Mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi dalam Community-Based Tourism (CBT) adalah kunci pariwisata berkelanjutan yang sejalan dengan kerangka Triple Bottom Line (People, Planet, Profit) dan SDGs. Integrasi ini memastikan pariwisata tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi, tetapi juga memberdayakan masyarakat dan melestarikan lingkungan melalui pengaturan daya dukung (carrying capacity).




Berikut adalah panduan integrasi tersebut:
1. Integrasi Aspek TBL dalam CBT (Triple Bottom Line - 3P)
CBT yang sukses menggunakan pendekatan Triple Bottom Line untuk menyeimbangkan tujuan ekonomi dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan:
· Planet (Aspek Lingkungan): CBT mendorong konservasi berbasis masyarakat. Komunitas lokal menjaga keaslian alam karena sadar bahwa lingkungan adalah modal utama pariwisata mereka. Contoh: pengelolaan sampah mandiri, perlindungan ekosistem, dan pelarangan penggunaan plastik.
· People (Aspek Sosial-Budaya): Pariwisata harus memberdayakan masyarakat lokal, mempertahankan kearifan lokal, dan menghormati adat istiadat setempat. Partisipasi aktif masyarakat dari perencanaan hingga pengelolaan adalah kuncinya, yang juga meningkatkan kebanggaan dan kesejahteraan sosial.
· Profit (Aspek Ekonomi): CBT memastikan manfaat ekonomi langsung mengalir ke masyarakat lokal, bukan hanya ke pihak luar (toko oleh-oleh, pemandu lokal, homestay milik warga).
2. Hubungan CBT dengan SDGs
CBT secara langsung berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs):
· SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) & SDG 8 (Pekerjaan Layak & Pertumbuhan Ekonomi): CBT menciptakan lapangan kerja (pemandu, homestay) dan mendiversifikasi ekonomi perdesaan.
· SDG 12 (Konsumsi & Produksi Bertanggung Jawab): Melalui edukasi wisatawan untuk berwisata ramah lingkungan.
· SDG 15 (Ekosistem Daratan/Laut): Perlindungan area wisata oleh masyarakat lokal.
3. Implementasi Carrying Capacity (Daya Dukung)
Integrasi carrying capacity sangat penting agar pariwisata tidak melampaui batas toleransi lingkungan dan sosial.
· Fisik & Ekologis: Menghitung jumlah maksimum pengunjung yang dapat ditampung destinasi tanpa merusak lingkungan (contoh: 4.812 wisatawan di Gili Trawangan).
· Sosial-Ekonomi: Mengelola jumlah wisatawan agar tidak terjadi overtourism yang mengganggu kenyamanan hidup masyarakat lokal.
· Manajemen: Dalam praktik tahun 2026, integrasi daya dukung dilakukan melalui pengaturan kuota pengunjung dan zonasi aktivitas untuk menjaga keseimbangan jangka panjang.
4. Strategi Mengintegrasikan Semuanya
Untuk mengintegrasikan aspek-aspek tersebut, diperlukan langkah-langkah konkret:
· Tata Kelola Kolaboratif: Melibatkan kelompok sadar wisata (pokdarwis), pemerintah desa, dan pelaku bisnis.
· Perencanaan Partisipatif: Masyarakat terlibat langsung memutuskan zonasi mana yang boleh dikunjungi dan mana yang harus dikonservasi.
· Edukasi & Monitoring: Melatih masyarakat dalam manajemen pariwisata berkualitas, serta memantau dampak lingkungan secara berkala.
Kesimpulan:
Integrasi CBT, TBL, SDGs, dan carrying capacity menciptakan model pariwisata di mana masyarakat lokal berdaya secara ekonomi (Profit), budaya lokal lestari (People), lingkungan terjaga (Planet) dalam batas kemampuan wilayah (Carrying Capacity), yang semuanya bertujuan menciptakan kesejahteraan berkelanjutan (SDGs).



Contoh kasus:
Metode:
Presentasi kelompok
Tugas:
Analisis komparatif model CBT