Pemahaman pentingnya perubahan pola pikir, menjabarkan perubahan mindset, mengenalkan mindset entrepreneur
Pola Pikir dan Karakteristik Menjadi Wirausaha
BAB I
MENJADI WIRAUSAHA
1. Pendahuluan
Pada tahun 1998, perekonomian Indonesia memasuki masa yang sangat sulit. Pergantian kekuasan dari era orde baru ke era reformasi yang disertai multidimensi mengakibatkan penggangguran dimana-mana. Perusahaan-perusahaan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Maka untuk mengatasi hal ini diperlukan wirausaha. Ekonomi UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) menjadi tumpuan dan pilihan penting bagi para sarjana untuk sejahtera dan mandiri sederhana dan menolong orang mengatasi pengangguran.
Tabel 1. Karakteristik Usaha Mikro dan Kecil
|
Positif |
Negatif |
|
1. Tahan Banting |
1. Informal |
|
2. Fleksibel |
2. Skala Ekonomi Rendah |
|
3. Mandiri |
3. Tidak ada Standar SOP |
|
4.Efisiensi (dikerjakan seluruh keluarga) |
4. Belum mendapatkan/menerapkan prinsip manajemen |
|
5. Self-finance |
5. Tidak disiapkan untuk jadi besar/tumbuh |
|
6. Pengembangan Terbatas |
Ada empat jenis usaha yang berkembang di masyarakat, yakni:
1. Usaha Mikro
Usaha mikro merupakan usaha yang paling banyak di Indonesia yakni sekitar 50.700.000 usaha mikro yang berkembang di Indonesia sehingga membuat usaha ini menyerap paling banyak tenaga kerja yakni sebanyak 83.647.711 jiwa atau sama dengan 80% tenaga kerja di Indonesia memilih untuk menjadi wirausaha di usaha mikro.
2. Usaha Kecil
Usaha kecil merupakan usaha kedua terbanyak yang berkembang di Indonesia yakni 520.000 usaha kecil.
3. Usaha Menengah
Usaha menengah merupakan usaha ketiga paling banyak berkembang di Indonesia yakni sebanyak 39.660 usaha menengah.
4. Usaha Makro
Usaha makro adalah usaha yang paling sedikit berkembang di Indonesia yakni sekitar 4370 usaha mikro.
2. Karakter-Karakter Dasar Seorang Wirausaha
Wirausaha itu haruslah sebagai berikut:
1. Bukan sekedar tumpangan hidup
Tidak semua orang yang berusaha itu adalah entrepreneur. Entrepreneur adalah seseorang yang berusaha dengan keberanian dan kegigihan sehingga usahanya mengalami pertumbuhan. Seseorang yang hanya melakukan usaha dan stagnant, taka da perubahan dari waktu ke waktu, dan mengerjakan suatu pekerjaan tanpa perencanaan kemajuan sama sekali bukan disebut entrepreneur, mereka hanyalah pedagang biasa.
Seorang entrepreneur adalah seseorang yang moving forward, maju terus ke depan, dan bertumbuh dari waktu ke waktu
2. Bersahabat dengan ketidakpastian
Salah satu karakter utama seorang wirausaha adalah persahabatan yang kental dengan ketidakpastian atau dengan kata lain berani mengambil resiko. Hal ini karena, seorang wirausaha tidak mempunyai gaji yang stabil setiap bulannya dan tantangan penjualan dagangannya setiap harinya. Mereka yang bersahabat dengan ketidakpastian, mengenal betul karakter-karakter ketidakpastian dan mampu mengambil manfaat besar darinya.
3. Usaha sesungguhnya, bukan spekulatif
Perbedaan antara usaha spekulatif dengan usaha riil dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Perbedaan Usaha Spekulatif dengan Usaha Riil
|
Usaha Spekulatif |
Usaha Riil |
|
Wealth = Money |
Wealth = Well Being |
|
Illusionary Wealth, magic. (kehidupan yang bisa didapat melalui spekulasi) |
Instrinsic Wealth (Kehidupan yang artistic, spiritual, intelligence, intellectual) |
|
Tingkat pengembalian (rate of return), kinerja ekonomi (economic performance), peringkat (rating and scoring) |
Kontribusi ekonomi dalam jangka panjang terhadap manusia dan alam/habitatnya |
|
Aset yang terus meningkat nilainya, penampilan yang berlebih (over valued asset, handsome performance) |
Saling memelihara/menjaga (Mengurangi ketergantungan pada uang), mengutamakan tat nilai |
|
Yang kaya semakin kaya, uang bisa memperbesar uang |
Kekayaan yang diperoleh dari kerja keras,inovasi, persaingan |
|
Jangan bekerja untuk uang, buatlah uang bekerja untuk Anda. Bekerja hari ini untuk hari ini. |
Jangan berilusi, bekerja keraslah, hidup yang hemat, nikmati pada masanya.bekerja sekarang, nikmati hari tua, dan sisakan untuk generasi yang akan datang |
|
Inilah Tradisi Wall Street |
Inilah Tradisi Market Street |
3. Karakter-Karakter Dasar Entrepreneurial Mindset
Ada tujuh karakter-karakter dasar entrepreneurial mindset, yaitu:
Action Oriented
1. Bukan tipe menunda, wait and see, atau membiarkan sesuatu (kesempatan) berlalu begitu saja. Prinsip yang dianut adalah see and do. Bagi mereka, resiko bukanlah untuk dihindari, melainkan untuk dihadappi dan ditaklukkan dengan tindakan dan kelihaian.
2. Berpikir simpel
Walaupun suatu keadaan di dunia ini berubah menjadi sangat kompleks, mereka selalu belajar menyederhanakannya. Mereka melihat persoalan dengan proses berfikir yang jernih dan menyelesaikan masalah satu demi satu secara bertahap.
3. Mereka selalu mencari peluang-peluang baru
Jika mereka mulai dari usaha yang baru, maka mereka mau untuk bekajar memahami usaha baru tersebut, dan apabila usaha yang sama, mereka mau unutuk mencari alternatif-alternatif baru. Mereka meraih keuntungan bukan hanya dari bisnis atau produk baru, melainkan juga dari cara-cara baru.
4. Mengejar peluang dengan disiplin tinggi
Karena wirausaha melakukan inventasi dan menanggung resiko, maka seseorang wirausaha harus memiliki disiplin yang tinggi. Mereka bertarung dengan waktu karena peluang selalu berhubungan dengan waktu. Sekali suatu kesempatan hilang, maka belum tentu kesempatan yang sama datang kembali di lain waktu.
5. Hanya mengambil peluang yang terbaik
Wirausaha hanya akan mengambil peluang yang terbaik baginya. Ukuran menarik itu adalah pada nilai-nilai ekonomis yang terkandung di dalamnya, masa depan yang lebih cerah, kemampuan menunjukkan prestasi, dan perubahan yang dihasilkan. Pada akhirnya, sukses yang diraih setiap orang ditentukan oleh keberhasilan orang itu dalam memilih
SUCCESS = f (CHOICE)
6. Fokus pada eksekusi
Manusia dengan entrepreneurial mindset mengeksekusi, yaitu melakukan tindakan dan merealisasikan apa yang dipikirkan daripada menganalisa ide-ide baru sampai mati.
7. Menfokuskan energi setiap orang pada bisnis yang digeluti
Kemampuan untuk mengumpulkan orang, membangun jaringan, memimpin, menyatukan gerak, memotivasi, dan berkomunikasi.
4. Pilihan Entrepreneurship
Pilihan entrepreneurship antara lain:
a. Karyawan : bekerja pada orang lain, professional executive (decision market)
b. Intrapreneurship : karyawan dengan jiwa kewirausahaan (inovatif dan tajam dalam peluang)
c. Social- Entrepreneurship : Pelaku kegiatan sosial berwatak entrepreneur
d. Eco-Preneur : wirausaha dalam lingkungan hidup yang berwatak sosial
BAB II
BERFIKIR PERUBAHAN
1. Perbedaan Pola Pikir Entrepreneurship dengan Non Entrepreneurship
Perbedaan Pola Pikir Entrepreneurship VS Non Entrepreneurship adalah sebagai berikut:
a. Produktif VS Konsumtif
b. Resources Utilization VS Resources Disposal
Untuk memulai usaha bisnis hanya dapat dilakukan dengan metode ΓÇ£3MΓÇ¥, yakni:
a. Motivasi
b. Mindset
c. Make It
2. Mindset Menggerakan Perilaku
Pola pikir atau mindset adalah keseluruhan/kesatuan dari keyakinan yang kita miliki, nilai-nilai yang kita anut, kriteria, harapan, sikap, kebiasaan, keputusan, dan pendapat yang kita keluarkan dalam memandang diri kita sendiri, orang lain atau kehidupan ini. Pola pikir memberi tahu kita bagaimana hidup ini harus dijalankan yang akhirnya akan menentukan apakah kita berhasil atau tidak.
3. Mengubah Pola Pikir
Pola pikir dapat diubah karena pola pikir merupakan hasil dari sebuah proses pembelajaran maka pola pikir juga diubah dan dibentuk ulang. Pola pikir itu tentu saja sulit untuk diubah. Ada yang cepat, ada yang memerlukan waktu yang lama. Tanda-tanda terjasinya perubahan pola pikir yakni ketika kita dapat memahami suatu hal yang selama ini kita benci seharusnya dapat kita kasihi. Perubahan pola pikir berarti juga berubah dari satu pola pikir kepada pola pikir yang lain.
4. Pola Pikir Entrpreneurship
Pola pikir entrepreneurship berkarakter produktif, bukan konsumtif. Dia selalu berusaha mencari cara baru untuk meningkatkan utilitas sumber daya secara efisien. Dia selalu mencari alternated bila sumber daya yang ada terbatas. Dia cenderung job creator daripada sekedar job seeker. Semua karakter tersebut disebabkan oleh jumlah total pola pikir positif, kreatif, keuangan, dan pola pikir produktif yang dimilikinya.
5. Hambatan Persepsi saat Memulai Usaha
Hambatan Persepsi Memulai Usaha, yakni:
a. Merasa terlalu tua atau terlalu muda
b. Tidak berbakat
c. Tidak punya modal
Untuk memulai usaha, kita hanya butuh 3M, yaitu motivasi yang kuat, mindset yang tepat (produktif, kreatif, positif), dan make it (lakukan saja).
6. Kreatifitas Financial Entrepreneurship
Kunci kesuksesan transformasi dari perjuangan finansial hingga menuju pada kondisi kebebasan finansial sebagaimana konsep transformasi Cashflow Quadrantnya Kiyosaki tergantung pada kecerdasaan finansial Anda. Untuk mencapainya diperlukan kreativitas finansial. Kreativitas finansial berusaha mengubah mind set yang ada pada diri kita masing-masing mengikuti pola pikir manusia sejahtera yang efisien dan sesuai konsep ekonomis. Kreativitas secara finansial dalam kenyataanya meruapakan ketersediaan untuk berpindah dari zona nyaman menuju zona baru yang penuh tantangan.
BAB III
BERFIKIR KREATIF
1. Orang Dewasa yang Tidak Kreatif
Dengan otak yang sehat, kita dapat berfikir kreatif sehingga timbul gagasan-gagasan dan terobosan-terobosan usaha yang inovatif. Penurunan tingkat kreativitas sejalan dengan makin lanjutnya usia seseorang disebabkan oleh hubungan antara intensitas eksperimen dengan keinginan mencari aman. Maka, semakin tua seseorang manusia semakin cemnderung menghindari risiko dan ingin menjalani hal-hal yang aman saja (status quo).
2. Pembuka Pintu Kesulitan
Kreativitas dibagi ke dalam tiga unsur, yaitu melihat dengan sudut pandang (perspektif) yang baru, menemukan hubungan baru, atau membentuk kombinasi baru dari objek, konsep, atau fenomena. Ide yang ideal dan bermanfaat adalah pikiran yang terarah pada invensi (pengembangan gagasan), inovasi (mengubah gagasan menjadi produk), dan paten (proteksi produk). Pemunculan ide sebagai jiwa dari kretivitas membutuhkan suatu fokus pemikiran konsentrasi. Dengan fokus dan konsentrasi, Anda dengan cepat memilah dan memilih mana informasi dan aktivitas yang mendukung ide Anda dan mana yang tidak. Dengan menfokuskan diri pada hal-hak yang mendukung serta mengabaikan semua yang tidak mendukung, ide yang Anda gagas tersebut akan dapat berkembang dan mampu menghasilkan nilai ekonomis.
3. Hambatan Kreativitas
Ada 5 hambatan kreativitas dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Hambatan Kreativitas
|
Jenis Hambatan |
Contoh |
|
Hambatan persepsi |
- Pola pikir stereotip - Membatasi masalah secara berlebihan - Terlalu banyak atau sedikit informasi |
|
Hambatan Emosi |
- Takut mengambil resiko - Tidak menyukai ketidakpastian - Lebih suka menilai daripada menghasilkan gagasan - Menggangap remeh suatu masalah - Tergesa-gesa menyelesaikan masalah |
|
Hambatan Kultural |
- Kultur menghambat pengakumulsian gagasan |
|
Hambatan Lingkungan |
- Kurangnya dukungan sarana, prasarana kerja |
|
Hambatan Intelektual |
- Terlalu mengandalkan logika - Enggan menggunakan intuisi - Menggunakan pengalaman atu cara lama yang terbukti efektif hasilnya. |
a. Hambatan Persepsi
Merupakan hambatan yang membuat manusia sulit mempersepsikan masalah atau menangkap informasi yang relevan.
b. Hambatan Emosi
Hambatan emosi dapat menggangu kemampuan seseorang memecahkan masalah melalui berbagai cara. Hambatan emosi antara lain:
1. Takut mengambil resiko
Karena manusia tidak diberikan peluang untuk melakukan kesalahan, banyak orang takut salah dan akhirnya takut mengambil resiko
2. Berani menghadapi ketidakpastian
Ini berarti kita harus berani berpindah dari zona nyaman ke zona baru. Ingatlah selalu bahwa seseorang entrepreneur ada karena ada orang-orang yang mau mengarungi samudera ketidakpastian.
3. Lebih suka menilai daripada menghasilkan gagasan baru
Jika dalam suatu keadaan penilian negatif yang awalnya muncul, maka akan banyak sekali gagasan hebat yang akan ditolak.
4. Kurang Tantangan
Segala sesuatu yang dipandang sepele membuat kita kurang memiliki tantangan sehingga tidak bergerak
5. Terburu-buru
Sikap terburu-buru tidak baik dalam mencari suatu pemikiran yang kreatif, maka diperlukan suasana yang tenang agar pemikiran kreatif itu dapat muncul.
c. Hambatan Kultural
Salah satu jenis hambatan kultural yang paling umum adalah takut untuk tampil berbeda dengan yang lain, atau takut mengambil tindakan, mengemukakan gagasan yang kemungkinan bakal dianggap kontroversial
d. Hambatan Lingkungan
Merupakan hambatan kultural yang lebih luas.
e. Hambatan Intelektual
Biasanya disebabkan oleh sikap mental yang tidak efisien atau keengganan untuk menggunakan pendekatan baru.
Hambatan kreativitas beserta pendorong untuk keluar dari hambatan tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Hambatan Kreativitas dan Pendorong Kreativitas
|
Penghambat Kreativitas |
Lakukan perubahan dengan |
Pendorong Kreativitas |
|
Sikap negatif |
Sikap positif |
|
|
Taat pada aturan |
Melanggar aturan |
|
|
Membuat asumsi |
Memeriksa asumsi |
|
|
Stress yang berlebihan |
Mampu menyalurkan stress |
|
|
Takut gagal |
Teknik mengambil resiko |
|
|
Berkeyakinan bahwa diri sendiri tidak kreatif |
Yakinlan bahwa anda kreatif |
|
|
Terlalu mengandalkan logika |
Menggunakan imajinasi dan intuisi |
BAB IV
BERORIENTASI PADA TINDAKAN
1. Pendahuluan
Orientasi PDCA (Plan, Do, Check and Action) digunakan untuk menghindari hal-hal berikut ini, yakni :
- NATO (No Action Talk Only); hasil : gosip, konflik
- NADO (No Action Dream Only); hasil : visi, karya seni
- NACO (No Action Concept Only); hasil : teori, falsafah
2. 8 Habits of Highly Effective People
8th Habits of Highly Effective People (Stephen Covey), yaitu:
1. Proaktif
Berfikir proaktif adalah mengambil tindakan sebelum sebuah kejadian yang tidak dikehendaki mncul. Proaktig juga mengambil inisiatif untuk bertindak, bukan menunggu atau berwacana. Mengambil tindakan sebelum sebuah kejadian yang tidak dikehendaki muncul :
Terlatih di lapangan _ memiliki intuisi
2. Bermula dari Ujung Pemikiran (end of mind)
Manusia yang berorientasi pada tindakan tidak hanya mengejar pencapaian tujuan, akan tetapi juga berburu tujuan yang benar. Agar Mencapai Tujuan Yang Benar, Tuliskan misi pribadi hidup Anda yang menggambarkan tujuan dan citra diri. Misi pribadi ditemukan melalui serangkaian tindakan atau kejadian-kejadian pahit sehingga membentuk kebajikan dan filosofi hidup. Secara bertahap kebajikan dapat diperoleh melalui tahap-tahap berikut:
a. Penginderaan fisik
Terdiri dari belajar dari orang lain, manusia sakti,
b. Pengalaman hidup,
c. Ilmu pengetahuan, melawan mitos, lepaskanlah belenggu-belenggu negatif, keluarlah dari zona kenyamanan, kepribadian menentukan penglihatan
d. Kebajikan
3. Dahulukan Hal yang Utama
|
Urgent |
Tidak begitu urgent |
|
|
Penting |
- Deadline dari klien - Menghadapi bencana-bencana seperti kebakaran |
- Aktivitas preventif - Menjaring network - Perencanaan - Pengetahuan professional |
|
Tidak begitu penting |
- Interupsi - Cek e-mail - Meeting yang tidak direncanakan |
- Aktivitas tidak produktif - Membaca buku tak berguna |
4. Berfikir Menang ΓÇô Menang (win ΓÇô win )
Manusia efektif akan selalu bersikap win-win. Mereka berusaha agar semua pihak mencapai kondisi akhir yang baik. Mereka menyadari bahwa menang sendiri dapat bersifat destruktif karena hal itu hanya menghasilkan pihak yang kalah dan akhirnya akan memunculkan perasaan bermusuhan dan perasaan buruk lainnya.
5. Memahami Untuk Dipahami
Seorang wirausaha harus memiliki keterbukaan untuk mendengarkan, dan tidak menolak, beragumentasi, atau melawan atas apa yang mereka dengar dari pihak lain. Maka yang perlu dikembangkan yakni kebiasaan mendengarkan dan memikirkannya dan ada usaha menempatkan diri kita pada posisi orang lain.
6. Sinergi
Seorang Wirausaha harus mencari sinergi, yaitu suatu total yang lebih besar dari penjumlahan elemenelemen tunggalnya. Merespon kooperatif, Sinergi yang efektif sangat bergantung pada komunikasi.
7. Menajamkan Ketahanan, Fleksibilitas dan Kekuatan
8. Menemukan Keunikan dan Membantu Orang Lain Menemukannya
BAB V
PENGAMBILAN RISIKO
1. Definisi Risiko
Risiko didefinisikan sebagai adanya konsekuensi, sebagai dampak adanya ketidakpastian, yang memunculkan dampak yang merugikan pelaku usaha. Sebaliknya, konsekuensi yang memunculkan dampak yang menguntungkan tidak dianggap sebagai risiko. Konsekuensi positif ini dianggap sebagai keuntungan yang diharapkan. Alasan orang mengambil risiko adalah menginginkan pengembalian yang sepadan (return) yakni dengan mampu mengkalkulasi risiko dan kepepet. Kepepet dapat terjadi karena tidak mampu mengkalkulasi risiko, atau tidak tahu risiko yang dihadapi.
2. Jenis-jenis Risiko dalam Bisnis
Ada 2 macam Risiko dalam bisnis, yaitu:
a. Risiko Murni
Resiko murni adalah resiko yang muncul sebagai akibat dari sebuah situasi atau keputusan yang konsekuensinya adalah kerugian. Bentuk risiko murni yang sering muncul antara lain:
1. Risiko hilang/rusaknya asset yang dimiliki
2. Kecelakaan kerja pada proses produksi
3. Risiko akibat tuntutan hukum pihak lain
4. Risiko operasional lainnya
5. Bencana alam
b. Risiko Spekulatif
Risiko spekulatif adalah risiko yang muncul akibat situasi atau keputusan yang konsekuensinya bisa berupa keuntungan ataupun kerugian. Contoh resiko spekulatif yakni resiko perubahan harga dan risiko kredit.
3. Bentuk-Bentuk Kerugian Akibat Adanya Resiko
Ada 2 jenis kerugian yang diakibatkan oleh risiko, yaitu:
a. Kerugian Langsung
Yaitu jumlah nominal yang harus ditanggung akibat dampak langsung dari risiko yang dapat terjadi. Misalnya, kebakaran pada toko yang digunakan sebagai usaha.
b. Kerugian Tidak Langsung
Yaitu nominal yang harus ditanggung akibat dampak tidak langsung risiko yang terjadi, misalnya kemungkinan penjualan mendapatkan keuntungan.
Cara yang dapat digunakan untuk mengalkulasikan seberapa besar resiko yang terjadi, yakni:
1. Tentukan seberapa sering suatu risiko terjadi (frekuensi atau probabilitasnya)
2. Tentukan dampak yang ditimbulkan dari risiko yang terjadi
3. Hitung kemungkinan prediksi kerugian, dengan formula:
Frekuensi x Dampak
4. Pengelolaan Risiko
Ada 4 pilihan strategi pengelolaan risiko, yaitu:
a. Dikontrol (risk control)
Yaitu upaya-upaya yang dilakukana agar probabilitas terjadinya risiko yang diidentifikasi menjadi berkurang.
b. Ditransfer kepada pihak lain (risk transfer)
Yaitu upaya-upaya yang secara sadar dilakukan dengan memindahkan risiko yang kita hadapi terhadap pihak lain.
c. Dibiayai sendiri (risk retention)
Yaitu upaya-upaya mendanai dampak yang ditimbulkan oleh risiko
d. Dihindari (risk avoidance)
Yaitu tindakan secara sadar untuk menghindari risiko yang dihadapi
Pola Pikir (Mindset) Wirausaha

Pola pikir (mindset) adalah cara memandang terhadap sesuatu yang tertangkap oleh indradan menghasilkan sikap yang terungkap dalam perilaku dan menghasilkan 'nasib'. atau bisa juga diartikan semacam filter diri sendiri untuk menafsirkan apa yang kita lihat dan kita alami. pola pikir manusia bisa diubah, dari pola pikir yang negatif ke positif, pecundang ke pemenang, pekerja menjadi wirausaha.
Pola pikir seorang entrepreneur itu adalah pola pikir yang produktif, kreatif, inovatif karena polapikir seperti inilah yang dibutuhkan oleh semua entrepreneur untuk menjalankan suatu usaha. wirausahawan tidak selamanya mulus dalam menjalankan usahanya. ada beberapa hambatan yg mungkin saja dialami oleh wirausahawan saat akan membangun suatu usaha. masalah paling utama yang dihadapi adalah MODAL, merasa dirinya tidak berbakat dalam berwirausaha, merasa dirinya terlalu tua untuk memulai usaha. mungkin hal-hal di bawah ini bisa dilakukan dalam memulai suatu usaha.

Apa yang membuat seorang pengusaha berbeda dengan seorang pekerja biasa? Jawabannya singkat, pola pikirnya.
Lalu, bagaimana sih pola pikir pengusaha sehingga mereka bisa menjadai pemilik bisnis yang sukses? Menarik untuk dibahas, terutama buat Anda yang ingin memulai berbisnis.
Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan menjadi seorang pekerja atau karyawan. Selain gaji bulanan akan membuat kita merasa aman dan terhindar dari kendala keuangan, bekerja kantoran juga memberikan kita banyak pengalaman.
Namun, rutinitas yang membosankan tentu harus dijalankan setiap hari untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang karyawan.
Nah, agar tak terjebak dengan zona nyaman ala pekerja biasa, mulailah mengumpulkan modal dan rencanakan alih profesi sebagai pengusaha.
Pola Pikir Pengusaha yang Patut Ditiru
Pebisnis tentunya memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada pekerja biasa. Kita harus menempa mental untuk menjadi orang yang lebih bertanggung jawab, disiplin, dan inovatif.
Buang jauh-jauh mental pekerja bila kita ingin menjadi pengusaha yang sukses. Lalu, pola pikir seperti apa yang harus dimiliki oleh seorang pengusaha?
1. Bertanggung Jawab Untuk Semua Situasi dan Keputusan yang Diambil
Pengusaha adalah sosok luar biasa yang punya kesempatan untuk menciptakan sesuatu yang tadinya tak ada menjadi ada.
Dulu saat jadi seorang pekerja biasa, mungkin kita tinggal menjalankan semua tugas tanpa harus pusing berpikir baik buruknya kontribusi tugas tersebut untuk perusahaan.
Pola pikir ini tentunya harus diubah, karena seorang pengusaha tidak hanya bertanggung jawab untuk kesejahteraan dirinya sendiri, tapi juga harus bertanggung jawab terhadap kesejahteraan usahanya atau bahkan kesejahteraan tim dalam usaha.
Sebelum terjun menjadi pengusaha, pola pikir pengusaha seperti ini harus dipraktikkan saat masih bekerja kantoran.
2. Visi Jangka Pendek dan Jangka Panjang Berjalan Seiringan
Seorang pekerja biasanya fokus kepada hal-hal yang bersifat jangka pendek saja. Namun pengusaha harus membangun visi jangka pendek dan visi jangka panjang kemudian menjalankannya secara bersamaan.
Jangan pernah bermalas-malasan untuk mewujudkan setiap visi dan ide brilian yang sudah terlintas di benak kita selama ini.
Jika Anda punya rencana untuk menjalankan sebuah bisnis, maka Anda harus punya pandangan yang jelas tentang bisnis tersebut.
Misalnya visi jangka pendek, Anda ingin punya usaha untuk penghasilan tambahan. Sedangkan visi jangka panjangnya, dalam waktu 5 tahun ke depan bisnis Anda sudah 100 kali lebih besar dan stabil.
3. Ketidaknyamanan Merupakan Zona Nyaman
Pengusaha selalu dituntut untuk berpikir ΓÇ£out of the boxΓÇ¥. Segala ide-ide baru yang liar serta keinginan untuk mewujudkannya harus dijalankan secara terencana agar bisa mendatangkan keuntungan dan reputasi yang baik bagi bisnis yang sedang dibangun.
Keluarlah dari zona nyaman seorang pekerja, dan jadikan ketidaknyamanan sebagai bagian dari proses pembelajaran.
4. Belajar adalah Perjalanan Tanpa Henti
Seperti kata Steve Jobs; Stay hungry, stay foolish. Tetaplah merasa lapar, tetaplah merasa bodoh.
Para pengusaha sukses tidak pernah merasa dirinya sudah hebat. Mereka selalu belajar hal baru dan mengkuti teknologi sesuai dengan perkembangan jaman.
Keterampilan spesifik biasanya dibutuhkan seorang pekerja untuk menyelesaikan seluruh kewajibannya. Namun memilih menjadi seorang entrepreneur berarti memutuskan untuk melakukan proses pembelajaran seumur hidup.
Karena sebuah bisnis tak dapat meraih sukses tanpa proses pembelajaran yang dilakukan secara berkesinambungan. Belajar dari banyak hal akan membuat kita lebih aware terhadap perubahan situasi yang terjadi secara signifikan.
5. Pribadi yang Objektif dan Mencintai Usaha yang Dibangun
Jujur saja, seorang pekerja biasa seringkali harus berupaya menyelesaikan semua pekerjaannya, meskipun itu hal yang tidak ia sukai.
Tapi saat seorang pekerja sudah bertransformasi sebagai pengusaha, berarti orang tersebut sudah memilih bidang yang akan ia cintai.
Lakukan segala cara yang objektif dan masuk akal untuk mulai memajukan bisnis yang dibangun dari nol.
6. Melanggar Aturan Baku Bukanlah Hal Tabu Bagi Pengusaha
Melanggar aturan kala bekerja dengan perusahaan lain bisa berujung pada pemecatan, tapi tidak demikian halnya dengan seorang pengusaha.
Mendobrak aturan-aturan yang baku dan kebiasaan-kebiasaan konvensional berarti mencari cara baru untuk memajukan bisnis secara positif.
Menjadi eksentrik untuk mencapai kesuksesan ternyata sah-sah saja, selama hal tersebut halal dan tidak mengganggu hak serta kepentingan orang lain.
7. Dedikasikan Waktu yang Tak Terbatas
Eight to five, begitulah kira-kira jam kerja yang harus dipatuhi oleh pekerja biasa.
Menjadi pengusaha berarti mengorbankan kebahagiaan ketika melihat angka 5 di jam tangan. Karena seorang entrepreneur membutuhkan waktu yang tak terbatas untuk membangun kesuksesan suatu bisnis.
Para pengusaha sukses tidak mengenal waktu dalam bekerja ketika memulai usahanya. Bahkan mereka bisa bekerja belasan jam per hari.
Carilah berbagai inovasi dalam keadaan yang rileks dan santai agar kita tak merasa terbebani dengan waktu yang sedang kita gunakan.
8. Gaya Hidup Sederhana
Ok, mungkin Anda berasal dari keluarga kaya dan memiliki usaha. Tapi memamerkan kekayaan dan harta benda di sosial media bukanlah gaya hidup para pengusaha sukses.
Para pengusaha sukses memiliki pola pikir bahwa kesederhanaan hidup itu lebih penting ketimbang pengakuan orang di sosial media.
Dan yang menjadi tujuan utama para pengusaha itu adalah bagaimana cara menjadi kaya, bukan bagaimana agar terlihat kaya.
Itulah sebabnya mengapa ada banyak pengusaha sukses yang menggunakan pakaian dan mobil sederhana.
9. Menerapkan Sikap Disiplin
Sikap disiplin merupakan salah satu kebiasaan dan pola pikir para pengusaha sukses. Sikap disiplin sebaiknya diterapkan sejak dini oleh para orang tua kepada anak-anaknya.
Sikap disiplin ini sesuatu yang dapat dipelajari dan harus dilatih secara terus menerus. Ini membutuhkan konsistensi, motivasi, dan keinginan kuat menahan diri dari godaan yang membuat malas.
Kedisiplinan membuat seseorang dapat memilah dan memilih apa yang yang dibutuhkan dan fokus pada pencapaiannya. Itulah sebabnya mengapa sikap disiplin itu menjadi gaya hidup bagi para pengusaha sukses.
10. Pantang Menyerah
Para pengusaha tahu fakta bahwa menjalankan bisnis itu akan banyak tantangan dan rintangan. Kegagalan, ditinggalkan, kehilangan semangat, merupakan bagian dari jalan ninja para pengusaha sukses.
Namun ketika semua tantangan dan rintangan itu menghadang, seorang pengusaha tidak mudah menyerah. Berbagai kesalahan, baik itu dalam perencanaan maupun pelaksanaan, menjadi pelajaran berharga bagi mereka.
Menyerah tidak ada dalam kamus mereka. Mungkin mereka akan mundur beberapa langkah, tapi itu hanya sebagai ancang-ancang untuk melesat berlari lebih kencang.
11. Persaingan Menumbuhkan Inovasi
Lihatlah para pengusaha sukses, mereka tidak takut untuk bersaing dengan bisnis lain. Dan mereka tidak menganggap pesaing itu musuh atau ancaman yang harus dimusnahkan.
Para pengusaha memiliki pola pikir bahwa persaingan adalah kesempatan untuk belajar untuk meningkatkan kinerja bisnisnya.
Pengusaha sukses menggunakan para pesaing sebagai pembanding terhadap usahanya dan mempelajari hal-hal yang harus diperbaiki sehingga bisnisnya lebih maju dan berkembang.
12. Tidak Menunda Waktu
Banyak orang yang bingung kapan waktu yang tepat untuk keluar dari zona nyaman dan mulai bertransformasi jadi pengusaha.
Kuncinya hanya satu, yaitu memulainya dari sekarang.
Seperti kata Bob Sadino, bisnis yang bagus adalah bisnis yang dibuka, bukan yang ditanyakan terus.
Bila kita masih terikat pekerjaan dengan perusahaan, kita bisa merintis bisnis dengan bantuan keluarga dan orang-orang terdekat.
Tak ada entrepreneur yang langsung sukses ketika merintis bisnis. Semangat untuk maju dan dedikasi yang besar akan membawa sebuah perubahan ke arah yang lebih positif.
Kita tinggal meyakinkan diri sendiri untuk memilih dan menjalankan bisnis sesuai dengan minat dan bakat yang kita miliki.
ItΓÇÖs not about ideas. ItΓÇÖs about making ideas happen
Itulah 10 pola pikir pengusaha sukses yang patut ditiru. Jadi meskipun saat ini Anda masih bekerja kantoran, menerapkan pola pikir di atas bisa diterapkan sebelum bener-benar terjun menjadi pengusaha.