kepemimpinan Sri Mulyani
menggunakan beberapa tipe yaitu :
Tipe pertama yang digunakan yaitu
tipe benevolent autocrat, karena beliau
berhasil dalam mengorganisir
organisasinya sehingga kerja beliau
dapat dilihat hasilnya yang berarti
kepemimpinan beliau memiliki unsur
kemampuan mempengaruhi orang
lain, kelompok atau bawahan, dan
kemampuan mengarahkan tingkah
laku bawahan atau orang lain.
Kemudian tipe kedua adalah tipe
compromiser, karena dengan mutu
tinggi yang didapat dari pendidikan
Strata 1 di Universitas ternama di
Indonesia, Strata 2 dan Strata 3 di luar
negeri, beliau tentunya memiliki
kemampuan yang berbeda dari orang
lain maka beliau berhasil berpengaruh
di negara bahkan di kancah
Internasional dengan posisi kerja yang
tinggi.
Para ahli telah menyebutkan lima
sifat negatif yang menghalangi dan
mencegah seseorang untuk jadi
pemimpin, yaitu tidak mengetahui
(uninformed), tidak berperan, otoriter,
4
Imam Moedjiono, Kepemimpinan dan
Pengorganisasian.Kemudian yang membedakan
antara pemimpin sukses dengan yang
tidak sukses dapat diperoleh dan
dipelajari melalui pengalaman.
Tentunya Sri Mulyani sudah memiliki
pengalaman yang membuat beliau
saat ini menjabat sebagai Mentri
Keuangan Negara Indonesia. Apabila
hanya mengandalkan kepintaran
akademik tanpa memperhatikan
pengalaman yang ada atau pernah
dilalui, maka beliau tidak akan pernah
menjabat sebagai Mentri Keuangan
yang memiliki beberapa prestasi.
Seperti yang didapat dari Teori The
Great Man yaitu sifat-sifat
kepemimpinan itu tidak seluruhnya
dibawa sejak dilahirkan, tetapi juga
melalui proses pendidikan dan
pengalaman.
Kerja nyata oleh Sri Mulyani adalah
pada tahun 2002 beliau bergabung
dengan IMF sebagai Executive
Director, karena beliau sangat ahli di
bidang ekonomi, kemudian beliau pun
dinobatkan sebagai Menteri Keuangan
terbaik di Asia dan terpilih sebagai