Berdasarkan hasil studi dan laporan terbaru tahun 2024-2026, Community-Based Tourism (CBT) atau Pariwisata Berbasis Masyarakat di Indonesia menunjukkan peran penting masyarakat lokal sebagai pengelola utama dan penerima manfaat ekonomi, yang bertujuan untuk keberlanjutan sosial dan lingkungan.


Berikut adalah identifikasi studi kasus CBT yang berhasil dan menonjol di Indonesia:
1. Desa Wisata Nglanggeran (Gunungkidul, Yogyakarta)
· Fokus: Ekowisata berbasis edukasi dan alam (Gunung Api Purba).
· Studi Kasus: Pengelolaan dilakukan oleh Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) yang melibatkan masyarakat dalam mengelola homestay, paket edukasi cokelat, dan pemanduan, sehingga berhasil meningkatkan PADes (Pendapatan Asli Desa).



2. Desa Wisata Pemuteran (Buleleng, Bali)
· Fokus: Konservasi pesisir dan restorasi terumbu karang (Biorock).
· Studi Kasus: Mendapat penghargaan Best Tourism Village 2025 dari UN Tourism. Keberhasilannya didasarkan pada partisipasi aktif masyarakat dalam melindungi ekosistem laut yang menjadi daya tarik utama, menciptakan keseimbangan antara konservasi dan ekonomi.


3. Desa Wisata Cibuntu (Kuningan, Jawa Barat)
· Fokus: Wisata budaya, sejarah, dan alam.
· Studi Kasus: Mengimplementasikan CBT dengan melibatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Pokdarwis secara kolaboratif. Desa ini diakui secara nasional dan internasional karena pemberdayaan masyarakatnya yang kuat.



4. Desa Wisata Wae Rebo (Flores, NTT)
· Fokus: Ekowisata budaya dan pelestarian arsitektur tradisional.
· Studi Kasus: Komunitas lokal mengintegrasikan pengalaman budaya (tracking, homestay) dengan pelestarian budaya. Highlight dari model ini adalah manajemen keuangan yang transparan dan pembagian manfaat yang adil untuk pendidikan dan kesehatan desa.



5. Desa Wisata Ketenger (Banyumas, Jawa Tengah)
· Fokus: Wisata alam dan budaya (Curug Bayan).
· Studi Kasus: Komunitas bertindak sebagai subjek pengembang, bukan hanya objek. Hasilnya adalah peningkatan keterampilan dan kesadaran pariwisata pada masyarakat lokal.



6. Desa Wisata Sanankerto (Malang, Jawa Timur)
· Fokus: Ekowisata berbasis konservasi bambu (Boon Pring).
· Studi Kasus: Mengubah lahan yang kurang produktif menjadi daya tarik wisata berbasis konservasi, dan mendapatkan berbagai penghargaan atas inisiatif CBT-nya.


Faktor Kunci Keberhasilan (Studi 2025-2026)
Studi menunjukkan bahwa keberhasilan CBT di Indonesia didorong oleh:
· Komitmen Pemimpin Lokal: Peran Kades dan tokoh masyarakat.
· Partisipasi Aktif Masyarakat: Keterlibatan dalam Pokdarwis dan BUMDes.
· Pelestarian Budaya/Lingkungan: Fokus pada keaslian dan konservasi.
· Kolaborasi Stakeholder: Sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan swasta.
· Digitalisasi: Penggunaan teknologi untuk promosi desa wisata.
Tantangan yang Teridentifikasi
Meskipun sukses, beberapa studi menunjukkan tantangan seperti:
· Minat wisatawan yang bersifat musiman.
· Keterbatasan kapasitas SDM di beberapa wilayah.
· Perlunya integrasi antara peraturan pemerintah dan pengelolaan tingkat desa.




Sub-Capaian:
Mahasiswa mampu menyusun rencana partisipatif berbasis musyawarah.
Mahasiswa mampu:
1. Memahami konsep perencanaan partisipatif dalam CBT.
2. Menguasai teknik Focus Group Discussion (FGD).
3. Menyusun rencana wisata berbasis musyawarah masyarakat.
4. Menyusun laporan hasil FGD simulatif secara sistemati
Materi:
Metode:
Simulasi FGD kelas
Tugas:
Laporan hasil FGD simulatif