1. Wawasan pelanggan. Pada wawasan pelanggan fokusnya adalah bagaimana melibatkan pelanggan dalam mengevaluasi bisnis model . Pada teknik ini dipikirkan tentang; Apa saja yang harus diselesaikan pelanggan dan bagaimana cara membantu mereka? Perlakuan seperti apa yang disukai pelanggan? Bentuk hubungan seperti apa yang dinginkan pelanggan? Untuk nilai apa sajakah pelanggan benar-benar bersedia membayar? Di sini untuk lebih memudahkan dalam memahami teknik ini dapat menggunakan peta empati untuk menggali wawasan pelanggan.Peta empati yaitu sebuah alat bantu yang dikembangkan oleh perusahaan berpikir visual, disebut XPLANE. Alat bantu ini disebut juga “pembuat profil pelanggan yang benar-benar sederhana”, membantu melampaui karakteristik demografi pelanggan dan mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang lingkungan, perilaku, kepedulian, dan aspirasi. Dengan alat ini dapat menemukan model bisnis yang lebih kuat karena profil pelanggan memandu perancangan proposisi nilai yang lebih baik, cara yang lebih nyaman dalam menjangkau pelanggan dan hubungan pelanggan yang lebih baik. Peta empati memungkinkan memahami dengan baik apa yang benar-benar bersedia dibayar pelanggan.
2. Pembentukan Ide. Pemetaan model bisnis yang sudah ada memang satu hal; merancang model bisnis yang baru dan inovatif itu hal lain. Yang diperlukan adalah proses kreatif untuk membangun sejumlah ide model bisnis dan memilih salah satu di antaranya yang terbaik. Proses ini disebut pembentukan ide. Penguasaan seni dalam pembentukan ide menjadi sesuatu yang sangat penting ketika tiba waktunya untuk mendesain mode bisnis baru yang sehat. Ide untuk inovasi model bisnis bias dari manapun dan kesembilan blok bangunan model bisnis dapat menjadi titik awalnya. Inovasi model bisnis yang transformative mempengaruhi lebih dari satu blok bangunan. Kita dapat melihat dengan jelas empat pusat inovasi model bisnis; 1. terpacu oleh sumber daya, 2. terpacu oleh penawaran 3. terpacu oleh pelanggan, dan 4. terpacu oleh keuangan.Proses Pembentukan Ide, pendekatan umum untuk memperoduksi pilihan model bisnis inovatif: 1. KomposisiTim 2. Keterlibatan Penuh 3. Memperluas 4. Seleksi Kriteria 5. Prototyping.
3. Berfikir Visual. Berpikir visual berarti menggunakan alat bantu visual seperti gambar-gambar, sketsa, diagram dan post-it untuk membangun dan mendiskusikan arti. Karena model bisnis adalah sebuah konsep kompleks yang terdiri atas berbagai blok bangunan dan hubungan antar blok bangunan itu. Sulit untuk benar-benar memahami suatu model tanpa terlebih dulu membuat sketsanya. Model bisnis benar-benar disebut sebuah sistem apabila setiap elemennya saling mempengaruhi, model bisnis hanya dapat diterima sebagai satu kesatuan. Membuat sketsa suatu model akan mengubahnya menjadi objek yang tetap di dalam pikiran dan jangkar konseptual sehingga diskusi akan selalu mengarah ke sana. Hal ini penting karena membuat sketsa dapat menggeser diskusi dari abstrak ke konkret dan meningkatkan kualitas perdebatan.
4. Prototyping. Prototyping merupakan alat bantu ampuh untuk mengembangkan model bisnis baru yang inovatif. Seperti berpikir visual, prototyping membuat konsep abstrak menjadi nyata dan memfasilitasi eksplorasi ide baru Prototyping berasal dari disiplin desain dan rekayasa dan digunakan secara luas untuk desain produk, arsitektur, dan desain teraksi. Prototipe produk (purwa–rupa produk) adalah bentuk dasar dari sebuah produk merupakan tahapan yang sangat penting dalam rencana pembuatan produk karena menyangkut keunggulan produk yang akan menentukan kemajuan suatu usaha di masa mendatang. Dikatakan sebagai tahapan yang sangat penting karena prototipe dibuat untuk diserahkan pada pelanggan (lead–user) agar pelanggan dapat mencoba kinerja prototipe tersebut. Selanjutnya jika pelanggan memiliki komplain ataupun masukan mengenai protipe tersebut maka industri mendokumentasikannya untuk proses perbaikan prototipe tersebut. Sehingga menciptakan suatu sistem inovasi produk yang dibangun bersama-sama antara industri dan pelanggan sebagai upaya pemenuhan kepuasan pelanggan (customers).
5. Story Telling. Mengapa Bercerita? 1. Memperkenalkan yang baru Buatlah yang baru menjadi nyata; menjelaskan sebuah model bisnis yang baru dan belum teruji ibarat menjelaskan sebuah lukisan dengan kata-kata. 2. Melempar ke investor Klarifikasi à menyampaikan sebuah cerita yang menggambarkan bagaimana model bisnis dapat memecahkan masalah pelanggan merupakan cara yang mudah dipahami untuk memperkenalkan sebuah ide kepada pendengar. 3. Melibatkan karyawan Menarik hati orang à orang lebih mudah digerakkan oleh cerita daripada logika. Permudah pendengar untuk masuk ke sesuatu yang baru atau tidak dikenal dengan membangun logika model menjadi narasi yang menarik.
6. Skenario. Tidak ada definisi tunggal baik skenario atau scenario planning (perencanaan skenario). Terdapat berbagai pemikiran yang berbeda dari para pakar mengenai perencanaan skenario atau Scenario Planning.Terutama terkait dengan kegiatan bisnis. Perencanaan skenario bukan hanya tentang menulis skenario di masa depan, tapi sesuatu yang lebih, sesuatu yang lebih erat kaitannya dengan perencanaan strategis. Akan dijelaskan dalam tulisan berikutnya mengapa perencanaan skenario sangat penting dalam berbagai bisnis, fungsi, operasional dan kebutuhan bisnis. Terutama terkait resiko dan keberlangsungan hidup bisnis.