Metode Design Thinking ΓÇô Prothotype : Tipe prototype, Building a prototype.
Tipe prototype, Building a prototype.

Definisi,Tahapan,Jenis serta Model Prototyping
1.
Definisi Prototype
Kebutuhan akan web sebagai media pendukung untuk menyampaikan suatu informasi yang sangat efektif kini telah melebar hingga ke dunia pendidikan. Saat ini penyampaian informasi dalam aktivitas yang berkaitan dengan pendidikan dapat diakses langsung oleh siswa dan mahasiswa melalui sebuah web. Dengan sebuah web yang berfungsi untuk menunjang proses interaksi suatu Institusi dengan user mereka, maka secara langsung akan sangat membantu pula agar transfer informasi yang terjadi dalam interaksi tersebut bisa berjalan dengan baik.
Prototyping merupakan salah satu metode pengembangan perangat lunak yang banyak digunakan. Dengan metode prototyping ini pengembang dan pelanggan dapat saling berinteraksi selama proses pembuatan sistem.Prototyping dapat diartikan sebagai proses yang digunakan untuk membantu pengembang perangkat lunak dalam membentuk model dari perangkat lunak yang harus dibuat.
Model tersebut dapat berupa tiga bentuk:
┬╖ Bentuk prototype di atas kertas/model berbasis komputer yang menggambarkan interaksi manusia yang mungkin terjadi.
┬╖ Working prototype, yang mengimplementasikan sebagian dari fungsi yang ditawarkan perangkat lunak.
┬╖ Program jadi yang melakukan sebagian atau seluruh fungsi yang akan dilakukan, tapi masih ada fitur yang masih dikembangkan.
Sering terjadi seorang pelanggan hanya mendefinisikan secara umum apa yang dikehendakinya tanpa menyebutkan secara detal output apa saja yang dibutuhkan, pemrosesan dan data-data apa saja yang dibutuhkan. Sebaliknya disisi pengembang kurang memperhatikan efesiensi algoritma, kemampuan sistem operasi dan interface yang menghubungkan manusia dan komputer. Untuk mengatasi ketidakserasian antara pelanggan dan pengembang , maka harus dibutuhakan kerjasama yanga baik diantara keduanya sehingga pengembang akan mengetahui dengan benar apa yang diinginkan pelanggan dengan tidak mengesampingkan segi-segi teknis dan pelanggan akan mengetahui proses-proses dalm menyelasaikan sistem yang diinginkan. Dengan demikian akan menghasilkan sistem sesuai dengan jadwal waktu penyelesaian yang telah ditentukan.
Kunci agar model prototype ini berhasil dengan baik adalah dengan mendefinisikan aturan-aturan main pada saat awal, yaitu pelanggan dan pengembang harus setuju bahwa prototype dibangun untuk mendefinisikan kebutuhan. Prototype akan dihilangkan sebagian atau seluruhnya dan perangkat lunak aktual aktual direkayasa dengan kualitas dan implementasi yang sudah ditentukan.
Metode Prototyping sering digunakan pada dunia riil. Karena metode ini secara keseluruhan akan mengacu kepada kepuasan user. Bisa dikatakan bahwa metode ini merupakan metode waterfall yang dilakukan secara berulang-ulang.
2. Tahapan Metode Prototyping
┬╖ Pemilihan Fungsi. Mengacu pada pemilahan fungsi yang harus ditampilkan oleh prototyping. Pemilahan harus selalu dilakukan berdasarkan pada tugas-tugas yang relevan yang sesuai dengan contoh kasus yang akan diperagakan.
┬╖ Penyusunan Sistem Informasi. Bertujuan memenuhi permintaan kebutuhan akan tersedianya prototype.
┬╖ Evaluasi.
┬╖ Penggunaan selanjutnya.
3. Jenis Jenis Prototyping
┬╖ Feasibility prototyping. Digunakan untuk menguji kelayakan dari teknologi yang akan digunakan untuk system informasi yang akan disusun.
┬╖ Requirement prototyping. Digunakan untuk mengetahui kebutuhan aktivitas bisnis user. Misalnya dalam sebuah perusahaan terdapat user direktur, manajer, dan karyawan. Maka penggunaan sistem dapat dibedakan berdasarkan user tersebut sesuai dengan kebutuhannya.
┬╖ Desain Prototyping. Digunakan untuk mendorong perancangan system informasi yang akan digunakan.
┬╖ Implementation prototyping. Merupakan lanjutan dari rancangan protipe, prototype ini langsung disusun sebagai suatu system informasi yang akan digunakan.
4. Keunggulan dan Kelemahan Prototyping
a. Keunggulan metode Prototyping
┬╖ Adanya komunikasi baik antara pengembang dengan pelanggan.
┬╖ Pengembang dapat bekerja lebih baik untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
┬╖ Pelanggan berperan aktif dalam pengembangan sistem.
┬╖ Menghemat waktu dalam pengembangannya.
┬╖ Penerapan lebih mudah karena pemakai akan mengetahui apa yang diharapkan.
b.
Kelemahan metode Prototyping
┬╖ Kualitas sistem kurang baik karena hanya mengedepankan aspek kenyamanan user.
┬╖ Pengembang kadang-kadang menggunakan implementasi yang sembarangan.
┬╖ Tidak mencerminkan proses perancangan yang baik.
Prototype merupakan bagian akhir dalam pembuatan website. Sebuah prototype sudah dilengkapi dengan fungsionalitas dan kualitas desain UI yang lebih baik. Selain melengkapi struktur informasi dan visualisasi dari dua tahap sebelumnya, prototype berisi interaksi dengan user yang memungkinkan pengguna untuk:
┬╖ mendapatkan pengalaman dengan content yang sebenarnya
┬╖ berinteraksi dengan UI layaknya produk jadi
┬╖ memprediksi dan menemukan solusi dari permasalahan sebelum dikembangkan lebih lanjut
5.
Tahapan-tahapan Prototyping
Tahapan-tahapan dalam Prototyping adalah sebagai berikut:
1. Pengumpulan kebutuhan Pelanggan dan pengembang bersama-sama mendefinisikan format seluruh perangkat lunak, mengidentifikasikan semua kebutuhan, dan garis besar sistem yang akan dibuat.
2. Membangun prototyping Membangun prototyping dengan membuat perancangan sementara yang berfokus pada penyajian kepada pelanggan (misalnya dengan membuat input dan format output).
3. Evaluasi protoptyping Evaluasi ini dilakukan oleh pelanggan apakah prototyping yang sudah dibangun sudah sesuai dengan keinginann pelanggan. Jika sudah sesuai maka langkah 4 akan diambil.Jika tidak prototyping direvisi dengan mengulangu langkah 1, 2 , dan 3.
4. Mengkodekan sistem Dalam tahap ini prototyping yang sudah di sepakati diterjemahkan ke dalam bahasa pemrograman yang sesuai.
5. Menguji sistem Setelah sistem sudah menjadi suatu perangkat lunak yang siap pakai, harus dites dahulu sebelum digunakan. Pengujian ini dilakukan dengan White Box, Black Box, Basis Path, pengujian arsitektur dan lain-lain.
6. Evaluasi Sistem Pelanggan mengevaluasi apakah sistem yang sudah jadi sudah sesuai dengan yang diharapkan . Juka ya, langkah 7 dilakukan; jika tidak, ulangi langkah 4 dan 5.
7. Menggunakan sistem Perangkat lunak yang telah diuji dan diterima pelanggan siap untuk digunakan.

6. Pendekatan Utama Prototyping
Terdapat tiga pendekatan utama prototyping, yaitu :
┬╖ Throw-away : prototype dibuat dan ditest. Pengalaman yang diperoleh dari pembuatan prototype tersebut digunakan untuk membuat produk akhir (final),kemudian prototype tersebut dibuang (tak dipakai)

┬╖ Incremental : produk finalnya dibuat sebagai komponen-komponen yang terpisah. Desain produk finalnya secara keseluruhan hanya ada satu, tetapi dibagi-bagi dalam komponen-komponen lebih kecil yang terpisah (independent).

┬╖ Evolutionary : Pada metode ini, prototypenya tidak dibuang tetapi digunakan untuk iterasi desain berikutnya. Dalam hal ini, sistem atau produk yang sebenarnya dipandang sebagai evolusi dari versi awal yang sangat terbatas menuju produk final atau produk akhir.

Mengenal Metode Prototype Kelebihan Dan Kekurangan
Metode Prototype ΓÇô Prototype merupakan sebuah metode pengembangan software yang cukup banyak digunakan. Dengan metode ini, pengembang dan pelanggan bisa saling berinteraksi selama proses pengembangan software. Hal ini tentu sangat menguntungkan dan semakin memudahkan dalam pembuatan perangkat lunak.
Prototype dalam bahasa Indonesia disebut purwarupa (rupa awal). Prototype adalah rupa awal dari sistem yang menggambarkan rupa akhir dari sebuah sistem.
Keuntungan dari Metode Prototype
Pertama-tama penting untuk memahami metode prototipe yang paling baik digunakan ketika sistem yang diinginkan perlu memiliki banyak interaksi dengan pengguna akhir.
Saat menggunakan model jenis ini, kesalahan biasanya dapat dideteksi lebih cepat dan umpan balik pengguna yang lebih cepat tersedia untuk menghasilkan solusi yang lebih baik. Dalam metodologi ini model kerja dari sistem disediakan, pengguna mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang sistem yang sedang dikembangkan.
Developer bisa bekerja menentukan kebutuhan klien dengan baik, Efisiensi waktu tinggi dalam pengembangan sistem serta Lebih mudah dalam penerapannya karena klien mengetahui apa yang dibutuhkan.
Kekurangan Metode Pembuatan Prototype
Metode ini dapat meningkatkan kompleksitas. Rencana Anda mungkin mulai melampaui rencana awal Anda. Selain itu, Fokus pada prototipe terbatas dapat mengalihkan pengembang dari analisis lengkap proyek dengan benar. Namun itulah mengapa ada tahap penyempurnaan.
Klien terus menerus menambah requirement dari sistem, pengen dibuatkan yang seperti inilah seperti itulah, sehingga menambah kompleksitas pembuatan sistem. Sistem akan terhambat jika komunikasi kedua belah pihak tidak berjalan secara efektif.
Tahapan Dalam Metode Prototype
Ada beberapa tahapan dalam metode prototype. Beberapa sumber menyebutkan prototype mempunyai 3,4,5,6 atau 7 tahapan. Dikutip dari guru99 model prototype setidaknya mempunyai 6 tahapan sebagai berikut:
Tahap 1: Requirements Gathering and Analysis (Analisis Kebutuhan)
Tahapan model prototype dimulai dari analisis kebutuhan. Dalam tahap ini kebutuhan sistem didefinisikan dengan rinci. Dalam prosesnya, klien dan tim developer akan bertemu untuk mendiskusikan detail sistem seperti apa yang diinginkan oleh user.
Tahap 2: Quick Design (Desain cepat)
Tahap kedua adalah pembuatan desain sederhana yang akan memberi gambaran singkat tentang sistem yang ingin dibuat. Tentunya berdasarkan diskusi dari langkah 1 diawal.
Tahap 3: Build Prototype (Bangun Prototipe)
Setelah desain cepat disetujui selanjutnya adalah pembangunan prototipe sebenarnya yang akan dijadikan rujukan tim programmer untuk pembuatan program atau aplikasi.
Tahap 4: User Evaluation (Evaluasi Pengguna Awal)
Di tahap ini, sistem yang telah dibuat dalam bentuk prototipe di presentasikan pada klien untuk di evaluasi. Selanjutnya klien akan memberikan komentar dan saran terhadap apa yang telah dibuat.
Tahap 5: Refining Prototype (Memperbaiki Prototipe)
Jika klien tidak mempunyai catatan revisi dari prototipe yang dibuat, maka tim bisa lanjut pada tahapan 6, namun jika klien mempunyai catatan untuk perbaikan sistem, maka fase 4-5 akan terus berulang sampai klien setuju dengan sistem yang akan dikembangkan.
Tahap 6: Implement Product and Maintain (Implentasi dan Pemeliharaan)
Pada fase akhir ini, produk akan segera dibuat oleh para programmer berdasarkan prototipe akhir, selanjutnya sistem akan diuji dan diserahkan pada klien. Selanjutnya adalah fase pemeliharaan agar sistem berjalan lancar tanpa kendala.
Jenis-Jenis Teknologi 3D untuk Sarana Prototyping

Istilah 3D prototyping sering pula dikenal sebagai rapid prototyping. Pelaksanaan rapid prototyping berbeda jauh dibandingkan dengan prototyping tradisional yang memerlukan waktu berbulan-bulan. Dalam rapid prototyping, pembentukan purwarupa dapat dilakukan secara cepat.
Proses pembentukan prototype pada rapid prototyping membuat Anda bisa membangun purwarupa untuk setiap perubahan atau pengembangan produk. Termasuk di antaranya adalah ketika Anda melakukan perubahan kecil. Dengan begitu, Anda bisa meningkatkan kualitas produk sedikit demi sedikit.
Teknologi rapid prototyping bisa menghasilkan produk purwarupa secara cepat dengan menggunakan beragam material. Anda bisa memilih material yang relatif lebih murah seperti PLA, nylon, ABS, polycarbonate, dan lain sebagainya. Selain itu, Anda juga dapat mengaplikasikan teknologi ini dalam beragam jenis produk.
Jenis-Jenis Teknologi 3D untuk Sarana Prototyping
Dalam praktiknya, ada 3 jenis teknologi rapid prototyping yang kerap dimanfaatkan oleh para pelaku bisnis, yaitu:
1. 3D Printing
Metode pertama dalam rapid prototyping adalah 3D printing. Teknik ini adalah metode pembentukan purwarupa yang paling populer saat ini. Alasannya adalah karena tingkat kecepatan serta pilihan material yang bisa Anda pilih. Selain itu, penggunaan 3D printing memungkinkan Anda untuk menciptakan purwarupa dengan biaya relatif terjangkau.
Teknik 3D printing bisa Anda lakukan dengan menambahkan material tertentu yang selanjutnya dibentuk sesuai keinginan. Di lapangan, terdapat beberapa jenis metode 3D printing yang masing-masing mempunyai tingkat akurasi berbeda-beda, yaitu:
┬╖ Fused Deposition Modeling (FDM). Teknik ini merupakan metode 3D printing yang paling populer dan bisa Anda manfaatkan dengan biaya terjangkau. Pemakaiannya sangat cocok ketika Anda ingin membangun purwarupa versi pertama.
Dalam FDM, material yang digunakan adalah filamen thermoplastic yang kemudian dilelehkan. Setelah itu, material tersebut ditempatkan secara berlapis sehingga bentuknya sesuai keinginan.
┬╖ Stereolithography (SLA). Selanjutnya adalah teknik 3D printing SLA yang mempunyai ciri khas pada keberadaan tangki yang berisi cairan resin. Resin tersebut akan mengalami pengerasan lewat proses photopolymerization menggunakan sinar UV.
Metode 3D printing ini mampu menciptakan prototype dengan tingkat akurasi tinggi dan detail. Hanya saja, proses pembuatannya relatif lebih mahal dibandingkan dengan FDM.
┬╖ Selective Laser Sintering (SLS).
Teknik 3D printing yang ketiga adalah SLS. Berbeda dengan FDM atau SLA, 3D printing SLS menggunakan material berupa serbuk yang kemudian menjalani proses sintering sehingga tercipta model dengan bentuk yang diinginkan.
SLS merupakan metode 3D printing yang biasa digunakan untuk kepentingan khusus. Pemanfaatannya biasa dilakukan oleh perusahaan besar dan memerlukan biaya yang relatif jauh lebih besar dibandingkan metode FDM atau SLA.
2. Laser Cutting dan Engraving
Selain 3D prototyping menggunakan teknologi 3D printing, ada pula metode laser cutting yang dikombinasikan dengan laser engraving. Teknik ini termasuk dalam kelompok subtractive manufacturing yang memerlukan pemakaian alat canggih.
Laser cutting memungkinkan Anda untuk melakukan pemotongan objek dengan tingkat ketebalan sesuai keinginan dalam waktu cepat. Pemakaian laser pun memungkinkan Anda untuk memotong beragam jenis material. Selanjutnya, laser engraving digunakan untuk penambahan detail.
3. CNC Milling
Seperti halnya laser cutting, CNC milling merupakan proses prototyping yang termasuk dalam kategori subtractive manufacturing. Metode ini berjalan dengan menggunakan alat potong canggih yang kemudian dimanfaatkan untuk membentuk material menjadi objek tertentu.
Penggunaan CNC milling biasanya dilakukan oleh industri tertentu yang memerlukan alat khusus dalam pembentukan prototype. Contohnya adalah prototyping dalam industri aviasi, otomotif, ataupun peralatan medis.
Manfaat Teknologi 3D dalam Pembentukan Prototype
Lalu, kenapa Anda perlu memanfaatkan 3D prototyping? Ada 4 alasan yang menjadi jawaban atas pertanyaan tersebut, yaitu:
1. Menciptakan Iterasi Produk yang Variatif
Tahapan prototyping memberi kebebasan bagi Anda dalam menciptakan produk sebelum memasarkannya secara massal. Tidak ada batasan jumlah prototype yang bisa Anda ciptakan. Lewat berbagai prototype tersebut, Anda bisa menciptakan produk akhir yang menawarkan keuntungan maksimal.
2. Hemat Biaya
Dibandingkan dengan proses produksi tradisional, prototyping menawarkan biaya yang jauh lebih rendah. Apalagi, ketika Anda menggunakan metode 3D printing yang tersedia dalam berbagai ukuran.
3. Hemat Waktu
Keuntungan yang tak kalah besar adalah pemanfaatan waktu yang lebih optimal. Rapid prototyping membantu Anda dalam menciptakan produk akhir secara lebih cepat.
4. Sarana Uji Fungsional Produk
Manfaat terakhir adalah kesempatan untuk menguji fungsional produk secara langsung. Dengan begitu, Anda dapat melakukan penilaian serta evaluasi apakah produk tersebut memiliki fungsi yang benar sesuai dengan harapan.