Jawan Pertanyaan Rekan - rekan

Jawan Pertanyaan Rekan - rekan

oleh Putra Alfredo -
Jumlah balasan: 1

Jawab Soal.

1. Wulandari Mayasari

Apa fenomena masalah yang terkini, yang belum memiliki kerangka konseptual refrensi akuntansi?

Jawab:

Fenomena pada perusahaan yang memiliki sistem pencatatan yang tidak sesuai dengan aturan umum akuntansi yang berlaku, contohnya masih banyak perusahaan yang kesulitan dalam menerapkan aturan akuntansi yang berprinsip pada PSAK atau IFRS. Hal ini membuat sebuah perusahaan tidak memiliki kerangka konseptual akuntansi yang baik, oleh sebab itu aturan akuntansi dibentuk guna membuat perusahaan memiliki kerangka konseptual yang berstandar pada refrensi yang jelas.

Contohnya,  minimnya staf-staf pengajar yang memiliki kompetensi dan keahlian IFRS di universitas universitas seluruh Indonesia. Selain tiga permasalahan utama diatas, ada masalah lain yang tidak bisa dikesampingkan,yaitu masalah penerjemahan bahasa IFRS menjadi PSAK. Sebagaimana diketahui, PSAK harus ditulis dalam bahasa Indonesia. Hal ini mengakibatkan lamanya proses ratifikasi IFRS menjadi PSAK. Sehingga membuat perusahaan kurang memperhatikan pentingnya kerangka konseptual yang memiliki refrensi jelas seperti PSAK dan IFRS.

2. Anggie Triana

Alasan pengungkapan perusahaan melakukan likuidasi dalam tujuan going concern?

Jawab:

Likuidasi kerap terjadi di sebuah perusahaan karena disebabkan oleh hal-hal berikut:

·         Keputusan atau kehendak yang diputuskan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

·         Izin berdirinya perusahaan sudah habis dan tidak diperpanjang kembali.

·         Keputusan pengadilan yang memiliki kekuatan hukum.

·         Hasil merger atau konsolidasi perusahaan yang membutuhkan likuidasi.

Likuidasi memang sangat erat dikaitkan dengan masalah finansial yang sedang dihadapi oleh perusahaan yang bersangkutan yang membuat kondisi perusahaan tidak stabil. Salah satu penyebabnya adalah tidak bisa membayar utang. Pada dasarnya, berdirinya sebuah perusahaan pasti menargetkan cuan walaupun tidak dalam jangka waktu yang cepat, biasanya perusahaan sudah memiliki metode perhitungan melalui metode break even point (BEP) atau titik impas. Jadi, jika perusahaan tidak bisa membayar utang yang memang menjadi kewajibannya berarti jalan satu-satunya adalah meminjam dana kembali dari pihak lain untuk menutupi utang perusahaan. Tentu saja, hal ini hanya akan berlangsung sementara waktu hingga akhirnya perusahaan tersebut akan mengalami pembubaran.