Nama : Vera Wati
NPM : 1912128023P
Menurut artikel yang saya baca, Geopolitik pada awalnya didasarkan oleh konsep ruang yang tunggal, dimana didefinisikan sebagai batas-batas fisik antar negara atau batas geografi. Tetapi kini, pemaknaan ruang sendiri terpaksa diperluas seiring pudarnya batas-batas geografis negara akibat pengaruh globalisasi. Manusia butuh negara dan negara butuh ruang hidup. Ruang hidup dalam era globalisasi mencakup keseluruhan kumpulan fakta, yang ada pada suatu saat, yang mempengaruhi atau menentukan tingkah laku. Dalam memelihara dan menjaga ruang hidup secara fisik (wilayah) dan non fisik (psikologi dan dunia maya) dibutuhkan landasan geopolitik Indonesia sebagai identitas dan tujuan bersama dalam dunia yang semakin abstrak dan dinamis. Landasan yang dapat dipakai adalah wawasan nusantara yang melahirkan suatu konsep ketahanan nasional yang bertumbuh pada perwujudan keutuhan negara Republik Indonesia.
Dunia sempat berada dalam fase geopolitik multipolar dimana kekuatan terbagi dalam dua kubu besar yaitu blok barat dan timur. Kemudian, Amerika menjadi negara super power tunggal di dunia dan fase geopolitik beranjak ke unipolar. Namun, nampaknya dunia akan kembali ke fase multipolar karena saat ini kekuatan tidak hanya terkonsentrasi pada Amerika saja, namun juga pada negara seperti Republik Rakyat China (RRC) dan negara-negara lain yang terus berkembang. China dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan manuver-manuvernya dalam rangka mengejar ambisinya menggeser Amerika sebagai negara superpower di dunia. 
Dalam kondisi global ini, Indonesia mempunyai dua pilihan sikap, yang pertama adalah tetap mengikuti arus globalisasi dan berusaha mengambil keuntungan dari peristiwa-peristiwa yang terjadi seperti pada kasus megaproyek China dan perang dagang AS-China di atas. Dan yang kedua adalah mengisolasi diri dari arus globalisasi dan berusaha menyusun rencana yang minim dari pengaruh intervensi dunia luar seperti yang dilakukan AS dan Inggris saat ini. Pertimbangannya adalah globalisasi tidak selalu menguntungkan bagi setiap negara. Seperti pada dua negara yang dahulunya mempromosikan globalisasi yaitu AS dan China, memilih untuk menarik diri dari berbagai kesepakatan dunia dan kembali berfokus pada negaranya masing-masing. Indonesia juga cenderung fokus ke pembangunan dalam negeri, seperti pembangunan infrastruktur yang gencar dilakukan dalam 5 tahun terakhir. Maka dari itu, pertahanan dan keamanan negara merupakan unsur penting dalam era industri 4.0, karena pada zaman ini serangan yang mematikan tidak hanya berasal dari mesiu tetapi juga dari kombinasi algoritma dan data. Ketika perang-perang kuno dengan senapan dan granat sudah sedikit terjadi, sekarang muncul model perang baru yang tidak kasat mata sehingga lebih sulit dideteksi dan diantisipasi. Diperlukan penguatan sektor militer dengan mengimplementasikan teknologi industri 4.0 seperti Internet of Things (IoT), Big Data, dan Artificial Intellegence yang dapat membantu dalam perencanaan dan peningkatan kefektifan organisasi pertahanan negara.