Kepemimpinan B.J Habibie

Kepemimpinan B.J Habibie

oleh Selvia . -
Jumlah balasan: 0

 B.J Habibie

Gaya kepemimpinan Presiden B.J. Habibie adalah gaya kepemimpinan Dedikatif-Fasilitatif, merupakan sendi dan Kepemimpinan Demokratik. Pada masa pemerintahan B.J. Habibie, kebebasan pers dibuka lebar-lebar. Sehingga melahirkan demokratisasi yang lebih besar. Pada saat itu pula peraturan perundang-undangan banyak dibuat. Pertumbuhan ekonomi cukup tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Habibie sangat terbuka dalam berbicara. Tetapi tidak pandai dalam mendengar. Akrab dalam bergaul, tetapi tidak jarang eksplosif. Sangat detail, suka uji coba tetapi kurang tekun dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.

Dalam penyelengaraan negara, Habibie pada dasarnya seorang liberal. Tentu karena sedikit banyak pengaruh kehidupan dan pendidikan yang lama di dunia barat.

Gaya komunikasinya penuh spontanitas, meletup-letup, cepat bereaksi, tanpa mau memikirkan resikonya. Tatkala Habibie dalam situasi penuh emosional, ia cenderung bertindak atau mengambil keputusan secara cepat. Seolah ia kehilangan kesabaran untuk menurunkan amarahnya.

Bertindak cepat, rupanya, salah satu solusi untuk menurunkan tensinya. Karakteristik tersebut diilustrasikan dengan kisah lepasnya Timor Timur dari Indonesia. Habibie digambarkan sebagai pribadi yang terbuka, namun terkesan mau menang sendiri dalam berwacana dan alergi terhadap kritik.

Namun, terlepas dari lepasnya Timor Timur, B.J. Habibie, tepat dalam mengambil keputusan terkait kepentingan dari kesejahteraan rakyat. Ia mengurungkan mimpi besarnya dalam membangun pabrik pesawat, demi kepentingan kehidupan dan perekonomian rakyat. Padahal, jika ia mau dan terus memacu egonya, bukan hal sulit saat memegang tampuk kepemimpinan tertinggi di republik ini, ia melanggengkan mimpi membesarkan IPTN (PT. Dirgantara Indonesia).

Gaya kepemimpinan B.J. Habibie mengandung unsur-unsur kepemimpinan bisnis modern: di situlah ia dibesarkan. Namun jelas terlihat juga unsur-unsur ke-Indonesiaannya. Tidak salah lagi, dengan segala kekuasaannya dalam dunia bisnis internasional modern, ia tetap putera bangsa dan negaranya. Perpaduan antara ke-Islamannya, nasionalismenya, kedaerahannya, ilmu dan teknologi serta internasionalnya, kemudian kelugasan bisnisnya, menjadikan BJ Habibie sebagai bagian dari Indonesia modern.