Dalam konteks perilaku konsumen modern, experiential marketing tidak sepenuhnya menggantikan traditional marketing, namun keduanya justru perlu diintegrasikan secara strategis. Meskipun tradosional marketing dianggap belum efektif karenahanya mengandalkan informasi satu arah namun dasar-dasarnya tetap menjadi pondasi/landasan sebuah bisnis. Experiential marketing dianggap sebagai nilai tambah yang menyentuh sisi emosional melalui panca Indera, hati dan fikiran. Inilah yang menjadi pembeda yang kuat sehingga konsumen tetap setia meskipun ada pesaing dengan produk serupa.
Impementasi di Industri Nyata contohnya, Banyak destinasi wisata di Indonesia (misalnya Bobocabin, beberapa resort di puncak atau di Lampung ada The Ocean View atau Wira Garden) mereka tetap menerapkan :
·         Tradisional Marketing dengan menyewakan unit penginapan (Product), dengan harga yang dibedakan berdasarkan fasilitas (Price), di Lokasi yang aksesibel (Place) dan dipromosikan melalui sosial media (Promotion).
·         Namun mereka tetap memberikan Nilai Tambah Experiential Marketing : mereka memecah “Kaku” – nya pemasaran tradisional jika  dulu hotel menawarkan “kamar standar” vs “kamar suite” sekarang menawarkan “pengalaman”.
1.       Barbecue di depan glamping bukan sekedar makan malam biasa, tapi “Social Bonding Experience”
2.       Cottage vs glamping bukan sekedar pilihan tempat tidur tapi tempat nyaman untuk pengalaman tanpa ada rasa takut jika hanya bisa dilakukan di hutan tapi di tempat yang nyaman dan aman.
Justru pengalaman seperti ini sangat efektif untuk marketing karena Pengalaman pengunjung tidak hanya bercerita tentang mengunap namun juga bisa memasak dibah Bintang-bintang namun tempat yang aman dan nyaman, Diferensiasi disaat semua hotel menawarkan fasilitas yang sama (TV,AC tempat tidur) tempat wisata yang menawarkan opsi barbecue dan glamping memiliki daya saing yang jauh lebih tinggi kerena kita menawarkan kenangan bukan sekedar tempat menginap, pengunjung juga merasa dihargai karena diberikan pilihan.