Konflik yang terjadi di Laut China Selatan  sudah sejak lama berlangsung dan belum menemui titik penyelesaian. Intensitas konflik yang terjadi di Laut Cina Selatan kembali memanas saat terjadi konflik antara Cina dengan negara terbesar di Asia tenggara yaitu Indonesia. Penyebab konflik lebih spesifik diantaranya pihak Indonesia menyatakan pelanggaran coast guard China terhadap hak berdaulat dan yuridiksi Indonesia di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif dan landasan kontinen di Kepulauan Natuna dan kapal China menghalang-halangi penegakan hukum oleh aparat Indonesia. Sengketa Cina dan Indonesia terjadi di Laut Cina Selatan terkait sengketa yang terjadi di Kepulauan Natuna yang juga tidak bisa tidak dipandang kritis. 
Pertama, kasus-kasus pelanggaran batas wilayah merupakan refleksi lemahnya postur pertahanan laut (maritim) dan pentingnya penguasaan pengamanan laut sebelum pelanggaran batas wilayah kembali terjadi. Letak geografis Indonesia yang berada pada jalur silang dua samudera (Hindia dan Pasifik).
Kedua, lemahnya cara-cara diplomasi pemerintah indonesia. Indikator lemahnya jalur diplomatik indonesia dapat diukur dari cara pemerintah meyakinkan China.
Ketiga, politik regional Asia Pasifik. Perubahan kekuatan (power shift) di kawasan Asia-Pasifik dapat dikarakteristikan ke dalam empat kecenderungan, yaitu kebangkitan China, berlanjutnya dominasi Amerika Serikat, revitalisasi peran keamanan Jepang, dan munculnya India sebagai potensial major power di kawasan. Dari keempat negara besar tersebut, China dan Amerika Serikat merupakan dua aktor utama yang menjadi kunci stabilitas kawasan. Kebangkitan China yang ditopang oleh kekuatan pertumbuhan ekonominya yang besar telah menjadikan China sebagai kekuatan dominan di Asia. 
Namun, Indonesia tidak boleh kehilangan strategi jangka panjang dengan memperhatikan segala penjuru untuk semua perumusan kebijakan luar negeri yang diambil. Dengan demikian Indonesia tetap tidak harus bersikap lunak dalam derajat konflik tertentu. Perlu dilihat bahwa Kebijakan luar negeri yang diambil harus mempertimbangkan dampak berkelanjutan seperti memperhitungkan dampak bagian mana yang paling banyak merugikan dan bagian mana yang paling banyak menguntungkan terhadap signifikan pengaruh geopolitik kawasan.