembeli, seorang pembeli dapat menggeneralisasi pengalaman membeli lemari es dan menggunakan pengalaman tersebut untuk membantu keputusan membeli mesin pencuci piring baru.

        Terlepas dari sumbernya, pembeli mengembangkan mediator keputusan yang diperlukan untuk secara dapat diandalkan memilih merek tersebut di masa depan berdasarkan apa yang tampak memiliki potensi terbaik untuk memenuhi motif pembeli.

      • Tingkat paparan konsumen terhadap barang atau gaya hidup asing dapat mempengaruhi keputusan dan preferensi pembelian mereka. Konsumen cenderung memiliki sikap terhadap produk tertentu yang dibuat di negara tertentu. Sikap ini dapat bersifat positif, negatif, atau netral.


        Analisis konsumen lintas budaya didefinisikan sebagai upaya untuk menentukan sejauh mana konsumen dari dua atau lebih negara serupa atau berbeda.


        Tujuan utama dari analisis konsumen lintas budaya adalah untuk menentukan sejauh mana konsumen dalam dua atau lebih masyarakat serupa dan berbeda. Pemahaman tentang kesamaan dan perbedaan yang ada antara negara-negara tersebut sangat penting bagi pemasar multinasional, yang harus merancang strategi yang tepat untuk mencapai konsumen di pasar asing tertentu.


        Semakin mirip antara negara-negara, semakin layak digunakan strategi yang relatif serupa di setiap negara. Jika mereka berbeda dalam banyak aspek, maka strategi pemasaran yang sangat terindividualisasi diperlukan.


        Keberhasilan pemasaran dan pelayanan di negara-negara asing kemungkinan akan dipengaruhi oleh kepercayaan, nilai, dan adat istiadat.


        Berikut ini kami telah mencantumkan beberapa perusahaan terbaik yang dianggap berharga, karena mereka telah memahami keinginan dan selera konsumen.