
2024 | Bina Baca Quran (BBQ) | 1HB2| Dr.H. SURATNO, S.Pd.I.,MH
Garis besar topik
-
-
Isi Presensi Kegiatan Launching BBQ Disini
Absen Hanya Bisa Dilakukan Sampai Dengan Kamis, 14 November 15.00 WIB
-
-
-
muqoddimah tajwid alquran
-
بسم الله الرحمن الرحيم
والصلاة والسلام على نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين، أَشْهَدُ ألا إله الا الله و أشْهَدُ ان مُحَمدا عبده و رَسُوْله، وبعد
Segala puji bagi Allah subhanahu wa taΓÇÖala yang telah menurunkan al Furqan (Al Qur-an) kepada hamba-Nya agar menjadi peringatan bagi seluruh alam. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ΓÇÿalaihi wa sallam, kepada keluarganya dan para sahabatnya.
Para pendengar Belajar Islam yang semoga Allah subhanahu wa taΓÇÖala muliakan, tujuan paling tinggi yang hendak diraih oleh seorang mukmin adalah mendapatkan kemuliaan dan keutamaan di sisi Rabbnya, serta memperoleh pahala yang besar agar kelak ia termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung. Allah subhanahu wa taΓÇÖala telah menunjukkan kepada kita jalan-jalan kebaikan, dan memotivasi kita agar berlomba-lomba dalam ketaatan.
Salah satu sarana terbesar untuk meraih tujuan itu adalah dengan mengambil bagian yang banyak dari al Qur-an, baik dalam bentuk membaca, menghafal, menghayati, maupun mengamalkannya.
Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ
لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
ΓÇ£Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.
Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya, sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha mensyukuri.ΓÇ¥ (QS. Faathir [35]: 29-30)
Demikian juga Rasulullah shallallahu ΓÇÿalaihi wa sallam telah menjelaskan kepada kita tentang kedudukan seorang Ahlul Qur-an (pencinta Al Qur-an) serta keutamaan mempelajari, mengajarkan, dan menghafalnya. Beliau shallallahu ΓÇÿalaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
ΓÇ£Orang paling baik diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur-an dan mengajarkannya.ΓÇ¥ (HR. Bukhari dari sahabat Utsman bin Affan)
Para pendengar Belajar Islam yang semoga Allah subhanahu wa taΓÇÖala muliakan, salah satu faktor yang dapat mendatangkan kesenangan dan kebahagiaan adalah apabila Allah subhanahu wa taΓÇÖala memberikan taufik kepada kita untuk dapat berkhidmat kepada Al Qur-an, menyebarkan halaqah-halaqah untuk belajar memperbaiki bacaan Al Qur-an di seluruh penjuru nusantara bahkan lintas negara, memberikan bimbingan baik secara moril maupun materil, mengembangkan kegiatan yang berhubungan dengan al Qur-an ini, serta memperbaiki tingkatan dan kecakapan para pelajar dan pengajar, baik secara teori maupun praktik.1
Bertolak dari media Belajar Islam dan buku ΓÇ£TartilΓÇ¥ Tajwid Dasar Dengan Tabel yang telah saya susun ini, kami persembahkan kehadapan para pendengar BIS sekalian sebuah program perbaikan bacaan Al Qur-an yang mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua didalam berikhtiar meraih kemuliaan dan keutamaan di sisi Allah subhanahu wa taΓÇÖala melalui Al Qur-an yang mulia ini.
Kami memohon semoga Allah subhanahu wa taΓÇÖala memasukkan kita ke dalam golongan Ahlul Qur-an yang merupakan Ahlullah (Keluarga Allah) dan orang-orang terdekat-Nya. Semoga juga Allah subhanahu wa taΓÇÖala memuliakan kita dengan syafaat al Qur-an, mengangkat derajat-derajat kita di Surga, dan menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang dikasihi-Nya. Segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.
Demikianlah mukadimah singkat yang saya sampaikan dalam acara program kita kedepan
-
-
istiadzah dan basmalah
-
Bacaan isti’adzah atau ta’awudz yang populer berbunyi أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ dan mengandung arti meminta perlindungan kepada Allah. Adapun bacaan basmalah adalah بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيْمِ sebagaimana yang tercantum dalam al-Qur’an. Tidak ada redaksi basmalah lain di luar itu.
Jumhur ulama menyepakati bahwa hukum membaca istiΓÇÖadzah adalah sunnah. Mereka berdasar pada firman Allah, ΓÇ£Maka apabila engkau membaca Al-Quran maka mintalah perlindungan pada Allah dari setan yang terkutukΓÇ¥ (QS. An-Nahl: 98). Namun sebagian ulama mengatakan bahwa hukum membaca istiΓÇÖadzah adalah wajib.
Mengenai basmalah, hukumnya wajib pada saat membaca setiap permulaan surat Al-Quran kecuali surat At-Taubah. Jika
dari pertengahan surat, maka seseorang boleh memilih antara membaca basmalah atau meninggalkannya. Tapi yang lebih diutamakan tentu membacanya.Tempat Membaca IstiΓÇÖadzah dan Basmalah
Orang yang membaca Al-Quran akan memulai bacaannya dengan lafal istiΓÇÖadzah dan basmalah. Para ulama bersepakat bahwa istiΓÇÖadzah bukan bagian dari Al-Quran. Namun para ulama fikih berbeda pendapat mengenai basmalah, apakah termasuk Al-Quran atau tidak. Perbedaan pendapat juga terjadi di kalangan ahli qiraΓÇÖat. Sebagian mengucapkan basmalah antar satu surat dengan surat yang lain dan sebagian yang lain tidak mengucapkannya.
Menurut periwayatan Hafsh dari Imam Ashim, basmalah harus dibaca di antara setiap dua surat kecuali antara Surat Al-Anfal dan At-Taubah. Membaca basmalah tidak disyariatkan karena tidak ada dalil yang menunjukkan kebolehannya.
Situasi dan Cara Membaca IstiΓÇÖadzah dan Basmalah
Ada empat cara yang diperbolehkan dalam mengucapkan istiΓÇÖadzah dan basmalah ketika akan mengawali membaca permulaan surat Al-Quran kecuali surat At-taubah:
- QathΓÇÖu al-jamiΓÇÖ: memutus istiΓÇÖadzah dari basmalah dan memutus basmalah dari permulaan surat.
- Washlu al-jamiΓÇÖ: menyambungkan istiΓÇÖadzah dengan basmalah dan menyambungkan basmalah dengan permulaan surat.
- Washlu al-awwal wa qathΓÇÖu at-tsani ΓÇÿan at-tsalits: menyambungkan istiΓÇÖadzah dengan basmalah dan berhenti pada akhir basmalah kemudian mulai membaca permulaan surat.
- QathΓÇÖu al-awwal wa washlu at-tsani bi at-tsalits: memutus istiΓÇÖadzah dari basmalah dan menyambungkan basmalah dengan permulaan surat.
Jika mulai membaca dari pertengahan suratΓÇö meskipun hanya satu kata setelah permulaan suratΓÇödan memilih membaca basmalah, boleh memilih dari empat cara di atas.
Baca juga: Membela Keragaman QiraΓÇÖat Al-QurΓÇÖan dari Para Pengingkarnya
Bila memilih tidak memulainya dengan basmalah, maka hanya diperbolehkan dua cara saja:
- Menyambungkan istiΓÇÖadzah dengan sesudahnya.
- Berhenti pada istiΓÇÖadzah dan memutusnya dari bacaan sesudahnya.
Jika mulai membaca dari awal surat At-Taubah, diperbolehkan dua cara yang disebutkan tadi: harus membaca bersambung (washal) atau berhenti (waqaf).
Jika berhenti pada suatu surat lalu ingin mengawali surat lain, maka di antara dua surat tadiΓÇöselain Surat Al-Anfal dan At-TaubahΓÇö boleh memilih tiga cara membaca di bawah ini:
- Menyambungkan akhir surat dengan basmalah dan menyambungkan basmalah dengan permulaan surat berikutnya.
- Memutus akhir surat dari basmalah dan memutus basmalah dari permulaan surat berikutnya.
- Memutus akhir surat dari basmalah lalu menyambungkan basmalah dengan permulaan surat berikutnya.
Dia tidak boleh melakukan kebalikan dari cara ketiga, yaitu menyambungkan akhir surat dengan basmalah lalu berhenti kemudian memulai bacaan pada permulaan surat berikutnya. Alasannya, basmalah dibaca pada permulaan surat bukan pada akhir surat.
Kemudian ada tiga cara dalam membaca antara surat Al-Anfal dan At-Taubah:
- Menyambungkan akhir surat Al-Anfal dengan awal At-taubah seperti menyambungkan dua ayat berurutan pada satu surat.
- Berhenti (waqaf) pada akhir surat Al-Anfal kemudian mulai membaca awal At-Taubah.
- Diam pada akhir surat At-TaubahΓÇöyakni waqaf tanpa bernafasΓÇödan mulai membaca pada awal At-Taubah.
Baca juga: Fenomena Orang Tak Berilmu Bicara Agama
Kedua surat tadi memang dikhususkan dengan tiga cara tersebut karena surat At-Taubah adalah satu-satunya surat yang tidak diperbolehkan membaca basmalah pada permulaannya.
Jika seseorang memutuskan bacaan karena ada halangan tiba-tiba yang lumrah terjadi seperti hendak menerangkan maknanya, sujud tilawah atau kondisi darurat (batuk atau bersin), maka dia tidak perlu mengulang istiΓÇÖadzah.
Jika memutuskannya karena halangan yang jauh hubungannya dari Al-Quran seperti menjawab salam, terlibat pembicaraan atau waktu berhentinya lama, maka dia perlu mengulang istiΓÇÖadzah.
-
-
tempat keluar huruf
-
Cara untuk mengetahui keluarnya Huruf Arab adalah dengan mensukun atau mentasydid huruf tersebut kemudian masukan Hamzah Washol dengan harokat apa saja maka ketika suara terputus itulah makhroj tersebut.
Menurut imam Ibnu Al jazari Makhroj Huruf Arab secara terperinci ada tujuh belas makhrojterdapat pada lima tempat, yaitu:
1. الْجَوْفُ Rongga Mulut
4. الشَّفَتَانِ Dua Bibir
2. الْحَلْقُ Tenggorokan
5. الْخَيْشُوْمُ Rongga Hidung
3. اللِّسَانُ Lidah
Pertama: الْجَوْفُ( Rongga Mulut ) yang keluar dari Rongga Mulut adalah tiga huruf Mad :
1. الْجَوْفُ (Rongga Mulut)
Alif sukun sebelumnya harokat Fathah contoh : قَالَ
Wawu sukun sebelumnya harokat Dhommah contoh : يَقُوْلُ
Ya’ sukun sebelumnya harokat Kasroh contoh : قِيْلَ

Kedua: الْحَلْقُ( Tenggorokan ) yang keluar dari tenggorokan ada enam huruf terdapat pada tiga tempat.
2. الْحَلْقِ ( pangkal tenggorokan )
Keluar dari pangkal tenggorokan adalah huruf ء(hamzah) dan هـ ( ha’).
3. وَسْطُ الْحَلْقِ (tenggorokan tengah)
Keluar dari tengah tenggorokan adalah huruf ع ( A’in ) dan ح ( Ha’ ).Huruf ع keluar dari tengah tenggorokan dengan menggerakkan katup tenggorokan (epiglottis) ke belakang. Perbedaan antara makhroj ع dan ح kalau makhroj ع katup tenggorokannya lebih mepet ke dinding (lebih sempit) sedangkan ح lebih longgar

4. أَدْنَى الْحَلْقِ (tenggorokan atas)
keluar dari tenggorokan atas adalah غ( ghoin ) dan خ ( kho ).
Ketiga: اللِّسَانُ ( Lidah )yang keluar dari lidah ada delapan belas huruf terdapat pada sepuluh tempat.
5. اللَّحْمِيِّ Huruf ق ( qof ) keluar dari pangkal lidah menyentuh langit langit atas bagian daging.
6. أَقْصَى اللِّسَانِ مَعَ الْحَنَكِ اللَّحْمِيِّ وَالْعَظْمِيِّ Huruf ك ( kaf ) keluar dari pangkal lidah menyentuh langit langit atas bagian antara daging dan tulang.
7. وَسْطُ اللِّسَانِ مَعَ وَسْطِ الْحَنَكِ الْأَعْلَى yang keluar dari tengah lidah bersama langit langit atas adalah huruf ج ( jim ) ش ( syin ) ي ( ya ).
5. اللَّحْمِيِّ Huruf ق ( qof )
Keluar dari pangkal lidah menyentuh langit langit atas bagian daging.

6. أَقْصَى اللِّسَانِ مَعَ الْحَنَكِ اللَّحْمِيِّ وَالْعَظْمِيِّ Huruf ك ( kaf )
Keluar dari pangkal lidah menyentuh langit langit atas bagian daging.

7. وَسْطُ اللِّسَانِ مَعَ وَسْطِ الْحَنَكِ الْأَعْلَى
keluar dari tengah lidah bersama langit langit atas adalah huruf ج ( jim ) ش ( syin ) ي ( ya ).



8. حَافَتَيِ اللِّسَانِ أَوْ مِنْهُمَا مَعًا مَعَ مَا يُجَاوِرُهَا مِنَ الأَضْرَاسِ الْعُلْيَا إِحْدَى huruf ض ( dlod )
keluar dari dua sisi lidah atau salah satunya menyentuh dinding bagian dalam gigi geraham atas.



9. أَدْنَى حَافَتَيِ اللِّسَانِ إِلَى مُنْتَهَى طَرْفِهِ مَعَ مَا يُحَاذِيْهِمَا مِنَ الْحَنَكِ الْأَعْلَى huruf ل ( lam )

Keluar dari dua tepi ujung lidah hingga ke akhirnya menyentuh langit langit atas. Perbedaan antara lam tebal dan lam tipis adalah pangkal lidah lam tebal di angkat dan tengah lidah melengkung sedangkan lam tipis tidak di angkat. Adapun ujung lidah lam tebal dan lam tipis posisinya sama. 10. طَرْفُ اللِّسَانِ مَعَ مَا يُحَاذِيْهِ مِنَ اللِّثَّةِ تَحْتَ مَخْرَجِ اللَّامِ بِقَلِيْلٍ وَيُصَاحِبُهَا غُنَّةٌ مِنَ الْخَيْشُوْمِ. (ujung lidah) huruf ن (nun)
keluar dari dua tepi ujung lidah menyentuh ujung langit langit atas/ اللِّثَة (gusi) dua gigi seri atas di bawah makhroj lam dan disertai dengan ghunnah dari hidung.

11. طَرْفُ اللِّسَانِ مَعَ مَا يُحَاذِيْهِ مِنَ اللِّثَّةِ قَرِيْبًا مِنْ مَخْرَجِ النُّوْنِ(dua tepi ujung lidah ) huruf ر ( ro )
Keluar dari dua tepi ujung lidah menyentuh ujung langit langit atas/ اللِّثَة (gusi) dua gigi seri atas dekat dengan makhroj nun, Lebih masuk sedikit kepunggung lidah di bandingkan makhroj nun serta ujung lidah agak terbuka sedikit. Ketika ro dibaca tebal maka pangkal lidah harus di angkat dan punggung lidah melengkung sebagaimana lam tafkhim.



12. ظَهْرُ رَأْسِ اللِّسَانِ مَعَ أُصُوْلِ الثَّنَايَا الْعُلْيَا ( punggung ujung lidah ) huruf ط ( tho ), د ( dal ) dan ت ( ta' )

keluar dari punggung ujung lidah menyentuh pangkal dua gigi seri atas. Ketiga huruf ini posisi ujung lidahnya sama adapun huruf ط ( tho’ ) pangkal lidahnya di angkat dan punggung lidahnya melengkung.13. مُنْتَهَى طَرْفِ اللِّسَانِ مَعَ أَسْفَلِ الصَّفْحَةِ الدَّاخِلِيَّةِ لِلثَّنَايَا السُّفْلَى فَيَخْرُجُ الصَّوْتُ مِنْ فَوْقِهَا مَارًّا بَيْنَ الثَّنَايَا الْعُلْيَا وَالسُّفْلَى

Keluar dari ujung lidah diletakkan pada dinding bagian dalam dua gigi seri bawah sehingga suara keluar melalui celah antara gigi atas dan bawah adalah huruf ص ( shod ), س ( sin ) dan ز( zai ). Posisi ujung lidah ketiga huruf ini sama, adapun hurufص (shod) pangkal lidahnya di angkat.14. طَرْفُ اللِّسَانِ مَعَ أَطْرَافِ الثَّنَايَا الْعُلْيَا huruf ظَ ( zho ), ذ ( zha ) dan ث ( tsa )

Keluar dari dua tepi ujung lidah dari arah permukaan atasnya menyentuh ujung dua gigi seri atas. Ketiga ujung lidah huruf ini posisinya sama, adapun huruf ظ ( zho ) pangkal lidahnya di angkat.Keempat: الشَّفَتَانِ ( Dua Bibir )
15. بَاطِنُ الشَّفَةِ السُّفْلَى مَعَ أَطْرَافِ الثَّنَايَا الْعُلْيَا Huruf ف ( fa )
Keluar dari Bibir bawah bagian dalam bertemu dengan ujung dua gigi seri atas.

16. انْضِمَامُ الشَّفَتَيْنِ إِلَى الأَمَامِ مَعَ ارْتِفَاعِ أَقْصَى اللِّسَانِ Huruf و ( wawu )
keluar dari dua bibir dengan memonyongkannya ke depan (manyun) disertai terangkatnya pangkal lidah.
فَالْبَاءُ تَخْرُجُ بِانْطِبَاقِ الشَّفَتَيْنِ وَالْمِيْمُ كَذَلِكَ إِلَّا أَنَّهُ يُصَاحِبُهَا غُنَّةً مِنَ الْخَيْشُوْمِ Huruf ب ( ba )
Keluar dari dua bibir dengan merapatkannya begitu juga م ( mim ) sama dengan ب ( ba ) akan tetapi di sertai dengan ghunnah dari hidung.



Kelima: الْخَيْشُوْمُ ( Rongga Hidung )
17. لَا تَخْلُو نُوْنٌ وَمِيْمٌ مِنْ غُنَّةٍ yang keluar dari rongga hidung ن ( nun ) dan م ( mim )
kedua huruf ini selalu disertai dengan ghunnah ( suara yang keluar dari hidung ).


-
-
sifat sifat huruf
-
Pengertian Sifat Huruf
Sifat huruf adalah karakteristik atau ciri-ciri yang melekat pada setiap huruf hijaiyah yang mempengaruhi cara huruf tersebut dilafalkan. Sifat huruf dibagi menjadi dua kategori utama: sifat lazimah (tetap) dan sifat ΓÇÿaridhah (temporer). Sifat lazimah adalah sifat yang selalu ada pada huruf tersebut, sedangkan sifat ΓÇÿaridhah adalah sifat yang muncul karena kondisi tertentu dalam bacaan.
Klasifikasi Sifat Huruf
Sifat Lazimah
Sifat lazimah terdiri dari beberapa karakteristik utama yang dapat dikelompokkan menjadi dua bagian: sifat yang memiliki lawan (mutadhaddah) dan sifat yang tidak memiliki lawan (ghair mutadhaddah).
Sifat Mutadhaddah (Memiliki Lawan)
- Hams (همس) dan Jahr (جهر)
- Hams: Hams adalah sifat dimana huruf dibaca dengan suara yang mengalir dan tidak terhenti karena adanya udara yang keluar dari mulut dengan lemah. Huruf-huruf yang memiliki sifat ini adalah: ف، ح، ث، ه، ش، خ، ص، س، ك، ت.
- Jahr: Jahr adalah sifat dimana huruf dibaca dengan suara yang jelas dan terhenti karena tertahannya udara di tenggorokan. Huruf-huruf yang memiliki sifat ini adalah: ب، ج، د، ذ، ر، ز، ض، ظ، غ، ع، ل، م، ن، و، ي، ق، ط، أ.
- Syiddah (شدة) dan Rakhawah (رخاوة)
- Syiddah: Syiddah adalah sifat dimana huruf dibaca dengan ketegasan dan tidak ada aliran suara karena tertahannya suara di tempat keluarnya huruf. Huruf-huruf yang memiliki sifat ini adalah: أ، ج، د، ط، ب، ك، ق، ت.
- Rakhawah: Rakhawah adalah sifat dimana huruf dibaca dengan aliran suara yang lembut karena tidak tertahannya suara di tempat keluarnya huruf. Huruf-huruf yang memiliki sifat ini adalah: ف، غ، ذ، ض، ظ، ز، ش، س، ص، خ، ح، ع، ه.
- Istifal (استفال) dan Isti’la (استعلاء)
- Istifal: Istifal adalah sifat dimana huruf dibaca dengan lidah tidak terangkat ke langit-langit mulut, sehingga suara keluar dengan ringan. Huruf-huruf yang memiliki sifat ini adalah: ب، ت، ث، ج، ح، د، ذ، ر، ز، س، ش، ع، ف، ك، ل، م، ن، ه، و، ي.
- Isti’la: Isti’la adalah sifat dimana huruf dibaca dengan lidah terangkat ke langit-langit mulut, sehingga suara keluar dengan berat. Huruf-huruf yang memiliki sifat ini adalah: خ، غ، ق، ص، ض، ط، ظ.
- Itbaq (إطباق) dan Infitah (انفتاح)
- Itbaq: Itbaq adalah sifat dimana huruf dibaca dengan rapatnya lidah ke langit-langit mulut, sehingga suara tertekan di mulut. Huruf-huruf yang memiliki sifat ini adalah: ص، ض، ط، ظ.
- Infitah: Infitah adalah sifat dimana huruf dibaca dengan terbukanya lidah dari langit-langit mulut, sehingga suara keluar dengan bebas. Huruf-huruf yang memiliki sifat ini adalah: ب، ت، ث، ج، ح، د، ذ، ر، ز، س، ش، ع، ف، ك، ل، م، ن، ه، و، ي.
- Idzlaq (إذلاق) dan Ishmat (إصمات)
- Idzlaq: Idzlaq adalah sifat dimana huruf dibaca dengan mudah dan cepat karena lidah berada di ujung mulut. Huruf-huruf yang memiliki sifat ini adalah: ف، ر، م، ن، ل، ب.
- Ishmat: Ishmat adalah sifat dimana huruf dibaca dengan sedikit kesulitan karena lidah berada di bagian tengah mulut. Huruf-huruf yang memiliki sifat ini adalah: ض، ص، ظ، ش، ق، ك، ذ، د، خ، ج، ح، غ، ت، ث، ط.
Sifat Ghair Mutadhaddah (Tidak Memiliki Lawan)
- Shofir (صفير)
- Shofir adalah sifat dimana huruf dibaca dengan suara mendesis seperti siulan. Huruf-huruf yang memiliki sifat ini adalah: ص، ز، س.
- Qalqalah (قلقلة)
- Qalqalah adalah sifat dimana huruf dibaca dengan pantulan suara ketika berharakat sukun. Huruf-huruf yang memiliki sifat ini adalah: ق، ط، ب، ج، د.
- Leen (لين)
- Leen adalah sifat dimana huruf dibaca dengan lemah dan mudah. Huruf-huruf yang memiliki sifat ini adalah: و، ي ketika berharakat sukun.
- Inhiraf (انحراف)
- Inhiraf adalah sifat dimana huruf dibaca dengan aliran suara menyimpang atau bergeser dari makhrajnya. Huruf-huruf yang memiliki sifat ini adalah: ر، ل.
- Takrir (تكرير)
- Takrir adalah sifat dimana huruf dibaca dengan getaran lidah. Huruf yang memiliki sifat ini adalah: ╪▒.
- Tafasshi (تفشي)
- Tafasshi adalah sifat dimana huruf dibaca dengan aliran suara yang tersebar. Huruf yang memiliki sifat ini adalah: ╪┤.
- Istithalah (استطالة)
- Istithalah adalah sifat dimana huruf dibaca dengan memanjangkan aliran suara di sepanjang lidah. Huruf yang memiliki sifat ini adalah: ╪╢.
Sifat ΓÇÿAridhah
Sifat ΓÇÿaridhah muncul karena kondisi tertentu dalam bacaan, seperti:
- Ikhfa (إخفاء)
- Ikhfa adalah bacaan yang ditahan dan disamarkan. Contoh: ن ketika bertemu dengan huruf tertentu seperti ت، ث، ج، د، ذ، ز، س، ش، ص، ض، ط، ظ، ف، ق، ك.
- Idgham (إدغام)
- Idgham adalah bacaan yang dilebur atau digabungkan. Contoh: ن bertemu ل atau ر atau ي atau و atau م atau ن.
- Iqlab (إقلاب)
- Iqlab adalah bacaan yang diubah menjadi huruf lain. Contoh: ن menjadi م sebelum ب.
- Izhar (إظهار)
- Izhar adalah bacaan yang ditampakkan jelas. Contoh: ن atau م bertemu huruf-huruf izhar seperti أ، هـ، ع، ح، غ، خ.
Pentingnya Memahami Sifat Huruf dalam Tajwid
Memahami sifat huruf sangat penting dalam ilmu tajwid karena:
- Meningkatkan Ketepatan Bacaan: Dengan mengetahui sifat-sifat huruf, pembaca Al-QurΓÇÖan dapat melafalkan setiap huruf dengan tepat. Hal ini penting untuk menjaga keaslian dan kesucian teks Al-QurΓÇÖan.
- Menghindari Kesalahan Makna: Kesalahan dalam melafalkan huruf dapat mengubah makna ayat Al-QurΓÇÖan. Memahami sifat huruf membantu menghindari kesalahan tersebut yang bisa mengakibatkan salah pemahaman terhadap pesan yang disampaikan dalam Al-QurΓÇÖan.
- Memperindah Bacaan: Bacaan yang sesuai dengan sifat huruf akan terdengar lebih indah dan merdu. Keindahan dalam bacaan Al-QurΓÇÖan adalah salah satu bentuk penghormatan terhadap kitab suci ini.
Kesimpulan
Sifat-sifat huruf dalam ilmu tajwid merupakan aspek fundamental yang harus dipahami oleh setiap muslim yang ingin membaca Al-QurΓÇÖan dengan benar. Dengan memahami sifat-sifat ini, pembaca dapat melafalkan huruf-huruf hijaiyah sesuai dengan aturan tajwid, meningkatkan ketepatan bacaan, dan memperindah bacaan Al-QurΓÇÖan. Semoga artikel ini dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai sifat-sifat huruf dalam ilmu tajwid dan bermanfaat bagi pembaca.
Memahami sifat-sifat huruf dalam ilmu tajwid tidak hanya membantu dalam membaca Al-QurΓÇÖan dengan benar, tetapi juga memberikan keindahan dan kekhusyukan dalam ibadah. Mari terus belajar
- Hams (همس) dan Jahr (جهر)
-
-
cara membaca nun sukun atau tanwin
-
Hukum nun sukun dan tanwin jadi salah satu cabang dalam ilmu tajwid yang patut untuk dipahami Umat Muslim. Ini dimaksudkan supaya membaca Al-Qur'an dapat dilakukan dengan baik, benar, dan tartil.
Menurut buku Modul Tajwid Alquran, karya Hadi (2021), nun sukun atau nun mati merupakan huruf nun yang tidak berharakat fathah, kasrah, maupun dhammah. Adapun, nun sukun ditandai dengan bulatan kecil di atas hurufnya.
Baca JugaDi sisi lain, tanwin adalah sebuah tanda harakat dua atau harakat ganda. Bunyi dari tanda ini mirip seperti nun mati. Tanda tanwin biasanya terletak di akhir ayat suatu surat.
Pada dalam ilmu tajwid, hukum nun sukun dan tanwin terbagi menjadi lima hukum bacaan. Di antaranya izhar halqi, idgham bigunnah, idgham bilaghunnah, iqlab, dan ikhfa haqiqi.
Baca JugaHukum Tajwid Surat An Nisa ayat 32 Beserta Artinya, Penjelasan & Cara Membacanya
Untuk lebih jelasnya, berikut iNews.id akan tampilkan informasi mengenai hukum nun sukun dan tanwin yang dirangkum dari berbagai sumber, Selasa (5/3/2024).
Hukum Nun Sukun dan Tanwin
1. Izhar Halqi
Suatu bacaan akan berhukum izhar halqi jika nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu huruf alif ( ا ), ha' (ح), kha' (خ), 'ain (ع), ghain (غ), dan ha' (ه).
Baca JugaHukum Tajwid Surat Al Ankabut Ayat 44, Disertai Penjelasan dan Cara Membacanya
Izhar halqi artinya jelas. Berarti, jika menemukan suatu bacaan hukum ini, bacanya harus jelas dan tidak mendengung.
Contoh Bacaan Izhar Halqi:
Baca Juga12 Contoh Hukum Tajwid dalam Al Quran dan Jenisnya selain Mad
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ
Cara membaca: Fashalli lirabbika wan har.
Baca JugaHukum Tajwid Surat Ali 'Imran Ayat 93 Beserta Penjelasan dan Cara Membacanya
2. Idgham Bigunnah
Secara bahasa, idgham memiliki arti meleburkan atau memasukkan. Sedangkan, secara istilah idgham berarti memasukkan nun mati atau tanwin ke huruf mim mim (م), nun (ن), wau (و), dan ya' (ي).
Adapun, cara membaca idgham bigunnah adalah mendengung selama dua harakat atau satu alif.
Contoh Bacaan Idgham Bighunnah:
غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ
Cara membaca: Gisy─üwatuw wa lahum.
3. Idgham Bilaghunnah
Hukum bacaan idgham bigunnah terjadi jika nun sukun atau tanwin bertemu dengan huruf ra' (ر) dan lam (ل). Cara membacanya adalah dengan memasukkan nun sukun dan atau tanwin ke dalam huruf setelahnya tanpa mendengung.
Contoh Bacaan Idgham Bilaghunnah:
يَكُنْ لَّهُ
Cara membaca: Yakul-lahu.
4. Iqlab
Bacaan iqbal terjadi jika setiap nun siku atau tanwin bertemu dengan huruf ba. Cara membacanya yakni dengan menyuarakan huruf nun sukun atau tanwin menjadi suara min. Cara pengucapannya adalah dengan merapatkan dua bibir atau mendengung.
Contoh Bacaan Iqlab:
كَلَّا ۖ لَيُنبَذَنَّ فِي الْحُطَمَةِ
Cara membaca: Kallā layumbażanna fil-ḥuṭamah.
5. Ikhfa Haqiqi
Ikhfa haqiqi secara bahasa memiliki arti menutup atau tersembunyi. Hukum bacaan ini terjadi jika nun sukun dan tanwin bertemu dengan 15 huruf hijaiyah. Di antaranya kaf ( ك ), qaf ( ق ), fa’ ( ف ), zha ( ظ ), tha ( ط ), dhad ( ض ), shad ( ص ), syin ( ش ), sin ( س ), za’ ( ز ), dzal ( ذ ), dal ( د ), jim ( ج ), tsa’ ( ث ), dan ta’ ( ت ).
Contoh Bacaan Ikhfa:
إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرً
Cara membaca: Innahụ kāna ḥụbang kabīrā.
-
-
hukum tajwid
-
enis Hukum Tajwid ini perlu dipahami oleh setiap muslim, mengingat hukum mempelajari ilmu tajwid adalah fardhu kifayah dan akan menjadi fardhu ain atau wajib dalam pengamalannya ketika membaca Al Quran. Secara bahasa, tajwid merupakan al-tahsin atau membaguskan. Sedangkan menurut istilah yaitu, mengucapkan setiap huruf sesuai dengan makhrajnya menurut sifat-sifat huruf yang mesti diucapkan, baik berdasarkan sifat asalnya maupun berdasarkan sifat-sifatnya yang baru. Dengan mempelajari hukum tajwid , seorang muslim akan mengetahui kapan waktu bacaan harus dibaca panjang, pendek, mendengung, atau jelas. 29 Jenis Hukum Tajwid 1. Izhar Halqi Izhar Halqi adalah hukum bacaan ketika ada nun mati atau tanwing bertemu dengan huruf alif ( ا ), ha' (ح), kha' (خ), 'ain (ع), ghain (غ), dan ha' (ه). Bila ada kalimat di Al Quran yang sesuai dengan ciri tersebut maka harus dibaca jelas dan tidak mendengung. Karena secara bahasa "izhar halqi" berarti jelas atau nampak. Contoh : فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ Dalam bacaan tersebut terdapat nun mati yang bertemu huruf ha' (ح), sehingga dibaca "fashalli lirabbika wan har". 2. Idgham Bigunnah Idgham Bigunnah terjadi ketika nun sukun atau tanwin bertemu dengan huruf mim (م), nun (ن), wau (و), dan ya' (ي). Cara membacanya adalah dengung selama dua harakat. Contoh : غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ Dalam bacaan tersebut terdapat dhammah tanwin bertemu dengan huruf wau (و). Sehingga dibaca "Gisyāwatuw wa lahum". 3. Idgham Bilagunnah Idgham bilaghunnah adalah hukum bacaan yang terjadi ketika nun sukun atau tanwin bertemu dengan huruf ra' (ر) dan lam (ل). Cara membacanya adalah dengan dengan memasukkan nun sukun atau tanwin tersebut ke dalam huruf setelahnya tanpa dengung. Contoh : يَكُنْ لَّهُ Dalam bacaan tersebut terdapat nun sukun yang bertemu huruf lam (ل), dibaca "yakul-lahu". 4. Iqlab Iqlab ini terjadi bila nun sukun atau tanwin bertemu dengan huruf ba. Cara membacanya adalah mengganti nun mati atau tanwin dengan huruf ba disertai dengung. Contoh : وَجَعَلْنَا مِنْۢ بَيْنِ Bacaan tersebut dibaca "waja’alnaa mim baini", terlihat bagaimana nun sukun digantikan huruf ba dengan dengung. 5. Ikhfa Hakiki Ikhfa Hakiki merupakan hukum bacaan nun sukun dan tanwin yang bertemu dengan huruf hijaiyah yang belum disebutkan di atas. Sehingga huruf ikhfa hakiki ini diantaranya, kaf ( ك ), qaf ( ق ), fa’ ( ف ), zha ( ظ ), tha ( ط ), dhad ( ض ), shad ( ص ), syin ( ش ), sin ( س ), za’ ( ز ), dzal ( ذ ), dal ( د ), jim ( ج ), tsa’ ( ث ), dan ta’ ( ت ). Cara membaca ikhfa haqiqi ini adalah disamarkan atau didengungkan selama dua harakat. Karena secara bahasa ikhfa hakiki adalah menutup atau tersembunyi. Contoh : مِن دُونِهِمَا Dalam bacaan tersebut ada nun mati yang bertemu dengan huruf dal ( د ), dibaca "Minnnn duunihimaa". 6. Ikhfa Syafawi Ikhfa syafawi akan terjadi apabila huruf mim sukun (مْ) bertemu dengan huruf ba (ب). Hukum membaca ikhfa syafawi adalah dengan menyamarkan atau menyembunyikan huruf mim sukun.
Artikel ini telah diterbitkan di halaman SINDOnews.com pada Jum'at, 16 Februari 2024 - 16:23 WIB oleh Rizky Darmawan dengan judul "29 Jenis Hukum Tajwid Beserta Contoh dan Penjelasanya". Untuk selengkapnya kunjungi:
https://kalam.sindonews.com/read/1322901/68/29-jenis-hukum-tajwid-beserta-contoh-dan-penjelasanya-1708074154
Untuk membaca berita lebih mudah, nyaman, dan tanpa banyak iklan, silahkan download aplikasi SINDOnews.
- Android: https://sin.do/u/android
- iOS: https://sin.do/u/ios
-
-
idhom
-
Pengertian Idgham
Idgham secara harfiah berarti memasukkan atau melebur. Sementara pengertian idgham secara istilah adalah meleburkan nun mati (نْ) atau tanwin (ـًـــٍـــٌ) menjadi satu huruf bertasydid apabila bertemu dengan salah satu huruf idgham.
Huruf idgham yang dimaksud adalah lam (ل), ra (ر), wau (و), mim (م), nun (ن), ya (ي).
Tujuan utama dari hukum bacaan idgham adalah untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam melafalkan kata-kata yang mengandung kombinasi huruf-huruf tersebut.
Dengan menggabungkan suara kedua huruf tersebut, maka pengucapan kata-kata dalam Al Quran akan terdengar lebih teratur.
Macam-Macam Idgham dan Contohnya
Pilihan Redaksi
Hukum Bacaan Izhar: Pengertian, Macam, dan Contohnya
Hukum Bacaan Iqlab: Pengertian, Cara Baca, dan Contohnya
Hukum Bacaan Ikhfa: Pengertian, Contoh, dan Cara Baca
Bacaan idgham terbagi menjadi dua jenis, yaitu idgham bighunnah dan idgham bilaghunnah.
Kedua hukum bacaan ini memiliki perbedaan pada cara membacanya.
Berikut penjelasan serta contoh bacaan dari kedua jenis Idgham tersebut, menurut buku Metode Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur'an (2020) oleh Mursal Aziz dan Zulkipli Nasution.
1. Hukum bacaan idgham bighunnah
Idgham bighunnah merupakan hukum bacaan Al Quran yang cara membacanya dilakukan dengan dengung (ghunnah) apabila nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu dari empat huruf idgham bighunnah, yaitu wau (و), mim (م), nun (ن), ya (ي).
Pada kondisi ini, nun mati atau tanwin wajib dibaca berdengung dengan meleburkan suara ke dalam huruf setelahnya.
Perlu diingat bahwa hukum bacaan idgham bighunnah hanya berlaku ketika huruf tersebut bertemu dalam dua kata terpisah.
Karena apabila bertemu dalam satu kata bersambung, maka hukum bacaan dapat berubah menjadi izhar mutlaq yang artinya harus dibaca jelas.
Perhatikan contoh idgham bighunnah pada Surah Al-Baqarah ayat 8 berikut.
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ
Pada kata "مَنْ يَّقُوْلُ" dalam ayat tersebut, terdapat nun mati (نْ) bertemu dengan huruf idgham bighunnah ya (ي) dalam dua kata terpisah.
Artinya, kata tersebut harus dibaca dengung sehingga terdengar menjadi "may yaqụlu".
Perhatikan lagi contoh idgham bighunnah berikutnya yaitu pada Surah Al-Lahab ayat 1.
تَبَّتْ يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّۗ
Pada kata " لَهَبٍ وَّتَبَّۗ" dalam ayat tersebut, terdapat tanwin (ــٍــ) bertemu dengan huruf idgham bighunnah wau (و).
Cara membacanya yaitu dengan melebur tanwin ke dalam huruf wau (و) dengan disertai dengungan sehingga terdengar seperti "lahabiw wa tabb".
Lihat Juga :
Mengenal 30 Huruf Hijaiyah dan Tanda Bacanya dalam Alquran
2. Hukum bacaan idgham bilaghunnah
Idgham bilaghunnah adalah kebalikan dari idgham bighunnah. Secara bahasa, bilaghunnah artinya yaitu tanpa dengung.
Pengertian dari idgham bilaghunnah adalah hukum bacaan yang dibaca dengan cara memasukkan atau melebur tanpa berdengung.
Hukum bacaan ini terjadi ketika nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu huruf idgham bilaghunnah yaitu ra (ر) dan lam (ل).
Cara membacanya tidak boleh berdengung, tetapi harus melebur nun mati atau tanwin ke dalam huruf yang ada di depannya.
Perhatikan contoh bacaan idgham bilaghunnah pada Surat Al-Baqarah ayat 24.
فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا وَلَنْ تَفْعَلُوْا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِيْ وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ اُعِدَّتْ لِلْكٰفِرِيْنَ
Pada kata "فَاِنْ لَّمْ" dalam ayat tersebut, nun mati (نْ) bertemu dengan huruf idgham bilaghunnah lam (ل).
Maka, cara membacanya yaitu dengan meleburkan nun mati ke dalam huruf lam tanpa ada dengung sehingga terdengar seperti "Fa il lam".
Contoh bacaan idgham bilaghunnah berikutnya pada Surat Al-Qori'ah ayat 7.
فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍۗ
Pada kata " عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍۗ" dalam ayat tersebut, terdapat tanwin (ــٍــ) bertemu dengan huruf idgham bilaghunnah ra (ر).
Cara membacanya yaitu dengan meleburkan tanwin ke dalam huruf ra tanpa dengung sehingga terdengar seperti "'īsyatir rāḍiyah".
Demikianlah penjelasan dari macam-macam hukum bacaan idgham serta contohnya. Selamat belajar!
Baca artikel CNN Indonesia "Hukum Bacaan Idgham Bighunnah dan Bilaghunnah beserta Contoh" selengkapnya di sini: https://www.cnnindonesia.com/edukasi/20230614154514-569-961819/hukum-bacaan-idgham-bighunnah-dan-bilaghunnah-beserta-contoh.
Download Apps CNN Indonesia sekarang https://app.cnnindonesia.com/
-
-
mad dan cara membacanya
-
Ketika membaca Al-Quran, sangat penting untuk mengetahui bagaimana setiap hukum bacaan tersebut. Salah satu hukum bacaan itu adalah mad. Ada macam-macam mad yang perlu diketahui. Secara bahasa, mad memiliki arti yaitu panjang. Sehingga, apabila menemui hukum bacaan mad ketika membaca Al-Quran, janganlah memendekkan bacaan tersebut.
Mad sendiri memiliki berbagai macam jenis.Berikut ini penjelasan lengkap tentang macam-macam mad.
1. Mad thabiΓÇÖi
Mad thabi'i adalah hukum mad yang asli dan masih murni, dimana Mad artinya panjang dan Thabi'i artinya biasa. Mad thobi'i ini terjadi jika:
- Huruf berharakat fathah yang bertemu dengan alif
- Huruf berharakat kasrah yang bertemu dengan ya sukun
- Huruf berharakat dhammah yang bertemu dengan waw sukun
Adapun cara membacanya yaitu harus panjang dua harakat yang disebut dengan satu alif. Berikut contohnya:
سمِيْعٌ dibaca: Samii'un
يَقُوْلُ dibaca: Yaquulu
كتَا بٌ dibaca: Kitaabun
Artikel ini telah tayang di Idntimes.com dengan judul "Penjelasan Lengkap Tentang Macam Macam Mad dan Cara Membacanya".
Klik untuk baca: https://www.idntimes.com/life/education/cynthia-nanda/penjelasan-lengkap-tentang-macam-macam-mad-dan-cara-membacanya.
-
-
latihan membaca mad
-
Seperti diketahui, membaca Alquran merupakan salah satu ibadah. Namun, membaca Alquran harus dilakukan dengan benar atau tartil. Mengenai hal itu, Allah SWT berfirman dalam salah satu ayat yang artinya, "Bacalah Al-Quran dengan tartil." (QS. Al-Muzzamil : 4)Agar dapat membaca Al-Quran dengan tartil, umat Islam harus mempelajari ilmu tajwid, salah satunya hukum mad. Lantas, bagaimanakah cara membaca mad dan contohnya? Simak penjelasan berikut.
Cara Membaca Hukum Mad dan Contohnya

Perbesar
Ilustrasi hukum mad. Foto: Unsplash Mnegutip buku Dasar-dasar Ilmu Tajwid oleh Marzuki dan Choirol Ummah, cara membaca mad adalah dengan memanjangkan suara ketika bertemu huruf mad seperti berikut:- Huruf wawu mati ( وْ ) yang berada setelah huruf yang berharakat dhammah ( ُ- ).
- Huruf ya' mati ( يْ ) yang berada setelah huruf yang berharakat kasrah ( ِ- ).
- Huruf alif ( ا ) yang berada setelah huruf berharakat fathah ( ﹷ )
ADVERTISEMENTBerikut contoh hukum mad:- Wawu mati (QS. Al-Bayyinah : 2) = رَسُولٌ
- Ya' mati (QS. Al-Anbiyaa : 15) = خَٰمِدِينَ
- Alif (QS. Al-Baqarah : 183) = الصِّيَامُ
Adapun hukum mad dibagi menjadi dua, yakni mad thabi'i dan mad far'i. Mad thabi'i artinya dibaca panjang dua harakat (dua ketukan) jika huruf mad tidak bertemu dengan huruf mati/sukun (ه) dan hamzah (ء).Sedangkan, mad far'i adalah cabang dari mad thabi'i atau mad thabi'i yang sudah berubah cara dibacanya karena beberapa sebab. Salah satu sebabnya adalah mad jaiz munfasil.Pengertian Mad Jaiz MunfasilMad jaiz munfasil adalah mad thabi'i yang bertemu dengan hamzah, namun tidak dalam satu kata. Cara membacanya adalah dipanjangkan sampai dua setengah alif atau lima harakat.ADVERTISEMENTPemahaman tentang mad jaiz munfasil ini juga dijelaskan dalam Kitab Hidayatush Shibyan sebagai berikut:"Apabila ada huruf mad yang bertempat di akhir kata setelah itu terdapat hamzah yang bertempat di kata yang lain setelahnya dan tidak ada yang memisahkan antara mad dan hamzah tersebut, maka disebut mad jaiz munfasil seperti lafadz لا اِليَ."Contoh Mad Jaiz MunfasilBerikut contoh mad jaiz munfasil yang dibaca panjang lima harakat karena mad thabi'i bertemu hamzah berharakat fathah pada dua kata yang terpisah.قُوْٓا اَنْفُسَكُمْالَّذِي أَطْعَمَهُمْفِيهَا أَبَدًا ۖ(AFM)Baca Lainnya

Polling: Skype Mau Tutup Layanan, Kamu Masih Pakai?
kumparanTECH997 Pemilih ┬╖ Polling telah berakhirMasih9.13%Enggak67.40%Tidak pernah pakai sama sekali23.47%00:46Sri Mulyani: Saya Tidak MundurkumparanBISNIS00:53Pengangkatan CPNS Dipercepat Juni 2025, PPPK Oktober 2025kumparanBISNIS01:449 Pemain Keturunan di Timnas Wanita IndonesiakumparanBOLANITA00:41Struick soal STY & KluivertkumparanBOLA00:46Diks atau Hilgers, Siapa yang Pakai Nomor 2?kumparanBOLA01:35Kronologi Meninggalnya Komedian Mat SolarkumparanHITS00:41Toyota Hilux Rangga Dibikin SUV 7-SeaterkumparanOTO00:31Dasco Datangi BEI, IHSG Mulai ReboundkumparanBISNIS01:18Tangis Rieke Perjuangkan Ganti Rugi Tanah Mat Solar Rp 3,3 MkumparanNEWS01:08Pilih Jalan Mundur, Ketimbang Cari Putar Balik!kumparanOTO
-
-
UJIAN AHIR SEMESTER BBQ
-
MAHASISWA MENGERJAKAN SOAL UJIAN BBQ
-



