Tempat Diskusi Pertemuan ke-13

Tempat Diskusi Pertemuan ke-13

Jumlah balasan: 8

Setelah membaca dan memahami materi tentang Ciri Kepemimpinan Kristiani, sila bagi yang ingin menanggapi dan bertanya dapat menggunakan forum ini dengan sebaik-baiknya. Sangat diperbolehkan untuk saling menanggapi sesama mahasiswa/i. Pada akhir pertemuan akan diberikan tugas. Terima kasih. 

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: Tempat Diskusi Pertemuan ke-13

oleh Robertus Donni Aditya -
Saya mau bertanya pak. Dalam kepemimpinan Katolik sikap apa saja yang harus dimiliki agar menjadi seroang pemimpin yang baik? Terimakasih
Sebagai balasan Robertus Donni Aditya

Re: Tempat Diskusi Pertemuan ke-13

oleh Budi Nuryanto -
Terima kasih Donni, pertanyaan yang menarik. Ayo siapa siap jadi relawan. dan dalam kesempatan ini saya berharap bagi anda yang selama ini belum merespon sudah saatnya anda ambil bagian
Sebagai balasan Robertus Donni Aditya

Re: Tempat Diskusi Pertemuan ke-13

oleh Lidya intan Permatasari -
izin menanggapi pak, menurut saya untuk menjadi seorang pemimpin harus memiliki sifat dan karakter yang baik seperti : fokus memandang Tuhan, tekun dan bijaksana, jujur, tanggung jawab, peduli, rendah hati, sabar dan masih banyak lagi.trimakasih.
Sebagai balasan Robertus Donni Aditya

Re: Tempat Diskusi Pertemuan ke-13

oleh clara agustin -
Izin menjawab pertanyaan donni , Sikap yang harus dimiliki itu meliputi:
*Sabar
Kisah hidup Yusuf, anak dari Yakub atau Israel dapat kita lihat di Alkitab dalam Kejadian 37 dan 39-50. Ungkapan ΓÇ£from zero to heroΓÇ¥ tampaknya sangat cocok kita tempelkan pada Yusuf. Memang, pada awalnya ia sudah merupakan anak kesayangan ayahnya, tetapi saat itu ia belum terkenal, belum memiliki karya apapun, bahkan dibenci oleh saudara-saudaranya.

*Pemaaf
Namun ternyata kebencian saudara-saudaranya mengantarkan Yusuf pada serangkaian proses yang harus ia alami, termasuk menjadi ΓÇÿzeroΓÇÿ atau tidak memiliki status dan benda apapun yang berharga hingga akhirnya ia menjadi hero, pemimpin yang luar biasa, bukan hanya dalam hal karakter namun juga dalam besar dan luasnya kekuasaan yang dimilikinya.

*Jujur
Mari kita lihat lebih dalam karakter Yusuf dalam Alkitab. Di masa kecilnya, ia sudah mengerti perbedaan baik dan buruk dan berani jujur mengadu kepada Yakub tentang kejahatan yang dilakukan saudara-saudaranya walaupun kejujuran itu menumbuhkan kebencian mereka terhadap Yusuf. Ia juga berani mengutarakan mimpinya bahwa kelak ia akan dihormati oleh keluarganya, walaupun lagi-lagi hal itu membuat saudara-saudaranya semakin membencinya.

*Berani
Selanjutnya, akibat keberaniannya itu, ia harus menerima perubahan keadaan yang sangat drastis, dari anak kesayangan dengan jubah maha indah menjadi budak di tempat asing dan tidak memiliki apa-apa. Namun ia tidak berkutat dalam keadaan mengasihani diri; sebaliknya, ia tekun mengerjakan apa yang menjadi tugasnya hingga ia diangkat menjadi kepala atas rumah tuannya. Baca juga: Ayat Alkitab Tentang Tanggung Jawab.

*Fokus memandang pada Tuhan
Keadaan ternyata tidak berhenti di situ saja. Setelah keadaan membaik, ia seolah dipaksa mengalami kemunduran yang bahkan lebih buruk dari sebelumnya. Ia difitnah hingga dijebloskan ke dalam penjara. Walaupun demikian, tidak sekalipun Alkitab mencatat Yusuf mengeluh dan menyalahkan Tuhan atas ketidakadilan yang ia alami. Dalam Kejadian 39:6b justru dikatakan bahwa Yusuf itu ΓÇ£manis sikapnyaΓÇ¥. Tentu sikap mengeluh, bersungut-sungut, malas, dsb. tidak dapat dikatakan ΓÇÿmanisΓÇÖ, ΓÇÿkan? Tidak hanya itu, Yusuf juga dapat memaafkan orang-orang yang berlaku tidak adil padanya.

*Tekun dan Bijaksana
Berulang kali Alkitab mencatat bahwa Tuhan menyertai Yusuf dan membuat semua yang dilakukannya berhasil. Tuhan juga memberi hikmat bagi Yusuf untuk mengartikan mimpi dan memberi solusi permasalahan dari arti mimpi tersebut. Baik Potifar, kepala penjara, dan Firaun semua dapat melihat melalui karakter dan pekerjaan Yusuf bahwa Tuhan menyertainya.

Artinya, penyertaan Tuhanlah yang menyebabkan Yusuf dapat menjadi seorang pemimpin dengan karakter dan hasil kerja yang luar biasa. Jika Yusuf yang hidup di zaman sebelum Roh Kudus dicurahkan untuk senantiasa tinggal dalam kita saja dapat menjadi pemimpin dengan karakter yang begitu baik, bukankah kita yang memiliki Roh Kudus dalam diri kita bisa melakukannya juga?

*Peduli pada orang-orang yang dipimpinnya
Jika dalam poin sebelumnya kita belajar mengenai karakter pemimpin yang luar biasa dari Yusuf, selanjutnya kita akan belajar dari Musa, pemimpin yang tidak kalah hebat dan terkenal. Namun, apakah karakter Musa juga sebaik karakter Yusuf? Awalnya, Musa ialah seorang Ibrani yang diadopsi oleh putri Firaun sehingga ia menghabiskan masa mudanya sebagai seorang pangeran Mesir.

Pastinya seorang pangeran dapat hidup dalam kelimpahan dan juga dihormati orang lain. Walaupun demikian, ia tidak melupakan fakta bahwa ia sesungguhnya adalah orang Ibrani/Yahudi. Ia membela seorang budak yang adalah orang Ibrani ketika orang itu dipukuli oleh salah satu orang Mesir. Namun ternyata, tindakan ini tidaklah didasarkan pada keberanian. Ia membunuh orang Mesir itu secara sembunyi-sembunyi dan ketika muncul kemungkinan bahwa perbuatannya dapat diketahui oleh Firaun ia melarikan diri dan kemudian ΓÇ£banting setirΓÇ¥ menjadi gembala atas kambing domba milik mertuanya.

*Rendah Diri
Bertahun-tahun menggembalakan domba, pekerjaan yang dipandang rendah, tampaknya semakin melemahkan kepercayaan diri Musa. Di satu sisi, pengalaman tersebut menghilangkan kesombongannya sebagai seorang mantan pangeran, namun di sisi lain, ia bukan hanya menjadi rendah hati namun lebih cenderung pada rendah diri.

Hal ini dapat kita lihat pada saat Tuhan menyuruh Musa untuk menghadap Firaun demi menuntut pembebasan bangsa Israel dari perbudakan. Musa berulang kali menolak dengan berbagai alasan. Ia meragukan bahwa dirinya mampu melakukan tugas dari Tuhan itu dan takut kalau orang Israel tidak akan mengakuinya sebagai pemimpin. Dengan kata lain, ia takut menghadapi kegagalan.

Lembut hatinya
Walau demikian, Tuhan masih tetap menyertai Musa. Tuhan mengetahui bahwa Musa adalah seseorang yang sangat lembut hatinya, sehingga ketika ada yang ngrasani (bahasa Jawa yang artinya menjelekkan orang di belakang orang tersebut) Musa, Tuhan sendiri yang membela Musa dan menghukum orang yang menjelek-jelekkannya (Bil. 12). Kelembutan hati Musa juga dapat kita lihat ketika Musa meminta agar Tuhan mengampuni bangsa Israel yang bersifat tegar tengkuk (Kel. 32:7-14).
Sebagai balasan clara agustin

Re: Tempat Diskusi Pertemuan ke-13

oleh Budi Nuryanto -
Terima kasih Lydia dan Clara yang sudah menanggapi pertanyaan Donni. Ya karena sikap pemimpin yang baik dan benar harus meneladani sikap Kristus Sang Pemimpin dan para Nabi yang diutus Allah untuk memberikan suri tauladan. Apa yang disampaikan oleh Lydia dan Clara cukup jelas moga-moga Donni dan mahasiswa lainya dapat mendapat gambaran. Jawaban saya pun kurang lebih demikian, atau ada yang mau menambahkan.
Sebagai balasan Budi Nuryanto

Re: Tempat Diskusi Pertemuan ke-13

oleh Budi Nuryanto -
Tugas :
Setelah anda menyimak dan mendiskusikan materi dalam pertemuan ini, sebutkan satu atau dua orang pemimpin Indonesia yang mempunyai ciri kepemiminan Kristiani (bisa pemimpin yang beragama katolik ataupun bukan katolik). ketentuan seperti yang telah dituliskan pada pertemuan lalu.
Sebagai balasan Budi Nuryanto

Re: Tempat Diskusi Pertemuan ke-13

oleh Budi Nuryanto -
Silahkan kalau ada yang mau bertanya masih ada waktu 4 menit
Sebagai balasan Budi Nuryanto

Re: Tempat Diskusi Pertemuan ke-13

oleh Budi Nuryanto -
Baik berakhir sudah waktu perjumpaan kita, terima kasih atas partisipasi anda. Sampai jumpa dalam pertemuan Minggu ke 14 Jumat mendatang. Semoga kita semua diberi berkat kesehatan dan dikuatkan untuk menanggapi tantangan dan kondisi saat ini. Jaga keshatan -- patuhi protokol keshatan .

Terima kasih mari kita akhiri dengan mohon penyertaan dari Allah dengan berdoa bersama.
Terima kasi "TUHAN MEMBERKATI"