Garis besar topik

  • Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian dan contoh pariwisata berbasis masyarakat

    • Pengertian Community Based Tourism

      ASEAN (2015) mendefinisikan pariwisata berbasis masyarakat atau dikenal dengan istilah Community Based Tourism (CBT) sebagai kegiatan kepariwisataan yang sepenuhnya dimiliki, dijalankan, dan dikelola oleh masyarakat sehingga berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui mata pencaharian yang berkelanjutan dan melindungi tradisi sosial-budaya yang bernilai maupun sumber daya alam dan warisan budaya.

      Secara konseptual, prinsip pembangunan pariwisata berbasis masyarakat adalah dengan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan melalui pemberdayaan dalam berbagai kegiatan kepariwisataan sehingga manfaat dari pariwisata sebesar-besarnya dirasakan langsung oleh masyarakat.

      Adapun prinsip pembangunan pariwisata berbasis komunitas menurut ASEAN (2015) di antaranya adalah sebagai berikut.

      1. Melibatkan dan memberdayakan komunitas agar pengelolaan dapat dipastikan transparan
      2. Membangun kerja sama dengan pihak-pihak (stakeholder) terkait, yang dalam hal ini dikenal dengan konsep pentahelix (pemerintah, swasta, media, akademisi, dan komunitas)
      3. Memperoleh pengakuan dari otoritas terkait
      4. Meningkatkan kesejahteraan sosial dan martabat manusia
      5. Menerapkan mekanisme pembagian keuntungan yang adil dan transparan
      6. Meningkatkan skema hubungan ekonomi dengan pihak lokal dan regional
      7. Menghargai tradisi dan budaya lokal
      8. Berkontribusi terhadap konservasi sumber daya alam
      9. Meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan dan tuan rumah dengan memperkuat interaksi yang bermakna antara tuan rumah (pelaku wisata) dengan tamu (wisatawan)
      10. Bekerja untuk menuju kemandirian finansial

      Dalam beberapa kasus, masyarakat lokal pada umumnya tidak memiliki informasi, sumber daya, dan kekuatan yang cukup untuk mengambil keputusan dalam pembangunan pariwisata. Untuk itu, dibutuhkan pihak-pihak khusus dan profesional yang dapat mengatasi keterbatasan-keterbatasan masyarakat lokal untuk menguatkan organisasi lokal secara kontinyu, sehingga dapat lebih baik dalam mengembangkan destinasi wisata.

      Beberapa contoh di lapangan menunjukkan bahwa pengembangan destinasi wisata dapat dilakukan melalui kesepakatan dan kerja sama yang baik dengan pihak akademisi. Dalam hal ini, akademisi dapat mengambil peran untuk membantu proses pendampingan masyarakat di sektor pertanian, ekonomi kreatif, atau lainnya. Contoh lain yang seringkali kami jumpai adalah dengan melibatkan konsultan pariwisata untuk merancang atau mendesain pengembangan wilayah.

      Di sisi lain, komunikasi dan koordinasi antar-stakeholder tidak boleh dilewatkan. Organisasi lokal di destinasi wisata haruslah membangun kerja sama dan komunikasi yang baik dengan instansi pemerintah di daerahnya. Dengan adanya hubungan yang baik, diharapkan dapat mempercepat pembangunan program jangka pendek dan panjang di destinasi wisata.

      Wujud dari konsep Community Based Tourism atau pariwisata berbasis masyarakat adalah dengan dikembangkannya desa-desa wisata, di mana masyarakat desa ikut dilibatkan dalam mengenali dan mengembangkan potensinya, baik yang berupa sumber daya alam, budaya, maupun sumber daya manusianya.

      Salah satu contoh nyata penerapan pembangunan pariwisata berbasis masyarakat yang berhasil adalah Desa Wisata Pentingsari di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Desa wisata yang berjarak 7 Km dari Gunung Merapi ini pernah menerima penghargaan berupa Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) kategori ekonomi pada tahun 2017 dan 100 Top Destinasi Wisata Berkelanjutan di Dunia versi Global Green Destinations Days pada 2019.

      Bentuk partisipasi masyarakat di Desa Wisata Pentingsari juga dapat dilihat dalam penyediaan akomodasi penginapan homestay. Sesuai dengan definisinya, homestay menjadi jenis akomodasi penginapan sederhana yang memanfaatkan rumah tinggal masyarakat lokal untuk digunakan atau disewa oleh wisatawan dalam waktu sementara. Dengan adanya homestay di desa wisata, pemilik rumah dapat secara langsung merasakan manfaat ekonomi dari kunjungan wisatawan.

      Pentingnya pelibatan komunitas (masyarakat) dalam pembangunan pariwisata

      Pendekatan sustainable tourism mengedepankan prinsip-prinsip sosial di mana masyarakat di sekitar destinasi wisata dapat terlibat dan ikut serta dalam menghidupkan potensi-potensi lokal yang ada. Tanpa partisipasi langsung dari masyarakat di destinasi wisata, mustahil pariwisata dapat berjalan secara berkelanjutan. Konsep inilah yang dikenal dengan pariwisata berbasis masyarakat.

      Tosun dan Timothy (2003) juga menegaskan bahwa aspek penting dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan adalah penekanan pariwisata berbasis masyarakat. Pendekatan ini lebih fokus terhadap partisipasi masyarakat lokal dalam merencanakan dan mengembangkan potensi di destinasi pariwisata. Dengan terlibatnya masyarakat di suatu destinasi, maka pariwisata secara langsung dapat memberikan manfaat bagi masyarakat lokal.


      Pembangunan Pariwisata Berbasis Masyarakat


      ika melihat ilustrasi di atas, meski cukup banyak dampak positif yang didapatkan dari pariwisata, masih banyak dampak negatif yang harus diminimalisir agar pembangunan pariwisata dapat berkelanjutan. Untuk itu, sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan menjadi konsep yang dapat dipraktikkan dengan baik untuk menciptakan keberlangsungan pariwisata dari sisi ekonomi, sosial, dan lingkungan.


      pembangunan pariwisata berbasis masyarakat
      Dalam lima tahun terakhir, jumlah kunjungan wisatawan mancanagera ke Indonesia terus mengalami peningkatan. Angka kunjungan ini tentunya berpengaruh terhadap pertumbuhan devisa di Indonesia. Pada tahun 2017, pariwisata Indonesia menempati urutan kedua sebagai penyumbang devisa negara setelah sektor kelapa sawit dengan nilai USD 16,8 miliar.


      Contoh 7 Desa Wisata yang Mengusung Konsep Sustainable Tourism

      Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) mencanangkan pengembangan desa wisata merujuk pada konsep sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan.

      Secara definisi, sustainable tourism adalah pariwisata yang memerhatikan dampak terhadap lingkungan, sosial, budaya, serta ekonomi untuk masa kini dan masa depan, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan.

      Kemenparekraf/Baparekraf memberlakukan pedoman dalam pembangunan destinasi wisata berkelanjutan yang terdiri dari empat kategori, yaitu pengelolaan destinasi pariwisata berkelanjutan, pemanfaatan ekonomi bagi masyarakat lokal, pelestarian budaya bagi masyarakat dan pengunjung, serta pelestarian lingkungan.

      Di antara ribuan desa wisata di Indonesia, berikut tujuh desa wisata yang bisa menjadi percontohan keberhasilan dari konsep sustainable tourism:

      Desa Pujon Kidul (Malang)

      Terletak di Kecamatan Pujon desa wisata ini berjarak sekitar 30 km dari pusat Kota Malang. Lokasinya berada di dataran tinggi sehingga memiliki lingkungan sejuk dan masih asri.

      Desa Pujon Kidul mengandalkan kelestarian alam sebagai konsep sustainable tourism yang ditawarkan kepada wisatawan, yaitu sektor pertanian dan peternakan. Beberapa atraksi wisata yang bisa dilakukan di Desa Pujon Kidul antara lain menanam sayuran, memetik sayuran, hingga memerah susu sapi.

      Desa Pentingsari (Yogyakarta)

      Desa wisata Pentingsari telah dikenal internasional sebagai salah satu desa wisata dengan segudang penghargaan. Salah satu yang cukup menarik, Desa Pentingsari masuk dalam 100 besar destinasi berkelanjutan versi Global Green Destinations Days (GGDD).

      Desa wisata Pentingsari tergolong sebagai desa wisata dengan konsep sustainable tourism dari kategori pelestarian lingkungan. Keseharian masyarakat yang berdampingan dengan alam menjadi daya tarik desa wisata ini. Seperti membajak sawah, menanam padi, menangkap ikan, hingga belajar membuat tempe bisa kita coba lakukan di Desa Pentingsari.

      Desa Ponggok (Klaten)

      Potensi alam Desa Ponggok berasal dari 5 sumber mata air. Dulunya, air yang berlimpah hanya digunakan untuk irigasi sawah dan perkebunan saja. Namun kini masyarakat memanfaatkan sumber air tersebut sebagai destinasi wisata.

      Destinasi unggulan Desa Ponggok adalah Umbul Ponggok, yang sempat viral beberapa tahun lalu. Di sini wisatawan bisa berenang, snorkeling, latihan menyelam, hingga berswafoto di bawah air. Selain Umbul Ponggok, ada 4 sumber mata air lain yang juga menarik dikunjungi, yaitu Umbul Besuki, Umbul Sigedang, Umbul Kapilaler, dan Umbul Cokro.

      Menariknya, dengan memanfaatkan potensi alam yang dimilikinya, Desa Ponggok menjadi salah satu desa terkaya di Indonesia dengan penghasil desa per tahun mencapai Rp14 Miliar.

      Lanskap Desa Kete Kesu, Toraja. (Foto: Shutterstock/Januar.rahim)

      Desa Kete Kesu (Toraja)

      Kete Kesu merupakan desa adat yang mengusung konsep sustainable tourism dalam kategori pelestarian budaya bagi masyarakat dan pengunjung. Atraksi wisata yang paling ikonik dari Desa Kete Kesu adalah upacara adat rambu solo, dan kuburan di tebing batu yang ditaksir telah berusia 500 tahun.

      Selain itu, wisatawan juga bisa melihat rumah adat tongkonan yang berjajar rapi di Desa Kete Kesu. Konon, rumah-rumah adat ini telah berusia lebih dari 300 tahun. Selain dari segi peninggalan, desa ini juga terkenal sebagai penghasil kerajinan pahat hingga lukis.

      Desa Penglipuran (Bali)

      Selain Desa Pentingsari, Desa Penglipuran juga masuk dalam 100 besar Destinasi Berkelanjutan versi GGDD. Bahkan, desa wisata yang terletak di Bangli, Bali ini dinobatkan sebagai Desa Terbersih di dunia.

      Kesadaran menjaga kelestarian lingkungan di Desa Penglipuran lahir dari aturan adat desa. Salah satu aturan yang menarik adalah larangan menggunakan kendaraan bermotor pada area desa. Tujuannya adalah menjaga kebersihan udara di Desa Penglipuran sebagai bentuk pelestarian lingkungan.

      Selain itu, aturan adat juga mengatur soal tata ruang Desa Penglipuran, yaitu konsep Tri Mandala. Tata ruang adat ini membuat Desa Penglipuran tampak lebih rapi dan tertata.

      Kampung Blekok (Situbondo)

      Terpilih sebagai finalis Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021, nama Kampung Blekok kian ramai diperbincangkan. Selain menjadi rumah bagi penduduk, desa wisata ini juga menjadi rumah bagi berbagai jenis tanaman mangrove dan ribuan burung.

      Bertujuan untuk melestarikan burung blekok yang hampir punah, masyarakat setempat membuat penangkaran burung di desa wisata ini. Wisatawan yang berkunjung ke desa ini dapat ikut serta dalam kegiatan penangkaran, memberi makan burung, hingga merawat burung yang sedang sakit.

      Desa Umbulharjo (Yogyakarta)

      Dalam upaya pengembangan desa wisata peran generasi muda yang kreatif adalah salah satu kunci keberhasilan. Hal ini terbukti di Desa Umbulharjo, Yogyakarta. Berangkat dari keresahan pemuda karang taruna desa atas irigasi yang terkesan kumuh tercetus ide kreatif.

      Inovasi yang diberikan adalah mengubah irigasi desa menjadi tempat budidaya ikan nila. Selain bermanfaat untuk ketahanan pangan, budidaya ikan nila di saluran irigasi juga menjadi salah satu daya tarik wisata di Desa Umbulharjo hingga viral di media sosial.

      Itulah tujuh desa wisata yang sukses berkembang dengan mengusung konsep sustainable tourism. Harapannya desa wisata tersebut bisa menjadi inspirasi bagi banyak desa wisata lain di Indonesia untuk terus berinovasi dalam pariwisata berkelanjutan.

      7 Desa Wisata yang Mengusung Konsep Sustainable Tourism