Menurut saya, experiential marketing bukan pengganti, tapi benar-benar bersinergi dengan traditional marketing. Keduanya bekerja saling terhubung yang membentuk hubungan antara manusia dan brand. Oleh karena itu traditional marketing (jangkauan) dan experiential marketing (kedalaman emosi). Contoh kasus yaitu : pada industri sepatu Nike. Dari segi traditional marketing yaitu adanya iklan di TV yang diiklankan oleh atlet atlet dunia dan berbakat (bagaimana jangkuan dalam mempromosikan produk) dan untuk experiential marketing yaitu adanya Nike Run Club atau event-event olahraga komunitas (munculnya perasaan nyaman dan percaya dengan brand ini). Sehingga dari insprirasi atlet-atlet atau ada juga yang ingin menjadi atlet kemudian merubah pengalaman hidup sehingga adanya kenyamanan dengan produk ini kemudian lebih krusial lagi dapat menciptakan gaya hidup yang sehat
Desi Ribut Saputri
Sudah mencapai batas waktu untuk mengirim ke forum ini sehingga Anda tidak dapat lagi mengirim ke forum ini.