Kepemimpinan sering kali diuji bukan saat kondisi organisasi berjalan normal, tetapi ketika konflik muncul dan keputusan harus diambil di tengah tekanan. Dalam konteks ini, mahasiswa diminta menganalisis bagaimana seorang pemimpin menggunakan kekuasaan yang dimilikinya untuk mengelola konflik secara produktif. Diskusikan apakah penggunaan kekuasaan yang bersifat formal (jabatan) lebih efektif dibandingkan kekuasaan berbasis pengaruh (relasi dan kepercayaan) dalam menyelesaikan konflik di organisasi modern, khususnya di Indonesia. Sertakan pandangan kritis mengenai bagaimana perbedaan gaya kepemimpinan laki-laki dan perempuan memengaruhi cara konflik ditangani, serta dampaknya terhadap suasana kerja dan kinerja tim. Jangan hanya menjelaskan, tetapi tunjukkan hubungan sebab-akibat yang jelas dengan contoh nyata atau pengalaman empiris.
Selanjutnya, refleksikan bagaimana konflik yang tidak terkelola dengan baik dapat berdampak pada kinerja dan pendapatan tenaga kerja dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Apakah konflik selalu merugikan, atau justru dapat menjadi sumber inovasi jika dikelola dengan tepat? Uraikan bagaimana peran pemimpin dalam memastikan bahwa hasil dari peningkatan kinerja dapat dirasakan secara adil oleh seluruh anggota tim, tanpa memperlebar kesenjangan antara laki-laki dan perempuan. Diskusi ini diharapkan tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi mampu memberikan rekomendasi strategis yang relevan dengan kondisi organisasi di Indonesia, baik di sektor publik maupun swasta