1. Sustainable adalah sebuah tindakan untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Selain sumber daya alam, kita juga membutuhkan sosial dan sumber daya ekonomi. Keberlanjutan bukan hanya lingkungan melainkan juga menemukan kepedulian terhadap keadilan sosial dan pembangunan ekonomi.
https://indonesiasustainability.com/sustainable-adalah-pengertian-dan-4/?amp=1
2. Akuntansi berkelanjutan merupakan salah satu bidang ilmu akuntansi modern. Bidang ilmu ini menganalisis dampak bisnis terhadap sosial dan lingkungan. Pada bidang keilmuan akuntansi keberlanjutan, seorang akuntan tidak hanya terlibat dalam pencatatan dan pengambilan keputusan keuangan. Akuntan juga harus ikut menjaga kondisi lingkungan dan sosial. Ketentuan ini diatur dalam Badan Standar Akuntansi Internasional (International Financial Reporting Standard/IFRS) sebagai acuan untuk menjamin pencatatan yang akurat dari akuntan. Seperti diketahui, operasional bisnis suatu perusahaan terhadap lingkungan dan sosial turut memengaruhi reputasi perusahaan tersebut.
3. Dengan menerapkan konsep sustainability accounting, maka manajemen perusahaan telah menghubungkan antara strategi bisnis perusahaan dengan kerangka kerja keberlanjutan (sustainability framework) dan proses ini akan membuat perusahaan tidak hanya berfokus pada dampak finansial saja, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial dan dampak lingkungan dari setiap keputusan bisnis yang dilakukan oleh manajemen perusahaan
https://osf.io/preprints/inarxiv/b7juy/download
4. Keberlanjutan lingkungan merupakan salah satu isu hangat yang menjadi sorotan berbagai negara. Isu ini dibicarakan pada Conference of the Parties ke 26 (COP-26) di Glasgow, Skotlandia, pada akhir 2021. Pada gelaran tersebut, Indonesia mendapat sorotan besar. Pasalnya, upaya pencapaian net zero emission pada 2060 dari pemerintah Indonesia dianggap responsif terhadap isu perubahan iklim, selain upaya pencegahan Covid-19. Berdasarkan laporan Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) 2021, Indonesia masih tercatat sebagai salah satu dari tiga negara dengan risiko bencana lingkungan tinggi, terutama banjir dan panas ekstrem. ADB juga mencatat bahwa pada 2050, kenaikan suhu di Indonesia berkisar 0,80 derajat Celcius hingga 1,40 derajat Celcius. Catatan serupa juga dilaporkan oleh NASA Goddard Institute for Space Studies. Berdasarkan catatan tersebut, suhu Bumi mengalami peningkatan signifikan selama tujuh tahun terakhir. 
Oleh karena itu, keberlanjutan menjadi topik utama untuk menyelamatkan Bumi. Masalah keberlanjutan sejatinya sudah dicetuskan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 1987. Saat itu, PBB merilis laporan berjudul Our Common Future yang juga disebut the Brundtland Report. Laporan tersebut menyoroti isu perubahan iklim secara global. Untuk mengatasi perubahan iklim, the Brundtland Report menekankan aksi pembangunan berkelanjutan dari pemerintah di segala aspek. Hal ini perlu dilakukan demi menjamin kehidupan generasi mendatang pada masa depan. The Brundtland Report pada dasarnya memang mengutamakan peran pemerintah. Isu keberlanjutan diarahkan untuk menjaga Bumi tempat kita tinggal. Jika Bumi kita tidak sehat, kebutuhan dasar manusia juga akan terdampak. Sementara itu, laporan lain yang disusun oleh analis lingkungan hidup dari BBC, George Harrabin, menemukan bahwa gaya hidup bermobilitas menjadi salah satu pemicu krisis iklim global. Pasalnya, gaya hidup ini memberikan dampak signifikan terhadap krisis energi. Gaya hidup traveling meningkatkan konsumsi bahan bakar sehingga ikut berdampak pada peningkatan suhu Bumi. Tak tanggung, emisi karbon dari sektor transportasi menjadi penyumbang terbesar perubahan iklim. Sebanyak 70 persen emisi karbon disumbang dari moda transportasi udara. Sementara itu, hanya 10 persen emisi karbon berasal dari limbah rumah tangga. Kondisi ini akan semakin memprihatinkan jika tidak segera ditangani. Tanggung jawab isu keberlanjutan Lantas, siapakah yang harus bertanggung jawab dengan isu keberlanjutan? Pertanyaan ini tentu mudah terjawab: semua orang yang tinggal di Bumi bertanggung jawab akan isu tersebut. Perubahan iklim dapat dicegah dengan mengubah gaya hidup menjadi berkelanjutan. Sebagai contoh, tiap individu dapat mengurangi jejak karbon serta mulai beralih menggunakan energi baru dan terbarukan (EBT). Dua upaya tersebut sedang digalakkan di Indonesia.
 Namun, aksi ini saja tidak cukup membantu. Pola gaya hidup carbon neutral sebenarnya sudah diajukan sejak COP-24. Salah satu contoh pengaplikasian gaya hidup tersebut adalah proyek carbon footprint dalam lingkup rumah tangga. Dalam jangka panjang, program ini bisa memperbaiki kondisi Bumi. Dunia usaha dan bisnis juga wajib berkontribusi dalam penanganan perubahan iklim. Berdasarkan laporan Carbon Disclosure Project (CDP) pada 2017, sebanyak 70 persen emisi karbon dunia disumbang oleh 100 perusahaan saja. Sejumlah perusahaan besar yang termasuk daftar “Top 100” penyumbang emisi karbon adalah ExxonMobil, Shell, BHP Billiton, dan Gazprom. Laporan CDP itu juga mengajak konsumen lebih bijak dalam mengefisienkan konsumsi energi. Dalam tingkat negara, konferensi perubahan iklim sudah dijalankan sejak 1998 dengan menelurkan kesepakatan Protokol Kyoto. Konferensi ini berlanjut sampai 2021 melalui penyelenggaraan COP-26. Hal ini menunjukkan keseriusan pemerintah negara-negara di dunia dalam penanganan perubahan iklim. Kebutuhan akan akuntansi berkelanjutan Dengan peningkatan isu berkelanjutan, akuntan yang mampu menjaga nilai keberlanjutan pun akan semakin dibutuhkan, sebagaimana dikutip dari The Global Report Initiative (GRI). 
Pengembangan bidang keilmuan ini dikenal dengan akuntansi keberlanjutan atau sustainability accounting.
5. Silent Spring, karya Rachel Carson, buku ini digadang-gadang sebagai salah satu yang mendobrak lahirnya gerakan lingkungan hidup menjelang akhir abad ke-20 hingga sekarang ini. Buku yang terbit kali pertama pada tahun 1962 ini berisi tentang kegelisahan seorang Rachel Carson akan fenomena perbuhan lingkungan akibat ulah manusia. Ia menggambarkan bagaimana manusia telah memulai peperangan melawan lingkungan dengan mengkonstruksikan spesies-spesies tertentu sebagai musuh manusia. Misal, manusia telah menciptakan musuh berupa serangga dan beberapa tanaman dengan mencap mereka sebagai hama, sumber penyakit, yang harus disingkirkan.