DISKUSI 2 (EJAAN BAHASA INDONESIA DAN KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA )

DISKUSI 2 (EJAAN BAHASA INDONESIA DAN KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA )

Jumlah balasan: 47

Assalamu'alaikum wr wb

Tabik pun

Sore semua....

Apa kabar? Salam sehat

Alhmdlh kita telah sampai dipertemuan kedua, oleh karena itu kita akan melanjutkan materi mengenai "Ejaan Bahasa Indonesia dan Keterampilan Bahasa Indonesia". Pertemuan yang lalu kita telah membahas tentang sejarah bahasa Indonesia. Ibu berharap kelas 4S1-PI tidak melupakan asal mula bahasa Indonesia dan tahu tentang sejarah bahasa Indonesia kita ,yang berasal dari bahasa melayu sebagai buktinya di temukan prasasti-prasasti pada abad ke-7. intinya bahasa melayu diangkat sebagai bahasa persatuan melalui ikrar Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan di pakai secara resmi setelah kemerdekaan pada tanggal 18 Agustus 1945. 

Setelah kita mengenal dan tahu tentang sejarah bahasa kita harus lebih cinta dan bangga dengan bahasa Indonesia yang kita pakai sebagai alat komunikasi. Lestarikan bahasa baku kita, cintailah bahasa baku , berbahasa dengan menggunakan bahasa  yang baik dan benar.

Sekarang kita bahasa materi selanjutnya "Ejaan Bahasa Indonesia dan Keterampilan Bahasa Indonesia".



Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: DISKUSI 2 (EJAAN BAHASA INDONESIA DAN KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA )

oleh Reni Diliyanti -
Ibu beri waktu 15 menit absen di forum ini ya.., sebutkan nama dan NPM.
Tugas resume kirim di whatsApp grup.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: DISKUSI 2 (EJAAN BAHASA INDONESIA DAN KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA )

oleh Reni Diliyanti -
Sekarang kita bahasa materi selanjutnya "Ejaan Bahasa Indonesia dan Keterampilan Bahasa Indonesia".
Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia
Sampai saat ini dalam bahasa Indonesia telah dikenal tiga nama ejaan yang pernah berlaku. Ketiga ejaan yang pernah ada dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut.
Ejaan ini ditetapkan pada tahun 1901 yaitu ejaan bahasa Melayu dengan huruf Latin. Van Ophuijsen merancang ejaan itu yang dibantu oleh Engku NawawiGelar Soetan MaΓÇÖmoer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim._
ΓÇó Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, ejaan Van Ophuijsen mengalami beberapa perubahan.Keinginan untuk menyempurnakan ejaan Van Ophuijsen terdengar dalam Kongres Bahasa Indonesia I, tahun 1938 di Solo._
KemudianPada tanggal 19 Maret 1947, Mr. Soewandi yang pada saat itu menjabat sebagai Menteri Pengadjaran, Pendidikan, dan Kebudajaan Republik Indonesia melalui sebuahPutusan Menteri Pengadjaran Pendidikan dan Kebudajaan, 15 April 1947, tentang perubahan ejaan baru.meresmikan ejaan baru yang dikenal dengan nama Ejaan Republik, yang menggantikan ejaan sebelumnya.
Pada Kongres II Bahasa Indonesia tahun 1954 di Medan, Prof. Dr. Prijono mengajukan Pra-saran Dasar-Dasar Ejaan Bahasa Indonesia dengan Huruf Latin. Isi dasar-dasar tersebut adalah perlunya penyempurnaan kembali Ejaan Republik yang sedang dipakai saat itu. Namun, hasil penyempurnaan Ejaan Republik ini gagal diresmikan karena terbentur biaya yang besar untuk perombakan mesin tik yang telah ada di Indonesia.
ΓÇó Ejaan Melindo (Melayu Indonesia)
Usaha penyempurnaan ejaan terus dilakukan, termasuk bekerja sama dengan Malaysia dengan rumpun bahasa Melayunya pada Desember 1959. Dari kerjasama ini, terbentuklah Ejaan Melindo yang diharapkan pemakaiannya berlaku di kedua negara paling lambat bulan Januari 1962. Namun, perkembangan hubungan politik yang kurang baik antar dua negara pada saat itu, ejaan ini kembali gagal diberlakukan.
Pada awal Mei 1966 Lembaga Bahasa dan Kesusastraan (LBK) yang sekarang menjadi Pusat Bahasa kembali menyusun Ejaan Baru Bahasa Indonesia. Namun, hasil perubahan ini juga tetap banyak mendapat pertentangan dari berbagai pihak sehingga gagal kembali.
ΓÇó Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
Pada tanggal 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia meresmikan pemakaian Ejaan Bahasa Indonesia. Peresmian ejaan baru itu berdasarkan Keputusan Presiden No. 57 tahun 1972. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan, sebagai patokanpemakaian ejaan itu.
Karena penuntutan itu perlu dilengkapi, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang dibentuk oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat keputusannya tanggal 12 Oktober 1972, No. 156/P/1972, menyusun buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan yang berupa pemaparan kaidah ejaan yang lebih luas. Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat putusannya No. 0196/1975 memberlakukan Pedomaan Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurkan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah.
Pada tahun 1987 kedua pedoman tersebut direvisi. Edisi revisi dikuatkan dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0543a/U/1987, tanggal 9 September 1987. Beberapa hal yang perlu dikemukakan sehubungan dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan
Sebagaimana yang telah umum diketahui, Ejaan van Ophuysen sesuai dengan namanya diprakarsai oleh Ch. A. van Ophuysen, seorang berkebangsaan Belanda. Ejaan ini mulai diberlakukan sejak 1901 hingga munculnya Ejaan Soewandi. Ejaan van Ophuysen ini merupakan ejaan yang pertama kali berlaku dalam bahasa Indonesia yang ketika itu masih bernama bahasa Melayu. Dan ini menjadi dasar dan asal terbentuknya Bahasa Indonesia.
Sebelum ada ejaan tersebut, para penulis menggunakan aturan sendiri-sendiri di dalam menuliskan huruf, kata, atau kalimat. Oleh karena itu, dapat dipahami jika tulisan mereka cukup bervariasi. Akibatnya, tulisan-tulisan mereka itu sering sulit dipahami. Kenyataan itu terjadi karena belum ada ejaan yang dapat dipakai sebagai pedoman dalam penulisan. Dengan demikian, ditetapkannya Ejaan van Ophuyson merupakan hal yang sangat bermanfaat pada masa itu.
Setelah Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk dan diproklamasikan menjadi negara yang berdaulat, para ahli bahasa merasa perlu menyusun ejaan lagi karena tidak puas dengan ejaan yang sudah ada. Ejaan baru yang disusun itu selesai pada tahun 1947, dan pada tanggal 19 Maret tahun itu juga diresmikan oleh Mr. Soewandi selaku Menteri PP&K (Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan). Ejaan baru itu disebut Ejaan Republik dan dikenal juga dengan nama Ejaan Soewandi.
Sejalan dengan perkembangan kehidupan bangsa Indonesia, kian hari dirasakan bahwa Ejaan Soewandi perlu lebih disempurnakan lagi. Karena itu, dibentuklah tim untuk menyempurnakan ejaan tersebut. Pada tahun 1972 ejaan itu selesai dan pemakaiannya diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 16 Agustus 1972 dengan nama Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD).
Hingga sekarang EYD menjadi dasar dan kaidah Bahasa Indonesia terutama dalam penulisan. Semua kalangan menggunakan EYD sebagai ejaan yang benar dalam setiap tulisan ataupun karya tulis. Dan sering kita lihat kalau setiap syarat suatu karya tulis adalah sesuai dengan EYD.
Ejaan yang Disempurnakan (disingkat EYD) adalah ejaan bahasa Indonesia yang berlaku dari tahun 1972 hingga 2015. Ejaan ini digantikan oleh Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) sejak tahun 2015 . Penyempurnaan EBI antara lain pada penambahan huruf vokal diftong, penggunaan huruf kapital pada julukan. Selain itu penggunaan huruf tebal pada penulisan lema dan sublema dalam kamus juga dihapuskan dalam ejaan EBI.

Aspek-aspek keterampilan dalam Pendidikan Bahasa

 Keterampilan bahasa ada empat aspek, yaitu keterampilan berbicara, menyimak, menulis, dan membaca. Dalam berbicara, si pengirim pesan mengirimkan pesan dengan menggunakan bahasa lisan. Kemudian, dalam menyimak si penerima pesan berupaya memberi makna terhadap bahasa lisan yang disampaikan orang lain. Selanjutnya, dalam menulis si pengirim pesan mengirimkan pesan dengan menggunakan bahasa tulis. Dipihak lain, dalam membaca si penerima pesan berupaya memberikan makna terhadap bahasa tulis yang disampaikan orang lain.

Dalam mengirimkan pesan, antara lain si pengirim harus memiliki keterampilan dalam melakukan proses encoding. Sebaliknya dalam menerima pesan si penerima harus memiliki keteramplilan dalam melakukan proses decoding.

Keterampilan berbahasa bermanfaat dalam melakukan interaksi komunikasi dalam masyarakat. Banyak profesi dalam kehidupan bermasyarakat yang keberhasilannya, antara lain tergantung pada tingkat keterampilan berbahasa yang dimiliki oleh seseorang, misalnya profesi sebagai manager, jaksa, pengacara, guru, dan wartawan.

Ada 4 aspek keterampilan berbahasa Indonesia yaitu mendengar (menyimak), berbicara, membaca, dan menulis. Mendengarkan dan berbicara merupakan aspek keterampilan berbahasa ragam lisan, sedangkan membaca dan menulis merupakan keterampilan berbahasa ragam tulis. Mendengarkan dan membaca adalah keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif, sedangkan berbicara dan menulis bersifat produktif. Untuk menguasai keempat jenis keterampilan berbahasa tersebut seseorang harus menguasai sejumlah keterampilan mikro.




Sebagai balasan Reni Diliyanti

Re: DISKUSI 2 (EJAAN BAHASA INDONESIA DAN KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA )

oleh Reni Diliyanti -
Baca materi di atas, apakah ada yang ingin ditanyakan ?
Sebagai balasan Reni Diliyanti

Re: DISKUSI 2 (EJAAN BAHASA INDONESIA DAN KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA )

oleh Putra sp Putra -
Assalamualaikum bu izin bertaya untuk contoh setiap ejan itu seperti apa ya bu?
Misal nya Ejaan Van Ophuysen,Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi,Ejaan Melindo (Melayu Indonesia) seperti di contoh kan dengam suatu kalimat.
Itu saja bu mohon untuk jawaban nya
Sebagai balasan Putra sp Putra

Re: DISKUSI 2 (EJAAN BAHASA INDONESIA DAN KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA )

oleh Reni Diliyanti -
Kalau ibu menjawab semua panjang kalau berupa contohnya : Van Ophuysen:
Huruf ï untuk membedakan antara huruf i sebagai akhiran dan karenanya harus disuarakan tersendiri dengan diftong seperti mulaï dengan ramai. Juga digunakan untuk menulis huruf y seperti dalam Soerabaïa.
Huruf j untuk menuliskan kata-kata jang, saja, wajang, dsb.
Huruf oe untuk menuliskan kata-kata doeloe, akoe, Soekarni, repoeblik (perhatikan gambar prangko di atas), dsb.
Tandadiakritis, seperti koma ain dan tanda trema, untuk menuliskan kata-kata maΓÇÖmoer, jumΓÇÖat, taΓÇÖ(dieja tak), paΓÇÖ, (dieja pak), dsb.
Huruf tj yang dieja c saat ejaan ini dihapuskan, seperti Tjikini, tjara, pertjaya, dsb.
Huruh ch yang dieja kh, seperti chusus, achir, machloeΓÇÖ, dsb.

Ejaan republik disebut juga ejaan Soewandi : Huruf oe diganti dengan u pada kata-kata dulu, aku, Sukarni, republik dsb.

EJaan Melindo ejaan yang tidak jadi diterbitkan karena banyak yang tidak setuju karena tulisan sulit dipahami.

Contoh tulisannya pada ikrat sumpah pemuda :
Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.
Sebagai balasan Reni Diliyanti

Re: DISKUSI 2 (EJAAN BAHASA INDONESIA DAN KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA )

oleh Bulan Pitaloka -
Maaf Bu izin bertanya, tadi di jelaskan ada bahasa melindo atau Melayu Bu, yang ingin saya tanyakan adalah mengapa bahasa Melayu yang menjadi bahasa yang digunakan di Indonesia?

Terimakasih Bu sebelumnya
Sebagai balasan Bulan Pitaloka

Re: DISKUSI 2 (EJAAN BAHASA INDONESIA DAN KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA )

oleh Reni Diliyanti -
Karena menurut sejarah bahasa Indonesia awalnya bahasa kita diambil dari bahasa melayu terutama banyak melayu Riau dan berbendaharan bahasa kita juga banyak di ambil dari bahasa-bahasa melayu melalui jalur perdagangan.
Sebagai balasan Reni Diliyanti

Re: DISKUSI 2 (EJAAN BAHASA INDONESIA DAN KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA )

oleh Dian Wahyu Oktari -
assalamualaikum buu..
izin betanya dari semua yang saya baca ada kemungkinan tidak ejaan itu bisa berubah lagi seperti ada pembaharuan?

terima kasih bu sebelumnya
Sebagai balasan Dian Wahyu Oktari

Re: DISKUSI 2 (EJAAN BAHASA INDONESIA DAN KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA )

oleh Reni Diliyanti -
Tidak menutup kemungkinan ejaan bisa berubah lagi atau bisa diperbarui, Ya contohnya EYD yang kini diganti EBI sejak 2015.
Sebagai balasan Reni Diliyanti

Re: DISKUSI 2 (EJAAN BAHASA INDONESIA DAN KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA )

oleh Layla Azzahra -
Assalamualikum bu saya ingin bertanya, contoh pemanfaatan kalimat elipsis itu bagaimana?
Sebagai balasan Layla Azzahra

Re: DISKUSI 2 (EJAAN BAHASA INDONESIA DAN KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA )

oleh Reni Diliyanti -
Tanda elipsis disimbolkan dengan (…)
contohnya:
Tadi aku sempat bertemu dengannya di …. dan kami pun juga sempat berbincang satu sama lain.
Hanya kau… Ya, hanya kau… yang sering disebut-sebut olehnya.
Mungkin iya mungkin tidak… mungkin lusa mungkin hari selanjutnya.
Mohon maaf, tapi… aku tidak bisa memenuhi keinginanmu yang terakhir itu.
Oh rembulan… sampai kapankah derita ini ‘trus bersarang?
Sebagai balasan Reni Diliyanti

Re: DISKUSI 2 (EJAAN BAHASA INDONESIA DAN KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA )

oleh Reni Diliyanti -

Sebenarnya materi EJaan Bahasa Indonesia ini sangat luas, tapi tidak perlu kita bahasa semuanya dalam forum ini. Kalian bisa baca sendiri di google dan pedoman ejaan bahasa Indonesia. tapi jika ada pertanyaan bisa kita diskusikan minggu depan. karena kalian seorang mahasiswa yang cerdas pasti sudah tahu tentang tanda baca, huruf kapita, huruf miring dll. Sebagai seorang mahasiswa harus menguasai 4 aspek keterampilan yaitu menyimak, membaca, menulis dan berbicara. Terima kasih untuk hari ini. 


kita sama-sama belajar ya...jaga kesehatan dan ikuti peraturan pemerintah. wsslm :-)