Garis besar topik

    • Jenis-jenis Diksi dan Contohnya

      Berdasarkan leksikal, diksi dibedakan berdasarkan makna leksikalnya atau makna kamus karena berasal dari kamus bahasa Indonesia.

      Makna leksikal merupakan makna jenis-jenis kata yang bersifat konkret dan denotatif serta belum mengalami perubahan bentuk.

      Diksi berdasarkan leksikalnya dibedakan menjadi beberapa jenis lagi, di antaranya adalah sebagai berikut:

      1. Sinonim

      Sinonim disebut juga padanan kata atau persamaan kata karena memiliki makna yang sama. Contoh kata sinonim, di antaranya:

      Pandai: pintar

      Baju: pakaian

      Matahari: mentari

      Buruk: jelek

      Rajin: giat

      Contoh kalimat yang menggunakan sinonim:

      Dini menjadi anak yang paling pandai di kelas karena rajin belajar

      Dini menjadi anak yang paling pintar di kelas karena giat belajar

      Kedua kalimat tersebut menggunakan kata atau diksi yang berbeda pada pilihan kata ΓÇ£pandaiΓÇ¥ dan ΓÇ£rajinΓÇ¥. Namun, keduanya tetap memiliki makna dan pemahaman yang sama meskipun diganti dengan kata ΓÇ£pintarΓÇ¥ dan ΓÇ£giatΓÇ¥.

      2. Antonim

      Antonim disebut juga sebagai lawan kata atau perbedaan kata karena memiliki makna yang berlawanan. Contoh kata antonim, di antaranya:

      Rajin >< Malas

      Pintar >< Bodoh

      Besar >< Kecil

      Panjang >< Pendek

      Tua >< Muda

      Contoh kalimat yang menggunakan antonim:

      Dini malas belajar sehingga dia menjadi anak yang bodoh.

      Dini rajin belajar sehingga dia menjadi anak yang pintar.

      Ketika dua kalimat tersebut menggunakan kata yang berlawanan, maka makna yang disampaikan pun menjadi berbeda dan berlawanan.

      3. Homonim

      Homonim merupakan jenis kata yang memiliki makna yang berbeda namun lafal atau pengucapan dan ejaannya sama. Contoh kalimat penerapannya adalah sebagai berikut:

      Kalimat 1: Genting rumah bocor sehingga air masuk ke dalam rumah ketika hujan turun.

      Kalimat 2: Keadaan di sekolah sedang sangat genting karena murid sekolah lain tawuran menyerbu sekolah.

      Kata ΓÇ£gentingΓÇ¥ pada kalimat pertama mengandung makna yang menunjukkan kata benda berupa atap atau genting. Sedangkan kata ΓÇ£gentingΓÇ¥ pada kalimat kedua mengandung makna gawat atau mendesak.

      4. Homofon

      Berbeda dengan homonim, homofon memiliki lafal yang sama, namun makna dan ejaannya berbeda. Contoh kalimat penerapannya adalah sebagai berikut:

      Kalimat 1: Aku rindu masa remaja saat masih sekolah dulu.Kalimat 2: Massa demo yang merapat ke gedung DPR semakin banyak.

      Kedua kalimat tersebut menggunakan kata ΓÇ£massa dan masaΓÇ¥ yang memiliki pelafalan yang sama namun ejaan dan artinya berbeda.

      Kata ΓÇ£masaΓÇ¥ pada kalimat pertama memiliki makna saat atau waktu. Sedangkan, kata ΓÇ£massaΓÇ¥ pada kalimat yang kedua memiliki makna kumpulan orang dalam jumlah yang banyak.

      5. Homograf

      Homograf merupakan jenis kata atau diksi yang memiliki ejaan yang sama namun makna dan lafalnya berbeda. Contoh kalimat penerapannya adalah sebagai berikut:

      Kalimat 1: Pagi hari tadi aku sarapan buah apel.

      Kalimat 2: Setiap pagi sebelum masuk kelas anak-anak harus apel terlebih dahulu.

      Kata ΓÇ£apelΓÇ¥ pada kalimat pertama diucapkan dengan lafal yang sama seperti kata me pada kata memukul dan memiliki arti nama buah apel.

      Sedangkan, kata ΓÇ£apelΓÇ¥ pada kalimat kedua dilafalkan seperti melafalkan ejaan huruf L (el) dan memiliki arti kumpul.

      6. Polisemi

      Polisemi merupakan jenis kata yang ejaan dan lafalnya yang sama namun memiliki banyak arti dan pengertian jika digunakan dalam konteks kalimat yang berbeda. Contoh kalimat penerapannya adalah sebagai berikut:

      Kalimat 1: Risna menanam bunga melati yang sangat harum baunya.

      Kalimat 2: Risna memiliki paras yang sangat cantik sehingga menjadi bunga desa di kampungnya.

      Kalimat 3: Bank konvensional memberikan bunga sebesar 10% setiap bulannya.

      Kata ΓÇ£bungaΓÇ¥ tersebut memiliki ejaan dan lafal yang sama namun memiliki arti yang banyak dan berbeda-beda. Kalimat pertama mengandung arti nama bunga atau tanaman.

      Kalimat kedua mengandung makna kiasan sebagai gadis yang paling cantik. Kaimat ketiga mengandung makna keuntungan.

      7. Hipernim dan Hiponim

      Hipernim merupakan kata umum yang menjadi penyebutan kata lainnya karena dapat mewakili kata lainnya.

      Sedangkan, hiponim adalah kata yang terwakili maknanya oleh kata hipernim. Contoh penerapan kalimatnya adalah sebagai berikut:

      Pak Tono memelihara banyak sekali burung di rumahnya seperti merpati, beo, perkutut, dan lain sebagainya.

      Hipernim dalam kalimat tersebut adalah ΓÇ£burungΓÇ¥ yang mewakili hiponimnya yaitu ΓÇ£merpati, beo, dan perkututΓÇ¥.

      Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pemilihan Diksi

      Diksi menjadi salah satu faktor penentu apakah gagasan atau pesan yang ingin disampaikan bisa sampai dan sesuai dengan yang diharapkan atau tidak.

      Seringkali karena memiliki keterbatasan kosakata seorang penulis dan pembicara kesulitan untuk menyampaikan maksudnya.

      Tidak hanya memilih diksi yang tepat, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penulisan sebuah kalimat dan paragraf.

      Unsur-unsur diksi yang terdiri dari 8 elemen tersebut harus disusun sedemikian rupa agar mudah dipahami oleh pembaca atau pendengar.

      Berikut ini hal-hal yang harus diperhatikan dalam menentukan diksi, di antaranya:

      1. Tidak menggunakan pengulangan kata

      Pengulangan kata akan membuat kalimat yang dibuat menjadi boros, tidak efektif, dan terkesan berbelit-belit. Hindari penggunaan kata yang diulang seperti berikut ini:

      Rina diminta untuk maju ke depan. (kata maju otomatis digunakan untuk menuju ke arah depan, sehingga tidak perlu diulang dengan menambahkan kata ke depan)

      Jangan mundur ke belakang karena ada parit, nanti kamu jatuh! (kata mundur otomatis digunakan untuk menunjuk arah ke belakang)

      Dea sudah membuat rencana yang akan datang untuk liburan selanjutnya. (kata rencana mengandung arti segala sesuatu yang belum terjadi dan yang akan terjadi di masa mendatang sehingga tidak perlu ditambahkan akan datang)

      2. Kalimat yang disampaikan harus menggunakan diksi yang ringkas agar tidak boros kata

      Tidak perlu menggunakan kata-kata yang diulang-ulang dan mengandung arti yang sama dalam sebuah kalimat agar tidak boros kata. Usahakan kalimat yang dibuat ringkas dan jelas agar lebih mudah dipahami.

      Berikut ini contoh kalimat yang kurang tepat dan contoh pembetulannya:

      Direktur keuangan menyatakan bahwa akibat dari langkah yang diambil pada bulan lalu mengakibatkan budget keuangan untuk produksi dan operasional menjadi membengkak. (diksi yang kurang tepat)

      Direktur keuangan mengatakan, budget keuangan untuk produksi dan operasional membengkak. (diksi yang tepat)

      3. Sederhanakan struktur kalimat

      Semakin sederhana kalimat yang dibuat, maka kalimat tersebut akan lebih mudah dipahami. Sebisa mungkin tidak perlu menggunakan anak kalimat dan gunakan bahasa radio atau bahasa tutur sehari-hari.

      Berikut ini contoh penerapannya:

      Tugas mendidik haruslah menjadi tugas bersama antara guru dan orang tua di rumah sehingga anak-anak mendapatkan panutan yang sesuai baik di sekolah maupun di rumah. (diksi yang kurang tepat)

      Guru dan orang tua harus bersama-sama dalam mendidik anak-anak. Sehingga anak-anak akan mendapatkan panutan yang baik ketika di sekolah dan di rumah. (diksi yang tepat)

      4. Hindari pemborosan kata

      Seringkali dalam sebuah kalimat terdapat kata-kata yang sebenarnya tidak perlu ditulis karena tidak memiliki fungsi sebagai pelengkap maupun pendukung kata lainnya. Berikut ini contohnya

    • Setelah mempelajari video diatas, silahkan Anda buat masing - masing contohnya, minimal 5 ( Lima) kata ). Tugas dikumpulkan pada pertemuan berikutnya.  Jum'at tanggal 3 November 2023.