Diskusi Pertemuan 10

Diskusi Pertemuan 10

Jumlah balasan: 14

Sukhihottu ,Namo Buddhaya

Untuk pertemuan hari ini coba anda jelaskan perlukah kita beragama memiliki sikap Fanatisme dan mengapa Radikalisme indentik dengan kekerasan ! mohon dikerjakannya saat Jam Perkuliaah di mulai..Terima Kasih!

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi Pertemuan 10

oleh Meilinda Dharma Kencana -

  • Menurut saya tidak karena┬áFanatisme dapat menimbulkan perilaku agresif. Sekaligus, sikap demikian memperkuat keadaan individu yang mengalami deindividuasi untuk lebih tidak terkontrol perilakunya.┬á
  • Karena┬áRadikalisme merupakan paham yang menginginkan perubahan dengan cara kekerasan. Radikalisme juga merupakan sikap tidak toleran, tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain, cenderung menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan. Kaum radikal selalu merasa kelompok mereka yang paling memahami. Atau, mereka menganggap orang lain tidak memahami.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi Pertemuan 10

oleh Kel Vin -
menurut saya, fanatisme dapat memperkuat individu yang menjadi tidak terkontrol dan terlalu fanatik serta menimbulkan perilaku yang agresif, sedangkan radikalisme di negara kita Indonesia, muncul karena perbedaan penafsiran terhadap ideologi dalam menafsirkan kitab suci. Artinya permasalahan kecil pun dapat menjadi masalah besar dan akan sangat berpengaruh terhadap perdamaian di negeri ini. Cara pandang seperti itulah yang dapat menimbulkan perspektif yang berbeda
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi Pertemuan 10

oleh Suhenny Handoko -
- Fanatisme adalah keyakinan atau pandangan tentang sesuatu. Misalnya, keyakinan kepada Tuhan yg maha esa.
Menurut saya, kita perlu memiliki sikap fanatisme, tetapi jgn berlebihan. Jika berlebihan, fanatisme dapat menimbulkan perilaku agresif dan tidak terkontrol perilakunya, jadi bisa saja merugihkan orang lain.

- Dan radikalisme adalah paham yang menginginkan perubahan dengan cara kekerasan. Dari pengertian nya saja kita sudah paham bahwasanya radikalisme itu identik dengan kekerasan.
Radikalisme adalah sikap tidak memiliki toleransi, tidak menghargai pendapat orang lain, jadi cenderung menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan .
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi Pertemuan 10

oleh Nyoman Yelly Destavianus -
1. Kita sebagai umat beragama tentunya harus memiliki sikap fanatisme. Fanatisme disini bukan merupakan suatu hal negatif seperti biasanya yg kita ketahui, melainkan fanatisme yang berada pada pegangan dan pemahaman masing-masing agama.
Jadi, Fanatisme sebenarnya adalah sebuah konsekuensi seseorang yang percaya pada suatu agama, bahwa apa yang dianutya adalah benar. Paham ini tentu akan berdampak positif pada seseorang karena yang bersangkutan akan mengaplikasikan dan merefleksikan segala hukum dalam kehidupan sehari-hari. Karena pada dasarnya, tidak ada satu agama pun yang mengajarkan kekerasan, peperangan dan permusuhan. Dengan fanatisme dalam beragama, seseorang tidak akan mencampur adukan kebenaran agamanya dengan kebenaran yang lain. Kiranya kita perlu membedakan makna kata fanatisme dalam berbagai hal. Jika berkaitan dengan agama, fanatisme hukumnya wajib. Tetapi jika dikaitkan dengan politik, paham (golongan, suku, ras dll), termasuk kebudayaan, maka fanatisme harus dihilangkan. Fanatisme yang merusak adalah fanatisme yang dikaitkan dengan segala hal yang berkiatan dengan paham manusia atau hasil pikiran manusia.

2. Radikalisme pada dasarnya merupakan paham atau aliran
yang bertujuan mengadakan perubahan atau pembaharuan secara
drastis dan revolusioner dalam bidang sosial dan politik. Berawal
dari sebuah aliran, kemudian radikalisme muncul sebagai sebuah gerakan yang seringkali menggunakan jargon yang mengatasnamakan agama, sejak itulah radikalisme sering kali dikaitkan dengan kekerasan yang membawa ajaran agama. Radikalisme dalam agama ada 3 macam :
A. Pertama, adanya beberapa ajaran dalam agama yang disalahpahami.
B. Kedua adalah mengenai adanya persoalan kesejahteraan di masyarakat, seperti kemiskinan dan kesenjangan sosial. Telah banyak kenyataan bahwa kemiskinan dan kesenjangan sosial mampu membuat seseorang melakukan apa pun yang menguntungkan, walaupun itu jelas terlarang seperti radikalisme.
C. Ketiga adalah adanya ideologi negara agama. Pada tahap tertentu ideologi negara agama turut menyuburkan paham terorisme. Karena sebagaimana diakui para teroris, mereka menjalankan semua aksinya dengan tujuan mendirikan negara agama.
Maka dari itu, radikalisme sudah dianggap dan diidentikkan dengan suatu kekerasan. Ini tidak mungkin terjadi apabila oknum yang tidak bertanggungjawab itu tidak melakukan hal sekeji yang mengatasnamakan agama.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi Pertemuan 10

oleh Anthony Chandra -
menurut saya fanatisme dan radikalisme tentu tidak di perlukan dalam beragama, itu hanya akan menimbulkan keributan antara agama agama lain, jadi dalam beragama kita harus menumbuhkan sikap toleransi, agar dapat hidup rukun dengan semua orang
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi Pertemuan 10

oleh Clement JYT -
- Fanatisme adalah paham atau perilaku yang menunjukkan ketertarikan terhadap sesuatu secara berlebihan, dari pengertian yang diberikan bahwa kita harus berhati hati dalam fanastisme , maksudnya adalah bila kita mempunyai ketertarikan terhadap sesuatu kita tidak boleh terlalu berlebihan karena akan dapat berdampak buruk atau negatif dalam kehidupan kita dan kita perlu berhati hati.

- Radikalisme adalah suatu kelompok yang mau melakukan perubahan tetapi melalui jalan kekerasan, dari pengertian yang diberikan kita dapat menyimpulkan bahwa , kita tidak boleh terlibat atau termasuk dalam kelompok radikalisme tersebut karena dapat merugikan orang banyak dan berdampak negatif di semua lingkungan kehidupan.

Jadi kita dalam beragama tentu perlu berhati hati juga karena agama adalah salah satu cara tercepat orang dapat di sesatkan oleh pembicaraan orang.

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi Pertemuan 10

oleh Michelle Anatasya -
- Menurut saya tidak masalah apabila kita memiliki sikap fanatisme terhadap agama tapi jangan terlalu berlebihan. Jangan sampai sikap Fanatisme yang kita miliki membuat kita tidak mau menoleransi ajaran/agama lain. Dengan adanya siap Fanatisme seseorang tidak akan mudah berpindah agama/ajaran.
- Karena Radikalisme adalah sikap yang menginginkan perubahan secara singkat sehingga orang-orang yang radikal akan menggunakan kekerasan untuk membuat perubahan instan yang mereka inginkan.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi Pertemuan 10

oleh Bonanza Setiawan -
Menurut saya kita tidak perlu sikap fanatisme karena kita harus toleransi dengan sesama umat beragama agar dapat hidup rukun sesuai pancasila di negara kita, Radikalisme merupakan paham yang menginginkan perubahan dengan cara kekerasan. Radikalisme juga merupakan sikap tidak toleran, tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain, cenderung menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan. Kaum radikal selalu merasa kelompok mereka yang paling memahami. Atau, mereka menganggap orang lain tidak memahami.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi Pertemuan 10

oleh Arisudana Jati -

  1. Fanatisme adalah sikap yang berlebihan terhadap suatuhal yang bisa memberikan dampak negatif pada cara pandang seseorang terhadap menerima pendapat oranglain maka dalam toleransi dalam beragama akan menjadi hambatan terhadap menghargai sesama umat beragama.
  2. idiologi radikalisme paham yang memaksa tatanna sosial dan budaya untuk dirubah dengan "pakas" untuk mewujudkan keinginan kelompok tertentu tercapai, dengan Paksaan yang bersifat kekerasan agar takluk pada kelompok yang beridiologi tersebut.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi Pertemuan 10

oleh Marco Valerian -
Fanatisme memiliki pengertian sebagai keyakinan atau pandangan tentang sesuatu. Misalnya, keyakinan kepada Yang Maha Kuasa. Keyakinan terhadap-Nya selalu bersifat positif. Keyakinan dan pandangan sering dipersilang-ganti dengan pandangan. Sebenarnya, keyakinan dan pandangan tidak selalu memiliki arti sepadan. Pandangan terhadap sesuatu atau seseorang dapat bersifat positif atau negatif. Pandangan tidak selalu memiliki sandaran teori atau tidak didasarkan atas fakta. Namun, pandangan tertentu kadang dianut secara mendalam, sehingga sulit diluruskan. Kadang juga, pandangan dapat tergelincir dalam ketidak-rasionalan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, radikal adalah perubahan yang amat keras menuntut perubahan. Radikalisme merupakan paham yang menginginkan perubahan dengan cara kekerasan. Radikalisme juga merupakan sikap tidak toleran, tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain, cenderung menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan. Kaum radikal selalu merasa kelompok mereka yang paling memahami.

Dari penjelasan diatas sudah terurai jelas mengenai pengertian fanatisme dan radikalisme yang dimana kedua sikap ini bisa saja tergelincir kedalam pandangan yang bertentangan dengam hukum , namun dalam beragama sebisa mungkin untuk kita menghindari munculnya sikap fanatis dan radikal terhadap agama lain dan saling membantu memperkuat keyakinan masing" tanpa mengurangi rasa hormat antar sesama keyakinan

Demikian yang dapat saya sampaikan , terimakasih
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi Pertemuan 10

oleh Krisna Krisna -
Menurut saya , kita tidak perlu untuk mengambil sikap Fanatisme karna seharusnya kita jangan memandang orang lain rendah atau sepele . Sebaiknya kita harus mengambil sikap yang baik saling toleransi, dan saling menghargai satu sama lain .
Karna semua agama itu sama dan agama itu hanya kecocokan , dan agama itu ibarat kata sebagai pakaian kita .
Kalau orang yang hidup untuk agama sangat berbahaya , karna orang hidup untuk agama dia bisa membunuh demi agama.
Sebetulnya kita bukan hidup untuk agama... Agama itu sebetul nya untuk hidup ,bukan hidup untuk agama...
tetapi klo agama untuk hidup , orang bisa jadi tambah baik setelah kenal agama.

Untuk radikalisme sendiri emang benar bersifat kekerasan karena menentang apa yang telah ada dan ingin merubah apa yang sudah ada, hal yang bisa terjadi kekerasan tersebut yaitu: tidak bisa merubah hal tersebut jadi ada nya pemaksaan dan berusaha keras untuk bisa merubah nya.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi Pertemuan 10

oleh Novanti Nova -
menurut saya
-Fanatisme sebenarnya sah-sah saja untuk dilakukan, namun ada baiknya tetap membuka diri dengan secara bijak untuk menerima paham paham lainnya dalam membentuk kerangka berpikir logis atau bisa disebut juga dengan open minded. " Diatas langit masih ada langit ", dan hanya boleh ditujukan pada agama yang kita anut. Fanatisme terhadap kebenaran suatu agama yang kita anut adalah bukti ketaatan kita terhadap agama itu sendiri. Meskipun, fanatisme tidak berarti memusuhi dan memerangi ajaran agama lain.
-Radikalisme adalah paham yang menginginkan perubahan dengan cara kekerasan, tetapi hal yang menimbulkan kekerasan adalah radikalisme anarkis yang tidak menghormati pemeluk agama yang lain.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi Pertemuan 10

oleh Leo Vandi Alfian -
Kita memerlukan fanatisme dengan dosis yang cukup. Fanatisme diperlukan jika digunakan untuk menentang hal yang sesat / merugikan. Tetapi kita harus bisa mengendalikan, dimana ketika orang berkata benar, kita bisa menyaringnya dengan kesadaran.

Radikalisme itu identik dengan kekerasan disebabkan karena hati yang kotor / cara yang salah. Orang yang melakukan radikalisme biasanya adalah orang yang kurang peka terhadap perasaan orang lain dan biasanya hanya memikirkan dirinya sendiri. Jika semua kebaikan didasari kesadaran hati yang murni, seharusnya akan menjadi suatu kebaikan.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Diskusi Pertemuan 10

oleh Richard Saputra -
Menurut saya faham fanatisme tidak perlu dilakukan karena semua yang berlebihan tidak baik dan juga radikalisme mengapa berujung kekerasan karena pada dasar nya orang yang menganut paham ini iya lah seorang pemberontak