Garis besar topik
-
Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian desa wisata, serta memberikan contoh desa wisata
-
PENGERTIAN DESA WISATA
Desa wisata adalah komunitas atau masyarakat yang terdiri dari para penduduk suatu wilayah terbatas yang bisa saling berinteraksi secara langsung dibawah sebuah pengelolaan dan memiliki kepedulian serta kesadaran untuk berperan bersama dengan menyesuaikan keterampilan individual berbeda. Desa wisata dibentuk untuk memberdayakan masyarakat agar dapat berperan sebagai pelaku langsung dalam upaya meningkatkan kesiapan dan kepedulian kami dalam menyikapi potensi pariwisata atau lokasi daya tarik wisata diwilayah masing-masing desa.
Tujuan
Selain itu tujuan dari pembentukan desa wisata ini adalah untuk meningkatkan posisi dan peran masyarakat sebagai pelaku penting dalam pembangunan sektor pariwisata dan dapat bersinergi dan bermitra dengan pemangku kepentingan terkait dalam meningkatkan kualitas perkembangan kepariwisataan didaerah membangun dan menumbuhkan sikap dukungan positif dari masyarakat desa sebagai tuan rumah melalui perwujudan nilai-nilai sapta pesona bagi tumbuh.
Fungsi
Fungsi desa wisata merupakan sebagai wadah langsung bagi masyarakat akan kesadaran adanya potensi tempat sebagai tempat wisata.
Tiga Komponen yang perlu diperhatikan sebelum mambangun desa wisata:
1. Kondisi desa Sekarang
Untuk mengetahu potensi wisata desa yang ada, maka pihak desa harus memiliki basis data yang jelas mengenai lahan, lokasi, daerah serta bagaimana ekosistem yang dapat membantu lokasi wisata nantinya. Hal ini dapat dilakukan dengan beberapa kegiatan, seperti pengumpulan data dan Kerjasama dengan berbagai pihak ketiga.
2. Keadaan Masyarakat dan Struktur Organisasi
Desa wisata akan sangat berkembang jika dikelola oleh desa sendiri, kebutuhan akan organisasi yang khusus mengurusi desa wisata dibutuhkan agar berkelanjutan serta ada pihak yang menentukan arah desa wisata.
3. Konsep Desa Wisata yang unik
Konsep atau ide desa wisata menjadi ujung tombak pembeda antara wisata lain di daerah lain. Pembentukan konsep desa wisata ini dapat semakin tajam jika dipadukan dengan pemetaan wilayah yang dilakukan di awal.

Komponen Utama Desa Wisata
Terdapat dua komponen utama desa wisata:
- Akomodasi: sebagian dari tempat tinggal para penduduk setempat dan atau unit-unit yang berkembang atas konsep tempat tinggal penduduk.
- Atraksi: seluruh kehidupan keseharian penduduk setempat beserta setting fisik lokasi desa yang memungkinkan berintegrasinya wisatawan sebagai partisipasi aktif seperti: kursus tari, bahasa dan lain-lain yang spesifik.
Edward Inskeep mendefinisikan desa wisata ini sebagai: "Wisata pedesaan di mana sekelompok kecil wisatawan tinggal dalam atau dekat dengan suasana tradisional, sering di desa-desa yang terpencil dan belajar tentang kehidupan pedesaan dan lingkungan setempat." [4]
Tipe Desa Wisata
Menurut pola, proses dan tipe pengelolanya, desa wisata di indonesia dibagi dalam dua bentuk yaitu tipe terstruktur dan tipe terbuka.
Tipe Terstruktur (enclave)
Tipe terstruktur ditandai dengan karakter-karakter sebagai berikut:
- Lahan terbatas yang dilengkapi dengan infrastruktur yang spesifik untuk kawasan tersebut. Tipe ini mempunyai kelebihan dalam citra yang ditumbuhkannya sehingga mampu menembus pasar internasional.
- Lokasi pada umumnya terpisah dari masyarakat atau penduduk lokal, sehingga dampak negatif yang ditimbulkannya diharapkan terkontrol. Selain itu pencemaran sosial budaya yang ditimbulkan akan terdeteksi sejak dini.
- Lahan tidak terlalu besar dan masih dalam tingkat kemampuan perencanaan yang integratif dan terkoordinasi, sehingga diharapkan akan tampil menjadi semacam agen untuk mendapatkan dana-dana internasional sebagai unsur utama untuk ΓÇ£menangkapΓÇ¥ jasa-jasa dari hotel-hotel berbintang lima.
Contoh dari kawasan atau perkampungan wisata jenis ini adalah kawasan Nusa Dua, Bali dan beberapa kawasan wisata di Lombok. Pedesaan tersebut diakui sebagai suatu pendekatan yang tidak saja berhasil secara nasional, melainkan juga pada tingkat internasional. Pemerintah Indonesia mengharapkan beberapa tempat di Indonesia yang tepat dapat dirancang dengan konsep yang serupa.
Tipe Terbuka (spontaneus)
Tipe ini ditandai dengan karakter-karakter yaitu tumbuh menyatunya kawasan dengan struktur kehidupan, baik ruang maupun pola dengan masyarakat lokal. Distribusi pendapatan yang didapat dari wisatawan dapat langsung dinikmati oleh penduduk lokal, akan tetapi dampak negatifnya cepat menjalar menjadi satu ke dalam penduduk lokal, sehingga sulit dikendalikan. Contoh dari tipe perkampungan wisata jenis ini adalah kawasan Prawirotaman, Yogyakarta
Karena bentuk wisata pedesaan yang khas maka diperlukan suatu segmen pasar tersendiri. Terdapat beberapa tipe wisatawan yang akan mengunjungi desa wisata ini yaitu:
Wisatawan Domestik[sunting | sunting sumber]
Wisatawan domestik; terdapat tiga jenis pengunjung domestik yaitu:
- Wisatawan atau pengunjung rutin yang tinggal di daerah dekat desa tersebut. Motivasi kunjungan: mengunjungi kerabat, membeli hasil bumi atau barang-barang kerajinan. Pada perayaan tertentu, pengunjung tipe pertama ini akan memadati desa wisata tersebut.
- Wisatawan dari luar daerah (luar provinsi atau luar kota), yang transit atau lewat dengan motivasi, membeli hasil kerajinan setempat.
- Wisatawan domestik yang secara khusus mengadakan perjalanan wisata ke daerah tertentu, dengan motivasi mengunjungi daerah pedesaaan penghasil kerajinan secara pribadi.
Prinsip Dasar Pengembangan Desa Wisata
Terdapat tiga prinsip dasar dalam mengembangkan desa wisata, yakni:
- Pengembangan fasilitas-fasilitas wisata dalam skala kecil beserta pelayanan di dalam atau dekat dengan desa.
- Fasilitas-fasilitas dan pelayanan tersebut dimiliki dan dikerjakan oleh penduduk desa, salah satu bisa bekerja sama atau individu yang memiliki.
- Pengembangan desa wisata didasarkan pada salah satu ΓÇ£sifatΓÇ¥ budaya tradisional yang lekat pada suatu desa atau ΓÇ£sifatΓÇ¥ atraksi yang dekat dengan alam dengan pengembangan desa sebagai pusat pelayanan bagi wisatawan yang mengunjungi kedua atraksi tersebut.
Pendekatan Pengembangan Desa Wisata
Pengembangan desa wisata harus direncanakan secara hati-hati agar dampak yang timbul dapat dikontrol. Berdasar penelitian dari UNDP/WTO bersama beberapa konsultan Indonesia[5], dicapai dua pendekatan dalam menyusun rangka kerja/konsep kerja dari pengembangan sebuah desa menjadi desa wisata, yakni pendekatan pasar dan pendekatan fisik.
Pendekatan Pasar
Kriteria Desa Wisata dalam Pendekatan Pasar
Pada pendekatan ini diperlukan beberapa kriteria yaitu:
- Atraksi wisata; yaitu semua yang mencakup alam, budaya dan hasil ciptaan manusia. Atraksi yang dipilih adalah yang paling menarik dan atraktif di desa.
- Jarak Tempuh; adalah jarak tempuh dari kawasan wisata terutama tempat tinggal wisatawan dan juga jarak tempuh dari ibu kota provinsi dan jarak dari ibu kota kabupaten.
- Besaran Desa; menyangkut masalah-masalah jumlah rumah, jumlah penduduk, karakteristik dan luas wilayah desa. Kriteria ini berkaitan dengan daya dukung kepariwisataan pada suatu desa.
- Sistem Kepercayaan dan kemasyarakatan; merupakan aspek penting mengingat adanya aturan-aturan yang khusus pada komunitas sebuah desa. Perlu dipertimbangkan adalah agama yang menjadi mayoritas dan sistem kemasyarakatan yang ada.
- Ketersediaan infrastruktur; meliputi fasilitas dan pelayanan transportasi, fasilitas listrik, air bersih, drainase, telepon dan sebagainya.
Masing-masing kriteria digunakan untuk melihat karakteristik utama suatu desa untuk kemudian menentukan apakah suatu desa akan menjadi desa dengan tipe berhenti sejenak, tipe one day trip atau tipe tinggal inap.
Tiga bentuk interaksi
- Interaksi tidak langsung. Model pengembangan didekati dengan cara bahwa desa mendapat manfaat tanpa interaksi langsung dengan wisatawan. Bentuk kegiatan yang terjadi semisal: penulisan buku-buku tentang desa yang berkembang, kehidupan desa, seni dan budaya lokal, arsitektur tradisional, latar belakang sejarah, pembuatan kartu pos dan sebagainya.
- Interaksi setengah langsung. Bentuk-bentuk one day trip yang dilakukan oleh wisatawan, kegiatan-kegiatan meliputi makan dan berkegiatan bersama penduduk dan kemudian wisatawan dapat kembali ke tempat akomodasinya. Prinsip model tipe ini adalah bahwa wisatawan hanya singgah dan tidak tinggal bersama dengan penduduk.
- Interaksi Langsung. Wisatawan dimungkinkan untuk tinggal/bermalam dalam akomodasi yang dimiliki oleh desa tersebut. Dampak yang terjadi dapat dikontrol dengan berbagai pertimbangan yaitu daya dukung dan potensi masyarakat setempat. Alternatif lain dari model ini adalah penggabungan dari model pertama dan kedua.
Pendekatan Fisik Pengembangan Desa Wisata
Pendekatan ini merupakan solusi yang umum dalam mengembangkan sebuah desa melalui sektor pariwisata dengan menggunakan standar-standar khusus dalam mengontrol perkembangan dan menerapkan aktivitas konservasi.
- Mengonservasi sejumlah rumah yang memiliki nilai budaya dan arsitektur yang tinggi dan mengubah fungsi rumah tinggal menjadi sebuah museum desa untuk menghasilkan biaya untuk perawatan dari rumah tersebut. Contoh pendekatan dari tipe pengembangan model ini adalah Desa Wisata di Koanara, Flores. Desa wisata yang terletak di daerah wisata Gunung Kelimutu ini mempunyai aset wisata budaya berupa rumah-rumah tinggal yang memiliki arsitektur yang khas. Dalam rangka mengkonservasi dan mempertahankan rumah-rumah tersebut, penduduk desa menempuh cara memuseumkan rumah tinggal penduduk yang masih ditinggali. Untuk mewadahi kegiatan wisata di daerah tersebut dibangun juga sarana wisata untuk wisatawan yang akan mendaki Gunung Kelimutu dengan fasilitas berstandar resor minimum dan kegiatan budaya lain.
- Mengonservasi keseluruhan desa dan menyediakan lahan baru untuk menampung perkembangan penduduk desa tersebut dan sekaligus mengembangkan lahan tersebut sebagai area pariwisata dengan fasilitas-fasilitas wisata. Contoh pendekatan pengembangan desa wisata jenis ini adalah Desa Wisata Sade, di Lombok.
- Mengembangkan bentuk-bentuk akomodasi di dalam wilayah desa tersebut yang dioperasikan oleh penduduk desa tersebut sebagai industri skala kecil. Contoh dari bentuk pengembangan ini adalah Desa wisata Wolotopo di Flores. Aset wisata di daerah ini sangat beragam antara lain: kerajinan tenun ikat, tarian adat, rumah-rumah tradisional, dan pemandangan ke arah laut. Wisata di daerah ini dikembangkan dengan membangun sebuah perkampungan skala kecil di dalam lingkungan Desa Wolotopo yang menghadap ke laut dengan atraksi-atraksi budaya yang unik. Fasilitas-fasilitas wisata ini dikelola sendiri oleh penduduk desa setempat. Fasilitas wisata berupa akomodasi bagi wisatawan, restaurant, kolam renang, peragaan tenun ikat, plaza, kebun dan dermaga perahu boat.
KARAKTERISTIK DESA WISATA
Karateristik desa wisata Lihat Foto Sepadang Hills di Desa Wisata Cipta Karya, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat (Dok. Jadesta Kemenparekraf)

Tiap desa wisata pasti memiliki karakteristiknya masing-masing. Berikut beberapa karakteristik desa wisata berdasarkan potensinya
: Desa dengan lingkungan alam, karakteristiknya:
- Keindahan alamnya
- Jenis sumber daya alam yang menonjol untuk kegiatan wisata
- Keunikan sumber daya alam.
Desa wisata ekonomi atau mata pencaharian, karakteristiknya:
- Mata pencaharian penduduk yang utama yang dapat dikembangkan sebagai atraksi wisata
- Kurangnya tingkat pengangguran masyarakat
- Pemerataan yang berhubungan dengan investasi lokal.
Desa dengan kehidupan adat atau seni budaya, karakteristiknya:
- Tata adatnya sangat kental bahkan mendominasi kehidupan masyarakat
- Pengelolaan kegiatan seni budayanya berlangsung di desa dan dilakukan oleh masyarakat
- Kehidupan masyarakatnya sangat unik dan tradisional.
Desa dengan bangunan tradisional, karakteristiknya:
- Bangungannya khas dan unik
- Arsitektur lokal sangat mendominasi
- Struktur tata ruangnya khas
- Pola dan material yang digunakan sangat alami, melambangkan unsur kelokalan dan keaslian.
TUJUAN DESA WISATA

Tujuan desa wisata Lihat Foto Pantai Cemara, salah satu wisata di Desa Wisata Tari Rebo, Bangka Belitung (Dok. Jadesta Kemenparekraf)
Pembangunan desa wisata tentu mempunyai banyak tujuan. Konsep dari tujuan pembangunan itu sendiri harus direncanakan secara matang, dan melibatkan banyak pihak terkait. Adapun tujuan desa wisata, yakni:
- Mendukung program pariwisata pemerintah dengan menyediakan obyek wisata alternatif
- Menggali potensi desa untuk membangun masyarakat sekitar
- Masyarakat lebih sadar akan potensi desanya, sehingga mereka lebih bekerja keras untuk membangunnya
- Memperluas lapangan pekerjaan, sehingga meningkatkan kesejahteraan dan kualitas masyarakat desa
- Menahan laju urbanisasi
- Menimbulkan rasa bangga bagi penduduk desa
- Mempercepat pembauran penduduk non-pribumi dengan pribumi
- Memperkokoh persatuan bangsa, sehingga bisa mengatasi disintegrasi.
KRETERIA DESA WISATA

Lihat Foto Goa Sarang di Desa Wisata Iboih di Kota Sabang, Provinsi Aceh(Dok. Jadesta Kemenparekraf)
Pembangunan desa wisata tidak boleh sembarangan. Semuanya harus direncanakan sematang mungkin. Berikut beberapa kriteria desa wisata:
- Atraksi wisata
Adalah semua yang mencakup alam, budaya, dan hasil ciptaan manusia. Atraksi yang dipilih harus menarik dan atraktif.
- Jarak tempuh
Merupakan jarak tempuh kawasan wisata dari tempat tinggal wisatawan, ibu kota kabupaten, dan provinsi.
- Besaran desa
Berkaitan dengan jumlah rumah, penduduk, karakteristik, dan luas wilayah desa.
Kriteria ini berhubungan dengan daya dukung pariwisata suatu desa.
- Sistem kepercayaan masyarakat dan kemasyarakatan
Merupakan aturan khusus dalam komunitas pedesaan. Yang perlu dipertimbangkan adalah agama mayoritas dan sistem kepercayaan yang ada.
- Ketersediaan infrastruktur
Meliputi fasilitas dan pelayanan transportasi, listrik, air bersih, drainase, telepon, dan lainnya.
MAANFAAT DESA WISATA

Lihat Foto Kegiatan wisatawan menampi hanjeli di Desa Wisata Hanjeli, Sukabumi, Jawa Barat(Dok. Jadesta Kemenparekraf)
Berikut manfaat desa wisata:
- Meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar
- Kemajuan sektor pariwisata dan meningkatnya perekonomian regional juga nasional
- Pembangunan desa wisata secara otomatis akan membuka banyak lapangan pekerjaan, dan menyerap tenaga kerja, sehingga dapat mengurangi pengangguran
- Memperluas wawasan dan cara berpikir orang desa, melatih cara hidup sehat, dan meningkatkan ilmu juga teknologi kepariwisataan.
- Menumbuhkan sikap sadar lingkungan, yaitu menyadarkan masyarakat akan pentingnya memelihara dan melestarikan lingkungan.
Berikut 50 Desa Wisata Terbaik ADWI 2022:
Desa Wisata Gampong Ulee Lheue, Kota Banda Aceh.Sumatera Utara
AcehDesa Wisata Desa Wisata Hilisimaetano, Kabupaten Nias Selatan
Sumatera Barat
Desa Wisata Buluh Duri, Kabupaten Serdang Bedagai
Desa Wisata Kampung Warna Warni Tiga Rihit, Kabupaten Simalungun
Desa Wisata GTP Ulakan, Kabupaten Padang Pariaman. Desa Wisata Silokek, Kabupaten Sijunjung.
Desa Wisata Pariangan Desa Terindah di Dunia, Kabupaten Tanah Datar.Riau
Desa Wisata Dayun, Kabupaten Siak.Jambi
Desa Wisata Pantegan, Kabupaten Kerinci. Sumatera Selatan
Desa Wisata Tebet Lereh, Kota Pagar Alam.Bengkulu
Desa Wisata Belitar Seberang, Kabupaten Rejang Lebong.Lampung
Desa Wisata Pulau Pahawang, Kabupaten PesawaranKepulauan Bangka Belitung
Desa Wisata Perlang, Kabupaten Bangka Tengah.
Lanskap Desa Wisata Kampung Tua Bakau Serip, Batam. (Foto: dok. wonderfulimage.id).
Kepulauan Riau
Desa Wisata Kampung Tua Bakau Serip, Kota Batam.DKI Jakarta
Desa Wisata Pecinan, Kota Jakarta Barat.Jawa Barat
Desa Wisata Situs Gunung Padang, Kabupaten Cianjur.
Desa Wisata Hanjeli, Kabupaten Sukabumi.Jawa Tengah
Desa Wisata Bugisan, Kabupaten Klaten.
Desa Wisata Sembungan, Kabupaten Wonosobo.Daerah Istimewa Yogyakarta
Desa Wisata Widosari, Kabupaten Kulon Progo.
Desa Wisata Tepus, Kabupaten Gunung Kidul.Jawa Timur
Desa Wisata Semen, Kabupaten Blitar.
Desa Wisata Keris, Kabupaten Sumenep.
Desa Wisata Tirta Agung, Kabupaten Bondowoso.
Desa Wisata Pandean, Kabupaten Trenggalek.Banten
Desa Wisata Saba Budaya Baduy, Kabupaten Lebak.Bali
Desa Wisata Undisan, Kabupaten Bangli.
Desa Wisata Sudaji, Kabupaten Buleleng.Nusa Tenggara Barat
Desa Wisata Taman Loang Baloq, Kota Mataram.
Desa Wisata Buwun Sejati, Kabupaten Lombok Barat.Nusa Tenggara Timur
Desa Wisata Umauta, Kabupaten Sikka.Kalimantan Barat
Desa Wisata Kampong Melayu BML, Kota Pontianak.Kalimantan Tengah
Desa Wisata Sei Sekonyer, Kabupaten Kotawaringin Barat. Kalimantan Selatan
Desa Wisata Kubah Basirih, Kota Banjarmasin.Kalimantan Timur
Desa Wisata Pela, Kabupaten Kutai Kartanegara.Kalimantan Utara
Desa Wisata Pulau Sapi, Kabupaten Malinau.Sulawesi Utara
Desa Wisata Budo, Kabupaten Minahasa Utara.Sulawesi Tengah
Desa Wisata Malangga, Kabupaten Toli-toli.Sulawesi Selatan
Desa Wisata Campaga, Kabupaten Bantaeng.
Desa Wisata Matano Iniaku, Kabupaten Luwu Timur.
Desa Wisata Barania, Kabupaten Sinjai.
Desa Wisata Kambo, Kota Palopo.Sulawesi Tenggara
Desa Wisata Limbo Wolio, Kota Baubau.
Desa Wisata Air Terjun Moramo Sumbersari, Kabupaten Konawe Selatan. Gorontalo
Desa Wisata Lonuo (Bukit Arang), Kabupaten Bone Bolango.Sulawesi Barat
Desa Wisata Tondok Bakaru, Kabupaten Mamasa.Maluku
Desa Wisata Negeri Hila, Kabupaten Maluku Tengah.Maluku Utara
Desa Wisata Lapasi, Kabupaten Halmahera Barat.Papua Barat
Desa Wisata Kampung Ugar, Kabupaten Fakfak.Papua
Desa Wisata Tobati, Kota Jayapura.
-