1. Kerangka sustainability atau kerangka keberlanjutan adalah sebuah pendekatan sistematis untuk memastikan bahwa kegiatan manusia, baik dalam konteks bisnis, organisasi, ataupun individu, dapat dilakukan secara berkelanjutan dengan mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Pendekatan ini bertujuan untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat, serta memastikan bahwa sumber daya alam dan sosial dapat dipertahankan untuk generasi mendatang. Kerangka keberlanjutan meliputi tiga dimensi penting yaitu ekonomi, lingkungan, dan sosial. Dalam dimensi ekonomi, keberlanjutan mencakup aspek-aspek seperti efisiensi penggunaan sumber daya, inovasi, dan keuntungan jangka panjang. Sedangkan dalam dimensi lingkungan, keberlanjutan mempertimbangkan dampak kegiatan manusia terhadap lingkungan dan bagaimana cara mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan. Sedangkan dalam dimensi sosial, keberlanjutan mempertimbangkan dampak kegiatan manusia terhadap masyarakat dan bagaimana cara mempromosikan kesejahteraan sosial. Dalam kerangka keberlanjutan, ketiga dimensi ini saling terkait dan harus dipertimbangkan secara holistik untuk mencapai keberlanjutan yang seimbang dan berkelanjutan.
2. Berikut adalah lima kerangka sustainability yang banyak digunakan oleh perusahaan:
1. ISO 14001: ISO 14001 adalah standar internasional yang mengatur tentang sistem manajemen lingkungan. Standar ini memberikan pedoman bagi perusahaan dalam mengelola dampak lingkungan dari operasi bisnis mereka.
2. Global Reporting Initiative (GRI): GRI adalah kerangka kerja pelaporan keberlanjutan yang paling banyak digunakan di dunia. Kerangka ini memberikan panduan dan kriteria yang terstandarisasi untuk melaporkan kinerja keberlanjutan.
3. UN Global Compact: UN Global Compact adalah inisiatif PBB yang bertujuan untuk mendorong perusahaan untuk mengadopsi praktik bisnis yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.
4.  Natural Step Framework: Kerangka kerja The Natural Step didasarkan pada empat prinsip dasar yang membantu perusahaan untuk memahami bagaimana mereka dapat menciptakan lingkungan bisnis yang berkelanjutan dan menghasilkan dampak positif bagi masyarakat.
5.  Circular Economy Framework: Circular economy adalah konsep ekonomi berkelanjutan yang mempromosikan penggunaan sumber daya yang efisien dan mengurangi limbah melalui proses daur ulang dan pembuatan produk yang lebih tahan lama. Kerangka kerja ini membantu perusahaan untuk memahami bagaimana cara menerapkan konsep ekonomi sirkular dalam bisnis mereka.
3. DPSIR adalah singkatan dari Driving forces (faktor pendorong), Pressures (tekanan), State (kondisi), Impact (dampak), dan Responses (respon). Ini adalah kerangka kerja analisis lingkungan yang digunakan untuk memahami hubungan kompleks antara manusia dan lingkungan. Kerangka kerja DPSIR memandang lingkungan sebagai suatu sistem yang terus berubah akibat interaksi antara faktor pendorong (Driving forces), tekanan (Pressures), kondisi (State), dampak (Impact), dan respon (Responses). Faktor pendorong merujuk pada dorongan atau faktor sosial, ekonomi, dan politik yang mendorong perubahan dalam lingkungan. Tekanan merujuk pada kegiatan manusia yang menghasilkan dampak pada lingkungan, seperti polusi udara dan limbah industri. Kondisi merujuk pada status atau kondisi lingkungan, seperti kualitas udara dan kualitas air. Dampak merujuk pada akibat dari tekanan yang dilakukan oleh kegiatan manusia terhadap lingkungan. Terakhir, respon merujuk pada tindakan atau kebijakan yang dilakukan untuk mengatasi masalah lingkungan. DPSIR membantu para ahli lingkungan dan pembuat kebijakan untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi lingkungan dan merancang kebijakan yang sesuai untuk mengatasi masalah lingkungan yang kompleks. 
4. SIGMA Project adalah suatu kerangka kerja yang dikembangkan oleh Departemen Energi Amerika Serikat untuk membantu perusahaan dalam mengembangkan strategi keberlanjutan mereka. Berikut adalah prinsip-prinsip sustainability menurut SIGMA Project:
1.  Integritas: Prinsip integritas menekankan pada pentingnya mengadopsi standar etika yang tinggi dan melaksanakan praktik bisnis yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan.
2.   Keandalan: Prinsip keandalan menekankan pada pentingnya memastikan bahwa produk dan layanan yang ditawarkan memenuhi standar keamanan dan kualitas yang tinggi.
3.   Keberlanjutan: Prinsip keberlanjutan menekankan pada pentingnya mengelola sumber daya alam secara efisien dan mengurangi dampak lingkungan dari operasi bisnis.
4.   Keterbukaan: Prinsip keterbukaan menekankan pada pentingnya berkomunikasi secara terbuka dengan para pemangku kepentingan dan melibatkan mereka dalam proses pengambilan keputusan.
5.   Akuntabilitas: Prinsip akuntabilitas menekankan pada pentingnya mempertanggungjawabkan kegiatan bisnis dan mengukur kinerja keberlanjutan secara teratur.
6.   Inovasi: Prinsip inovasi menekankan pada pentingnya menciptakan produk dan layanan yang inovatif dan mengembangkan solusi berkelanjutan untuk tantangan lingkungan dan sosial yang kompleks.
7.   Keterlibatan: Prinsip keterlibatan menekankan pada pentingnya melibatkan para pemangku kepentingan dalam pengembangan strategi keberlanjutan dan menjalin hubungan kerja sama jangka panjang dengan mereka.
Prinsip-prinsip ini membantu perusahaan dalam mengembangkan strategi keberlanjutan yang holistik dan membantu mereka mencapai tujuan keberlanjutan jangka panjang.